Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
87. Kunjungan Pagi


__ADS_3

***


White House....


Cuaca pagi ini terlihat begitu cerah dan berseri.


Suasana di lingkungan perumahan White House


sepagi ini terasa nyaman, damai dan tentram.


Sementara di lingkungan rumah tinggal Raya


pagi ini terlihat sepi dan hening walaupun ada beberapa pengawal yang berjaga di depan rumah.


Dan sebenarnya di sekitar rumah plus di seluruh


area perumahan itu pasukan bayangan Aaron bertebaran. Para tetangga tidak ada lagi yang


berani lalu lalang di depan rumah Raya setelah


pemberitaan yang begitu marak di seluruh negeri


tentang hubungan khusus antara Putra Mahkota


dengan sekretaris pribadi nya itu.


Mereka benar-benar tidak menyangka kalau


Raya memilki hubungan dengan orang yang


paling berharga di negara ini, bahkan dia bisa


menjadi orang ketiga dalam rencana pernikahan antara Putra Mahkota dengan wanita yang sudah


di siapkan oleh pihak Istana.


Sang penghuni rumah saat ini masih berada di


atas tempat tidur. Setelah menjalankan sholat


subuh berjamaah mereka berdua memutuskan


untuk kembali merebahkan diri di tempat tidur.


Keduanya tampak saling memeluk erat, seperti


biasa Aaron tidak memberi ruang sedikitpun


untuk Raya menjauh dari sisinya. Tubuh Raya


berada dalam penguasaannya sepenuhnya.


Mereka berdua butuh waktu untuk beristirahat


yang cukup setelah berbagai rentetan kejadian


datang bertubi-tubi silih berganti. Keduanya


kini butuh waktu untuk menenangkan diri.


Matahari mulai masuk ke dalam ruangan kamar


yang cukup besar dengan nuansa white silver


itu. Di beberapa sudut ruangan terdapat vas


bunga yang menebarkan aroma wangi segar.


Raya membuka mata, tatapan lembutnya jatuh


di wajah super tampan Sang Pangeran yang


berada tepat di hadapan nya. Tubuh bagian atas


Aaron saat ini dalam keadaan polos, membuat


Raya tidak tahan untuk tidak membelai dada


bidang dengan bentuk sempurna itu.Tidak ada


moment yang mereka lewatkan tanpa percintaan panas dan menggelora di atas tempat tidur.


Semalam pun begitu, begitu tiba di kamar ini


Aaron tidak memberi jeda pada Raya untuk


sekedar mengambil nafas, dengan buas dia


langsung menerkam istrinya itu. Dan semalam


Aaron mendapatkan kepuasan yang tidak akan


pernah terlupakan, di saat Raya lebih banyak


naik memimpin permainan. Dia sampai harus berteriak dan menggeram hebat saat tubuhnya


di hantam rasa nikmat berlebih akibat


cengkeraman dahsyat tubuh bagian bawah


milik istrinya yang sangat istimewa itu.


Entah kenapa sekarang ini Raya juga seolah


tidak bisa menahan diri, ingin selalu mendapat sentuhan lembut memabukkan dari suaminya


yang sangat perkasa itu. Dia juga ingin memberi


kepuasan lebih dan mengikat suaminya dengan semua kelebihan yang di milikinya dan membuat


Sang Putra Mahkota semakin tergila-gila.


"Selamat pagi Pangeran ku sayang.."


Bisik Raya dengan senyum secerah mentari.


Hatinya semakin jatuh ke dalam jeratan cinta


tulus pria yang di awal pertemuan begitu sadis,


begitu kejam dan terlampau dingin itu. Namun ternyata semua itu hanyalah bentuk luarnya saja


dari seorang Aaron, karena di depan matanya


dia tidak lebih dari pria yang haus akan belaian


dan perhatian dari seseorang yang juga bisa


dengan tulus memberikan cinta dan kasih


sayang pada dirinya.


"Aku mencintaimu Aaron..kau adalah segalanya


bagiku saat ini. Jangan pernah menyimpan


nama wanita lain di hatimu.. karena aku akan


hancur dengan itu.."


Gumam Raya sambil kemudian mendaratkan


satu ciuman dahsyat yang mampu menembus


alam bawah sadar Aaron..


"Aku juga mencintaimu Maharaya.."


Aaron berbisik dengan suara parau masih dalam


keadaan tertidur lelap. Raya tertegun, mengamati


kondisi Aaron, dan meyakinkan diri bahwa suami


nya itu masih dalam keadaan tertidur. Bibirnya


tersenyum lembut, bunga-bunga kian bermekaran


dan berterbangan di sekitarnya. Hatinya begitu


hangat dan bahagia.


Raya kembali memberikan satu hadiah ciuman


lembut nan manis di bibir Aaron. Setelah itu dia


menarik diri dari rengkuhan kuat penguasaan


tubuh Aaron yang menimpakan setengah badan


nya hingga tubuh Raya tenggelam di dalamnya.


Raya beranjak turun dari atas tempat tidur, lalu


membenahi pakaiannya sebentar kemudian


melangkah keluar dari dalam kamar.


Dengan langkah hati-hati Raya turun ke lantai


bawah dan berniat untuk membuat sarapan pagi.


Dia turun dengan gaun rumahan sebatas lutut


yang tertutup cardigan cantik berikat pinggang


manis hingga menampilkan lekuk tubuh nya


yang sempurna. Rambutnya di gulung tinggi menampakkan leher jenjangnya yang indah menyisakan beberapa stempel kepemilikan


hasil karya sang pujaan hati.


"Selamat pagi Princess.."


Jessica, Lily dan Griz menyambut kehadirannya


begitu dia tiba di lantai bawah. Mereka semua membungkukkan badan penuh hormat. Untuk


sesaat Raya tampak tertegun, dia menarik nafas panjang, menatap mereka bertiga yang masih menundukkan kepala di hadapannya.


"Selamat pagi semuanya. Kalian tidak perlu


bersikap berlebihan seperti ini, terutama kau


Jessica..!"


Raya berucap sambil kemudian menarik tangan


Jessica yang mengikuti langkah majikannya itu


kearah dapur. Tiba di sana Raya berdiri tegak di


hadapan Jessica.


"Siapapun aku sekarang.. Seperti apapun jati


diriku saat ini, kau tetaplah temanku. Aku tidak


pernah menganggap mu sebagai bawahan ku Jes.."


Jessica mengangkat wajahnya, mereka berdua


kini saling menatap. Ada sorot kecanggungan


yang terlukis dari raut wajah Jessica.


"Ini terlalu besar Ray..Ini juga terlalu mengejutkan


bagiku. Kau ternyata seorang Princess Agung..


Selama ini aku berteman dengan Putri Jenderal


Serkan yang mendunia..Ini adalah ledakan besar


Ray..dan aku tidak bisa bersikap biasa-biasa saja."


"Jessica.. sudah, tidak usah lebay deh.! Aku


tetaplah sama di matamu. Jangan berlebihan


seperti itu. !"


"Tidak bisa.. mulai saat ini kau harus berdiri di


atas gelar dan kehormatanmu..! Kami semua


adalah abdi mu Yang Mulya Princess Maharaya.."


Jessica kembali membungkukkan badannya


lebih dalam lagi. Raya hanya bisa menggeleng


gerah dan menepiskan tangannya.


"Terserah kalian lah.. Kepalaku bisa pusing kalau


harus memikirkan hal ini. Ayo sekarang bantu


aku membuat sarapan pagi.."


"Siap, Yang Mulya.. laksanakan.!"


Jessica memberi hormat prajurit dengan sikap


sempurna dan bibir yang tersenyum puas hingga


membuat Raya lagi-lagi menggeleng kuat dan


segera melangkah kearah lemari pendingin.


"Aku ingin membuat nasi goreng spesial.


Kalian bantu aku menyiapkan semua nya."


"Baik Yang Mulya.."

__ADS_1


Sambut Lily dan Jessica sambil bergerak cepat.


Sementara Griz kebagian berjaga di dekat pintu.


Akhirnya Raya mulai berkutat dengan kegiatan


favoritnya itu di bantu oleh Jessica dan Lily yang


sekarang sudah banyak belajar tentang makanan


asal negara sang majikan.


Jessica menatap wajah super cantik sahabatnya


yang telah memberinya kejutan bertubi-tubi itu.


Sungguh dia tidak pernah menduga kalau Raya,


gadis yang selalu membuat semua mata terpana


kemanapun dirinya melangkah itu adalah Putri


Agung dari negara Timur Tengah. Kelebihan itu


memang sudah jelas terlihat. Sewaktu mereka


kuliah di Luar Negeri, Raya sudah menjadi fokus


perhatian dari semua orang tanpa terkecuali.


Tapi sikapnya memang seperti ini, selalu acuh


tak acuh terhadap perlakuan khusus yang di


dapatkan nya. Dia orang nya memang sedikit


tertutup dan tidak mudah mempercayai orang.


Mata Raya berbinar indah saat nasi goreng spesial


super pedas buatannya sudah hampir selesai. Dia


juga sudah menyiapkan jus kombinasi agar tidak


menganggu kesehatan lambung nya. Selain itu


ada salad sayur istimewa di tambah potongan


buah segar sebagai penetralisir.


"Mmh.. yummy..ini pasti enak banget Jes.


Kalian harus mencicipinya juga nanti.!"


Jessica melebarkan mata melihat bagaimana


nasi goreng itu penuh dengan potongan cabai.


"Tapi.. sepertinya itu terlalu pedas Princess."


"Kalau tidak pedas tidak akan puas makannya."


"Tapi apakah Yang Mulya Putra Mahkota akan


sanggup untuk memakannya.?"


"Dia harus mau memakannya. Aku sudah susah


payah menyiapkannya.!"


Jessica menolehkan kepalanya ke belakang


saat melihat Lily mundur sambil membungkuk.


Matanya mengerjap, dia segera membungkuk


begitu melihat Sang Putra Mahkota muncul di


ambang pintu. Tatapan mata elang nya langsung mengunci sosok ramping di hadapan nya yang berbalut apron putih. Dia menepiskan tangannya sedikit membuat ketiga bawahan Raya langsung mundur teratur keluar dari ruangan dapur tersebut.


Raya masih asik menyelesaikan tahap akhir dari


proses pembuatan nasi goreng nya dengan


mencicipinya sekali lagi. Namun dia tersentak


saat Aaron tiba-tiba saja melingkarkan kedua tangannya di perut datarnya dan membelitnya


kuat dengan kepala yang bersandar di bahunya.


"Kenapa kamu masih harus repot-repot seperti


ini sayang.? Kau adalah seorang Putri Agung.


Kau tinggal menjentikkan jari maka apapun


yang kau inginkan akan mendatangimu.!"


"Aaron.. kau sudah bangun.? Kenapa langsung


kesini.? Aku akan membawakan teh hijau ke


kamar nanti."


Raya segera mematikan api dan menyudahi kegiatannya. Dia menumpangkan kedua tangan


di atas tangan Aaron yang membelit perut datar


nya, mengelusnya sayang dan kini semakin mempererat dekapannya.


"Aku kehilanganmu di tempat tidur. Aku pikir


seseorang telah mengambilmu dariku."


Desis Aaron sambil menghujani wajah Raya


dengan ciuman lembut nan memuja.


"Emmhh..sayang.. aku tadi turun bermaksud


membuatkan sarapan pagi untuk kita. Mana


mungkin ada orang yang berani mengambilku


darimu."


Lirih Raya sambil mengelus lembut wajah Aaron


yang masih asik menyusurkan bibir panasnya


di bagian tengkuk dan leher putih berkilau milik istrinya itu membuat Raya mulai menggerakkan


badannya yang kini terserang hawa panas.


"Ayahmu bisa saja melakukannya.!"


"Terus.. kau akan diam saja.?"


"Aku akan melawannya habis-habisan..!"


"Aku tidak akan pernah kalah dari siapapun !"


"Lalu apa yang kau takutkan sebenarnya.?"


"Ayah mu itu.. penyihir licik.!!"


"Aaron...! Dia adalah ayah mertua mu..!!"


Aaron tergelak lalu tertawa lepas mendengar


Raya memekik kesal membela ayah kandungnya.


Tawa Aaron membuat seisi rumah seolah-olah


mendapat serangan badai es, semua membeku,


terdiam di tempat masing-masing. Termasuk


Raya yang kini membalikan badannya, menatap


lekat wajah tampan Aaron yang masih tertawa.


Dia benar-benar tidak percaya pria dingin itu bisa


tertawa sepuas itu. Dalam gerakan lembut dan


terkendali, Raya mengalungkan kedua tangannya


di leher kokoh Aaron lalu mendaratkan ciuman


mesra yang teramat manis membuat tawa Aaron


langsung terhenti, wajahnya kini memerah.


"Sering-seringlah tertawa seperti ini sayang.


Kau terlihat lebih manusiawi sedikit."


Wajah Aaron yang tadi tersipu kini berubah jadi


sedikit kesal. Dia menarik pinggang ramping


Raya membuat tubuh mereka menempel ketat.


"Ohh begitu.. jadi kau pikir aku seperti monster


selama ini.? Begitu kan hemm..?"


"Bukankah memang begitu kenyataannya.!"


"Buktinya kau bisa jatuh cinta padaku !"


"Itu karena kau telah menarik diriku ke dalam


jerat asmara mu yang menyeramkan.!"


"Kau tidak perlu beralasan sayang, pesona ku


ini tidak akan mampu kau hempaskan.!"


Aaron langsung mengangkat tubuh Raya ke


dalam pangkuannya lalu di dudukkan di atas


meja makan hingga posisi kakinya melingkar


kuat di pinggangnya. Dan tanpa jeda tangan


nakal Aaron langsung menyelusup masuk ke


bagian paha, mengelusnya lembut menggoda


membuat tubuh Raya menegang dan panas


dingin seketika.


"A-aaron.. apa yang kau lakukan.? Hentikan


tangan nakal mu.! Kita sedang berada di dapur


saat ini..aakhh.. Aaron.. sudah.!"


"Kita belum pernah melakukannya di tempat


ini, sepertinya itu akan sangat menyenangkan.!"


"Aaron hentikan tingkah mesum mu itu.! Sekali-


sekali cobalah untuk melihat situasi dulu..!"


"Aku tidak bisa berhenti berpikir mesum kalau


sudah ada di dekatmu sayang.. Masalah nya


kau terlalu menggoda di mataku..!"


Wajah Raya langsung memerah, mata mereka


saling terpaut dalam. Tangan Raya membelai


lembut wajah tampan Aaron yang pagi ini


terlihat begitu bercahaya.


"Kau juga terlampau menarik, aku yakin tidak ada


wanita yang bisa bertahan bila ada di dekatmu."


Bisik Raya sambil kemudian memagut lembut


bibir seksi Aaron. Keduanya larut dalam ciuman


hangat dan manis di penuhi rasa saling memuja


dan saling mengagumi. Semakin lama ciuman


itu semakin memercik gairah dan hasrat.


Namun ciuman panas mereka tiba-tiba harus


terhenti ketika dari kejauhan terdengar suara


serine patwal yang bergemuruh di iringi deru


mesin kendaraan motor prajurit pengawal yang


semakin lama semakin mendekat. Mata mereka


saling menatap penuh tanda tanya.


"Apa kau punya agenda istana pagi ini.?"


Raya bertanya sambil merapihkan kembali


rambutnya yang jatuh tergerai dan pakaiannya

__ADS_1


yang acak-acakan tak karuan. Aaron melepas


apron yang melekat di tubuh istrinya itu.


"Bukankah aku sudah menyatakan diri akan


meletakkan posisi ku, lalu untuk apalagi aku


harus memikirkan agenda istana !"


Mata Raya dan Aaron bertemu, saling menatap


kuat, Raya menggelengkan kepala pelan.


"Kau pikir hal itu akan semudah membalikkan


telapak tangan.!"


"Aku punya kebebasan menentukan arah dan


jalan hidupku sendiri.!"


Keduanya kembali saling memandang. Tangan


Raya meraup wajah Aaron dan menatapnya


lembut penuh perasaan.


"Aaron sayang..hidupmu di takdirkan untuk hal


yang besar. Selama ini kau sudah melangkah di


jalan yang berbeda, dan itu sudah cukup sebagai


bekal serta pegangan hidupmu ke depan. Jadi..


sekarang, saatnya kau fokus pada jalan hidupmu


yang sejati. Kau tidak bisa menghindar lagi.."


Aaron menatap tenang wajah cantik istrinya


yang semakin lama mengenalnya semakin


terlihat bahwa darah memang tidak akan


pernah bohong. Darah seorang Putri Sultan


yang senantiasa penuh dengan kharisma dan


wibawa serta perkataan yang bijaksana.


"Baiklah..kita akan lihat apa yang akan terjadi


hari ini dan hari-hari ke depannya dalam hidup


kita. Yang jelas aku tidak akan bisa bertahan


tanpa kehadiran mu..!"


Bisik Aaron sambil mengangkat kembali tubuh


istrinya itu dari atas meja. Keduanya untuk


sesaat terdiam saling memeluk erat.


"Baiklah.. kita sarapan sekarang saja. Habis ini


kau baru bersiap diri untuk datang ke istana."


Ujar Raya sambil melepaskan pelukannya. Dia


segera bergerak menyiapkan hidangan sarapan


pagi di bantu oleh Aaron tanpa melibatkan para asistennya yang berada diluar ruangan.


Sebenarnya saat ini mereka sedang ada di luar


rumah dan sedang terkesima maksimal begitu


melihat rombongan mobil super mewah istana


datang ke tempat itu, tepatnya menuju rumah


tempat tinggal Aaron dan Raya.


Para tetangga saat ini tampak keluar dari rumah.


Lalu mereka berdiri membungkuk di halaman


rumah masing-masing menyambut kedatangan


iring-iringan mobil ber plat nomor 1 yang kini


sudah tiba tepat di depan rumah Raya itu.


Mereka semua berasa sedang bermimpi, tidak


percaya pada apa yang di lihatnya sepagi ini .


Sang penguasa negara xxx.. menyempatkan


diri datang ke perumahan ini.? Ini keajaiban.!


Jessica, Griz dan Lily serta seluruh pengawal


pribadi Aaron yang berjaga di sekitar rumah


tampak berbaris rapi di depan Limosin super


mewah yang sudah di modifikasi dan di desain


khusus dengan sistem perlindungan canggih


karena merupakan kendaraan dinas orang


nomor satu di negara ini. Kini mereka semua


serempak membungkuk setengah badan saat


dari dalam kendaraan super mewah itu muncul


dua sosok central negara ini, Raja dan Ratu..


"Selamat datang Yang Mulya Raja dan Ratu.."


Sambut mereka serempak dan kompak dengan


lutut yang bergetar hebat di telan kegugupan


luar biasa mendapat kunjungan tak terduga ini.


Sang Ratu tampak mengamati bangunan rumah sederhana yang ada di depannya itu dengan


menautkan alisnya dalam.


"Apakah pasangan tidak tahu aturan itu ada


di dalam rumah.?"


Raja Williams menatap lurus ke arah pintu.


"A-ada Yang Mulya.."


Jessica yang menjawab dengan terbata-bata


karena suaranya tersangkut di tenggorokan.


Tanpa kata Ratu segera melangkah ke dalam


rumah seakan tidak bisa menahan diri lagi di


ikuti oleh Raja, kepala pengawal, kepala staf


istana dan barisan pelayan pribadi.


Tiba di ruang makan...


Aaron dan Raya tampak melongo, menatap


kedatangan Raja dan Ratu yang juga menatap


bengong kearah keduanya. Posisi Raya saat ini


sedang menuangkan makanan ke piring yang


ada di hadapan Aaron.


"Yang Mulya.. selamat pagi.. Bagaimana anda


berdua bisa berkunjung ke tempat ini.?"


Raya segera tersadar, dia menghampiri kedua


mertuanya itu lalu membungkuk dalam di depan


mereka dengan wajah yang sedikit pias tertelan


rasa tidak percaya dan sedikit gugup.


"Tidak ada salahnya bukan kalau kami datang


dan melihat keadaan calon ibu dari cucu kami.?"


Raya membeku mendengar ucapan sang Ratu. Tubuhnya mematung tak bisa bergerak.


"Yang Mulya.. maafkan peristiwa semalam.


Sungguh saya tidak bermaksud melakukan penghinaan terhadap anda.. saya.. "


"Lupakan itu.. calon cucuku memang sangat


nakal. Cara perkenalannya cukup ekstrim.!"


Debat Raja Williams sambil mengelus rambut


Raya yang semakin terpaku, menunduk tertegun.


Aaron masih terdiam di tempat duduknya, tidak


bereaksi berlebihan. Wajahnya terlihat datar saja.


"Waahh.. apa kau membuat nasi goreng.?"


Sang Ratu tampak berbinar melihat hidangan


yang ada di atas meja makan. Raya dan Aaron


langsung terkejut, mengangkat wajah mereka.


"Benar Yang Mulya.. Apakah anda..?"


"Aku menyukai makanan yang berasal dari


negara asal ibu mu Princess Maharaya..!"


Potong Sang Ratu sambil kemudian menarik


kursi singel di sebrang Aaron untuk sang Raja


yang langsung duduk di sana dengan gaya yang terlihat santai namun tetap elegan. Lalu Sang


Ratu duduk di sebelahnya.


"Bisakah kami ikut mencicipi nasi goreng hasil


buatanmu ini Princess..??"


Hahh.? Raya dan Aaron lagi-lagi tercengang.


Terdiam di tempat dengan tatapan tidak percaya.


"Menantu ku.. kau bisa menghidangkan nya


sekarang bukan.? Kebetulan kami sudah lapar.!"


Suara Ratu Virginia membuat kesadaran Raya


kembali menyapanya. Masha Allah..Raya tampak mengusap lembut cairan bening yang menetes


di sudut matanya. Dia segera bergerak cepat dan


rapi melayani kedua mertuanya itu tanpa mampu


mengeluarkan suara. Sedang kedua mertuanya


terlihat menatap tenang pergerakan Raya dengan sesungging senyum tipis terukir di bibir mereka


di selimuti perasaan hangat yang hanya mereka sendirilah yang merasakannya.


Beberapa saat kemudian...


Raya dan Aaron saling berpegangan tangan


erat dengan tatapan mata fokus kearah Raja


dan Ratu yang sedang menikmati sarapan pagi


mereka dengan begitu lahap..namun juga begitu


sibuk karena harus bolak balik minum air putih


yang membuat para pelayan pribadi, kepala staf


istana dan kepala pengawal tampak sibuk dan


khawatir melihat keadaan junjungan mereka.


Bagaimana tidak, rasa nasi goreng itu memang


sangatlah lezaaat..tapi juga mengandung mercon.. hingga membuat dua orang priyayi itu melupakan attitude dan tata krama di meja makan..Keduanya seolah tidak bisa berhenti makan walaupun harus tersiksa karena kepedasan dan harus bermandikan


keringat, sungguh..ini adalah pemandangan yang sangat menakjubkan sekaligus memilukan melihat


Raja dan Ratu tersiksa namun tak bisa berhenti..

__ADS_1


***


__ADS_2