Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
34. Menantang Maut


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya dan pria codet tadi tiba di bagian belakang


kapal dimana di sana telah siaga sebuah heli


yang siap terbang. Perang tembakan kini tengah


berlangsung antara pasukan pria codet itu dan


pasukan kapal selam yang baru saja datang.


"Sial, dia punya pasukan tak terlihat rupanya.!"


Geram Pria itu saat dia melihat kemunculan


kapal selam canggih dari kejauhan. Matanya


berkilat hebat saat melihat satu tembakan


besar melesat ke bagian anjungan. Dengan


cepat dia menarik Raya untuk berlindung dari


hujan peluru. Kapal berguncang hebat saat


ledakan besar memecah bagian utama dari


kapal layar ini. Tubuh Raya dan pria itu hampir


saja terpental kalau pria itu tidak tangguh, dia


menahan tubuh Raya dalam kurungannya


dan memerangkap nya ke dinding kapal.


"Lepaskan.! Kau mau membawaku kemana.!"


Raya kembali berontak mencoba melepaskan


pegangan kuat lengan pria itu yang menarik


dirinya bersembunyi di balik sebuah ruangan


saat hujan peluru kembali berseliweran di


sekitar mereka menimbulkan bunyi mengerikan.


"Kau harus ikut dengan ku karena sekarang


ini kau adalah tawanan ku.!"


"Aku tidak mengenal kalian, kenapa kalian


melibatkanku.!"


"Karena kamu ada bersama bedebah itu.!!"


"Aku tidak tahu siapa yang kalian maksud.!


Lepaskan aku..!!"


Raya masih mencoba meronta, dan tanpa di


duga dia menggigit lengan pria itu dengan kuat


hingga pegangan nya terlepas. Dengan cepat


Raya berlari keluar ruangan menuruni tangga


menuju geladak bawah dimana di kejauhan


dia melihat kemunculan Aaron yang baru saja


keluar dari dalam kapal selam. Namun saat dia


baru saja menapakkan kaki di tangga tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras membahana


seakan menelan kapal menyebabkan seluruh


badan kapal oleng dan berguncang hebat.


Tubuh Raya terpental ke udara dan terpelanting


kearah luar kapal, dia menjerit histeris membuat


Aaron yang sudah melihat keberadaan nya membelalakkan mata terkesiap. Namun sosok


pria codet tadi dengan gerakan cepat tak terlihat


datang menyambar tubuh Raya, lalu menariknya


ke dalam pangkuannya. Untuk sesaat mata


mereka saling menatap dalam keterkejutan.


"Kau mau mati konyol hahh..!!"


Pria itu membentak dengan wajah kelamnya.


Raya melompat turun dari pangkuan pria itu


berusaha menjauh tapi tangan nya terkunci


oleh pegangan kuat pria itu.


"Aku lebih baik mati daripada harus berada


dalam kekuasaan kalian.!"


"Dan aku tidak akan membiarkan kau lenyap


begitu saja sebelum aku mendapatkan yang


aku inginkan.!"


Geram pria itu sambil menggenggam kuat


tangan Raya kemudian menarik tubuhnya ke


dalam rengkuhan nya. Raya kembali meronta,


entah darimana dia mendapatkan tenaga dan


keberanian yang tidak ada habisnya itu.Tanpa menunggu lagi pria itu kini melangkah cepat


menyeret tangan Raya menuju kearah helikopter


yang sudah mulai mengudara dan menderu


hebat, hembusan anginnya menyapu seluruh


tempat itu yang bergerak perlahan tenggelam.


"Kita pergi sekarang juga..!!"


Perintah pria codet tadi dengan tampang muka


yang sangat mengerikan sambil mendorong


paksa tubuh Raya untuk segera menaiki tangga


darurat helikopter tersebut. Namun Raya masih


mencoba berontak dengan meronta ingin keluar


dari dalam pesawat. Dari arah geladak bawah


muncul Aaron, dia melompat gesit ke geladak


atas sambil melancarkan serangan kearah pria


tadi yang juga tidak kalah lincah mengelak tanpa


melepas cengkeraman tangan nya pada Raya.


"Aaaroon...toloong akuu..!"


Raya menjerit meronta saat pria tadi memaksa


untuk naik keatas helikopter. Dirinya kini sudah


ada dalam pesawat namun dia masih berontak


dan berteriak kearah Aaron yang sedang saling


serang dengan pria codet itu yang kini berhasil


masuk ke dalam pesawat tanpa menghentikan


serangannya kearah Aaron. Pesawat sudah


mulai mengudara. Pasukan Aaron tidak ada


yang berani menembak pesawat tersebut


karena tahu di dalamnya ada istri sang ketua.


"Aaroonn... tolooong....!"


Teriakan Raya masih terdengar membahana,


memecah suasana mengalahkan deru mesin


pesawat yang mulai menjauh dari area kapal


layar tadi yang sudah hancur dan kini perlahan tenggelam. Namun ternyata Aaron berhasil


melompat keatas tangga darurat helikopter


tersebut dan kini berusaha untuk merayap


naik ke dalam pesawat.


"Damn..!! Kenapa kamu tidak menyerah saja.!"


Pria codet itu menggeram saat menyadari Aaron


berhasil naik dan kini sudah ada di pintu masuk pesawat. Keduanya bertarung darurat di tempat


yang sangat urgent itu. Raya membulatkan mata


di penuhi ketegangan menyaksikan tubuh gagah


Aaron berdiri darurat di tangga heli yang sedang terbang tanpa pengaman apapun dalam keadaan bertarung seru dengan pria codet tadi. Pesawat


oleng karena pergerakan hebat dari kedua orang


yang sedang bertarung itu. Tubuh Aaron masuk


ke dalam pesawat setelah dia berhasil memukul


dan memasukan beberapa tendangan telak pada


dada dan perut pria itu.


"Eden Wolf..! Kau yang bermain rupanya .!"


Dengus Aaron dengan seringai iblis nya. Dia


segera menarik tubuh Raya agar berlindung


di belakang nya. Namun sedetik kemudian


tubuh Aaron terhuyung saat pria codet tadi


berhasil mengirimkan tendangan keras pada


bagian dadanya, dan detik berikutnya pria itu

__ADS_1


melesakkan dua kali tembakan ke arah Aaron


tepat mengenai dada dan bahu kirinya.


"Aaroon....!!"


Raya menjerit saat melihat Aaron menggeram


memegangi dadanya yang terkena tembakan.


Namun bukannya mengendur Aaron kini seolah


kesetanan, dia mengirimkan tendangan secepat


kilat kearah pria itu hingga tubuh nya terjungkal


dan terlempar ke belakang. Pria itu membalikkan


badan, ada sesuatu yang aneh kini terjadi. Mata


pria itu berubah merah seakan menyemburkan


api hingga menimbulkan pecahan hebat dalam


ruang sempit pesawat tersebut.


Tubuh si pilot tiba-tiba terlempar dengan dahsyat


keluar dari pesawat. Ada pusaran angin kencang


yang kini datang menyerbu ke dalam ruang


pesawat itu hingga tubuh Aaron dan Raya mulai terseret dan tersapu. Aaron terkesiap melihat


gelagat tidak menguntungkan ini.


"Lompat sekarang...!"


Aaron memberi perintah pada Raya yang kini


membulatkan matanya, melompat.?? apa dia


sudah gila ? Belum sempat dia berpikir Aaron


sudah melesakkan tembakan peringatan ke


udara dan detik berikutnya pria itu merengkuh


tubuh Raya ke dalam pelukannya kemudian dia melompat terjun dari dalam pesawat tersebut


yang sudah cukup tinggi mengudara. Raya memejamkan mata dalam dekapan kuat Aaron


di tengah tubuhnya yang melayang di udara.


Tidak lama terdengar bunyi ledakan besar.


Tuhan.. inikah akhir hidupku.. Kalau benar


hamba ikhlas.. Semoga hamba pergi dalam


keadaan Ridho Mu ya Allah.. Tapi tolong


selamatkan suamiku..!


Raya melantunkan doa dalam hati sebelum


akhirnya kegelapan memeluk dirinya, masuk


ke dalam lorong pekat yang sangat dalam..


Tubuh Aaron dan Raya jatuh di atas matras


yang sudah terbentang di atas air. Semua


anak buahnya bergerak cepat menghampiri


Tuannya yang kini bangkit masih memeluk


erat tubuh Raya yang sudah terkulai lemas


tak sadarkan diri.


Ternyata matras itu berada di atas kapal selam


canggih milik Aaron yang di huni oleh pasukan


bawah air nya Hiu Putih . Aaron mengangkat


tubuh lemah itu ke dalam pangkuannya. Dia


melangkah masuk ke dalam kapal selam


tersebut sambil menggendong tubuh lemah


Raya tidak peduli pada luka di dada kirinya


karena tembakan tadi.


"Tuan anda terluka..!"


Alex tampak khawatir melihat kondisi Aaron


yang terlihat sedikit memucat.


"Aku tidak apa-apa.! Kita pulang sekarang.!"


"Baik Tuan."


Dan kapal canggih itu kini melesat di bawah air


membelah arus menuju ke tempat tujuan..


***


Pusat kota negara xxx...


malam. Di sebuah rumah berukuran sedang


yang ada di lingkungan perumahan eksklusif


di pusat kota xxx... keadaan tampak sedikit


sibuk. Ada beberapa penjaga di luar rumah.


Namun sengaja di buat tidak mencolok agar


tidak menimbulkan kegaduhan bagi penghuni


rumah yang lain.


Aaron dan Raya sudah ada di rumah ini. Sesuai


dengan keinginan Raya Aaron membawa wanita


itu ke rumah sederhana ini. Kata sederhana itu sebenarnya hanya untuk ukuran seorang Aaron


yang memiliki segalanya, tapi untuk orang lain


rumah ini terbilang cukup mewah. Rumahnya


terdiri dari dua lantai, dimana lantai atas hanya


berisi satu kamar utama berukuran luas dengan


segala fasilitas lengkap di dalamnya. Rumah ini


berada di lingkungan perumahan yang memiliki


sistem keamanan cukup bagus.


Lingkungannya juga sangat nyaman, bersih di


penuhi udara segar karena konsep perumahan


ini adalah back to nature. Semua rumah bercat


putih, tanpa pembatas dan bersentuhan langsung


dengan alam dimana di setiap rumah memiliki


perkebunan mini sendiri-sendiri yang ada di


halaman belakang .


Keadaan di dalam rumah saat ini di warnai oleh


berbagai kesibukan. Raya berada di kamar utama.


Kondisinya masih tak sadarkan diri karena syok


berat yang di alaminya. Selang infus melilit di


lengannya. Sementara di kamar bawah saat ini


Aaron sedang mendapatkan perawatan intensif.


Seharusnya dia di bawa ke rumah sakit karena


terlalu banyak kehilangan darah. Sewaktu dalam


kapal selam dia menolak untuk mendapatkan


perawatan padahal di sana juga ada dokter ahli


hingga keadaannya sekarang lumayan darurat.


Kondisi nya sangat lemah. Wajah dan kulitnya


tampak pucat. Dia juga kehilangan kesadaran


dan harus di bantu oleh beberapa alat medis.


Lewat tengah malam Raya kembali sadar. Dia


membuka matanya perlahan, menatap tenang


langit-langit kamar yang di hiasi lampu kistal


cantik yang sedikit temaram.


Tuhan.. dimanakah kini aku berada.? apakah


sekarang aku sudah ada di alam keabadian.?


Raya mendesah pelan ketika tiba-tiba kepala


nya terasa pusing. Dia memegang kepalanya,


matanya tertegun saat melihat selang infus


kini melilit di tangannya.


"Selang infus.? ada dimana aku sekarang.?"


"Kau sudah sadar.?"


Raya tersentak, matanya dengan cepat melirik


kearah sumber suara. Pandangannya langsung


mengarah pada satu sosok tinggi langsing dari


seorang wanita berwajah cantik, berkulit putih


bersih dengan rambut indah merah kecoklatan.


Wanita cantik itu baru saja muncul ke dalam


kamar membawakan nampan berisi makanan

__ADS_1


di ikuti oleh seorang wanita berwajah tegas


dan rapi berpakaian khas pelayan.


Dia segera menghampiri Raya, menyimpan


nampan di atas nakas. Keduanya kini saling


menatap, alis Raya bertaut bingung, sedang


wanita itu tampak tersenyum.


"Hai.. bagaimana perasaanmu sekarang.?"


Wanita cantik yang memiliki aura positif itu


tersenyum lembut seraya duduk di pinggir


tempat tidur, meraih pergelangan tangan


Raya dan mengecek denyut nadinya.


"Si-siapa kamu ? ada dimana aku, apa aku


masih hidup.?"


Wanita itu kembali tersenyum, kali ini raut


wajah geli tampak terpendar dari wajahnya.


"Tentu saja kau masih hidup. Dan sekarang ini


kau ada di rumahmu."


"Rumahku..? Apakah aku pulang kembali ke


rumah Papah.?"


Raya masih tampak kebingungan. Dia kembali


memegang kepalanya dan memejamkan mata.


Wanita itu melepaskan pegangan tangannya.


"Aku akan memeriksa mu sekali lagi untuk


memastikan kondisimu.!"


Wanita cantik itu memberi isyarat pada wanita


yang tadi ikut masuk bersamanya, dia langsung


bergerak mengambil tas yang ada di atas meja


di ruang depan. Tidak lama sudah kembali lalu


menyerahkan tas kecil tersebut. Dan kini wanita


cantik yang sepertinya berprofesi sebagai dokter


itu mengeluarkan stetoskop kemudian mulai


mengecek kondisi Raya yang hanya bisa terdiam memperhatikan apa yang di lakukannya di tengah kebingungan dengan keberadaan orang-orang


asing itu. Tidak lama dia sudah mengakhiri


kegiatannya seraya menarik napas lega.


"Sejauh ini fisikmu baik-baik saja. Kau hanya


tinggal memulihkan kondisi mental mu.!"


"A-Aaron.. apa yang terjadi dengan nya.?


Raya tampak tersentak seakan baru terbangun


dan tersadar dari segala kerumitan pikirannya.


Dia bangkit lalu bergerak dari atas tempat tidur


membuat wanita cantik tadi terkejut kemudian


menahan tubuh Raya yang memaksa ingin


turun dari atas tempat tidur.


"Hei.. tenanglah.. tidak terjadi apa-apa pada


nya ! Kau harus memulihkan kondisi mu dulu."


"Ada dimana dia.? apa benar dia baik-baik saja?


Bisakah aku bertemu dengan nya.?"


"Tentu saja, kau bisa menemuinya. Tapi nanti


setelah keadaanmu pulih sepenuhnya."


"Tidak, aku ingin bertemu dengannya sekarang.


Aku harus memastikan keadaannya.! "


"Raya..kau masih lemah.! kondisimu belum


stabil, dia tidak akan menyukainya.!"


Raya terhenyak, dia menatap tajam wajah


gadis cantik di hadapannya ini.


"Kau mengenalku.? siapa kau sebenarnya.?"


Wanita itu membalas tatapan Raya yang


seolah sedang menginterogasi nya.


"Tentu aku tahu siapa kamu, karena sekarang


kamu terikat hubungan tidak sengaja dengan


kakak sepupuku !"


Mata Raya mengerjap, terkejut dengan apa


yang di katakan oleh wanita itu.


"Kau sepupunya Aaron..? seperti Ansel..?"


"Aku Alea..saudari kembarnya Ansel."


Jelas gadis itu atau Alea yang mengaku sebagai saudari kembarnya Ansel. Raya terdiam, masih


menatap Alea yang kini merapihkan kembali


peralatan medisnya.


"Dimana Aaron..? Tolong jangan menutupi


apapun dariku. Aku tahu keadaanya tidak


baik-baik saja, dia terluka karena aku."


Raya berucap sambil kemudian turun dari atas


tempat tidur dengan menenteng botol infus di


tangannya tanpa bisa di tahan lagi. Dan hal itu membuat Alea kembali terkejut melihat apa


yang di lakukan oleh wanita yang notabenenya


adalah kakak iparnya itu. Dia segera mendekat


kearah Raya yang mulai bergerak melangkah.


"Dia ada di lantai bawah. Tapi keadaan mu


sendiri masih belum pulih kakak ipar."


"Aku tidak apa-apa. Aku harus melihatnya.


Tolong jangan mencoba menghalangi ku.!"


Ucap Raya sambil kemudian melangkah keluar


dari kamar di ikuti oleh wanita yang tadi datang


bersama dengan Alea, raut wajahnya tampak


khawatir melihat kenekatan Raya.


"Dan tolong lepaskan ini dariku.! Aku sudah


merasa lebih baik sekarang.."


Pinta Raya sambil menatap selang infus di


tangan nya sesaat sebelum menuruni tangga.


Alea menarik napas berat, wanita ini ternyata


sangat berbeda, dia sangat keras dan tidak


bisa di manipulasi.


Dengan langkah gontai karena sesungguhnya


kondisinya masih dalam keadaan lemah Raya


turun perlahan ke lantai bawah. Ansel, Alex dan


Griz tampak bengong melihat kemunculan Raya


yang masih dalam keadaan terlilit selang infus


tersebut, mereka terlihat berdiri menyambut


dengan wajah yang sama-sama tegang.


"Kakak ipar..? Kenapa kau memaksa turun.?"


Ansel tampak tergagap dalam keterkejutan.


Raya menatap tajam wajah tampan Ansel,


pria itu tampak menggaruk tengkuknya yang


tidak gatal.


"Dimana kamarnya.?"


Ansel melirik ragu kearah kamar tempat Aaron


berada. Raya melangkah cepat ke kamar itu.


Dia mendorong pintu kamar yang tidak terkunci


kemudian masuk ke dalam ruangan yang cukup


luas itu. Tubuhnya tiba-tiba membeku, terhenyak,


menatap tidak percaya pada kondisi laki-laki


yang telah mati-matian mempertaruhkan


nyawanya untuk menyelamatkan dirinya itu..


***


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2