Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
67. Meyakinkan


__ADS_3

Madam Rowena mengerjap, dia mengusap


pelan dadanya dengan tatapan kini terfokus


pada sosok Raya yang masih memeluk erat


tubuh Aaron di tengah isak tangis ketakutannya.


Wanita tua itu menggeleng kuat, dia benar-benar


tidak menduga kalau apa yang dia lihat beberapa


kali dari wanita ini ternyata akan sedahsyat ini


keluarnya. Ya.. tidak salah lagi. Wanita inilah


yang selama ini ada dalam penerawangan nya.


Wanita yang akan mampu melahirkan keturunan


untuk keluarganya. Wanita yang akan sanggup melayani keperkasaan cucu nya dan bahkan


mampu menaklukkan nya.


Namun..untuk jadi seorang ratu masa depan.?? Entahlah..bayangan nya selalu saja kabur..


Lalu, darimana Aaron mendapatkan wanita ini ?


Bahkan pertemuan mereka pun harus melewati


satu tragedi terlebih dahulu. Benar-benar satu


proses yang sangat menarik. !


Aaron balik memeluk erat tubuh Raya sambil


menciumi puncak kepalanya penuh perasaan.


Walaupun tersaput keterkejutan, tapi Aaron


masih mendengar jelas apa yang di racaukan


oleh istrinya itu dalam keadaan paniknya. Dan


kini hatinya teraliri perasaan yang tidak


terjabarkan. Terasa begitu hangat dan tidak


bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Raya menyusupkan wajahnya di antara belahan


dada bidang Aaron dan masih meracau


dalam kecemasannya.


"Aaron..Ibu Suri ingin melenyapkan mu. Semua


ini karena keberadaan ku. Aku selalu membuat


dirimu dalam masalah.."


"Tenanglah..aku tidak apa-apa..! Apa kau pikir


Grandma benar-benar akan melenyapkan ku.?"


"Apa kau tidak lihat yang dia lakukan tadi.?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, Grandma sangat


menyayangiku. Dia hanya menggertakku.!"


"Apa maksudmu, dia tadi menodongkan senjata


padamu Aaron. Dia bersungguh-sungguh.."


"Sstttt...sudah..kau lihat sendiri kan sekarang


aku masih hidup, aku baik-baik saja."


Bisik Aaron sedikit berat sambil mempererat


pelukannya. Namun kini dia menautkan alisnya


saat menyadari tubuh Raya tiba-tiba merosot kehilangan tenaga. Dengan gerakan cepat dia


segera mengangkat tubuh lemah itu ke dalam pangkuannya, Raya tampaknya semaput lagi.


"Grandma..aku akan membawanya ke kamar


agar dia bisa beristirahat. Seharian ini terlalu


banyak tekanan yang di terimanya.!"


"Baiklah.. Grandma akan menyusul kesana.


Ada yang harus kita bahas mengenai istrimu


itu. Ini sangat penting untuk kamu ketahui."


"Baik, aku tunggu di kamar.!"


Aaron segera melangkah lebar keluar dari ruang


kerja di iringi tatapan kompleks mata Sang nenek


yang terlihat menarik nafas berat. Semua fakta


ini akan menjadi persoalan besar di kemudian


hari kalau Aaron keras kepala.


"Gregory.. !"


"Yes Madam.!"


Sang asisten tiba-tiba saja sudah muncul ke


dalam ruangan kemudian berdiri di hadapan


sang majikan yang sangat di segani nya itu.


"Kau pergi ke kamar khusus, ambil kotak yang


aku simpan di lemari besi. Kalung itu harus


aku keluarkan malam ini juga."


"Baik Yang Mulya, saya permisi."


"Hei.. nanti kau langsung saja pergi ke kamar


pribadi Aaron. Aku akan kesana sekarang.!"


"Baik Yang Mulya, laksanakan."


Gregory langsung membungkuk, setelah itu


wanita maskulin yang memilki kemampuan


militer mumpuni itu berlalu pergi keluar dari


ruangan. Ibu Suri memutar tubuhnya kearah


dinding ruang kerja dimana di sana ada satu


lukisan besar mendiang suaminya yang sedang


berdiri gagah dengan pakaian kebesarannya


yang sangat memukau. Raja Allonzo De Enzo,


merupakan generasi ke 3 keluarga De Enzo.


Dia seorang raja yang sangat tampan dan gagah,


di segani di seluruh daratan benua xxx.. Dan


kini semua gen nya hampir seluruhnya turun


pada Sang cucu Aaron Marvell De Enzo.


"Suamiku..apakah wanita ini yang akan mampu


melahirkan keturunan untuk keluarga kita.?


Dia memang punya keistimewaan, tapi sebelum


benih Aaron benar-benar mampu bersemayam


di dalam rahimnya, kita patut meragukan hal ini.


Untuk itu aku akan membuktikannya sekarang."


Gumamnya sambil menatap tenang lukisan


besar mendiang Sang suami dengan sorot


mata penuh pengharapan.


***


Aaron berdiri di pinggir tempat tidur, menatap


tenang wajah cantik Raya yang sedang terbaring nyaman di atas tempat tidur. Sebelumnya dia


telah mengganti pakaian Raya terlebih dahulu


dengan gaun malam agar istrinya itu merasa lebih nyaman dalam tidurnya. Mungkin karena terlalu


lelah dengan segala tekanan serta kejadian yang datang bertubi-tubi, begitu tersadar dari pingsan


nya Raya langsung tertidur lelap. Dia benar-benar butuh istirahat saat ini. Dia lelah, sangat lelah,


jiwa dan raganya.


Aaron menarik napas dalam-dalam, ada banyak


hal yang kini memenuhi pikirannya. Terutama


tentang kejadian barusan. Apakah istrinya ini


memiliki keistimewaan lain dalam dirinya.?


Semacam kekuatan supranatural atau indigo,


atau apalah itu yang di luar jangkauan. Haa..


kenapa semuanya jadi serba tidak masuk akal


begini.? Dirinya sudah merasa cukup takjub


dengan satu keistimewaan yang dimiliki istrinya


ini, lalu yang tadi itu apa ? Apakah hal ini juga


yang telah di lihat oleh dua musuhnya, Eden


Wolf dan Lucas.? Aaron mengacak rambutnya


sendiri masih menatap lekat wajah Raya.


"Istrimu memang memiliki keistimewaan itu,


Hanya tidak di sadari nya. Dan sebaiknya tidak


perlu dia sadari.!"


Aaron melirik kearah sumber suara. Tenyata Ibu


Suri sudah ada di dalam kamar dan kini mendekat kearah tempat tidur lalu berdiri di samping Aaron,


ikut menatap lekat wajah wanita cantik yang baru


di ketahui sebagai cucu menantunya itu.


"Selama ini dia tidak pernah menunjukkan


gejala apapun, bahkan dia wanita yang sangat


lemah dan penakut.! Tapi kenapa tiba-tiba saja


semua ini keluar sekarang ?"


"Ada sesuatu dalam dirinya yang telah menjadi


pemicu keluarnya keistimewaan itu. Ada satu


kesatuan yang sekarang telah terbentuk.!"


Aaron tampak bingung, ucapan neneknya sangat


sulit untuk di fahami. Dia hanya bisa terdiam merenung dan mencoba mencerna perkataan


sang Nenek barusan.


"Minggir, biarkan aku mengecek kondisi nya


untuk meyakinkan sesuatu.!"

__ADS_1


"Grandma..apa yang akan terjadi kalau dia


menyadari semua keistimewaan nya itu.?"


Aaron bergeser, memberi ruang untuk Sang


nenek karena wanita tua itu kini duduk di tepi


tempat tidur, meraih pergelangan tangan Raya


dan mengecek denyut nadi nya.


"Ketenangan nya akan terganggu. Karena apa


yang ada dalam dirinya akan mempengaruhi


emosi dan mood nya. Biarkan saja semua itu


keluar secara alami."


"Pada saat seperti apa kekuatan itu akan keluar


dari dalam dirinya.?"


"Hanya pada saat tertentu saja. Tidak bisa


muncul sesuka hati. Kecuali dia sudah sadar


akan keistimewaan nya itu. Itu juga tidak mudah


karena dia harus belajar mengendalikan nya."


Aaron menarik napas berat sambil melipat kedua


tangan di dadanya. Semua ini memang tidak


mudah untuk di terima akal sehat.


"Tidak usah terlalu di pikirkan. Semua ini tidak


akan menjadi sesuatu yang besar kalau tidak


ada pemicunya. Ketakutan dan keinginan untuk


melindungi lah yang akan mampu mengeluarkan


semua kekuatan itu dari dalam dirinya.!"


Ujar Madam Rowena, dia tampak terdiam, fokus


dengan alis yang terangkat tinggi. Ada reaksi aneh yang kini mewarnai wajah tua nya. Matanya yang bening murni tampak berbinar penuh harapan


tapi berusaha untuk di redam nya dengan


memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Apa yang terjadi Grandma.? Dia baik-baik saja


kan.? Tidak ada yang serius dengannya.?"


"Apa ada sesuatu yang berbeda dengan nya


akhir-akhir ini.?"


Aaron tampak merenung, ekspresi wajah nya


terlihat sedikit aneh, antara geli dan kesal.


"Beberapa hari ini dia memang sedikit aneh.


Selalu saja menjengkelkan.!"


Raut wajah Madam Rowena terlihat berbeda.


Seolah tidak bisa mempercayai sesuatu tapi


hal itu benar-benar terjadi. Dia melepaskan


pegangan tangannya di tangan Raya, beralih


mengecek suhu kening dan bagian tengkuknya.


"Dia baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Mulai


besok kau harus lebih berhati-hati menjaganya.


Tingkatkan sistem pengawalan padanya dan


tempatkan pasukan bayangan mu.!"


Aaron menatap tajam wajah sang nenek yang


terlihat sangat serius itu. Ada apa sebenarnya.?


Ke dalam ruangan muncul Gregory, kemudian


membungkuk di hadapan Aaron dan Madam


Rowena.


"Madam.. saya sudah membawa barang


yang anda inginkan."


Gregory mengulurkan kotak beludru warna biru


ke hadapan Madam Rowena yang langsung


menyambut dan membukanya. Ada kilauan


cahaya yang keluar dari kotak perhiasan itu.


Raya terlihat membuka matanya karena merasa


sedikit terganggu oleh percakapan yang terjadi.


"Y-yang Mulya..anda ada di sini.?"


Wajah Raya langsung saja pias, dia menyibak


selimut dan segera bangkit dari tidurnya lalu


bergerak berniat untuk turun dari tempat tidur.


"Tetaplah di tempat tidur. Kau harus lebih banyak


istirahat, tidak boleh terlalu cape. Mulai besok kau tidak boleh lagi bekerja di kantor Aaron.Kau hanya boleh mendampingi Aaron pada acara tertentu saja..!"


Raya terdiam, membeku, begitupun dengan Aaron. Mendengar rentetan perintah dari Ibu Suri mereka berdua tampak bengong.


"Maafkan saya Yang Mulya.. saya tidak tahu


Raya duduk bersimpuh di atas kasur sambil


menundukkan kepala penuh hormat.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Dan


sekarang semuanya sudah terang benderang."


Raya terdiam, sungguh dia tidak mengerti apa


sebenarnya yang sedang berlaku. Apakah Ibu


Suri akan kembali meminta Aaron untuk


mengembalikan dirinya ke tempat asalnya.?


Raya tersentak ketika tiba-tiba Ibu Suri bergerak


maju ke hadapannya dan sebelum dia menyadari


apa yang terjadi tangan Ibu Suri sudah bergerak melingkarkan sebuah kalung indah bertahtakan berlian cantik bermata biru laut ke lehernya.


Raya tampak menatap bengong kalung yang


sangat indah itu.


"Y-Yang Mulya..a-apa ini..?"


"Aku titipkan kalung ini padamu Lady De Enzo.


Untuk sekarang bertahanlah pada posisi ini


sampai takdir Tuhan membawamu pada jalan


yang sesungguhnya.!"


Ucap Madam Rowena penuh ketegasan dan


terkesan sangat dalam. Raya masih membeku


di tempatnya bersimpuh dengan keterkejutan


yang sangat kentara. Begitupun dengan Aaron,


dia tampak terpaku melihat Ibu Suri memberikan kalung berlian bermata biru itu pada Raya. Apa


dia tidak salah.? Bukankah kalung itu sangat


berharga bagi seorang Madam Rowena.? Lalu


apa semua ini.? Apakah ini artinya Sang nenek


sudah menerima kehadiran Raya.?


"Aaron.. semua ini tidak akan mudah. Status


istrimu harus tetap di rahasiakan dari publik.


Alfred Winston menguasai kepercayaan rakyat


hampir seluruhnya. Dia juga pria yang penuh


ambisi. Kita tidak bisa gegabah dalam bertindak.!"


Aaron dan Raya terdiam, namun rahang Aaron


tampak mengeras dengan raut wajah yang kini


terlihat sangat dingin.


"Jalankan semua yang sudah di tentukan oleh


istana. Karena itu adalah sebuah kepastian.!"


Tegas Ibu Suri sambil kemudian bangkit berdiri.


Menatap Aaron dan Raya bergantian. Raya kini


semakin menundukkan kepala. Apakah Ibu Suri


menerima dirinya.? Namun tetap saja, nasibnya sebagai istri bayangan Aaron sepertinya sudah


tertulis dalam garis takdir nya.


"Sekarang kalian istirahatlah..Hari esok masih


sangat panjang.! Kau harus lebih siap dalam


menjalankan hari-hari mu ke depan."


Madam Rowena mengelus rambut indah Raya


setelah itu berlalu pergi, keluar dari dalam kamar


di iringi tatapan Aaron dan Raya yang kini berada


pada mode tidak tentu arah..


***


Beberapa hari terakhir ini sudah terlalu banyak peristiwa yang menguras emosi dan perasaan.


Kalau harus di pikirkan mungkin semua ini akan


terasa sangat berat dan rumit bagi seorang Raya.


Namun dia adalah seorang wanita yang memiliki


pemikiran jauh ke depan dan tidak pernah ingin


menjadikan masa lalu sebagai beban. Hidupnya


hari ini adalah kenyataan yang harus di jalaninya


walau sepahit apapun itu..


Kenyataan bahwa dia adalah istri seorang Aaron,


Putra Mahkota kerajaan xxx.. namun tidak di akui


di publik memang agak sedikit menggangu hati


dan pikirannya. Namun inilah yang terbaik bagi


dirinya dan Aaron untuk saat ini. Negara ini punya

__ADS_1


peraturan tersendiri. Dan istana pun punya adat


serta ketentuan tersendiri dalam mengatur soal


kedudukan dan tahta generasi penerusnya.


Dia harus fokus untuk hari ini, karena Aaron ada


agenda penting istana, yakni membuka sekaligus


meresmikan pengoperasian kereta api cepat yang akan menjadi penghubung negara ini dengan beberapa negara di bagian utara benua ini. Kereta


ini juga merupakan proyek luar biasa yang telah menghabiskan dana triliunan. Semua itu karena


kereta ini memilki jalur yang sangat panjang dan sedikit ekstrim, sebab harus melintasi perbukitan


serta pegunungan salju yang menyajikan view


eksotis dan menakjubkan di setiap titik dan pusat


persimpangannya. Dan hal itu merupakan salah


satu daya tarik tersendiri bagi para pengguna


kereta canggih ini.


Sekitar pukul 10 pagi iring-iringan mobil yang


membawa Putra Mahkota bersama rombongan


yang terdiri dari beberapa senator dan staf dari


istana serta para pengusaha besar yang akan


ikut menjajal kecanggihan kereta ini akhirnya


mendekat ke lokasi pembukaan. Rombongan


ini di kawal oleh puluhan patwal dan beberapa


satuan prajurit pengawal yang mengendara


mobil pelindung.


Rombongan mobil-mobil mewah itu kini sudah


memasuki kawasan stasiun di sambut meriah


oleh masyarakat yang sudah berjubel memadati


area stasiun karena mereka ingin melihat proses


pembukaan ini, terutama ingin melihat Putra


Mahkota yang super tampan itu.


Dalam Limosin super mewah yang membawa


Aaron dan Raya, saat ini Aaron terlihat sedang memakaikan mantel tebal warna krem dengan


bahan yang sangat halus dan lembut ke tubuh


Raya begitu mobil mereka semakin mendekat


ke lokasi stasiun megah yang akan menjadi


tempat utama pembukaan.


"Aaron..apa kita benar-benar harus mencoba


naik kereta nantinya.? Bisakah kita langsung


pergi saja setelah kamu selesai dengan acara


utamanya.?"


"Kenapa.? Kau tidak suka naik kereta ?"


"Bukan itu.. aku hanya.. tidak enak.. badan.."


Lirih Raya dengan tatapan yang mengambang.


Sebenarnya dari bangun tidur tadi dia sudah


merasakan tidak enak hati, rasanya sangat


tidak nyaman.


"Kau bisa istirahat di dalam kereta nanti. Aku


harus memastikan bahwa kereta cepat ini


benar-benar telah siap untuk di operasikan.!"


Raya menatap lekat wajah super tampan Aaron


yang hari ini tampak sangat gagah dan segar


dalam balutan jas mewah serta rambut yang


tersisir rapi dengan garis rahang yang sangat


tegas. Rasa tidak nyaman itu semakin melanda


membuat dia menarik napas panjang mencoba


untuk menenangkan diri. Selain perasaan tidak


nyaman, ada perasaan tidak rela juga dalam


hatinya saat mengingat hari ini Aaron akan


kembali menampakkan diri di depan publik,


dan sudah di pastikan ketampanan suaminya


ini akan menjadi objek pandangan publik.


Semua orang dengan bebas bisa menikmati


pesona ketampanan nya. Hatinya benar-benar


tidak rela rasanya.


"Aaron..bisakah kau memakai masker saat


keluar nanti.? "


Aaron merapihkan mantel yang di pakai Raya.


Kemudian menatap lekat wajah istrinya dengan


seringai kecil di bibirnya.


"Kenapa.? Apa kau tidak rela aku di pandang


oleh wanita lain.?"


"Tidak.! Kamu itu kan milik rakyat mu. Dan


aku hanyalah seorang yang kebetulan ada


di belakangmu.."


"Tapi seseorang yang ada di belakangku itu


adalah orang yang sangat berarti untuk semua keberhasilan dan kesuksesanku ke depan.."


"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi.."


"Tidak ada yang tidak mungkin.!"


"Aaron.. kita sudah sampai. Kau harus segera


turun dan menyapa semua masyarakat."


"Bisakah kita berdiam diri sebentar lagi di dalam


sini.? Aku malas melayani mereka semua.!"


"Seorang calon pemimpin harus siap dengan


situasi dan kondisi apapun.! Ayolah Aaron.."


"Kalau begitu berikan aku suntikan vitamin


dahsyat mu sebelum turun.!"


Bisik Aaron sambil meraup wajah cantik Raya,


menatapnya lekat dengan sorot mata yang


terlihat sangat dalam. Semalaman dia sudah


membebaskan istrinya itu tanpa serangannya


dan saat ini rasanya dia tidak tahan lagi ingin


menerkam dan memakannya, kalau mungkin


saat ini juga, di dalam mobil ini. Wajah Raya


tampak memerah, apa sih maunya pria ini.?


"Aaron..ayo turun.. mereka sudah menunggu.."


"Berikan sekarang Maharaya.."


Raya menatap jengah wajah Aaron yang terlihat


mulai mengirimkan sinyal ancaman. Dengan


sedikit kesal akhirnya dia mendekatkan wajah


dan menatap lekat bibir seksi Aaron yang terlihat


merah alami itu, sangat menggoda. Perlahan dia


mengecup lembut bibir itu sambil memejamkan


mata, namun dia tersentak saat Aaron tiba-tiba


memagut bibirnya dengan ganas. Raya mencoba melepaskan ciuman rakus Aaron namun pria itu


sudah terlanjur menguasai seluruh bibirnya, dan


akhirnya dia hanya bisa pasrah. Keduanya kini terhanyut dalam ciuman lembut dan manis yang mampu memanaskan suhu tubuh dalam sekejap.


"Emmhh.. Aaron sudah..!"


Raya mendorong dada Aaron untuk mengakhiri


serangan brutalnya itu. Wajah Aaron terlihat


memerah dengan sorot mata yang sangat berat.


"Aku menginginkan mu sekarang Raya.."


"Aaron.. hentikan.! Kita harus keluar sekarang."


Raya mendelik kesal sambil merapihkan rambut


dan pakaiannya. Aaron menyeringai tipis sambil kembali ******* kuat bibir Raya yang langsung


membulatkan matanya.


"Aaroonn... kamu ini ya, benar-benar tidak


tahu situasi, menyebalkan.!"


Decak Raya jengkel, sementara Aaron terlihat


acuh, menegakkan badannya dan merapihkan


kembali pakaiannya, bersiap untuk segera turun


untuk melaksanakan agenda penting ini..


***


Note:


Dear Readers...


Sebelumnya aku minta **maaf kalau sekarang


ini Up nya terbatas. Hanya bisa I sampai 2 bab


sehari. Karena kesibukan dan rutinitas harian


yang sudah kembali normal, jadi waktu luang ku


juga terbatas..🙏


Mohon kesabaran dan pengertiannya yaa..


Terimakasih atas dukungan kalian semua

__ADS_1


selama ini..Tq so much & love U all..🙏🤗😘**


__ADS_2