Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
48. Lelah


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron menolehkan kepalanya kearah tempat


tidur. Matanya langsung bersirobos tatap


dengan mata sayu Raya. Keduanya kini saling menatap kuat, sorot mata Raya tampak penuh


dengan tanda tanya. Sedang tatapan Aaron di


penuhi emosi. Tidak lama Raya mengarahkan pandangannya pada Ansel yang masih berusaha menetralkan pernafasannya di bantu oleh Alea


dengan cara menepuk halus pundaknya.


"Ansel, apa kau baik-baik saja.?"


Raya berkata dengan suara yang sangat lemah.


Dia berusaha untuk bangkit dari tidurnya dengan menegakkan badannya membuat Ansel maju


sedikit sebagai sinyal peringatan pada Raya.


"Aku tidak apa-apa..Kau tenang saja."


Ujar Ansel seraya menepiskan tangannya


sambil tersenyum setenang mungkin. Wajah


Aaron kini semakin terlihat membesi, hatinya


terbakar hebat oleh kobaran api yang sangat


besar hingga membuat dadanya terasa sesak,


dia kesulitan bernafas. Dia benar-benar tidak


suka melihat Raya memberikan perhatian


lebih pada adik sepupunya itu. Raya terlihat mengamati keadaan Ansel dan meyakinkan


diri kalau pria itu baik-baik saja.


"Apa yang kau lakukan padanya.?"


Dia kini berpaling pada Aaron yang melempar


pandangan ke arah luar dengan wajah kelam.


"Dia sendiri yang mencari gara-gara.!"


"Memangnya apa yang dia lakukan.?"


Aaron melirik kearah Ansel dan Alea yang


kini sudah berdiri kembali dengan tegak.


"Kalian keluar sekarang juga.!"


Aaron memberi perintah tegas membuat dua


bersaudara itu menatapnya ragu. Raya menatap


bergantian kearah Aaron dan dua bersaudara


itu. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang


terjadi hingga suasana tampak sedikit tegang


itu. Dia meyakinkan keduanya agar menuruti


perintah Aaron yang saat ini masih saja terlihat


emosi. Akhirnya mau tidak mau Ansel dan Alea


pergi juga meninggalkan kamar besar itu.


"Apa yang terjadi padamu.? Kenapa kamu


bertindak kasar seperti itu pada Ansel.?"


Aaron langsung menghunuskan tatapan tajam


ke wajah Raya yang tampak semakin bingung.


Dia melangkah mendekati tempat tidur lalu


merangkak naik keatas kasur mengurung


tubuh Raya yang langsung tersentak dan


reflek memundurkan tubuhnya.


"Kau menyukai laki-laki itu.? Kau memiliki


perasaan padanya.?"


Raya tercengang, sebenarnya apa yang terjadi.?


Kenapa Aaron tiba-tiba bertanya seperti itu.?


Dia semakin memundurkan tubuhnya, sedang


mata mereka masih saling menatap kuat.


"A-apa maksudmu.? kenapa kau bertanya hal


seperti itu.?"


"Jangan bertele-tele Maharaya.. Katakan saja


kalau kau menyukainya..!"


"Aku tidak mengerti maksud mu.! lalu apa


yang harus aku katakan.!"


"Kau menyebut namanya dalam tidurmu.!


Kau mengingat nya dalam alam bawah


sadarmu Maharaya.!"


Wajah Raya langsung saja kembali pias, dia


menggelengkan kepalanya kuat.


"Aku tidak tahu apapun.! Bisa saja itu hanya


sebuah reflek saat aku sedang bermimpi.!"


"Ohh jadi kau memimpikan ******** kecil itu ?


Kau sangat mendambakannya.!"


Aaron meraih dagu Raya kemudian di angkat


dan di dekatkan padanya hingga kini wajah


mereka hampir bersentuhan, hal itu membuat


tubuh Raya mulai di serang ketegangan.


"Aaron..kau selalu salah faham. Hal sekecil


apapun selalu menjadi besar di matamu.!"


"Kau tidak boleh memimpikan laki-laki lain.!


Ingat kau adalah istriku.!"


"Aaron.. lepaskan aku.! Aku sadar posisi ku.


Tapi aku punya hak untuk menentukan pilihan


hatiku sendiri. !"


"Untuk saat ini kau tidak punya hak untuk itu.!


Seluruh jiwa raga mu hanya milikku.!"


"Kau egois ! Aku juga berhak bahagia.!"


Tatapan Aaron semakin menyala, bibirnya kini


semakin mendekat, Raya berusaha menjauh,


tapi sayang nya dia tidak punya daya untuk


meronta saat ini, tubuh nya masih kehilangan


tenaga, hanya gestur tubuhnya saja yang bisa


memberi signal penolakan.


"Apa kau pikir laki-laki itu bisa memberimu


kebahagiaan hahh.?"


Mata mereka semakin terpaut dalam , tangan


Raya kini mencoba mendorong dada kokoh


Aaron yang semakin merapat ke tubuh nya.


"Setidaknya dia tidak memberiku penderitaan


dan penyiksaan seperti yang kau lakukan.!"


Aaron terhenyak, wajah super tampan nya kini


berubah semakin kelam. Apa yang terjadi.?


Apakah wanita ini benar-benar memiliki rasa


pada Ansel, tidak ! itu tidak bisa di biarkan.!


"Aku tidak akan membiarkan kau memiliki


perasaan pada pria manapun Raya..!"


Dengan penuh emosi dia memagut bibir Raya,


********** rakus dan liar membuat Raya


meronta dengan memukuli dada Aaron di sisa tenaganya. Namun Aaron tidak peduli, dia


semakin memperdalam ciumannya, menekan


masuk mencoba mengeksplor keseluruhan


bibir manis bermadu itu. Gerakan meronta


Raya semakin lemah, dengan kasar Aaron


melepaskan ciumannya. Wajah Raya saat ini

__ADS_1


tampak memerah di telan kemarahan dan kekecewaan. Keduanya saling menatap kuat,


ada cairan bening yang kini jatuh menyusuri


wajah putih mulusnya.


"Kenap kau memperlakukan aku seperti ini


Aaron.? Sebenarnya apa salahku padamu.?"


Raya bertanya dengan suara yang sangat pelan


dan bergetar, penuh dengan kesakitan. Dan hal


itu langsung menembus hati Aaron, dia terdiam,


masih menatap lekat wajah cantik Raya yang


di penuhi oleh deraian air mata. Dia benar-benar


tidak nyaman melihat wanita ini lagi-lagi harus


mengeluarkan air mata di hadapannya.


Aaron mendengus, kemudian melepaskan tubuh


Raya dari kurungannya. Setelah itu dia turun dari


atas tempat tidur, melangkah cepat kearah kamar mandi. Raya memeluk dirinya, menangis dalam


diam. Hatinya benar-benar remuk redam. Entah


kenapa ada rasa sakit yang membuat jiwanya


seakan tidak utuh lagi. Kenapa laki-laki itu selalu bertindak tanpa berpikir dulu. Dia lelah, sungguh sangat lelah menghadapi sikap kasar dan arogan


yang selalu di perlihatkan oleh Aaron.


Raya kembali merebahkan tubuhnya, kepalanya


kini terasa pening, matanya juga perih karena


terlalu banyak mengeluarkan cairan bening tak


berguna, yang semestinya tidak perlu keluar.


Dia memejamkan mata, mencoba untuk lebih


tenang dan menerima semua kenyataan pahit


ini yang mungkin saja akan menemani sisa


hidupnya ke depan. Tapi dia bertekad, mulai


saat ini, dia tidak boleh lemah lagi di hadapan


laki-laki kejam itu. Dia harus kuat dan bertahan.


Setengah jam kemudian Aaron keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian dengan setelan


hitam-hitam yang membungkus ketat tubuh


gagahnya. Pria itu masuk ke dalam ruangan


sebelah untuk menjalankan kewajibannya.


Dia juga mencoba untuk menenangkan diri


dan memohon ampunan atas segala dosa


yang sampai saat ini masih saja di lakukannya


dan tidak mampu di hindari nya.


Aaron merenung. Memikirkan segala hal yang


terjadi akhir-akhir ini, terutama antara dirinya


dan wanita yang telah menjadi istrinya, Raya..


Sebenarnya apa yang dia inginkan dari wanita


itu sampai dirinya selalu kehilangan kendali saat


ada di dekatnya.? Dari semula dia hanya ingin membuat wanita itu membencinya, agar dia


bisa dengan mudah melepaskan nya. Tapi,


kenapa sekarang semuanya jadi berubah arah


dalam sekejap.? Dia tidak mengerti apa yang


terjadi dengan hatinya.! Yang jelas jiwanya


selalu bergejolak tiap kali ada laki-laki lain


yang memberikan perhatian lebih padanya.


Aaron kembali ke tempat tidur, menatap lekat


wajah Raya yang terlihat sudah mulai tenang


kembali, walau tetap saja masih ada tetesan


air mata yang menuruni wajah bening nya.


Perlahan dia naik ke atas tempat tidur, lalu


berbaring di sebelah Raya yang terlihat tak


dan terpejam rapat.


"Maafkan aku.."


Aaron mengeluarkannya suara dan terdengar


berat. Raya terhenyak dalam diam. Dia membuka


mata, kemudian melirik kearah Aaron. Mereka


saling menatap dalam diam. Aaron mendekat,


Raya masih terdiam tak bereaksi apapun.


Tanpa di duga Aaron merengkuh tubuh lemah


itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat.


Tangis Raya kembali tumpah, jiwanya seakan


jatuh ke dasar keterpurukan, membuat dia


membalas pelukan pria jahat itu, menyusupkan


wajahnya di belahan dada bidang nya, sedang


tangannya tak henti memukuli punggung nya.


"Aku membenci mu..! Kau sudah membuat


seluruh hidupku hancur.. Kenapa kamu tidak


membiarkan aku bebas saja.! Aku ingin pergi


dan menghilang dari dunia ini.!"


Raya mengeluarkan segala unek-uneknya, dia


menangis tersedu meratapi nasib buruknya.


Aaron memejamkan mata, pelukan nya kini


semakin erat. Keduanya seakan tidak sadar,


sudah saling memeluk dalam posisi yang


sangat intim.


"Aku tidak akan melepaskan mu Raya..tidak


akan pernah, sampai kapanpun.."


Aaron berbisik dalam ketidaksadaran nya.


Tubuh Raya membeku, tangisnya tiba-tiba


terhenti, dia mengangkat wajahnya, mata


mereka kembali saling pandang lekat.


"Kau ingin melihatku menderita selamanya.


Kamu benar-benar jahat, kamu jahat..!!


Raya kembali memukuli dada bidang Aaron.


Namun tidak lama Aaron memegang kedua


pergelangan tangan nya membuat gerakan


kasar Raya terhenti. Aaron membawa tangan


Raya ke dekat mulutnya, mengecupnya pelan


dengan tatapan yang semakin dalam mengunci


wajah Raya yang sontak berjingkat menjauh.


"Aku sudah bilang, berdirilah di posisi mu


sekarang dan terima semua nya dengan


ikhlas, maka kau tidak akan menderita.!"


Raya menggeleng kuat, laki-laki ini memang


tidak punya perasaan. Dia egois, dia kejam


dan sangat diktator, arogan.. entah apa lagi


sebutan yang pas untuk di sematkan padanya.


"Kau benar-benar kejam..!"


"Kau sudah tahu itu dari awal.! "


Raya mencoba melepaskan pegangan tangan


Aaron. Tapi kini pinggangnya sudah di tarik


hingga tubuh mereka merapat dan menempel


ketat. Raya mulai merasakan gelagat tidak


beres saat melihat tatapan aneh Aaron.

__ADS_1


"Lepaskan aku.! Aku ingin ke kamar mandi."


"Aku menginginkan mu sekarang..!"


Deg !


Jantung Raya berdetak kencang, wajahnya kini


berubah pucat, ketegangan mulai melandanya.


Tidak, kenapa laki-laki ini tidak melihat kondisi


dirinya saat ini.! Dan kenapa dia selalu saja


menginginkan tubuhnya setiap kali mereka


bersitegang.


"Tidak ! Aku tidak akan mengijinkan mu untuk


memaksaku lagi. Aku tidak bisa..!"


"Aku tidak akan memaksamu, tapi kau sendiri


yang akan memintanya nanti.!"


"Tidak, itu tidak akan terjadi.!"


Raya mendorong dada Aaron sekuatnya lalu


menjuhkan diri dari jangkauan Aaron.


"Baiklah, malam ini aku akan membiarkan


dirimu istirahat, tapi tidak untuk ke depannya.!"


Bibir Aaron menyeringai tipis membuat Raya


bergidik ngeri, dasar laki-laki aneh.! Perlahan


Raya bangkit dan bergerak turun dari atas


tempat tidur.


"Mau kemana kamu..?"


Aaron menatap pergerakkan Raya yang terlihat


masih sangat lemah. Wanita itu tampak berdiri


sedikit limbung.


"Aku belum menjalankan kewajibanku.!"


Aaron melompat dari atas tempat tidur dan


sebelum Raya bergerak laki-laki itu sudah


mengangkat tubuhnya ala bridal style.


"Apa yang kau lakukan.?"


Raya menatap tajam wajah Aaron penuh


antisipasi. Tapi tatapan pria itu lurus ke depan.


"Aku ingin memakanmu di kamar mandi.!"


"Aaron.. turunkan aku.! Aku bisa sendiri.!"


Raya tampak panik luar biasa, tapi pria aneh


itu bergeming dia tetap berjalan masuk ke


dalam kamar mandi, kemudian menurunkan


tubuh lemah Raya setelah ada di dalam. Raya


mundur dengan tatapan tajam kearah Aaron


yang kini maju ke hadapan nya. Tubuhnya


membentur dinding wastafel membuatnya


sudah tidak ada celah lagi untuk meloloskan


diri. Aaron meletakkan kedua tangan kokohnya


di kedua sisi tubuh Raya. Mata mereka kembali


saling menatap kuat. Wajah Aaron mendekat membuat Raya berpaling cepat. Bibir Aaron menyeringai tipis saat ciuman nya mendarat


lembut di pipi mulus Raya yang langsung memejamkan matanya.


"Aaron.. kumohon tinggalkan aku sendiri.."


Desis Raya masih memalingkan wajahnya.


Bibir Aaron kini menjilat lembut daun telinga


Raya yang semakin mengkerut tegang dan


merasakan panas dingin.


"Istirahatlah yang cukup malam ini. Aku akan


pergi, kau akan di awasi oleh para pelayan.!"


Desis Aaron sambil kemudian mengecup


lembut kening Raya yang semakin terpejam


kuat menahan desiran halus yang merasuk


ke dalam tubuh nya. Saat dia membuka mata


sosok laki-laki jahat itu sudah menghilang


tanpa jejak. Raya menghela nafas panjang.


***


Pagi yang cerah di sekitar Kastil..


Matahari kini sudah mengintip dari balik jendela


kamar super luas dengan interior klasik modern


yang serba indah dan eksotis itu. Suara debur


ombak dan kicau burung di lautan seolah jadi


nyanyian alam yang sangat menenangkan.


Raya membuka matanya perlahan, mencoba


untuk mengumpulkan kesadaran dan mengingat kembali semua yang telah terjadi.


"Astagfirullah..aku kesiangan..!"


Raya bergumam sambil mengedarkan matanya


ke seluruh ruangan itu yang sudah terang karena


sinar matahari masuk secara langsung ke dalam.


Dia sedikit terkejut melihat keseluruhan ruangan


ini karena semalam semuanya tidaklah nampak


jelas seperti saat ini. Kamar ini terlihat sangat


luas dan begitu indah serta mewah.


"Tidak..! Sebenarnya ada dimana aku.."


Raya berbisik sendiri sambil kemudian bangkit


dari atas tempat tidur berukuran super besar itu.


"Anda sudah bangun Lady..."


Raya tersentak saat melihat kemunculan 5 orang pelayan berseragam hitam putih kini memasuki ruangan membawakan beberapa paper bag dan


troli makanan. Mereka serempak membungkuk setengah badan di hadapan Raya yang baru saja menapakkan kakinya di lantai.


Raya menatap tajam ke 5 pelayan yang ada di


hadapan nya itu. Siapa orang-orang yang tidak


di kenalnya ini.?


"Si-siapa kalian.? Dan ada dimana aku.?"


Salah seorang pelayan yang berpakaian sedikit


berbeda tampak maju ke hadapan Raya.


"Saya adalah wakil kepala pelayan di kastil ini


Lady.. anda sekarang ada di kediaman pribadi


Prince Marvell.."


"Aaron.. dimana dia sekarang ?"


"Beliau sudah pergi sejak semalam.!"


Jadi benar laki-laki itu semalam langsung pergi


setelah membawanya ke kamar mandi.


"Pergi..? Apa kalian tahu dia pergi kemana.?"


"Mohon maaf Lady.. kami tidak tahu.!"


Raya terdiam, perlahan dia berdiri lalu berjalan


kearah sisi ruangan yang terhalang jendela kaca


besar hampir memenuhi separuh ruang kamar.


Matanya tiba-tiba membulat begitu dia melihat bentangan laut lepas kini terhampar di bawah pandangan matanya. Dirinya ternyata berada di


dalam ruangan paling atas dari bangunan kastil megah ini yang berada diatas bukit dan di kelilingi


oleh lautan berpanorama indah nan eksotis.


Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat indah


dan menakjubkan...


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2