
***
Wajah wanita cantik itu kini berubah, dia seakan
baru meyakini semua yang ada di hadapannya
itu bukanlah sebuah mimpi. Wanita yang pernah
di lihatnya sebentar itu benar-benar saudarinya.
Matanya kini tampak mulai menggenang.
Aaron dan Raya kembali melangkah kearah
keberadaan Jenderal Serkan dan yang lainnya.
"Selamat datang My Princess..di rumah sejati
mu.. istana King Sulaiman.."
Jenderal Serkan berucap sambil merentangkan tangannya dengan mata yang semakin berkaca-
kaca. Raya langsung masuk ke dalam pelukan
sang Ayah. Semua orang menatap haru kearah
mereka berdua. Aaron terdiam, memperhatikan
interaksi antara Raya dan ayah nya tersebut.
Sementara wanita cantik tadi yang tiada lain dan
tiada bukan adalah Shaqueena Almayra Rasyid..
tampak masih sedikit syok. Dia masih di landa kebingungan dan tanda tanya besar. Bagaimana
bisa Aaron menikahi wanita yang sekarang ini
baru di ketahui sebagai saudari sepupunya itu.?
Dan kenapa Dirga tidak mengatakan kalau
wanita yang di nikahi oleh Aaron itu adalah
saudari sepupunya.!
"Ayah.. aku rindu sekali dengan kalian."
"Ayah juga sangat merindukan mu sayang.
Bagaimana kabar calon cucu Ayah.?"
"Alhamdulillah.. dia sangat sehat Yah.."
"Tentu saja. Calon cucu seorang Serkan pasti
sangat kuat dan hebat."
Serkan mengelus lembut punggung Raya. Kini
mereka saling melepas pelukan. Dan akhirnya
tangis Raya pecah dalam pelukan erat sang ibu.
"Kenapa Ibu jarang menghubungi ku.? Apa
Ibu tidak merindukanku.?"
Raya merajuk manja tidak peduli pada situasi.
Saat ini dia hanyalah seorang anak yang sedang
merajuk pada ibunya.
"Maafkan Ibu sayang.. Ibu sangat merindukan
mu, bahkan setiap detik. Tapi Ibu tahu benar kau
sangat sibuk. Ibu tidak ingin mengganggu mu."
"Itu hanya alasan Ibu saja."
"Tentu tidak sayang. Ibu sangat mencintaimu.
Mana mungkin tidak merindukan mu."
Lirih Ratih Ayu. Keduanya semakin mempererat
pelukan mereka. Ratih Ayu menciumi kening
Raya penuh kasih. Sementara Aaron saat ini
tampak saling berangkulan dengan Serkan.
Kemudian bersalaman dengan kedua Paman
Raya. Setelah itu melipat tangan di depan bibi-
bibinya serta para saudara sepupu Raya yang
terdiri dari dua laki-laki dan dua orang perempuan.
Setelah itu dia berpaling pada pria tinggi gagah
yang ada di samping Mayra, yang tiada lain
adalah sahabatnya..Raymond Dirgantara Moolay,
yang sekarang sudah berubah menjadi kerabatnya. Keduanya kini berangkulan kuat di tengah-tengah
sang bayi dalam gendongan Dirga yang terlihat
hanya bisa memandangi kedua pria dewasa itu
dengan ekspresi lucu.
"Bagaimana kondisimu sekarang.?"
"Alhamdulillah..berkat bantuan istri mu aku
bisa menikmati hari-hari ku kembali dengan
tenang."
Desis Dirga sambil melepaskan rangkulannya.
Aaron tersenyum tipis, dia menatap tenang bayi
tampan yang kira-kira berumur 6 bulanan itu.
Lalu mengelus lembut kepala bayi itu yang kini
tersenyum padanya sambil menggerakkan
tangan seolah sedang memberinya isyarat.
"Sepertinya dia cukup mengenali mu."
Ujar Dirga sambil tersenyum tipis. Mata Aaron
tampak berbinar, dengan sedikit ragu-ragu dia
meraih bayi itu ke dalam pangkuannya sambil
tersenyum manis yang mampu membuat Dirga
dan Mayra menatap tidak percaya dengan apa
yang kini terjadi di depan mata mereka. Seorang
Aaron Marvell tersenyum manis.? Dan mau
menggendong bayi kecil, sungguh ajaib.!!
"Dia sangat tampan..dan bersinar terang.."
Ujar Aaron sambil melirik kearah Mayra yang
terlihat masih menatap dirinya tidak percaya.
Kenyataan ini sangatlah mengejutkan Mayra.
Kembali..mata mereka saling berbenturan.
Mayra mencoba membuang pandangannya.
Sementara Aaron tampak santai saja tanpa
ekspresi apapun. Mayra mencoba untuk tetap
tenang dan mengatur ritme pernapasan nya.
Walau bagaimanapun dia pernah terlibat dalam
satu hubungan rumit dengan pria paripurna ini.
"Bagaimana kabarmu..Nyonya Moolay.?"
Deg !
Jantung Mayra rasanya seperti terhantam rasa
tidak nyaman mendengar panggilan Aaron.
"Alhamdulillah..saya baik-baik saja Yang
Mulya Putra Mahkota.."
Sahut Mayra sambil menundukkan kepala dan
menatap sekilas wajah super tampan laki-laki
yang dulu pernah begitu gila mencintai dirinya.
Lalu bagaimana dengan sekarang.? Faktanya
saat ini pria itu telah menjadi suami dari
saudari sepupunya.
Aaron mengelus lembut wajah mungil bayi
tampan itu dan mencium pipi gembilnya yang
membuat dirinya merasa sangat gemas. Bayi
itu tampaknya mengenali siapa dirinya, tangan
mungilnya bergerak meraba wajah tampan
Aaron dengan tatapan yang terus tertuju pada
wajahnya.
Raya dan Ratih Ayu akhirnya melepas pelukan
mereka. Dia beralih pada para bibi dan paman
nya. Kemudian pada para sepupunya yang saat
ini masih menatap terpesona padanya. Mereka
benar-benar tidak menduga kalau Putri Agung,
putri yang terbuang itu.. sangatlah luar biasa
cantik dan memukau..Masya Allah.. Mereka
semua begitu terpesona padanya.
"Selamat datang Kakak sepupu..senang sekali
akhirnya kita bisa berkumpul di istana ini."
Sambut mereka serempak sambil membungkuk
dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan penuh
haru, Raya merangkul kedua sepupu perempuan
nya yang kesemuanya tampak berhijab. Namun
dia hanya bisa melipat kedua tangannya di dada
untuk dua sepupu laki-laki nya, karena mereka
memang sangat agamis.
Akhirnya Ratih Ayu membimbing Raya ke depan
Mayra dan Dirga yang dari tadi sudah menatap
Raya penuh rasa takjub. Dirga benar-benar tidak
menyangka dengan perubahan penampilan Raya.
Sebab waktu terakhir bertemu, istri dari sahabat
nya itu masih berpenampilan terbuka.Tapi saat
ini..wanita itu tampil luar biasa mempesona
dengan menutup dirinya secara utuh. Kalau tak
kuat iman, bisa-bisa Dirga khilaf..
"Sayang..kenalkan..dia adalah kakak sepupumu.
Dialah putri mendiang Tante mu Dewi Arumi.."
"Aku tahu siapa dia Bu.. Aku sudah menantikan saat-saat ini. Aku sangat ingin bertemu dengan
kakak sepupuku yang satu ini."
Sambut Raya sambil maju ke hadapan Mayra
yang terlihat semakin berkaca-kaca. Keduanya
tampak saling pandang, seolah sedang mengadu kharisma. Namun..harus di akui aura dan pesona
kecantikan yang di miliki oleh Maharaya jauh
lebih unggul dari wanita manapun dan itu tidak terbantahkan.
"Yang Mulya Princess Maharaya..senang sekali
__ADS_1
mengenalmu sebagai saudari ku.."
"Mbak Mayra.. tolong..jangan memanggilku
seperti itu..Aku ini saudari mu."
Raya berhambur ke dalam pelukan Mayra. Dua
wanita super cantik yang memiliki kelebihan dan
keistimewaan masing-masing itu tampak saling
berpelukan erat, menumpahkan seluruh air mata kebahagiaan yang benar-benar tidak terduga.
Setelah 20 tahun lebih, akhirnya mereka baru
bisa di pertemukan sekarang ini.Terlebih bagi
Mayra..dia bahkan masih terasa seperti mimpi,
ternyata dirinya masih memiliki keluarga dari
mendiang ibunya. Ini adalah sebuah anugerah
yang tak ternilai harganya, karena selama ini
dia mengira bahwa dirinya tidak punya siapa-
siapa di dunia ini selain ayah kandungnya.
Aaron dan Dirga tampak terdiam, menatap dua
wanita itu yang sedang menumpahkan segala
rasa yang berkecamuk di dada mereka. Ya..dua
wanita yang pernah menyentuh hati seorang
Aaron, dan ternyata mereka berdua bersaudara. Sungguh luar biasa..hati dan jiwa Aaron hanya
mampu di ketuk oleh dua wanita sedarah itu.
Sesuatu yang sepertinya memang sudah di
rencanakan dengan baik oleh Tuhan..
Setelah puas akhirnya mereka berdua melepas
pelukan, dan kembali saling menatap sembari tersenyum setengah tertawa dengan tangis yang
masih tersisa. Raya mengusap lembut air mata
yang masih mengalir di wajah cantik Mayra..
Ya..wanita yang di awal pertemuan sedang
berada dalam bahaya itu ternyata adalah kakak sepupunya.
"Apa kabar kakak ipar sepupu..?"
Raya menyapa Dirga yang langsung tersenyum
tenang sembari menundukkan kepala sedikit.
"Alhamdulillah.. berkat anda saya baik-baik
saja Yang Mulya. Terimakasih atas bantuannya."
"Tidak ada apapun yang bisa melebihi kekuatan
dan kekuasaan Tuhan kakak ipar. Semua berkat
pertolongan-Nya."
"Tentu saja Princess.."
"Tolong.. jangan memanggilku dengan sebutan
yang sangat kaku itu. Bukankah kita sekarang
bersaudara.?"
Dirga kembali tersenyum, mengangkat wajahnya
hingga mereka saling menatap. Luar biasa.. dari
awal bertemu, Dirga sudah merasa kalau wanita
istimewa ini memang memiliki banyak kemiripan
dengan istrinya, dan semua itu akhirnya terbukti
setelah dia dan Aaron saling bertukar informasi.
"Baiklah.. adik sepupu.."
Sahut Dirga sambil kembali menundukkan kepala
karena tidak sanggup menahan pancaran kemilau cahaya terang yang terpendar dari wajah super
cantik wanita yang sekarang notabenenya adalah
adik sepupu istrinya itu. Raya tampak tersenyum lembut dan puas. Kini dia berpaling pada bayi
mungil yang ada di pangkuan suaminya.
"Apakah bayi tampan ini putra kalian.?"
Raya bertanya sambil meraih bayi itu yang dari
tadi sudah mengisyaratkan ingin di gendong
oleh Raya karena sudah meronta-ronta tidak
sabar.
"Iya..dia adalah bayi yang lahir dalam kondisi
kritis setelah peristiwa terakhir itu."
Sahut Mayra sambil mendekat kearah Raya
yang langsung menciumi wajah gembil bayi
tampan itu atau Reinaldo Pranadipta Moolay.
"Ohhh Masya Allah.. syukurlah dia lahir dengan
selamat. Lucu banget sih kamu sayang..gemas
deh aunty.. siapa namanya mbak.?"
Raya mengusap lembut rambut bayi itu yang
terlihat sangat betah berada di dalam pangkuan
Raya, tangannya tampak meraba-raba wajah
bening tantenya itu dengan tatapan yang tiada
lepas dari wajah nya sambil sesekali tersenyum.
"Reinaldo.. panggil saja dia Rein.."
"Ohh..baiklah.. Rein sayang.. kita akan bermain bersama setelah ini okay..?"
terkekeh kecil membuat semua orang semakin
merasa gemas. Aaron mendekat, merangkul
erat bahu Raya sambil mencubit halus pipi Rein.
Dia tahu pasti istrinya ini sangat menyukai dan
di sukai oleh anak kecil.
"Sepertinya dia menyukaimu sayang.."
"Tentu saja.. Aku kan aunty nya sayang..Lihat,
dia sangat tampan dan menggemaskan.."
Sahut Raya sambil kembali menciumi pipi
bayi itu yang semakin terlihat kesenangan.
Mayra mundur, menatap Aaron yang terlihat
begitu sayang dan sangat posesif terhadap adik sepupunya itu. Ya Tuhan.. ternyata keajaiban
cinta itu memang ada. Laki-laki ini tampaknya
sudah menemukan belahan jiwanya.
Jenderal Serkan dan Ratih Ayu menyambut
hangat Arabella dan Arthur serta rombongan
yang lain. Dan akhirnya mereka semua kini
kembali melangkah menuju ruangan lain.
***
Berbagai ritual dan acara adat penyambutan
terus di langsungkan. Aaron dan Raya tampak
antusias menjalankan semua acara tersebut
dengan hati dan wajah yang terlihat cerah.
Seluruh keluarga besar, kerabat dan para tetua
istana King Sulaiman hadir dalam ritual adat
penyambutan ini. Mereka menerima dengan
hangat kehadiran Raya dan Aaron sebagai
anggota baru keluarga bangsawan tersohor ini.
"Baiklah sayang.. semua ritual telah selesai di
laksanakan. Sekarang waktunya kalian istirahat.
Nanti malam turunlah untuk makan malam.."
Princess Ratih Ayu akhirnya menutup semua
rangkaian acara adat yang cukup melelahkan
ini. Dia juga melihat Raya sudah mulai lelah
dan sedikit pucat.
"Baiklah Bu.. kalau begitu kami permisi."
"Istirahatlah sayang.. nanti akan ada pelayan
yang membawakan ramuan ke kamarmu."
Raya mengangguk. Ratih Ayu mencium kening
Raya. Setelah itu Raya berlalu pergi bersama
Jessica, Griz dan para pelayan pribadi yang
sudah di siapkan oleh istana ini. Sementara
Aaron pergi bersama dengan Sang Mertua,
Dirga dan Arthur serta para saudara sepupu
lainnya untuk mendatangi sebuah tempat
yang cukup menarik bagi para pria.
Raya di antar ke dalam kamar yang ada di lantai
paling atas dan paling eksklusif. Selalu, dimana
pun..mereka berdua akan menempati kamar
yang paling mewah dan paling besar. Begitu
tiba di kamar dia segera masuk ke dalam kamar
mandi dan membersihkan dirinya. Dia tidak
sabar ingin segera bermain dengan sang
ponakan yang sangat menggemaskan, Rein..
"Princess Agung.. Nyonya Moolay ingin
menemui anda, bolehkah beliau masuk.?"
Salah seorang pelayan pribadi tampak berdiri
di tengah ruangan sambil membungkuk dalam
di belakang Raya yang tengah duduk di depan
meja rias, sedang memoles sedikit wajahnya.
"Kenapa harus bertanya, biarkan dia masuk."
Wajah Raya tampak berbinar bahagia sambil
kemudian menyudahi persiapannya dengan
merapihkan pakaian dan hijabnya.
"Apa aku mengganggu mu Princess..?"
Ada suara lembut yang kini terdengar dari arah
belakang. Raya memutar tubuhnya, mata indah
mereka tampak saling pandang dengan binar
yang sama-sama terpancar cerah.
"Apa yang mbak katakan.? Tolong.. jangan
__ADS_1
perlakukan aku seperti orang asing."
Sambut Raya sambil kemudian meraih Rein
dari pangkuan Mayra yang tersenyum lembut.
Raya tampak begitu semangat, memeluk dan
menciumi serta mencubit gemas pipi bayi
mungil itu yang terlihat sedang tertidur pulas.
"Walau kita bersaudara, tapi tetap saja..kau
adalah keturunan asli keluarga King Sulaiman.
Dan kau juga seorang Putri Mahkota. Jadi aku
tidak bisa mengabaikan hal itu Raya.."
Mayra kembali berucap lembut. Raya menarik
tangan Mayra di ajak duduk di atas tempat tidur.
"Mbak Mayra.. tolonglah.. kita sedang berdua
saja. Perlakukan aku seperti saudarimu."
Raya memegang erat tangan Mayra, mereka
kembali saling pandang. Raya meletakkan
tubuh mungil Rein diatas pangkuannya. Bayi
itu tampak semakin nyenyak dalam tidurnya.
"Baiklah kalau begitu.. sekarang.. mari kita
bercerita..Ini semua sangat luar biasaa.."
Mayra memekik tertahan bersamaan dengan
Raya, keduanya tampak histeris sendiri. Keluar
sudah jiwa seorang perempuan normal yang
sangat excited mendapati kenyataan di luar
dugaan ini. Mereka berdua tertawa bersama
dan saling berpelukan erat.
Keduanya kini mulai bercerita tentang masa
kecil mereka, masa remaja dan semua jalan
hidup yang telah di lalui selama ini. Raya juga
bercerita, bahwa dia sangat mengagumi talenta
yang di miliki oleh Mayra di dalam dunia seni.
"Aku benar-benar tidak menduga kalau masih
memiliki saudari. Ini benar-benar keajaiban.
Coba kalau Clarissa ada di sini sekarang."
Raya langsung terdiam, matanya yang indah
tampak berair karena terlalu bahagia.
"Jadi.. Mbak sudah bertemu dengan mereka
semua.? Kakek, Paman, kak Dev dan Clara.?"
"Tentu saja. Mereka sendiri yang datang ke
rumah. Dan ternyata Mas Dirga sudah tahu
tentang semua ini. Dia yang mempertemukan
kami semua."
"Ohhh Masya Allah..syukurlah, aku lega sekarang.
Akhirnya kita bisa bersatu kembali. Allah begitu
sayang pada kita dengan menyatukan kembali
seluruh keluarga yang selama ini terpisah."
"Kau benar..ini semua adalah anugerah yang
tidak ternilai harganya."
"Iya Mbak.. aku sangat bersyukur.. Aaron tidak
pernah berhenti mencari tahu tentang semua
keluargaku.. Hingga akhirnya semua ini terjadi."
Mereka berdua langsung terdiam, ada sedikit
reaksi aneh di wajah cantik Mayra, tapi Raya
menanggapinya dengan santai.
"Apa selama ini dia memperlakukan mu dengan
baik.? Dia tidak melakukan kekerasan.?"
Raya menatap tenang wajah Mayra, dia tampak
tersenyum lembut, kemudian membaringkan
tubuh mungil Rein diatas tempat tidur, mengusap
lembut kepalanya penuh sayang. Jiwa keibuan
Raya memang sudah tidak di ragukan lagi.
"Semuanya memang butuh proses mbak. Tapi
kami tidak butuh waktu lama untuk memahami
dan mengerti apa yang dirasakan oleh hati dan
jiwa kami masing-masing. Semuanya terjadi
secara alami dan bertahap."
Mayra menarik nafas panjang, menatap wajah
cantik Raya berusaha untuk meyakinkan diri.
Dia tahu cerita tentang wanita yang di perdaya
Aaron dan terpaksa di nikahinya. Tapi dia tidak menyangka kalau wanita itu adalah sepupunya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku tahu dia adalah
laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Dan
dia akan melakukan apapun untuk orang-orang
yang dianggap penting dalam hidupnya."
"Seperti yang terjadi padamu dulu.?"
Wajah Mayra terlihat bereaksi tidak enak. Dia
berusaha untuk melempar pandangan nya ke sembarang arah. Namun dalam keadaan itu,
tiba-tiba Aaron masuk ke dalam ruangan. Dia
baru saja kembali dari kegiatannya. Pria itu
tampak berdiri terpaku sejenak, menatap lurus
kearah keberadaan dua wanita itu.Tidak lama
dia melangkah tenang kearah mereka yang
langsung terdiam tak bersuara lagi.
Tatapan mata elang Aaron jatuh di wajah Raya
yang terlihat sedikit memerah. Ekspresi wajah
pria itu tampak datar cenderung dingin. Raya
memalingkan wajahnya mencoba untuk acuh.
Sementara tatapan Aaron kini mengarah pada
Mayra yang terlihat sedikit tidak nyaman.
Cukup lama Aaron memandang wajah cantik
Mayra, seolah sedang meyakinkan diri akan
segala rasa yang kini tersisa di dalam hatinya.
"Kalau kalian masih ingin bicara, aku akan.."
"Tidak perlu Yang Mulya..kami akan bicara lain
waktu saja, aku harus segera kembali ke kamar."
Potong Mayra sambil kemudian meraih tubuh
mungil Rein ke dalam gendongannya.
"Mbak.. tapi aku masih ingin bicara.."
"Kita masih punya banyak waktu. Aku takut
mas Dirga akan mencari ku. Kita akan bertemu
lagi pada saat makan malam.. Permisi.."
Ujar Mayra sambil mengelus lembut wajah
Raya yang terlihat kecewa. Mayra berdiri,
matanya menatap sebentar kearah Aaron
yang terlihat santai saja. Tidak lama dia
berlalu keluar dari dalam kamar.
"Mbak.. biarkan Rein di sini saja.. Mbaakk.. "
"Hei.. kenapa kau mengabaikan ku sayang.?"
Aaron menangkap tubuh Raya yang bergerak
ingin mengejar Mayra. Tubuh Raya membeku.
Dia baru menyadari kalau hawa panas dan
aura kekesalan mulai menyelimuti tubuh
sang suami yang kini mendekapnya erat.
"Aku merindukanmu sayang.. Kau tidak boleh mengabaikan ku hanya gara-gara kehadiran saudara-saudara mu.! Aku membutuhkan mu.!"
Desis Aaron dengan suara berat. Raya terhenyak.
Dia menangkap kekesalan Aaron. Akhirnya dia
membalas pelukan suaminya itu, menepuk halus
punggung kokoh nya. Setelah lama barulah dia
melepaskan pelukan Aaron. Keduanya saling
menatap kuat, jemari lentik Raya kini mulai
menyusuri wajah tampan suaminya itu.
"Maaf sayang.. Aku terlalu bahagia hingga lupa
segalanya. Ini adalah big surprise bagiku. Tapi
kau tetaplah satu-satunya prioritas ku.."
Lirih Raya sambil kemudian memagut lembut
bibir seksi Aaron berusaha menyiram kekesalan
dan hawa panas yang tadi menguasai diri Aaron. Seketika jiwa Aaron luluh. Dia jatuh dalam kuasa
seorang Maharaya yang tidak pernah mampu
untuk di lawan dan di tentang nya. Dia adalah
budak cinta wanita ini. Dia akan selalu pasrah
pada apa yang di katakan dan di inginkan nya.
Ada keutuhan yang kini dirasakan hati Aaron
setelah dia berhasil mempertemukan Raya dan
Mayra. Dia tidak ingin ada ganjalan lagi di hati
istrinya itu atas segala perasaannya terhadap
dirinya.
Untuk sesaat dirinya mungkin masih mengenang
rasa itu, tapi ternyata setelah di telaah lebih jauh
semua itu hanyalah spontanitas belaka karena
mereka lama tidak bertemu. Sesudah itu segala
nya terasa datar dan normal saja. Dia mencoba mencari rasa yang tersisa di lubuk hatinya, tapi
ternyata semuanya hanya sebatas kenangan saja.
***
__ADS_1
Note:
Towards the final episodes ..