
❤️❤️❤️
Setengah Perjalanan..
"Aaron..bisakah kita berhenti di sana."
Raya tiba-tiba mengeluarkan suara dan melihat
kearah sebuah taman di pinggir jalan yang saat
ini terlihat cukup ramai oleh pengunjung karena
banyak stan kuliner di tempat itu. Aaron langsung
melambatkan laju mobilnya, melirik kearah Raya.
Ajaib, wanita itu kini terlihat baik-baik saja. Alis
Aaron tampak bertaut dalam penuh keheranan.
Bukankah tadi dia tertidur selama di perjalanan?
"Kita harus segera sampai di rumah. Kau harus
di periksa secepatnya.!"
"Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Perutku
sudah tidak sakit lagi.."
"Apapun alasan mu, kau harus tetap di periksa.
Aku tidak akan mengambil resiko."
"Aaron..Aku yang merasakan sakit.! Jadi aku
yang tahu kondisi tubuhku sendiri.!"
"Maharaya.. jangan membantahku terus.!"
"Kau juga harus mendengarkan aku. Sekarang
hentikan mobilnya, aku menginginkan sesuatu.!"
Seru Raya sambil menatap tajam wajah Aaron
yang langsung menghentikan mobilnya begitu
mendengar suara Raya tiba-tiba naik satu oktaf.
Keduanya saling menatap kuat, mencoba untuk
meyakinkan diri masing-masing. Aaron berpikir
ada yang aneh dengan sikap istrinya ini.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya.?"
Aaron bertanya dengan tatapan tajam seolah-
olah menguliti tubuh Raya. Wajahnya semakin bereaksi aneh begitu melihat raut wajah cantik
Raya tiba-tiba saja berbinar bahagia di warnai
seulas senyum manis yang terukir di bibir indahnya.
"Bagaimana kalau kita turun sekarang ? Aku
ingin jalan-jalan sebentar di taman ini."
Raya menjawab dengan wajah setenang air
di kolam. Santai dan terlihat bersemangat.
Hahh.? Alis Aaron semakin bertaut, ada apa
dengan wanita ini ? kenapa kelakuannya aneh
sekali ? Apa dia melupakan sesuatu?
"Maharaya.. apa kau lupa siapa aku.?"
Geram Aaron dengan wajah yang mulai keras
dan tatapan tajam penuh interogasi. Namun
mata Aaron kini mengerjap hebat, saat melihat
bibir ranum istrinya itu mengulas senyum lembut
dan tulus padanya seraya mengelus pelan wajah
tampan nya. Mata Aaron kini seakan terhipnotis.
"Justru, ini adalah kesempatan bagus bagi calon
Raja seperti mu untuk lebih dekat dengan rakyat
mu. Ayo kita turun, jangan lupa tutup wajahmu."
Ujar Raya sambil kemudian melepas sabuk
pengaman dan tanpa basa-basi dia langsung
keluar dari mobil meninggalkan Aaron yang
masih bengong, membeku dan terkesima di
tempat duduknya. Benarkah dia Maharaya.?
Semua bawahan Aaron yang ikut menepikan
mobilnya tampak melebarkan matanya saat
melihat sosok cantik sang majikan keluar dari
mobil Putra Mahkota lalu melenggang tenang
melangkah masuk ke area taman. Beberapa
saat kemudian mereka semua berhamburan
keluar dari mobil seperti orang yang baru sadar
dari pengaruh sihir. Mereka semua berlompatan
berpencar mengawal dan mengawasi langkah
Sang Majikan dengan sedikit panik karena saat
ini Raya sudah semakin masuk ke dalam taman.
Sementara Ansel dan Alex kini menghampiri
mobil Aaron dan membukakan pintunya.
Tidak lama Sang Putra Mahkota pun keluar dari
mobil mewah nya. Wajahnya kini sudah di tutup
oleh masker hingga menutup setengah wajah
nya agar tidak di kenali orang.
"Apa yang terjadi kakak.? Kenapa kita turun di
tempat terbuka seperti ini.?"
Ansel bertanya karena tidak tahan dengan rasa
penasaran nya. Aaron menatap tajam kearah
Raya dan Griz yang terlihat mendekat ke salah
satu stan makanan.
"Ada yang tidak beres dengan nya. Dia yang
memaksa ingin berhenti di tempat ini.!"
"Hahh ? dia memaksamu, dan kau menuruti
keinginannya.? Wah..kakak..ini luar biasa.!"
"Berisik. !! Awasi semua tempat ini, periksa
juga keamanan dan kebersihan makanan
yang di jual di tempat ini.!"
Dengus Aaron sambil menepuk kepala Ansel
yang semakin melongo tidak percaya. Alex
segera bergerak memberi instruksi pada para
bawahannya untuk melaksanakan apa yang
di perintahkan oleh Sang Pangeran.
Aaron mulai melangkah tenang dan santai,
berusaha untuk tidak menarik perhatian semua
orang dengan berjalan sendirian tanpa kawalan.
Ansel berjalan sedikit jauh darinya dan semua
pengawal bersiaga penuh di setiap sudut tempat.
Sementara itu saat ini Raya sudah membeli
makanan yang di inginkan nya, makanan khas
negara ini yang sedikit bercitarasa gurih pedas.
Dia juga menyuruh Griz membeli beberapa
macam makanan lain. Keberadaan dirinya di
tempat terbuka seperti ini langsung saja menarik
perhatian hampir semua orang yang ada di
tempat itu. Kecantikan dan keindahan fisiknya
mampu menyedot fokus semua mata yang melihatnya, tanpa terkecuali.
Raya mulai mencicipi makanan yang dibelinya
dengan ekspresi wajah tampak senang dan puas.
Griz setia mengawal sang majikan di dekatnya
sambil membawakan semua makanan yang tadi sudah di belinya. Griz sendiri yang mengurus
semua pembayaran karena selama ini Raya
tidak pernah memegang kartu ataupun uang.
"Ayo kita duduk di sana Griz..!"
Raya menunjuk bangku yang terlihat kosong
dan sedikit sepi.
"Sebaiknya anda menunggu Yang Mulya dulu
Miss.. beliau sedang menuju kesini."
"Baiklah.. cobalah kau cicipi ini Griz, ini sangat
enak, rasanya pedas dan memuaskan.."
Raya menyodorkan makanan berwarna merah
__ADS_1
cabe itu ke hadapan Griz yang langsung saja
menggelengkan kepala dengan wajah memerah.
"Tidak Miss.. silahkan anda saja."
Tolak Griz sambil menundukkan kepalanya.
Raya mengerucutkan bibirnya, kembali lagi
menikmati makanan itu dengan tenang. Dia
tidak sadar saat ini beberapa pengunjung pria
mulai mengikuti dan mendekat padanya dengan tatapan mata terpesona serta ketertarikan luar
biasa. Wanita ini telihat sangat berbeda, begitu
cantik, begitu menarik dengan daya pikat yang terpusat pada mata indahnya.
Melihat hal itu rahang Aaron tampak mengeras,
tangannya terkepal sempurna. Dia semakin mempercepat langkah nya dengan sebaran
aura kehadiran yang sangat kuat membuat
orang-orang mengalihkan perhatiannya pada
kemunculan Sang Pangeran yang langsung
mendekat kearah keberadaan Raya.
Raya memekik kaget ketika tiba-tiba tubuhnya
terangkat paksa, matanya membulat saat melihat
Aaron kini sudah menggendong nya kemudian
berjalan meninggalkan orang-orang yang tadi
bermaksud mendekat padanya. Mereka semua
kini hanya bisa melongo sambil gigit jari.
"Aaron..ada apa.? Ayo turunkan aku..!"
Raya menatap bingung wajah Aaron yang kini
terlihat sangat kesal setengah emosi.
"Jadi ini yang kau inginkan turun di tempat ini.?
Kau ingin menarik pria-pria murahan itu untuk
menikmati keindahan fisikmu.?"
Hahh.? Apa yang dia katakan.? Raya semakin
bingung, dia mencuri pandang ke arah belakang.
Wajahnya langsung meringis dengan senyum
gusar yang kini terulas di sudut bibirnya.
"Maaf, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya
ingin menikmati angin segar sambil mencicipi makanan yang di jual di sini."
"Raya.. makanan di tempat seperti ini tidak
terjamin kebersihan dan kandungan gizinya.!"
"Tapi aku menginginkan nya Yang Mulya. Aku
bosan dengan makanan rumahan."
"Aku bisa mendatangkan koki terbaik untuk
melayani semua keinginan mu.!"
"Tidak, sensasinya akan berbeda.!"
Aaron menggeram menahan kesal. Matanya
kini semakin menatap tajam wajah Raya yang
malah terlihat acuh. Dia menghentikan langkah
setelah cukup jauh dari keberadaan orang-orang
kemudian mendudukkan Raya di atas bangku
yang sedikit jauh dari pengunjung lain. Tanpa menunggu lagi Raya langsung saja menikmati makanan yang tadi di belinya saat Griz datang
ke hadapannya dan menyodorkan makanan
tersebut dengan sopan. Aaron ikut duduk di
sebelahnya dengan dengusan kasar. Matanya
kini jatuh di makanan yang sedang di nikmati
oleh istrinya itu.
"Makanan apa itu.? Kenapa kamu membeli
makanan tidak bermutu seperti itu.?"
"Mmm..ini enak sekali, kau harus mencicipi
rasanya, ayo cobalah.."
Raya menyodorkan makanan itu ke hadapan
Aaron yang langsung menjuhkan wajahnya
dan menghunuskan tatapan tajam kearah
Raya yang sedang menatapnya penuh harap.
masuk ke dalam perutku.!"
"Iyaa aku tahu, perutmu tidak terbiasa dengan
makanan murahan seperti ini, tapi menurutku
ini cukup lezat dan harganya juga terjangkau."
"Maharaya..kau adalah istriku.! Mau makanan
semahal apapun akan aku berikan.!"
Raya terdiam, menatap lekat wajah super tampan
suaminya itu dengan sorot mata sedikit jengah.
"Tentu saja, apa yang tidak bisa kamu beli. Tapi
kebahagiaan ku tidak akan bisa di manipulasi."
"Makanan ini tidak baik untuk kesehatanmu.!
Jadi kamu tidak boleh memakannya lagi.!"
Aaron merebut makanan itu dari tangan Raya
yang langsung melotot dan mencoba mengambil
kembali makanan itu dari tangan Aaron, namun
pria itu menahannya.
"Aaron.. berikan..! Aku sedang sangat ingin
memakannya.!"
"Tidak, kita akan pergi ke restaurant termahal
agar kamu bisa menikmati makanan terbaik
yang ada di negara ini.!"
"Aku tidak mau, aku tidak menginginkan semua
itu, ayo cepat berikan.!"
"Tidak, perutmu bisa sakit lagi kalau kamu
memaksa memakannya.!"
"Aaron.. kembalikan sekarang.! Aku benar-benar
akan marah kalau kamu tidak memberikan nya.!"
Wajah Raya tampak mulai memerah menahan
kesal dan rasa tidak sabar karena kesenangan
nya terganggu.
"Tidak, aku tidak mau kamu sakit gara-gara
makanan sampah seperti ini.!"
"Aaron..!! Kamu benar-benar menyebalkan.!"
Dengan gerakan cepat Raya menurunkan masker penutup wajah Aaron kemudian mencium kasar
dan kuat bibir laki-laki itu sedikit kesal. Lagi-lagi
Aaron kalah telak, sistem saraf nya tiba-tiba tidak
berfungsi, lumpuh total oleh ciuman dashyat itu.
Raya melepaskan ciumannya saat makanan itu
sudah beralih ke tangannya. Sementara Aaron
tampak terdiam lemas, menatap lekat wajah
cantik Raya yang kini tersenyum puas, tengah
menikmati makanan itu dengan sepenuh hati.
Jiwanya bergejolak, semakin meronta, semakin bertarung dalam pertentangan antara logika
dan pikiran rasionalnya.
"Kau harus mencoba nya juga agar tahu rasanya
Yang Mulya.! Ini adalah hasil kreativitas rakyat
mu yang harus kamu hargai."
Tanpa di duga Raya menyuapkan makanan itu
ke dalam mulut Aaron yang tampak terhenyak.
Alex, Ansel dan Griz yang kini sudah ada di
tempat itu langsung meringis bersiap dengan
amukan dan teriakan Sang Putra Mahkota.
Namun apa yang terjadi selanjutnya.? Aaron
tampak mulai mengunyah makanan itu, pelan
dan sedikit menautkan alisnya. Namun lama
kelamaan dia mengunyahnya dengan cepat.
"Berikan aku satu suap lagi..!"
Hahh ? semua orang tercengang dengan sorot
__ADS_1
mata tidak percaya. Raya menatap wajah Aaron berusaha meyakinkan diri.
"Apa kau yakin ingin mencoba nya lagi.?"
"Jangan banyak bicara, cepat suapi aku.!"
Raya kembali menyuapkan makanan itu ke mulut Aaron, lagi dan lagi..Sampai akhirnya dia memekik kaget ketika jarinya di gigit kecil oleh Aaron
membuatnya reflek memukul bahu pria itu yang tampak bereaksi aneh, terlihat geli dan gemas. Keduanya saling pandang lekat saat Aaron
meraih jemari tangan Raya yang tadi di gigitnya,
lalu meniupnya perlahan, tidak lama menjilatnya lembut sedikit sensual membuat tubuh Raya berjingkat, matanya yang indah melebar hingga membuat Aaron semakin gemas dan tidak tahan
ingin menerkam istrinya ini. Sementara Ansel
tampak memutar tubuh nya, tidak sanggup
harus melihat keintiman mereka berdua. Aaron
mendekatkan wajahnya ke hadapan Raya yang menatapnya mundur penuh antisipasi.
"Makanan ini cukup enak..! Tapi kau adalah
makanan terlezat yang pernah aku cicipi. Kau
memiliki banyak madu sayang.."
"Aaroonn....! Kamu benar-benar keterlaluan.!"
Raya tidak tahan lagi dia menyuapkan banyak makanan tadi ke mulut Aaron yang langsung kelabakan. Semua asisten yang ada di sana
langsung di buat kalangkabut begitu melihat
Sang Pangeran terbatuk karena kepedasan.
Sementara Raya malah melenggang pergi
meninggalkan suami menyebalkan nya itu
yang sedang di kerubungi para bawahannya.
***
Malam di White House...
Waktu sudah semakin merayap malam. Saat ini
Raya masih tenggelam dalam doa khusyuk nya
seusai menjalankan ibadah sholat isya. Tidak
ada tempat yang paling tepat baginya untuk
mencurahkan segala keluh kesahnya. Dia ingin
memohon petunjuk dan perlindungan Tuhan
untuk hidupnya ke depan. Banyak hal telah dia
lalui selama kurang lebih satu bulan berada di
bawah kekuasaan Aaron, Sang Putra Mahkota
negara asing yang tidak di ketahui nya sama
sekali sedari awal. Terlalu banyak kemelut yang
bersarang dalam hatinya hingga akhirnya kini
dia menyerah, jatuh pada satu titik jenuh. Dia
akan menerima apapun Takdir Tuhan.
Bagaimanapun awalnya, di akui atau tidak,
Aaron adalah takdir hidup yang telah di gariskan
Tuhan untuk datang ke dalam kehidupannya.
Walau dia tidak tahu akan seperti apa akhirnya,
namun satu hal yang pasti sekarang ini hatinya
sudah mulai melemah, dan perlahan akan jatuh
pada satu titik, kesakitan dan kekecewaan.
Dia sadar sepenuhnya ikatan yang terjalin ini
hanyalah sementara. Dirinya tidak mungkin
bisa menautkan hati dengan laki-laki itu yang
sudah jelas adalah calon Raja masa depan
negara ini dan akan bersanding dengan Sang
Putri bangsawan yang begitu menawan.
Raya memejamkan mata, menahan serbuan
rasa sakit yang kini menyesakkan dadanya.
Hatinya semakin teriris tatkala mengingat
saat ini Aaron sedang pergi menghadiri pesta
ulang tahun sebuah perusahaan besar yang
mengharuskan nya datang bersama dengan Catharina.
Tadi siang Aaron mengantarnya pulang. Tapi
pria itu langsung pergi kembali karena masih
banyak urusan yang harus di selesaikan nya.
Laki-laki itu juga melarang dirinya ikut dalam
acara pesta ini mengingat kondisinya yang
tidak stabil. Raya berdiri di balkon kamarnya,
menatap indahnya hamparan rumah-rumah
bercat putih yang bertebaran di depan matanya. Hatinya terasa begitu sepi, berat dan lemah.
Raya menarik napas dalam-dalam. Dia harus
tetap kuat dan tegar seperti biasa. Tapi kenapa
saat ini hatinya terasa begitu melow. Wajah
tampan pria menyebalkan itu terus saja bermain
di pelupuk matanya. Hatinya begitu merindukan
pria itu, sangat merindukannya. Raya memutar
tubuh nya, lebih baik dia tidur untuk melupakan
semua kegelisahan yang di rasakannya ini.
Namun begitu dia membalikkan badannya,
tubuhnya tiba-tiba saja membeku di tempat.
Matanya langsung bersirobos tatap dengan
mata elang sosok tinggi gagah yang sedang
berdiri di ambang pintu, menatapnya teduh
dengan sorot mata yang berbeda.
"A-Aaron.. kau ada di sini.? Bukankah kamu
harus menghadiri pesta bersama Catharina.?"
Suara Raya terdengar lemah dan bergetar
sedikit tidak percaya dengan penglihatannya.
Kenapa pria ini ada di sini ? seharusnya saat
ini dia pergi dengan calon tunangannya.!
Aaron mendekat, melonggarkan dasinya,
tatapan nya terlihat mengunci sosok cantik
Raya yang saat ini sudah berbalut gaun malam
yang sangat indah berbahan sutra halus.Begitu
dekat dia langsung meraih tubuh Raya ke dalam dekapannya, memeluknya sangat erat seraya memejamkan mata, menciumi puncak kepalanya
sambil menghirup kuat aroma lembut nan wangi
yang menguar dari tubuh istrinya itu.
"Aaron.. kenapa kamu kesini.?"
"Aku memutuskan untuk tidak pergi ke pesta
membosankan itu..!"
"Hahh.. bagaimana dengan Catharina.?"
"Ansel yang datang menggantikan posisi ku.!"
"Apa.? Tapi kenapa ? bukankah itu merupakan
agenda dari istana.?"
"Karena aku ingin bersamamu !"
Deg !
Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Jiwa
nya langsung meronta hebat, bagaimana bisa
dia mencoba untuk mengubur rasa itu kalau
laki-laki ini membawanya pada kebimbangan.
"Aaron, seharusnya kau tidak boleh melakukan
semua ini, keluargamu tidak akan suka.."
"Aku tidak peduli. ! Yang aku inginkan adalah
membawa mu ke tempat tidur sekarang juga.!"
Selesai berbicara Aaron langsung mengangkat
tubuh Raya ke dalam gendongannya. Tangan
Raya reflek melingkar di leher kokoh Aaron
dengan tatapan di selimuti ketegangan.
"Aaron..Aku mohon jangan macam-macam.
Tubuhku masih belum stabil."
"Aku akan lebih hati-hati melakukannya.! Kita
akan terbang ke langit ke tujuh bersama.."
"Aaroonn...."
***
__ADS_1
Happy Reading...