
❤️❤️❤️
Aaron menolehkan kepalanya kearah tempat
tidur. Matanya langsung bersirobos tatap
dengan mata sayu Raya. Keduanya kini saling menatap kuat, sorot mata Raya tampak penuh
dengan tanda tanya. Sedang tatapan Aaron di
penuhi emosi. Tidak lama Raya mengarahkan pandangannya pada Ansel yang masih berusaha menetralkan pernafasannya di bantu oleh Alea
dengan cara menepuk halus pundaknya.
"Ansel, apa kau baik-baik saja.?"
Raya berkata dengan suara yang sangat lemah.
Dia berusaha untuk bangkit dari tidurnya dengan menegakkan badannya membuat Ansel maju
sedikit sebagai sinyal peringatan pada Raya.
"Aku tidak apa-apa..Kau tenang saja."
Ujar Ansel seraya menepiskan tangannya
sambil tersenyum setenang mungkin. Wajah
Aaron kini semakin terlihat membesi, hatinya
terbakar hebat oleh kobaran api yang sangat
besar hingga membuat dadanya terasa sesak,
dia kesulitan bernafas. Dia benar-benar tidak
suka melihat Raya memberikan perhatian
lebih pada adik sepupunya itu. Raya terlihat mengamati keadaan Ansel dan meyakinkan
diri kalau pria itu baik-baik saja.
"Apa yang kau lakukan padanya.?"
Dia kini berpaling pada Aaron yang melempar
pandangan ke arah luar dengan wajah kelam.
"Dia sendiri yang mencari gara-gara.!"
"Memangnya apa yang dia lakukan.?"
Aaron melirik kearah Ansel dan Alea yang
kini sudah berdiri kembali dengan tegak.
"Kalian keluar sekarang juga.!"
Aaron memberi perintah tegas membuat dua
bersaudara itu menatapnya ragu. Raya menatap
bergantian kearah Aaron dan dua bersaudara
itu. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang
terjadi hingga suasana tampak sedikit tegang
itu. Dia meyakinkan keduanya agar menuruti
perintah Aaron yang saat ini masih saja terlihat
emosi. Akhirnya mau tidak mau Ansel dan Alea
pergi juga meninggalkan kamar besar itu.
"Apa yang terjadi padamu.? Kenapa kamu
bertindak kasar seperti itu pada Ansel.?"
Aaron langsung menghunuskan tatapan tajam
ke wajah Raya yang tampak semakin bingung.
Dia melangkah mendekati tempat tidur lalu
merangkak naik keatas kasur mengurung
tubuh Raya yang langsung tersentak dan
reflek memundurkan tubuhnya.
"Kau menyukai laki-laki itu.? Kau memiliki
perasaan padanya.?"
Raya tercengang, sebenarnya apa yang terjadi.?
Kenapa Aaron tiba-tiba bertanya seperti itu.?
Dia semakin memundurkan tubuhnya, sedang
mata mereka masih saling menatap kuat.
"A-apa maksudmu.? kenapa kau bertanya hal
seperti itu.?"
"Jangan bertele-tele Maharaya.. Katakan saja
kalau kau menyukainya..!"
"Aku tidak mengerti maksud mu.! lalu apa
yang harus aku katakan.!"
"Kau menyebut namanya dalam tidurmu.!
Kau mengingat nya dalam alam bawah
sadarmu Maharaya.!"
Wajah Raya langsung saja kembali pias, dia
menggelengkan kepalanya kuat.
"Aku tidak tahu apapun.! Bisa saja itu hanya
sebuah reflek saat aku sedang bermimpi.!"
"Ohh jadi kau memimpikan ******** kecil itu ?
Kau sangat mendambakannya.!"
Aaron meraih dagu Raya kemudian di angkat
dan di dekatkan padanya hingga kini wajah
mereka hampir bersentuhan, hal itu membuat
tubuh Raya mulai di serang ketegangan.
"Aaron..kau selalu salah faham. Hal sekecil
apapun selalu menjadi besar di matamu.!"
"Kau tidak boleh memimpikan laki-laki lain.!
Ingat kau adalah istriku.!"
"Aaron.. lepaskan aku.! Aku sadar posisi ku.
Tapi aku punya hak untuk menentukan pilihan
hatiku sendiri. !"
"Untuk saat ini kau tidak punya hak untuk itu.!
Seluruh jiwa raga mu hanya milikku.!"
"Kau egois ! Aku juga berhak bahagia.!"
Tatapan Aaron semakin menyala, bibirnya kini
semakin mendekat, Raya berusaha menjauh,
tapi sayang nya dia tidak punya daya untuk
meronta saat ini, tubuh nya masih kehilangan
tenaga, hanya gestur tubuhnya saja yang bisa
memberi signal penolakan.
"Apa kau pikir laki-laki itu bisa memberimu
kebahagiaan hahh.?"
Mata mereka semakin terpaut dalam , tangan
Raya kini mencoba mendorong dada kokoh
Aaron yang semakin merapat ke tubuh nya.
"Setidaknya dia tidak memberiku penderitaan
dan penyiksaan seperti yang kau lakukan.!"
Aaron terhenyak, wajah super tampan nya kini
berubah semakin kelam. Apa yang terjadi.?
Apakah wanita ini benar-benar memiliki rasa
pada Ansel, tidak ! itu tidak bisa di biarkan.!
"Aku tidak akan membiarkan kau memiliki
perasaan pada pria manapun Raya..!"
Dengan penuh emosi dia memagut bibir Raya,
********** rakus dan liar membuat Raya
meronta dengan memukuli dada Aaron di sisa tenaganya. Namun Aaron tidak peduli, dia
semakin memperdalam ciumannya, menekan
masuk mencoba mengeksplor keseluruhan
bibir manis bermadu itu. Gerakan meronta
Raya semakin lemah, dengan kasar Aaron
melepaskan ciumannya. Wajah Raya saat ini
__ADS_1
tampak memerah di telan kemarahan dan kekecewaan. Keduanya saling menatap kuat,
ada cairan bening yang kini jatuh menyusuri
wajah putih mulusnya.
"Kenap kau memperlakukan aku seperti ini
Aaron.? Sebenarnya apa salahku padamu.?"
Raya bertanya dengan suara yang sangat pelan
dan bergetar, penuh dengan kesakitan. Dan hal
itu langsung menembus hati Aaron, dia terdiam,
masih menatap lekat wajah cantik Raya yang
di penuhi oleh deraian air mata. Dia benar-benar
tidak nyaman melihat wanita ini lagi-lagi harus
mengeluarkan air mata di hadapannya.
Aaron mendengus, kemudian melepaskan tubuh
Raya dari kurungannya. Setelah itu dia turun dari
atas tempat tidur, melangkah cepat kearah kamar mandi. Raya memeluk dirinya, menangis dalam
diam. Hatinya benar-benar remuk redam. Entah
kenapa ada rasa sakit yang membuat jiwanya
seakan tidak utuh lagi. Kenapa laki-laki itu selalu bertindak tanpa berpikir dulu. Dia lelah, sungguh sangat lelah menghadapi sikap kasar dan arogan
yang selalu di perlihatkan oleh Aaron.
Raya kembali merebahkan tubuhnya, kepalanya
kini terasa pening, matanya juga perih karena
terlalu banyak mengeluarkan cairan bening tak
berguna, yang semestinya tidak perlu keluar.
Dia memejamkan mata, mencoba untuk lebih
tenang dan menerima semua kenyataan pahit
ini yang mungkin saja akan menemani sisa
hidupnya ke depan. Tapi dia bertekad, mulai
saat ini, dia tidak boleh lemah lagi di hadapan
laki-laki kejam itu. Dia harus kuat dan bertahan.
Setengah jam kemudian Aaron keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian dengan setelan
hitam-hitam yang membungkus ketat tubuh
gagahnya. Pria itu masuk ke dalam ruangan
sebelah untuk menjalankan kewajibannya.
Dia juga mencoba untuk menenangkan diri
dan memohon ampunan atas segala dosa
yang sampai saat ini masih saja di lakukannya
dan tidak mampu di hindari nya.
Aaron merenung. Memikirkan segala hal yang
terjadi akhir-akhir ini, terutama antara dirinya
dan wanita yang telah menjadi istrinya, Raya..
Sebenarnya apa yang dia inginkan dari wanita
itu sampai dirinya selalu kehilangan kendali saat
ada di dekatnya.? Dari semula dia hanya ingin membuat wanita itu membencinya, agar dia
bisa dengan mudah melepaskan nya. Tapi,
kenapa sekarang semuanya jadi berubah arah
dalam sekejap.? Dia tidak mengerti apa yang
terjadi dengan hatinya.! Yang jelas jiwanya
selalu bergejolak tiap kali ada laki-laki lain
yang memberikan perhatian lebih padanya.
Aaron kembali ke tempat tidur, menatap lekat
wajah Raya yang terlihat sudah mulai tenang
kembali, walau tetap saja masih ada tetesan
air mata yang menuruni wajah bening nya.
Perlahan dia naik ke atas tempat tidur, lalu
berbaring di sebelah Raya yang terlihat tak
dan terpejam rapat.
"Maafkan aku.."
Aaron mengeluarkannya suara dan terdengar
berat. Raya terhenyak dalam diam. Dia membuka
mata, kemudian melirik kearah Aaron. Mereka
saling menatap dalam diam. Aaron mendekat,
Raya masih terdiam tak bereaksi apapun.
Tanpa di duga Aaron merengkuh tubuh lemah
itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat.
Tangis Raya kembali tumpah, jiwanya seakan
jatuh ke dasar keterpurukan, membuat dia
membalas pelukan pria jahat itu, menyusupkan
wajahnya di belahan dada bidang nya, sedang
tangannya tak henti memukuli punggung nya.
"Aku membenci mu..! Kau sudah membuat
seluruh hidupku hancur.. Kenapa kamu tidak
membiarkan aku bebas saja.! Aku ingin pergi
dan menghilang dari dunia ini.!"
Raya mengeluarkan segala unek-uneknya, dia
menangis tersedu meratapi nasib buruknya.
Aaron memejamkan mata, pelukan nya kini
semakin erat. Keduanya seakan tidak sadar,
sudah saling memeluk dalam posisi yang
sangat intim.
"Aku tidak akan melepaskan mu Raya..tidak
akan pernah, sampai kapanpun.."
Aaron berbisik dalam ketidaksadaran nya.
Tubuh Raya membeku, tangisnya tiba-tiba
terhenti, dia mengangkat wajahnya, mata
mereka kembali saling pandang lekat.
"Kau ingin melihatku menderita selamanya.
Kamu benar-benar jahat, kamu jahat..!!
Raya kembali memukuli dada bidang Aaron.
Namun tidak lama Aaron memegang kedua
pergelangan tangan nya membuat gerakan
kasar Raya terhenti. Aaron membawa tangan
Raya ke dekat mulutnya, mengecupnya pelan
dengan tatapan yang semakin dalam mengunci
wajah Raya yang sontak berjingkat menjauh.
"Aku sudah bilang, berdirilah di posisi mu
sekarang dan terima semua nya dengan
ikhlas, maka kau tidak akan menderita.!"
Raya menggeleng kuat, laki-laki ini memang
tidak punya perasaan. Dia egois, dia kejam
dan sangat diktator, arogan.. entah apa lagi
sebutan yang pas untuk di sematkan padanya.
"Kau benar-benar kejam..!"
"Kau sudah tahu itu dari awal.! "
Raya mencoba melepaskan pegangan tangan
Aaron. Tapi kini pinggangnya sudah di tarik
hingga tubuh mereka merapat dan menempel
ketat. Raya mulai merasakan gelagat tidak
beres saat melihat tatapan aneh Aaron.
__ADS_1
"Lepaskan aku.! Aku ingin ke kamar mandi."
"Aku menginginkan mu sekarang..!"
Deg !
Jantung Raya berdetak kencang, wajahnya kini
berubah pucat, ketegangan mulai melandanya.
Tidak, kenapa laki-laki ini tidak melihat kondisi
dirinya saat ini.! Dan kenapa dia selalu saja
menginginkan tubuhnya setiap kali mereka
bersitegang.
"Tidak ! Aku tidak akan mengijinkan mu untuk
memaksaku lagi. Aku tidak bisa..!"
"Aku tidak akan memaksamu, tapi kau sendiri
yang akan memintanya nanti.!"
"Tidak, itu tidak akan terjadi.!"
Raya mendorong dada Aaron sekuatnya lalu
menjuhkan diri dari jangkauan Aaron.
"Baiklah, malam ini aku akan membiarkan
dirimu istirahat, tapi tidak untuk ke depannya.!"
Bibir Aaron menyeringai tipis membuat Raya
bergidik ngeri, dasar laki-laki aneh.! Perlahan
Raya bangkit dan bergerak turun dari atas
tempat tidur.
"Mau kemana kamu..?"
Aaron menatap pergerakkan Raya yang terlihat
masih sangat lemah. Wanita itu tampak berdiri
sedikit limbung.
"Aku belum menjalankan kewajibanku.!"
Aaron melompat dari atas tempat tidur dan
sebelum Raya bergerak laki-laki itu sudah
mengangkat tubuhnya ala bridal style.
"Apa yang kau lakukan.?"
Raya menatap tajam wajah Aaron penuh
antisipasi. Tapi tatapan pria itu lurus ke depan.
"Aku ingin memakanmu di kamar mandi.!"
"Aaron.. turunkan aku.! Aku bisa sendiri.!"
Raya tampak panik luar biasa, tapi pria aneh
itu bergeming dia tetap berjalan masuk ke
dalam kamar mandi, kemudian menurunkan
tubuh lemah Raya setelah ada di dalam. Raya
mundur dengan tatapan tajam kearah Aaron
yang kini maju ke hadapan nya. Tubuhnya
membentur dinding wastafel membuatnya
sudah tidak ada celah lagi untuk meloloskan
diri. Aaron meletakkan kedua tangan kokohnya
di kedua sisi tubuh Raya. Mata mereka kembali
saling menatap kuat. Wajah Aaron mendekat membuat Raya berpaling cepat. Bibir Aaron menyeringai tipis saat ciuman nya mendarat
lembut di pipi mulus Raya yang langsung memejamkan matanya.
"Aaron.. kumohon tinggalkan aku sendiri.."
Desis Raya masih memalingkan wajahnya.
Bibir Aaron kini menjilat lembut daun telinga
Raya yang semakin mengkerut tegang dan
merasakan panas dingin.
"Istirahatlah yang cukup malam ini. Aku akan
pergi, kau akan di awasi oleh para pelayan.!"
Desis Aaron sambil kemudian mengecup
lembut kening Raya yang semakin terpejam
kuat menahan desiran halus yang merasuk
ke dalam tubuh nya. Saat dia membuka mata
sosok laki-laki jahat itu sudah menghilang
tanpa jejak. Raya menghela nafas panjang.
***
Pagi yang cerah di sekitar Kastil..
Matahari kini sudah mengintip dari balik jendela
kamar super luas dengan interior klasik modern
yang serba indah dan eksotis itu. Suara debur
ombak dan kicau burung di lautan seolah jadi
nyanyian alam yang sangat menenangkan.
Raya membuka matanya perlahan, mencoba
untuk mengumpulkan kesadaran dan mengingat kembali semua yang telah terjadi.
"Astagfirullah..aku kesiangan..!"
Raya bergumam sambil mengedarkan matanya
ke seluruh ruangan itu yang sudah terang karena
sinar matahari masuk secara langsung ke dalam.
Dia sedikit terkejut melihat keseluruhan ruangan
ini karena semalam semuanya tidaklah nampak
jelas seperti saat ini. Kamar ini terlihat sangat
luas dan begitu indah serta mewah.
"Tidak..! Sebenarnya ada dimana aku.."
Raya berbisik sendiri sambil kemudian bangkit
dari atas tempat tidur berukuran super besar itu.
"Anda sudah bangun Lady..."
Raya tersentak saat melihat kemunculan 5 orang pelayan berseragam hitam putih kini memasuki ruangan membawakan beberapa paper bag dan
troli makanan. Mereka serempak membungkuk setengah badan di hadapan Raya yang baru saja menapakkan kakinya di lantai.
Raya menatap tajam ke 5 pelayan yang ada di
hadapan nya itu. Siapa orang-orang yang tidak
di kenalnya ini.?
"Si-siapa kalian.? Dan ada dimana aku.?"
Salah seorang pelayan yang berpakaian sedikit
berbeda tampak maju ke hadapan Raya.
"Saya adalah wakil kepala pelayan di kastil ini
Lady.. anda sekarang ada di kediaman pribadi
Prince Marvell.."
"Aaron.. dimana dia sekarang ?"
"Beliau sudah pergi sejak semalam.!"
Jadi benar laki-laki itu semalam langsung pergi
setelah membawanya ke kamar mandi.
"Pergi..? Apa kalian tahu dia pergi kemana.?"
"Mohon maaf Lady.. kami tidak tahu.!"
Raya terdiam, perlahan dia berdiri lalu berjalan
kearah sisi ruangan yang terhalang jendela kaca
besar hampir memenuhi separuh ruang kamar.
Matanya tiba-tiba membulat begitu dia melihat bentangan laut lepas kini terhampar di bawah pandangan matanya. Dirinya ternyata berada di
dalam ruangan paling atas dari bangunan kastil megah ini yang berada diatas bukit dan di kelilingi
oleh lautan berpanorama indah nan eksotis.
Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat indah
dan menakjubkan...
***
Happy Reading...
__ADS_1