Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
16. Sekretaris Pribadi


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron Marvell De Enzo.??


Raya menggumamkan nama itu dalam hatinya.


Tubuh nya kini semakin lemas. Apakah dirinya


saat ini sedang bermimpi.? Dia memegang


kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berputar.


Tidak, ini pasti hanya halusinasi nya saja.


Pria jahat itu bukanlah Aaron Marvell De Enzo.


Sang pemilik perusahaan tempat dirinya


bekerja selama ini. Kenapa bisa begini.?


"Miss Raya, anda tidak apa-apa.?"


Ansel kembali mendekat kearah Raya yang


langsung mengangkat tangannya sambil


melirik cepat dengan tatapan penuh rasa


tidak terima atas semua kenyataan ini.


"Ini semua tidak benar kan.? Kalian pasti


sedang bersandiwara, iya kan.?"


Raya mundur, menatap Ansel yang terlihat


mengulum senyumnya.


"Inilah kenyataan nya, beliau adalah Presdir


Marvello's Corporation, Aaron Marvell De Enzo."


Ujar Ansel sambil melirik sekilas kearah Aaron


yang masih tetap pada posisinya. Duduk diam


di kursi kebesarannya dengan tatapan lurus


kearah Raya.


"Tidak mungkin.! bagaimana bisa begini.?"


"Untuk ke depan nya, anda akan tahu lebih


banyak tentang nya.!"


Ansel berdiri tenang di hadapan Raya yang


masih mencoba menegakkan badannya


karena kakinya masih saja terasa lemas.


"Kalau begitu aku tidak akan mengambil


posisi ini. Akan lebih baik bagiku untuk


mengundurkan diri saja dari perusahan ini."


Raya menundukkan kepalanya sedikit kearah


Aaron tanpa melihat wajahnya, lalu berbalik


dan bersiap melangkah. Tapi rasa pening di


kepalanya kini semakin kuat. Dia memegang


kepalanya seraya memejamkan mata mencoba


untuk menguasai dirinya, dia benar-benar


tidak bisa menerima semua ini. Bagaimana


bisa laki-laki jahat itu adalah majikannya.


Dengan wajah yang sudah sangat dingin Aaron beranjak dari kursinya, berjalan kearah Raya,


tanpa kata dia mengangkat tubuh Raya yang


terkejut seketika, matanya melebar, mencoba


meronta ingin turun dari pangkuan laki-laki


itu yang terlihat datar saja, mendudukkan


dirinya di atas sofa yang ada di sudut kanan.


Mata mereka bertemu panas sesaat hingga


akhirnya Raya memalingkan wajahnya. Ansel


datang membawakan sebotol air mineral.


"Minumlah, kau harus menenangkan diri


dulu, cobalah untuk menerima semua ini."


Ucap Ansel dengan bijak seraya mengulurkan


botol minum tersebut lalu duduk di sebelah


gadis itu. Raya melirik, matanya bersitatap


dengan mata Ansel yang terlihat sedikit


khawatir. Sedang Aaron duduk di depannya


dengan tatapan tajam mengarah pada wajah


pucat Raya yang kini menerima botol air


tersebut lalu perlahan meminumnya.


"Terimakasih Tuan Ansel.."


Lirih Raya sambil kemudian menunduk.


Ketiga nya untuk sesaat saling berdiam diri.


Raya masih mencoba untuk menerima semua


ini, kenyataan bahwa laki-laki yang sudah


mengambil kehormatannya adalah seorang


Aaron Marvell De Enzo, yang dia kenal hanya


namanya saja, tanpa tahu orang nya.


"Kau tidak bisa mundur lagi karena semua


ini berhubungan langsung dengan perusahaan


cabang ini. Kau akan mencoreng nama baik


perusahaan ini kalau melakukan nya.!"


Ansel memberi penjelasan, Raya mencoba


melihat kearah Aaron, mata mereka bertemu,


saling menatap kuat dengan sorot mata yang


sama-sama rumit tidak terjabarkan. Yang jelas


tatapan penuh kebencian masih mendominasi


mata indah gadis itu. Tidak lama dia berpaling


wajah, Aaron masih terdiam menatapnya.


"Tapi aku benar-benar tidak bisa menerima


posisi yang bukan bidang ku."


"Mau atau tidak kau tetap tidak akan bisa


kemana-mana.! Perjanjian itu tetap berlaku.!"


Aaron berkata dengan nada arogan nya. Raya


melirik, menatap wajah super tampan namun


sangat dingin bahkan cenderung bengis itu.


"Kau tidak bisa melakukan pemaksaan.! Aku


punya hak untuk memilih dan menentukan.!"


"Hak mu itu sudah hilang sekarang.!"


Tegas Aaron sambil kemudian berdiri, Raya


menatap kesal kearah laki-laki kejam itu.

__ADS_1


"Ansel akan menerangkan apa saja yang


harus kau kerjakan. Dua jam lagi kita akan


mengadakan pertemuan.!"


Aaron berkata sambil berjalan kearah kursi


kebesarannya. Raya menatap geram kearah


Aaron, rasa bencinya semakin besar. Kenapa


pria jahat itu bisa selicik ini.? Apakah semua


orang yang merasa memegang dunia


memang seperti ini adanya.?


"Miss Raya..aku sarankan, mulai sekarang


belajarlah menerima semua ini. Tuan kita


tidak suka di bantah.!"


Ansel berucap sambil menatap tenang wajah


Raya yang menarik napas berat.


"Baiklah.. sepertinya kalian tidak memberiku


pilihan lain. Tunjukkan aku ruangan nya.!"


Raya berdiri, Ansel tersenyum manis seraya


ikut berdiri.


"Meja kerjamu ada di sana.!"


Ujar Ansel sambil menunjuk meja kerja yang


ada di sudut kiri, posisi nya di sebelah kiri


ruangan, hanya berjarak beberapa meter


saja dari meja kerja Aaron.


"Apa.?? Kenapa harus berada di ruangan ini.?


Ini sangat tidak masuk akal !"


"Lusa kita akan pergi dari negara ini, jadi itu


semua hanya sementara saja.!"


Debat Aaron yang mulai terfokus pada laptop


di depannya. Raya mematung di tempat, pergi


dari negara ini.? Apakah ini artinya dia akan


ikut pergi ke kantor pusat ?


"Aku akan menjelaskan secara garis besar


apa saja tugas dan kewajiban mu.!"


Ansel menarik tangan Raya untuk duduk di


kursi kerjanya. Dan mulailah Ansel menjadi


mentor kilat untuk Raya, menjelaskan dan


mengarahkan apa saja yang akan menjadi


beban pekerjaan nya nanti.


***


Siang nya Aaron dan Raya pergi ke sebuah


kafe yang akan menjadi tempat pertemuan


dengan kliennya, mereka satu mobil yang


di bawa oleh Alex. Keduanya duduk di jok


masing-masing, jadi Raya bisa bernapas


sedikit lega. Dia menyibukkan diri dengan


mempelajari materi yang akan di bahas


pada pertemuan nanti. Sesekali sudut mata


Aaron melihat kearah wanita yang sudah


Sekretaris pribadi.? bibir Aaron tampak


terangkat sedikit, ini sungguh di luar nalar.


Selama berada di kantor tadi, Raya menahan


diri untuk tidak mengeluarkan suara. Dia ingin


meminimalisir interaksi dengan laki-laki itu,


kalau bisa ingin rasanya dia lari dari semua


kenyataan ini.


Tiba di tempat, Aaron keluar terlebih dahulu


di susul oleh Raya yang membawa laptop dan


juga beberapa berkas penting yang akan di


tandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah


menjelaskan segala sesuatu nya pada Raya


sosok Ansel tidak lagi kelihatan, entah


kemana perginya pria menawan itu.


Raya memasang wajah kesal saat melihat


bos jahat nya itu berjalan santai menuju ke


dalam lift khusus yang ada di parkiran. Raya


mengikuti pria itu di belakang nya dengan


langkah sedikit kasar di telan kekesalan.


Sementara Alex dan beberapa bawahannya


mengikuti dari belakang membawakan tas


laptop dan dokumen penting.


Begitu keluar dari dalam lift mereka masuk


ke sebuah ruang VVIP yang ada di kafe


tersebut di sambut langsung oleh 4 orang


pria yang sudah menunggu nya dari tadi.


Orang-orang itu tampak berpenampilan rapi


dan elegan dengan raut wajah yang terlihat


jelas berasal dari kalangan elite dunia.


"Selamat datang Tuan De Enzo."


Sambut mereka serempak sambil menunduk


dan membungkukkan badan penuh hormat.


Aaron hanya mengangkat tangannya sedikit


dengan ekspresi datar dan lurus. 4 orang itu


tampak sangat bersemangat saat melihat


kemunculan Aaron, seakan mendapatkan


hadiah lotre besar tak terduga.


"Terimakasih anda sendiri yang datang ke


pertemuan ini Tuan."


Pria paruh baya yang sepertinya klien Aaron


tersebut kembali berucap dengan antusias.


Aaron masih bertahan dengan wajah datar


dan tanpa ekspresi nya. Ke 4 pria elegan itu


kini melirik ragu kearah Raya dengan sorot

__ADS_1


mata sedikit terkejut sekaligus tertarik.


"Apa yang kalian lihat.?"


Aaron menatap mereka dengan mata elang


nya yang langsung membuat ke 4 pria itu


tertunduk gugup. Mereka memang terkejut


karena Aaron datang bersama dengan seorang


wanita. Yang mereka tahu, selama ini, seorang


Aaron Marvell tidak pernah bersinggungan


langsung dengan wanita.


"Maafkan kami Tuan.. Mari kita mulai saja


pertemuannya."


Ujar pria setengah baya tadi yang terlihat


sangat gugup dan tegang, wajahnya juga


terlihat pias, dia mempersilahkan Aaron


untuk duduk. Aaron melirik sekilas kearah


Raya, kemudian dia duduk dengan tenang


di sertai gaya yang sangat elegan, berkelas


dan berbeda. Raya ikut duduk di sebelahnya,


sedikit menjauh.


"Kami sengaja terbang ke negara ini saat


anda meminta pertemuan diadakan di sini."


"Jadi kau keberatan.?"


Suara Aaron terdengar dingin membuat


orang-orang itu langsung mendongak dan


menunjukkan reaksi tidak enak.


"Tentu saja tidak Tuan, kami justru sangat


senang bisa bertemu langsung dengan anda.


Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi


kami bisa bertemu anda di tempat ini.!"


Pria paruh baya tadi tampak menundukkan


kepalanya berkali-kali. Raya mengernyitkan


alisnya mencoba memahami situasi yang ada.


Kelihatannya orang-orang itu sangat segan


dan hormat pada bos jahatnya ini. Hatinya


semakin kesal, dia mengutuk laki-laki itu


dalam hatinya melihat sikap arogan nya.


"Aku tidak suka basa-basi, langsung saja


pada pembahasan kontrak kerja sama kita.!"


Aaron tampak mulai gerah, dia melirik


kearah Raya yang menatapnya dengan jutek.


Tatapan Aaron mulai memanas membuat


Raya mau tidak mau bergerak, menyimpan


laptop dan berkas di atas meja.


"Baik Tuan, kami akan mengikuti apa saja


yang anda tetapkan. Kami percaya pada


semua kebijakan anda sepenuhnya."


Sahut salah seorang pria lainnya sambil


kemudian dia pun mengeluarkan berkas


yang di bawanya. Pembicaraan pun di mulai.


Kali ini, giliran Raya yang maju menerangkan


isi perjanjian di antara kedua belah pihak.


Semua laki-laki asing itu tampak terkesima


saat Raya berbicara dengan pembawaan yang


sangat tenang namun tetap tegas, lugas dan


cerdas. Bukan hanya mereka, bahkan Aaron


sendiri pun tampak terdiam, dia tidak menduga


kalau Raya bisa menyesuaikan diri secepat ini


dengan tugas dan kewajiban nya. Padahal


semula dia hanya ingin mengetes saja sampai


di mana kemampuan sekretaris nya itu.


"Baiklah Tuan-tuan.. seperti nya penjelasan


kami sudah sangat detail dan jelas. Kalian


bisa mempelajari nya lagi kalau perlu."


Raya menutup penjelasan nya di bumbui


senyum tipis tanda kesantunan. Namun


hal itu malah membuat ke 4 pria itu makin


terkesima pada dirinya. Aaron menautkan


alis melihat orang-orang itu masih terdiam


menatap kearah Raya yang mulai risih.


"Apa aku perlu membatalkan kerjasama


ini.? Ada yang kalian ragukan.?"


Kali ini suara Aaron terdengar lebih dingin


membuat orang-orang itu terlonjak kaget


dan langsung memucat seketika.


"Tidak Tuan.! Kami setuju semuanya. Tidak


ada yang kami ragukan. Mari kita langsung


saja tandatangani semuanya."


Ucap klien Aaron gelagapan. Dia langsung


bergerak cepat menandatangani berkas kontrak kerjasama nya tanpa pikir panjang lagi. Bibir


Aaron menyeringai tipis melihat semua gelagat


itu. Sementara Raya hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia bergerak


meraih dokumen yang sudah di tandatangani


klien di serahkan ke hadapan Aaron.


Aaron melirik, mata mereka bertemu, saling


menatap kuat, tangan Aaron bergerak meraih


berkas-berkas itu, tanpa sengaja tangan nya


menyentuh tangan Raya, keduanya berjingkat


kaget melepas tatapan saat merasakan ada


semacam sengatan hebat yang menyerang


aliran darah mereka. Wajah keduanya tampak memerah. Masih mencoba menguasai dirinya


Aaron menandatangani berkas-berkas itu


sementara Raya memalingkan wajahnya..

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2