Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
77. Holiday 1


__ADS_3

"Selamat pagi Lady Maharaya.."


Sapa Prince Desmon dan Prince Elliot secara


bersamaan dengan tatapan penuh semangat.


"Selamat pagi Prince Desmon.. Prince Eliot.


Senang bertemu kalian."


Sahut Raya seraya menundukkan kepalanya


sedikit dengan senyum lembut yang mampu


membuat mata para pria tampan itu terkesima.


Terlebih lagi bagi pria yang ada di samping Alea.


Dia benar-benar terbius oleh pesona yang telah


di tebarkan oleh Raya. Wanita ini begitu bersinar


dan bercahaya, padahal dia baru saja bangun


tidur dalam keadaan tidak stabil. Namun aura


yang terpendar dari dalam dirinya sangat kuat.


Selama ini dia mengenal satu wanita yang punya pesona luar biasa berkat kelembutannya. Namun


pesona wanita yang ada dalam rengkuhan Aaron


ini terlampau dahsyat hingga mampu membuat jiwanya bergetar dan meronta seketika. Ini gila.! darimana datangnya wanita istimewa ini.!


"Rayen..kau sudah datang.?"


Aaron mendekat lalu berangkulan sesaat dengan


pria yang berpenampilan rapih dan bersih itu


yang ternyata adalah Dokter Rayen.


"Aku datang bersama dua pangeran rese itu.!"


"Hei.. Tuan dokter hati-hati kalau bicara.!"


Desmond mendelik jengah kearah Rayen yang


menipiskan bibirnya. Raya mengamati semua


interaksi yang terjadi antara Aaron dengan para


pria itu. Alea pun sama, hanya bisa terdiam.


Mata Rayen tanpa sengaja berbenturan tatap


dengan mata sendu sebening kristal milik Raya


yang langsung melemaskan seluruh sendi


dalam tubuhnya. Luar biasa..Siapa wanita ini sebenarnya.?


"Apa yang terjadi dengan Dirga.? Dia tidak bisa


datang langsung ke tempat ini ?"


Aaron kembali bertanya sambil merengkuh kuat


pinggang ramping Raya posesif begitu melihat


tatapan ketiga pria temannya itu tidak mampu


terlepas dari sosok istrinya. Mereka benar-benar menyebalkan.!


"Dia sedang sibuk mengurus kesenangannya


sebagai ayah baru. Dan malah mengutus ku


untuk datang mencari obat terbaik untuk nya."


Desis Rayen. Raya langsung memfokuskan


perhatian pada Rayen begitu mendengar apa


yang di ucapkan oleh laki-laki itu. Dirga.? ada


apa ini sebenarnya.?


"Dia mengabaikan kesehatan nya hanya karena


merasa dirinya kuat.! Padahal dia mengatakan


akan datang kesini langsung.!"


"Dia merasa kehadiran anak dan istrinya akan


menjadi obat bagi penyakitnya ! Tapi dia janji


akan datang kalau sudah merasa perlu.!"


"Dasar pria bodoh ! Ayo kita masuk, kau harus


menghangatkan diri sejenak. Alea..kau sudah


membawa semua kebutuhannya kan ?"


"Tentu kak. Semuanya sudah aku siapkan


dengan baik. Siang ini obat yang di butuhkan


oleh Dokter Rayen juga akan datang.!"


Tanpa basa-basi ataupun berniat mengenalkan


Raya pada Rayen Aaron langsung menggandeng


Raya melangkah menuju ke dalam penginapan


untuk beristirahat dan sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas liburannya di tempat


ini. Semua orang mengikuti langkahnya masuk


ke dalam bangunan megah nan eksentrik itu.


Rayen benar-benar di buat penasaran dengan


sosok Raya. Apakah dia wanita sewaan Aaron?


Tapi kenapa perlakuan Aaron terlihat berbeda,


bahkan sangat berbeda, dia seolah bukanlah


seorang Aaron yang selama ini di kenalnya.!


Pembawaan nya juga sekarang ini sudah lebih


santai. Aaron yang sekarang adalah Sang Putra


Mahkota dengan segala kehormatannya. Pria


itu benar-benar sudah kembali pada kehidupan


normalnya yang selama ini di tinggalkan nya.


Penginapan eksklusif milik keluarga De Enzo


ini bernama Saint Medallion. Berada di sebelah


barat pegunungan Carrington yang tidak kalah


eksotis nya dari pegunungan Alpen. Bangunan


berlantai 5 ini berdiri kokoh di atas tebing tinggi, membentang indah menghadap lembah-lembah


bersalju dan lereng- lereng bukit yang di hiasi hamparan pohon cemara yang di penuhi oleh


salju tebal.


Dan penginapan ini merupakan satu-satunya


hotel paling mewah dan paling megah di tempat wisata ini yang sekaligus bisa mengakomodasi


para pengunjung nya untuk berbagai aktivitas


yang bisa di lakukan di pegunungan ini.


Aaron dan semua rombongannya menempati


bangunan pribadi hotel yang berada di bagian belakang dan memiliki view yang sangat indah,


bisa melihat langsung ke puncak gunung yang


sangat menakjubkan. Bangunan pribadi ini tidak


pernah di datangi sembarang orang karena ini


khusus dan hanya di pergunakan oleh sang


pemilik saja beserta kolega nya.


Kedatangan Aaron di sambut penghormatan


besar oleh seluruh staf hotel yang terlihat


sangat antusias dan excited atas kedatangan


Sang Putra Mahkota negara ini. Mereka begitu


terkesima saat melihat kemunculan Aaron ke


tempat ini karena Sang Pangeran memang


jarang datang.


"Selamat datang Yang Mulya.. Senang sekali


anda berkunjung kemari."


Sambut mereka sambil membungkuk setengah


badan. Aaron mengangkat tangannya sedikit.


"Tidak perlu berlebihan. Berikan saja pelayanan


terbaik kalian pada semua tamu.!"


"Tentu saja Yang Mulya.. dengan senang hati.."


Sahut mereka sambil kembali membungkuk


dan menundukkan kepala dalam. Rombongan


itu kembali berjalan melewati lobby utama di


ikuti oleh sang manager hotel.


"Kau sudah menyiapkan kamarku ?"


Aaron bertanya pada Sang manager yang kini


berjalan di sebelahnya sambil menunduk.


"Sudah Yang Mulya.. semuanya sudah siap."


"Bagus, dua jam lagi kita bertemu di tempat


sarapan. Sekarang jangan ada yang berani menggangguku.!"


Tegas Aaron pada semua jajarannya termasuk


juga pada kawan-kawannya begitu mereka tiba


di depan lift dengan tujuan kamar masing-masing


yang sudah di atur sedemikian rupa oleh Sang


manager hotel yang berkoordinasi dengan Ansel.


Rencananya Ansel akan datang menyusul setelah semua urusan pekerjaan selesai karena dia harus


menghandel segala masalah yang sedang terjadi.


"Baik Yang Mulya.. kami mengerti !"


Sahut mereka kompak. Aaron segera menarik


pinggang Raya yang sedang melihat kearah Alea


dan Jessica. Kedua gadis itu terlihat hanya bisa mengangguk dan mengedip penuh arti. Akhirnya


Raya mengikuti tarikan Aaron yang terkesan


sangat tidak sabar dan tergesa-gesa itu.


Mereka berdua masuk ke dalam privat lift di


iringi tatapan Rayen yang semakin di buat terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Aaron. Tapi saat


dia melihat kedua pangeran sahabatnya, mereka tampaknya sudah tidak aneh lagi melihat hal itu. Berarti mereka berdua sudah tahu siapa gadis itu.


Tiba di dalam kamar pribadinya, Raya tampak


mematung, menatap bengong kearah ruangan


kamar yang sudah di tata sedemikian cantik di


penuhi oleh hiasan lilin aromatherapy yang


sedang menyala warna-warni serta bunga hidup


di sekelilingnya. Dan ada taburan kelopak bunga mawar di atas tempat tidur. Sangat romantis.


Kamar pribadi ini seperti biasa selalu berada di

__ADS_1


lantai paling atas dan merupakan Penthouse


dari hotel megah ini. Wajah Raya kini memerah


melihat semua yang tersuguh di depan matanya.


"Aaron.. apa ini..? Kenapa kamu melakukan


semua ini.?"


Raya berjalan menyusuri taburan bunga di


atas lantai dengan wajah yang masih terlihat


tidak percaya laki-laki super dingin itu mampu


melakukan semua hal romantis ini.


"Entahlah.. aku juga tidak tahu. Ini pasti ulah


bocah kurang ajar itu.!"


Ujar Aaron santai sambil kemudian membuka


mantel yang di pakaiannya. Raya melangkah ke


sisi ruangan yang di hiasi oleh kaca tebal tinggi menjulang. Dia semakin di buat takjub melihat


keindahan pemandangan alam yang tersuguh


dari tempat itu. Dari atas kamar yang di kelilingi


oleh kaca tebal di semua sisinya itu dia dapat


melihat seluruh keindahan yang terbentang dari


pegunungan Carrington yang tertutupi hamparan


putih bersih sejauh mata memandang.


"Kau menyukai tempat ini ?"


Raya tersentak ketika Aaron memeluknya dari belakang, menyusupkan wajahnya di tengkuk


leher nya dan menghirup dalam-dalam aroma


wangi lembut yang menguar dari tubuhnya.


"Iya.. aku sangat menyukai nya.. tempat ini


sangat indah.. emhh Aaron.."


"Kau akan lebih menyukaiku kalau kita sudah


turun ke lokasi langsung.."


Desis Aaron sambil mengecupi tengkuk leher


Raya dan menggigit pelan cuping telinganya


membuat Raya mulai kegerahan.


"Aaron.. lepaskan aku.. Aku harus ke kamar


kecil sekarang.."


"Nanti saja kalau semuanya sudah selesai."


"A-apa maksudmu..? Aaron.. tolong lepaskan


aku.. emmhh.."


"Kita akan bermain dulu sebentar.."


Raya terkesiap, jantung nya berdebar kencang.


Dia menggeliatkan tubuhnya mencoba untuk


menghindari serangan halus Aaron di telinganya.


Bibir Aaron kini beralih ke lehernya, menciuminya dengan sedikit panas membuat aliran darah


dalam tubuh Raya mulai tersengat.


"Emhh Aaron.. sudah hentikan.."


"Kita akan memulai kegiatan hari ini dengan


sesuatu yang hangat dan nikmat."


Desis Aaron. Tangannya perlahan bergerak


membuka mantel yang di pakai oleh Raya.


Tubuh Raya menegang seketika. Dia mulai


di serang hawa panas sekaligus dingin.


"A-Aaron.. apa yang kau lakukan..?"


"Kita ada di dalam kamar. Kau tidak akan


merasa kedinginan di sini."


Desis Aaron sambil kemudian melempar mantel


itu ke sembarang arah. Dan tangannya kembali bergerak nakal membuka kancing atasan yang


di kenakan Raya membuat Raya membalikkan


badannya dan menahan gerakan tangan Aaron.


Mata mereka saling menatap kuat. Raya semakin


tegang saat melihat tatapan Aaron kini sudah


berubah, tatapan singa yang lapar dan bersiap


untuk menerkam mangsa.


"Aaron.. apa yang kau inginkan..?"


Raya memundurkan tubuhnya ke dinding kaca


dengan ketegangan yang semakin menguasai


dirinya saat menyadari Aaron sudah semakin


panas tak terkendali.


"Kau bertanya apa yang aku inginkan.? Kau


tahu pasti apa yang aku inginkan.."


"Tidak.. jangan Aaron.. Kondisiku belum siap


untuk itu. Kau tidak boleh melakukan nya.!"


kita melakukannya dengan hati-hati.."


"Jangan..aku mohon.. Aku tidak siap.!"


"Aku sudah membebaskan mu beberapa hari


ini. Sekarang aku sudah tidak bisa menahan


nya lagi. Aku menginginkan mu Maharaya.."


Raya menggeleng kuat dan memejamkan mata


saat Aaron kini mulai mengurung tubuhnya.


Meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhnya


yang semakin tegang. Ada sedikit ketakutan


dalam dirinya karena masalah pendarahan


kemarin. Perlahan bibir Aaron menyusuri leher


Raya yang semakin terpejam. Tangannya dengan


lihai bergerak melucuti pakaian yang melekat di


tubuh Raya yang masih berusaha untuk menahan


dan menolaknya. Namun pergelangan tangannya


kini di kunci di atas kepalanya sehingga dia tidak


bisa melawan lagi, hanya bisa menggerakkan


tubuhnya di sertai desahan lembut saat bibir


Aaron sudah semakin liar bermain di lehernya.


Dia melebarkan matanya saat Aaron berhasil


menarik paksa semua kain yang menempel di tubuhnya hingga kini dia dalam keadaan polos.


Wajahnya langsung merah padam. Namun dia


juga merasakan ada desakan gairah yang kini


mulai membakar seluruh tubuhnya.


"Aakhh.. Aaron jangan begini.. aku malu.."


"Kenapa harus malu.. Aku sudah mengetahui


seluruh detail tubuhmu ini sayang.."


"Aakhh... Aaron.. tapi jangan begini.. kita ada


di dinding kaca.. bagaimana kalau ada yang


melihat kita.. emmhh Aaron.."


Raya menggelinjang saat bibir Aaron bergerak


turun menyusuri dadanya. Bibir Aaron bermain


ganas di dua bukit kembar yang sekarang ini


semakin padat dan berisi hingga membuat Aaron semakin menggila menikmati keranuman nya


sampai Raya harus memekik kuat karena gigitan


gemas Aaron cukup kuat dan itu menyakitkan.


"Aaa .. sakiiitt Aaron.. jangan keras-keras..


aakkhh..!"


Raya berusaha menggerakkan tubuhnya karena


tangannya masih terkunci. Namun gerakannya


itu justru malah membuatnya semakin terlihat


erotis hingga gairah Aaron kini tak terbendung


lagi. Bibirnya semakin gencar menyentuh dan


menjelajahi seluruh tubuh indah Raya masih


dalam keadaan berdiri di dinding kaca. Posisi


ini benar-benar seksi dan menggairahkan.


Erangan dan desahan panjang yang keluar dari


mulut Raya akhirnya membuat Aaron tidak bisa


bertahan lagi. Dia harus segera menuntaskan


semua hasratnya yang sudah membuatkannya


gila setiap saat itu. Wanita ini sudah membuat


tubuh bagian bawahnya tersiksa sejak malam


pertunangan saat mereka berdansa bersama.


Dengan gerakan ringan dia membopong tubuh


Raya di bawa ke atas tempat tidur bertaburkan


kelopak bunga mawar. Perlahan dan hati-hati


dia membaringkan tubuh indah istrinya itu di


atas hamparan bunga hingga terlihat begitu


elok dan kontras, membuat tatapan Aaron


semakin di penuhi kabut gairah yang sudah menguasai ubun-ubun nya.


Dengan cepat dan tidak sabar dia melempar


semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


Raya semakin memanas namun juga tegang


saat melihat tubuh gagah sempurna Aaron kini


sudah dalam keadaan polos seluruhnya. Dan


tubuh bagian bawahnya sudah sangat siap


untuk bertempur membuat Raya merasa getir


namun juga tidak bisa keluar dari terjangan

__ADS_1


hasrat yang kini sudah menguasai dirinya.


Keduanya saling menatap kuat dengan sorot


mata yang sudah sama-sama redup di penuhi


gairah yang sudah meluap-luap.


"Kau sudah siap untuk memulai semuanya?"


Aaron mulai menindih tubuh Raya. Tangannya


bergerak mengelus lembut wajah cantik istrinya


itu yang di penuhi ketegangan hingga sedikit berkeringat.


"Aaron..aku takut.. bagaimana kalau nanti ada


pendarahan lagi. Masalahnya kau..kau terlalu


perkasa..aku takut membayangkan nya.."


Ekspresi wajah Aaron berubah, ada kebahagiaan


dan kebanggaan saat mendengar ucapan Raya barusan. Wajahnya tampak semakin memerah.


Bibirnya kini terangkat tinggi, tersenyum puas.


Raya terpana dan terpaku melihat senyuman itu.


Karena senyuman itu, kadar ketampanan suami


nya semakin meningkat hingga berkali-kali lipat.


Tuhan..kenapa laki-laki ini harus memiliki rupa


setampan ini.?? Raya memalingkan wajahnya.


Dia merutuki diri sendiri yang tidak bisa menjaga


dan mengontrol dirinya hingga hatinya semakin


jatuh dan terperosok ke dalam lembah cinta


yang telah di ciptakan oleh pria paripurna ini.


"Jadi kau mengakui kalau aku ini perkasa..?


Tenanglah.. Aku akan melakukannya dengan hati-hati.."


Bisik Aaron dengan suara yang sangat berat


menahan terjangan hasrat yang sudah sangat


menyiksa dirinya dari semalam. Wajah Raya


memerah seluruhnya, tatapan mereka semakin


mendalam, jatuh di bibir masing-masing.


"Aaron aku mohon..pelan-pelan saja.."


"Of course baby.. Trust me okay.."


Bisik Aaron parau sambil kemudian memagut


bibir Raya, ********** lembut, manis dan


hangat membawanya pada ketenangan saat


dia mulai melakukan penyatuan tubuhnya.


Untuk sesaat Raya membulatkan matanya


sambil menjerit dan mencengkram kuat bahu


Aaron saat rasa sakit itu lagi-lagi mendera


tubuhnya. Tapi Aaron semakin memperdalam ciumannya mencoba meredam rasa sakit yang


kini sedang membelah tubuh istrinya itu. Proses penerobosan itu kembali terulang membuat


Aaron benar-benar menggila. Wanita miliknya


ini tiada bandingannya. Dia akan selalu


memberinya rasa nikmat yang dahsyat di setiap moment bercinta seperti ini yang tidak akan


bisa di berikan oleh wanita manapun.


Aku mencintaimu Maharaya sayang.. Aku


sangat mencintaimu.. Kau adalah milikku...


Aaron berteriak dalam hatinya saat dia sudah


berhasil masuk dan kenikmatan tiada tara itu


kini menghantam sekujur tubuhnya membuat


dia bergetar hebat. Raya membuka matanya


saat rasa sakit itu kini sudah berganti dengan


rasa nikmat yang langsung menerbangkan


dirinya ke awan. Mata mereka saling menatap


kuat berusaha menyalurkan dan menyampaikan


rasa yang kini membuncah di dada. Rasa cinta


yang begitu menggelora namun kenapa sangat


sulit untuk di ungkapkan. Apakah memang


kata cinta itu tidak perlu di nyatakan.?


Dengan penuh perasaan Aaron menciumi


seluruh wajah Raya, menghapus sisa air mata


yang membasahi wajah cantiknya sambil mulai bergerak intens menjelajahi segala kenikmatan


yang semakin lama semakin membawa mereka


pada pergulatan panas dan menggebu.


Tidak ada lagi kata pelan-pelan dan hati-hati


karena gairah dan nafsu sudah mengalahkan


logika. Keduanya kini sama-sama menggila, sama-sama di mabuk asmara hingga berusaha


untuk saling memuaskan, saling melengkapi


satu sama lain. Saling memberi kenikmatan


tiada batas yang setara dan seimbang.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih...


Alea, Rayen, dan dua Pangeran charming kini


sudah ada di ruang makan, menunggu Sang


Putra Mahkota yang tidak juga muncul. Saat


ini mereka semua sudah siap dengan setelan


hangat yang menutupi seluruh badan.


Sebelum Alea muncul, Rayen sempat berbincang


dengan kedua pangeran sahabat Aaron. Kini dia


tahu, kalau wanita yang bersama dengan Aaron


itu adalah istrinya. Wanita yang terpaksa di nikahi Aaron karena dia telah merenggut kesuciannya.


Pernikahan itu terjadi semata-mata hanya sebagai bentuk tanggungjawab Aaron saja. Dan kini wanita


yang berasal dari negara yang sama dengan nya


itu tengah hamil muda, dia sedang mengandung


benih seorang Aaron..Luar biasa..! Jadi..sekarang Aaron sudah punya tanggungjawab besar.!


Tunggu dulu.. kalau pernikahan mereka terjadi


karena terpaksa, tapi kenapa kesan itu justru


tidak pernah tertangkap oleh pengamatan Rayen?


Dia justru melihat Aaron sangat lah posesif pada wanita itu, apa hanya karena kehamilannya.?


Wanita ini terlihat begitu istimewa, mungkinkah


Aaron mampu bertahan dengan cinta masa


lalunya.? Sementara di sisinya ada bidadari.?


Kalau Aaron rela..dan mau melepaskan wanita


itu, sepertinya semua pria akan dengan senang


hati mengambil nya, termasuk dirinya..!


Mereka ber 4 tampak berdiri serempak saat


melihat kemunculan Aaron dan Raya di pintu


ruangan di ikuti oleh Alex, Benjamin, Jessica,


Griz , para pengawal pribadi serta manager hotel


dan para pelayan yang membawa troli makanan.


Aaron segera menggandeng tangan Raya yang


saat ini memakai setelah manis pas body di


balut mantel bulu tebal serta sepatu boots tinggi


di lengkapi penutup kepala yang membuatnya


tampak luar biasa, cantik dan elegan.


"Turunkan pandangan kalian.! Atau aku tidak


akan membiarkan kalian pulang dengan utuh.


Aku sudah muak dengan mata liar kalian.!"


Geram Aaron sambil menghunuskan tatapan


tajam pada ketiga sahabatnya itu yang langsung


melengoskan wajah sambil merutuki diri sendiri


yang tidak pernah bisa berpaling saat Raya ada


di dekat mereka.


"Aaron.. tenanglah.. jaga emosi mu.."


Raya memegang tangan Aaron kemudian dia


memaksa pria itu untuk duduk di kursi singel


sementara dirinya duduk di samping Alea yang


hanya bisa menggelengkan kepalanya gerah.


"Mereka semua selalu saja seenaknya. Berani


menatap mu dengan mata serigala nya.!"


Ketiga pria tampan itu langsung menunduk


dengan ekspresi wajah geli campur tegang.


Raya menatap jengah wajah Aaron. Pria ini


selalu saja berlebihan.


"Aaron.. sudah. Kita mulai saja sarapannya."


Ucap Raya lembut yang membuat emosi Aaron


langsung mereda. Raya melambaikan tangan


pada para pelayan untuk mulai menghidangkan


makanan di meja. Bak Titah seorang Ratu para


pelayan langsung bergerak cepat dan rapi.


Semua orang terdiam, menatap kagum pada


Raya yang bergerak melayani Aaron sendiri


dengan telaten dan cekatan serta gestur tubuh


yang begitu anggun. Aaron sendiri tampak


terpana melihat apa yang di lakukan oleh


istrinya itu.. Dia benar-benar mempesona..


***

__ADS_1


__ADS_2