
***
Waktu sudah menunjukan tengah malam..
Saat ini Aaron sudah di pindahkan ke ruang rawat
inap kelas keluarga yang ada di lantai teratas.
Kondisi Aaron saat ini sudah semakin membaik,
hanya tinggal memulihkan memar dan luka dalam
di dada kirinya yang terlihat menyisakan lebam membiru dan untuk sementara waktu harus di
bebat agar terhindar dari tekanan dan gesekan.
Seluruh keluarga sudah melihatnya bergantian.
Dan sekarang mereka semua sudah kembali ke
istana, sedang Serkan dan Ratih Ayu kembali
terbang ke negara nya karena ada banyak hal
yang harus di persiapkan untuk acara syukuran
pernikahan Aaron dan Raya.
Aaron menyandarkan tubuhnya di ujung ranjang
dengan mengganjalnya memakai bantal. Dia kini
membuka ponsel dan mengecek informasi yang
sedang meledak di dunia maya. Insiden hari ini
menyisakan pemberitaan yang begitu besar di
dunia maya, baik itu di dalam maupun luar negeri. Bibirnya tampak menyeringai tipis. Semuanya
sudah selesai sekarang. Mulai saat ini dia bisa
fokus membahagiakan sang istri juga mengurus
masalah kenegaraan.
Matanya kini bergulir pada sosok Raya yang baru
saja selesai menjalankan sholat isya. Istrinya itu tampak mengenakkan gaun tidur berbahan sutra
yang membalut manis tubuh indahnya membuat Aaron harus menelan salivanya berat. Dalam
kondisi tubuhnya yang sedang cedera seperti ini hasrat dan gairahnya ternyata tidak bisa di ajak kompromi, tetap saja menggelora begitu melihat
Raya dalam keadaan santai berbalut gaun tidur
tipis seperti itu.
Usai sholat dan berdoa, Raya merapihkan semua peralatan ibadahnya. Tatapan Aaron semakin
lekat, kerinduannya kini menggunung di dadanya. Rasa cinta yang teramat dalam mampu membuat
hati dan jiwanya senantiasa merindu setiap saat
pada sosok istrinya ini. Raya mendekat, mata
mereka saling menatap dan saling mengunci
dengan sorot yang sama-sama dalam dan berat.
Tapi raut wajah Raya kini berubah ketika perut
nya berbunyi di sertai rasa lapar yang tiba-tiba
saja menyerang nya. Dari pagi dirinya memang
kurang memperhatikan asupan makanan.
"Ayo naiklah.. kau harus istirahat sekarang."
Aaron menepuk tempat tidur di sebelahnya.
Raya malah terdiam dan berdiri mematung.
"Apalagi yang kau tunggu.?"
Aaron menatap heran wajah Raya yang terlihat
sedikit aneh. Ada apa dengan istrinya ini.?
"Aaron.. aku lapar..Aku ingin memakan sesuatu
yang enak dan pedas."
Hahh.? Aaron menatap sedikit bengong. Lagi-lagi,
sebagai suami, dirinya benar-benar tidak peka.
Dia tidak pernah memperhatikan kondisi istrinya
itu, apalagi sekarang dia sedang hamil muda.
"Apa yang ingin kau makan ?"
Raya mendekat, kemudian naik ke atas ranjang,
lalu masuk ke dalam rengkuhan hangat Aaron
yang masih menatapnya merasa bersalah. Dia
mengecup lembut kening Raya.
"Aku ingin memakan sesuatu yang enak, tapi
makanan khas negara ku. Rasanya harus pedas
dan gurih."
Mata Aaron melebar, makanan khas negara asal istrinya.? Ini sudah malam, mana mungkin ada restaurant yang masih buka malam-malam begini.
"Ini sudah malam sayang.. semua restaurant
sudah tutup sekarang. Lagipula restaurant asal
negaramu terbatas di sini. Pasti akan sulit untuk menemukannya.!"
"Aku tidak mau tahu.! Pokoknya harus dapat.
Aku lapar sekali sayang. Aku ingin makan nasi Padang.!"
Wajah Aaron semakin terlihat bingung, masakan
Padang.? Wajah Raya tampak memelas dan
menghiba membuat Aaron benar-benar tidak
tahan melihatnya.
"Bagaimana kalau kita perintahkan koki istana
untuk membuatkannya untuk kita."
"Rasanya tidak akan sama Aaron..Aku ingin dari restaurant asli dan orang asli negaraku yang membuatnya.!"
Rengek Raya sambil mempererat pelukannya
membuat Aaron semakin tidak tega. Lagipula
dirinya pun tiba-tiba saja merasa lapar.
"Baiklah..apapun yang kau inginkan aku akan
berusaha mendapatkannya. Alex.. Benjamin.!!"
Aaron berteriak dan sesaat kemudian kedua
bawahannya itu sudah ada di dalam ruangan.
Mereka berdiri sedikit jauh dari ranjang pasien.
"Kami di sini Yang Mulya.."
"Carikan restaurant asal negara istriku. Kalian
harus mendapatkan makanan Padang.!"
Hahh.?? Alex dan Benjamin tampak saling
pandang, terkejut sekaligus bingung.
"Aku tidak ingin ada bantahan.! Pokoknya kalian
harus mendapatkannya. Suruh semua pengawal
untuk mencarikannya. Kalau perlu kalian carikan
dan sebarkan di media sosial sebagai lomba.!"
Aaron langsung memberi ultimatum dengan
tatapan tajam kearah dua bawahannya itu.
"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"
Alex dan Benjamin langsung membungkukkan
badan setelah itu berlalu pergi keluar kamar.
Raya tersenyum puas, dia kembali merebahkan
kepalanya di lengan kanan Aaron yang terbebas
dari bebatan perban. Keduanya saling pandang.
"Kau puas sekarang.?"
"Maaf kalau aku selalu merepotkan mu."
Lirih Raya sambil mengelus lembut rahang
kokoh Aaron yang semakin menatapnya dalam.
"Apa yang kau katakan.? Jangankan makanan,
bahkan nyawa ku pun akan aku pertaruhkan
untuk memenuhi segala keinginan mu."
"Kau ini selalu saja berlebihan.."
Desis Raya sambil kemudian mendekatkan
wajahnya dan tatapan mereka semakin terpaut.
"Itu semua karena aku sangat mencintaimu
Princess Maharaya.."
Bisik Aaron parau sambil kemudian memagut
lembut bibir merah alami milik istrinya itu.
Raya membalas dengan tidak kalah panasnya.
Keduanya kini terhanyut dalam buaian ciuman
yang sama-sama di penuhi gelora kerinduan.
Asmara yang membara selalu membuat hasrat
dan gairah di dalam tubuh mereka melambung
dan membawa keduanya pada kehangatan dan
keinginan untuk saling memiliki setiap kali
bersentuhan dan berdekatan.
Nafas mereka kian berat saat terjangan gairah
semakin menggedor dan membakar aliran darah
di dalam tubuh keduanya.
"Aku ingin memilikimu sekarang.. Aku sangat
merindukan cengkeraman dahsyat mu sayang."
Bisik Aaron sambil menarik gaun malam yang
di kenakkan oleh Raya membuat wajah Raya
memerah seluruhnya. Ucapan Aaron sungguh
membuat aliran darahnya kian memanas. Tapi
dia masih sadar akan kondisi Aaron saat ini.
"Jangan sayang.. Kondisimu belum stabil. Aku
tidak ingin proses pemulihan mu terganggu."
Raya menahan gerakan tangan Aaron yang kini
sudah membuka kancing atasan nya.
"Aku baik-baik saja sayang..Luka ini bukanlah
apa-apa bagiku.! Aku bahkan masih bisa
melawan sepuluh banteng sekarang.!"
"Aaron.. aku hampir kehilanganmu tadi. Dan itu
membuatku trauma. Aku ingin kondisimu pulih
secepatnya. Jadi untuk sementara kita harus
bisa menahan diri dulu untuk yang satu ini."
"Justru aku akan pulih dengan cepat kalau
mendapatkan suntikan energi dari dalam
tubuhmu yang istimewa ini Raya.."
Mata mereka kembali saling menatap kuat dan
dalam dengan keinginan yang sama-sama kuat.
Namun tiba-tiba saja ponsel Aaron bergetar di
atas nakas membuat Aaron menggeram kesal. Dengan cepat Raya menyambar ponsel tersebut.
"Bagaimana.. apa kalian mendapatkan nya.?"
"Yang Mulya.. kami.. kami bingung sekarang."
"Apa tidak ada satupun restaurant yang bersedia
menyediakan makanan itu.? Jadi kalian tidak mendapatkan nya?"
__ADS_1
Suara Raya terdengar kecewa dengan air mata
yang mulai menggenang membuat Aaron kini
mengetatkan rahangnya.
"Bu-bukan begitu Princess.. tapi.. tapi..sekarang
di lobby rumah sakit ada beberapa orang yang
berasal dari negara anda datang membawakan
makanan yang anda inginkan.."
"Apa..? Masha Allah.. benarkah.? Aku akan
turun sekarang untuk menemui mereka.!"
Raya langsung melempar ponsel dan menarik
tangan Aaron untuk turun dari tempat tidur
tidak peduli bahwa kondisi Aaron saat ini masih berstatus sebagai pasien dalam pengawasan.
Aaron tampak bengong saja namun tak urung
mengikuti tarikan tangan Raya keluar dari kamar.
Tiba di lobby utama rumah sakit..
Wajah Raya tampak berbinar indah melihat ada
sekitar 10 orang pria dan wanita yang berasal
dari negara nya sedang duduk di kursi ruang
tunggu. Begitu melihat kemunculan Aaron dan
Raya mereka semua langsung berdiri serempak
lalu membungkukkan badannya penuh hormat.
"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota..
Selamat malam Yang Mulya Princess Maharaya.."
Sambut mereka setelah terkesima sesaat ketika
melihat kedatangan dua tokoh yang sedang
menjadi trending topik itu. Dan yang membuat
mereka begitu antusias adalah.. karena wanita
yang menjadi tokoh utama nya berasal dari
negara yang sama dengan mereka. Dan ternyata
aslinya wanita ini benar-benar cantik luar biasa.
"Selamat malam semuanya..Tidak perlu sungkan.
Saya senang sekali kalian datang kesini. Sungguh
ini di luar dugaan..terimakasih banyak atas segala
perhatian kalian..ini benar-benar menyenangkan,
bisa bertemu saudara satu negara di tempat ini."
Sambut Raya dengan suara yang sangat lembut
dan ramah yang membuat orang-orang itu kian
terkesima dalam diam. Wajah mereka langsung
tersipu, bahagia tak terjabarkan dan benar-benar
tidak menduga akan mendapatkan sambutan
yang begitu hangat dari Sang Putri.
"Terimakasih atas sambutan anda Yang Mulya.
Kebetulan kami melihat sebaran informasi di
media sosial, jadi kami berinisiatif untuk datang
langsung ke tempat ini. Kebetulan para penjaga
tidak mempersulit kami untuk masuk.!"
Sahut salah seorang pria berkacamata dengan
tubuh tinggi sedikit berisi dan berwajah oriental.
"Syukurlah kalau begitu.. Saya akan menerima
semua makanan yang telah kalian bawakan
dengan senang hati. Sekali lagi terimakasih.."
Raya merapatkan kedua tangan di dada hingga
membuat orang-orang itu semakin bengong dan
tidak menyangka dengan keramahan dan juga
kesantunan yang di perlihatkan oleh istri Putra
Mahkota itu. Sementara Aaron hanya bisa diam
memperhatikan semua interaksi itu.
Beberapa saat kemudian...
Ruangan loby rumah sakit istana kini berubah
menjadi restauran darurat. Ini semua atas dasar
permintaan Putri Agung. Dia memerintahkan
para pengawal, security, resepsionis, dan semua
yang berdinas malam itu untuk menghabiskan
makanan yang telah di bawa oleh para pemilik
restauran dengan jumlah yang begitu banyak.
Karuan saja semuanya pesta makan malam ini.
Mereka yang belum pernah mencoba menu ini
tampak sangat menikmati dan langsung saja
ketagihan.
Raya dan Aaron yang makan sepiring berdua di ruangan khusus namun masih bisa memantau
keadaan di lobby tampak puas dan bahagia.
"Kau ini..benar-benar calon ratu masa depan ku.."
Bisik Aaron bangga sambil mengelus rambut
Raya yang tersenyum tenang kemudian kembali
menyuapi Aaron. Suaminya itu makannya malah
lebih banyak dari dirinya. Bagi Aaron makanan
ini benar-benar lezat, membuat dia ketagihan
"Aku ada..untuk mendampingi mu Pangeran."
Lirih Raya, keduanya saling pandang lekat.
Senyum manis sempurna terukir di bibir Aaron
yang mampu membuat Raya terbang melayang.
***
Dua hari kemudian...
Situasi keamanan dan ketertiban di dalam negara
xxx.. kini kembali kondusif. Semuanya kembali
pada kondisi semula. Dan Selama dua hari ini pemberitaan di semua media, baik itu elektronik, cetak maupun online tidak lepas dari insiden
menara utara istana.
Kini seluruh rakyat sudah tahu kebusukkan dari
perdana menteri Alfred Winston. Ternyata dia
sudah terlalu besar memanfaatkan jabatan dan
kekuasaannya untuk mengeruk uang negara dari
berbagai sektor. Dan team Aaron lah yang sudah
berhasil mengumpulkan bukti serta saksi atas
kejahatannya itu. Sedang kejahatan terbarunya
dan yang paling menghebohkan adalah upaya
pembunuhan terhadap Raja dan Putra Mahkota.
Dan ancaman hukumannya adalah hukuman
mati. Dan itu adalah mutlak.
Dan sekarang yang naik menggantikan posisi
Alfred Winston adalah wakilnya, merupakan
orang kepercayaan Raja Williams. Sementara
para senator yang ikut terlibat dalam gerakan
Alfred Winston serta para bangsawan yang ada
di bawah pengaruh nya semua masuk penjara
dan jadi tersangka dalam kejahatan ini.
Tanpa menunggu waktu lagi negara langsung
melakukan penyitaan aset terhadap seluruh
harta kekayaan milik keluarga Winston yang
membuat Catharina dan keluarganya harus
terusir. Dan mau tidak mau keluarga itu harus melakukan permohonan kebijaksanaan Raja.
Akhirnya Catharina dan seluruh keluarga besar
nya datang ke istana, memohon ampunan untuk
seluruh anggota keluarga yang tidak terlibat.
Namun hukuman pengasingan tetap tidak bisa
di hindari oleh seluruh keluarga besar nya itu.
Pihak istana juga langsung mengadakan proses
pemutusan kebijakan tentang posisi Catharina
sebagai calon tunangan Putra Mahkota.
Namun hal di luar dugaan terjadi, pihak istana
memberi pengangkatan pada Catharina sebagai
calon istri Ansel Danzstone..Dan dia akan segera
di boyong ke negara xx.. negara asal Ansel. Tidak
ada pilihan lain, Ansel dan Catharina terpaksa
harus menerima kebijakan itu karena selama ini
Ansel besar dan tumbuh di negara ini, di bawah
pengasuhan Ibu Suri atau Madam Rowena.
Hari ini.. akhirnya Aaron akan keluar dari rumah
sakit istana dan langsung di agendakan untuk
memasuki istana bersama Sang Putri Agung.
Seluruh rakyat sudah menerima keberadaan dan posisi Raya sebagai istri Putra Mahkota lewat
poling online yang di adakan oleh pihak istana.
Hampir 90 masyarakat menerima Raya dan
hanya 10 persen saja yang kurang srek karena
dia bukan keturunan asli negara ini..
Saat ini Aaron dan Raya sedang bersiap untuk
keluar dari rumah sakit. Dua hari ini mereka full
berada di rumah sakit. Tidak pernah sedetikpun
Raya keluar dari ruang rawat inap tanpa Aaron.
Dia senantiasa setia mendampingi suaminya itu karena Aaron tidak pernah membiarkan dirinya
jauh dari pandangannya.
"Yang Mulya.. semuanya sudah siap.."
Kepala staf istana dan kepala pengawal berdiri
di tengah ruangan begitu Aaron selesai bersiap.
Hari ini dia mengenakan setelan jas resmi yang
terlihat sangat mewah di padukan dengan dasi
yang sesuai dengan warna jas nya. Tampilannya
sangat maskulin dan tegas hingga membuat
dirinya tampak begitu gagah dan mempesona
dengan aura terang yang melingkupinya. Tidak
lama Raya keluar dari ruangan lain dengan dress
mewah elegan selutut di lengkapi topi cantik
__ADS_1
yang menghiasi kepalanya karena saat ini dia
mengenakkan pakaian adat kebesaran kerajaan.
Aaron menatap Raya tak berkedip, kemudian dia melonggarkan lengan kirinya. Raya tersenyum
lembut lalu melingkarkan tangan kanannya di
antara lipatan lengan Aaron.
"Bismillah.. Ayo.. kita berangkat sekarang..!"
Tegas Aaron sambil kemudian melangkah keluar
dari ruangan bergandengan dengan Raya di ikuti
oleh kepala staf istana, kepala pengawal, Ansel,
Alex, Benjamin, Jessica , Griz dan para prajurit
pengawal serta beberapa staf istana.
Aaron merengkuh tubuh Raya ke dalam dekapan
hangatnya saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Tangan Raya saat ini terasa dingin. Dia lumayan
gugup dan tegang, mengingat ini adalah moment
yang sangat besar dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa perjalanan hidupnya akan
sampai di titik ini.
"Aaron.. apakah ini sudah benar.?"
Aaron melirik, mengelus lembut wajah bening
mulus Raya yang bersandar di dada kanannya.
"Apalagi yang kau ragukan.? Bukankah ini jalan
yang sudah di siapkan Tuhan untuk kita.?"
"Setelah ini.. kebebasan kita akan terbatasi."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kita
akan melakukan apapun yang kita suka."
"Aaron.. jangan konyol..!"
"Selain istri Putra Mahkota negara xxx.. Kau
juga istri Underground Devil.."
Raya langsung mengangkat wajahnya. Mata
mereka kini saling menatap kuat.
"Kau tidak akan meninggalkan dunia itu.?"
"Kau tidak lihat bagaimana Ayahmu..?"
"Aaron.. aku tidak ingin anak-anakku bernasib
sama denganku.!"
"Itu tidak akan terjadi. Karena mereka memliki
Underground Devil sebagai Ayah nya sekaligus
Ksatria Guzraty sebagai kakeknya..!"
Desis Aaron dengan seringai kecil di bibirnya.
Raya meletakkan tangan kanannya di dada
Aaron dan mengelusnya lembut.
"Kalian berdua memang sama-sama aneh.!"
Gumam Raya sambil menggeleng resah. Aaron
semakin mempererat pelukannya.
Sepanjang perjalanan mereka di sambut oleh
para warga yang sudah menanti di pinggir jalan
sambil melambaikan tangan dan melemparkan
bunga mawar kearah mobil. Mereka semua
tampak begitu antusias dan semangat. Raya
hanya bisa menatap diam pemandangan tidak
terduga itu dengan mata berkaca-kaca.
"Mereka semua sudah tidak sabar ingin segera
menyambut calon ratu masa depan nya.."
Ledek Aaron dengan senyum smirk nya.
"Aaron.. jangan meledekku.! Aku tidak pernah
bermimpi akan berada pada posisi ini.!"
"Aku tahu sayang.. akulah yang menginginkan
semua ini. Kaulah yang meyakinkan ku.!"
Bisik Aaron sambil kemudian mendaratkan
ciuman lembut dan manis di bibir ranum Raya.
Akhirnya iring-iringan mobil mewah berlambang
negara itu tiba di halaman depan istana utama
di sambut oleh barisan resmi para prajurit negara
dan tabuhan drumband yang menggemakan lagu kebangsaan negara xxx.. Lesakkan tembakan
selamat datang yang di lancarkan oleh 10 orang
prajurit pilihan secara berurutan menambah haru sekaligus meriah suasana penyambutan ini.
Raja, Ratu, Madam Rowena, Arthur, Arabella, para
anggota parlemen full team, para senator dan
seluruh staf istana tampak sudah berbaris rapi
di depan pintu masuk Istana utama dengan
wajah-wajah yang terlihat bahagia dan ceria.
Aaron keluar duluan dari dalam mobil lalu dia
mengulurkan tangan kanannya menyambut
Raya yang menyusul keluar. Keduanya saling
menatap untuk beberapa saat seolah ingin
saling meyakinkan diri.
"Kau siap untuk masuk sayangku..?"
Aaron berbisik sambil mencium jemari tangan
Raya yang mengerjapkan mata terharu. Mata
mereka semakin terpaut. Dan akhirnya Raya
menganggukkan kepala penuh keyakinan.
Jessica tampak mengusap air matanya yang
jatuh tak tertahankan karena tidak menyangka
kalau perjalanan hidup sahabatnya itu akan
sampai pada titik ini.
Tidak lama Aaron dan Raya mulai melangkah
tenang menuju pintu Istana megah yang jadi
impian setiap orang untuk bisa memasukinya.
"Selamat datang Princess Maharaya Emeera
As Syaf Sulaiman di Grand Marco Palace. Istana
ini akan menjadi tempat tinggal mu mulai hari
ini sampai selamanya.."
Sambut Raja Williams dengan suara tegas
penuh kharisma begitu Aaron dan Raya tiba
di hadapan seluruh keluarga kerajaan.
"Terimakasih Yang Mulya.. Semoga saya bisa
menjaga kehormatan dan nama baik keluarga
kerajaan.."
Sahut Raya sambil membungkukkan badan
dengan gestur tubuh yang sangat halus dan
anggun. Raja Williams mengelus rambut Raya
penuh perhatian.
"Selamat datang Menantu ku.. Semoga dengan
kehadiranmu kejayaan akan selalu mengiringi
perjalanan hidup kerajaan kita.."
Ratu Virginia merentangkan tangan. Dengan
sedikit ragu, Raya masuk kedalam pelukan ibu
mertuanya itu. Setelah itu dia beralih pada Ibu
Suri yang mencium lembut keningnya.
"Selamat datang cucu dan calon cicitku. Aku
yakin sekarang..Kaulah yang akan membawa
negara ini pada kemakmuran dan kedamaian."
Keduanya saling memeluk erat. Air mata Raya
kini tidak bisa di tahan. Ada rasa haru yang
begitu menggelegak dalam jiwanya mengingat
bagaimana kesan pertama pertemuannya
dengan wanita tua terhormat ini.
"Terimakasih Yang Mulya Ibu Suri.."
"Panggil aku Grandma.."
Raya terdiam sesaat, keduanya saling melepas
pelukan. Raya tersenyum lembut kemudian
menundukan kepalanya.
"Baiklah.. Grandma.."
Semua orang tersenyum bahagia. Kini giliran
Arabella yang saling berpelukan dengan Raya.
"Aunty cantiikk... welcome to the palace.."
Tiba-tiba dari arah dalam ada suara lengkingan
khas yang mampu membuat semua orang kini
meringis dan menolehkan kepala ke asal suara.
Raya melebarkan matanya saat melihat sosok
mungil cantik jelita lagi-lagi pada posisi berlari
kencang tak terkendali dengan membawa
sebuket bunga cantik di tangannya.
Dan kejadian itu kini terulang. Raya dan Aaron
spontan menyongsong kedatangan Alluna yang
hampir saja terjatuh kalau kedua paman dan
bibi nya itu tidak sigap dan cepat menangkap
sosok mungilnya. Kini si kecil cantik jelita itu
sudah ada dalam pelukan erat Raya yang duduk bersimpuh sambil berpandangan lekat dengan
Alluna yang malah tertawa bahagia.
"Kamu ini ya.. kenapa selalu saja ceroboh.."
Desis Raya sambil menghadiahkan ciuman
bertubi-tubi di wajah mungil Alluna yang semakin
cekikikan karena kegelian. Aaron menegakkan
badannya dengan tatapan tenang kearah kedua
orang yang sedang tertawa bahagia itu.
Dan tawa ceria mereka kini menular pada semua
orang yang terlihat tersenyum bahagia. Akhirnya
rombongan itu mulai memasuki istana. Dan di
mulai lah proses pengenalan semua tempat
penting yang ada di istana itu kepada Raya
yang saat ini sudah resmi menjadi anggota
__ADS_1
baru keluarga kerajaan..
***