Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
57. Sedikit Aneh


__ADS_3

❤️❤️❤️


Setengah Perjalanan..


"Aaron..bisakah kita berhenti di sana."


Raya tiba-tiba mengeluarkan suara dan melihat


kearah sebuah taman di pinggir jalan yang saat


ini terlihat cukup ramai oleh pengunjung karena


banyak stan kuliner di tempat itu. Aaron langsung


melambatkan laju mobilnya, melirik kearah Raya.


Ajaib, wanita itu kini terlihat baik-baik saja. Alis


Aaron tampak bertaut dalam penuh keheranan.


Bukankah tadi dia tertidur selama di perjalanan?


"Kita harus segera sampai di rumah. Kau harus


di periksa secepatnya.!"


"Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Perutku


sudah tidak sakit lagi.."


"Apapun alasan mu, kau harus tetap di periksa.


Aku tidak akan mengambil resiko."


"Aaron..Aku yang merasakan sakit.! Jadi aku


yang tahu kondisi tubuhku sendiri.!"


"Maharaya.. jangan membantahku terus.!"


"Kau juga harus mendengarkan aku. Sekarang


hentikan mobilnya, aku menginginkan sesuatu.!"


Seru Raya sambil menatap tajam wajah Aaron


yang langsung menghentikan mobilnya begitu


mendengar suara Raya tiba-tiba naik satu oktaf.


Keduanya saling menatap kuat, mencoba untuk


meyakinkan diri masing-masing. Aaron berpikir


ada yang aneh dengan sikap istrinya ini.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya.?"


Aaron bertanya dengan tatapan tajam seolah-


olah menguliti tubuh Raya. Wajahnya semakin bereaksi aneh begitu melihat raut wajah cantik


Raya tiba-tiba saja berbinar bahagia di warnai


seulas senyum manis yang terukir di bibir indahnya.


"Bagaimana kalau kita turun sekarang ? Aku


ingin jalan-jalan sebentar di taman ini."


Raya menjawab dengan wajah setenang air


di kolam. Santai dan terlihat bersemangat.


Hahh.? Alis Aaron semakin bertaut, ada apa


dengan wanita ini ? kenapa kelakuannya aneh


sekali ? Apa dia melupakan sesuatu?


"Maharaya.. apa kau lupa siapa aku.?"


Geram Aaron dengan wajah yang mulai keras


dan tatapan tajam penuh interogasi. Namun


mata Aaron kini mengerjap hebat, saat melihat


bibir ranum istrinya itu mengulas senyum lembut


dan tulus padanya seraya mengelus pelan wajah


tampan nya. Mata Aaron kini seakan terhipnotis.


"Justru, ini adalah kesempatan bagus bagi calon


Raja seperti mu untuk lebih dekat dengan rakyat


mu. Ayo kita turun, jangan lupa tutup wajahmu."


Ujar Raya sambil kemudian melepas sabuk


pengaman dan tanpa basa-basi dia langsung


keluar dari mobil meninggalkan Aaron yang


masih bengong, membeku dan terkesima di


tempat duduknya. Benarkah dia Maharaya.?


Semua bawahan Aaron yang ikut menepikan


mobilnya tampak melebarkan matanya saat


melihat sosok cantik sang majikan keluar dari


mobil Putra Mahkota lalu melenggang tenang


melangkah masuk ke area taman. Beberapa


saat kemudian mereka semua berhamburan


keluar dari mobil seperti orang yang baru sadar


dari pengaruh sihir. Mereka semua berlompatan


berpencar mengawal dan mengawasi langkah


Sang Majikan dengan sedikit panik karena saat


ini Raya sudah semakin masuk ke dalam taman.


Sementara Ansel dan Alex kini menghampiri


mobil Aaron dan membukakan pintunya.


Tidak lama Sang Putra Mahkota pun keluar dari


mobil mewah nya. Wajahnya kini sudah di tutup


oleh masker hingga menutup setengah wajah


nya agar tidak di kenali orang.


"Apa yang terjadi kakak.? Kenapa kita turun di


tempat terbuka seperti ini.?"


Ansel bertanya karena tidak tahan dengan rasa


penasaran nya. Aaron menatap tajam kearah


Raya dan Griz yang terlihat mendekat ke salah


satu stan makanan.


"Ada yang tidak beres dengan nya. Dia yang


memaksa ingin berhenti di tempat ini.!"


"Hahh ? dia memaksamu, dan kau menuruti


keinginannya.? Wah..kakak..ini luar biasa.!"


"Berisik. !! Awasi semua tempat ini, periksa


juga keamanan dan kebersihan makanan


yang di jual di tempat ini.!"


Dengus Aaron sambil menepuk kepala Ansel


yang semakin melongo tidak percaya. Alex


segera bergerak memberi instruksi pada para


bawahannya untuk melaksanakan apa yang


di perintahkan oleh Sang Pangeran.


Aaron mulai melangkah tenang dan santai,


berusaha untuk tidak menarik perhatian semua


orang dengan berjalan sendirian tanpa kawalan.


Ansel berjalan sedikit jauh darinya dan semua


pengawal bersiaga penuh di setiap sudut tempat.


Sementara itu saat ini Raya sudah membeli


makanan yang di inginkan nya, makanan khas


negara ini yang sedikit bercitarasa gurih pedas.


Dia juga menyuruh Griz membeli beberapa


macam makanan lain. Keberadaan dirinya di


tempat terbuka seperti ini langsung saja menarik


perhatian hampir semua orang yang ada di


tempat itu. Kecantikan dan keindahan fisiknya


mampu menyedot fokus semua mata yang melihatnya, tanpa terkecuali.


Raya mulai mencicipi makanan yang dibelinya


dengan ekspresi wajah tampak senang dan puas.


Griz setia mengawal sang majikan di dekatnya


sambil membawakan semua makanan yang tadi sudah di belinya. Griz sendiri yang mengurus


semua pembayaran karena selama ini Raya


tidak pernah memegang kartu ataupun uang.


"Ayo kita duduk di sana Griz..!"


Raya menunjuk bangku yang terlihat kosong


dan sedikit sepi.


"Sebaiknya anda menunggu Yang Mulya dulu


Miss.. beliau sedang menuju kesini."


"Baiklah.. cobalah kau cicipi ini Griz, ini sangat


enak, rasanya pedas dan memuaskan.."


Raya menyodorkan makanan berwarna merah

__ADS_1


cabe itu ke hadapan Griz yang langsung saja


menggelengkan kepala dengan wajah memerah.


"Tidak Miss.. silahkan anda saja."


Tolak Griz sambil menundukkan kepalanya.


Raya mengerucutkan bibirnya, kembali lagi


menikmati makanan itu dengan tenang. Dia


tidak sadar saat ini beberapa pengunjung pria


mulai mengikuti dan mendekat padanya dengan tatapan mata terpesona serta ketertarikan luar


biasa. Wanita ini telihat sangat berbeda, begitu


cantik, begitu menarik dengan daya pikat yang terpusat pada mata indahnya.


Melihat hal itu rahang Aaron tampak mengeras,


tangannya terkepal sempurna. Dia semakin mempercepat langkah nya dengan sebaran


aura kehadiran yang sangat kuat membuat


orang-orang mengalihkan perhatiannya pada


kemunculan Sang Pangeran yang langsung


mendekat kearah keberadaan Raya.


Raya memekik kaget ketika tiba-tiba tubuhnya


terangkat paksa, matanya membulat saat melihat


Aaron kini sudah menggendong nya kemudian


berjalan meninggalkan orang-orang yang tadi


bermaksud mendekat padanya. Mereka semua


kini hanya bisa melongo sambil gigit jari.


"Aaron..ada apa.? Ayo turunkan aku..!"


Raya menatap bingung wajah Aaron yang kini


terlihat sangat kesal setengah emosi.


"Jadi ini yang kau inginkan turun di tempat ini.?


Kau ingin menarik pria-pria murahan itu untuk


menikmati keindahan fisikmu.?"


Hahh.? Apa yang dia katakan.? Raya semakin


bingung, dia mencuri pandang ke arah belakang.


Wajahnya langsung meringis dengan senyum


gusar yang kini terulas di sudut bibirnya.


"Maaf, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya


ingin menikmati angin segar sambil mencicipi makanan yang di jual di sini."


"Raya.. makanan di tempat seperti ini tidak


terjamin kebersihan dan kandungan gizinya.!"


"Tapi aku menginginkan nya Yang Mulya. Aku


bosan dengan makanan rumahan."


"Aku bisa mendatangkan koki terbaik untuk


melayani semua keinginan mu.!"


"Tidak, sensasinya akan berbeda.!"


Aaron menggeram menahan kesal. Matanya


kini semakin menatap tajam wajah Raya yang


malah terlihat acuh. Dia menghentikan langkah


setelah cukup jauh dari keberadaan orang-orang


kemudian mendudukkan Raya di atas bangku


yang sedikit jauh dari pengunjung lain. Tanpa menunggu lagi Raya langsung saja menikmati makanan yang tadi di belinya saat Griz datang


ke hadapannya dan menyodorkan makanan


tersebut dengan sopan. Aaron ikut duduk di


sebelahnya dengan dengusan kasar. Matanya


kini jatuh di makanan yang sedang di nikmati


oleh istrinya itu.


"Makanan apa itu.? Kenapa kamu membeli


makanan tidak bermutu seperti itu.?"


"Mmm..ini enak sekali, kau harus mencicipi


rasanya, ayo cobalah.."


Raya menyodorkan makanan itu ke hadapan


Aaron yang langsung menjuhkan wajahnya


dan menghunuskan tatapan tajam kearah


Raya yang sedang menatapnya penuh harap.


masuk ke dalam perutku.!"


"Iyaa aku tahu, perutmu tidak terbiasa dengan


makanan murahan seperti ini, tapi menurutku


ini cukup lezat dan harganya juga terjangkau."


"Maharaya..kau adalah istriku.! Mau makanan


semahal apapun akan aku berikan.!"


Raya terdiam, menatap lekat wajah super tampan


suaminya itu dengan sorot mata sedikit jengah.


"Tentu saja, apa yang tidak bisa kamu beli. Tapi


kebahagiaan ku tidak akan bisa di manipulasi."


"Makanan ini tidak baik untuk kesehatanmu.!


Jadi kamu tidak boleh memakannya lagi.!"


Aaron merebut makanan itu dari tangan Raya


yang langsung melotot dan mencoba mengambil


kembali makanan itu dari tangan Aaron, namun


pria itu menahannya.


"Aaron.. berikan..! Aku sedang sangat ingin


memakannya.!"


"Tidak, kita akan pergi ke restaurant termahal


agar kamu bisa menikmati makanan terbaik


yang ada di negara ini.!"


"Aku tidak mau, aku tidak menginginkan semua


itu, ayo cepat berikan.!"


"Tidak, perutmu bisa sakit lagi kalau kamu


memaksa memakannya.!"


"Aaron.. kembalikan sekarang.! Aku benar-benar


akan marah kalau kamu tidak memberikan nya.!"


Wajah Raya tampak mulai memerah menahan


kesal dan rasa tidak sabar karena kesenangan


nya terganggu.


"Tidak, aku tidak mau kamu sakit gara-gara


makanan sampah seperti ini.!"


"Aaron..!! Kamu benar-benar menyebalkan.!"


Dengan gerakan cepat Raya menurunkan masker penutup wajah Aaron kemudian mencium kasar


dan kuat bibir laki-laki itu sedikit kesal. Lagi-lagi


Aaron kalah telak, sistem saraf nya tiba-tiba tidak


berfungsi, lumpuh total oleh ciuman dashyat itu.


Raya melepaskan ciumannya saat makanan itu


sudah beralih ke tangannya. Sementara Aaron


tampak terdiam lemas, menatap lekat wajah


cantik Raya yang kini tersenyum puas, tengah


menikmati makanan itu dengan sepenuh hati.


Jiwanya bergejolak, semakin meronta, semakin bertarung dalam pertentangan antara logika


dan pikiran rasionalnya.


"Kau harus mencoba nya juga agar tahu rasanya


Yang Mulya.! Ini adalah hasil kreativitas rakyat


mu yang harus kamu hargai."


Tanpa di duga Raya menyuapkan makanan itu


ke dalam mulut Aaron yang tampak terhenyak.


Alex, Ansel dan Griz yang kini sudah ada di


tempat itu langsung meringis bersiap dengan


amukan dan teriakan Sang Putra Mahkota.


Namun apa yang terjadi selanjutnya.? Aaron


tampak mulai mengunyah makanan itu, pelan


dan sedikit menautkan alisnya. Namun lama


kelamaan dia mengunyahnya dengan cepat.


"Berikan aku satu suap lagi..!"


Hahh ? semua orang tercengang dengan sorot

__ADS_1


mata tidak percaya. Raya menatap wajah Aaron berusaha meyakinkan diri.


"Apa kau yakin ingin mencoba nya lagi.?"


"Jangan banyak bicara, cepat suapi aku.!"


Raya kembali menyuapkan makanan itu ke mulut Aaron, lagi dan lagi..Sampai akhirnya dia memekik kaget ketika jarinya di gigit kecil oleh Aaron


membuatnya reflek memukul bahu pria itu yang tampak bereaksi aneh, terlihat geli dan gemas. Keduanya saling pandang lekat saat Aaron


meraih jemari tangan Raya yang tadi di gigitnya,


lalu meniupnya perlahan, tidak lama menjilatnya lembut sedikit sensual membuat tubuh Raya berjingkat, matanya yang indah melebar hingga membuat Aaron semakin gemas dan tidak tahan


ingin menerkam istrinya ini. Sementara Ansel


tampak memutar tubuh nya, tidak sanggup


harus melihat keintiman mereka berdua. Aaron


mendekatkan wajahnya ke hadapan Raya yang menatapnya mundur penuh antisipasi.


"Makanan ini cukup enak..! Tapi kau adalah


makanan terlezat yang pernah aku cicipi. Kau


memiliki banyak madu sayang.."


"Aaroonn....! Kamu benar-benar keterlaluan.!"


Raya tidak tahan lagi dia menyuapkan banyak makanan tadi ke mulut Aaron yang langsung kelabakan. Semua asisten yang ada di sana


langsung di buat kalangkabut begitu melihat


Sang Pangeran terbatuk karena kepedasan.


Sementara Raya malah melenggang pergi


meninggalkan suami menyebalkan nya itu


yang sedang di kerubungi para bawahannya.


***


Malam di White House...


Waktu sudah semakin merayap malam. Saat ini


Raya masih tenggelam dalam doa khusyuk nya


seusai menjalankan ibadah sholat isya. Tidak


ada tempat yang paling tepat baginya untuk


mencurahkan segala keluh kesahnya. Dia ingin


memohon petunjuk dan perlindungan Tuhan


untuk hidupnya ke depan. Banyak hal telah dia


lalui selama kurang lebih satu bulan berada di


bawah kekuasaan Aaron, Sang Putra Mahkota


negara asing yang tidak di ketahui nya sama


sekali sedari awal. Terlalu banyak kemelut yang


bersarang dalam hatinya hingga akhirnya kini


dia menyerah, jatuh pada satu titik jenuh. Dia


akan menerima apapun Takdir Tuhan.


Bagaimanapun awalnya, di akui atau tidak,


Aaron adalah takdir hidup yang telah di gariskan


Tuhan untuk datang ke dalam kehidupannya.


Walau dia tidak tahu akan seperti apa akhirnya,


namun satu hal yang pasti sekarang ini hatinya


sudah mulai melemah, dan perlahan akan jatuh


pada satu titik, kesakitan dan kekecewaan.


Dia sadar sepenuhnya ikatan yang terjalin ini


hanyalah sementara. Dirinya tidak mungkin


bisa menautkan hati dengan laki-laki itu yang


sudah jelas adalah calon Raja masa depan


negara ini dan akan bersanding dengan Sang


Putri bangsawan yang begitu menawan.


Raya memejamkan mata, menahan serbuan


rasa sakit yang kini menyesakkan dadanya.


Hatinya semakin teriris tatkala mengingat


saat ini Aaron sedang pergi menghadiri pesta


ulang tahun sebuah perusahaan besar yang


mengharuskan nya datang bersama dengan Catharina.


Tadi siang Aaron mengantarnya pulang. Tapi


pria itu langsung pergi kembali karena masih


banyak urusan yang harus di selesaikan nya.


Laki-laki itu juga melarang dirinya ikut dalam


acara pesta ini mengingat kondisinya yang


tidak stabil. Raya berdiri di balkon kamarnya,


menatap indahnya hamparan rumah-rumah


bercat putih yang bertebaran di depan matanya. Hatinya terasa begitu sepi, berat dan lemah.


Raya menarik napas dalam-dalam. Dia harus


tetap kuat dan tegar seperti biasa. Tapi kenapa


saat ini hatinya terasa begitu melow. Wajah


tampan pria menyebalkan itu terus saja bermain


di pelupuk matanya. Hatinya begitu merindukan


pria itu, sangat merindukannya. Raya memutar


tubuh nya, lebih baik dia tidur untuk melupakan


semua kegelisahan yang di rasakannya ini.


Namun begitu dia membalikkan badannya,


tubuhnya tiba-tiba saja membeku di tempat.


Matanya langsung bersirobos tatap dengan


mata elang sosok tinggi gagah yang sedang


berdiri di ambang pintu, menatapnya teduh


dengan sorot mata yang berbeda.


"A-Aaron.. kau ada di sini.? Bukankah kamu


harus menghadiri pesta bersama Catharina.?"


Suara Raya terdengar lemah dan bergetar


sedikit tidak percaya dengan penglihatannya.


Kenapa pria ini ada di sini ? seharusnya saat


ini dia pergi dengan calon tunangannya.!


Aaron mendekat, melonggarkan dasinya,


tatapan nya terlihat mengunci sosok cantik


Raya yang saat ini sudah berbalut gaun malam


yang sangat indah berbahan sutra halus.Begitu


dekat dia langsung meraih tubuh Raya ke dalam dekapannya, memeluknya sangat erat seraya memejamkan mata, menciumi puncak kepalanya


sambil menghirup kuat aroma lembut nan wangi


yang menguar dari tubuh istrinya itu.


"Aaron.. kenapa kamu kesini.?"


"Aku memutuskan untuk tidak pergi ke pesta


membosankan itu..!"


"Hahh.. bagaimana dengan Catharina.?"


"Ansel yang datang menggantikan posisi ku.!"


"Apa.? Tapi kenapa ? bukankah itu merupakan


agenda dari istana.?"


"Karena aku ingin bersamamu !"


Deg !


Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Jiwa


nya langsung meronta hebat, bagaimana bisa


dia mencoba untuk mengubur rasa itu kalau


laki-laki ini membawanya pada kebimbangan.


"Aaron, seharusnya kau tidak boleh melakukan


semua ini, keluargamu tidak akan suka.."


"Aku tidak peduli. ! Yang aku inginkan adalah


membawa mu ke tempat tidur sekarang juga.!"


Selesai berbicara Aaron langsung mengangkat


tubuh Raya ke dalam gendongannya. Tangan


Raya reflek melingkar di leher kokoh Aaron


dengan tatapan di selimuti ketegangan.


"Aaron..Aku mohon jangan macam-macam.


Tubuhku masih belum stabil."


"Aku akan lebih hati-hati melakukannya.! Kita


akan terbang ke langit ke tujuh bersama.."


"Aaroonn...."


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2