Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
53. Terobsesi


__ADS_3

❤️❤️❤️


Wajah Raya tampak sedikit pucat, suara Ibu Suri


yang begitu tegas membuat nya merasa tidak


nyaman. Mata mereka berdua saat ini masih


saling menatap kuat.


"Ini urusanku dengan bawahan ku.! Mohon


Grandma tidak ikut campur. !"


"Prince Marvell.! Jaga attitude mu di depan


para tamu ! Ini bukan di kantor mu.!"


Madam Rowena berdiri kemudian berjalan kearah Aaron yang masih memegang kuat tangan Raya.


Mata tajam wanita tua yang masih terlihat bugar


itu menatap kuat dua wajah di hadapannya. Dia


tampak terkejut, mengerjapkan mata sesaat


begitu merasakan ada pancaran cahaya satu


warna yang keluar dari dua sosok di depannya


ini yang seolah-olah menyatu dan membaur,


berkilauan, memutar menyelubungi keduanya.


Siapa wanita ini sebenarnya..? Kenapa


aura nya bisa menyatu dengan Aaron..?


Madam Rowena membatin masih menatap


kuat kedua orang di hadapannya itu.


"Jagalah nama baik keluarga kerajaan Putra


Mahkota.! Jangan membuat tontonan tidak


berguna seperti ini.! Lihatlah dimana posisi


kalian berdiri saat ini.!"


Raya menundukan kepala dengan wajah yang


terlihat memerah, tapi Aaron bergeming. Dia


tetap berdiri di posisi yang sama, menatap


lekat wajah cantik Raya dan masih memegang


kuat tangan wanita itu.


"Maafkan saya Yang Mulya Ibu Suri. Ini semua


salah saya karena kurang teliti melaksanakan


perintah Putra Mahkota."


Raya berkata dengan lembut dan halus masih


dalam posisi menundukkan kepalanya.


"Kau sadar berdiri dimana Miss Secretary ?


Kau dan Putra Mahkota berbeda status dan


kedudukan.!"


Deg !


Jantung Raya seakan terhantam benda keras.


Kali ini wanita terhormat ini langsung berbicara


masalah kedudukan tanpa basa-basi.Tidak salah


lagi, sepertinya ibu suri memang mengetahui


sesuatu yang terjadi di antara mereka.


"Grandma..! Duduklah kembali dengan tenang.


Kita akan bicara lagi nanti.!"


Wajah Aaron mulai mengeras, Madam Rowena


kembali menatap tajam wajah Raya. Ada raut


aneh yang terlukis dari wajah tua nya. Akhirnya


dia kembali berjalan ke arah tempat duduknya.


Raya mengangkat wajahnya, mereka kembali


saling menatap kuat. Aaron menangkap raut


tertekan dan tidak nyaman yang terlihat jelas


dari wajah cantik nan elok wanita yang selalu membuatnya limbung itu, kenapa wanita ini


selalu saja membuatnya kesal, dan kenapa


dia harus selalu membangkang.!


"Aaron.. kumohon hentikan semua ini.! Kita


menjadi fokus semua orang saat ini."


"Kau pikir aku peduli dengan semua itu.?"


"Aku yang peduli.! Aku tidak ingin menjadi


bahan pembicaraan orang satu istana.!"


Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan


setengah berbisik membuat raut wajah Aaron


berubah seketika. Perlahan dia melepaskan


pegangan tangannya. Semua mata saat ini


masih melihat kearah mereka dengan sorot


mata penuh tanda tanya. Adakah kesalahan


yang telah di perbuat oleh wanita itu.?


Sementara tatapan Lucas tampak menyala,


tinjunya terkepal dengan kuat sampai buku


jarinya memutih semua. Ingin rasanya dia


mendatangkan angin ****** beliung yang


akan menerbangkan sosok Putra Mahkota


agar Raya terbebas dari kekuasaannya.


"Kita akan membahas masalah ini nanti.!"


Desis Aaron sambil mendekatkan wajahnya


hampir saling bersentuhan. Raya menjauhkan


diri sambil menundukkan kepala dalam. Apa


sebenarnya yang ada dalam pikiran laki-laki


ini, kenapa dia melakukan semua ini di depan


semua keluarga dan para tamu.?


Aaron kembali menegakkan badan, merapihkan


jas nya sebentar setelah itu barulah melangkah


menuju kursinya kemudian duduk tenang dengan


gaya yang sangat elegan. Catharina menatapnya


dalam diam dengan ekspresi wajah yang terlihat


sedikit tidak nyaman melihat interaksi lebih yang


tadi di perlihatkan oleh Aaron pada sekretarisnya tersebut. Karena dia tahu selama ini Aaron adalah


pria yang sangat anti bersentuhan dengan wanita


yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Suasana kembali kondusif dan pembicaraan


kini berlanjut ke tahap berikutnya. Tampang


Aaron mulai terlihat bosan karena dari tadi dia


tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya


tampak mengawasi gerak gerik pria yang ada di sebrangnya, Lucas... Aaron tahu, dari tadi pria


aneh itu tidak pernah melepas pandangan nya


dari sosok istrinya. Tapi dia tetap tenang dan


bersikap tidak peduli walau sebenarnya hatinya berkobar.


"Baiklah, kalau begitu kita sepakati saja bahwa


pertunangan antara Putra Mahkota dengan


Lady Catharina akan di laksanakan sekitar


satu minggu lagi..!"


Jedderr !!


Aaron dan Raya langsung mengangkat wajah


bersamaan. Satu minggu lagi.? Apa-apaan ini?


"Mohon maaf Grandma..Apa pendapatku di


sini tidak di perlukan.?"


Aaron buka suara membuat semua orang kini


melirik kearah nya. Madam Rowena mendengus


dengan sikap arogannya.


"Ini adalah urusan istana bagian dalam. Kau


hanya perlu mengikuti apapun yang sudah di


tentukan tanpa ada hak untuk berpendapat.!"


Wajah Aaron tampak mengeras, matanya


beradu tatap dengan mata Sang nenek yang


penuh dengan intimidasi. Aaron mengalah,


dia memalingkan wajahnya.


"Kalau anda sudah memutuskan, kami akan


mengikuti saja Yang Mulya Ibu Suri.!"


Perdana menteri Alfred kembali menyahut


sambil menunduk sedikit dengan seringai


senyum penuh arti. Wajah Catharina tampak


di penuhi oleh semburat merah. Semua orang


tampak berwajah cerah penuh kebahagiaan.


Sedangkan Raya tampak semakin tertunduk,

__ADS_1


perasaan tidak nyaman yang menggerogoti


hatinya membuat dia memejamkan mata,


mencoba untuk tetap tenang dan tidak peduli.


Tapi tidak ! ternyata hatinya tidak cukup kuat.


Rasa sakit itu kini semakin menggigit hatinya.


Sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan


desakan buliran bening yang kini sudah mulai


memanaskan sudut matanya.


"Baiklah.. mulai besok segala persiapan akan


di lakukan.! Jadi lady Catharina akan semakin


sibuk, mungkin anda bisa mengurangi sedikit


aktifitas sosialnya ?"


Kali ini Ratu Virginia yang mengeluarkan suara


dengan wajah yang berbinar bahagia tapi dia


juga tidak lepas mengamati reaksi Putra nya


yang terlihat dingin dan terkesan tidak peduli


dengan semua hal yang berlaku. Arabella pun


sama, diam-diam melirik kearah kakaknya itu.


"Tentu Yang Mulya, tidak ada masalah dengan


hal itu, saya akan memfokuskan diri untuk


semua persiapan ini."


Catharina menyahut dengan lembut seraya


menunduk kemudian melihat kearah Aaron


yang terlihat acuh dan datar.


"Baiklah.. karena semua pembicaraan sudah


tuntas kita beralih saja ke ruang makan.!"


Madam Rowena memutuskan, kemudian dia


bangkit dari duduknya di bimbing oleh asisten pribadinya dan langsung melangkah pergi dari


ruangan itu.


Akhirnya pembicaraan pun selesai, mereka


semua di arahkan menuju ruang perjamuan.


Ruang makan yang sangat luas dan mewah


di penuhi oleh interior yang serba mahal dan


berlapiskan emas. Keluarga Winston terlihat


begitu menikmati berada di dalam istana yang


terkenal sangat mewah dan menjadi impian


setiap orang di dunia untuk dapat memasuki


dan menginjakkan kaki di dalamnya.


Tidak ada keluarga yang tidak berambisi untuk


menjadi bagian dari keluarga kaya raya ini. Dari


dulu keluarga De Enzo merupakan salah satu


keluarga paling kaya di dunia. Bahkan harta


kekayaannya yang tidak terekspose saja tidak


bisa di prediksi berapa banyaknya. Oleh karena


itu kedudukan sebagai calon Ratu masa depan


atau Gelar sebagai Putri Mahkota nyaris saja


menimbulkan pertumpahan darah di kalangan


para bangsawan kelas atas yang ada di negara


ini. Karena hal ini merupakan sebuah anugerah


besar bagi siapapun yang akan mendapatkan


gelar kehormatan tersebut.


Semua orang sudah duduk di kursi masing-


masing dengan posisi yang sudah di atur rapi.


Mereka semua melakukan doa bersama. Dan


mata orang-orang kini menatap kearah Aaron


yang sedang menundukkan kepalanya khusyuk.


Alis Raja Williams dan Ratu Virginia terlihat


sedikit berkerut melihat cara berdoa Aaron


yang berubah dari biasanya. Namun mereka


tidak ada keinginan untuk bertanya.


Para pelayan kini mulai bergerak maju untuk


melayani semua orang yang ada di meja makan.


Dan seperti yang terjadi di kapal pesiar, Aaron


melarang pelayan melayaninya. Dia menunggu


samping Aaron dan bersebelahan dengan Ibu


Suri tampak melirik kearah Raya yang kini


maju ke samping Aaron dalam kebimbangan.


"Kenapa kau tidak memberikan kesempatan


pada calon istrimu untuk menunjukkan bakti


nya kepadamu Putra Mahkota.?"


Raya menghentikan gerakan tangannya saat


mendengar suara Ibu Suri. Dia menatap ragu


dan bingung kearah Aaron juga Ibu Suri.


"Apa yang kau tunggu.?"


Suara Aaron mulai terdengar naik satu oktaf


dengan raut wajah yang terlihat begitu dingin


dan tatapan lurus tak tersentuh.


"Dia hanyalah sekretaris pribadi Putra Mahkota.


Bukanlah pelayan pribadi mu.!"


Madam Rowena kembali mengeluarkan suara


sambil meraih serbet dan memasangnya dengan


sikap dan gaya yang sangat elegan. Sangat


kentara sekali kalau beliau adalah mantan Ratu


yang memang terkenal sangat tegas, disiplin


dan sedikit arogan serta diktator.


"Kebebasan memerintah sepenuhnya ada di


tangan ku Yang Mulya Ibu Suri.!"


"Lady Catharina lebih berhak melayanimu.!"


"Tapi aku memilki hak menentukan.!"


"Belajarlah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya Pangeran Aaron..!"


"Semua akan sesuai dengan sendirinya saat


Tuhan menempatkan segala sesuatu nya


dengan seharusnya Ibu Suri.!"


"Kau sangat angkuh.!"


Dengus Ibu Suri kalah telak, Aaron bergeming.


Raja Williams, Ratu Virginia, Ansel dan Arabella


hanya bisa menghela nafas panjang dan berat.


Selalu saja begini.! Sesungguhnya perdebatan


semacam ini selalu terjadi antara nenek dan


cucu yang sama-sama keras kepala itu tiap kali


mereka bertemu dan berinteraksi. Tidak pernah


ada kedamaian, selalu saja bertentangan.!


Para tamu hanya bisa melihat perdebatan itu


tanpa bisa menginterupsi. Sementara Raya dan


Catharina tampak menundukkan kepala.


"Yang Mulya Ibu Suri benar Prince Marvell..


Biarkan Lady Catharina melakukan tugasnya."


Akhirnya Ratu Virginia mencoba menengahi


karena tidak enak dengan para tamu yang jadi terganggu kenyamanan nya. Aaron terdiam,


Catharina tersenyum lembut menatap kearah


Aaron, lalu kearah Raya yang tampak sedikit


berubah air mukanya. Dia tidak sadar kalau


Madam Rowena tengah mengamati perubahan


raut wajahnya tersebut. Perlahan dia mulai


memundurkan tubuhnya namun tiba-tiba saja


tangannya kembali di tahan oleh Aaron.


"Tetap di sini.! Atau aku akan memberimu


hukuman karena tidak mematuhi perintah ku.!"


Tubuh Raya membeku, mata semua orang


menatap kearah mereka. Tangan Catharina


yang sudah bergerak ingin mengambilkan


makanan kini mengambang di udara dengan


wajah yang terlihat malu dan kecewa. Dia


terpaksa kembali pada posisi duduk nya.


"Bukankah aku sudah memperingatkan mu

__ADS_1


Lady Catharina.?"


Mata Aaron dan Catharina saling menatap


kuat, gadis itu memejamkan mata sambil


menarik napas perlahan.


"Baiklah Yang Mulya.. lakukan apapun yang


bisa membuatmu senang."


Lirih Catharina tidak ingin berdebat, dia cukup


mengenal bagaimana karakter Aaron karena


sejak kecil mereka sudah sering berinteraksi.


Aaron menyeringai tipis, dia kembali berpaling


pada Raya yang masih berdiri di sampingnya.


"Ambilkan aku minuman.!"


Aaron memberi perintah. Raya benar-benar


dalam kebimbangan.Tuhan..situasi macam


apa ini, kenapa dia harus di hadapkan dengan


orang yang tidak jelas seperti ini.! Sebenarnya


apa sih maunya Sang Pangeran aneh ini.? Dia


melihat saat ini semua mata sedang mengarah


padanya dengan sorot mata tak terbaca.


"Maharaya...pendengaran mu masih berfungsi


bukan, apalagi yang kamu tunggu.?"


"Baik Yang Mulya."


Raya tampak sedikit gugup. Dia segera bergerak


meraih minuman yang ada di depan. Melihat


semua sikap arogan yang di perlihatkan oleh


Aaron terhadap Raya, Lucas benar-benar tidak


bisa tahan lagi. Begitu Aaron mulai meneguk


minuman nya Lucas menjentikkan jari di dekat


telinga nya. Detik berikutnya Aaron tiba-tiba


saja tersedak dengan hebatnya membuat


semua orang terkejut di serang kepanikan


terlebih lagi bagi Raya dan Catharina saat


melihat wajah Aaron memerah parah.


Secara bersamaan mereka berdua memberikan


gelas berisi air putih, dan Aaron reflek meraih


gelas dari tangan Raya kemudian meminumnya membuat Catharina membeku di tempat dengan


wajah yang terlihat memucat apalagi saat ini dia


melihat telapak tangan kiri Raya menepuk halus tengkuk leher Aaron, dengan raut wajah yang


terlihat cemas luar biasa.


"Aaron..kau tidak apa-apa..?"


Raya bertanya dengan menatap cemas wajah


Aaron yang masih terbatuk parah. Pria itu balas


menatap wajah cemas Raya sambil menggeleng


pelan masih dalam keadaan terbatuk. Semua


orang menatap cemas kearah Aaron termasuk


Madam Rowena yang menatap seksama semua


interaksi intim antara Aaron dan Raya.


Melihat semua itu emosi Lucas malah semakin


terpicu, sorot matanya tampak membara dan


berkilat murka membawa bencana. Dengan


gerakan cepat tak terlihat dia memutar tangan


kanannya kemudian kakinya menjejak lantai


dengan hentakkan keras namun tak terlihat.


Dan hal tak terduga pun kini terjadi. Meja makan berukuran panjang dan besar yang terbuat dari


kristal asli tiba-tiba saja bergetar dan berguncang


hebat menyebabkan semua makanan yang ada


di atasnya bergerak berhamburan. Semakin lama guncangan nya semakin hebat membuat semua


orang bergerak panik, keluar dari kursi kemudian


menjauhkan diri.


Dengan gerakan cepat Aaron segera menarik


tangan Raya dan menyembunyikan tubuh istrinya


itu dibelakangnya kemudian mundur sambil


waspada. Dia juga menarik tangan Madam


Rowena dan Catharina agar berada dalam


perlindungan nya.


"Ada gempa..!!"


Teriakan para prajurit saat lantai yang di pijak


ikut bergetar membuat semua orang semakin


terlihat panik.


"Enrique..! Amankan semua orang !"


Aaron memberi perintah pada kepala pengawal


yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu


bersama puluhan bawahannya.


"Baik Yang Mulya..!"


Kepala pengawal memberi instruksi kepada bawahannya untuk mengamankan semua orang. Sementara dia sendiri langsung mengamankan


raja dan Ratu yang terlihat memucat. Semua


orang berteriak keras saat tiba-tiba saja semua perabotan yang ada di atas meja makan tersebut berterbangan, melayang-layang kemudian pecah


lalu jatuh berhamburan ke lantai menimbulkan


bunyi yang sangat mengerikan membuat para


wanita menjerit-jerit histeris sambil merunduk


dan menutup wajah. Wajah mereka tampak


syok luar biasa. Raya bergerak membimbing


Madam Rowena yang terlihat memucat. Untuk


sesaat keduanya saling pandang dalam diam.


"Bawa mereka semua ke istana utama.!"


Aaron kembali terdengar memberi perintah.


Kepala pengawal membimbing Raja dan Ratu


serta para tamu yang terlihat syok melangkah meninggalkan ruangan itu. Sebelum keluar


perdana menteri Alfred menatap Lucas dengan


sorot mata penuh interogasi. Sementara Lucas


tampak santai dan mengangkat bahunya, lalu


mendekat kearah keberadaan Raya yang baru


saja menyerahkan Madam Rowena kepada


para pengawal pribadi nya.


"Raya ikut denganku.!"


Dia menarik tangan Raya namun dengan cepat


Raya menepis pegangan tangan tersebut. Mata


mereka bertemu, Lucas mengerjap dan berpaling


sesaat begitu dia merasakan ada sesuatu yang


menumbuk jantungnya. Mata sendu nan indah


itu mampu melunakkan bara api yang menyala


di dalam dirinya. Lucas benar-benar terkesiap


mendapati kenyataan bahwa pesona mata indah


wanita inilah yang mampu melumpuhkan dirinya.


"Tuan Winston keluarlah bersama yang lain.!"


Aaron menarik tangan Raya di sembunyikan


kembali di belakang tubuhnya. Mata Aaron


dan Lucas saling menatap kuat.


"Aku akan datang lagi untuk membawamu


menjadi pengantinku Maharaya.!"


Ujar Lucas dengan seringai iblis nya membuat


jiwa Devils Aaron nyaris keluar. Namun dia tetap


berusaha mengendalikan dirinya karena saat


ini sedang berada di dalam istana.


"Lucas Adolf Winston, tolong kendalikan semua kekuatanmu yang tidak masuk akal itu.! Kau


sudah berani memasuki wilayah pribadi istana.!"


Tegas Aaron dengan tatapan Devils nya yang


langsung membuat Lucas tertawa ringan.


"Kau sudah tahu rupanya..Itu hanya peringatan


kecil dariku Yang Mulya.."


Ucapnya sambil kemudian menatap lekat wajah


Raya setelah itu mengibaskan jas nya kemudian


melangkah tenang keluar dari ruangan bersama


para pengawal pribadi nya..


***

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2