Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
15. Terkejut


__ADS_3

❤️❤️❤️


Hari ini cuaca tampak cerah seperti biasa.


Sekarang ini sudah masuk musim penghujan.


Dan perubahan cuaca masih sering terjadi.


Sebenarnya hari ini semangat kerja Raya


sedikit down, mengingat hari ini dia harus


mengubah jalur kehidupan nya ke depan.


Walau dia tidak bisa memprediksi apakah


semuanya akan berjalan lancar atau tidak,


namun dia tetap akan mengambil keputusan


yang menurut nya akan lebih baik baginya.


Semalam dia tidak bisa tidur dengan pulas.


Berbagai kecemasan terus saja menghantui


pikirannya hingga mengganggu ketenangan


bathin nya.


"Selamat pagi Miss.."


Sambut Hana begitu melihat Raya turun dari


lantai atas. Hari ini majikannya itu tampak


sangat memukau dengan setelah kerja semi


formalnya berwarna pastel, rambut nya di


biarkan jatuh natural begitu saja. Dia terlihat


sedikit tidak bersemangat namun tetap saja


nampak mempesona.


"Selamat pagi semua.."


Raya duduk tenang di kursi yang sudah di


siapkan oleh Griz. Tanpa banyak kata dia


memulai sarapan paginya dengan tenang.


Namun sepertinya dia memang sedang


kehilangan selera makan karena tidak lama


kemudian dia sudah mengakhirinya. Hana


dan Griz terlihat saling pandang sekilas.


"Terimakasih sarapan nya Hana. Tapi maaf,


hari ini aku kehilangan selera makan."


"Tidak apa-apa Miss."


Sahut Hana sambil membungkukkan badan.


Seperti kemarin Griz membawakan tas dan


blazer Raya saat turun ke parkiran.


Selama di perjalanan pikiran Raya masih saja


tidak bisa fokus, jantung nya tiba-tiba berdebar


tidak menentu saat mengingat hari ini dia akan bertemu dengan pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tempat nya bekerja selama ini.


Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang bisa


di bilang keajaiban.


Turun dari mobil Raya langsung masuk ke


dalam lift khusus di basement yang akan


membawa dirinya ke ruangan direktur.


Sean.. maafkan aku harus memilih jalan ini.


Sebenarnya aku sudah merasa nyaman ada


di sisimu, tapi sekarang keadaanku sudah


berbeda..


Raya membathin selama dia berada di dalam


lift. Tidak lama kemudian dia sudah berjalan


menuju ke ruangan Sean.


"Selamat pagi Bu Raya, silahkan..Mr Sean


sudah menunggu anda di dalam."


Alan, sang asisten direktur menyambut nya


begitu Raya tiba di depan pintu ruangan.


"Terimakasih Pak Alan ."


Raya tersenyum tipis sambil menundukkan


kepala sedikit, setelah itu berlalu masuk ke


dalam ruangan meninggalkan Alan yang


masih terpaku di tempat, tersihir senyum


tipis Raya, hanya senyum tipis.


Raya masuk ke dalam ruangan Sean setelah


mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Selamat pagi Tuan Sean."


Raya menundukkan kepalanya sedikit di


hadapan Sean yang tampak menatapnya


lekat. Tidak lama dia beranjak dari duduknya


dan tanpa basa-basi dia menarik tangan


Raya di bawa keluar dari ruangan.


"Sean, ada apa ini.? Kita mau kemana.?"


Raya mencoba menarik tangan nya dari


genggaman kuat Sean di tengah langkah


kakinya yang terburu-buru karena harus


mensejajari langkah Sean.


"Aku tidak bisa kehilangan mu Raya. Kamu


harus menerima lamaran ku. Sekarang kita


akan menemui Presdir untuk mengatakan


bahwa kamu tidak bisa menerima tawaran nya !"


"Tapi Sean, aku sudah memutuskan untuk


menerima tawaran itu.!"


Debat Raya saat mereka tiba di dalam lift.


Sean membeku, keduanya kini saling menatap


kuat, pria itu tampak menggeleng tidak terima


semua keputusan Raya.


"Tidak, aku tidak akan mengijinkan hal itu.


Kau tidak bisa menghindari ku Raya.!"


Sean mencengkram kuat bahu Raya dengan


tatapan yang semakin dalam.


"Aku tidak menghindarimu, aku hanya ingin


menjauh untuk sementara waktu Sean.!"


"Tapi aku tidak akan bisa jauh darimu Raya.!"


Tiba-tiba Sean memeluk erat tubuh Raya


yang langsung terkejut dan tegang seketika.


Dia berusaha untuk melepaskan pelukan


Sean, tapi pria itu malah semakin mempererat


pelukannya.

__ADS_1


"Sean, aku mohon.! lepaskan aku. Kita akan


membicarakan semua ini baik-baik.!"


Raya mendorong keras dada Sean yang


akhirnya mau melepas pelukan nya. Mata


mereka kembali bertemu, saling menatap


kuat dengan napas yang tidak teratur.


"Maafkan aku Raya. Tapi aku benar-benar


tidak bisa melepasmu !"


" Ini hidupku. Aku berhak menentukan masa


depanku sendiri. Aku mohon hargai itu."


Tegas Raya dengan tatapan yakin. Pintu lift


terbuka, tapi mereka berdua masih berada


di dalam nya, masih saling menatap kuat.


"Mr Sean, Nona Raya.."


Kedua orang itu tampak terkejut, mereka


saling memalingkan wajah, dan berpaling


pada beberapa orang yang sedang berdiri


di luar pintu lift.


"Mr Sean..Presdir sudah menunggu anda


di ruangan nya. "


Ternyata orang-orang itu adalah para dewan


direksi yang sengaja menunggu kedatangan


Sean dan Raya di sana. Sean kembali menarik


napas dalam-dalam. Mereka berdua keluar


dari dalam lift, kemudian berjalan menyusuri


lorong panjang menuju ruangan Presdir.


Bagi Raya ini adalah kali pertama dia datang


ke lantai paling atas dari gedung ini. Karena


lantai paling atas adalah ruangan Presdir yang


hampir tidak pernah di huni sama sekali.


Sean menekan tombol di sudut pintu.Tidak


lama pintu terbuka otomatis. Suasana di


dalam ruangan tampak sepi, hening dan


sedikit mencekam. Barisan dewan direksi


segera mengambil tempat untuk duduk di


ruang pertemuan, sementara Sean masuk


ke dalam ruangan khusus tempat Presdir


berada. Sedangkan Raya kini sudah duduk


di ruang pertemuan bersama para dewan


direksi dengan perasaan yang benar-benar


tegang dan gugup. Bagaimana kah rupa


sang Presdir, dan seperti apakah karakter


serta perangainya.?


"Nona Raya.. apa anda sudah siap untuk


mengabdi pada Presdir ?"


Salah seorang dewan direksi mulai berbicara


untuk melakukan sesi wawancara singkat.


Raya meremas jemari tangan nya yang kini


mulai terasa dingin.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain, saya harus


Raya menjawab dengan suara sedikit tidak


yakin. Para dewan direksi saling pandang.


"Saya mengerti ini memang bukan bidang


anda. Tapi kami yakin dengan kemampuan


anda, tidak akan ada kendala bagi anda di


tempatkan dimana pun."


Salah seorang lagi mencoba meyakinkan.


Raya mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Walau bagaimanapun saya hanya lah


manusia biasa Tuan-tuan. Saya banyak


kekurangan nya."


Sahut Raya sambil menunduk mencoba


untuk menekan rasa tidak nyaman yang


kini semakin di rasakan hatinya.


"Kami percaya pada kemampuan mu Nona


Raya. Dan Presdir sudah memilih anda di


antara pilihan yang lainnya."


Raya sedikit mengernyitkan alisnya, ada


sejumput pertanyaan yang kini bersarang


dalam benaknya.


"Kenapa Presdir memilih saya.? padahal


jelas-jelas ini bukan bidang saya.!"


Para dewan direksi tampak saling pandang,


mereka pun sesungguhnya tidak mengerti


kenapa Presdir menginginkan seorang


sekretaris pribadi yang berasal dari cabang


perusahan ini.


"Hanya Presdir yang tahu jawaban nya Nona.


Yang jelas beliau sudah memilih anda."


Raya menghembuskan nafas berat. Dia


menatap kearah para dewan direksi.


"Kalau begitu saya akan menjalankan misi


ini sebaik mungkin, demi nama baik


perusahaan cabang kita.!"


Para dewan direksi mengangguk kompak


seraya tersenyum puas.


"Baiklah, kalau anda sudah yakin dengan


semua ini, kami hanya bisa berpesan, tolong


jangan membuat Presdir kecewa. Karena


beliau bukanlah orang biasa. Anda adalah


orang yang sangat beruntung. Bisa berada


di dekatnya dan berinteraksi langsung


dengan beliau dengan sesuka hati.!"


Ucap salah seorang yang merupakan ketua


dewan direksi.


"Insya Allah.. Semoga saya bisa memegang


amanah ini dengan baik.!"

__ADS_1


Sahut Raya bersamaan dengan kemunculan


Sean ke ruangan itu. Mereka semua berdiri,


menatap fokus kearah Sean yang terlihat


sedikit tidak bergairah.


"Aku tidak bisa menolak atau mengubah


keinginan Presdir.!"


Sean berucap dengan wajah yang terlihat


pasrah, dia menatap lekat wajah Raya yang


tampak berusaha tenang dan meyakinkan


diri untuk mengambil posisi ini.


"Baiklah, tidak ada jalan lain lagi.! Aku


memang harus mengambil posisi ini."


Lirih Raya sambil kemudian menarik napas


dalam-dalam mencoba memantapkan hati.


"Masuklah, mulai hari ini kau memegang


posisi sebagai sekretaris pribadi Presdir."


Tegas Sean akhirnya sambil meraih tangan


Raya dan menggenggam nya kuat tidak


peduli pada semua orang yang ada di sana.


"Baiklah,aku akan masuk sekarang, permisi


semuanya.."


Raya melepaskan pegangan tangan Sean,


tapi mata mereka masih saling menatap.


Kemudian dia menundukkan kepala pada


semua dewan direksi setelah itu melangkah


tenang kearah ruangan pribadi Presdir.


Tiba di dalam ruangan aura dingin plus


mencekam langsung menyergap jiwa Raya


yang terlihat berjalan masuk ke ruangan


khusus tempat kerja Presdir.


Namun begitu dia masuk ke dalam ruang


khusus, matanya tampak menatap terkejut


kearah satu sosok tinggi tegap dengan rupa


yang sangat tampan berhias senyum khas


yang sangat manis dan membius. Sosok itu


kini tengah berdiri di samping kursi kebesaran


Sang Presdir yang terlihat terbalik. Mata Raya


menatap tidak percaya begitu sosok tampan


itu mendekat kearahnya.


"Selamat datang Miss Raya, dan selamat


atas posisi baru anda di perusahaan ini.!"


Sambut nya dengan senyum yang tidak jua


sirna dari wajah menawannya.


"Tu-Tuan Ansel.? Kenapa anda ada di sini.?"


Raya bertanya dengan suara gemetar, tidak


percaya atas apa yang di lihatnya. Kenapa


asisten pribadi laki-laki jahat itu ada di sini.?


Ya Tuhan..sebenarnya ada apa ini.? Raya


mencoba menepis satu kemungkinan


yang kini mengganggu pikirannya.


"Tentu saja saya di sini.. Karena Tuan saya


juga ada di sini. Dan sekarang anda sudah


resmi menduduki posisi sebagai sekretaris


pribadi Tuan De Enzo..!"


Tegas sosok itu yang tiada lain adalah Ansel.


"A.. apa..?? tapi bagaimana bisa.?"


Raya berseru kaget sambil menutup mulutnya. Matanya semakin melebar, tidak percaya pada


apa yang baru saja di dengarnya. Kakinya kini


goyah, dia mundur terhuyung ke belakang


saking lemasnya. Ansel tampak terkesiap,


dengan gerakan cepat dia maju menahan


tubuh Raya agar tidak terjatuh.


Posisi mereka kini tampak intim, telapak


tangan kiri Ansel menahan pinggang kecil


Raya, sementara tangan kanan menahan


bahu nya. Mata mereka saling menatap kuat.


"Kau tidak apa-apa.?"


Suara Ansel terdengar berat, mendapati


wajah super cantik Raya ada di hadapannya


membuat jiwanya memberontak seketika.


Dia sudah benar-benar jatuh pada pesona


gadis asing ini.


"Ehemm..!!"


Tubuh mereka langsung menegang saat


kursi kebesaran itu tiba-tiba berbalik dengan


cepat, dan satu sosok gagah perkasa dengan


rupa yang begitu sempurna, kini tengah duduk


tenang, matanya menatap tajam kearah mereka dengan ekspresi wajah yang terlihat datar dan


dingin. Ansel membawa tubuh Raya kembali


berdiri tegak. Wajah Raya tampak memucat,


namun ada emosi yang kini mulai menguasai


dirinya mendapati semua kenyataan ini.


"Siapa kau sebenarnya.?"


Tidak menunggu waktu lama Raya langsung


bertanya di sertai tatapan tajam penuh


interogasi kearah sosok gagah yang terlihat


berbeda yang kini sedang duduk tenang penuh


aura intimidasi di kursi kebesarannya.


"Aku atasanmu sekarang.!"


Jawab sosok itu dengan suara bariton nya,


berat, tegas dan dingin.


"Aku bertanya tentang jati dirimu.?"


Tatapan Raya semakin tajam. Dengan santai


sosok itu memutar papan nama yang ada di


atas meja kerjanya. Tatapan Raya kini jatuh


di papan nama berwarna emas itu.


Aaron Marvell De Enzo.??

__ADS_1


***


Happy Reading....


__ADS_2