Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
88. Gerakan Massa


__ADS_3

***


Suasana di kompleks perumahan tempat tinggal


Raya kini berubah gaduh dan riuh. Para wartawan


berdatangan bersamaan dengan pasukan khusus


yang datang langsung bersama Jenderal Howard.


Di tambah lagi kedatangan beberapa senator dan


para petinggi istana. Mereka semua yang asalnya


akan menemui sang Raja di istana kini merubah


arah dan tujuan dengan datang ke tempat ini.


Karuan saja hal itu membuat suasana perumahan yang asalnya sunyi dan sepi sekarang berubah layaknya sebuah alun-alun.


Sementara itu di dalam rumah, tepatnya di ruang


tengah Raja dan Ratu tampak sedang duduk di


sofa berhadapan dengan Aaron. Tidak lama Raya


muncul ke dalam ruangan membawakan nampan


berisi minuman racikan yang baru saja di buatnya


untuk ketiga orang penting itu karena kini sudah


mulai terserang efek nasi goreng mercon. Mereka


mulai bolak-balik ke kamar mandi walaupun


dokter pribadi sudah memberikan obat.


"Yang Mulya.. saya mohon minumlah ini."


Ucap Raya sambil mengulurkan cangkir racikan


ke hadapan Raja dan Ratu yang menatapnya


sedikit ragu. Tapi Aaron yang sudah menerima


minuman itu duluan tampak santai dan mulai


meneguk minuman itu penuh nikmat. Akhirnya


Raja dan Ratu menerima juga minuman itu lalu


perlahan mencicipi nya. Mata mereka tampak


mengerjap, minuman ini rasanya sangat segar,


sedikit manis, asem dan ada aroma rempah


wangi yang membuat mulut serta tenggorokan


mereka terasa wangi sekaligus plong.


Raja dan Ratu saling pandang, nampak jelas


rasa penasaran sekaligus ketagihan di wajah


mereka. Keduanya kembali meneguk minuman


itu yang langsung mengalir hangat ke dalam


perut dan menyebarkan rasa nyaman serta


perlahan menghilangkan rasa panas yang tadi


seolah membakar lambung mereka.


"Woww.. minuman ini benar-benar berbeda."


Puji sang Raja sambil menatap cangkir ramuan


itu lalu meminumnya kembali sampai tandas.


"Benar sekali.. Kau harus membuatkan kami


minuman istimewa lainnya ciri khas negara


asalmu. Aku tahu negara asalmu kaya akan


budaya dan kuliner yang berlimpah."


Sambung Sang Ratu dengan wajah cerah ceria.


Ini benar-benar di luar dugaan nya, wanita yang


sudah berhasil menaklukkan hati puteranya itu


ternyata bukan wanita biasa. Sepertinya dia


menguasai berbagai sendi kehidupan.


"Tentu Yang Mulya.. dengan senang hati."


Sahut Raya halus sambil mengulas senyum


lembut dan tenang, dia kemudian duduk di


samping Aaron yang langsung menggenggam


erat tangannya dengan raut wajah tak terbaca.


"Apa gejala morning sickness mu parah.?"


Ratu menatap seksama wajah cantik menantu


nya yang kini mengangkat wajahnya, mereka


berdua saling menatap tenang. Jantung Ratu


Virginia kini berdegup kencang..dia baru ngeuh..


menantunya ini ternyata memilki mata yang


sangat istimewa, mata Dewi Batari yang bisa melumpuhkan apapun yang di kehendakinya.


Dia benar-benar terkejut, kenapa baru sekarang


dirinya menyadari fakta ini.


"Tidak terlalu sering Yang Mulya.."


"Bayi itu tidak akan pernah menyusahkan


ibunya. Orang-orang yang ada di sekitarnya


lah yang akan terkena getahnya.!"


Desis Raja Williams dengan penuh keyakinan


dan mengulas senyum bangga. Raya dan Aaron


kembali saling melirik, darimana Raja bisa tahu


tentang hal itu ?


Ke dalam ruangan kini bermunculan orang-


orang penting. Mereka sebenarnya terkejut


menyadari Putra Mahkota mau tinggal di


tempat yang sangat sederhana ini bersama


dengan sekretaris pribadi nya.


Peristiwa semalam sengaja di redam oleh pihak


istana untuk sementara waktu. Para wartawan


istana dilarang menayangkan berita tentang


kejadian semalam. Oleh karena itu sampai saat


ini status Raya sebagai istri Putra Mahkota


terlebih sebagai Putri Jenderal Serkan masih


terjaga dengan baik. Istana akan melihat dulu serangan apa yang akan di lancarkan oleh


pihak Alfred Winston.


Raja Williams tampak berbincang dengan para


petinggi istana dan 3 orang senator yang berada


di bawah perintahnya dan bukan merupakan orang-orang nya Alfred Winston. Mereka kini mengangguk faham lalu mengakhiri pembicaraan.


"Aaron..kita harus kembali ke istana sekarang


juga. Saat ini situasi sudah semakin genting !"


Raja Williams berkata tegas sambil berdiri dari


duduknya di ikuti oleh Ratu Virginia. Hahh.?


Aaron dan Raya menatap heran kearah mereka.


"Ada apa ini, apa yang kalian inginkan


sebenarnya.?"


Aaron bertanya dengan tampang lurus dan


datar tanpa ekspresi berlebihan.


"Apa kau akan terus-terusan membawa istrimu


hidup berpindah-pindah tempat seperti burung.?


Kau tidak malu pada keluarga istrimu.?"


Aaron mendengus, dia melempar pandangan nya.


Raya meraih tangan Aaron, mengelusnya lembut


penuh perhatian dengan tatapan teduh mencoba


untuk menenangkan pria itu.


"Aku akan hidup sesuai dengan keinginan ku.!"


"Putra Mahkota..hari ini juga kau akan mulai


berkantor di istana dan belajar menjalankan


segala peranmu. Aku akan mengalihkan segala


urusan kepadamu.!"


Aaron dan Raya terkejut ? Pengalihan urusan.?


Bukankah hal itu biasanya terjadi kalau Putra


Mahkota sudah resmi memilliki pendamping


hidup dan proses penobatan Putri Mahkota


akan segera di laksanakan. Aaron dan Raya


berdiri bersamaan, menatap kearah Raja Williams.


"Apa maksud Ayah sebenarnya.?"


Raja Williams tersenyum lebar, sebutan ayah


yang jarang di ucapkan oleh Aaron ibarat oase


di padang pasir yang mampu menghilangkan


dahaga jiwanya. Wajah Ratu Virginia pun sama,


tampak berbinar bahagia.


"Kembalilah ke istana.. Mulai sekarang kau


harus menjalankan peran mu seutuhnya. Aku


sudah semakin tua, sudah tidak mampu untuk


mengurusi semua hal. Sekarang saatnya kalian


yang berperan untuk memajukan negara ini.!"


Aaron dan Raya saling pandang. Wajah Raya


tampak ragu untuk meyakini semua ini.


"Mohon maaf Yang Mulya.. Sepertinya situasi


keamanan negara saat ini belum mendukung


bagi saya untuk tinggal di istana ."


"Aku juga tidak akan tinggal di istana tanpa


membawa istriku masuk secara resmi.!"


Tegas Aaron dengan wajah yang terlihat keras.


Raya menatap Aaron tidak setuju. Ratu Virginia mendekat lalu berdiri di hadapan mereka.


"Kau harus memasuki istana sekarang Princess.


Kami tidak bisa membiarkan keselamatan mu terancam. Kau adalah seseorang yang paling


penting untuk bangsa dan negara xxx..saat ini.!


Kau mengandung keturunan keluarga kerajaan.!"


Tegas Ratu Virginia dengan tatapan teduh dan


yakin. Entah kemana lenyapnya seorang Ratu


Virginia yang begitu membanggakan Catharina.


Satu fakta penting tentang kehamilan Raya telah


mampu menjungkir balikkan kepercayaan dan


keyakinan Raja dan Ratu. Mereka tidak akan


mempertimbangkan apapun lagi. Karena fakta

__ADS_1


ini adalah satu hal yang paling di inginkan oleh


mereka semua.


Raya tampak menatap ragu ibu mertuanya itu


yang terlihat mengangguk mencoba meyakinkan.


"Maafkan kelancangan saya Yang Mulya..Kami


akan datang dan masuk secara resmi ke istana


kalau rakyat sudah bisa menerima kehadiran


saya di sisi Putra Mahkota.."


Tegas Raya yang membuat semua orang kini


terhenyak dan terdiam. Apa yang di katakan


oleh Raya memang satu hal yang tepat. Tapi


tempat ini benar-benar sangat tidak layak.


"Saya nyaman tinggal di tempat ini Yang Mulya..


Dan jangan khawatir soal kemananan.."


Raya menegaskan kembali seolah memahami


apa yang ada dalam pikiran kedua mertuanya.


Aaron menyeringai tipis sambil memeluk erat


pinggang Raya posesif.


"Jangan khawatir.. kalau kalian memang sudah


memutuskan, aku akan berkantor di istana mulai


hari ini juga. Aku akan pergi menyusul nanti."


Ujar Aaron sambil mencium puncak kepala Raya


tanpa ragu dan malu membuat semua orang kini


terlihat salah tingkah. Wajah Raya pun langsung


memerah seluruhnya. Dia benar-benar malu dan


kesal dengan tingkah suaminya itu. Raja dan


Ratu hanya bisa saling pandang lalu menarik


napas berat melihat bagaimana posesifnya


Putra Mahkota terhadap istrinya itu.


"Baiklah..kalian akan memasuki istana secara


resmi saat semua permasalahan sudah bisa


di selesaikan dengan baik dan rakyat sudah bisa


menerima keberadaan Princess Emeera. Jadi


untuk sekarang biarkan semua nya seperti ini.!"


Akhirnya Raja Williams memutuskan sambil


kemudian mengusap lembut rambut Raya yang


langsung membungkukkan badannya penuh


hormat. Akhirnya Raja dan Ratu pergi duluan


dari kompleks perumahan itu di ikuti oleh seluruh jajarannya dan puluhan mobil pengawal serta


para wartawan yang tadi tertahan di luar rumah.


Berbagai spekulasi muncul di khalayak ramai


tentang kedatangan Raja dan Ratu ke rumah


tempat tinggal Sang sekretaris pribadi Putra


Mahkota yang sedang menjadi pusat perhatian


dan pusat masalah itu. Apakah Raja dan Ratu


sedang memberikan ultimatum atau surat


pengasingan terhadap gadis asing itu.?


Hari ini terjadi lagi demo besar di beberapa sudut wilayah kota hingga menyebabkan terganggunya ekonomi dan aktifitas harian sebagian warga kota yang lebih berpikiran moderat dan tidak ingin ikut-ikutan tindakan tidak perlu ini. Mereka berpikir bahwa istana akan lebih bijak dalam menangani masalah ini.


Aksi unjuk rasa itu isinya menginginkan jawaban


dari pihak istana tentang masalah yang sedang


terjadi, terutama ketegasan dari pihak istana


dalam yang di pimpin oleh Ibu Suri dan Sang


Ratu yang bertanggung jawab terhadap semua


masalah perjodohan ini. Namun sampai aksi


selesai, tidak ada siapapun yang di kirim oleh


pihak istana untuk memenuhi tuntutan mereka.


Akhirnya para pendemo mengancam akan


mengerahkan massa yang lebih besar lagi


esok hari untuk mengakhiri semua kemelut ini.


***


Keesokan harinya...


Suasana di sekitar perumahan White House


hari ini sangat berbeda. Di setiap sudut tempat


terlihat penjaga berseragam hitam-hitam sudah bersiaga sejak tengah malam. Karena ancaman persekusi yang akan di lakukan oleh pendemo


terhadap Raya bukanlah main-main. Ada pasukan


khusus yang mencoba masuk menerobos jalur


penjagaan yang di terapkan di gerbang perumahan.


Komplek perumahan itu saat ini sudah berubah


seakan menjadi markas pertahanan. Para warga


di larang keluar komplek untuk menjaga segala


kemungkinan. Dan anehnya mereka tidak merasa


keberatan dengan kondisi ini, mereka malah


menyatakan diri akan ada di belakang Raya


untuk mendukung dan mempertahankannya


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Saat


ini Raya sedang memasangkan dasi di leher


Aaron. Wajah keduanya tampak datar sedikit


kaku saat menyadari situasi keamanan detik


ini semakin tidak terkendali. Sejak semalam


perasaan Raya sudah tidak bisa di bohongi.


Hari ini sepertinya akan menjadi penentuan


untuk langkah Takdir hidupnya ke depan.


"Aaron..hari ini Takdir kehidupan kita ke depan


akan di mulai. Kau tidak boleh gegabah dalam


bertindak dan mengambil keputusan."


Lirih Raya dengan tatapan lurus ke wajah tampan


Sang suami yang terlihat datar dan dingin. Mata


mereka saling menatap lekat, sementara tangan


Raya masih bergerak aktif memasang dasi. Aaron menarik pinggang Raya agar tubuh mereka


semakin merapat hingga wajah mereka kini


hanya tersisa beberapa inchi saja.


"Kita akan melewati semuanya.. Hari ini rakyat


akan melihat siapa Alfred Winston sebenarnya.!"


"Berhati-hatilah.. Eden Wolf bisa melakukan


apapun tanpa memikirkan nyawa orang lain."


"Aku tahu, pasukan bayangan nya yang kemarin


dia sebar sudah berhasil di amankan semuanya


oleh pasukan ku.! Saat ini mereka mengandalkan pasukan black Hunter dan pasukan rekrutan baru


yang sudah masuk ke dalam kerumunan para


pendemo.!"


Raya mengelus pelan dada Aaron. Dia menatap


tampilan suaminya itu yang terlihat gagah dalam balutan jas warna hitam. Pandangan mereka kini semakin mendalam.


"Aku mencintaimu Aaron.. Aku tidak ingin


terjadi apapun padamu."


Bisik Raya sambil mengusap lembut bibir seksi


Aaron yang mencoba menetralkan pernapasan


nya saat serbuan hasrat tiba-tiba saja datang


tanpa permisi.


"Kau adalah nyawaku saat ini. Tanpa dirimu


apalah artinya keberadaan ku sekarang."


Desis Aaron dengan suara yang sangat berat


dan dalam gerakan reflek bibir mereka saling memagut, saling ******* lembut, melancarkan


aksi panas dan intens yang semalam terlewat


karena situasi yang tidak mendukung.


Sementara itu di tengah kota...


Ternyata ancaman yang di lancarkan pendemo


hari kemarin di buktikan hari ini. Para pendemo kembali datang dengan jumlah massa yang lebih banyak lagi. Bukan hanya itu, sepertinya mereka


juga datang dengan persiapan penuh. Mereka


datang membawa misi harus mendapatkan hasil


yang memuaskan. Yakni pengusiran terhadap Sekretaris pribadi Putra Mahkota dan keputusan tanggal pernikahan antara Putra Mahkota dengan


Lady Catharina.


Situasi di alun-alun kota saat ini di penuhi oleh


ribuan pendemo yang menginginkan kehadiran


Aaron serta seluruh keluarga kerajaan. Mereka


menuntut jawaban pasti dari pihak istana tentang


semua kemelut yang sedang terjadi. Dan mereka


mengancam akan melakukan tindakan persekusi


terhadap wanita yang telah menyebabkan semua


kekacauan ini terjadi.


Semua stasiun televisi hari ini menayangkan


proses demo besar-besaran ini secara live. Ini


adalah gebrakan besar yang dari awal sudah


di dengungkan oleh pihak Alfred Winston. Dia


beserta para pengikutnya dan beberapa keluarga bangsawan yang ada di bawah kuasanya terjun langsung ke lokasi memimpin semua gerakan


yang semakin lama semakin anarkis saja.


Para pendemo kini bergerak merusak berbagai fasilitas negara dan taman kota. Mereka juga mengancam para pedagang dan pemilik toko


yang ada di sepanjang jalan agar meliburkan


kegiatan usahanya hari ini hingga kini ekonomi


di ibukota menjadi lumpuh.


Hari ini ribuan pasukan keamanan negara turun


ke jalan untuk meredam aksi yang semakin lama


semakin anarkis tersebut hingga bentrokan pun


tidak bisa di hindari antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan. Dan kawasan istana menjadi


pusat dari penjagaan hari ini dengan penerapan


lapisan keamanan yang terbagi dalam beberapa


ring sebab para pendemo saat ini sudah mulai merapat ke istana.

__ADS_1


Sementara Aaron saat ini tengah duduk di kursi tahtanya di dalam kantor istana yang bertempat


di bagian depan. Istana depan memang khusus


di peruntukkan sebagai kantor Sang Raja beserta


para stafnya.


Semua bawahannya saat ini sedang berkumpul.


Ada Ansel, Alex, Benjamin, termasuk juga Enrique


dan Jenderal Howard, serta beberapa Jenderal


yang membawahi kesatuan masing-masing di kemiliteran. Mereka semua sedang membahas


situasi keamanan yang saat ini sudah mulai


terlihat arahnya kemana. Dan inilah yang di


tunggu-tunggu oleh Aaron.


Mereka semua sedang mengamati pergerakan


para pendemo yang kini sudah mendekat ke


istana di pimpin oleh Alfred Winston, Lucas dan


beberapa petinggi parlemen serta beberapa


senator yang terlihat jelas di layar monitor besar


yang ada di dalam ruang kerja berukuran luas


dan super mewah tersebut.


"Biarkan mereka mendekat. Kita akan datang


setelah mereka semua masuk perangkap.!"


Tegas Aaron begitu ada telepon dari Markus


dan Matius yang di tugaskan untuk menangani


situasi di lapangan. Semua orang terdiam, wajah


mereka kini tampak mengeras dengan ekspresi


yang terlihat menahan emosi melihat situasi


yang semakin memanas itu.


"Jenderal Howard.. suruh bawahan mu untuk


mengarahkan para pendemo ke menara Utara.


Katakan bahwa Raja dan aku akan menemui


mereka di sana !"


Aaron memberi perintah tegas membuat semua


orang langsung serentak berdiri.


"Baik Yang Mulya.!"


"Kita akan bergerak sesuai rencana awal.!"


"Baik, laksanakan.!"


Semua orang serempak menjawab. Setelah itu


para jenderal bergerak keluar ruangan.


"Pastikan istriku berada di tempat yang aman.


Jangan biarkan dia keluar sebelum aku suruh.!"


Aaron kembali memberi perintah pada Alex dan


Benjamin yang langsung memberi sikap hormat.


Ansel tampak menatap khawatir ke arah Aaron


yang sedang menatap layar monitor.


"Kakak.. apa kau yakin ini akan berakhir baik.?"


Aaron terdiam, melipat kedua tangannya di dada


sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Tidak ada yang baik dalam sebuah peperangan.


Tapi tetap saja, harus ada yang di korbankan


untuk bisa mencapai suatu tujuan. !"


Ansel mengangguk resah. Pikirannya saat ini


sedang melayang pada sosok Raya yang entah


berada dimana karena Aaron menyembunyikan keberadaan nya.


Sementara itu para pendemo saat ini sudah ada


area menara utara. Mereka yang berjumlah ribuan


itu kini berkumpul di titik khusus halaman menara yang biasa di gunakan oleh istana untuk acara pertemuan langsung dengan rakyat. Di barisan


bagian depan tampak keberadaan Alfred Winston


di dampingi oleh Lucas serta beberapa pria yang


terlihat menyeramkan. Kemudian para pengikut


dan bawahan perdana menteri yang menduduki


jabatan penting di pemerintahan


Satu jam kemudian Raja Williams bersama Aaron


bergerak ke bagian menara utara yang berada di


istana bagian sayap kiri. Mereka di temani semua petinggi istana, para senator dan petinggi militer.


Keduanya kini berdiri di balkon menara, menatap


sedih dan kecewa kearah ribuan pendemo yang


mau saja di gerakkan oleh oknum tertentu.


Begitu melihat kemunculan Raja Williams dan


Putra Mahkota di balkon utama menara yang


berjarak sekitar 10 meter dari atas permukaan


tanah itu suasana berubah jadi semakin tidak


terkendali karena Massa terus berteriak dan


merangsek maju mendekat kearah balkon yang


sudah di lapisi barikade penjagaan dari aparat


keamanan.


"Saudaraku semuanya tenanglah..! Saya minta


kerjasama nya dari kalian semua..!"


Raja Williams mulai berbicara menggunakan


pengeras suara. Namun massa tampaknya sudah kelewat kesal, mereka tiada henti menyuarakan aspirasi dan segala tuntutannya hingga tidak lagi


memperdulikan himbauan dari Sang Raja. Mereka menginginkan kehadiran dari sosok yang saat ini sedang menjadi pusat permasalahan.


"Hadirkan sekretaris pribadi Putra Mahkota..


Dia harus bertanggung jawab atas semua ini.!"


Begitulah isi teriakan dari para pengunjuk rasa.


Mereka benar-benar menginginkan kehadiran


Sekretaris pribadi Putra Mahkota yang tidak tahu


diri, perebut calon suami orang, wanita murahan,


wanita buangan, wanita penuh kutukan dan..


entah apalagi hujatan kejam yang di alamatkan


padanya.!


Wajah Aaron tampak mengeras seketika. Mata


nya kini menatap tajam kearah Alfred Winston


dan Lucas yang terlihat tersenyum miring penuh


kepuasan. Inilah yang mereka maksudkan, ada


mayoritas dukungan rakyat di belakang mereka.


"Bisakah kalian semua untuk sedikit tenang.?


Bukankah kalian menginginkan pernyataanku?"


Akhirnya Aaron membuka suara dengan nada


yang terdengar berat menahan serbuan amarah


yang kini memenuhi dadanya. Suasana berubah


sedikit tenang walaupun di bagian belakang


masih saja terjadi kericuhan.


"Aku akan memberi pernyataan dan keputusan


penting terkait semua masalah yang akhir-akhir


ini membuat keutuhan negara terancam. Semua


ini terjadi karena pilihanku berbeda dengan


pilihan istana.!"


Kembali tegas Aaron membuat suasana malah


bertambah gaduh dan ribut.


"Maaf kalau rakyat harus merasa kecewa pada


apa yang aku putuskan ini , karena aku tidak


bisa menerima perjodohan ini..!!"


Untuk sesaat para pendemo tampak bengong.


Terdiam di tempat nya masing-masing. Mereka


benar-benar tidak percaya kalau Putra Mahkota


akan menolak mentah-mentah perjodohan ini.


"Aku tidak akan bisa menerima kehadiran wanita


lain di dalam kehidupan ku. Karena aku sudah


memilki seseorang di dalam hatiku. Aku jatuh


cinta pada wanita lain. Wanita yang kalian kenal


sebagai sekertaris ku, dia sebenarnya adalah


istriku.. wanita satu-satunya dalam hidupku..!!"


Ribuan orang itu tampak terkejut, mematung di


tempat dengan tatapan yang semuanya sama..


tidak percaya atas apa yang di dengarnya. Putra


Mahkota telah menikah, dan dengan wanita


yang akhir-akhir ini jadi sorotan.??


"Kami butuh bukti.. Kami memerlukan kehadiran


wanita sekretaris itu.. !!"


Sekelompok orang yang di pimpin oleh Lucas


terdengar memberikan provokasi hingga kini


menyulut emosi dan kericuhan di antara para


pendemo yang akhirnya memicu keributan


kembali terjadi. Mereka berteriak-teriak lantang meminta kehadiran wanita yang di akui sebagai


istri Putra Mahkota tersebut dengan tindakan


yang semakin di luar kendali, melemparkan


batu dan botol-botol minuman kearah menara.


"Saya sudah di ada di sini sekarang. Jadi saya


minta kerjasamanya dari kalian semua untuk


tetap menjaga keamanan dan ketertiban..!!"


Grep !!


Suasana hening seketika, ribuan mata pendemo


kini terfokus seluruh nya pada kemunculan sosok cantik jelita yang begitu bercahaya di atas balkon dengan pancaran aura terang yang menyelubungi seluruh dirinya.


Di samping kanan kiri sosok itu tampak ada 4


sosok pria tinggi kekar dengan tampang dan penampilan yang terlihat berbeda. Mereka adalah


para prajurit pilihan, pengawal pribadi jenderal


besar Serkan Ahmed yang terkenal dengan


sebutan 4 iblis bayangan dari Timur...

__ADS_1


***


__ADS_2