Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
22. Terpaksa Pergi


__ADS_3

❤️❤️❤️


Akhirnya dengan berat hati dan derai air mata


Raya harus rela berpisah dengan keluarganya.


Arka memeluk erat tubuh Raya seolah tidak


ingin melepaskannya. Bagaimana bisa dia


jauh dari kakak kesayangan nya itu.


"Apa kakak akan pulang kembali kesini dengan


cepat.? Arka tidak bisa jauh darimu kak.!"


"Arka.. kakak juga berat meninggalkan kamu


dan Papa, tapi tidak ada pilihan lain lagi, saat


ini kakak sudah terikat dengan orang itu."


"Arka takut orang itu akan menyia-nyiakan


keberadaan Kakak, dia bisa saja menyiksa


dan menganiaya Kakak di sana.!"


Raya memegang bahu Arka sambil menatap


adiknya itu penuh haru.


"Itu tidak akan terjadi. Doakan saja semoga


kakak bisa menjalani semua ini dengan kuat."


Arka mengangguk penuh rasa tidak rela.


"Hati-hati..dan jaga diri kakak dengan baik."


Mereka kembali berpelukan erat. Aaron yang


sudah menunggu di mobil tampak mulai kesal


dengan kegiatan perpisahan Raya yang tidak


jua berakhir. Raya berpamitan pada semua keluarganya kecuali ibu dan dua saudari tirinya


karena mereka semua tidak ada di halaman.


Dengan hati yang di rundung nestafa dia


masuk ke dalam mobil, tatapannya masih


tidak terlepas dari keluarganya.


Raya melambaikan tangan kearah mereka


saat mobil yang membawanya mulai melaju


meninggalkan halaman rumah Ayahnya yang


selama ini telah menjadi tempat dirinya hidup


dan tumbuh sampai sekarang.


Raya memalingkan wajahnya ke luar jendela


mencoba menyembunyikan air matanya dari


pandangan Aaron yang tadi menatapnya.


"Kita langsung ke bandara..!"


"Baik Tuan."


Alex menyahut. Aaron melirik sekilas kearah


Raya yang terlihat semakin tidak kuasa untuk


menahan laju air matanya yang terus saja


jatuh membasahi wajahnya. Aaron mendengus


kesal mendapati kenyataan bahwa wanita ini


sangat suka sekali menumpahkan air mata.


"Apa kau akan menangis terus.?"


Akhirnya Aaron tidak tahan lagi melihat Raya


tidak henti menangis. Raya terdiam, mencoba


untuk tidak peduli pada laki-laki itu.


"Kau akan pergi untuk bekerja, bukan pergi


ke medan perang !"


Raya melirik cepat kearah Aaron, bekerja.?


Apa maksud laki-laki ini sebenarnya.?


"A-apa maksudmu.?"


Aaron menatapnya sekilas dengan ekspresi


wajah yang terlihat sedatar tripleks.


"Kau adalah sekretaris pribadi ku.! Apa kau


pikir statusmu lebih dari itu ?"


Raya terdiam, sedikit terkejut dan ada sesuatu


yang menoreh lubuk hatinya. Dia mengusap


kasar air matanya, masih menatap kearah


Aaron yang sedang fokus pada ponselnya.


"Jadi pernikahan ini hanya di atas kertas


saja, kau pikir semua ini permainan.?"


"Jangan berharap lebih pada pernikahan ini.


Itu hanya bentuk pertanggungjawaban ku


saja. Aku tidak ingin keturunan ku lahir di


luar pernikahan.!"


DEG.!


Hati Raya seakan terbakar. Ada rasa sakit yang


kini semakin merobek jiwanya. Tapi bukankah


ini sesuatu yang lebih baik bagi dirinya ? Dia


tidak harus menjalani peran sebagai istri dari


laki-laki kejam ini.! Ini yang di harapkan nya.


"Baiklah, aku pikir itu akan lebih baik bagiku.


Kalau kau menempatkan ku di posisi ini,


mulai sekarang aku pastikan tidak punya


beban apapun menyangkut statusku.!"


"Kamu salah. Kau tetap istriku sampai semua perjanjian itu terpenuhi.! Dan kewajiban mu


tetap harus di laksanakan.!"


Raya menautkan alisnya, tatapannya kini


mulai terlihat panas dan gerah.


"Apa maumu sebenarnya.? Katakan padaku


apa yang kau inginkan.?"


Aaron melirik, mereka saling menatap. Mata


Raya terlihat mulai sembab karena terlalu


banyak menangis membuat rona merah di


kedua pipinya semakin nampak menarik.


"Pernikahan ini adalah nyata. Tapi tidak boleh


terlihat di dunia luar. Kau hanyalah sekretaris


pribadiku di mata dunia.! "


Raya nampak terhenyak. Apa sebenarnya yang


di rencanakan oleh pria ini. Dia mencoba untuk


mencerna maksud perkataan Aaron barusan.


"Semuanya sudah jelas tertuang dalam surat


perjanjian. Aku akan kembali membebaskan


dirimu kalau semua sudah selesai.! Tapi aku


ingatkan jangan menaruh harapan lebih pada


pernikahan ini, kau fokus saja pada tugasmu


memberikan keturunan untukku.!"


Tegas Aaron sambil menatap tajam wajah


Raya yang langsung pucat pasi. Jadi pria

__ADS_1


ini benar-benar berharap mendapatkan


keturunan dari dirinya.? Baiklah, sekarang


sudah jelas semuanya. Oke.. Raya akan


mengikuti permainan laki-laki ini.


"Baiklah.! kalau kau punya aturan, aku juga


berhak mengajukan permohonan bukan?"


Wajah Aaron masih tetap tanpa ekspresi.


Raya menatap geram wajah pria yang sudah


sah jadi suami nya itu dari samping.


"Kau tidak punya hak untuk itu. Semua hal


harus ada di bawah kendaliku !"


Tatapan Raya semakin menyala, dasar pria


licik, kepala batu.! Rasa bencinya kini seakan


sudah menelan dirinya bulat-bulat.


"Aku tidak peduli pada aturan mu yang seenak


jidatmu itu. Tempatkan aku di rumah biasa


yang sederhana. Biarkan aku mengurus diriku


sendiri.! Aku tidak suka banyak pelayan.!"


Aaron kembali melirik, keduanya saling melihat,


ada sedikit reaksi aneh di wajah tampan nya


namun tidak lama kembali terlihat datar.


"Baiklah, itu bisa ku pertimbangkan. Hanya


Griz yang akan menemani keseharian mu.!"


"Tidak ada kontak fisik diantara kita.!"


Aaron melirik dengan cepat, kali ini reaksi


wajahnya benar-benar nyata. Ada seringai


penuh arti yang tercipta di bibirnya. Dia


bergerak menggeser duduknya mendekat


kearah Raya yang langsung beringsut.


"Itu tidak bisa ku kabulkan. Sekarang aku


punya hak penuh atas dirimu. Tubuhmu


adalah milikku seutuhnya.!"


Desis Aaron sambil mendekatkan wajahnya


ke dekat telinga Raya yang membulatkan


matanya di penuhi rasa tidak terima.


"Kau tidak bisa merubah perjanjian begitu


saja. Pernikahan ini hanya untuk memastikan


apakah aku akan mengandung atau tidak,


jadi selama proses itu berlangsung kau tidak


boleh menyentuh ku.!"


Geram Raya sambil memundurkan wajahnya


hingga kini membentur jendela mobil, tapi


sialnya Aaron malah semakin mendekat.


"Semua ini memang tidak ada dalam surat


perjanjian. Jadi aku bebas melakukan nya


sesuai keinginan ku, kapan pun. Lagipula


aku harus memastikan kau memberikan


keturunan padaku.!"


Bisik Aaron dengan suara berat nya yang


membuat bulu kuduk Raya berdiri, wajahnya


kini sudah berubah merah padam menahan


desakan emosi yang memenuhi jiwanya.


sangat membencimu.! "


Desis Raya sambil memalingkan wajahnya


ke luar jendela, dasar manusia tidak punya


hati. Dia benci, benar-benar membenci nya.


Namun reaksi sebaliknya justru terjadi pada


Aaron. Bibir pria itu terangkat keatas, hawa


panas kini membakar wajahnya, ada kepuasan


tersendiri dalam hatinya melihat wanita yang


sangat membencinya itu mencak-mencak,


wanita itu terlihat sangat menggemaskan.


Aaron kembali ke posisi duduknya semula.


duduk santai sambil merebahkan tubuhnya


ke sandaran jok, berusaha memejamkan mata.


Mereka terdiam, tidak ada lagi pembicaraan.


Raya sedang mencoba untuk menenangkan


diri. Dia harus kuat, harus tenang dan tidak


boleh terbawa emosi dalam menghadapi


manusia licik yang satu ini. Bos jahat !


sekaligus suami kejamnya.!


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu


jam akhirnya mereka tiba di bandara. Alex


langsung membawa mobilnya ke landasan


khusus pesawat pribadi.


Begitu keluar dari mobil Raya tampak terdiam menatap sebuah jet pribadi yang sangat mewah


dan besar telah terparkir gagah di hadapannya.


Dia masih berdiri mematung ketika Aaron mulai


berjalan melangkah ke arah pesawat tersebut.


Aaron menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, melihat kearah Raya yang masih saja


berdiri, rambutnya yang tergerai bebas tampak


melambai indah tertiup hembusan angin yang


cukup kencang. Dan gaunnya yang pas di badan terlihat berkibar seksi hingga menampakkan


lekuk tubuhnya yang indah dan menggiurkan.


Darah Aaron mendidih seketika saat melihat


beberapa petugas bandara sedang menganga,


dengan bebasnya menikmati pemandangan


indah yang tersuguh di depan mata mereka.


Dengan wajah yang sudah sedingin kutub


utara Aaron berbalik, melangkah mendekat


kearah Raya yang terkejut saat tangannya di


tarik kasar oleh pria itu hingga langkah nya


harus terseret paksa.


"Apa yang kau lakukan.? lepaskan tanganku.!"


Raya mencoba menarik tangan nya dengan


kekesalan yang kini mulai menguasai dirinya.


"Kau sadar yang kau lakukan.?"


"Apa pedulimu.? lepaskan tanganku.!"


Aaron tidak peduli, dia tetap menarik paksa


tangan Raya hingga akhirnya kakinya tidak kuat


lagi mensejajari langkah lebar laki-laki itu.

__ADS_1


"Aaaa...!"


Dia memekik kuat saat kakinya terkilir karena


sepatu yang di pakainya. Aaron terkesiap, dia


baru menyadari perbuatannya. Apa yang ada


dalam otaknya sebenarnya.? Raya berjongkok


sambil meringis memegang tumitnya yang


terasa nyeri dan ngilu.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya.? "


Geram Raya sambil melotot kearah Aaron yang


kini ikut berjongkok. Alex dan Griz berdiri di


dekat mereka berdua, hanya bisa melihat


interaksi dua orang majikan nya itu. Tanpa


permisi Aaron melepaskan sepatu dari kaki


Raya membuat wanita itu melebarkan matanya. Namun sebelum dia sempat memprotes nya,


Aaron sudah mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan. Dengan sigap Griz membawakan


sepatu milik majikan nya itu.


"Turunkan aku, kau selalu saja seenaknya.!"


Teriak Raya sambil menekan dada Aaron yang


tidak bereaksi, dia mulai melangkah tenang ke


arah pesawat yang sudah menderu bersiap


untuk lepas landas. Raya akhirnya terdiam,


hanya bisa berdecak sebal di telan kekesalan.


Lagipula kakinya kini mulai terasa berdenyut


nyeri hingga membuat dia kembali meringis.


Dan hal itu menyebabkan Aaron semakin


mempercepat langkahnya. Dengan hati-hati


Aaron membawa Raya masuk ke dalam


pesawat, dengan terpaksa akhirnya Raya


melilitkan tangannya di leher pria itu karena


takut terjatuh.


Tiba di dalam pesawat Aaron mendudukkan


Raya di kabin depan. Semua awak pesawat


tampak sibuk, dua orang pramugari langsung


membawakan obat-obatan dan alat kompres.


Aaron langsung mengangkat kaki Raya agar


naik ke pahanya.


"Ma-mau apa kamu..aaa..sakiitt..!"


Raya memekik kuat begitu Aaron meletakkan


kakinya di pahanya, sementara dia dalam posisi berjongkok. Semua orang tampak menatap


tidak percaya, Tuan berharga mereka mau


melakukan semua itu, memperdulikan


wanita ini sampai segitunya.


"Tinggalkan tempat ini.!"


Suara Aaron yang dingin membuat para awak


pesawat terperanjat, mereka langsung serempak


menunduk setelah itu berlalu pergi dari ruangan


itu. Tangan Aaron mulai bergerak menyentuh


kaki Raya membuat tubuh gadis itu seperti


tersengat arus listrik. Bersentuhan langsung


dengan Aaron menimbulkan trauma di hati


Raya kembali bangkit. Matanya menatap


tajam wajah Aaron yang terlihat datar saja.


"Ja-jangan..! Jangan menyentuhku.! Biarkan


Griz saja yang melakukan nya.!"


Suara Raya terdengar bergetar pelan, wajah


Aaron terangkat, keduanya saling menatap


kuat, ada sorot ketakutan yang terpancar


dari mata indah Raya yang sangat membius.


"Hanya aku yang berhak menyentuhmu.!"


DEG !


Jantung Raya berpacu dengan kencang. Dia


menggelengkan kepalanya kuat saat tangan


Aaron kini benar-benar menyentuh kakinya,


mulai mengurut nya perlahan. Kulit sehalus


sutra itu kini dalam genggaman nya. Darah


Aaron mulai memanas, ada gelenyar aneh


yang kini merasuk menjalar ke seluruh nadi


dan aliran darahnya. Sial ! apa yang terjadi


dengan dirinya.? Kenapa selalu saja begini


saat menyentuh wanita ini.! Dia seolah tidak


bisa mengendalikan dirinya. Dia akan hilang


akal dalam sekejap. Ini bahaya, dia harus


segera menuntaskan kegiatannya.


"Aaa... pelan-pelan..sakiitt...!"


Raya merintih sambil memejamkan matanya


saat Aaron mulai melakukan gerakan yang


lebih ekstrim, hal itu membuat Aaron kembali


menatapnya terpana. Suara rintihan Raya


semakin membawa dirinya pada hasrat liar


yang semakin di tahan semakin membuat


dia hilang kendali. Di tambah lagi sekarang


tangan Raya mencengkram kuat pinggiran


jok pesawat menahan rasa sakit. Hal itu


malah membawa Aaron pada fantasi liarnya


mengingat kembali malam panas itu.


"Aaaa...sakiitt..apa yang kau lakukan.?!"


Raya spontan memukul keras bahu Aaron


saat laki-laki itu melakukan satu gerakan


cepat menghentak dan menimbulkan rasa


sakit yang tak terperi. Tanpa sadar Raya


menyusupkan wajahnya di bahu pria itu


karena rasa sakit yang di rasakannya.


Tubuh Aaron kini semakin panas saat tangan


Raya mencengkram kuat bahunya. Aroma


tubuh Raya yang menguarkan wangi lembut


dan menenangkan kini memenuhi indra


penciumannya membuat gairahnya semakin


menggebu menguasai tubuh nya. Dengan


cepat dia mengangkat tubuh Raya ke dalam


gendongan nya di bawa melangkah masuk


ke dalam kamar pribadinya...

__ADS_1


***


Happy Reading...


__ADS_2