
***
White House....
Cuaca pagi ini terlihat begitu cerah dan berseri.
Suasana di lingkungan perumahan White House
sepagi ini terasa nyaman, damai dan tentram.
Sementara di lingkungan rumah tinggal Raya
pagi ini terlihat sepi dan hening walaupun ada beberapa pengawal yang berjaga di depan rumah.
Dan sebenarnya di sekitar rumah plus di seluruh
area perumahan itu pasukan bayangan Aaron bertebaran. Para tetangga tidak ada lagi yang
berani lalu lalang di depan rumah Raya setelah
pemberitaan yang begitu marak di seluruh negeri
tentang hubungan khusus antara Putra Mahkota
dengan sekretaris pribadi nya itu.
Mereka benar-benar tidak menyangka kalau
Raya memilki hubungan dengan orang yang
paling berharga di negara ini, bahkan dia bisa
menjadi orang ketiga dalam rencana pernikahan antara Putra Mahkota dengan wanita yang sudah
di siapkan oleh pihak Istana.
Sang penghuni rumah saat ini masih berada di
atas tempat tidur. Setelah menjalankan sholat
subuh berjamaah mereka berdua memutuskan
untuk kembali merebahkan diri di tempat tidur.
Keduanya tampak saling memeluk erat, seperti
biasa Aaron tidak memberi ruang sedikitpun
untuk Raya menjauh dari sisinya. Tubuh Raya
berada dalam penguasaannya sepenuhnya.
Mereka berdua butuh waktu untuk beristirahat
yang cukup setelah berbagai rentetan kejadian
datang bertubi-tubi silih berganti. Keduanya
kini butuh waktu untuk menenangkan diri.
Matahari mulai masuk ke dalam ruangan kamar
yang cukup besar dengan nuansa white silver
itu. Di beberapa sudut ruangan terdapat vas
bunga yang menebarkan aroma wangi segar.
Raya membuka mata, tatapan lembutnya jatuh
di wajah super tampan Sang Pangeran yang
berada tepat di hadapan nya. Tubuh bagian atas
Aaron saat ini dalam keadaan polos, membuat
Raya tidak tahan untuk tidak membelai dada
bidang dengan bentuk sempurna itu.Tidak ada
moment yang mereka lewatkan tanpa percintaan panas dan menggelora di atas tempat tidur.
Semalam pun begitu, begitu tiba di kamar ini
Aaron tidak memberi jeda pada Raya untuk
sekedar mengambil nafas, dengan buas dia
langsung menerkam istrinya itu. Dan semalam
Aaron mendapatkan kepuasan yang tidak akan
pernah terlupakan, di saat Raya lebih banyak
naik memimpin permainan. Dia sampai harus berteriak dan menggeram hebat saat tubuhnya
di hantam rasa nikmat berlebih akibat
cengkeraman dahsyat tubuh bagian bawah
milik istrinya yang sangat istimewa itu.
Entah kenapa sekarang ini Raya juga seolah
tidak bisa menahan diri, ingin selalu mendapat sentuhan lembut memabukkan dari suaminya
yang sangat perkasa itu. Dia juga ingin memberi
kepuasan lebih dan mengikat suaminya dengan semua kelebihan yang di milikinya dan membuat
Sang Putra Mahkota semakin tergila-gila.
"Selamat pagi Pangeran ku sayang.."
Bisik Raya dengan senyum secerah mentari.
Hatinya semakin jatuh ke dalam jeratan cinta
tulus pria yang di awal pertemuan begitu sadis,
begitu kejam dan terlampau dingin itu. Namun ternyata semua itu hanyalah bentuk luarnya saja
dari seorang Aaron, karena di depan matanya
dia tidak lebih dari pria yang haus akan belaian
dan perhatian dari seseorang yang juga bisa
dengan tulus memberikan cinta dan kasih
sayang pada dirinya.
"Aku mencintaimu Aaron..kau adalah segalanya
bagiku saat ini. Jangan pernah menyimpan
nama wanita lain di hatimu.. karena aku akan
hancur dengan itu.."
Gumam Raya sambil kemudian mendaratkan
satu ciuman dahsyat yang mampu menembus
alam bawah sadar Aaron..
"Aku juga mencintaimu Maharaya.."
Aaron berbisik dengan suara parau masih dalam
keadaan tertidur lelap. Raya tertegun, mengamati
kondisi Aaron, dan meyakinkan diri bahwa suami
nya itu masih dalam keadaan tertidur. Bibirnya
tersenyum lembut, bunga-bunga kian bermekaran
dan berterbangan di sekitarnya. Hatinya begitu
hangat dan bahagia.
Raya kembali memberikan satu hadiah ciuman
lembut nan manis di bibir Aaron. Setelah itu dia
menarik diri dari rengkuhan kuat penguasaan
tubuh Aaron yang menimpakan setengah badan
nya hingga tubuh Raya tenggelam di dalamnya.
Raya beranjak turun dari atas tempat tidur, lalu
membenahi pakaiannya sebentar kemudian
melangkah keluar dari dalam kamar.
Dengan langkah hati-hati Raya turun ke lantai
bawah dan berniat untuk membuat sarapan pagi.
Dia turun dengan gaun rumahan sebatas lutut
yang tertutup cardigan cantik berikat pinggang
manis hingga menampilkan lekuk tubuh nya
yang sempurna. Rambutnya di gulung tinggi menampakkan leher jenjangnya yang indah menyisakan beberapa stempel kepemilikan
hasil karya sang pujaan hati.
"Selamat pagi Princess.."
Jessica, Lily dan Griz menyambut kehadirannya
begitu dia tiba di lantai bawah. Mereka semua membungkukkan badan penuh hormat. Untuk
sesaat Raya tampak tertegun, dia menarik nafas panjang, menatap mereka bertiga yang masih menundukkan kepala di hadapannya.
"Selamat pagi semuanya. Kalian tidak perlu
bersikap berlebihan seperti ini, terutama kau
Jessica..!"
Raya berucap sambil kemudian menarik tangan
Jessica yang mengikuti langkah majikannya itu
kearah dapur. Tiba di sana Raya berdiri tegak di
hadapan Jessica.
"Siapapun aku sekarang.. Seperti apapun jati
diriku saat ini, kau tetaplah temanku. Aku tidak
pernah menganggap mu sebagai bawahan ku Jes.."
Jessica mengangkat wajahnya, mereka berdua
kini saling menatap. Ada sorot kecanggungan
yang terlukis dari raut wajah Jessica.
"Ini terlalu besar Ray..Ini juga terlalu mengejutkan
bagiku. Kau ternyata seorang Princess Agung..
Selama ini aku berteman dengan Putri Jenderal
Serkan yang mendunia..Ini adalah ledakan besar
Ray..dan aku tidak bisa bersikap biasa-biasa saja."
"Jessica.. sudah, tidak usah lebay deh.! Aku
tetaplah sama di matamu. Jangan berlebihan
seperti itu. !"
"Tidak bisa.. mulai saat ini kau harus berdiri di
atas gelar dan kehormatanmu..! Kami semua
adalah abdi mu Yang Mulya Princess Maharaya.."
Jessica kembali membungkukkan badannya
lebih dalam lagi. Raya hanya bisa menggeleng
gerah dan menepiskan tangannya.
"Terserah kalian lah.. Kepalaku bisa pusing kalau
harus memikirkan hal ini. Ayo sekarang bantu
aku membuat sarapan pagi.."
"Siap, Yang Mulya.. laksanakan.!"
Jessica memberi hormat prajurit dengan sikap
sempurna dan bibir yang tersenyum puas hingga
membuat Raya lagi-lagi menggeleng kuat dan
segera melangkah kearah lemari pendingin.
"Aku ingin membuat nasi goreng spesial.
Kalian bantu aku menyiapkan semua nya."
"Baik Yang Mulya.."
__ADS_1
Sambut Lily dan Jessica sambil bergerak cepat.
Sementara Griz kebagian berjaga di dekat pintu.
Akhirnya Raya mulai berkutat dengan kegiatan
favoritnya itu di bantu oleh Jessica dan Lily yang
sekarang sudah banyak belajar tentang makanan
asal negara sang majikan.
Jessica menatap wajah super cantik sahabatnya
yang telah memberinya kejutan bertubi-tubi itu.
Sungguh dia tidak pernah menduga kalau Raya,
gadis yang selalu membuat semua mata terpana
kemanapun dirinya melangkah itu adalah Putri
Agung dari negara Timur Tengah. Kelebihan itu
memang sudah jelas terlihat. Sewaktu mereka
kuliah di Luar Negeri, Raya sudah menjadi fokus
perhatian dari semua orang tanpa terkecuali.
Tapi sikapnya memang seperti ini, selalu acuh
tak acuh terhadap perlakuan khusus yang di
dapatkan nya. Dia orang nya memang sedikit
tertutup dan tidak mudah mempercayai orang.
Mata Raya berbinar indah saat nasi goreng spesial
super pedas buatannya sudah hampir selesai. Dia
juga sudah menyiapkan jus kombinasi agar tidak
menganggu kesehatan lambung nya. Selain itu
ada salad sayur istimewa di tambah potongan
buah segar sebagai penetralisir.
"Mmh.. yummy..ini pasti enak banget Jes.
Kalian harus mencicipinya juga nanti.!"
Jessica melebarkan mata melihat bagaimana
nasi goreng itu penuh dengan potongan cabai.
"Tapi.. sepertinya itu terlalu pedas Princess."
"Kalau tidak pedas tidak akan puas makannya."
"Tapi apakah Yang Mulya Putra Mahkota akan
sanggup untuk memakannya.?"
"Dia harus mau memakannya. Aku sudah susah
payah menyiapkannya.!"
Jessica menolehkan kepalanya ke belakang
saat melihat Lily mundur sambil membungkuk.
Matanya mengerjap, dia segera membungkuk
begitu melihat Sang Putra Mahkota muncul di
ambang pintu. Tatapan mata elang nya langsung mengunci sosok ramping di hadapan nya yang berbalut apron putih. Dia menepiskan tangannya sedikit membuat ketiga bawahan Raya langsung mundur teratur keluar dari ruangan dapur tersebut.
Raya masih asik menyelesaikan tahap akhir dari
proses pembuatan nasi goreng nya dengan
mencicipinya sekali lagi. Namun dia tersentak
saat Aaron tiba-tiba saja melingkarkan kedua tangannya di perut datarnya dan membelitnya
kuat dengan kepala yang bersandar di bahunya.
"Kenapa kamu masih harus repot-repot seperti
ini sayang.? Kau adalah seorang Putri Agung.
Kau tinggal menjentikkan jari maka apapun
yang kau inginkan akan mendatangimu.!"
"Aaron.. kau sudah bangun.? Kenapa langsung
kesini.? Aku akan membawakan teh hijau ke
kamar nanti."
Raya segera mematikan api dan menyudahi kegiatannya. Dia menumpangkan kedua tangan
di atas tangan Aaron yang membelit perut datar
nya, mengelusnya sayang dan kini semakin mempererat dekapannya.
"Aku kehilanganmu di tempat tidur. Aku pikir
seseorang telah mengambilmu dariku."
Desis Aaron sambil menghujani wajah Raya
dengan ciuman lembut nan memuja.
"Emmhh..sayang.. aku tadi turun bermaksud
membuatkan sarapan pagi untuk kita. Mana
mungkin ada orang yang berani mengambilku
darimu."
Lirih Raya sambil mengelus lembut wajah Aaron
yang masih asik menyusurkan bibir panasnya
di bagian tengkuk dan leher putih berkilau milik istrinya itu membuat Raya mulai menggerakkan
badannya yang kini terserang hawa panas.
"Ayahmu bisa saja melakukannya.!"
"Terus.. kau akan diam saja.?"
"Aku akan melawannya habis-habisan..!"
"Aku tidak akan pernah kalah dari siapapun !"
"Lalu apa yang kau takutkan sebenarnya.?"
"Ayah mu itu.. penyihir licik.!!"
"Aaron...! Dia adalah ayah mertua mu..!!"
Aaron tergelak lalu tertawa lepas mendengar
Raya memekik kesal membela ayah kandungnya.
Tawa Aaron membuat seisi rumah seolah-olah
mendapat serangan badai es, semua membeku,
terdiam di tempat masing-masing. Termasuk
Raya yang kini membalikan badannya, menatap
lekat wajah tampan Aaron yang masih tertawa.
Dia benar-benar tidak percaya pria dingin itu bisa
tertawa sepuas itu. Dalam gerakan lembut dan
terkendali, Raya mengalungkan kedua tangannya
di leher kokoh Aaron lalu mendaratkan ciuman
mesra yang teramat manis membuat tawa Aaron
langsung terhenti, wajahnya kini memerah.
"Sering-seringlah tertawa seperti ini sayang.
Kau terlihat lebih manusiawi sedikit."
Wajah Aaron yang tadi tersipu kini berubah jadi
sedikit kesal. Dia menarik pinggang ramping
Raya membuat tubuh mereka menempel ketat.
"Ohh begitu.. jadi kau pikir aku seperti monster
selama ini.? Begitu kan hemm..?"
"Bukankah memang begitu kenyataannya.!"
"Buktinya kau bisa jatuh cinta padaku !"
"Itu karena kau telah menarik diriku ke dalam
jerat asmara mu yang menyeramkan.!"
"Kau tidak perlu beralasan sayang, pesona ku
ini tidak akan mampu kau hempaskan.!"
Aaron langsung mengangkat tubuh Raya ke
dalam pangkuannya lalu di dudukkan di atas
meja makan hingga posisi kakinya melingkar
kuat di pinggangnya. Dan tanpa jeda tangan
nakal Aaron langsung menyelusup masuk ke
bagian paha, mengelusnya lembut menggoda
membuat tubuh Raya menegang dan panas
dingin seketika.
"A-aaron.. apa yang kau lakukan.? Hentikan
tangan nakal mu.! Kita sedang berada di dapur
saat ini..aakhh.. Aaron.. sudah.!"
"Kita belum pernah melakukannya di tempat
ini, sepertinya itu akan sangat menyenangkan.!"
"Aaron hentikan tingkah mesum mu itu.! Sekali-
sekali cobalah untuk melihat situasi dulu..!"
"Aku tidak bisa berhenti berpikir mesum kalau
sudah ada di dekatmu sayang.. Masalah nya
kau terlalu menggoda di mataku..!"
Wajah Raya langsung memerah, mata mereka
saling terpaut dalam. Tangan Raya membelai
lembut wajah tampan Aaron yang pagi ini
terlihat begitu bercahaya.
"Kau juga terlampau menarik, aku yakin tidak ada
wanita yang bisa bertahan bila ada di dekatmu."
Bisik Raya sambil kemudian memagut lembut
bibir seksi Aaron. Keduanya larut dalam ciuman
hangat dan manis di penuhi rasa saling memuja
dan saling mengagumi. Semakin lama ciuman
itu semakin memercik gairah dan hasrat.
Namun ciuman panas mereka tiba-tiba harus
terhenti ketika dari kejauhan terdengar suara
serine patwal yang bergemuruh di iringi deru
mesin kendaraan motor prajurit pengawal yang
semakin lama semakin mendekat. Mata mereka
saling menatap penuh tanda tanya.
"Apa kau punya agenda istana pagi ini.?"
Raya bertanya sambil merapihkan kembali
rambutnya yang jatuh tergerai dan pakaiannya
__ADS_1
yang acak-acakan tak karuan. Aaron melepas
apron yang melekat di tubuh istrinya itu.
"Bukankah aku sudah menyatakan diri akan
meletakkan posisi ku, lalu untuk apalagi aku
harus memikirkan agenda istana !"
Mata Raya dan Aaron bertemu, saling menatap
kuat, Raya menggelengkan kepala pelan.
"Kau pikir hal itu akan semudah membalikkan
telapak tangan.!"
"Aku punya kebebasan menentukan arah dan
jalan hidupku sendiri.!"
Keduanya kembali saling memandang. Tangan
Raya meraup wajah Aaron dan menatapnya
lembut penuh perasaan.
"Aaron sayang..hidupmu di takdirkan untuk hal
yang besar. Selama ini kau sudah melangkah di
jalan yang berbeda, dan itu sudah cukup sebagai
bekal serta pegangan hidupmu ke depan. Jadi..
sekarang, saatnya kau fokus pada jalan hidupmu
yang sejati. Kau tidak bisa menghindar lagi.."
Aaron menatap tenang wajah cantik istrinya
yang semakin lama mengenalnya semakin
terlihat bahwa darah memang tidak akan
pernah bohong. Darah seorang Putri Sultan
yang senantiasa penuh dengan kharisma dan
wibawa serta perkataan yang bijaksana.
"Baiklah..kita akan lihat apa yang akan terjadi
hari ini dan hari-hari ke depannya dalam hidup
kita. Yang jelas aku tidak akan bisa bertahan
tanpa kehadiran mu..!"
Bisik Aaron sambil mengangkat kembali tubuh
istrinya itu dari atas meja. Keduanya untuk
sesaat terdiam saling memeluk erat.
"Baiklah.. kita sarapan sekarang saja. Habis ini
kau baru bersiap diri untuk datang ke istana."
Ujar Raya sambil melepaskan pelukannya. Dia
segera bergerak menyiapkan hidangan sarapan
pagi di bantu oleh Aaron tanpa melibatkan para asistennya yang berada diluar ruangan.
Sebenarnya saat ini mereka sedang ada di luar
rumah dan sedang terkesima maksimal begitu
melihat rombongan mobil super mewah istana
datang ke tempat itu, tepatnya menuju rumah
tempat tinggal Aaron dan Raya.
Para tetangga saat ini tampak keluar dari rumah.
Lalu mereka berdiri membungkuk di halaman
rumah masing-masing menyambut kedatangan
iring-iringan mobil ber plat nomor 1 yang kini
sudah tiba tepat di depan rumah Raya itu.
Mereka semua berasa sedang bermimpi, tidak
percaya pada apa yang di lihatnya sepagi ini .
Sang penguasa negara xxx.. menyempatkan
diri datang ke perumahan ini.? Ini keajaiban.!
Jessica, Griz dan Lily serta seluruh pengawal
pribadi Aaron yang berjaga di sekitar rumah
tampak berbaris rapi di depan Limosin super
mewah yang sudah di modifikasi dan di desain
khusus dengan sistem perlindungan canggih
karena merupakan kendaraan dinas orang
nomor satu di negara ini. Kini mereka semua
serempak membungkuk setengah badan saat
dari dalam kendaraan super mewah itu muncul
dua sosok central negara ini, Raja dan Ratu..
"Selamat datang Yang Mulya Raja dan Ratu.."
Sambut mereka serempak dan kompak dengan
lutut yang bergetar hebat di telan kegugupan
luar biasa mendapat kunjungan tak terduga ini.
Sang Ratu tampak mengamati bangunan rumah sederhana yang ada di depannya itu dengan
menautkan alisnya dalam.
"Apakah pasangan tidak tahu aturan itu ada
di dalam rumah.?"
Raja Williams menatap lurus ke arah pintu.
"A-ada Yang Mulya.."
Jessica yang menjawab dengan terbata-bata
karena suaranya tersangkut di tenggorokan.
Tanpa kata Ratu segera melangkah ke dalam
rumah seakan tidak bisa menahan diri lagi di
ikuti oleh Raja, kepala pengawal, kepala staf
istana dan barisan pelayan pribadi.
Tiba di ruang makan...
Aaron dan Raya tampak melongo, menatap
kedatangan Raja dan Ratu yang juga menatap
bengong kearah keduanya. Posisi Raya saat ini
sedang menuangkan makanan ke piring yang
ada di hadapan Aaron.
"Yang Mulya.. selamat pagi.. Bagaimana anda
berdua bisa berkunjung ke tempat ini.?"
Raya segera tersadar, dia menghampiri kedua
mertuanya itu lalu membungkuk dalam di depan
mereka dengan wajah yang sedikit pias tertelan
rasa tidak percaya dan sedikit gugup.
"Tidak ada salahnya bukan kalau kami datang
dan melihat keadaan calon ibu dari cucu kami.?"
Raya membeku mendengar ucapan sang Ratu. Tubuhnya mematung tak bisa bergerak.
"Yang Mulya.. maafkan peristiwa semalam.
Sungguh saya tidak bermaksud melakukan penghinaan terhadap anda.. saya.. "
"Lupakan itu.. calon cucuku memang sangat
nakal. Cara perkenalannya cukup ekstrim.!"
Debat Raja Williams sambil mengelus rambut
Raya yang semakin terpaku, menunduk tertegun.
Aaron masih terdiam di tempat duduknya, tidak
bereaksi berlebihan. Wajahnya terlihat datar saja.
"Waahh.. apa kau membuat nasi goreng.?"
Sang Ratu tampak berbinar melihat hidangan
yang ada di atas meja makan. Raya dan Aaron
langsung terkejut, mengangkat wajah mereka.
"Benar Yang Mulya.. Apakah anda..?"
"Aku menyukai makanan yang berasal dari
negara asal ibu mu Princess Maharaya..!"
Potong Sang Ratu sambil kemudian menarik
kursi singel di sebrang Aaron untuk sang Raja
yang langsung duduk di sana dengan gaya yang terlihat santai namun tetap elegan. Lalu Sang
Ratu duduk di sebelahnya.
"Bisakah kami ikut mencicipi nasi goreng hasil
buatanmu ini Princess..??"
Hahh.? Raya dan Aaron lagi-lagi tercengang.
Terdiam di tempat dengan tatapan tidak percaya.
"Menantu ku.. kau bisa menghidangkan nya
sekarang bukan.? Kebetulan kami sudah lapar.!"
Suara Ratu Virginia membuat kesadaran Raya
kembali menyapanya. Masha Allah..Raya tampak mengusap lembut cairan bening yang menetes
di sudut matanya. Dia segera bergerak cepat dan
rapi melayani kedua mertuanya itu tanpa mampu
mengeluarkan suara. Sedang kedua mertuanya
terlihat menatap tenang pergerakan Raya dengan sesungging senyum tipis terukir di bibir mereka
di selimuti perasaan hangat yang hanya mereka sendirilah yang merasakannya.
Beberapa saat kemudian...
Raya dan Aaron saling berpegangan tangan
erat dengan tatapan mata fokus kearah Raja
dan Ratu yang sedang menikmati sarapan pagi
mereka dengan begitu lahap..namun juga begitu
sibuk karena harus bolak balik minum air putih
yang membuat para pelayan pribadi, kepala staf
istana dan kepala pengawal tampak sibuk dan
khawatir melihat keadaan junjungan mereka.
Bagaimana tidak, rasa nasi goreng itu memang
sangatlah lezaaat..tapi juga mengandung mercon.. hingga membuat dua orang priyayi itu melupakan attitude dan tata krama di meja makan..Keduanya seolah tidak bisa berhenti makan walaupun harus tersiksa karena kepedasan dan harus bermandikan
keringat, sungguh..ini adalah pemandangan yang sangat menakjubkan sekaligus memilukan melihat
Raja dan Ratu tersiksa namun tak bisa berhenti..
__ADS_1
***