
Madam Rowena mengerjap, dia mengusap
pelan dadanya dengan tatapan kini terfokus
pada sosok Raya yang masih memeluk erat
tubuh Aaron di tengah isak tangis ketakutannya.
Wanita tua itu menggeleng kuat, dia benar-benar
tidak menduga kalau apa yang dia lihat beberapa
kali dari wanita ini ternyata akan sedahsyat ini
keluarnya. Ya.. tidak salah lagi. Wanita inilah
yang selama ini ada dalam penerawangan nya.
Wanita yang akan mampu melahirkan keturunan
untuk keluarganya. Wanita yang akan sanggup melayani keperkasaan cucu nya dan bahkan
mampu menaklukkan nya.
Namun..untuk jadi seorang ratu masa depan.?? Entahlah..bayangan nya selalu saja kabur..
Lalu, darimana Aaron mendapatkan wanita ini ?
Bahkan pertemuan mereka pun harus melewati
satu tragedi terlebih dahulu. Benar-benar satu
proses yang sangat menarik. !
Aaron balik memeluk erat tubuh Raya sambil
menciumi puncak kepalanya penuh perasaan.
Walaupun tersaput keterkejutan, tapi Aaron
masih mendengar jelas apa yang di racaukan
oleh istrinya itu dalam keadaan paniknya. Dan
kini hatinya teraliri perasaan yang tidak
terjabarkan. Terasa begitu hangat dan tidak
bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Raya menyusupkan wajahnya di antara belahan
dada bidang Aaron dan masih meracau
dalam kecemasannya.
"Aaron..Ibu Suri ingin melenyapkan mu. Semua
ini karena keberadaan ku. Aku selalu membuat
dirimu dalam masalah.."
"Tenanglah..aku tidak apa-apa..! Apa kau pikir
Grandma benar-benar akan melenyapkan ku.?"
"Apa kau tidak lihat yang dia lakukan tadi.?"
"Itu tidak akan pernah terjadi, Grandma sangat
menyayangiku. Dia hanya menggertakku.!"
"Apa maksudmu, dia tadi menodongkan senjata
padamu Aaron. Dia bersungguh-sungguh.."
"Sstttt...sudah..kau lihat sendiri kan sekarang
aku masih hidup, aku baik-baik saja."
Bisik Aaron sedikit berat sambil mempererat
pelukannya. Namun kini dia menautkan alisnya
saat menyadari tubuh Raya tiba-tiba merosot kehilangan tenaga. Dengan gerakan cepat dia
segera mengangkat tubuh lemah itu ke dalam pangkuannya, Raya tampaknya semaput lagi.
"Grandma..aku akan membawanya ke kamar
agar dia bisa beristirahat. Seharian ini terlalu
banyak tekanan yang di terimanya.!"
"Baiklah.. Grandma akan menyusul kesana.
Ada yang harus kita bahas mengenai istrimu
itu. Ini sangat penting untuk kamu ketahui."
"Baik, aku tunggu di kamar.!"
Aaron segera melangkah lebar keluar dari ruang
kerja di iringi tatapan kompleks mata Sang nenek
yang terlihat menarik nafas berat. Semua fakta
ini akan menjadi persoalan besar di kemudian
hari kalau Aaron keras kepala.
"Gregory.. !"
"Yes Madam.!"
Sang asisten tiba-tiba saja sudah muncul ke
dalam ruangan kemudian berdiri di hadapan
sang majikan yang sangat di segani nya itu.
"Kau pergi ke kamar khusus, ambil kotak yang
aku simpan di lemari besi. Kalung itu harus
aku keluarkan malam ini juga."
"Baik Yang Mulya, saya permisi."
"Hei.. nanti kau langsung saja pergi ke kamar
pribadi Aaron. Aku akan kesana sekarang.!"
"Baik Yang Mulya, laksanakan."
Gregory langsung membungkuk, setelah itu
wanita maskulin yang memilki kemampuan
militer mumpuni itu berlalu pergi keluar dari
ruangan. Ibu Suri memutar tubuhnya kearah
dinding ruang kerja dimana di sana ada satu
lukisan besar mendiang suaminya yang sedang
berdiri gagah dengan pakaian kebesarannya
yang sangat memukau. Raja Allonzo De Enzo,
merupakan generasi ke 3 keluarga De Enzo.
Dia seorang raja yang sangat tampan dan gagah,
di segani di seluruh daratan benua xxx.. Dan
kini semua gen nya hampir seluruhnya turun
pada Sang cucu Aaron Marvell De Enzo.
"Suamiku..apakah wanita ini yang akan mampu
melahirkan keturunan untuk keluarga kita.?
Dia memang punya keistimewaan, tapi sebelum
benih Aaron benar-benar mampu bersemayam
di dalam rahimnya, kita patut meragukan hal ini.
Untuk itu aku akan membuktikannya sekarang."
Gumamnya sambil menatap tenang lukisan
besar mendiang Sang suami dengan sorot
mata penuh pengharapan.
***
Aaron berdiri di pinggir tempat tidur, menatap
tenang wajah cantik Raya yang sedang terbaring nyaman di atas tempat tidur. Sebelumnya dia
telah mengganti pakaian Raya terlebih dahulu
dengan gaun malam agar istrinya itu merasa lebih nyaman dalam tidurnya. Mungkin karena terlalu
lelah dengan segala tekanan serta kejadian yang datang bertubi-tubi, begitu tersadar dari pingsan
nya Raya langsung tertidur lelap. Dia benar-benar butuh istirahat saat ini. Dia lelah, sangat lelah,
jiwa dan raganya.
Aaron menarik napas dalam-dalam, ada banyak
hal yang kini memenuhi pikirannya. Terutama
tentang kejadian barusan. Apakah istrinya ini
memiliki keistimewaan lain dalam dirinya.?
Semacam kekuatan supranatural atau indigo,
atau apalah itu yang di luar jangkauan. Haa..
kenapa semuanya jadi serba tidak masuk akal
begini.? Dirinya sudah merasa cukup takjub
dengan satu keistimewaan yang dimiliki istrinya
ini, lalu yang tadi itu apa ? Apakah hal ini juga
yang telah di lihat oleh dua musuhnya, Eden
Wolf dan Lucas.? Aaron mengacak rambutnya
sendiri masih menatap lekat wajah Raya.
"Istrimu memang memiliki keistimewaan itu,
Hanya tidak di sadari nya. Dan sebaiknya tidak
perlu dia sadari.!"
Aaron melirik kearah sumber suara. Tenyata Ibu
Suri sudah ada di dalam kamar dan kini mendekat kearah tempat tidur lalu berdiri di samping Aaron,
ikut menatap lekat wajah wanita cantik yang baru
di ketahui sebagai cucu menantunya itu.
"Selama ini dia tidak pernah menunjukkan
gejala apapun, bahkan dia wanita yang sangat
lemah dan penakut.! Tapi kenapa tiba-tiba saja
semua ini keluar sekarang ?"
"Ada sesuatu dalam dirinya yang telah menjadi
pemicu keluarnya keistimewaan itu. Ada satu
kesatuan yang sekarang telah terbentuk.!"
Aaron tampak bingung, ucapan neneknya sangat
sulit untuk di fahami. Dia hanya bisa terdiam merenung dan mencoba mencerna perkataan
sang Nenek barusan.
"Minggir, biarkan aku mengecek kondisi nya
untuk meyakinkan sesuatu.!"
__ADS_1
"Grandma..apa yang akan terjadi kalau dia
menyadari semua keistimewaan nya itu.?"
Aaron bergeser, memberi ruang untuk Sang
nenek karena wanita tua itu kini duduk di tepi
tempat tidur, meraih pergelangan tangan Raya
dan mengecek denyut nadi nya.
"Ketenangan nya akan terganggu. Karena apa
yang ada dalam dirinya akan mempengaruhi
emosi dan mood nya. Biarkan saja semua itu
keluar secara alami."
"Pada saat seperti apa kekuatan itu akan keluar
dari dalam dirinya.?"
"Hanya pada saat tertentu saja. Tidak bisa
muncul sesuka hati. Kecuali dia sudah sadar
akan keistimewaan nya itu. Itu juga tidak mudah
karena dia harus belajar mengendalikan nya."
Aaron menarik napas berat sambil melipat kedua
tangan di dadanya. Semua ini memang tidak
mudah untuk di terima akal sehat.
"Tidak usah terlalu di pikirkan. Semua ini tidak
akan menjadi sesuatu yang besar kalau tidak
ada pemicunya. Ketakutan dan keinginan untuk
melindungi lah yang akan mampu mengeluarkan
semua kekuatan itu dari dalam dirinya.!"
Ujar Madam Rowena, dia tampak terdiam, fokus
dengan alis yang terangkat tinggi. Ada reaksi aneh yang kini mewarnai wajah tua nya. Matanya yang bening murni tampak berbinar penuh harapan
tapi berusaha untuk di redam nya dengan
memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Apa yang terjadi Grandma.? Dia baik-baik saja
kan.? Tidak ada yang serius dengannya.?"
"Apa ada sesuatu yang berbeda dengan nya
akhir-akhir ini.?"
Aaron tampak merenung, ekspresi wajah nya
terlihat sedikit aneh, antara geli dan kesal.
"Beberapa hari ini dia memang sedikit aneh.
Selalu saja menjengkelkan.!"
Raut wajah Madam Rowena terlihat berbeda.
Seolah tidak bisa mempercayai sesuatu tapi
hal itu benar-benar terjadi. Dia melepaskan
pegangan tangannya di tangan Raya, beralih
mengecek suhu kening dan bagian tengkuknya.
"Dia baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Mulai
besok kau harus lebih berhati-hati menjaganya.
Tingkatkan sistem pengawalan padanya dan
tempatkan pasukan bayangan mu.!"
Aaron menatap tajam wajah sang nenek yang
terlihat sangat serius itu. Ada apa sebenarnya.?
Ke dalam ruangan muncul Gregory, kemudian
membungkuk di hadapan Aaron dan Madam
Rowena.
"Madam.. saya sudah membawa barang
yang anda inginkan."
Gregory mengulurkan kotak beludru warna biru
ke hadapan Madam Rowena yang langsung
menyambut dan membukanya. Ada kilauan
cahaya yang keluar dari kotak perhiasan itu.
Raya terlihat membuka matanya karena merasa
sedikit terganggu oleh percakapan yang terjadi.
"Y-yang Mulya..anda ada di sini.?"
Wajah Raya langsung saja pias, dia menyibak
selimut dan segera bangkit dari tidurnya lalu
bergerak berniat untuk turun dari tempat tidur.
"Tetaplah di tempat tidur. Kau harus lebih banyak
istirahat, tidak boleh terlalu cape. Mulai besok kau tidak boleh lagi bekerja di kantor Aaron.Kau hanya boleh mendampingi Aaron pada acara tertentu saja..!"
Raya terdiam, membeku, begitupun dengan Aaron. Mendengar rentetan perintah dari Ibu Suri mereka berdua tampak bengong.
"Maafkan saya Yang Mulya.. saya tidak tahu
Raya duduk bersimpuh di atas kasur sambil
menundukkan kepala penuh hormat.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Dan
sekarang semuanya sudah terang benderang."
Raya terdiam, sungguh dia tidak mengerti apa
sebenarnya yang sedang berlaku. Apakah Ibu
Suri akan kembali meminta Aaron untuk
mengembalikan dirinya ke tempat asalnya.?
Raya tersentak ketika tiba-tiba Ibu Suri bergerak
maju ke hadapannya dan sebelum dia menyadari
apa yang terjadi tangan Ibu Suri sudah bergerak melingkarkan sebuah kalung indah bertahtakan berlian cantik bermata biru laut ke lehernya.
Raya tampak menatap bengong kalung yang
sangat indah itu.
"Y-Yang Mulya..a-apa ini..?"
"Aku titipkan kalung ini padamu Lady De Enzo.
Untuk sekarang bertahanlah pada posisi ini
sampai takdir Tuhan membawamu pada jalan
yang sesungguhnya.!"
Ucap Madam Rowena penuh ketegasan dan
terkesan sangat dalam. Raya masih membeku
di tempatnya bersimpuh dengan keterkejutan
yang sangat kentara. Begitupun dengan Aaron,
dia tampak terpaku melihat Ibu Suri memberikan kalung berlian bermata biru itu pada Raya. Apa
dia tidak salah.? Bukankah kalung itu sangat
berharga bagi seorang Madam Rowena.? Lalu
apa semua ini.? Apakah ini artinya Sang nenek
sudah menerima kehadiran Raya.?
"Aaron.. semua ini tidak akan mudah. Status
istrimu harus tetap di rahasiakan dari publik.
Alfred Winston menguasai kepercayaan rakyat
hampir seluruhnya. Dia juga pria yang penuh
ambisi. Kita tidak bisa gegabah dalam bertindak.!"
Aaron dan Raya terdiam, namun rahang Aaron
tampak mengeras dengan raut wajah yang kini
terlihat sangat dingin.
"Jalankan semua yang sudah di tentukan oleh
istana. Karena itu adalah sebuah kepastian.!"
Tegas Ibu Suri sambil kemudian bangkit berdiri.
Menatap Aaron dan Raya bergantian. Raya kini
semakin menundukkan kepala. Apakah Ibu Suri
menerima dirinya.? Namun tetap saja, nasibnya sebagai istri bayangan Aaron sepertinya sudah
tertulis dalam garis takdir nya.
"Sekarang kalian istirahatlah..Hari esok masih
sangat panjang.! Kau harus lebih siap dalam
menjalankan hari-hari mu ke depan."
Madam Rowena mengelus rambut indah Raya
setelah itu berlalu pergi, keluar dari dalam kamar
di iringi tatapan Aaron dan Raya yang kini berada
pada mode tidak tentu arah..
***
Beberapa hari terakhir ini sudah terlalu banyak peristiwa yang menguras emosi dan perasaan.
Kalau harus di pikirkan mungkin semua ini akan
terasa sangat berat dan rumit bagi seorang Raya.
Namun dia adalah seorang wanita yang memiliki
pemikiran jauh ke depan dan tidak pernah ingin
menjadikan masa lalu sebagai beban. Hidupnya
hari ini adalah kenyataan yang harus di jalaninya
walau sepahit apapun itu..
Kenyataan bahwa dia adalah istri seorang Aaron,
Putra Mahkota kerajaan xxx.. namun tidak di akui
di publik memang agak sedikit menggangu hati
dan pikirannya. Namun inilah yang terbaik bagi
dirinya dan Aaron untuk saat ini. Negara ini punya
__ADS_1
peraturan tersendiri. Dan istana pun punya adat
serta ketentuan tersendiri dalam mengatur soal
kedudukan dan tahta generasi penerusnya.
Dia harus fokus untuk hari ini, karena Aaron ada
agenda penting istana, yakni membuka sekaligus
meresmikan pengoperasian kereta api cepat yang akan menjadi penghubung negara ini dengan beberapa negara di bagian utara benua ini. Kereta
ini juga merupakan proyek luar biasa yang telah menghabiskan dana triliunan. Semua itu karena
kereta ini memilki jalur yang sangat panjang dan sedikit ekstrim, sebab harus melintasi perbukitan
serta pegunungan salju yang menyajikan view
eksotis dan menakjubkan di setiap titik dan pusat
persimpangannya. Dan hal itu merupakan salah
satu daya tarik tersendiri bagi para pengguna
kereta canggih ini.
Sekitar pukul 10 pagi iring-iringan mobil yang
membawa Putra Mahkota bersama rombongan
yang terdiri dari beberapa senator dan staf dari
istana serta para pengusaha besar yang akan
ikut menjajal kecanggihan kereta ini akhirnya
mendekat ke lokasi pembukaan. Rombongan
ini di kawal oleh puluhan patwal dan beberapa
satuan prajurit pengawal yang mengendara
mobil pelindung.
Rombongan mobil-mobil mewah itu kini sudah
memasuki kawasan stasiun di sambut meriah
oleh masyarakat yang sudah berjubel memadati
area stasiun karena mereka ingin melihat proses
pembukaan ini, terutama ingin melihat Putra
Mahkota yang super tampan itu.
Dalam Limosin super mewah yang membawa
Aaron dan Raya, saat ini Aaron terlihat sedang memakaikan mantel tebal warna krem dengan
bahan yang sangat halus dan lembut ke tubuh
Raya begitu mobil mereka semakin mendekat
ke lokasi stasiun megah yang akan menjadi
tempat utama pembukaan.
"Aaron..apa kita benar-benar harus mencoba
naik kereta nantinya.? Bisakah kita langsung
pergi saja setelah kamu selesai dengan acara
utamanya.?"
"Kenapa.? Kau tidak suka naik kereta ?"
"Bukan itu.. aku hanya.. tidak enak.. badan.."
Lirih Raya dengan tatapan yang mengambang.
Sebenarnya dari bangun tidur tadi dia sudah
merasakan tidak enak hati, rasanya sangat
tidak nyaman.
"Kau bisa istirahat di dalam kereta nanti. Aku
harus memastikan bahwa kereta cepat ini
benar-benar telah siap untuk di operasikan.!"
Raya menatap lekat wajah super tampan Aaron
yang hari ini tampak sangat gagah dan segar
dalam balutan jas mewah serta rambut yang
tersisir rapi dengan garis rahang yang sangat
tegas. Rasa tidak nyaman itu semakin melanda
membuat dia menarik napas panjang mencoba
untuk menenangkan diri. Selain perasaan tidak
nyaman, ada perasaan tidak rela juga dalam
hatinya saat mengingat hari ini Aaron akan
kembali menampakkan diri di depan publik,
dan sudah di pastikan ketampanan suaminya
ini akan menjadi objek pandangan publik.
Semua orang dengan bebas bisa menikmati
pesona ketampanan nya. Hatinya benar-benar
tidak rela rasanya.
"Aaron..bisakah kau memakai masker saat
keluar nanti.? "
Aaron merapihkan mantel yang di pakai Raya.
Kemudian menatap lekat wajah istrinya dengan
seringai kecil di bibirnya.
"Kenapa.? Apa kau tidak rela aku di pandang
oleh wanita lain.?"
"Tidak.! Kamu itu kan milik rakyat mu. Dan
aku hanyalah seorang yang kebetulan ada
di belakangmu.."
"Tapi seseorang yang ada di belakangku itu
adalah orang yang sangat berarti untuk semua keberhasilan dan kesuksesanku ke depan.."
"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi.."
"Tidak ada yang tidak mungkin.!"
"Aaron.. kita sudah sampai. Kau harus segera
turun dan menyapa semua masyarakat."
"Bisakah kita berdiam diri sebentar lagi di dalam
sini.? Aku malas melayani mereka semua.!"
"Seorang calon pemimpin harus siap dengan
situasi dan kondisi apapun.! Ayolah Aaron.."
"Kalau begitu berikan aku suntikan vitamin
dahsyat mu sebelum turun.!"
Bisik Aaron sambil meraup wajah cantik Raya,
menatapnya lekat dengan sorot mata yang
terlihat sangat dalam. Semalaman dia sudah
membebaskan istrinya itu tanpa serangannya
dan saat ini rasanya dia tidak tahan lagi ingin
menerkam dan memakannya, kalau mungkin
saat ini juga, di dalam mobil ini. Wajah Raya
tampak memerah, apa sih maunya pria ini.?
"Aaron..ayo turun.. mereka sudah menunggu.."
"Berikan sekarang Maharaya.."
Raya menatap jengah wajah Aaron yang terlihat
mulai mengirimkan sinyal ancaman. Dengan
sedikit kesal akhirnya dia mendekatkan wajah
dan menatap lekat bibir seksi Aaron yang terlihat
merah alami itu, sangat menggoda. Perlahan dia
mengecup lembut bibir itu sambil memejamkan
mata, namun dia tersentak saat Aaron tiba-tiba
memagut bibirnya dengan ganas. Raya mencoba melepaskan ciuman rakus Aaron namun pria itu
sudah terlanjur menguasai seluruh bibirnya, dan
akhirnya dia hanya bisa pasrah. Keduanya kini terhanyut dalam ciuman lembut dan manis yang mampu memanaskan suhu tubuh dalam sekejap.
"Emmhh.. Aaron sudah..!"
Raya mendorong dada Aaron untuk mengakhiri
serangan brutalnya itu. Wajah Aaron terlihat
memerah dengan sorot mata yang sangat berat.
"Aku menginginkan mu sekarang Raya.."
"Aaron.. hentikan.! Kita harus keluar sekarang."
Raya mendelik kesal sambil merapihkan rambut
dan pakaiannya. Aaron menyeringai tipis sambil kembali ******* kuat bibir Raya yang langsung
membulatkan matanya.
"Aaroonn... kamu ini ya, benar-benar tidak
tahu situasi, menyebalkan.!"
Decak Raya jengkel, sementara Aaron terlihat
acuh, menegakkan badannya dan merapihkan
kembali pakaiannya, bersiap untuk segera turun
untuk melaksanakan agenda penting ini..
***
Note:
Dear Readers...
Sebelumnya aku minta **maaf kalau sekarang
ini Up nya terbatas. Hanya bisa I sampai 2 bab
sehari. Karena kesibukan dan rutinitas harian
yang sudah kembali normal, jadi waktu luang ku
juga terbatas..🙏
Mohon kesabaran dan pengertiannya yaa..
Terimakasih atas dukungan kalian semua
__ADS_1
selama ini..Tq so much & love U all..🙏🤗😘**