Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
95. Amazing Princess


__ADS_3

***


Malam yang indah di tengah lautan tenang di


atas kapal pesiar mewah bermandikan cahaya


bulan yang sedang bersinar dengan sempurna.


"Aaron.. ada apa ini.? Kenapa mataku harus di


tutup segala.?"


Raya melilitkan tangannya di leher Aaron saat


pria itu mengangkat tubuhnya ke pangkuannya.


Dia juga di buat terheran-heran karena matanya


saat ini di tutup kain hitam.


"Kita akan melihat bulan lebih dekat lagi.!"


Bisik Aaron sambil mencium lembut pipi Raya


yang semakin dibuat penasaran dengan semua


tindakan Aaron yang sedikit aneh itu. Dia sendiri


yang tadi memakaikan gaun cantik ke tubuhnya


setelah mereka selesai menjalankan sholat isya


dan berganti pakaian. Pria itu tampak lebih sabar memperlakukan dirinya, tidak terburu nafsu. Dia


juga cukup lama menciumi serta mengelus


lembut perut datarnya sambil bergumam pelan.


Ya..mungkin saja dia sedang menyesali dirinya.


Tiba di geladak paling atas, tepatnya di atas


buritan, Aaron menurunkan tubuh istrinya itu


dengan hati-hati kemudian membimbing nya


untuk berjalan perlahan mendekat ke ujung


geladak.


"Kita sudah sampai..Aku akan membuka penutup matamu sekarang.."


Bisik Aaron sambil perlahan membuka penutup


mata Raya yang terdiam sedikit tegang.


"Aku tidak pandai merangkai kata, aku juga bukan


tipe laki-laki yang bisa bersikap romantis. Tapi aku


harap kau tahu bagaimana dalamnya perasaanku


padamu. Aku sangat mencintaimu Maharaya.."


Aaron berucap pelan penuh perasaan yang baru


kali ini Raya mendengar Aaron mengucapkan


begitu banyak rangkaian kata. Mata Raya tampak


tertegun sekaligus terkesima saat melihat tempat


itu sudah di sulap menjadi sebuah tempat yang


sangat romantis.. Candle Light Dinner Place


bernuansa white pink yang sangat elegan.


Hiasan bunga tulip dan mawar terangkai indah


di semua sudut tempat dengan lilin warna-warni


yang terpasang manis melengkapi keindahan suasana. Sebuah meja lengkap dengan hidangan makan malam yang sudah tertata sedemikian


cantik menjadi pemandangan utama yang begitu


romantis dan menakjubkan di tengah curahan


sinar bulan yang jatuh di atas permukaan air laut memantul indah keatas geladak menyempurnakan semua suasana yang sangat syahdu ini.


"A-Aaron.. apa ini..? Kau menyiapkan semua ini.?"


Raya menutup mulutnya dengan ekspresi wajah


tampak begitu terpukau dengan semua yang ada


di depan matanya itu. Aaron.. lagi-lagi pria itu


memberinya kejutan manis yang tak terduga.


Dia mulai berjalan perlahan mendekat kearah


meja yang sudah tertata indah itu. Matanya kini


mulai berkaca-kaca saat melihat ada tulisan di


atas cake mungil nan menarik..


I'm sorry dear..I'm so sorry...


"Aaron..kau tidak harus melakukan semua ini.


Aku tidak membutuhkan semua ini.."


Lirih Raya sambil menutup wajahnya menahan desakan air mata yang memaksa ingin keluar.


"Maaf.. karena hari ini aku sudah berlaku tidak


adil dan mengecewakan mu. Sungguh..aku


sangat menyesali semua yang terjadi hari ini."


Aaron berucap sambil melangkah mendekat


dengan kedua tangan berada di belakang.


"Aku hanya butuh kejujuran mu Aaron.. Aku


hanya menginginkan penjelasan mu."


"Tentu saja.. aku tidak akan menyembunyikan


apapun darimu. Aku hanya belum menemukan


waktu yang tepat untuk mengatakan nya.!"


Raya menurunkan tangannya, menatap kaku


kearah Aaron yang kini sudah ada di depannya.


"Percayalah..apapun yang terjadi, semuanya


tidak akan pernah mengurangi perhatian dan kegilaanku padamu. Yang harus kamu tahu,


dimana pun aku berada, kau selalu ada dalam


hatiku, jiwaku, dan mataku. Kau selalu dalam pengawasan ku.."


Ucap Aaron sambil berlutut di hadapan Raya dan mengulurkan sebuket bunga cantik yang mampu


membuat air mata Raya luruh seketika. Dia meraih bunga cantik itu kemudian melompat ke dalam pelukan erat Aaron. Jatuh sudah air matanya tak tertahankan.


"Aku mencintaimu Aaron.. Aku sangat.. sangat..


mencintaimu.. Tolong jangan remukkan hatiku..


karena aku tidak sanggup kehilanganmu.."


Aaron memejamkan matanya kuat. Hatinya kini


benar-benar melebur.. bagaimana mungkin dia


menyakiti dan mengkhianati wanita ini kalau di


setiap tarikan nafas nya hanya ada satu nama


dan satu bayangan wajah nya saja.


"Maaf..karena cintaku terlalu besar padamu.."


Lirih Aaron tak sanggup berkata-kata lagi dia


menciumi puncak kepala Raya, lalu turun ke


keningnya, kemudian menghujani wajah Raya


dengan ciuman bertubi-tubi yang membuat


Raya memejamkan matanya kuat merasakan


kebahagiaan yang kini membuncah di dadanya.


Keduanya saling menatap lembut, mengirimkan


sinyal kehangatan hati yang saat ini di penuhi


nama masing-masing. Setelah itu bibir mereka


saling bersambut, terpagut dalam ciuman lembut


dan manis penuh cinta dan kemesraan.


Perlahan Aaron meraih sesuatu dari dalam


saku jasnya. Tubuh Raya tidak bisa bergerak


saat tangan Aaron melingkarkan sebuah kalung berlian kuning yang sangat indah dan memukau dengan desain yang terlihat ekslusif.


"Aaron.. apalagi ini.? Kalung ini..sangat indah.."


Raya menatap terpukau benda berkilau itu yang


kini sudah menghiasi lehernya dengan indah.


Bibir Aaron tersenyum tenang. Sebenarnya benda


itu bukanlah apa-apa, bahkan kalau Raya meminta


dia akan membelikan dunia sekalipun untuk di


persembahkan ke atas pangkuannya.


"Kau menyukainya.? Aku tahu kau tidak terlalu


tertarik pada perhiasan.. tapi aku ingin kau.."


"Aku sangat menyukainya.. terimakasih sayang."


Potong Raya sambil mendaratkan satu ciuman


lembut nan manis di bibir Aaron. Keduanya kini


kembali terhanyut dalam kelembutan ciuman


yang begitu manis dan hangat di tengah segala


kebahagiaan yang memenuhi hati keduanya.


"Ayo kita makan.. Aku lapar sekali.."


Bisik Aaron setelah mereka melepaskan diri


dari kehangatan dan kelembutan bibir masing-


masing. Aaron menarik kursi dan mendudukkan


Raya dengan tenang. Keduanya kini duduk saling berhadapan. Di atas meja telah tersaji makanan


yang semuanya hanya tersedia dalam satu piring,


satu gelas minuman dan satu hidangan penutup.


Dengan telaten Aaron mulai menyuapi istrinya


itu penuh dengan kelembutan dan kesabaran


membuat mata Raya kembali berkaca-kaca.


Dia menatap wajah super tampan suaminya itu


penuh rasa tidak percaya sekaligus terharu. Pria


ini seolah menjelma menjadi sosok yang sangat


berbeda dari seorang Aaron yang biasanya


begitu dingin dan datar..


Malam semakin larut...


Aaron dan Raya sudah naik keatas tempat tidur


yang ada di kamar pribadi mereka di dalam

__ADS_1


kapal pesiar mewah itu. Atap kamar ini di desain


khusus menggunakan kaca tembus pandang


hingga sinar bulan yang sempurna jatuh ke


dalam ruangan menyinari seluruh tempat itu


menampilkan suasana syahdu dan romantic..


"Mendekatlah..aku tahu hari ini pasti sangat


berat untukmu."


Aaron merentangkan tangan kiri nya agar Raya


segera masuk ke dalam rengkuhannya. Tanpa


bantahan Raya meletakan kepalanya di atas


lengan kokoh suaminya itu dengan posisi tubuh


miring saling berhadapan. Tangannya berada


di dada bidang Aaron yang berbalut kaos putih


tipis membuat bentuk tubuhnya yang sempurna


tercetak jelas. Dia menyusupkan wajahnya di


antara belahan dada bidang suaminya itu. Ohhh..


ini adalah posisi yang sangat di sukainya..


sangat nyaman dan menenangkan..


"Kau mau tahu kemana aku pergi hari ini kan.?"


Aaron menarik tubuh Raya, menggulungnya ke


dalam dekapannya, kemudian membelai rambut


indahnya yang terurai lembut bak untaian sutra.


Aroma wangi semerbak menguar lembut dari


tubuh halus istrinya itu membuat darah di tubuh


Aaron berdesir halus merambat ke seluruh nadi


dan aliran darahnya. Selalu saja..gairah di dalam


dirinya bertolak belakang dengan logika yang


sekarang bermain di otaknya, bahwa malam ini


dia akan membebaskan tubuh istrinya ini. Tapi..


sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi.


"Aku menunggu penjelasan mu sayang.."


Lirih Raya masih dalam posisi menyembunyikan


wajahnya di dada Aaron dengan nyaman.


"Baiklah.. aku akan mengatakannya sekarang.


Tapi..aku minta jangan pernah salah faham atas


apa yang aku lakukan ini. Semuanya semata-


mata atas dasar persaudaraan dan persahabatan."


Raya terdiam, alisnya tampak bertaut dalam. Apa


yang sebenarnya terjadi. Dia menjauhkan wajah


nya saat Aaron meraih tablet dari atas meja kecil


yang ada di samping tempat tidur.


"Apa yang terjadi sayang.? Apa semua ini ada hubungannya dengan sahabatmu.?"


Raya membenahi posisi tubuhnya saat Aaron


menyadarkan punggung nya di tumpukan bantal.


Dia menyandarkan kepalanya di dada Aaron


yang mulai membuka tablet dan menampilkan


fhoto Dirga yang sedang terbaring lemah tak


berdaya di ranjang pasien.


"Tadi pagi Dirga telah melakukan operasi jantung


pertamanya. Aku sendiri yang sudah mengatur semuanya dan berjanji untuk menemaninya.


Jadi aku harus menunaikan janji itu.!"


Raya terhenyak, matanya menatap terpaku ke


arah layar tablet. Pria itu tampak tidak berdaya.


"Seberapa parah kerusakan yang di alaminya.?"


"Kerusakannya sudah hampir 90 persen. Sudah


menyebar ke seluruh bagian jantungnya. Kalau


operasi ini tidak berhasil maka nyawanya akan


berada di ujung tanduk.!"


"Tidak.. itu tidak akan terjadi.! Apakah istrinya


mengetahui semua ini.?"


"Sejauh ini Dirga tidak mengatakan apapun


pada istrinya. Mereka baru saja memiliki anak.


Dia tidak tega kalau harus merusak kebahagiaan


yang baru saja di rasakan keluarganya.!"


"Tapi itu tidak benar. Sepahit apapun kenyataan


ini, harusnya dia berterus terang pada istrinya..


Mayra berhak mengetahui kondisi suaminya."


istrinya tentang kondisinya.!"


"Bisakah aku melihatnya langsung kesana.?"


Aaron tercenung, Raya mendongakkan kepala,


menatap wajah Aaron penuh harap. Keduanya


saling pandang lekat.


"Baiklah.. besok kita akan kesana melihatnya


setelah urusan pembuatan gaun selesai."


"Aaron.. bolehkah aku mengutarakan sebuah


niat dan keinginan padamu.? Sebenarnya ini


sudah lama sekali aku rencanakan."


Aaron menatap teduh wajah elok istrinya itu,


tangannya kini membelai lembut wajah itu.


"Katakan.. apa yang kau inginkan sayang.?"


Wajah Raya tampak berbinar indah, dia berbisik


halus di telinga Aaron yang membuat pria itu


terdiam, terhenyak sekaligus terkejut. Keduanya


untuk sesaat saling menatap mencoba untuk meyakinkan diri masing-masing. Akhirnya Aaron menganggukan kepala menyetujui semua


keinginan istrinya itu.


"Terimakasih sayang.."


Aaron terkejut saat tiba-tiba Raya naik keatas


tubuhnya lalu mendaratkan ciuman lembut nan


membuai di bibir Aaron, dan tanpa basa-basi dia


menarik kaos yang di kenakan Aaron kemudian


mulai melancarkan cumbuan maut nya di sekujur


tubuh gagah pria itu yang langsung bergetar dan menggila mendapat serangan tidak terduga itu.. Maharaya... kamu mulai nakal rupanya...!!


***


Esok harinya sekitar pukul 2 siang...


Aaron menggengam erat tangan Raya saat


mereka keluar dari privat lift di lantai teratas


Marvello's Hospital. Keduanya melangkah pasti


menuju ruang perawatan intensif yang ada di


lantai teratas rumah sakit ini di ikuti oleh para


bawahan setianya.


Rayen, Alea dan beberapa staf rumah sakit serta


para pengawal pribadi Dirga tampak menyambut hormat kedatangan Aaron dan sang istri. Untuk


sesaat Rayen tak mampu menyembunyikan raut keterpesonaan nya pada Raya. Pria itu tampak


begitu mengagumi sosok cantik jelita yang ada


di hadapannya itu, dan Alea hanya bisa berdecak


kesal melihat kekonyolan Dokter muda itu.


"Bagaimana keadaannya sekarang..?"


Aaron menatap lurus ke dalam ruangan tempat


Dirga berada dengan tampang yang terlihat


sangat dingin.


"Dia masih dalam masa tenang dan pengawasan


ketat untuk melewati kondisi pasca operasi.!"


Alea menjawab sambil membimbing mereka


masuk ke dalam ruangan steril lalu menyerahkan kostum APD lengkap pada Alex dan Jessica yang langsung sigap mengenakkan pakaian steril itu


ke tubuh majikannya masing-masing.


"Masuklah..dia sudah menunggu kakak."


Alea membukakan pintu masuk ke dalam ruang


isolasi tersebut. Aaron melirik kearah Raya yang


mengangguk yakin. Mereka kemudian masuk


ke dalam ruangan dengan saling berpegangan


tangan erat. Tiba di dalam ruangan keduanya


langsung menghampiri Dirga yang terbaring tak


berdaya di atas ranjang pasien. Beberapa alat


bantu medis masih terpasang. Kondisinya saat


ini memang sudah sadar, tapi dia masih dalam


pengawasan ketat.


Mata Dirga yang lemah tampak bersirobos tatap dengan mata indah Raya yang kini berdiri di tepi tempat tidur di samping Aaron. Cukup lama mata mereka saling menatap. Entah apa yang membuat


Dirga tidak bisa melepaskan diri dari jerat sihir


mata sebening kristal itu. Namun yang jelas saat


ini mata Raya sedang menembus batas, mencoba melihat kondisi tubuh Dirga sesungguhnya. Dia mengarahkan tatapannya langsung ke jantung


Dirga. Tampaknya kondisi pria itu saat ini memang


sedang dalam keadaan kurang stabil. Raya bisa

__ADS_1


melihat kondisi jantung Dirga sudah melemah.


"Ehemm...!!"


Aaron berdehem untuk menyadarkan Dirga dari


keterpakuannya. Pria itu mengalihkan tatapannya pada Aaron. Sorot matanya tampak menyiratkan pertanyaan besar tentang wanita yang kini ada


di samping sahabat dinginnya itu.


"Dia adalah istriku..!"


Aaron berucap datar. Dirga tampak terkejut, dia


kembali melirik kearah Raya, menatap wajah


elok wanita itu dengan sorot mata tidak percaya.


Raya menundukkan kepalanya sedikit sambil


tersenyum lembut membuat mata Dirga lagi-lagi terpaku.


"Senang bertemu anda Tuan Moolay.."


Lirih Raya dengan suara yang sangat halus.


"Salam kenal Lady.."


Sahut Dirga dengan suara yang sangat pelan.


"Apa yang kau rasakan sekarang.?"


Aaron cepat-cepat mengalihkan perhatian Dirga


dari Raya.


"Seperti yang kau lihat. Aku merasa Tuhan akan


segera memanggilku.!"


Jawab Dirga dengan suara yang sangat lemah.


Aaron mengetatkan rahangnya, dia menatap


tajam wajah Dirga yang pucat pasi itu.


"Apa kau sudah kehilangan jati dirimu.? Kau


sudah kehilangan keberingasanmu.?"


Aaron terlihat sedikit kesal. Kenapa sahabatnya


ini jadi lembek dan seolah kehilangan semangat


hidup, dia seperti bukan Dirga yang di kenalnya.


"Rasa sakit ini sangat menyiksaku Aaron..!"


"Tuan Moolay.. Anda tidak boleh menyerah. Ada


anak dan istri mu yang saat ini sedang menanti


kedatangan mu. Mengharapkan kehadiranmu."


Raya berucap lembut namun tegas membuat


Dirga terdiam merenung. Aaron memasukkan


kedua tangannya ke saku celana.


"Kau akan sembuh, bukankah kau mengatakan


bahwa anak dan istri mu adalah kekuatan mu.!"


Dirga tampak mengerjap, dia meringis sedikit. Nafasnya terlihat semakin berat. Tatapannya


juga semakin melemah. Tidak lama dia terlihat


kesulitan bernafas.


"Aaron.. ijinkan aku melakukan sesuatu pada


Tuan Moolay."


Aaron melirik cepat kearah Raya. Dia menatap


ragu dan sedikit tidak setuju, namun istrinya


itu menatapnya penuh permohonan.


"Aku hanya ingin memastikan kondisi Tuan


Moolay saat ini."


Raya mencoba meyakinkan. Akhirnya mau tidak


mau Aaron mengangguk tak berdaya. Sedang


Dirga tampak semakin kesulitannya bernafas.


Dia memejamkan mata mencoba untuk tetap


sadar dan menguatkan dirinya. Kilasan wajah


Mayra dan bayi mungilnya kini berkelebat di


otaknya membuat dia semakin down..


"Maaf kalau saya lancang Tuan Moolay."


Raya berucap sambil kemudian mengarahkan


matanya ke dada kiri Dirga dan menggerakkan


telapak tangannya berputar di atas dada kiri


pria itu yang seketika tersentak dengan mata


yang membulat sempurna saat merasakan ada hantaman keras dan rasa panas yang membakar


dadanya. Tubuh bagian atas Dirga terangkat


dengan wajah yang berubah membiru. Aaron


tampak berdiri mematung dengan raut wajah


cemas dan perasaan yang tidak karuan.


Tidak lama Raya mengibaskan tangannya dan


menempelkan dua jari tengahnya di atas dada


Dirga yang langsung menggeram hebat. Dan


akhirnya Raya memutar telapak tangan diatas


dada Dirga sambil menarik nafas berat.


Tubuh Dirga kembali terbaring lemah. Matanya


terpejam kuat. Aaron segera menekan tombol


darurat saat melihat mesin pendeteksi jantung


Dirga terlihat naik turun tak beraturan.


Tidak lama ke dalam ruangan muncul Alea dan


Rayen serta dua orang perawat yang langsung bergerak memeriksa kondisi Dirga.


"Apa yang terjadi dengan nya.?"


Alea melirik ke arah Aaron yang masih mematung


di tempatnya dengan wajah yang terlihat cemas.


"Tidak apa-apa.. Dia akan baik-baik saja."


Raya menyahut tenang sambil menatap wajah


Dirga yang kini mulai terlihat stabil. Semua orang tampak terkejut saat melihat Dirga menarik alat


bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya. Aneh..saat ini dia sudah tidak merasakan


kesulitan bernafas lagi.


"Tuan Moolay.. apa yang anda rasakan saat ini.?"


Alea mengecek nadi dan tekanan darah Dirga


yang sudah berangsur normal dan membaik.


"Aku sudah merasa lebih baik sekarang."


Sahut Dirga pelan, matanya kini jatuh di wajah


Raya yang terlihat berbinar cerah. Dia tahu ada


sesuatu yang istimewa dengan wanita yang di


akui Aaron sebagai istrinya itu. Aaron segera


menarik bahu Raya ke dalam dekapan eratnya


kemudian menciumi pelipisnya posesif.


"Kau tidak boleh sering-sering menggunakan


keistimewaan mu itu sayang. Aku tidak mau


kondisi kesehatan mu terganggu nantinya.!"


Bisik Aaron dengan raut wajah yang terlihat


tidak suka dengan situasi ini. Raya menatap


Aaron sambil tersenyum lembut.


"Maafkan aku.. situasinya cukup darurat."


"Jadi dia cukup penting bagimu.?"


"Bukankah dia orang yang cukup penting juga


bagimu.? Aku tidak bisa membiarkan mereka


kehilangan kebahagiaannya."


Sahut Raya lembut. Aaron menarik nafas pelan.


Alea dan Rayen terlihat saling pandang begitu menyadari kondisi Dirga saat ini sudah jauh lebih


baik. Alat bantu medis yang menempel di tubuh


nya kini sudah tidak di perlukan lagi.


"Terimakasih.. Lady De Enzo.. kau membuat


kondisiku jauh lebih baik sekarang."


Dirga berucap pelan sambil menatap lekat


wajah Raya yang tersenyum tenang.


"Sama-sama Tuan Moolay. Tapi saya sarankan


anda harus rajin melakukan check up rutin


untuk memastikan kesembuhan jantung anda.!"


Alea dan Rayen tampak terkejut mendengar


penjelasan Raya. Keduanya kembali saling


pandang penuh rasa penasaran. Kalau begini


mereka harus segera melakukan pemeriksaan


kembali kondisi Dirga secara menyeluruh untuk memastikan ucapan Raya.


"Jadi menurut kakak ipar Tuan Moolay tidak


butuh operasi transplantasi jantung.?"


Alea tampak tidak percaya. Raya tersenyum


tenang sambil menggeleng pelan.


"Hanya Allah yang memiliki hak penuh untuk


mencabut segala penderitaan yang sekarang


sedang di alami oleh Tuan Moolay. Tapi Insha


Allah..anda masih memiliki kesempatan untuk


lebih memperbaiki diri lagi ke depan."


Semua orang terdiam, terhenyak dalam hening


seakan tersihir oleh perkataan tenang dan yakin


dari seorang Princess Agung As Syaf Sulaiman..

__ADS_1


***


__ADS_2