
"Selamat pagi Lady Maharaya.."
Sapa Prince Desmon dan Prince Elliot secara
bersamaan dengan tatapan penuh semangat.
"Selamat pagi Prince Desmon.. Prince Eliot.
Senang bertemu kalian."
Sahut Raya seraya menundukkan kepalanya
sedikit dengan senyum lembut yang mampu
membuat mata para pria tampan itu terkesima.
Terlebih lagi bagi pria yang ada di samping Alea.
Dia benar-benar terbius oleh pesona yang telah
di tebarkan oleh Raya. Wanita ini begitu bersinar
dan bercahaya, padahal dia baru saja bangun
tidur dalam keadaan tidak stabil. Namun aura
yang terpendar dari dalam dirinya sangat kuat.
Selama ini dia mengenal satu wanita yang punya pesona luar biasa berkat kelembutannya. Namun
pesona wanita yang ada dalam rengkuhan Aaron
ini terlampau dahsyat hingga mampu membuat jiwanya bergetar dan meronta seketika. Ini gila.! darimana datangnya wanita istimewa ini.!
"Rayen..kau sudah datang.?"
Aaron mendekat lalu berangkulan sesaat dengan
pria yang berpenampilan rapih dan bersih itu
yang ternyata adalah Dokter Rayen.
"Aku datang bersama dua pangeran rese itu.!"
"Hei.. Tuan dokter hati-hati kalau bicara.!"
Desmond mendelik jengah kearah Rayen yang
menipiskan bibirnya. Raya mengamati semua
interaksi yang terjadi antara Aaron dengan para
pria itu. Alea pun sama, hanya bisa terdiam.
Mata Rayen tanpa sengaja berbenturan tatap
dengan mata sendu sebening kristal milik Raya
yang langsung melemaskan seluruh sendi
dalam tubuhnya. Luar biasa..Siapa wanita ini sebenarnya.?
"Apa yang terjadi dengan Dirga.? Dia tidak bisa
datang langsung ke tempat ini ?"
Aaron kembali bertanya sambil merengkuh kuat
pinggang ramping Raya posesif begitu melihat
tatapan ketiga pria temannya itu tidak mampu
terlepas dari sosok istrinya. Mereka benar-benar menyebalkan.!
"Dia sedang sibuk mengurus kesenangannya
sebagai ayah baru. Dan malah mengutus ku
untuk datang mencari obat terbaik untuk nya."
Desis Rayen. Raya langsung memfokuskan
perhatian pada Rayen begitu mendengar apa
yang di ucapkan oleh laki-laki itu. Dirga.? ada
apa ini sebenarnya.?
"Dia mengabaikan kesehatan nya hanya karena
merasa dirinya kuat.! Padahal dia mengatakan
akan datang kesini langsung.!"
"Dia merasa kehadiran anak dan istrinya akan
menjadi obat bagi penyakitnya ! Tapi dia janji
akan datang kalau sudah merasa perlu.!"
"Dasar pria bodoh ! Ayo kita masuk, kau harus
menghangatkan diri sejenak. Alea..kau sudah
membawa semua kebutuhannya kan ?"
"Tentu kak. Semuanya sudah aku siapkan
dengan baik. Siang ini obat yang di butuhkan
oleh Dokter Rayen juga akan datang.!"
Tanpa basa-basi ataupun berniat mengenalkan
Raya pada Rayen Aaron langsung menggandeng
Raya melangkah menuju ke dalam penginapan
untuk beristirahat dan sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas liburannya di tempat
ini. Semua orang mengikuti langkahnya masuk
ke dalam bangunan megah nan eksentrik itu.
Rayen benar-benar di buat penasaran dengan
sosok Raya. Apakah dia wanita sewaan Aaron?
Tapi kenapa perlakuan Aaron terlihat berbeda,
bahkan sangat berbeda, dia seolah bukanlah
seorang Aaron yang selama ini di kenalnya.!
Pembawaan nya juga sekarang ini sudah lebih
santai. Aaron yang sekarang adalah Sang Putra
Mahkota dengan segala kehormatannya. Pria
itu benar-benar sudah kembali pada kehidupan
normalnya yang selama ini di tinggalkan nya.
Penginapan eksklusif milik keluarga De Enzo
ini bernama Saint Medallion. Berada di sebelah
barat pegunungan Carrington yang tidak kalah
eksotis nya dari pegunungan Alpen. Bangunan
berlantai 5 ini berdiri kokoh di atas tebing tinggi, membentang indah menghadap lembah-lembah
bersalju dan lereng- lereng bukit yang di hiasi hamparan pohon cemara yang di penuhi oleh
salju tebal.
Dan penginapan ini merupakan satu-satunya
hotel paling mewah dan paling megah di tempat wisata ini yang sekaligus bisa mengakomodasi
para pengunjung nya untuk berbagai aktivitas
yang bisa di lakukan di pegunungan ini.
Aaron dan semua rombongannya menempati
bangunan pribadi hotel yang berada di bagian belakang dan memiliki view yang sangat indah,
bisa melihat langsung ke puncak gunung yang
sangat menakjubkan. Bangunan pribadi ini tidak
pernah di datangi sembarang orang karena ini
khusus dan hanya di pergunakan oleh sang
pemilik saja beserta kolega nya.
Kedatangan Aaron di sambut penghormatan
besar oleh seluruh staf hotel yang terlihat
sangat antusias dan excited atas kedatangan
Sang Putra Mahkota negara ini. Mereka begitu
terkesima saat melihat kemunculan Aaron ke
tempat ini karena Sang Pangeran memang
jarang datang.
"Selamat datang Yang Mulya.. Senang sekali
anda berkunjung kemari."
Sambut mereka sambil membungkuk setengah
badan. Aaron mengangkat tangannya sedikit.
"Tidak perlu berlebihan. Berikan saja pelayanan
terbaik kalian pada semua tamu.!"
"Tentu saja Yang Mulya.. dengan senang hati.."
Sahut mereka sambil kembali membungkuk
dan menundukkan kepala dalam. Rombongan
itu kembali berjalan melewati lobby utama di
ikuti oleh sang manager hotel.
"Kau sudah menyiapkan kamarku ?"
Aaron bertanya pada Sang manager yang kini
berjalan di sebelahnya sambil menunduk.
"Sudah Yang Mulya.. semuanya sudah siap."
"Bagus, dua jam lagi kita bertemu di tempat
sarapan. Sekarang jangan ada yang berani menggangguku.!"
Tegas Aaron pada semua jajarannya termasuk
juga pada kawan-kawannya begitu mereka tiba
di depan lift dengan tujuan kamar masing-masing
yang sudah di atur sedemikian rupa oleh Sang
manager hotel yang berkoordinasi dengan Ansel.
Rencananya Ansel akan datang menyusul setelah semua urusan pekerjaan selesai karena dia harus
menghandel segala masalah yang sedang terjadi.
"Baik Yang Mulya.. kami mengerti !"
Sahut mereka kompak. Aaron segera menarik
pinggang Raya yang sedang melihat kearah Alea
dan Jessica. Kedua gadis itu terlihat hanya bisa mengangguk dan mengedip penuh arti. Akhirnya
Raya mengikuti tarikan Aaron yang terkesan
sangat tidak sabar dan tergesa-gesa itu.
Mereka berdua masuk ke dalam privat lift di
iringi tatapan Rayen yang semakin di buat terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Aaron. Tapi saat
dia melihat kedua pangeran sahabatnya, mereka tampaknya sudah tidak aneh lagi melihat hal itu. Berarti mereka berdua sudah tahu siapa gadis itu.
Tiba di dalam kamar pribadinya, Raya tampak
mematung, menatap bengong kearah ruangan
kamar yang sudah di tata sedemikian cantik di
penuhi oleh hiasan lilin aromatherapy yang
sedang menyala warna-warni serta bunga hidup
di sekelilingnya. Dan ada taburan kelopak bunga mawar di atas tempat tidur. Sangat romantis.
Kamar pribadi ini seperti biasa selalu berada di
__ADS_1
lantai paling atas dan merupakan Penthouse
dari hotel megah ini. Wajah Raya kini memerah
melihat semua yang tersuguh di depan matanya.
"Aaron.. apa ini..? Kenapa kamu melakukan
semua ini.?"
Raya berjalan menyusuri taburan bunga di
atas lantai dengan wajah yang masih terlihat
tidak percaya laki-laki super dingin itu mampu
melakukan semua hal romantis ini.
"Entahlah.. aku juga tidak tahu. Ini pasti ulah
bocah kurang ajar itu.!"
Ujar Aaron santai sambil kemudian membuka
mantel yang di pakaiannya. Raya melangkah ke
sisi ruangan yang di hiasi oleh kaca tebal tinggi menjulang. Dia semakin di buat takjub melihat
keindahan pemandangan alam yang tersuguh
dari tempat itu. Dari atas kamar yang di kelilingi
oleh kaca tebal di semua sisinya itu dia dapat
melihat seluruh keindahan yang terbentang dari
pegunungan Carrington yang tertutupi hamparan
putih bersih sejauh mata memandang.
"Kau menyukai tempat ini ?"
Raya tersentak ketika Aaron memeluknya dari belakang, menyusupkan wajahnya di tengkuk
leher nya dan menghirup dalam-dalam aroma
wangi lembut yang menguar dari tubuhnya.
"Iya.. aku sangat menyukai nya.. tempat ini
sangat indah.. emhh Aaron.."
"Kau akan lebih menyukaiku kalau kita sudah
turun ke lokasi langsung.."
Desis Aaron sambil mengecupi tengkuk leher
Raya dan menggigit pelan cuping telinganya
membuat Raya mulai kegerahan.
"Aaron.. lepaskan aku.. Aku harus ke kamar
kecil sekarang.."
"Nanti saja kalau semuanya sudah selesai."
"A-apa maksudmu..? Aaron.. tolong lepaskan
aku.. emmhh.."
"Kita akan bermain dulu sebentar.."
Raya terkesiap, jantung nya berdebar kencang.
Dia menggeliatkan tubuhnya mencoba untuk
menghindari serangan halus Aaron di telinganya.
Bibir Aaron kini beralih ke lehernya, menciuminya dengan sedikit panas membuat aliran darah
dalam tubuh Raya mulai tersengat.
"Emhh Aaron.. sudah hentikan.."
"Kita akan memulai kegiatan hari ini dengan
sesuatu yang hangat dan nikmat."
Desis Aaron. Tangannya perlahan bergerak
membuka mantel yang di pakai oleh Raya.
Tubuh Raya menegang seketika. Dia mulai
di serang hawa panas sekaligus dingin.
"A-Aaron.. apa yang kau lakukan..?"
"Kita ada di dalam kamar. Kau tidak akan
merasa kedinginan di sini."
Desis Aaron sambil kemudian melempar mantel
itu ke sembarang arah. Dan tangannya kembali bergerak nakal membuka kancing atasan yang
di kenakan Raya membuat Raya membalikkan
badannya dan menahan gerakan tangan Aaron.
Mata mereka saling menatap kuat. Raya semakin
tegang saat melihat tatapan Aaron kini sudah
berubah, tatapan singa yang lapar dan bersiap
untuk menerkam mangsa.
"Aaron.. apa yang kau inginkan..?"
Raya memundurkan tubuhnya ke dinding kaca
dengan ketegangan yang semakin menguasai
dirinya saat menyadari Aaron sudah semakin
panas tak terkendali.
"Kau bertanya apa yang aku inginkan.? Kau
tahu pasti apa yang aku inginkan.."
"Tidak.. jangan Aaron.. Kondisiku belum siap
untuk itu. Kau tidak boleh melakukan nya.!"
kita melakukannya dengan hati-hati.."
"Jangan..aku mohon.. Aku tidak siap.!"
"Aku sudah membebaskan mu beberapa hari
ini. Sekarang aku sudah tidak bisa menahan
nya lagi. Aku menginginkan mu Maharaya.."
Raya menggeleng kuat dan memejamkan mata
saat Aaron kini mulai mengurung tubuhnya.
Meletakkan tangannya di kedua sisi tubuhnya
yang semakin tegang. Ada sedikit ketakutan
dalam dirinya karena masalah pendarahan
kemarin. Perlahan bibir Aaron menyusuri leher
Raya yang semakin terpejam. Tangannya dengan
lihai bergerak melucuti pakaian yang melekat di
tubuh Raya yang masih berusaha untuk menahan
dan menolaknya. Namun pergelangan tangannya
kini di kunci di atas kepalanya sehingga dia tidak
bisa melawan lagi, hanya bisa menggerakkan
tubuhnya di sertai desahan lembut saat bibir
Aaron sudah semakin liar bermain di lehernya.
Dia melebarkan matanya saat Aaron berhasil
menarik paksa semua kain yang menempel di tubuhnya hingga kini dia dalam keadaan polos.
Wajahnya langsung merah padam. Namun dia
juga merasakan ada desakan gairah yang kini
mulai membakar seluruh tubuhnya.
"Aakhh.. Aaron jangan begini.. aku malu.."
"Kenapa harus malu.. Aku sudah mengetahui
seluruh detail tubuhmu ini sayang.."
"Aakhh... Aaron.. tapi jangan begini.. kita ada
di dinding kaca.. bagaimana kalau ada yang
melihat kita.. emmhh Aaron.."
Raya menggelinjang saat bibir Aaron bergerak
turun menyusuri dadanya. Bibir Aaron bermain
ganas di dua bukit kembar yang sekarang ini
semakin padat dan berisi hingga membuat Aaron semakin menggila menikmati keranuman nya
sampai Raya harus memekik kuat karena gigitan
gemas Aaron cukup kuat dan itu menyakitkan.
"Aaa .. sakiiitt Aaron.. jangan keras-keras..
aakkhh..!"
Raya berusaha menggerakkan tubuhnya karena
tangannya masih terkunci. Namun gerakannya
itu justru malah membuatnya semakin terlihat
erotis hingga gairah Aaron kini tak terbendung
lagi. Bibirnya semakin gencar menyentuh dan
menjelajahi seluruh tubuh indah Raya masih
dalam keadaan berdiri di dinding kaca. Posisi
ini benar-benar seksi dan menggairahkan.
Erangan dan desahan panjang yang keluar dari
mulut Raya akhirnya membuat Aaron tidak bisa
bertahan lagi. Dia harus segera menuntaskan
semua hasratnya yang sudah membuatkannya
gila setiap saat itu. Wanita ini sudah membuat
tubuh bagian bawahnya tersiksa sejak malam
pertunangan saat mereka berdansa bersama.
Dengan gerakan ringan dia membopong tubuh
Raya di bawa ke atas tempat tidur bertaburkan
kelopak bunga mawar. Perlahan dan hati-hati
dia membaringkan tubuh indah istrinya itu di
atas hamparan bunga hingga terlihat begitu
elok dan kontras, membuat tatapan Aaron
semakin di penuhi kabut gairah yang sudah menguasai ubun-ubun nya.
Dengan cepat dan tidak sabar dia melempar
semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Raya semakin memanas namun juga tegang
saat melihat tubuh gagah sempurna Aaron kini
sudah dalam keadaan polos seluruhnya. Dan
tubuh bagian bawahnya sudah sangat siap
untuk bertempur membuat Raya merasa getir
namun juga tidak bisa keluar dari terjangan
__ADS_1
hasrat yang kini sudah menguasai dirinya.
Keduanya saling menatap kuat dengan sorot
mata yang sudah sama-sama redup di penuhi
gairah yang sudah meluap-luap.
"Kau sudah siap untuk memulai semuanya?"
Aaron mulai menindih tubuh Raya. Tangannya
bergerak mengelus lembut wajah cantik istrinya
itu yang di penuhi ketegangan hingga sedikit berkeringat.
"Aaron..aku takut.. bagaimana kalau nanti ada
pendarahan lagi. Masalahnya kau..kau terlalu
perkasa..aku takut membayangkan nya.."
Ekspresi wajah Aaron berubah, ada kebahagiaan
dan kebanggaan saat mendengar ucapan Raya barusan. Wajahnya tampak semakin memerah.
Bibirnya kini terangkat tinggi, tersenyum puas.
Raya terpana dan terpaku melihat senyuman itu.
Karena senyuman itu, kadar ketampanan suami
nya semakin meningkat hingga berkali-kali lipat.
Tuhan..kenapa laki-laki ini harus memiliki rupa
setampan ini.?? Raya memalingkan wajahnya.
Dia merutuki diri sendiri yang tidak bisa menjaga
dan mengontrol dirinya hingga hatinya semakin
jatuh dan terperosok ke dalam lembah cinta
yang telah di ciptakan oleh pria paripurna ini.
"Jadi kau mengakui kalau aku ini perkasa..?
Tenanglah.. Aku akan melakukannya dengan hati-hati.."
Bisik Aaron dengan suara yang sangat berat
menahan terjangan hasrat yang sudah sangat
menyiksa dirinya dari semalam. Wajah Raya
memerah seluruhnya, tatapan mereka semakin
mendalam, jatuh di bibir masing-masing.
"Aaron aku mohon..pelan-pelan saja.."
"Of course baby.. Trust me okay.."
Bisik Aaron parau sambil kemudian memagut
bibir Raya, ********** lembut, manis dan
hangat membawanya pada ketenangan saat
dia mulai melakukan penyatuan tubuhnya.
Untuk sesaat Raya membulatkan matanya
sambil menjerit dan mencengkram kuat bahu
Aaron saat rasa sakit itu lagi-lagi mendera
tubuhnya. Tapi Aaron semakin memperdalam ciumannya mencoba meredam rasa sakit yang
kini sedang membelah tubuh istrinya itu. Proses penerobosan itu kembali terulang membuat
Aaron benar-benar menggila. Wanita miliknya
ini tiada bandingannya. Dia akan selalu
memberinya rasa nikmat yang dahsyat di setiap moment bercinta seperti ini yang tidak akan
bisa di berikan oleh wanita manapun.
Aku mencintaimu Maharaya sayang.. Aku
sangat mencintaimu.. Kau adalah milikku...
Aaron berteriak dalam hatinya saat dia sudah
berhasil masuk dan kenikmatan tiada tara itu
kini menghantam sekujur tubuhnya membuat
dia bergetar hebat. Raya membuka matanya
saat rasa sakit itu kini sudah berganti dengan
rasa nikmat yang langsung menerbangkan
dirinya ke awan. Mata mereka saling menatap
kuat berusaha menyalurkan dan menyampaikan
rasa yang kini membuncah di dada. Rasa cinta
yang begitu menggelora namun kenapa sangat
sulit untuk di ungkapkan. Apakah memang
kata cinta itu tidak perlu di nyatakan.?
Dengan penuh perasaan Aaron menciumi
seluruh wajah Raya, menghapus sisa air mata
yang membasahi wajah cantiknya sambil mulai bergerak intens menjelajahi segala kenikmatan
yang semakin lama semakin membawa mereka
pada pergulatan panas dan menggebu.
Tidak ada lagi kata pelan-pelan dan hati-hati
karena gairah dan nafsu sudah mengalahkan
logika. Keduanya kini sama-sama menggila, sama-sama di mabuk asmara hingga berusaha
untuk saling memuaskan, saling melengkapi
satu sama lain. Saling memberi kenikmatan
tiada batas yang setara dan seimbang.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih...
Alea, Rayen, dan dua Pangeran charming kini
sudah ada di ruang makan, menunggu Sang
Putra Mahkota yang tidak juga muncul. Saat
ini mereka semua sudah siap dengan setelan
hangat yang menutupi seluruh badan.
Sebelum Alea muncul, Rayen sempat berbincang
dengan kedua pangeran sahabat Aaron. Kini dia
tahu, kalau wanita yang bersama dengan Aaron
itu adalah istrinya. Wanita yang terpaksa di nikahi Aaron karena dia telah merenggut kesuciannya.
Pernikahan itu terjadi semata-mata hanya sebagai bentuk tanggungjawab Aaron saja. Dan kini wanita
yang berasal dari negara yang sama dengan nya
itu tengah hamil muda, dia sedang mengandung
benih seorang Aaron..Luar biasa..! Jadi..sekarang Aaron sudah punya tanggungjawab besar.!
Tunggu dulu.. kalau pernikahan mereka terjadi
karena terpaksa, tapi kenapa kesan itu justru
tidak pernah tertangkap oleh pengamatan Rayen?
Dia justru melihat Aaron sangat lah posesif pada wanita itu, apa hanya karena kehamilannya.?
Wanita ini terlihat begitu istimewa, mungkinkah
Aaron mampu bertahan dengan cinta masa
lalunya.? Sementara di sisinya ada bidadari.?
Kalau Aaron rela..dan mau melepaskan wanita
itu, sepertinya semua pria akan dengan senang
hati mengambil nya, termasuk dirinya..!
Mereka ber 4 tampak berdiri serempak saat
melihat kemunculan Aaron dan Raya di pintu
ruangan di ikuti oleh Alex, Benjamin, Jessica,
Griz , para pengawal pribadi serta manager hotel
dan para pelayan yang membawa troli makanan.
Aaron segera menggandeng tangan Raya yang
saat ini memakai setelah manis pas body di
balut mantel bulu tebal serta sepatu boots tinggi
di lengkapi penutup kepala yang membuatnya
tampak luar biasa, cantik dan elegan.
"Turunkan pandangan kalian.! Atau aku tidak
akan membiarkan kalian pulang dengan utuh.
Aku sudah muak dengan mata liar kalian.!"
Geram Aaron sambil menghunuskan tatapan
tajam pada ketiga sahabatnya itu yang langsung
melengoskan wajah sambil merutuki diri sendiri
yang tidak pernah bisa berpaling saat Raya ada
di dekat mereka.
"Aaron.. tenanglah.. jaga emosi mu.."
Raya memegang tangan Aaron kemudian dia
memaksa pria itu untuk duduk di kursi singel
sementara dirinya duduk di samping Alea yang
hanya bisa menggelengkan kepalanya gerah.
"Mereka semua selalu saja seenaknya. Berani
menatap mu dengan mata serigala nya.!"
Ketiga pria tampan itu langsung menunduk
dengan ekspresi wajah geli campur tegang.
Raya menatap jengah wajah Aaron. Pria ini
selalu saja berlebihan.
"Aaron.. sudah. Kita mulai saja sarapannya."
Ucap Raya lembut yang membuat emosi Aaron
langsung mereda. Raya melambaikan tangan
pada para pelayan untuk mulai menghidangkan
makanan di meja. Bak Titah seorang Ratu para
pelayan langsung bergerak cepat dan rapi.
Semua orang terdiam, menatap kagum pada
Raya yang bergerak melayani Aaron sendiri
dengan telaten dan cekatan serta gestur tubuh
yang begitu anggun. Aaron sendiri tampak
terpana melihat apa yang di lakukan oleh
istrinya itu.. Dia benar-benar mempesona..
***
__ADS_1