
❤️❤️❤️
Limousine mewah itu berhenti di lobby utama
hotel paling mahal yang ada di kota ini. Masih
merupakan aset yang di miliki oleh keluarga
De Enzo, dan salah satu aset pribadi Aaron.
Mata indah Praba tampak berbinar bahagia.
Aaron menatap datar wajah cantik wanita yang
ada di hadapan nya itu. Praba balas menatapnya dengan penuh damba, dia benar-benar tidak
sabar ingin segera menikmati kencan luar
biasa nya dengan Sang Pangeran super hot ini.
"Miss Praba turunlah. Asisten ku akan mengurus
semua pembayarannya. Kau tidak akan pulang
dengan tangan kosong.!"
Aaron berucap dengan tatapan yang mengarah
ke luar jendela. Praba menautkan alisnya tidak
mengerti apa yang di ucapkan oleh Aaron.
"Aku tidak memikirkan soal uang Yang Mulya.
Bisa menghabiskan satu malam dengan mu
saja sudah merupakan anugerah bagiku."
"Kencan kita cukup sampai di sini saja.!"
Aaron memotong dengan wajah tanpa ekspresi
sedikitpun, sangat santai dan seolah tak berpikir.
Praba melebarkan matanya, tak percaya dengan
apa yang baru saja di dengarnya.
"Apa maksud anda Yang Mulya.? Apakah ada
yang kurang dengan diriku..?"
"Tidak, kau sudah sempurna sebagai teman
kencan ku.!"
Wanita cantik itu tampak mengerjapkan mata.
Menatap lekat wajah teramat tampan Sang
Pangeran yang terlihat sangat datar dan super
dingin itu. Apa sebenarnya yang di inginkan
oleh pria misterius ini ?
"Kenapa anda mempermainkan ku Yang Mulya.? Padahal aku sangat berharap bisa menghabiskan malam ini sepuasnya dengan mu."
"Ada wanita lain yang lebih berhak atas diriku.!"
Praba terhenyak, dia menggelengkan kepalanya
kuat, benar-benar tidak menduga dirinya akan
di tolak mentah-mentah oleh Sang Pangeran.
Ini benar-benar penghinaan bagi dirinya. Mata
nya sedikit berair, tapi dia tidak mungkin bisa
memaksa Pria ini agar melanjutkan kencannya.
"Apakah wanita itu sekretaris anda.?"
"Dia adalah istriku.! Milikku satu-satunya.!"
Praba membulatkan matanya tidak percaya.
Wanita tadi istri Sang Pangeran.? Dunia ini
memang penuh dengan misteri.
"Apakah anda melakukan semua tindakan tadi
hanya untuk membuat istri mu cemburu.?
Aaron menyeringai tipis, kemudian melirik ke
arah Praba yang terpaksa tersenyum.
"Terimakasih karena kau sudah ikut terlibat.!"
"Istri mu sangat beruntung, aku lihat anda
sangat mencintainya, bukan begitu Yang Mulya.?"
Aaron membeku seketika, wajahnya tampak
bereaksi aneh, Cinta..?? Haa..itu tidak mungkin.!
Cintanya hanya untuk satu orang saja. Dan dia
sudah meyakinkan diri tidak akan jatuh cinta
lagi, karena hal itu hanya akan membuat hidup
nya bertambah kacau dan ribet seperti kemarin.!
"Aku tidak mengenal kata cinta.!"
"Tapi yang aku lihat justru sebaliknya.!"
Praba berkata penuh keyakinan, Aaron tampak
terdiam dalam renungan. Wanita cantik itu kini
bersiap untuk keluar dari mobil.
"Anggap kau tidak pernah bertemu dengan ku.!"
Aaron berkata penuh nada makna tersirat
dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Tentu saja, aku mengerti. Terimakasih untuk
kencan singkat nya Yang Mulya, anda sangat mengesankan."
Praba menundukkan kepalanya sedikit, setelah
itu dia keluar dari dalam mobil mewah tersebut.
Aaron menarik napas panjang, dia merebahkan
kepalanya ke sandaran jok, memejamkan mata
rapat. Bayangan wajah Raya terus bermain di
pelupuk matanya. Jiwanya kini benar-benar
gelisah, wanita itu sudah membuat dia hilang
akal dan mampu melakukan hal konyol seperti
ini hanya karena ingin melihat nya cemburu.
Ansel masuk ke dalam mobil setelah urusan
dengan Si cantik Praba kelar. Dia menatap
lekat wajah Aaron yang sedang mencoba
untuk memejamkan matanya sesaat.
"Kau tidak berubah Kak.! Kau selalu membuat
wanita-wanita itu meradang. Tapi sekarang kau
sudah tidak minum lagi, itu luar biasa.!"
"Jangan banyak bicara ! Bawa aku ke hotel
tempat Elliot dan Desmon menginap. Ada hal
yang harus kita bahas mengenai kekuatan
misterius itu !"
"Baiklah Kak, kita kesana sekarang.!"
"Suruh para pengawal kembali ke istana. Sudah
cukup hari ini aku bersikap kaku.!"
Ansel tersenyum miring, dia melakukan kontak
dengan kepala pengawal setelah itu mengirimkan
maps pada supir pribadi yang ada di depan. Dan
mobil pun kini meluncur ke tempat yang berbeda.
***
Sementara itu di White House...
Raya baru saja selesai membersihkan diri dan
menjalankan segala kewajiban nya sekaligus
berdoa untuk ketenangan batin dan jiwanya.
Matanya sedikit sembab karena cukup lama
menumpahkan air mata sewaktu di mobil dan
saat membersihkan dirinya di kamar mandi.
Walau berusaha untuk melupakan rasa sakit
itu, tapi air matanya tetap saja tidak bisa di
ajak kompromi.
Untuk sejenak dia berdiri di balkon kamarnya,
menatap ke kejauhan, mencoba menembus
batas dan segala harapan. Masih adakah sisa
asa yang bisa di rajut nya ke depan.? Sudah
__ADS_1
2 minggu lebih dia berada di dalam kekuasaan
laki-laki yang telah merenggut semua masa
depannya tanpa bisa melawan sama sekali.
Lalu harus bagaimana kini dia bersikap ?
Pasrah.. hanya kata itulah yang kini tersisa.
Tuhan..tolong tunjukan jalan yang harus aku
tempuh ke depan..Dan kumohon kuatkan aku
dalam menghadapi semua ujian Mu ini..
Raya bergumam dalam doa tulus sebelum dia
masuk ke alam bawah sadarnya. Rasa lelah jiwa
dan raga mampu menenggelamkan dia ke dunia
mimpi dengan cepat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Tubuh Raya benar-benar di serang kelelahan.
Dia kini terlelap dalam tidur nyenyak nya dan
tidak menyadari kedatangan Aaron ke dalam
kamar tersebut. Padahal malam ini tubuhnya
hanya berbalut gaun sutra tipis yang terlihat
transparan dan pas di tubuh. Tampak begitu
seksi dan menggoda hingga membuat Aaron
yang baru saja masuk ke dalam kamar nya
langsung menegang dan menelan salivanya
berat. Aliran darahnya kacau dalam sekejap.
"Kenapa kamu selalu saja menggodaku.."
Desis Aaron seraya memejamkan matanya kuat mencoba untuk menekan serbuan hasrat yang
tiba-tiba datang menerjang. Dia segera membuka mantel yang dipakainya dan melempar nya asal. Setelah itu cepat-cepat berlalu ke dalam kamar
mandi.
Setelah selesai menjalankan kewajibannya
Aaron berdiri di sisi tempat tidur, menatap lekat
wajah cantik jelita di hadapannya yang sudah
membuat hati dan jiwanya tidak seimbang.
Wajah itu terlihat begitu tenang dan memikat.
Perlahan dia naik ke kasur kemudian berbaring
di samping Raya, mengatur irama detak jantung
nya yang dari tadi sudah bermarathon. Sekuat
tenaga dia mencoba untuk mengendalikan diri
agar tidak melakukan kontak fisik dengan wanita
yang terbaring miring kearahnya itu. Dia menaruh
guling diantara mereka sebagai pemisah.
Namun tatapannya tidak bisa lepas dari bibir
ranum istrinya yang mengandung banyak madu
itu.Tidak tahan rasanya, dia mendekat, kemudian menempelkan bibirnya di kening Raya, mencium
nya lembut dan lama. Ada getaran hebat yang kini semakin terasa meresahkan jiwanya membuat
Aaron memejamkan matanya.
Merasakan ada suhu lain di dekatnya Raya
terjaga dari tidurnya kemudian membuka mata.
"Aaa....Aaaroon...!"
Raya reflek menjauhkan diri sambil kemudian memukulkan guling ke tubuh Aaron dengan
membabi buta, mulutnya tidak henti mengumpat
pria itu. Tapi gerakan nya tertahan ketika tiba-
tiba tubuhnya terangkat dan sekejap kemudian
posisi badannya sudah ada di bawah Aaron,
ada di bawah kekuasaan laki-laki itu. Kedua
mata mereka bertemu, saling menatap kuat.
Tubuh bagian atas Aaron saat ini dalam keadaan
polos membuat Raya langsung di serang
ketegangan.
kamarku.! Pergi..!"
"Aku adalah suamimu..Kau tidak boleh terus
menerus mengabaikan ku Maharaya..!"
Raya terhenyak sesaat, mata mereka kembali
saling menatap kuat, Raya masih berusaha
untuk berontak, tapi kedua telapak tangannya
kini di cengkeram oleh Aaron hingga jemari
tangan mereka bertautan erat.
"Aku tidak merasa punya kewajiban untuk
memperhatikan mu Pangeran..!"
Mata Aaron tampak menyala, tatapannya kini
semakin mendalam di selubungi kabut gairah
yang sudah tidak mungkin lagi di padamkan.
"Aku sudah menahan diri agar tidak menyerang
mu.! Tapi sekarang kau malah menantang ku.
Jadi jangan menyalahkan ku untuk ini Raya.."
"A-apa yang akan kau lakukan.? Dan kenapa
kamu datang kesini, bukankah seharusnya
kau bersama model cantik itu.?"
"Kenapa..? Kau cemburu padanya.?"
Wajah Raya langsung saja merah padam, dia
berusaha untuk keluar dari kurungan tubuh
Aaron yang menatap liar seluruh tubuhnya
membuat Raya semakin tegang sekaligus
panas dingin..
"Tidak, untuk apa aku cemburu..! Kau bebas
melakukan apapun yang kau mau. Tapi kau
tidak boleh membawa jejak kotor mu dengan
wanita itu ke tempat ini.!"
Aaron menyeringai tipis dengan reaksi aneh
dan tatapan yang semakin mendalam. Gelora
hasratnya kini sudah tidak terbendung lagi.
"Aku tidak bisa mendapatkan kepuasan dari
wanita lain seperti yang aku dapatkan darimu."
Bisiknya berat dan serak, dan detik berikutnya
tangannya sudah bergerak lihai menarik paksa
gaun malam yang di pakai Raya.
"Aaa...Aaroonn.. apa yang kau lakukan.?
Aaron.. hentikan.. aku tidak mau.. emmhhh.."
Aaron menyergap bibir ranum Raya dalam
sekali gebrakan, m*lum*tny* rakus dan liar
penuh dengan gairah yang membara. Raya
masih mencoba menolak dengan memukuli
dada Aaron tapi laki-laki itu malah semakin
memperdalam ciumannya dan menekan masuk.
Raya membulatkan matanya saat tangan Aaron
menyobek paksa gaunnya dan melempar nya
ke sembarang arah. Air matanya kini mengalir
membasahi pipinya sebagai signal penolakan
atas apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
Dan akhirnya ciuman panas itu terlepas saat
keduanya sudah sama-sama kehabisan stock
oksigen di paru-paru nya. Mereka berdua saling
menatap kuat. Tubuh Raya bergetar hebat saat
__ADS_1
melihat Aaron sudah di kuasai oleh serbuan
gairah yang meledak. Apa yang terjadi pada
pria ini, bukankah dia seharusnya sedang
berkencan dengan wanita model itu.?
Aaron menatap panas seluruh tubuh indah
sempurna Raya yang kini sudah setengah
polos membuat Raya semakin bergetar hebat.
Dia mencoba menutupi bagian atas tubuhnya
dengan kedua telapak tangan nya.
"Aaroon... kumohon.. jangan lagi.."
Raya mendesis tertahan dengan luruhan air
mata penolakan. Dia menatap wajah Aaron
yang sudah memerah seluruhnya terbakar
gairah dan tidak mungkin bisa di padamkan
nya lagi.
"Aku tidak bisa, aku sangat menginginkan mu
saat ini. Ijinkan aku memiliki mu sekarang.."
Desis Aaron dengan suara yang sangat serak.
Air mata Raya semakin banjir, dia menggeleng
kuat mencoba menolak apa yang di lakukan
pria itu karena kini bibir Aaron mulai bergerak
menjelajah seluruh bagian tubuh nya. Di mulai
dari telinganya, tengkuk nya, lehernya dan kini
tangannya merenggut paksa bra yang di pakainya.
Aksi liar Aaron semakin menggila di kedua bukit kembar indahnya dengan sentuhan yang sangat
lembut dan membuai serta gigitan-gigitan kecil
yang berhasil memercik gairah di tubuh Raya
membuat tubuhnya mulai di serang hawa panas
yang semakin lama semakin terasa menggebu. Sementara bibir Aaron tiada henti menelusuri
dan menyentuh seluruh bagian dari tubuhnya,
setiap inchi, setiap detail tanpa terlewat. Pria itu
begitu memuja semua yang ada pada tubuhnya.
"Emhh.. Aaroonn.. bisakah kamu hentikan
semua ini.. aku.. tidak tahaann.. aakhh...!"
Akhirnya Raya mendesah lembut saat serbuan
hasrat kini sudah menguasai seluruh tubuhnya.
Aaron mengangkat wajahnya, menatap lekat
wajah Raya yang sudah berubah memerah.
Tidak ada lagi raut ketakutan dan ketegangan,
yang ada kini hanyalah seorang wanita yang
butuh pelepasan.
"Aku akan mengajari mu bagaimana melayani
seorang suami dengan benar..!"
Bisik Aaron dengan seringai tipis di bibirnya.
Raya melebarkan matanya saat melihat Aaron
membuka celana yang di pakainya. Dan dirinya
kini sudah tidak ada keinginan untuk menolak
karena ada gelombang hasrat yang datang
menerjang membuat tubuh nya benar-benar
panas saat melihat bagaimana perkasanya
tubuh bagian bawah laki-laki itu. Aaron melepas
semua kain yang menempel di tubuh mereka.
Mata mereka kini saling menatap kuat di penuhi
oleh kabut hasrat dan gairah yang sudah menenggelamkan mereka pada keinginan
untuk saling memiliki satu sama lain.
Akhirnya dengan perlahan Aaron mulai bergerak
menyatukan tubuh mereka membuat tubuh Raya
mengejang hebat dan menjerit kuat saat rasa
sakit itu kini kembali membelah tubuh nya.
Inti tubuh milik pria ini terlalu perkasa hingga
mampu membuat tubuh Raya seakan di rejam
benda tajam, rasanya sakit.. sangat sakit. !
Sementara Aaron sendiri kini terkesiap, apa
yang dia rasakan malam itu kini terulang, rasa
yang sama. Inti tubuh wanita ini seolah kembali menutup dan dia harus kembali berjuang untuk menerobosnya. Inilah keistimewaan yang dimiliki wanita ini. Jiwa Aaron kini menggelegak oleh
perasaan posesif dan obsesif pada wanita ini.
Tidak, dia tidak boleh di miliki oleh pria manapun, wanita ini hanya miliknya, kalau perlu dia akan mengikatnya paksa dengan cara apapun.!
Tangan Raya mencengkeram kuat punggung
kokoh Aaron mencoba untuk meredam rasa
sakit yang di rasakannya. Mata mereka saling
menatap kuat, tatapan Aaron berubah teduh,
dia memagut bibir Raya, ********** lembut
dan halus, membawanya pada ketenangan
dan kenikmatan yang kini mulai di rasakan.
Aaron mulai menggerakkan tubuhnya dengan
lihai dan intens membuat tubuh Raya perlahan
mulai merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Dan gairah itu tiba-tiba datang menerjang
membuat Aaron kembali terkesiap saat inti
miliknya harus berjuang keluar dari cengkraman
kekuasaan tubuh bagian bawah istrinya itu.
Dia harus menyeimbangkan tenaganya agar
bisa tetap mengontrol irama permainan nya.
Dan akhirnya setelah berjuang cukup lama
keduanya kini sudah bisa terbang bersama
ke langit ke tujuh. Raya tidak bisa menolak
semua kenikmatan yang di berikan oleh pria
jahat ini walau sekeras apapun dia berusaha
untuk menolaknya.
Kini suara desahan, erangan dan lenguhan
panjang mewarnai kamar mewah itu.Tidak ada
lagi perdebatan, tidak ada lagi suara teriakan
berontak Raya, yang ada hanyalah suara jeritan
kecil tertahan saat mereka berdua berhasil
mencapai puncak kenikmatan bersama.
Tubuh polos mereka yang di penuhi keringat
dan peluh kini masih menempel satu sama
lain. Aaron menatap lembut wajah lelah Raya
yang memejamkan mata erat. Dia sangat puas,
bahkan terlampau puas. Wanita ini benar-benar dahsyat, dia adalah aset yang sangat berharga.
Dua jam sudah mereka melewati malam ini di
atas tempat tidur panas membara. Perlahan
Aaron menempelkan bibirnya di kening Raya,
kemudian menciumnya lembut dan lama.
"Maaf..karena aku sudah memaksakan
kehendak untuk kedua kalinya padamu.."
Bisik Aaron di telinga Raya sambil menjatuhkan
tubuh nya di samping tubuh Raya yang semakin memejamkan matanya kuat. Dia menangis pilu
dalam diam. Kenapa dia harus ikut terhanyut.??
Kenapa dirinya harus ikut menikmati ??..
***
__ADS_1
Happy Reading...