Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
54. Mie Kocok


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur


super besar di dalam kamar pribadinya yang ada


di lantai atas rumah nya. Dia terlihat gelisah


dalam tidurnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman.


Kilasan kejadian mengerikan yang berlangsung


di istana beberapa waktu lalu seolah-olah masuk


ke dalam alam bawah sadarnya dan mengganggu tidurnya. Ketakutan akan sikap obsesif yang di tunjukan Lucas pada dirinya membuat jiwanya


di landa rasa gelisah yang berlebih. Dia juga menyadari satu hal bahwa Lucas memiliki


kelainan dalam dirinya. Ada sesuatu yang lain


yang dia tangkap dari kepribadian Lucas.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.


Setelah insiden di istana tadi Raya pulang ke rumahnya bersama dengan Alex dan Griz.


Sementara Aaron langsung melakukan


pertemuan dengan semua staf istana dan


seluruh prajurit penjaga. Raya membuka mata.


Dia memegang perutnya, kenapa baru sekarang


rasa lapar itu datang ? Dan rasanya dia ingin


sekali memakan sesuatu yang bisa membuat


perutnya puas, makanan buatannya sendiri.


Dengan langkah pelan dia menuruni tangga


menuju ke dapur mewahnya yang membuat


dirinya betah berlama-lama di tempat ini. Karena


dapur ini tidak terlalu luas tapi sangat rapi dan


tertata apik dengan suasana yang sedikit


membuat dia merasa ada di negara asalnya.


Raya membuka lemari pendingin, mengambil


beberapa bahan makanan yang akan di olahnya


menjadi menu yang di inginkan nya. Mie kocok


pedas kesukaannya. Dia menggulung rambutnya


sedikit tinggi dan membuka cardigan yang di


pakaiannya agar memudahkan aktivitas nya.


Hingga kini tubuhnya hanya berbalut gaun tidur


diatas lutut tanpa lengan, terlihat begitu seksi


dan menggoda. Dengan wajah berbinar dan


tampang tidak sabar Raya segera memulai


kegiatannya.


Saat dia tengah fokus dengan kegiatannya,


tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekap


erat tubuhnya dari belakang, tangan sosok itu


melingkar kuat di perut datar nya. Sontak saja


Raya memekik kuat karena terkejut. Dia reflek


berontak dengan membuka belitan tangan


sosok itu. Tapi pelukan orang itu semakin


terasa kuat.


"Ssstt... jangan berisik.! Ini aku.. suamimu.."


Sosok itu berbicara dengan suara yang sangat


berat, dia menyusupkan wajahnya di tengkuk


leher Raya yang mematung seketika. Tubuhnya


kini tegang dengan detak jantung yang tiba-tiba


saja tidak beraturan. Bibir sosok itu kini mulai


beraksi menyusuri leher jenjang Raya dengan


mengecupi dan menjilat nya lembut membuat


Raya panas dingin, dia mencoba melepaskan diri.


"A-Aaron...kenapa kamu ada di sini.?"


"Kenapa.? Ini rumahku juga kan.?"


"Bukankah kau sedang ada pertemuan.?"


Raya berusaha melepaskan belitan tangan


Aaron di perutnya, dia juga sibuk melihat


masakannya takut gosong. Dan tubuh nya


pun tidak henti bergerak menghindari aksi


liar bibir Aaron yang kini sudah menelusuri


pundaknya membuat tubuhnya bergetar.


"Aku tidak bisa fokus, kau membuatku tidak


bisa konsentrasi.!"


"Kenapa jadi menyalahkan ku ?"


"Karena aku menginginkan mu.! Sekarang..


berikan aku ciuman panas mu itu..!"


"Aaron... emmph..!"


Raya memekik kembali dengan kuat tidak


tahan dengan kegilaan Aaron, tapi mulutnya


di bungkam oleh telapak tangan Aaron yang


segera mematikan kompor dan sebelum Raya menyadari apa yang terjadi tubuh nya sudah di


angkat di bawa keatas meja makan yang ada


di tengah ruangan. Tanpa menunggu lagi Aaron langsung menyergap bibir merah alami Raya


yang tersentak dan berusaha menolak dengan mendorong dada Aaron. Tapi Aaron tidak


melepaskan nya begitu saja. Dia kini malah


semakin liar dan menguasai bibir ranum yang


penuh dengan candu itu hingga akhirnya Raya menyerah dan mulai membalas ciuman itu.


Keduanya kini larut dalam ciuman panas


penuh kenikmatan dan sensasi yang berbeda


karena sama-sama menikmatinya.


Tubuh mereka semakin merapat saat tangan


kiri Aaron menarik kuat pinggang ramping Raya


dan membelitkan kaki wanita itu di pinggangnya hingga paha mulusnya kini terekspos setengah


nya. Tubuh bagian bawah Aaron bangun seketika


saat tangan kanannya mulai mengelus lembut


dan menyusuri paha indah itu, semakin lama


semakin masuk merayap ke bagian atas, naik


lagi melewati punggung kemudian berakhir di


bagian depan meremas kuat dada sintal milik


istrinya itu yang mampu membuat Raya mendesah lembut dalam ciumannya di sertai getaran hebat tubuhnya. Gila ! Laki-laki ini memang racun, Raya


tidak sanggup lagi untuk memberontak. Sentuhan


lembutnya membuat dia lemah dan terbuai.


Namun ciuman itu harus terhenti ketika perut


Raya tiba-tiba berbunyi memalukan tak melihat


kondisi. Aaron melepaskan pagutannya. Mereka


saling menatap, wajah Raya kini sudah semerah


tomat, malu luar biasa melihat ekspresi aneh di


wajah Aaron, dia seolah menahan tawa.


"Apa kau belum mengisi perutmu dari tadi.?"


"Tadi aku tidak berselera, tapi sekarang


perutku lapar sekali.!"


Ucap Raya sambil kemudian mendorong dada


Aaron lalu turun dari atas meja dengan wajah

__ADS_1


yang benar-benar memerah seluruhnya. Ada


seringai tipis di bibir Aaron dan bertahan cukup


lama, wajahnya benar-benar terlihat aneh. Dan


ada sesuatu yang membuat jiwanya kini terasa


pecah, ringan dan bahagia. Aaron menghampiri


Raya yang sedang menata makanan dengan


memberikan topping lengkap di atas kuah mie


kocok yang sudah ready untuk di santap.


"Apa yang kau siapkan.? "


Aaron melongokkan wajahnya melihat apa


yang di siapkan oleh Raya dengan menautkan


alisnya. Kedua tangannya dimasukan ke dalam


saku celana dengan posisi berdiri bersandar


miring ke meja pantry.


"Sesuatu yang aku inginkan.!"


"Hei.. kenapa kamu harus memasukkan cabe


sebanyak itu.? "


Aaron merebut botol bubuk cabe dari tangan


Raya yang melebarkan matanya.


"Apa yang kau lakukan.? Ini belumlah apa-apa.


Aku sudah terbiasa memakan nya.!"


Kesal Raya sambil merebut kembali botol cabe


itu dari tangan Aaron yang menahannya.


"Itu sudah merah Raya.! kau bisa sakit perut


kalau terlalu pedas nanti !"


"Aaron.. berikan.! Aku tidak akan bisa makan


kalau kurang pedas, berikan.!"


Raya maju dan merebut kembali botol itu yang diangkat tinggi oleh Aaron. Keduanya kini rebutan botol itu hingga tak sengaja isinya berhamburan


keluar dan mengenai mata Aaron yang langsung melempar botol itu kemudian memejamkan mata


dan mengumpat kesal. Sementara Raya yang


terkejut sesaat kini malah tertawa puas melihat


apa yang terjadi pada pria menyebalkan itu.


Aaron masih menutup matanya yang terasa


sedikit perih dan panas.


"Hei..apa kau masih akan tertawa.? Aku ini


suamimu, kau bisa jadi istri durhaka kalau


membiarkan aku menderita.!"


Kesal Aaron yang kini duduk di kursi meja pantry.


Raya menghentikan tawanya, dia berjalan kearah


lemari di ujung dapur, meraih kotak obat yang


ada di dalamnya setelah itu mendekat kearah


Aaron, duduk di hadapannya lalu meraih wajah


pria itu dengan gerakan spontan.


"Jagoan kok kalah sama cabe.!"


Cibir nya dengan ekspresi wajah geli membuat


Aaron mendengus geram.


"Aku ini manusia, bukan robot.!"


"Buka matamu Yang Mulya.."


Aaron nurut, dia membuka matanya perlahan.


Raya mulai meniup mata Aaron dengan halus


dan intens membuat pria itu terpaku dan


terkesima mendapati wajah cantik jelita Raya


yang kini ada di depannya, begitu indah, begitu


elok, begitu dekat dan menggetarkan jiwa.


Tanpa sadar meluncurlah kata-kata indah itu


dari mulut Aaron yang masih berada dalam mode terkesima. Tubuh Raya membeku seketika, dia menurunkan pandangannya, mata mereka kini


bertemu, saling menatap kuat, meresapi segala


rasa yang kini bergejolak di dalam dada. Tanpa


sadar bibir mereka kini mendekat, bertemu dan..


"Aku akan mengompres matamu.."


Raya segera tersadar dari buaian perasaannya


yang hanya akan menyesatkan dirinya. Tidak,


dia tidak boleh terbawa suasana, dia tidak boleh


jatuh ke dalam pesona mematikan pria ini karena


semua itu hanya akan membawanya dirinya pada kehancuran. Aaron tampak bereaksi kesal karena


bibir manis itu gagal di cicipi nya. Raya segera mengompres kedua mata Aaron sampai kembali normal.


Beberapa saat kemudian..


Mereka berdua saat ini sudah duduk saling berhadapan di meja pantry. Wajah Raya tampak berbinar melihat hidangan buatannya. Dia sudah


tidak sabar ingin segera menikmati mie kocok


spesial buatannya itu. Sementara Aaron tampak menatapnya datar, mengamati wajah Raya yang


terlihat bahagia. Amazing.! hanya karena sebuah


hidangan sederhana wanita ini terlihat senang.


Ada kehangatan yang kini mengalir dalam hatinya


saat melihat wanita ini bahagia. Dia ingin melihat


raut wajah seperti ini selalu menghiasi wajah


cantik istrinya ini. Tapi mungkinkah itu terjadi.?


Namun tampang wajah Aaron berubah tidak


suka begitu melihat makanan yang ada di


hadapannya yang terlihat berwarna merah


meriah di penuhi bubuk cabe.


Raya mulai mencicipi makanan tersebut, dia


memejamkan matanya. Mmm..ini sangat lezat,


sesuai dengan keinginannya. Maka mulailah


dia menikmati makanan itu di hadapan Aaron


yang tiba-tiba saja ada keinginan untuk ikut


mencicipi nya. Selama ini dia memang sudah


terbiasa mencicipi makanan khas negara asal


Raya, tapi makanan yang satu ini baru kali ini


di lihatnya. Dia menelan ludahnya melihat


Raya sangat menikmati makanan itu.


"Apa kau hanya akan makan sendirian.?"


Raya mengangkat wajahnya, menatap Aaron


di penuhi tanda tanya.


"Kau bisa sakit perut kalau memakannya.


Kau kan tidak suka makanan pedas.!"


"Berikan aku satu suap !"


Hahh ? yang benar saja. Raya bengong sesaat,


menatap Aaron tidak percaya.


"Tunggu apa lagi.?"


"A-apa kau yakin.?"


"Jangan banyak bicara, suapi aku.!"


Kesal Aaron sambil memajukan wajahnya.


Raya tampak ragu, tapi dia mulai menyendok


mie kocok tersebut komplit dengan segala isinya kemudian perlahan menyuapi Aaron yang sejenak terhenyak dan tidak lama terbatuk saking kaget dengan rasanya. Raya menyodorkan air putih ke hadapan Aaron yang langsung meminumnya.


"Aku sudah bilang, kau tidak akan sanggup

__ADS_1


memakannya. Ini tidak cocok untukmu.! Hei..


Aaron..apa yang kau lakukan.?"


Raya terperangah saat melihat Aaron meraih


mangkuk mie nya dan mulai mencicipinya


sendiri. Raya meringis dan menyiapkan air


putih untuk laki-laki aneh itu. Tapi pria itu


tampaknya tidak terpengaruh, dia kembali


menyuapkan mie tersebut, lagi..dan lagi..


Pria itu terlihat mulai menikmatinya.


"Aaron..aku juga lapaarr...!"


Raya mulai kesal karena Aaron benar-benar


menikmati makanan itu dengan rakus. Apa


yang terjadi dengan pria ini ? Bukankah dia


tidak menyukai makanan bercitarasa pedas.?


"Kau buat lagi sana.! Aku masih lapar.!"


Hahh.? apa dia sudah tidak waras.??


***


Pagi ini Raya sudah siap dengan setelan semi


formalnya. Seperti biasa dia selalu memukau


dan mempesona membuat Lily dan Griz tampak


menatap terpukau kearah majikannya itu. Dia


mengenakan rok mini di bawah lutut dengan


atasan blouse pas body dengan warna yang


sangat lembut dan menawan. Hari ini dia akan


kembali ke kantor karena ada beberapa urusan pekerjaan Aaron yang harus di selesaikan.


Saat ini Raya sudah ada di dalam mobil yang di


bawa oleh Griz karena Alex sedang ada urusan


lain bersama Aaron. Dia tampak merebahkan


kepalanya ke sandaran jok sambil memejamkan


mata rapat. Entah kenapa dari pagi ingatannya


melayang terus pada sosok laki-laki yang selama


ini telah menyiksa jiwa dan raganya. Bayangan kejadian semalam di dapur kini melintas kembali


dalam ingatannya. Setelah menghabiskan dua mangkuk mie kocok buatannya, Aaron pergi lagi


begitu ada telepon masuk. Sepertinya pria itu


tidak pernah menjalani hidup normal layaknya


orang lain, mungkin dia juga tidak pernah tidur


lelap setiap malamnya, atau jangan-jangan


tidak pernah tidur sama sekali.!


"Tidurlah dengan nyenyak.. Aku tidak akan


mengganggu mu malam ini.."


Itulah kata-kata Aaron seraya mencium lembut


kening nya sebelum akhirnya dia pergi bersama


dengan Alex dan beberapa orang yang tidak di kenalnya. Raya menghembuskan nafas berat.


"Kita sudah sampai Miss.. Yang Mulya juga


sudah ada di ruangan nya.!"


Suara Griz membawa Raya pada kesadaran.


Dia merapihkan pakaiannya kemudian keluar


dari dalam mobil dan langsung masuk ke


dalam privat lift yang akan membawanya


langsung ke ruang kerjanya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya dia tiba di


dalam ruangannya. Dia keluar dari dalam lift


kemudian berjalan menuju ruang utama.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti dengan


tubuh yang membeku dan lemas seketika.


Matanya menatap tajam ke satu sudut ruangan


di dekat meja kerja Aaron. Dia melihat saat ini


Aaron sedang berdiri di sisi ruangan dinding


kaca besar yang merupakan fokus utama


dalam ruangan megah ini. Namun yang telah


membuat dirinya lemas adalah tubuh gagah


itu kini tengah di peluk erat oleh satu sosok


tinggi semampai berbalut dress cantik dan


seksi yang melekat pas di tubuh rampingnya.


"Catharina..."


Gumam Raya bergetar, tubuhnya mundur


dengan sedikit goyah. Matanya kini mulai


memanas. Ada serangan aneh yang begitu


mengiris lubuk hatinya.


"Yang Mulya.. kita harus pergi sekarang.


Luangkan lah waktu mu sebentar saja."


"Keluarlah Catharina.. kau bisa pergi dengan


semua asisten dan para pengawal.! Aku tidak


punya waktu untuk mengurusi hal sepele.!"


Terdengar suara tegas Aaron yang bernada


sedikit kesal dan melepaskan belitan tangan


calon tunangannya itu di perut nya. Mereka


kini berhadapan, saling menatap kuat.


"My Prince..bisakah kau bersikap sedikit


lunak padaku.? Aku sangat mencintaimu..


Dari kecil aku sudah memujamu."


"Itu bukan cinta, kau hanya terobsesi padaku.!"


"Tidak, aku mencintaimu dengan tulus.."


"Aku tidak mengenal cinta. Aku tidak akan


bisa memberikannya padamu.!"


"Aku yakin.. suatu saat hatimu akan luluh.


Kau akan memberikan hatimu untukku.!"


"Kau hanya akan bergelar sebagai Ratu ku.


Tapi hatiku tetaplah milikku sendiri.!'


Desis Aaron sambil menarik pinggang ramping


Catharina hingga tubuh mereka kini merapat.


Tatapannya terlihat semakin tajam. Mata mereka


saling menatap kuat. Melihat hal itu tubuh


Raya semakin terasa lemas.


Aaron mengerjap, wajah Catharina kini seolah menjelma menjadi wajah elok seseorang yang


saat ini sedang memenuhi otaknya. Catharina menegang saat wajah super tampan pria yang


sangat di pujanya itu semakin mendekat dengan tatapan yang terlihat dalam dan teduh.


Dia memejamkan matanya dengan debaran


jantung yang semakin bermarathon. Dirinya


seakan sedang menaiki awan, jiwanya begitu


meronta. Dia akan memasrahkan seluruh jiwa


raganya saat ini juga dalam pelukan pria yang


sudah merontokkan seluruh saraf di tubuhnya


ini. Wajah mereka semakin mendekat dan..


***

__ADS_1


Happy Reading..


__ADS_2