Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
104. Saudari Sepupu


__ADS_3

***


Wajah wanita cantik itu kini berubah, dia seakan


baru meyakini semua yang ada di hadapannya


itu bukanlah sebuah mimpi. Wanita yang pernah


di lihatnya sebentar itu benar-benar saudarinya.


Matanya kini tampak mulai menggenang.


Aaron dan Raya kembali melangkah kearah


keberadaan Jenderal Serkan dan yang lainnya.


"Selamat datang My Princess..di rumah sejati


mu.. istana King Sulaiman.."


Jenderal Serkan berucap sambil merentangkan tangannya dengan mata yang semakin berkaca-


kaca. Raya langsung masuk ke dalam pelukan


sang Ayah. Semua orang menatap haru kearah


mereka berdua. Aaron terdiam, memperhatikan


interaksi antara Raya dan ayah nya tersebut.


Sementara wanita cantik tadi yang tiada lain dan


tiada bukan adalah Shaqueena Almayra Rasyid..


tampak masih sedikit syok. Dia masih di landa kebingungan dan tanda tanya besar. Bagaimana


bisa Aaron menikahi wanita yang sekarang ini


baru di ketahui sebagai saudari sepupunya itu.?


Dan kenapa Dirga tidak mengatakan kalau


wanita yang di nikahi oleh Aaron itu adalah


saudari sepupunya.!


"Ayah.. aku rindu sekali dengan kalian."


"Ayah juga sangat merindukan mu sayang.


Bagaimana kabar calon cucu Ayah.?"


"Alhamdulillah.. dia sangat sehat Yah.."


"Tentu saja. Calon cucu seorang Serkan pasti


sangat kuat dan hebat."


Serkan mengelus lembut punggung Raya. Kini


mereka saling melepas pelukan. Dan akhirnya


tangis Raya pecah dalam pelukan erat sang ibu.


"Kenapa Ibu jarang menghubungi ku.? Apa


Ibu tidak merindukanku.?"


Raya merajuk manja tidak peduli pada situasi.


Saat ini dia hanyalah seorang anak yang sedang


merajuk pada ibunya.


"Maafkan Ibu sayang.. Ibu sangat merindukan


mu, bahkan setiap detik. Tapi Ibu tahu benar kau


sangat sibuk. Ibu tidak ingin mengganggu mu."


"Itu hanya alasan Ibu saja."


"Tentu tidak sayang. Ibu sangat mencintaimu.


Mana mungkin tidak merindukan mu."


Lirih Ratih Ayu. Keduanya semakin mempererat


pelukan mereka. Ratih Ayu menciumi kening


Raya penuh kasih. Sementara Aaron saat ini


tampak saling berangkulan dengan Serkan.


Kemudian bersalaman dengan kedua Paman


Raya. Setelah itu melipat tangan di depan bibi-


bibinya serta para saudara sepupu Raya yang


terdiri dari dua laki-laki dan dua orang perempuan.


Setelah itu dia berpaling pada pria tinggi gagah


yang ada di samping Mayra, yang tiada lain


adalah sahabatnya..Raymond Dirgantara Moolay,


yang sekarang sudah berubah menjadi kerabatnya. Keduanya kini berangkulan kuat di tengah-tengah


sang bayi dalam gendongan Dirga yang terlihat


hanya bisa memandangi kedua pria dewasa itu


dengan ekspresi lucu.


"Bagaimana kondisimu sekarang.?"


"Alhamdulillah..berkat bantuan istri mu aku


bisa menikmati hari-hari ku kembali dengan


tenang."


Desis Dirga sambil melepaskan rangkulannya.


Aaron tersenyum tipis, dia menatap tenang bayi


tampan yang kira-kira berumur 6 bulanan itu.


Lalu mengelus lembut kepala bayi itu yang kini


tersenyum padanya sambil menggerakkan


tangan seolah sedang memberinya isyarat.


"Sepertinya dia cukup mengenali mu."


Ujar Dirga sambil tersenyum tipis. Mata Aaron


tampak berbinar, dengan sedikit ragu-ragu dia


meraih bayi itu ke dalam pangkuannya sambil


tersenyum manis yang mampu membuat Dirga


dan Mayra menatap tidak percaya dengan apa


yang kini terjadi di depan mata mereka. Seorang


Aaron Marvell tersenyum manis.? Dan mau


menggendong bayi kecil, sungguh ajaib.!!


"Dia sangat tampan..dan bersinar terang.."


Ujar Aaron sambil melirik kearah Mayra yang


terlihat masih menatap dirinya tidak percaya.


Kenyataan ini sangatlah mengejutkan Mayra.


Kembali..mata mereka saling berbenturan.


Mayra mencoba membuang pandangannya.


Sementara Aaron tampak santai saja tanpa


ekspresi apapun. Mayra mencoba untuk tetap


tenang dan mengatur ritme pernapasan nya.


Walau bagaimanapun dia pernah terlibat dalam


satu hubungan rumit dengan pria paripurna ini.


"Bagaimana kabarmu..Nyonya Moolay.?"


Deg !


Jantung Mayra rasanya seperti terhantam rasa


tidak nyaman mendengar panggilan Aaron.


"Alhamdulillah..saya baik-baik saja Yang


Mulya Putra Mahkota.."


Sahut Mayra sambil menundukkan kepala dan


menatap sekilas wajah super tampan laki-laki


yang dulu pernah begitu gila mencintai dirinya.


Lalu bagaimana dengan sekarang.? Faktanya


saat ini pria itu telah menjadi suami dari


saudari sepupunya.


Aaron mengelus lembut wajah mungil bayi


tampan itu dan mencium pipi gembilnya yang


membuat dirinya merasa sangat gemas. Bayi


itu tampaknya mengenali siapa dirinya, tangan


mungilnya bergerak meraba wajah tampan


Aaron dengan tatapan yang terus tertuju pada


wajahnya.


Raya dan Ratih Ayu akhirnya melepas pelukan


mereka. Dia beralih pada para bibi dan paman


nya. Kemudian pada para sepupunya yang saat


ini masih menatap terpesona padanya. Mereka


benar-benar tidak menduga kalau Putri Agung,


putri yang terbuang itu.. sangatlah luar biasa


cantik dan memukau..Masya Allah.. Mereka


semua begitu terpesona padanya.


"Selamat datang Kakak sepupu..senang sekali


akhirnya kita bisa berkumpul di istana ini."


Sambut mereka serempak sambil membungkuk


dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan penuh


haru, Raya merangkul kedua sepupu perempuan


nya yang kesemuanya tampak berhijab. Namun


dia hanya bisa melipat kedua tangannya di dada


untuk dua sepupu laki-laki nya, karena mereka


memang sangat agamis.


Akhirnya Ratih Ayu membimbing Raya ke depan


Mayra dan Dirga yang dari tadi sudah menatap


Raya penuh rasa takjub. Dirga benar-benar tidak


menyangka dengan perubahan penampilan Raya.


Sebab waktu terakhir bertemu, istri dari sahabat


nya itu masih berpenampilan terbuka.Tapi saat


ini..wanita itu tampil luar biasa mempesona


dengan menutup dirinya secara utuh. Kalau tak


kuat iman, bisa-bisa Dirga khilaf..


"Sayang..kenalkan..dia adalah kakak sepupumu.


Dialah putri mendiang Tante mu Dewi Arumi.."


"Aku tahu siapa dia Bu.. Aku sudah menantikan saat-saat ini. Aku sangat ingin bertemu dengan


kakak sepupuku yang satu ini."


Sambut Raya sambil maju ke hadapan Mayra


yang terlihat semakin berkaca-kaca. Keduanya


tampak saling pandang, seolah sedang mengadu kharisma. Namun..harus di akui aura dan pesona


kecantikan yang di miliki oleh Maharaya jauh


lebih unggul dari wanita manapun dan itu tidak terbantahkan.


"Yang Mulya Princess Maharaya..senang sekali

__ADS_1


mengenalmu sebagai saudari ku.."


"Mbak Mayra.. tolong..jangan memanggilku


seperti itu..Aku ini saudari mu."


Raya berhambur ke dalam pelukan Mayra. Dua


wanita super cantik yang memiliki kelebihan dan


keistimewaan masing-masing itu tampak saling


berpelukan erat, menumpahkan seluruh air mata kebahagiaan yang benar-benar tidak terduga.


Setelah 20 tahun lebih, akhirnya mereka baru


bisa di pertemukan sekarang ini.Terlebih bagi


Mayra..dia bahkan masih terasa seperti mimpi,


ternyata dirinya masih memiliki keluarga dari


mendiang ibunya. Ini adalah sebuah anugerah


yang tak ternilai harganya, karena selama ini


dia mengira bahwa dirinya tidak punya siapa-


siapa di dunia ini selain ayah kandungnya.


Aaron dan Dirga tampak terdiam, menatap dua


wanita itu yang sedang menumpahkan segala


rasa yang berkecamuk di dada mereka. Ya..dua


wanita yang pernah menyentuh hati seorang


Aaron, dan ternyata mereka berdua bersaudara. Sungguh luar biasa..hati dan jiwa Aaron hanya


mampu di ketuk oleh dua wanita sedarah itu.


Sesuatu yang sepertinya memang sudah di


rencanakan dengan baik oleh Tuhan..


Setelah puas akhirnya mereka berdua melepas


pelukan, dan kembali saling menatap sembari tersenyum setengah tertawa dengan tangis yang


masih tersisa. Raya mengusap lembut air mata


yang masih mengalir di wajah cantik Mayra..


Ya..wanita yang di awal pertemuan sedang


berada dalam bahaya itu ternyata adalah kakak sepupunya.


"Apa kabar kakak ipar sepupu..?"


Raya menyapa Dirga yang langsung tersenyum


tenang sembari menundukkan kepala sedikit.


"Alhamdulillah.. berkat anda saya baik-baik


saja Yang Mulya. Terimakasih atas bantuannya."


"Tidak ada apapun yang bisa melebihi kekuatan


dan kekuasaan Tuhan kakak ipar. Semua berkat


pertolongan-Nya."


"Tentu saja Princess.."


"Tolong.. jangan memanggilku dengan sebutan


yang sangat kaku itu. Bukankah kita sekarang


bersaudara.?"


Dirga kembali tersenyum, mengangkat wajahnya


hingga mereka saling menatap. Luar biasa.. dari


awal bertemu, Dirga sudah merasa kalau wanita


istimewa ini memang memiliki banyak kemiripan


dengan istrinya, dan semua itu akhirnya terbukti


setelah dia dan Aaron saling bertukar informasi.


"Baiklah.. adik sepupu.."


Sahut Dirga sambil kembali menundukkan kepala


karena tidak sanggup menahan pancaran kemilau cahaya terang yang terpendar dari wajah super


cantik wanita yang sekarang notabenenya adalah


adik sepupu istrinya itu. Raya tampak tersenyum lembut dan puas. Kini dia berpaling pada bayi


mungil yang ada di pangkuan suaminya.


"Apakah bayi tampan ini putra kalian.?"


Raya bertanya sambil meraih bayi itu yang dari


tadi sudah mengisyaratkan ingin di gendong


oleh Raya karena sudah meronta-ronta tidak


sabar.


"Iya..dia adalah bayi yang lahir dalam kondisi


kritis setelah peristiwa terakhir itu."


Sahut Mayra sambil mendekat kearah Raya


yang langsung menciumi wajah gembil bayi


tampan itu atau Reinaldo Pranadipta Moolay.


"Ohhh Masya Allah.. syukurlah dia lahir dengan


selamat. Lucu banget sih kamu sayang..gemas


deh aunty.. siapa namanya mbak.?"


Raya mengusap lembut rambut bayi itu yang


terlihat sangat betah berada di dalam pangkuan


Raya, tangannya tampak meraba-raba wajah


bening tantenya itu dengan tatapan yang tiada


lepas dari wajah nya sambil sesekali tersenyum.


"Reinaldo.. panggil saja dia Rein.."


"Ohh..baiklah.. Rein sayang.. kita akan bermain bersama setelah ini okay..?"


terkekeh kecil membuat semua orang semakin


merasa gemas. Aaron mendekat, merangkul


erat bahu Raya sambil mencubit halus pipi Rein.


Dia tahu pasti istrinya ini sangat menyukai dan


di sukai oleh anak kecil.


"Sepertinya dia menyukaimu sayang.."


"Tentu saja.. Aku kan aunty nya sayang..Lihat,


dia sangat tampan dan menggemaskan.."


Sahut Raya sambil kembali menciumi pipi


bayi itu yang semakin terlihat kesenangan.


Mayra mundur, menatap Aaron yang terlihat


begitu sayang dan sangat posesif terhadap adik sepupunya itu. Ya Tuhan.. ternyata keajaiban


cinta itu memang ada. Laki-laki ini tampaknya


sudah menemukan belahan jiwanya.


Jenderal Serkan dan Ratih Ayu menyambut


hangat Arabella dan Arthur serta rombongan


yang lain. Dan akhirnya mereka semua kini


kembali melangkah menuju ruangan lain.


***


Berbagai ritual dan acara adat penyambutan


terus di langsungkan. Aaron dan Raya tampak


antusias menjalankan semua acara tersebut


dengan hati dan wajah yang terlihat cerah.


Seluruh keluarga besar, kerabat dan para tetua


istana King Sulaiman hadir dalam ritual adat


penyambutan ini. Mereka menerima dengan


hangat kehadiran Raya dan Aaron sebagai


anggota baru keluarga bangsawan tersohor ini.


"Baiklah sayang.. semua ritual telah selesai di


laksanakan. Sekarang waktunya kalian istirahat.


Nanti malam turunlah untuk makan malam.."


Princess Ratih Ayu akhirnya menutup semua


rangkaian acara adat yang cukup melelahkan


ini. Dia juga melihat Raya sudah mulai lelah


dan sedikit pucat.


"Baiklah Bu.. kalau begitu kami permisi."


"Istirahatlah sayang.. nanti akan ada pelayan


yang membawakan ramuan ke kamarmu."


Raya mengangguk. Ratih Ayu mencium kening


Raya. Setelah itu Raya berlalu pergi bersama


Jessica, Griz dan para pelayan pribadi yang


sudah di siapkan oleh istana ini. Sementara


Aaron pergi bersama dengan Sang Mertua,


Dirga dan Arthur serta para saudara sepupu


lainnya untuk mendatangi sebuah tempat


yang cukup menarik bagi para pria.


Raya di antar ke dalam kamar yang ada di lantai


paling atas dan paling eksklusif. Selalu, dimana


pun..mereka berdua akan menempati kamar


yang paling mewah dan paling besar. Begitu


tiba di kamar dia segera masuk ke dalam kamar


mandi dan membersihkan dirinya. Dia tidak


sabar ingin segera bermain dengan sang


ponakan yang sangat menggemaskan, Rein..


"Princess Agung.. Nyonya Moolay ingin


menemui anda, bolehkah beliau masuk.?"


Salah seorang pelayan pribadi tampak berdiri


di tengah ruangan sambil membungkuk dalam


di belakang Raya yang tengah duduk di depan


meja rias, sedang memoles sedikit wajahnya.


"Kenapa harus bertanya, biarkan dia masuk."


Wajah Raya tampak berbinar bahagia sambil


kemudian menyudahi persiapannya dengan


merapihkan pakaian dan hijabnya.


"Apa aku mengganggu mu Princess..?"


Ada suara lembut yang kini terdengar dari arah


belakang. Raya memutar tubuhnya, mata indah


mereka tampak saling pandang dengan binar


yang sama-sama terpancar cerah.


"Apa yang mbak katakan.? Tolong.. jangan

__ADS_1


perlakukan aku seperti orang asing."


Sambut Raya sambil kemudian meraih Rein


dari pangkuan Mayra yang tersenyum lembut.


Raya tampak begitu semangat, memeluk dan


menciumi serta mencubit gemas pipi bayi


mungil itu yang terlihat sedang tertidur pulas.


"Walau kita bersaudara, tapi tetap saja..kau


adalah keturunan asli keluarga King Sulaiman.


Dan kau juga seorang Putri Mahkota. Jadi aku


tidak bisa mengabaikan hal itu Raya.."


Mayra kembali berucap lembut. Raya menarik


tangan Mayra di ajak duduk di atas tempat tidur.


"Mbak Mayra.. tolonglah.. kita sedang berdua


saja. Perlakukan aku seperti saudarimu."


Raya memegang erat tangan Mayra, mereka


kembali saling pandang. Raya meletakkan


tubuh mungil Rein diatas pangkuannya. Bayi


itu tampak semakin nyenyak dalam tidurnya.


"Baiklah kalau begitu.. sekarang.. mari kita


bercerita..Ini semua sangat luar biasaa.."


Mayra memekik tertahan bersamaan dengan


Raya, keduanya tampak histeris sendiri. Keluar


sudah jiwa seorang perempuan normal yang


sangat excited mendapati kenyataan di luar


dugaan ini. Mereka berdua tertawa bersama


dan saling berpelukan erat.


Keduanya kini mulai bercerita tentang masa


kecil mereka, masa remaja dan semua jalan


hidup yang telah di lalui selama ini. Raya juga


bercerita, bahwa dia sangat mengagumi talenta


yang di miliki oleh Mayra di dalam dunia seni.


"Aku benar-benar tidak menduga kalau masih


memiliki saudari. Ini benar-benar keajaiban.


Coba kalau Clarissa ada di sini sekarang."


Raya langsung terdiam, matanya yang indah


tampak berair karena terlalu bahagia.


"Jadi.. Mbak sudah bertemu dengan mereka


semua.? Kakek, Paman, kak Dev dan Clara.?"


"Tentu saja. Mereka sendiri yang datang ke


rumah. Dan ternyata Mas Dirga sudah tahu


tentang semua ini. Dia yang mempertemukan


kami semua."


"Ohhh Masya Allah..syukurlah, aku lega sekarang.


Akhirnya kita bisa bersatu kembali. Allah begitu


sayang pada kita dengan menyatukan kembali


seluruh keluarga yang selama ini terpisah."


"Kau benar..ini semua adalah anugerah yang


tidak ternilai harganya."


"Iya Mbak.. aku sangat bersyukur.. Aaron tidak


pernah berhenti mencari tahu tentang semua


keluargaku.. Hingga akhirnya semua ini terjadi."


Mereka berdua langsung terdiam, ada sedikit


reaksi aneh di wajah cantik Mayra, tapi Raya


menanggapinya dengan santai.


"Apa selama ini dia memperlakukan mu dengan


baik.? Dia tidak melakukan kekerasan.?"


Raya menatap tenang wajah Mayra, dia tampak


tersenyum lembut, kemudian membaringkan


tubuh mungil Rein diatas tempat tidur, mengusap


lembut kepalanya penuh sayang. Jiwa keibuan


Raya memang sudah tidak di ragukan lagi.


"Semuanya memang butuh proses mbak. Tapi


kami tidak butuh waktu lama untuk memahami


dan mengerti apa yang dirasakan oleh hati dan


jiwa kami masing-masing. Semuanya terjadi


secara alami dan bertahap."


Mayra menarik nafas panjang, menatap wajah


cantik Raya berusaha untuk meyakinkan diri.


Dia tahu cerita tentang wanita yang di perdaya


Aaron dan terpaksa di nikahinya. Tapi dia tidak menyangka kalau wanita itu adalah sepupunya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tahu dia adalah


laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Dan


dia akan melakukan apapun untuk orang-orang


yang dianggap penting dalam hidupnya."


"Seperti yang terjadi padamu dulu.?"


Wajah Mayra terlihat bereaksi tidak enak. Dia


berusaha untuk melempar pandangan nya ke sembarang arah. Namun dalam keadaan itu,


tiba-tiba Aaron masuk ke dalam ruangan. Dia


baru saja kembali dari kegiatannya. Pria itu


tampak berdiri terpaku sejenak, menatap lurus


kearah keberadaan dua wanita itu.Tidak lama


dia melangkah tenang kearah mereka yang


langsung terdiam tak bersuara lagi.


Tatapan mata elang Aaron jatuh di wajah Raya


yang terlihat sedikit memerah. Ekspresi wajah


pria itu tampak datar cenderung dingin. Raya


memalingkan wajahnya mencoba untuk acuh.


Sementara tatapan Aaron kini mengarah pada


Mayra yang terlihat sedikit tidak nyaman.


Cukup lama Aaron memandang wajah cantik


Mayra, seolah sedang meyakinkan diri akan


segala rasa yang kini tersisa di dalam hatinya.


"Kalau kalian masih ingin bicara, aku akan.."


"Tidak perlu Yang Mulya..kami akan bicara lain


waktu saja, aku harus segera kembali ke kamar."


Potong Mayra sambil kemudian meraih tubuh


mungil Rein ke dalam gendongannya.


"Mbak.. tapi aku masih ingin bicara.."


"Kita masih punya banyak waktu. Aku takut


mas Dirga akan mencari ku. Kita akan bertemu


lagi pada saat makan malam.. Permisi.."


Ujar Mayra sambil mengelus lembut wajah


Raya yang terlihat kecewa. Mayra berdiri,


matanya menatap sebentar kearah Aaron


yang terlihat santai saja. Tidak lama dia


berlalu keluar dari dalam kamar.


"Mbak.. biarkan Rein di sini saja.. Mbaakk.. "


"Hei.. kenapa kau mengabaikan ku sayang.?"


Aaron menangkap tubuh Raya yang bergerak


ingin mengejar Mayra. Tubuh Raya membeku.


Dia baru menyadari kalau hawa panas dan


aura kekesalan mulai menyelimuti tubuh


sang suami yang kini mendekapnya erat.


"Aku merindukanmu sayang.. Kau tidak boleh mengabaikan ku hanya gara-gara kehadiran saudara-saudara mu.! Aku membutuhkan mu.!"


Desis Aaron dengan suara berat. Raya terhenyak.


Dia menangkap kekesalan Aaron. Akhirnya dia


membalas pelukan suaminya itu, menepuk halus


punggung kokoh nya. Setelah lama barulah dia


melepaskan pelukan Aaron. Keduanya saling


menatap kuat, jemari lentik Raya kini mulai


menyusuri wajah tampan suaminya itu.


"Maaf sayang.. Aku terlalu bahagia hingga lupa


segalanya. Ini adalah big surprise bagiku. Tapi


kau tetaplah satu-satunya prioritas ku.."


Lirih Raya sambil kemudian memagut lembut


bibir seksi Aaron berusaha menyiram kekesalan


dan hawa panas yang tadi menguasai diri Aaron. Seketika jiwa Aaron luluh. Dia jatuh dalam kuasa


seorang Maharaya yang tidak pernah mampu


untuk di lawan dan di tentang nya. Dia adalah


budak cinta wanita ini. Dia akan selalu pasrah


pada apa yang di katakan dan di inginkan nya.


Ada keutuhan yang kini dirasakan hati Aaron


setelah dia berhasil mempertemukan Raya dan


Mayra. Dia tidak ingin ada ganjalan lagi di hati


istrinya itu atas segala perasaannya terhadap


dirinya.


Untuk sesaat dirinya mungkin masih mengenang


rasa itu, tapi ternyata setelah di telaah lebih jauh


semua itu hanyalah spontanitas belaka karena


mereka lama tidak bertemu. Sesudah itu segala


nya terasa datar dan normal saja. Dia mencoba mencari rasa yang tersisa di lubuk hatinya, tapi


ternyata semuanya hanya sebatas kenangan saja.


***

__ADS_1


Note:


Towards the final episodes ..


__ADS_2