
❤️❤️❤️
Wajah Raya tampak sedikit pucat, suara Ibu Suri
yang begitu tegas membuat nya merasa tidak
nyaman. Mata mereka berdua saat ini masih
saling menatap kuat.
"Ini urusanku dengan bawahan ku.! Mohon
Grandma tidak ikut campur. !"
"Prince Marvell.! Jaga attitude mu di depan
para tamu ! Ini bukan di kantor mu.!"
Madam Rowena berdiri kemudian berjalan kearah Aaron yang masih memegang kuat tangan Raya.
Mata tajam wanita tua yang masih terlihat bugar
itu menatap kuat dua wajah di hadapannya. Dia
tampak terkejut, mengerjapkan mata sesaat
begitu merasakan ada pancaran cahaya satu
warna yang keluar dari dua sosok di depannya
ini yang seolah-olah menyatu dan membaur,
berkilauan, memutar menyelubungi keduanya.
Siapa wanita ini sebenarnya..? Kenapa
aura nya bisa menyatu dengan Aaron..?
Madam Rowena membatin masih menatap
kuat kedua orang di hadapannya itu.
"Jagalah nama baik keluarga kerajaan Putra
Mahkota.! Jangan membuat tontonan tidak
berguna seperti ini.! Lihatlah dimana posisi
kalian berdiri saat ini.!"
Raya menundukan kepala dengan wajah yang
terlihat memerah, tapi Aaron bergeming. Dia
tetap berdiri di posisi yang sama, menatap
lekat wajah cantik Raya dan masih memegang
kuat tangan wanita itu.
"Maafkan saya Yang Mulya Ibu Suri. Ini semua
salah saya karena kurang teliti melaksanakan
perintah Putra Mahkota."
Raya berkata dengan lembut dan halus masih
dalam posisi menundukkan kepalanya.
"Kau sadar berdiri dimana Miss Secretary ?
Kau dan Putra Mahkota berbeda status dan
kedudukan.!"
Deg !
Jantung Raya seakan terhantam benda keras.
Kali ini wanita terhormat ini langsung berbicara
masalah kedudukan tanpa basa-basi.Tidak salah
lagi, sepertinya ibu suri memang mengetahui
sesuatu yang terjadi di antara mereka.
"Grandma..! Duduklah kembali dengan tenang.
Kita akan bicara lagi nanti.!"
Wajah Aaron mulai mengeras, Madam Rowena
kembali menatap tajam wajah Raya. Ada raut
aneh yang terlukis dari wajah tua nya. Akhirnya
dia kembali berjalan ke arah tempat duduknya.
Raya mengangkat wajahnya, mereka kembali
saling menatap kuat. Aaron menangkap raut
tertekan dan tidak nyaman yang terlihat jelas
dari wajah cantik nan elok wanita yang selalu membuatnya limbung itu, kenapa wanita ini
selalu saja membuatnya kesal, dan kenapa
dia harus selalu membangkang.!
"Aaron.. kumohon hentikan semua ini.! Kita
menjadi fokus semua orang saat ini."
"Kau pikir aku peduli dengan semua itu.?"
"Aku yang peduli.! Aku tidak ingin menjadi
bahan pembicaraan orang satu istana.!"
Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan
setengah berbisik membuat raut wajah Aaron
berubah seketika. Perlahan dia melepaskan
pegangan tangannya. Semua mata saat ini
masih melihat kearah mereka dengan sorot
mata penuh tanda tanya. Adakah kesalahan
yang telah di perbuat oleh wanita itu.?
Sementara tatapan Lucas tampak menyala,
tinjunya terkepal dengan kuat sampai buku
jarinya memutih semua. Ingin rasanya dia
mendatangkan angin ****** beliung yang
akan menerbangkan sosok Putra Mahkota
agar Raya terbebas dari kekuasaannya.
"Kita akan membahas masalah ini nanti.!"
Desis Aaron sambil mendekatkan wajahnya
hampir saling bersentuhan. Raya menjauhkan
diri sambil menundukkan kepala dalam. Apa
sebenarnya yang ada dalam pikiran laki-laki
ini, kenapa dia melakukan semua ini di depan
semua keluarga dan para tamu.?
Aaron kembali menegakkan badan, merapihkan
jas nya sebentar setelah itu barulah melangkah
menuju kursinya kemudian duduk tenang dengan
gaya yang sangat elegan. Catharina menatapnya
dalam diam dengan ekspresi wajah yang terlihat
sedikit tidak nyaman melihat interaksi lebih yang
tadi di perlihatkan oleh Aaron pada sekretarisnya tersebut. Karena dia tahu selama ini Aaron adalah
pria yang sangat anti bersentuhan dengan wanita
yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Suasana kembali kondusif dan pembicaraan
kini berlanjut ke tahap berikutnya. Tampang
Aaron mulai terlihat bosan karena dari tadi dia
tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya
tampak mengawasi gerak gerik pria yang ada di sebrangnya, Lucas... Aaron tahu, dari tadi pria
aneh itu tidak pernah melepas pandangan nya
dari sosok istrinya. Tapi dia tetap tenang dan
bersikap tidak peduli walau sebenarnya hatinya berkobar.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakati saja bahwa
pertunangan antara Putra Mahkota dengan
Lady Catharina akan di laksanakan sekitar
satu minggu lagi..!"
Jedderr !!
Aaron dan Raya langsung mengangkat wajah
bersamaan. Satu minggu lagi.? Apa-apaan ini?
"Mohon maaf Grandma..Apa pendapatku di
sini tidak di perlukan.?"
Aaron buka suara membuat semua orang kini
melirik kearah nya. Madam Rowena mendengus
dengan sikap arogannya.
"Ini adalah urusan istana bagian dalam. Kau
hanya perlu mengikuti apapun yang sudah di
tentukan tanpa ada hak untuk berpendapat.!"
Wajah Aaron tampak mengeras, matanya
beradu tatap dengan mata Sang nenek yang
penuh dengan intimidasi. Aaron mengalah,
dia memalingkan wajahnya.
"Kalau anda sudah memutuskan, kami akan
mengikuti saja Yang Mulya Ibu Suri.!"
Perdana menteri Alfred kembali menyahut
sambil menunduk sedikit dengan seringai
senyum penuh arti. Wajah Catharina tampak
di penuhi oleh semburat merah. Semua orang
tampak berwajah cerah penuh kebahagiaan.
Sedangkan Raya tampak semakin tertunduk,
__ADS_1
perasaan tidak nyaman yang menggerogoti
hatinya membuat dia memejamkan mata,
mencoba untuk tetap tenang dan tidak peduli.
Tapi tidak ! ternyata hatinya tidak cukup kuat.
Rasa sakit itu kini semakin menggigit hatinya.
Sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan
desakan buliran bening yang kini sudah mulai
memanaskan sudut matanya.
"Baiklah.. mulai besok segala persiapan akan
di lakukan.! Jadi lady Catharina akan semakin
sibuk, mungkin anda bisa mengurangi sedikit
aktifitas sosialnya ?"
Kali ini Ratu Virginia yang mengeluarkan suara
dengan wajah yang berbinar bahagia tapi dia
juga tidak lepas mengamati reaksi Putra nya
yang terlihat dingin dan terkesan tidak peduli
dengan semua hal yang berlaku. Arabella pun
sama, diam-diam melirik kearah kakaknya itu.
"Tentu Yang Mulya, tidak ada masalah dengan
hal itu, saya akan memfokuskan diri untuk
semua persiapan ini."
Catharina menyahut dengan lembut seraya
menunduk kemudian melihat kearah Aaron
yang terlihat acuh dan datar.
"Baiklah.. karena semua pembicaraan sudah
tuntas kita beralih saja ke ruang makan.!"
Madam Rowena memutuskan, kemudian dia
bangkit dari duduknya di bimbing oleh asisten pribadinya dan langsung melangkah pergi dari
ruangan itu.
Akhirnya pembicaraan pun selesai, mereka
semua di arahkan menuju ruang perjamuan.
Ruang makan yang sangat luas dan mewah
di penuhi oleh interior yang serba mahal dan
berlapiskan emas. Keluarga Winston terlihat
begitu menikmati berada di dalam istana yang
terkenal sangat mewah dan menjadi impian
setiap orang di dunia untuk dapat memasuki
dan menginjakkan kaki di dalamnya.
Tidak ada keluarga yang tidak berambisi untuk
menjadi bagian dari keluarga kaya raya ini. Dari
dulu keluarga De Enzo merupakan salah satu
keluarga paling kaya di dunia. Bahkan harta
kekayaannya yang tidak terekspose saja tidak
bisa di prediksi berapa banyaknya. Oleh karena
itu kedudukan sebagai calon Ratu masa depan
atau Gelar sebagai Putri Mahkota nyaris saja
menimbulkan pertumpahan darah di kalangan
para bangsawan kelas atas yang ada di negara
ini. Karena hal ini merupakan sebuah anugerah
besar bagi siapapun yang akan mendapatkan
gelar kehormatan tersebut.
Semua orang sudah duduk di kursi masing-
masing dengan posisi yang sudah di atur rapi.
Mereka semua melakukan doa bersama. Dan
mata orang-orang kini menatap kearah Aaron
yang sedang menundukkan kepalanya khusyuk.
Alis Raja Williams dan Ratu Virginia terlihat
sedikit berkerut melihat cara berdoa Aaron
yang berubah dari biasanya. Namun mereka
tidak ada keinginan untuk bertanya.
Para pelayan kini mulai bergerak maju untuk
melayani semua orang yang ada di meja makan.
Dan seperti yang terjadi di kapal pesiar, Aaron
melarang pelayan melayaninya. Dia menunggu
samping Aaron dan bersebelahan dengan Ibu
Suri tampak melirik kearah Raya yang kini
maju ke samping Aaron dalam kebimbangan.
"Kenapa kau tidak memberikan kesempatan
pada calon istrimu untuk menunjukkan bakti
nya kepadamu Putra Mahkota.?"
Raya menghentikan gerakan tangannya saat
mendengar suara Ibu Suri. Dia menatap ragu
dan bingung kearah Aaron juga Ibu Suri.
"Apa yang kau tunggu.?"
Suara Aaron mulai terdengar naik satu oktaf
dengan raut wajah yang terlihat begitu dingin
dan tatapan lurus tak tersentuh.
"Dia hanyalah sekretaris pribadi Putra Mahkota.
Bukanlah pelayan pribadi mu.!"
Madam Rowena kembali mengeluarkan suara
sambil meraih serbet dan memasangnya dengan
sikap dan gaya yang sangat elegan. Sangat
kentara sekali kalau beliau adalah mantan Ratu
yang memang terkenal sangat tegas, disiplin
dan sedikit arogan serta diktator.
"Kebebasan memerintah sepenuhnya ada di
tangan ku Yang Mulya Ibu Suri.!"
"Lady Catharina lebih berhak melayanimu.!"
"Tapi aku memilki hak menentukan.!"
"Belajarlah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya Pangeran Aaron..!"
"Semua akan sesuai dengan sendirinya saat
Tuhan menempatkan segala sesuatu nya
dengan seharusnya Ibu Suri.!"
"Kau sangat angkuh.!"
Dengus Ibu Suri kalah telak, Aaron bergeming.
Raja Williams, Ratu Virginia, Ansel dan Arabella
hanya bisa menghela nafas panjang dan berat.
Selalu saja begini.! Sesungguhnya perdebatan
semacam ini selalu terjadi antara nenek dan
cucu yang sama-sama keras kepala itu tiap kali
mereka bertemu dan berinteraksi. Tidak pernah
ada kedamaian, selalu saja bertentangan.!
Para tamu hanya bisa melihat perdebatan itu
tanpa bisa menginterupsi. Sementara Raya dan
Catharina tampak menundukkan kepala.
"Yang Mulya Ibu Suri benar Prince Marvell..
Biarkan Lady Catharina melakukan tugasnya."
Akhirnya Ratu Virginia mencoba menengahi
karena tidak enak dengan para tamu yang jadi terganggu kenyamanan nya. Aaron terdiam,
Catharina tersenyum lembut menatap kearah
Aaron, lalu kearah Raya yang tampak sedikit
berubah air mukanya. Dia tidak sadar kalau
Madam Rowena tengah mengamati perubahan
raut wajahnya tersebut. Perlahan dia mulai
memundurkan tubuhnya namun tiba-tiba saja
tangannya kembali di tahan oleh Aaron.
"Tetap di sini.! Atau aku akan memberimu
hukuman karena tidak mematuhi perintah ku.!"
Tubuh Raya membeku, mata semua orang
menatap kearah mereka. Tangan Catharina
yang sudah bergerak ingin mengambilkan
makanan kini mengambang di udara dengan
wajah yang terlihat malu dan kecewa. Dia
terpaksa kembali pada posisi duduk nya.
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu
__ADS_1
Lady Catharina.?"
Mata Aaron dan Catharina saling menatap
kuat, gadis itu memejamkan mata sambil
menarik napas perlahan.
"Baiklah Yang Mulya.. lakukan apapun yang
bisa membuatmu senang."
Lirih Catharina tidak ingin berdebat, dia cukup
mengenal bagaimana karakter Aaron karena
sejak kecil mereka sudah sering berinteraksi.
Aaron menyeringai tipis, dia kembali berpaling
pada Raya yang masih berdiri di sampingnya.
"Ambilkan aku minuman.!"
Aaron memberi perintah. Raya benar-benar
dalam kebimbangan.Tuhan..situasi macam
apa ini, kenapa dia harus di hadapkan dengan
orang yang tidak jelas seperti ini.! Sebenarnya
apa sih maunya Sang Pangeran aneh ini.? Dia
melihat saat ini semua mata sedang mengarah
padanya dengan sorot mata tak terbaca.
"Maharaya...pendengaran mu masih berfungsi
bukan, apalagi yang kamu tunggu.?"
"Baik Yang Mulya."
Raya tampak sedikit gugup. Dia segera bergerak
meraih minuman yang ada di depan. Melihat
semua sikap arogan yang di perlihatkan oleh
Aaron terhadap Raya, Lucas benar-benar tidak
bisa tahan lagi. Begitu Aaron mulai meneguk
minuman nya Lucas menjentikkan jari di dekat
telinga nya. Detik berikutnya Aaron tiba-tiba
saja tersedak dengan hebatnya membuat
semua orang terkejut di serang kepanikan
terlebih lagi bagi Raya dan Catharina saat
melihat wajah Aaron memerah parah.
Secara bersamaan mereka berdua memberikan
gelas berisi air putih, dan Aaron reflek meraih
gelas dari tangan Raya kemudian meminumnya membuat Catharina membeku di tempat dengan
wajah yang terlihat memucat apalagi saat ini dia
melihat telapak tangan kiri Raya menepuk halus tengkuk leher Aaron, dengan raut wajah yang
terlihat cemas luar biasa.
"Aaron..kau tidak apa-apa..?"
Raya bertanya dengan menatap cemas wajah
Aaron yang masih terbatuk parah. Pria itu balas
menatap wajah cemas Raya sambil menggeleng
pelan masih dalam keadaan terbatuk. Semua
orang menatap cemas kearah Aaron termasuk
Madam Rowena yang menatap seksama semua
interaksi intim antara Aaron dan Raya.
Melihat semua itu emosi Lucas malah semakin
terpicu, sorot matanya tampak membara dan
berkilat murka membawa bencana. Dengan
gerakan cepat tak terlihat dia memutar tangan
kanannya kemudian kakinya menjejak lantai
dengan hentakkan keras namun tak terlihat.
Dan hal tak terduga pun kini terjadi. Meja makan berukuran panjang dan besar yang terbuat dari
kristal asli tiba-tiba saja bergetar dan berguncang
hebat menyebabkan semua makanan yang ada
di atasnya bergerak berhamburan. Semakin lama guncangan nya semakin hebat membuat semua
orang bergerak panik, keluar dari kursi kemudian
menjauhkan diri.
Dengan gerakan cepat Aaron segera menarik
tangan Raya dan menyembunyikan tubuh istrinya
itu dibelakangnya kemudian mundur sambil
waspada. Dia juga menarik tangan Madam
Rowena dan Catharina agar berada dalam
perlindungan nya.
"Ada gempa..!!"
Teriakan para prajurit saat lantai yang di pijak
ikut bergetar membuat semua orang semakin
terlihat panik.
"Enrique..! Amankan semua orang !"
Aaron memberi perintah pada kepala pengawal
yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu
bersama puluhan bawahannya.
"Baik Yang Mulya..!"
Kepala pengawal memberi instruksi kepada bawahannya untuk mengamankan semua orang. Sementara dia sendiri langsung mengamankan
raja dan Ratu yang terlihat memucat. Semua
orang berteriak keras saat tiba-tiba saja semua perabotan yang ada di atas meja makan tersebut berterbangan, melayang-layang kemudian pecah
lalu jatuh berhamburan ke lantai menimbulkan
bunyi yang sangat mengerikan membuat para
wanita menjerit-jerit histeris sambil merunduk
dan menutup wajah. Wajah mereka tampak
syok luar biasa. Raya bergerak membimbing
Madam Rowena yang terlihat memucat. Untuk
sesaat keduanya saling pandang dalam diam.
"Bawa mereka semua ke istana utama.!"
Aaron kembali terdengar memberi perintah.
Kepala pengawal membimbing Raja dan Ratu
serta para tamu yang terlihat syok melangkah meninggalkan ruangan itu. Sebelum keluar
perdana menteri Alfred menatap Lucas dengan
sorot mata penuh interogasi. Sementara Lucas
tampak santai dan mengangkat bahunya, lalu
mendekat kearah keberadaan Raya yang baru
saja menyerahkan Madam Rowena kepada
para pengawal pribadi nya.
"Raya ikut denganku.!"
Dia menarik tangan Raya namun dengan cepat
Raya menepis pegangan tangan tersebut. Mata
mereka bertemu, Lucas mengerjap dan berpaling
sesaat begitu dia merasakan ada sesuatu yang
menumbuk jantungnya. Mata sendu nan indah
itu mampu melunakkan bara api yang menyala
di dalam dirinya. Lucas benar-benar terkesiap
mendapati kenyataan bahwa pesona mata indah
wanita inilah yang mampu melumpuhkan dirinya.
"Tuan Winston keluarlah bersama yang lain.!"
Aaron menarik tangan Raya di sembunyikan
kembali di belakang tubuhnya. Mata Aaron
dan Lucas saling menatap kuat.
"Aku akan datang lagi untuk membawamu
menjadi pengantinku Maharaya.!"
Ujar Lucas dengan seringai iblis nya membuat
jiwa Devils Aaron nyaris keluar. Namun dia tetap
berusaha mengendalikan dirinya karena saat
ini sedang berada di dalam istana.
"Lucas Adolf Winston, tolong kendalikan semua kekuatanmu yang tidak masuk akal itu.! Kau
sudah berani memasuki wilayah pribadi istana.!"
Tegas Aaron dengan tatapan Devils nya yang
langsung membuat Lucas tertawa ringan.
"Kau sudah tahu rupanya..Itu hanya peringatan
kecil dariku Yang Mulya.."
Ucapnya sambil kemudian menatap lekat wajah
Raya setelah itu mengibaskan jas nya kemudian
melangkah tenang keluar dari ruangan bersama
para pengawal pribadi nya..
***
__ADS_1
Happy Reading....