Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
43. Gagal Kencan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Limousine mewah itu berhenti di lobby utama


hotel paling mahal yang ada di kota ini. Masih


merupakan aset yang di miliki oleh keluarga


De Enzo, dan salah satu aset pribadi Aaron.


Mata indah Praba tampak berbinar bahagia.


Aaron menatap datar wajah cantik wanita yang


ada di hadapan nya itu. Praba balas menatapnya dengan penuh damba, dia benar-benar tidak


sabar ingin segera menikmati kencan luar


biasa nya dengan Sang Pangeran super hot ini.


"Miss Praba turunlah. Asisten ku akan mengurus


semua pembayarannya. Kau tidak akan pulang


dengan tangan kosong.!"


Aaron berucap dengan tatapan yang mengarah


ke luar jendela. Praba menautkan alisnya tidak


mengerti apa yang di ucapkan oleh Aaron.


"Aku tidak memikirkan soal uang Yang Mulya.


Bisa menghabiskan satu malam dengan mu


saja sudah merupakan anugerah bagiku."


"Kencan kita cukup sampai di sini saja.!"


Aaron memotong dengan wajah tanpa ekspresi


sedikitpun, sangat santai dan seolah tak berpikir.


Praba melebarkan matanya, tak percaya dengan


apa yang baru saja di dengarnya.


"Apa maksud anda Yang Mulya.? Apakah ada


yang kurang dengan diriku..?"


"Tidak, kau sudah sempurna sebagai teman


kencan ku.!"


Wanita cantik itu tampak mengerjapkan mata.


Menatap lekat wajah teramat tampan Sang


Pangeran yang terlihat sangat datar dan super


dingin itu. Apa sebenarnya yang di inginkan


oleh pria misterius ini ?


"Kenapa anda mempermainkan ku Yang Mulya.? Padahal aku sangat berharap bisa menghabiskan malam ini sepuasnya dengan mu."


"Ada wanita lain yang lebih berhak atas diriku.!"


Praba terhenyak, dia menggelengkan kepalanya


kuat, benar-benar tidak menduga dirinya akan


di tolak mentah-mentah oleh Sang Pangeran.


Ini benar-benar penghinaan bagi dirinya. Mata


nya sedikit berair, tapi dia tidak mungkin bisa


memaksa Pria ini agar melanjutkan kencannya.


"Apakah wanita itu sekretaris anda.?"


"Dia adalah istriku.! Milikku satu-satunya.!"


Praba membulatkan matanya tidak percaya.


Wanita tadi istri Sang Pangeran.? Dunia ini


memang penuh dengan misteri.


"Apakah anda melakukan semua tindakan tadi


hanya untuk membuat istri mu cemburu.?


Aaron menyeringai tipis, kemudian melirik ke


arah Praba yang terpaksa tersenyum.


"Terimakasih karena kau sudah ikut terlibat.!"


"Istri mu sangat beruntung, aku lihat anda


sangat mencintainya, bukan begitu Yang Mulya.?"


Aaron membeku seketika, wajahnya tampak


bereaksi aneh, Cinta..?? Haa..itu tidak mungkin.!


Cintanya hanya untuk satu orang saja. Dan dia


sudah meyakinkan diri tidak akan jatuh cinta


lagi, karena hal itu hanya akan membuat hidup


nya bertambah kacau dan ribet seperti kemarin.!


"Aku tidak mengenal kata cinta.!"


"Tapi yang aku lihat justru sebaliknya.!"


Praba berkata penuh keyakinan, Aaron tampak


terdiam dalam renungan. Wanita cantik itu kini


bersiap untuk keluar dari mobil.


"Anggap kau tidak pernah bertemu dengan ku.!"


Aaron berkata penuh nada makna tersirat


dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.


"Tentu saja, aku mengerti. Terimakasih untuk


kencan singkat nya Yang Mulya, anda sangat mengesankan."


Praba menundukkan kepalanya sedikit, setelah


itu dia keluar dari dalam mobil mewah tersebut.


Aaron menarik napas panjang, dia merebahkan


kepalanya ke sandaran jok, memejamkan mata


rapat. Bayangan wajah Raya terus bermain di


pelupuk matanya. Jiwanya kini benar-benar


gelisah, wanita itu sudah membuat dia hilang


akal dan mampu melakukan hal konyol seperti


ini hanya karena ingin melihat nya cemburu.


Ansel masuk ke dalam mobil setelah urusan


dengan Si cantik Praba kelar. Dia menatap


lekat wajah Aaron yang sedang mencoba


untuk memejamkan matanya sesaat.


"Kau tidak berubah Kak.! Kau selalu membuat


wanita-wanita itu meradang. Tapi sekarang kau


sudah tidak minum lagi, itu luar biasa.!"


"Jangan banyak bicara ! Bawa aku ke hotel


tempat Elliot dan Desmon menginap. Ada hal


yang harus kita bahas mengenai kekuatan


misterius itu !"


"Baiklah Kak, kita kesana sekarang.!"


"Suruh para pengawal kembali ke istana. Sudah


cukup hari ini aku bersikap kaku.!"


Ansel tersenyum miring, dia melakukan kontak


dengan kepala pengawal setelah itu mengirimkan


maps pada supir pribadi yang ada di depan. Dan


mobil pun kini meluncur ke tempat yang berbeda.


***


Sementara itu di White House...


Raya baru saja selesai membersihkan diri dan


menjalankan segala kewajiban nya sekaligus


berdoa untuk ketenangan batin dan jiwanya.


Matanya sedikit sembab karena cukup lama


menumpahkan air mata sewaktu di mobil dan


saat membersihkan dirinya di kamar mandi.


Walau berusaha untuk melupakan rasa sakit


itu, tapi air matanya tetap saja tidak bisa di


ajak kompromi.


Untuk sejenak dia berdiri di balkon kamarnya,


menatap ke kejauhan, mencoba menembus


batas dan segala harapan. Masih adakah sisa


asa yang bisa di rajut nya ke depan.? Sudah

__ADS_1


2 minggu lebih dia berada di dalam kekuasaan


laki-laki yang telah merenggut semua masa


depannya tanpa bisa melawan sama sekali.


Lalu harus bagaimana kini dia bersikap ?


Pasrah.. hanya kata itulah yang kini tersisa.


Tuhan..tolong tunjukan jalan yang harus aku


tempuh ke depan..Dan kumohon kuatkan aku


dalam menghadapi semua ujian Mu ini..


Raya bergumam dalam doa tulus sebelum dia


masuk ke alam bawah sadarnya. Rasa lelah jiwa


dan raga mampu menenggelamkan dia ke dunia


mimpi dengan cepat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


Tubuh Raya benar-benar di serang kelelahan.


Dia kini terlelap dalam tidur nyenyak nya dan


tidak menyadari kedatangan Aaron ke dalam


kamar tersebut. Padahal malam ini tubuhnya


hanya berbalut gaun sutra tipis yang terlihat


transparan dan pas di tubuh. Tampak begitu


seksi dan menggoda hingga membuat Aaron


yang baru saja masuk ke dalam kamar nya


langsung menegang dan menelan salivanya


berat. Aliran darahnya kacau dalam sekejap.


"Kenapa kamu selalu saja menggodaku.."


Desis Aaron seraya memejamkan matanya kuat mencoba untuk menekan serbuan hasrat yang


tiba-tiba datang menerjang. Dia segera membuka mantel yang dipakainya dan melempar nya asal. Setelah itu cepat-cepat berlalu ke dalam kamar


mandi.


Setelah selesai menjalankan kewajibannya


Aaron berdiri di sisi tempat tidur, menatap lekat


wajah cantik jelita di hadapannya yang sudah


membuat hati dan jiwanya tidak seimbang.


Wajah itu terlihat begitu tenang dan memikat.


Perlahan dia naik ke kasur kemudian berbaring


di samping Raya, mengatur irama detak jantung


nya yang dari tadi sudah bermarathon. Sekuat


tenaga dia mencoba untuk mengendalikan diri


agar tidak melakukan kontak fisik dengan wanita


yang terbaring miring kearahnya itu. Dia menaruh


guling diantara mereka sebagai pemisah.


Namun tatapannya tidak bisa lepas dari bibir


ranum istrinya yang mengandung banyak madu


itu.Tidak tahan rasanya, dia mendekat, kemudian menempelkan bibirnya di kening Raya, mencium


nya lembut dan lama. Ada getaran hebat yang kini semakin terasa meresahkan jiwanya membuat


Aaron memejamkan matanya.


Merasakan ada suhu lain di dekatnya Raya


terjaga dari tidurnya kemudian membuka mata.


"Aaa....Aaaroon...!"


Raya reflek menjauhkan diri sambil kemudian memukulkan guling ke tubuh Aaron dengan


membabi buta, mulutnya tidak henti mengumpat


pria itu. Tapi gerakan nya tertahan ketika tiba-


tiba tubuhnya terangkat dan sekejap kemudian


posisi badannya sudah ada di bawah Aaron,


ada di bawah kekuasaan laki-laki itu. Kedua


mata mereka bertemu, saling menatap kuat.


Tubuh bagian atas Aaron saat ini dalam keadaan


polos membuat Raya langsung di serang


ketegangan.


kamarku.! Pergi..!"


"Aku adalah suamimu..Kau tidak boleh terus


menerus mengabaikan ku Maharaya..!"


Raya terhenyak sesaat, mata mereka kembali


saling menatap kuat, Raya masih berusaha


untuk berontak, tapi kedua telapak tangannya


kini di cengkeram oleh Aaron hingga jemari


tangan mereka bertautan erat.


"Aku tidak merasa punya kewajiban untuk


memperhatikan mu Pangeran..!"


Mata Aaron tampak menyala, tatapannya kini


semakin mendalam di selubungi kabut gairah


yang sudah tidak mungkin lagi di padamkan.


"Aku sudah menahan diri agar tidak menyerang


mu.! Tapi sekarang kau malah menantang ku.


Jadi jangan menyalahkan ku untuk ini Raya.."


"A-apa yang akan kau lakukan.? Dan kenapa


kamu datang kesini, bukankah seharusnya


kau bersama model cantik itu.?"


"Kenapa..? Kau cemburu padanya.?"


Wajah Raya langsung saja merah padam, dia


berusaha untuk keluar dari kurungan tubuh


Aaron yang menatap liar seluruh tubuhnya


membuat Raya semakin tegang sekaligus


panas dingin..


"Tidak, untuk apa aku cemburu..! Kau bebas


melakukan apapun yang kau mau. Tapi kau


tidak boleh membawa jejak kotor mu dengan


wanita itu ke tempat ini.!"


Aaron menyeringai tipis dengan reaksi aneh


dan tatapan yang semakin mendalam. Gelora


hasratnya kini sudah tidak terbendung lagi.


"Aku tidak bisa mendapatkan kepuasan dari


wanita lain seperti yang aku dapatkan darimu."


Bisiknya berat dan serak, dan detik berikutnya


tangannya sudah bergerak lihai menarik paksa


gaun malam yang di pakai Raya.


"Aaa...Aaroonn.. apa yang kau lakukan.?


Aaron.. hentikan.. aku tidak mau.. emmhhh.."


Aaron menyergap bibir ranum Raya dalam


sekali gebrakan, m*lum*tny* rakus dan liar


penuh dengan gairah yang membara. Raya


masih mencoba menolak dengan memukuli


dada Aaron tapi laki-laki itu malah semakin


memperdalam ciumannya dan menekan masuk.


Raya membulatkan matanya saat tangan Aaron


menyobek paksa gaunnya dan melempar nya


ke sembarang arah. Air matanya kini mengalir


membasahi pipinya sebagai signal penolakan


atas apa yang di lakukan oleh suaminya itu.


Dan akhirnya ciuman panas itu terlepas saat


keduanya sudah sama-sama kehabisan stock


oksigen di paru-paru nya. Mereka berdua saling


menatap kuat. Tubuh Raya bergetar hebat saat

__ADS_1


melihat Aaron sudah di kuasai oleh serbuan


gairah yang meledak. Apa yang terjadi pada


pria ini, bukankah dia seharusnya sedang


berkencan dengan wanita model itu.?


Aaron menatap panas seluruh tubuh indah


sempurna Raya yang kini sudah setengah


polos membuat Raya semakin bergetar hebat.


Dia mencoba menutupi bagian atas tubuhnya


dengan kedua telapak tangan nya.


"Aaroon... kumohon.. jangan lagi.."


Raya mendesis tertahan dengan luruhan air


mata penolakan. Dia menatap wajah Aaron


yang sudah memerah seluruhnya terbakar


gairah dan tidak mungkin bisa di padamkan


nya lagi.


"Aku tidak bisa, aku sangat menginginkan mu


saat ini. Ijinkan aku memiliki mu sekarang.."


Desis Aaron dengan suara yang sangat serak.


Air mata Raya semakin banjir, dia menggeleng


kuat mencoba menolak apa yang di lakukan


pria itu karena kini bibir Aaron mulai bergerak


menjelajah seluruh bagian tubuh nya. Di mulai


dari telinganya, tengkuk nya, lehernya dan kini


tangannya merenggut paksa bra yang di pakainya.


Aksi liar Aaron semakin menggila di kedua bukit kembar indahnya dengan sentuhan yang sangat


lembut dan membuai serta gigitan-gigitan kecil


yang berhasil memercik gairah di tubuh Raya


membuat tubuhnya mulai di serang hawa panas


yang semakin lama semakin terasa menggebu. Sementara bibir Aaron tiada henti menelusuri


dan menyentuh seluruh bagian dari tubuhnya,


setiap inchi, setiap detail tanpa terlewat. Pria itu


begitu memuja semua yang ada pada tubuhnya.


"Emhh.. Aaroonn.. bisakah kamu hentikan


semua ini.. aku.. tidak tahaann.. aakhh...!"


Akhirnya Raya mendesah lembut saat serbuan


hasrat kini sudah menguasai seluruh tubuhnya.


Aaron mengangkat wajahnya, menatap lekat


wajah Raya yang sudah berubah memerah.


Tidak ada lagi raut ketakutan dan ketegangan,


yang ada kini hanyalah seorang wanita yang


butuh pelepasan.


"Aku akan mengajari mu bagaimana melayani


seorang suami dengan benar..!"


Bisik Aaron dengan seringai tipis di bibirnya.


Raya melebarkan matanya saat melihat Aaron


membuka celana yang di pakainya. Dan dirinya


kini sudah tidak ada keinginan untuk menolak


karena ada gelombang hasrat yang datang


menerjang membuat tubuh nya benar-benar


panas saat melihat bagaimana perkasanya


tubuh bagian bawah laki-laki itu. Aaron melepas


semua kain yang menempel di tubuh mereka.


Mata mereka kini saling menatap kuat di penuhi


oleh kabut hasrat dan gairah yang sudah menenggelamkan mereka pada keinginan


untuk saling memiliki satu sama lain.


Akhirnya dengan perlahan Aaron mulai bergerak


menyatukan tubuh mereka membuat tubuh Raya


mengejang hebat dan menjerit kuat saat rasa


sakit itu kini kembali membelah tubuh nya.


Inti tubuh milik pria ini terlalu perkasa hingga


mampu membuat tubuh Raya seakan di rejam


benda tajam, rasanya sakit.. sangat sakit. !


Sementara Aaron sendiri kini terkesiap, apa


yang dia rasakan malam itu kini terulang, rasa


yang sama. Inti tubuh wanita ini seolah kembali menutup dan dia harus kembali berjuang untuk menerobosnya. Inilah keistimewaan yang dimiliki wanita ini. Jiwa Aaron kini menggelegak oleh


perasaan posesif dan obsesif pada wanita ini.


Tidak, dia tidak boleh di miliki oleh pria manapun, wanita ini hanya miliknya, kalau perlu dia akan mengikatnya paksa dengan cara apapun.!


Tangan Raya mencengkeram kuat punggung


kokoh Aaron mencoba untuk meredam rasa


sakit yang di rasakannya. Mata mereka saling


menatap kuat, tatapan Aaron berubah teduh,


dia memagut bibir Raya, ********** lembut


dan halus, membawanya pada ketenangan


dan kenikmatan yang kini mulai di rasakan.


Aaron mulai menggerakkan tubuhnya dengan


lihai dan intens membuat tubuh Raya perlahan


mulai merasakan kenikmatan yang tiada tara.


Dan gairah itu tiba-tiba datang menerjang


membuat Aaron kembali terkesiap saat inti


miliknya harus berjuang keluar dari cengkraman


kekuasaan tubuh bagian bawah istrinya itu.


Dia harus menyeimbangkan tenaganya agar


bisa tetap mengontrol irama permainan nya.


Dan akhirnya setelah berjuang cukup lama


keduanya kini sudah bisa terbang bersama


ke langit ke tujuh. Raya tidak bisa menolak


semua kenikmatan yang di berikan oleh pria


jahat ini walau sekeras apapun dia berusaha


untuk menolaknya.


Kini suara desahan, erangan dan lenguhan


panjang mewarnai kamar mewah itu.Tidak ada


lagi perdebatan, tidak ada lagi suara teriakan


berontak Raya, yang ada hanyalah suara jeritan


kecil tertahan saat mereka berdua berhasil


mencapai puncak kenikmatan bersama.


Tubuh polos mereka yang di penuhi keringat


dan peluh kini masih menempel satu sama


lain. Aaron menatap lembut wajah lelah Raya


yang memejamkan mata erat. Dia sangat puas,


bahkan terlampau puas. Wanita ini benar-benar dahsyat, dia adalah aset yang sangat berharga.


Dua jam sudah mereka melewati malam ini di


atas tempat tidur panas membara. Perlahan


Aaron menempelkan bibirnya di kening Raya,


kemudian menciumnya lembut dan lama.


"Maaf..karena aku sudah memaksakan


kehendak untuk kedua kalinya padamu.."


Bisik Aaron di telinga Raya sambil menjatuhkan


tubuh nya di samping tubuh Raya yang semakin memejamkan matanya kuat. Dia menangis pilu


dalam diam. Kenapa dia harus ikut terhanyut.??


Kenapa dirinya harus ikut menikmati ??..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2