
***
Malam yang indah di tengah lautan tenang di
atas kapal pesiar mewah bermandikan cahaya
bulan yang sedang bersinar dengan sempurna.
"Aaron.. ada apa ini.? Kenapa mataku harus di
tutup segala.?"
Raya melilitkan tangannya di leher Aaron saat
pria itu mengangkat tubuhnya ke pangkuannya.
Dia juga di buat terheran-heran karena matanya
saat ini di tutup kain hitam.
"Kita akan melihat bulan lebih dekat lagi.!"
Bisik Aaron sambil mencium lembut pipi Raya
yang semakin dibuat penasaran dengan semua
tindakan Aaron yang sedikit aneh itu. Dia sendiri
yang tadi memakaikan gaun cantik ke tubuhnya
setelah mereka selesai menjalankan sholat isya
dan berganti pakaian. Pria itu tampak lebih sabar memperlakukan dirinya, tidak terburu nafsu. Dia
juga cukup lama menciumi serta mengelus
lembut perut datarnya sambil bergumam pelan.
Ya..mungkin saja dia sedang menyesali dirinya.
Tiba di geladak paling atas, tepatnya di atas
buritan, Aaron menurunkan tubuh istrinya itu
dengan hati-hati kemudian membimbing nya
untuk berjalan perlahan mendekat ke ujung
geladak.
"Kita sudah sampai..Aku akan membuka penutup matamu sekarang.."
Bisik Aaron sambil perlahan membuka penutup
mata Raya yang terdiam sedikit tegang.
"Aku tidak pandai merangkai kata, aku juga bukan
tipe laki-laki yang bisa bersikap romantis. Tapi aku
harap kau tahu bagaimana dalamnya perasaanku
padamu. Aku sangat mencintaimu Maharaya.."
Aaron berucap pelan penuh perasaan yang baru
kali ini Raya mendengar Aaron mengucapkan
begitu banyak rangkaian kata. Mata Raya tampak
tertegun sekaligus terkesima saat melihat tempat
itu sudah di sulap menjadi sebuah tempat yang
sangat romantis.. Candle Light Dinner Place
bernuansa white pink yang sangat elegan.
Hiasan bunga tulip dan mawar terangkai indah
di semua sudut tempat dengan lilin warna-warni
yang terpasang manis melengkapi keindahan suasana. Sebuah meja lengkap dengan hidangan makan malam yang sudah tertata sedemikian
cantik menjadi pemandangan utama yang begitu
romantis dan menakjubkan di tengah curahan
sinar bulan yang jatuh di atas permukaan air laut memantul indah keatas geladak menyempurnakan semua suasana yang sangat syahdu ini.
"A-Aaron.. apa ini..? Kau menyiapkan semua ini.?"
Raya menutup mulutnya dengan ekspresi wajah
tampak begitu terpukau dengan semua yang ada
di depan matanya itu. Aaron.. lagi-lagi pria itu
memberinya kejutan manis yang tak terduga.
Dia mulai berjalan perlahan mendekat kearah
meja yang sudah tertata indah itu. Matanya kini
mulai berkaca-kaca saat melihat ada tulisan di
atas cake mungil nan menarik..
I'm sorry dear..I'm so sorry...
"Aaron..kau tidak harus melakukan semua ini.
Aku tidak membutuhkan semua ini.."
Lirih Raya sambil menutup wajahnya menahan desakan air mata yang memaksa ingin keluar.
"Maaf.. karena hari ini aku sudah berlaku tidak
adil dan mengecewakan mu. Sungguh..aku
sangat menyesali semua yang terjadi hari ini."
Aaron berucap sambil melangkah mendekat
dengan kedua tangan berada di belakang.
"Aku hanya butuh kejujuran mu Aaron.. Aku
hanya menginginkan penjelasan mu."
"Tentu saja.. aku tidak akan menyembunyikan
apapun darimu. Aku hanya belum menemukan
waktu yang tepat untuk mengatakan nya.!"
Raya menurunkan tangannya, menatap kaku
kearah Aaron yang kini sudah ada di depannya.
"Percayalah..apapun yang terjadi, semuanya
tidak akan pernah mengurangi perhatian dan kegilaanku padamu. Yang harus kamu tahu,
dimana pun aku berada, kau selalu ada dalam
hatiku, jiwaku, dan mataku. Kau selalu dalam pengawasan ku.."
Ucap Aaron sambil berlutut di hadapan Raya dan mengulurkan sebuket bunga cantik yang mampu
membuat air mata Raya luruh seketika. Dia meraih bunga cantik itu kemudian melompat ke dalam pelukan erat Aaron. Jatuh sudah air matanya tak tertahankan.
"Aku mencintaimu Aaron.. Aku sangat.. sangat..
mencintaimu.. Tolong jangan remukkan hatiku..
karena aku tidak sanggup kehilanganmu.."
Aaron memejamkan matanya kuat. Hatinya kini
benar-benar melebur.. bagaimana mungkin dia
menyakiti dan mengkhianati wanita ini kalau di
setiap tarikan nafas nya hanya ada satu nama
dan satu bayangan wajah nya saja.
"Maaf..karena cintaku terlalu besar padamu.."
Lirih Aaron tak sanggup berkata-kata lagi dia
menciumi puncak kepala Raya, lalu turun ke
keningnya, kemudian menghujani wajah Raya
dengan ciuman bertubi-tubi yang membuat
Raya memejamkan matanya kuat merasakan
kebahagiaan yang kini membuncah di dadanya.
Keduanya saling menatap lembut, mengirimkan
sinyal kehangatan hati yang saat ini di penuhi
nama masing-masing. Setelah itu bibir mereka
saling bersambut, terpagut dalam ciuman lembut
dan manis penuh cinta dan kemesraan.
Perlahan Aaron meraih sesuatu dari dalam
saku jasnya. Tubuh Raya tidak bisa bergerak
saat tangan Aaron melingkarkan sebuah kalung berlian kuning yang sangat indah dan memukau dengan desain yang terlihat ekslusif.
"Aaron.. apalagi ini.? Kalung ini..sangat indah.."
Raya menatap terpukau benda berkilau itu yang
kini sudah menghiasi lehernya dengan indah.
Bibir Aaron tersenyum tenang. Sebenarnya benda
itu bukanlah apa-apa, bahkan kalau Raya meminta
dia akan membelikan dunia sekalipun untuk di
persembahkan ke atas pangkuannya.
"Kau menyukainya.? Aku tahu kau tidak terlalu
tertarik pada perhiasan.. tapi aku ingin kau.."
"Aku sangat menyukainya.. terimakasih sayang."
Potong Raya sambil mendaratkan satu ciuman
lembut nan manis di bibir Aaron. Keduanya kini
kembali terhanyut dalam kelembutan ciuman
yang begitu manis dan hangat di tengah segala
kebahagiaan yang memenuhi hati keduanya.
"Ayo kita makan.. Aku lapar sekali.."
Bisik Aaron setelah mereka melepaskan diri
dari kehangatan dan kelembutan bibir masing-
masing. Aaron menarik kursi dan mendudukkan
Raya dengan tenang. Keduanya kini duduk saling berhadapan. Di atas meja telah tersaji makanan
yang semuanya hanya tersedia dalam satu piring,
satu gelas minuman dan satu hidangan penutup.
Dengan telaten Aaron mulai menyuapi istrinya
itu penuh dengan kelembutan dan kesabaran
membuat mata Raya kembali berkaca-kaca.
Dia menatap wajah super tampan suaminya itu
penuh rasa tidak percaya sekaligus terharu. Pria
ini seolah menjelma menjadi sosok yang sangat
berbeda dari seorang Aaron yang biasanya
begitu dingin dan datar..
Malam semakin larut...
Aaron dan Raya sudah naik keatas tempat tidur
yang ada di kamar pribadi mereka di dalam
__ADS_1
kapal pesiar mewah itu. Atap kamar ini di desain
khusus menggunakan kaca tembus pandang
hingga sinar bulan yang sempurna jatuh ke
dalam ruangan menyinari seluruh tempat itu
menampilkan suasana syahdu dan romantic..
"Mendekatlah..aku tahu hari ini pasti sangat
berat untukmu."
Aaron merentangkan tangan kiri nya agar Raya
segera masuk ke dalam rengkuhannya. Tanpa
bantahan Raya meletakan kepalanya di atas
lengan kokoh suaminya itu dengan posisi tubuh
miring saling berhadapan. Tangannya berada
di dada bidang Aaron yang berbalut kaos putih
tipis membuat bentuk tubuhnya yang sempurna
tercetak jelas. Dia menyusupkan wajahnya di
antara belahan dada bidang suaminya itu. Ohhh..
ini adalah posisi yang sangat di sukainya..
sangat nyaman dan menenangkan..
"Kau mau tahu kemana aku pergi hari ini kan.?"
Aaron menarik tubuh Raya, menggulungnya ke
dalam dekapannya, kemudian membelai rambut
indahnya yang terurai lembut bak untaian sutra.
Aroma wangi semerbak menguar lembut dari
tubuh halus istrinya itu membuat darah di tubuh
Aaron berdesir halus merambat ke seluruh nadi
dan aliran darahnya. Selalu saja..gairah di dalam
dirinya bertolak belakang dengan logika yang
sekarang bermain di otaknya, bahwa malam ini
dia akan membebaskan tubuh istrinya ini. Tapi..
sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Aku menunggu penjelasan mu sayang.."
Lirih Raya masih dalam posisi menyembunyikan
wajahnya di dada Aaron dengan nyaman.
"Baiklah.. aku akan mengatakannya sekarang.
Tapi..aku minta jangan pernah salah faham atas
apa yang aku lakukan ini. Semuanya semata-
mata atas dasar persaudaraan dan persahabatan."
Raya terdiam, alisnya tampak bertaut dalam. Apa
yang sebenarnya terjadi. Dia menjauhkan wajah
nya saat Aaron meraih tablet dari atas meja kecil
yang ada di samping tempat tidur.
"Apa yang terjadi sayang.? Apa semua ini ada hubungannya dengan sahabatmu.?"
Raya membenahi posisi tubuhnya saat Aaron
menyadarkan punggung nya di tumpukan bantal.
Dia menyandarkan kepalanya di dada Aaron
yang mulai membuka tablet dan menampilkan
fhoto Dirga yang sedang terbaring lemah tak
berdaya di ranjang pasien.
"Tadi pagi Dirga telah melakukan operasi jantung
pertamanya. Aku sendiri yang sudah mengatur semuanya dan berjanji untuk menemaninya.
Jadi aku harus menunaikan janji itu.!"
Raya terhenyak, matanya menatap terpaku ke
arah layar tablet. Pria itu tampak tidak berdaya.
"Seberapa parah kerusakan yang di alaminya.?"
"Kerusakannya sudah hampir 90 persen. Sudah
menyebar ke seluruh bagian jantungnya. Kalau
operasi ini tidak berhasil maka nyawanya akan
berada di ujung tanduk.!"
"Tidak.. itu tidak akan terjadi.! Apakah istrinya
mengetahui semua ini.?"
"Sejauh ini Dirga tidak mengatakan apapun
pada istrinya. Mereka baru saja memiliki anak.
Dia tidak tega kalau harus merusak kebahagiaan
yang baru saja di rasakan keluarganya.!"
"Tapi itu tidak benar. Sepahit apapun kenyataan
ini, harusnya dia berterus terang pada istrinya..
Mayra berhak mengetahui kondisi suaminya."
istrinya tentang kondisinya.!"
"Bisakah aku melihatnya langsung kesana.?"
Aaron tercenung, Raya mendongakkan kepala,
menatap wajah Aaron penuh harap. Keduanya
saling pandang lekat.
"Baiklah.. besok kita akan kesana melihatnya
setelah urusan pembuatan gaun selesai."
"Aaron.. bolehkah aku mengutarakan sebuah
niat dan keinginan padamu.? Sebenarnya ini
sudah lama sekali aku rencanakan."
Aaron menatap teduh wajah elok istrinya itu,
tangannya kini membelai lembut wajah itu.
"Katakan.. apa yang kau inginkan sayang.?"
Wajah Raya tampak berbinar indah, dia berbisik
halus di telinga Aaron yang membuat pria itu
terdiam, terhenyak sekaligus terkejut. Keduanya
untuk sesaat saling menatap mencoba untuk meyakinkan diri masing-masing. Akhirnya Aaron menganggukan kepala menyetujui semua
keinginan istrinya itu.
"Terimakasih sayang.."
Aaron terkejut saat tiba-tiba Raya naik keatas
tubuhnya lalu mendaratkan ciuman lembut nan
membuai di bibir Aaron, dan tanpa basa-basi dia
menarik kaos yang di kenakan Aaron kemudian
mulai melancarkan cumbuan maut nya di sekujur
tubuh gagah pria itu yang langsung bergetar dan menggila mendapat serangan tidak terduga itu.. Maharaya... kamu mulai nakal rupanya...!!
***
Esok harinya sekitar pukul 2 siang...
Aaron menggengam erat tangan Raya saat
mereka keluar dari privat lift di lantai teratas
Marvello's Hospital. Keduanya melangkah pasti
menuju ruang perawatan intensif yang ada di
lantai teratas rumah sakit ini di ikuti oleh para
bawahan setianya.
Rayen, Alea dan beberapa staf rumah sakit serta
para pengawal pribadi Dirga tampak menyambut hormat kedatangan Aaron dan sang istri. Untuk
sesaat Rayen tak mampu menyembunyikan raut keterpesonaan nya pada Raya. Pria itu tampak
begitu mengagumi sosok cantik jelita yang ada
di hadapannya itu, dan Alea hanya bisa berdecak
kesal melihat kekonyolan Dokter muda itu.
"Bagaimana keadaannya sekarang..?"
Aaron menatap lurus ke dalam ruangan tempat
Dirga berada dengan tampang yang terlihat
sangat dingin.
"Dia masih dalam masa tenang dan pengawasan
ketat untuk melewati kondisi pasca operasi.!"
Alea menjawab sambil membimbing mereka
masuk ke dalam ruangan steril lalu menyerahkan kostum APD lengkap pada Alex dan Jessica yang langsung sigap mengenakkan pakaian steril itu
ke tubuh majikannya masing-masing.
"Masuklah..dia sudah menunggu kakak."
Alea membukakan pintu masuk ke dalam ruang
isolasi tersebut. Aaron melirik kearah Raya yang
mengangguk yakin. Mereka kemudian masuk
ke dalam ruangan dengan saling berpegangan
tangan erat. Tiba di dalam ruangan keduanya
langsung menghampiri Dirga yang terbaring tak
berdaya di atas ranjang pasien. Beberapa alat
bantu medis masih terpasang. Kondisinya saat
ini memang sudah sadar, tapi dia masih dalam
pengawasan ketat.
Mata Dirga yang lemah tampak bersirobos tatap dengan mata indah Raya yang kini berdiri di tepi tempat tidur di samping Aaron. Cukup lama mata mereka saling menatap. Entah apa yang membuat
Dirga tidak bisa melepaskan diri dari jerat sihir
mata sebening kristal itu. Namun yang jelas saat
ini mata Raya sedang menembus batas, mencoba melihat kondisi tubuh Dirga sesungguhnya. Dia mengarahkan tatapannya langsung ke jantung
Dirga. Tampaknya kondisi pria itu saat ini memang
sedang dalam keadaan kurang stabil. Raya bisa
__ADS_1
melihat kondisi jantung Dirga sudah melemah.
"Ehemm...!!"
Aaron berdehem untuk menyadarkan Dirga dari
keterpakuannya. Pria itu mengalihkan tatapannya pada Aaron. Sorot matanya tampak menyiratkan pertanyaan besar tentang wanita yang kini ada
di samping sahabat dinginnya itu.
"Dia adalah istriku..!"
Aaron berucap datar. Dirga tampak terkejut, dia
kembali melirik kearah Raya, menatap wajah
elok wanita itu dengan sorot mata tidak percaya.
Raya menundukkan kepalanya sedikit sambil
tersenyum lembut membuat mata Dirga lagi-lagi terpaku.
"Senang bertemu anda Tuan Moolay.."
Lirih Raya dengan suara yang sangat halus.
"Salam kenal Lady.."
Sahut Dirga dengan suara yang sangat pelan.
"Apa yang kau rasakan sekarang.?"
Aaron cepat-cepat mengalihkan perhatian Dirga
dari Raya.
"Seperti yang kau lihat. Aku merasa Tuhan akan
segera memanggilku.!"
Jawab Dirga dengan suara yang sangat lemah.
Aaron mengetatkan rahangnya, dia menatap
tajam wajah Dirga yang pucat pasi itu.
"Apa kau sudah kehilangan jati dirimu.? Kau
sudah kehilangan keberingasanmu.?"
Aaron terlihat sedikit kesal. Kenapa sahabatnya
ini jadi lembek dan seolah kehilangan semangat
hidup, dia seperti bukan Dirga yang di kenalnya.
"Rasa sakit ini sangat menyiksaku Aaron..!"
"Tuan Moolay.. Anda tidak boleh menyerah. Ada
anak dan istri mu yang saat ini sedang menanti
kedatangan mu. Mengharapkan kehadiranmu."
Raya berucap lembut namun tegas membuat
Dirga terdiam merenung. Aaron memasukkan
kedua tangannya ke saku celana.
"Kau akan sembuh, bukankah kau mengatakan
bahwa anak dan istri mu adalah kekuatan mu.!"
Dirga tampak mengerjap, dia meringis sedikit. Nafasnya terlihat semakin berat. Tatapannya
juga semakin melemah. Tidak lama dia terlihat
kesulitan bernafas.
"Aaron.. ijinkan aku melakukan sesuatu pada
Tuan Moolay."
Aaron melirik cepat kearah Raya. Dia menatap
ragu dan sedikit tidak setuju, namun istrinya
itu menatapnya penuh permohonan.
"Aku hanya ingin memastikan kondisi Tuan
Moolay saat ini."
Raya mencoba meyakinkan. Akhirnya mau tidak
mau Aaron mengangguk tak berdaya. Sedang
Dirga tampak semakin kesulitannya bernafas.
Dia memejamkan mata mencoba untuk tetap
sadar dan menguatkan dirinya. Kilasan wajah
Mayra dan bayi mungilnya kini berkelebat di
otaknya membuat dia semakin down..
"Maaf kalau saya lancang Tuan Moolay."
Raya berucap sambil kemudian mengarahkan
matanya ke dada kiri Dirga dan menggerakkan
telapak tangannya berputar di atas dada kiri
pria itu yang seketika tersentak dengan mata
yang membulat sempurna saat merasakan ada hantaman keras dan rasa panas yang membakar
dadanya. Tubuh bagian atas Dirga terangkat
dengan wajah yang berubah membiru. Aaron
tampak berdiri mematung dengan raut wajah
cemas dan perasaan yang tidak karuan.
Tidak lama Raya mengibaskan tangannya dan
menempelkan dua jari tengahnya di atas dada
Dirga yang langsung menggeram hebat. Dan
akhirnya Raya memutar telapak tangan diatas
dada Dirga sambil menarik nafas berat.
Tubuh Dirga kembali terbaring lemah. Matanya
terpejam kuat. Aaron segera menekan tombol
darurat saat melihat mesin pendeteksi jantung
Dirga terlihat naik turun tak beraturan.
Tidak lama ke dalam ruangan muncul Alea dan
Rayen serta dua orang perawat yang langsung bergerak memeriksa kondisi Dirga.
"Apa yang terjadi dengan nya.?"
Alea melirik ke arah Aaron yang masih mematung
di tempatnya dengan wajah yang terlihat cemas.
"Tidak apa-apa.. Dia akan baik-baik saja."
Raya menyahut tenang sambil menatap wajah
Dirga yang kini mulai terlihat stabil. Semua orang tampak terkejut saat melihat Dirga menarik alat
bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya. Aneh..saat ini dia sudah tidak merasakan
kesulitan bernafas lagi.
"Tuan Moolay.. apa yang anda rasakan saat ini.?"
Alea mengecek nadi dan tekanan darah Dirga
yang sudah berangsur normal dan membaik.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang."
Sahut Dirga pelan, matanya kini jatuh di wajah
Raya yang terlihat berbinar cerah. Dia tahu ada
sesuatu yang istimewa dengan wanita yang di
akui Aaron sebagai istrinya itu. Aaron segera
menarik bahu Raya ke dalam dekapan eratnya
kemudian menciumi pelipisnya posesif.
"Kau tidak boleh sering-sering menggunakan
keistimewaan mu itu sayang. Aku tidak mau
kondisi kesehatan mu terganggu nantinya.!"
Bisik Aaron dengan raut wajah yang terlihat
tidak suka dengan situasi ini. Raya menatap
Aaron sambil tersenyum lembut.
"Maafkan aku.. situasinya cukup darurat."
"Jadi dia cukup penting bagimu.?"
"Bukankah dia orang yang cukup penting juga
bagimu.? Aku tidak bisa membiarkan mereka
kehilangan kebahagiaannya."
Sahut Raya lembut. Aaron menarik nafas pelan.
Alea dan Rayen terlihat saling pandang begitu menyadari kondisi Dirga saat ini sudah jauh lebih
baik. Alat bantu medis yang menempel di tubuh
nya kini sudah tidak di perlukan lagi.
"Terimakasih.. Lady De Enzo.. kau membuat
kondisiku jauh lebih baik sekarang."
Dirga berucap pelan sambil menatap lekat
wajah Raya yang tersenyum tenang.
"Sama-sama Tuan Moolay. Tapi saya sarankan
anda harus rajin melakukan check up rutin
untuk memastikan kesembuhan jantung anda.!"
Alea dan Rayen tampak terkejut mendengar
penjelasan Raya. Keduanya kembali saling
pandang penuh rasa penasaran. Kalau begini
mereka harus segera melakukan pemeriksaan
kembali kondisi Dirga secara menyeluruh untuk memastikan ucapan Raya.
"Jadi menurut kakak ipar Tuan Moolay tidak
butuh operasi transplantasi jantung.?"
Alea tampak tidak percaya. Raya tersenyum
tenang sambil menggeleng pelan.
"Hanya Allah yang memiliki hak penuh untuk
mencabut segala penderitaan yang sekarang
sedang di alami oleh Tuan Moolay. Tapi Insha
Allah..anda masih memiliki kesempatan untuk
lebih memperbaiki diri lagi ke depan."
Semua orang terdiam, terhenyak dalam hening
seakan tersihir oleh perkataan tenang dan yakin
dari seorang Princess Agung As Syaf Sulaiman..
__ADS_1
***