
❤️❤️❤️
Raya membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur
super besar di dalam kamar pribadinya yang ada
di lantai atas rumah nya. Dia terlihat gelisah
dalam tidurnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman.
Kilasan kejadian mengerikan yang berlangsung
di istana beberapa waktu lalu seolah-olah masuk
ke dalam alam bawah sadarnya dan mengganggu tidurnya. Ketakutan akan sikap obsesif yang di tunjukan Lucas pada dirinya membuat jiwanya
di landa rasa gelisah yang berlebih. Dia juga menyadari satu hal bahwa Lucas memiliki
kelainan dalam dirinya. Ada sesuatu yang lain
yang dia tangkap dari kepribadian Lucas.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.
Setelah insiden di istana tadi Raya pulang ke rumahnya bersama dengan Alex dan Griz.
Sementara Aaron langsung melakukan
pertemuan dengan semua staf istana dan
seluruh prajurit penjaga. Raya membuka mata.
Dia memegang perutnya, kenapa baru sekarang
rasa lapar itu datang ? Dan rasanya dia ingin
sekali memakan sesuatu yang bisa membuat
perutnya puas, makanan buatannya sendiri.
Dengan langkah pelan dia menuruni tangga
menuju ke dapur mewahnya yang membuat
dirinya betah berlama-lama di tempat ini. Karena
dapur ini tidak terlalu luas tapi sangat rapi dan
tertata apik dengan suasana yang sedikit
membuat dia merasa ada di negara asalnya.
Raya membuka lemari pendingin, mengambil
beberapa bahan makanan yang akan di olahnya
menjadi menu yang di inginkan nya. Mie kocok
pedas kesukaannya. Dia menggulung rambutnya
sedikit tinggi dan membuka cardigan yang di
pakaiannya agar memudahkan aktivitas nya.
Hingga kini tubuhnya hanya berbalut gaun tidur
diatas lutut tanpa lengan, terlihat begitu seksi
dan menggoda. Dengan wajah berbinar dan
tampang tidak sabar Raya segera memulai
kegiatannya.
Saat dia tengah fokus dengan kegiatannya,
tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekap
erat tubuhnya dari belakang, tangan sosok itu
melingkar kuat di perut datar nya. Sontak saja
Raya memekik kuat karena terkejut. Dia reflek
berontak dengan membuka belitan tangan
sosok itu. Tapi pelukan orang itu semakin
terasa kuat.
"Ssstt... jangan berisik.! Ini aku.. suamimu.."
Sosok itu berbicara dengan suara yang sangat
berat, dia menyusupkan wajahnya di tengkuk
leher Raya yang mematung seketika. Tubuhnya
kini tegang dengan detak jantung yang tiba-tiba
saja tidak beraturan. Bibir sosok itu kini mulai
beraksi menyusuri leher jenjang Raya dengan
mengecupi dan menjilat nya lembut membuat
Raya panas dingin, dia mencoba melepaskan diri.
"A-Aaron...kenapa kamu ada di sini.?"
"Kenapa.? Ini rumahku juga kan.?"
"Bukankah kau sedang ada pertemuan.?"
Raya berusaha melepaskan belitan tangan
Aaron di perutnya, dia juga sibuk melihat
masakannya takut gosong. Dan tubuh nya
pun tidak henti bergerak menghindari aksi
liar bibir Aaron yang kini sudah menelusuri
pundaknya membuat tubuhnya bergetar.
"Aku tidak bisa fokus, kau membuatku tidak
bisa konsentrasi.!"
"Kenapa jadi menyalahkan ku ?"
"Karena aku menginginkan mu.! Sekarang..
berikan aku ciuman panas mu itu..!"
"Aaron... emmph..!"
Raya memekik kembali dengan kuat tidak
tahan dengan kegilaan Aaron, tapi mulutnya
di bungkam oleh telapak tangan Aaron yang
segera mematikan kompor dan sebelum Raya menyadari apa yang terjadi tubuh nya sudah di
angkat di bawa keatas meja makan yang ada
di tengah ruangan. Tanpa menunggu lagi Aaron langsung menyergap bibir merah alami Raya
yang tersentak dan berusaha menolak dengan mendorong dada Aaron. Tapi Aaron tidak
melepaskan nya begitu saja. Dia kini malah
semakin liar dan menguasai bibir ranum yang
penuh dengan candu itu hingga akhirnya Raya menyerah dan mulai membalas ciuman itu.
Keduanya kini larut dalam ciuman panas
penuh kenikmatan dan sensasi yang berbeda
karena sama-sama menikmatinya.
Tubuh mereka semakin merapat saat tangan
kiri Aaron menarik kuat pinggang ramping Raya
dan membelitkan kaki wanita itu di pinggangnya hingga paha mulusnya kini terekspos setengah
nya. Tubuh bagian bawah Aaron bangun seketika
saat tangan kanannya mulai mengelus lembut
dan menyusuri paha indah itu, semakin lama
semakin masuk merayap ke bagian atas, naik
lagi melewati punggung kemudian berakhir di
bagian depan meremas kuat dada sintal milik
istrinya itu yang mampu membuat Raya mendesah lembut dalam ciumannya di sertai getaran hebat tubuhnya. Gila ! Laki-laki ini memang racun, Raya
tidak sanggup lagi untuk memberontak. Sentuhan
lembutnya membuat dia lemah dan terbuai.
Namun ciuman itu harus terhenti ketika perut
Raya tiba-tiba berbunyi memalukan tak melihat
kondisi. Aaron melepaskan pagutannya. Mereka
saling menatap, wajah Raya kini sudah semerah
tomat, malu luar biasa melihat ekspresi aneh di
wajah Aaron, dia seolah menahan tawa.
"Apa kau belum mengisi perutmu dari tadi.?"
"Tadi aku tidak berselera, tapi sekarang
perutku lapar sekali.!"
Ucap Raya sambil kemudian mendorong dada
Aaron lalu turun dari atas meja dengan wajah
__ADS_1
yang benar-benar memerah seluruhnya. Ada
seringai tipis di bibir Aaron dan bertahan cukup
lama, wajahnya benar-benar terlihat aneh. Dan
ada sesuatu yang membuat jiwanya kini terasa
pecah, ringan dan bahagia. Aaron menghampiri
Raya yang sedang menata makanan dengan
memberikan topping lengkap di atas kuah mie
kocok yang sudah ready untuk di santap.
"Apa yang kau siapkan.? "
Aaron melongokkan wajahnya melihat apa
yang di siapkan oleh Raya dengan menautkan
alisnya. Kedua tangannya dimasukan ke dalam
saku celana dengan posisi berdiri bersandar
miring ke meja pantry.
"Sesuatu yang aku inginkan.!"
"Hei.. kenapa kamu harus memasukkan cabe
sebanyak itu.? "
Aaron merebut botol bubuk cabe dari tangan
Raya yang melebarkan matanya.
"Apa yang kau lakukan.? Ini belumlah apa-apa.
Aku sudah terbiasa memakan nya.!"
Kesal Raya sambil merebut kembali botol cabe
itu dari tangan Aaron yang menahannya.
"Itu sudah merah Raya.! kau bisa sakit perut
kalau terlalu pedas nanti !"
"Aaron.. berikan.! Aku tidak akan bisa makan
kalau kurang pedas, berikan.!"
Raya maju dan merebut kembali botol itu yang diangkat tinggi oleh Aaron. Keduanya kini rebutan botol itu hingga tak sengaja isinya berhamburan
keluar dan mengenai mata Aaron yang langsung melempar botol itu kemudian memejamkan mata
dan mengumpat kesal. Sementara Raya yang
terkejut sesaat kini malah tertawa puas melihat
apa yang terjadi pada pria menyebalkan itu.
Aaron masih menutup matanya yang terasa
sedikit perih dan panas.
"Hei..apa kau masih akan tertawa.? Aku ini
suamimu, kau bisa jadi istri durhaka kalau
membiarkan aku menderita.!"
Kesal Aaron yang kini duduk di kursi meja pantry.
Raya menghentikan tawanya, dia berjalan kearah
lemari di ujung dapur, meraih kotak obat yang
ada di dalamnya setelah itu mendekat kearah
Aaron, duduk di hadapannya lalu meraih wajah
pria itu dengan gerakan spontan.
"Jagoan kok kalah sama cabe.!"
Cibir nya dengan ekspresi wajah geli membuat
Aaron mendengus geram.
"Aku ini manusia, bukan robot.!"
"Buka matamu Yang Mulya.."
Aaron nurut, dia membuka matanya perlahan.
Raya mulai meniup mata Aaron dengan halus
dan intens membuat pria itu terpaku dan
terkesima mendapati wajah cantik jelita Raya
yang kini ada di depannya, begitu indah, begitu
elok, begitu dekat dan menggetarkan jiwa.
Tanpa sadar meluncurlah kata-kata indah itu
dari mulut Aaron yang masih berada dalam mode terkesima. Tubuh Raya membeku seketika, dia menurunkan pandangannya, mata mereka kini
bertemu, saling menatap kuat, meresapi segala
rasa yang kini bergejolak di dalam dada. Tanpa
sadar bibir mereka kini mendekat, bertemu dan..
"Aku akan mengompres matamu.."
Raya segera tersadar dari buaian perasaannya
yang hanya akan menyesatkan dirinya. Tidak,
dia tidak boleh terbawa suasana, dia tidak boleh
jatuh ke dalam pesona mematikan pria ini karena
semua itu hanya akan membawanya dirinya pada kehancuran. Aaron tampak bereaksi kesal karena
bibir manis itu gagal di cicipi nya. Raya segera mengompres kedua mata Aaron sampai kembali normal.
Beberapa saat kemudian..
Mereka berdua saat ini sudah duduk saling berhadapan di meja pantry. Wajah Raya tampak berbinar melihat hidangan buatannya. Dia sudah
tidak sabar ingin segera menikmati mie kocok
spesial buatannya itu. Sementara Aaron tampak menatapnya datar, mengamati wajah Raya yang
terlihat bahagia. Amazing.! hanya karena sebuah
hidangan sederhana wanita ini terlihat senang.
Ada kehangatan yang kini mengalir dalam hatinya
saat melihat wanita ini bahagia. Dia ingin melihat
raut wajah seperti ini selalu menghiasi wajah
cantik istrinya ini. Tapi mungkinkah itu terjadi.?
Namun tampang wajah Aaron berubah tidak
suka begitu melihat makanan yang ada di
hadapannya yang terlihat berwarna merah
meriah di penuhi bubuk cabe.
Raya mulai mencicipi makanan tersebut, dia
memejamkan matanya. Mmm..ini sangat lezat,
sesuai dengan keinginannya. Maka mulailah
dia menikmati makanan itu di hadapan Aaron
yang tiba-tiba saja ada keinginan untuk ikut
mencicipi nya. Selama ini dia memang sudah
terbiasa mencicipi makanan khas negara asal
Raya, tapi makanan yang satu ini baru kali ini
di lihatnya. Dia menelan ludahnya melihat
Raya sangat menikmati makanan itu.
"Apa kau hanya akan makan sendirian.?"
Raya mengangkat wajahnya, menatap Aaron
di penuhi tanda tanya.
"Kau bisa sakit perut kalau memakannya.
Kau kan tidak suka makanan pedas.!"
"Berikan aku satu suap !"
Hahh ? yang benar saja. Raya bengong sesaat,
menatap Aaron tidak percaya.
"Tunggu apa lagi.?"
"A-apa kau yakin.?"
"Jangan banyak bicara, suapi aku.!"
Kesal Aaron sambil memajukan wajahnya.
Raya tampak ragu, tapi dia mulai menyendok
mie kocok tersebut komplit dengan segala isinya kemudian perlahan menyuapi Aaron yang sejenak terhenyak dan tidak lama terbatuk saking kaget dengan rasanya. Raya menyodorkan air putih ke hadapan Aaron yang langsung meminumnya.
"Aku sudah bilang, kau tidak akan sanggup
__ADS_1
memakannya. Ini tidak cocok untukmu.! Hei..
Aaron..apa yang kau lakukan.?"
Raya terperangah saat melihat Aaron meraih
mangkuk mie nya dan mulai mencicipinya
sendiri. Raya meringis dan menyiapkan air
putih untuk laki-laki aneh itu. Tapi pria itu
tampaknya tidak terpengaruh, dia kembali
menyuapkan mie tersebut, lagi..dan lagi..
Pria itu terlihat mulai menikmatinya.
"Aaron..aku juga lapaarr...!"
Raya mulai kesal karena Aaron benar-benar
menikmati makanan itu dengan rakus. Apa
yang terjadi dengan pria ini ? Bukankah dia
tidak menyukai makanan bercitarasa pedas.?
"Kau buat lagi sana.! Aku masih lapar.!"
Hahh.? apa dia sudah tidak waras.??
***
Pagi ini Raya sudah siap dengan setelan semi
formalnya. Seperti biasa dia selalu memukau
dan mempesona membuat Lily dan Griz tampak
menatap terpukau kearah majikannya itu. Dia
mengenakan rok mini di bawah lutut dengan
atasan blouse pas body dengan warna yang
sangat lembut dan menawan. Hari ini dia akan
kembali ke kantor karena ada beberapa urusan pekerjaan Aaron yang harus di selesaikan.
Saat ini Raya sudah ada di dalam mobil yang di
bawa oleh Griz karena Alex sedang ada urusan
lain bersama Aaron. Dia tampak merebahkan
kepalanya ke sandaran jok sambil memejamkan
mata rapat. Entah kenapa dari pagi ingatannya
melayang terus pada sosok laki-laki yang selama
ini telah menyiksa jiwa dan raganya. Bayangan kejadian semalam di dapur kini melintas kembali
dalam ingatannya. Setelah menghabiskan dua mangkuk mie kocok buatannya, Aaron pergi lagi
begitu ada telepon masuk. Sepertinya pria itu
tidak pernah menjalani hidup normal layaknya
orang lain, mungkin dia juga tidak pernah tidur
lelap setiap malamnya, atau jangan-jangan
tidak pernah tidur sama sekali.!
"Tidurlah dengan nyenyak.. Aku tidak akan
mengganggu mu malam ini.."
Itulah kata-kata Aaron seraya mencium lembut
kening nya sebelum akhirnya dia pergi bersama
dengan Alex dan beberapa orang yang tidak di kenalnya. Raya menghembuskan nafas berat.
"Kita sudah sampai Miss.. Yang Mulya juga
sudah ada di ruangan nya.!"
Suara Griz membawa Raya pada kesadaran.
Dia merapihkan pakaiannya kemudian keluar
dari dalam mobil dan langsung masuk ke
dalam privat lift yang akan membawanya
langsung ke ruang kerjanya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya dia tiba di
dalam ruangannya. Dia keluar dari dalam lift
kemudian berjalan menuju ruang utama.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti dengan
tubuh yang membeku dan lemas seketika.
Matanya menatap tajam ke satu sudut ruangan
di dekat meja kerja Aaron. Dia melihat saat ini
Aaron sedang berdiri di sisi ruangan dinding
kaca besar yang merupakan fokus utama
dalam ruangan megah ini. Namun yang telah
membuat dirinya lemas adalah tubuh gagah
itu kini tengah di peluk erat oleh satu sosok
tinggi semampai berbalut dress cantik dan
seksi yang melekat pas di tubuh rampingnya.
"Catharina..."
Gumam Raya bergetar, tubuhnya mundur
dengan sedikit goyah. Matanya kini mulai
memanas. Ada serangan aneh yang begitu
mengiris lubuk hatinya.
"Yang Mulya.. kita harus pergi sekarang.
Luangkan lah waktu mu sebentar saja."
"Keluarlah Catharina.. kau bisa pergi dengan
semua asisten dan para pengawal.! Aku tidak
punya waktu untuk mengurusi hal sepele.!"
Terdengar suara tegas Aaron yang bernada
sedikit kesal dan melepaskan belitan tangan
calon tunangannya itu di perut nya. Mereka
kini berhadapan, saling menatap kuat.
"My Prince..bisakah kau bersikap sedikit
lunak padaku.? Aku sangat mencintaimu..
Dari kecil aku sudah memujamu."
"Itu bukan cinta, kau hanya terobsesi padaku.!"
"Tidak, aku mencintaimu dengan tulus.."
"Aku tidak mengenal cinta. Aku tidak akan
bisa memberikannya padamu.!"
"Aku yakin.. suatu saat hatimu akan luluh.
Kau akan memberikan hatimu untukku.!"
"Kau hanya akan bergelar sebagai Ratu ku.
Tapi hatiku tetaplah milikku sendiri.!'
Desis Aaron sambil menarik pinggang ramping
Catharina hingga tubuh mereka kini merapat.
Tatapannya terlihat semakin tajam. Mata mereka
saling menatap kuat. Melihat hal itu tubuh
Raya semakin terasa lemas.
Aaron mengerjap, wajah Catharina kini seolah menjelma menjadi wajah elok seseorang yang
saat ini sedang memenuhi otaknya. Catharina menegang saat wajah super tampan pria yang
sangat di pujanya itu semakin mendekat dengan tatapan yang terlihat dalam dan teduh.
Dia memejamkan matanya dengan debaran
jantung yang semakin bermarathon. Dirinya
seakan sedang menaiki awan, jiwanya begitu
meronta. Dia akan memasrahkan seluruh jiwa
raganya saat ini juga dalam pelukan pria yang
sudah merontokkan seluruh saraf di tubuhnya
ini. Wajah mereka semakin mendekat dan..
***
__ADS_1
Happy Reading..