
***
Suasana di kompleks perumahan tempat tinggal
Raya kini berubah gaduh dan riuh. Para wartawan
berdatangan bersamaan dengan pasukan khusus
yang datang langsung bersama Jenderal Howard.
Di tambah lagi kedatangan beberapa senator dan
para petinggi istana. Mereka semua yang asalnya
akan menemui sang Raja di istana kini merubah
arah dan tujuan dengan datang ke tempat ini.
Karuan saja hal itu membuat suasana perumahan yang asalnya sunyi dan sepi sekarang berubah layaknya sebuah alun-alun.
Sementara itu di dalam rumah, tepatnya di ruang
tengah Raja dan Ratu tampak sedang duduk di
sofa berhadapan dengan Aaron. Tidak lama Raya
muncul ke dalam ruangan membawakan nampan
berisi minuman racikan yang baru saja di buatnya
untuk ketiga orang penting itu karena kini sudah
mulai terserang efek nasi goreng mercon. Mereka
mulai bolak-balik ke kamar mandi walaupun
dokter pribadi sudah memberikan obat.
"Yang Mulya.. saya mohon minumlah ini."
Ucap Raya sambil mengulurkan cangkir racikan
ke hadapan Raja dan Ratu yang menatapnya
sedikit ragu. Tapi Aaron yang sudah menerima
minuman itu duluan tampak santai dan mulai
meneguk minuman itu penuh nikmat. Akhirnya
Raja dan Ratu menerima juga minuman itu lalu
perlahan mencicipi nya. Mata mereka tampak
mengerjap, minuman ini rasanya sangat segar,
sedikit manis, asem dan ada aroma rempah
wangi yang membuat mulut serta tenggorokan
mereka terasa wangi sekaligus plong.
Raja dan Ratu saling pandang, nampak jelas
rasa penasaran sekaligus ketagihan di wajah
mereka. Keduanya kembali meneguk minuman
itu yang langsung mengalir hangat ke dalam
perut dan menyebarkan rasa nyaman serta
perlahan menghilangkan rasa panas yang tadi
seolah membakar lambung mereka.
"Woww.. minuman ini benar-benar berbeda."
Puji sang Raja sambil menatap cangkir ramuan
itu lalu meminumnya kembali sampai tandas.
"Benar sekali.. Kau harus membuatkan kami
minuman istimewa lainnya ciri khas negara
asalmu. Aku tahu negara asalmu kaya akan
budaya dan kuliner yang berlimpah."
Sambung Sang Ratu dengan wajah cerah ceria.
Ini benar-benar di luar dugaan nya, wanita yang
sudah berhasil menaklukkan hati puteranya itu
ternyata bukan wanita biasa. Sepertinya dia
menguasai berbagai sendi kehidupan.
"Tentu Yang Mulya.. dengan senang hati."
Sahut Raya halus sambil mengulas senyum
lembut dan tenang, dia kemudian duduk di
samping Aaron yang langsung menggenggam
erat tangannya dengan raut wajah tak terbaca.
"Apa gejala morning sickness mu parah.?"
Ratu menatap seksama wajah cantik menantu
nya yang kini mengangkat wajahnya, mereka
berdua saling menatap tenang. Jantung Ratu
Virginia kini berdegup kencang..dia baru ngeuh..
menantunya ini ternyata memilki mata yang
sangat istimewa, mata Dewi Batari yang bisa melumpuhkan apapun yang di kehendakinya.
Dia benar-benar terkejut, kenapa baru sekarang
dirinya menyadari fakta ini.
"Tidak terlalu sering Yang Mulya.."
"Bayi itu tidak akan pernah menyusahkan
ibunya. Orang-orang yang ada di sekitarnya
lah yang akan terkena getahnya.!"
Desis Raja Williams dengan penuh keyakinan
dan mengulas senyum bangga. Raya dan Aaron
kembali saling melirik, darimana Raja bisa tahu
tentang hal itu ?
Ke dalam ruangan kini bermunculan orang-
orang penting. Mereka sebenarnya terkejut
menyadari Putra Mahkota mau tinggal di
tempat yang sangat sederhana ini bersama
dengan sekretaris pribadi nya.
Peristiwa semalam sengaja di redam oleh pihak
istana untuk sementara waktu. Para wartawan
istana dilarang menayangkan berita tentang
kejadian semalam. Oleh karena itu sampai saat
ini status Raya sebagai istri Putra Mahkota
terlebih sebagai Putri Jenderal Serkan masih
terjaga dengan baik. Istana akan melihat dulu serangan apa yang akan di lancarkan oleh
pihak Alfred Winston.
Raja Williams tampak berbincang dengan para
petinggi istana dan 3 orang senator yang berada
di bawah perintahnya dan bukan merupakan orang-orang nya Alfred Winston. Mereka kini mengangguk faham lalu mengakhiri pembicaraan.
"Aaron..kita harus kembali ke istana sekarang
juga. Saat ini situasi sudah semakin genting !"
Raja Williams berkata tegas sambil berdiri dari
duduknya di ikuti oleh Ratu Virginia. Hahh.?
Aaron dan Raya menatap heran kearah mereka.
"Ada apa ini, apa yang kalian inginkan
sebenarnya.?"
Aaron bertanya dengan tampang lurus dan
datar tanpa ekspresi berlebihan.
"Apa kau akan terus-terusan membawa istrimu
hidup berpindah-pindah tempat seperti burung.?
Kau tidak malu pada keluarga istrimu.?"
Aaron mendengus, dia melempar pandangan nya.
Raya meraih tangan Aaron, mengelusnya lembut
penuh perhatian dengan tatapan teduh mencoba
untuk menenangkan pria itu.
"Aku akan hidup sesuai dengan keinginan ku.!"
"Putra Mahkota..hari ini juga kau akan mulai
berkantor di istana dan belajar menjalankan
segala peranmu. Aku akan mengalihkan segala
urusan kepadamu.!"
Aaron dan Raya terkejut ? Pengalihan urusan.?
Bukankah hal itu biasanya terjadi kalau Putra
Mahkota sudah resmi memilliki pendamping
hidup dan proses penobatan Putri Mahkota
akan segera di laksanakan. Aaron dan Raya
berdiri bersamaan, menatap kearah Raja Williams.
"Apa maksud Ayah sebenarnya.?"
Raja Williams tersenyum lebar, sebutan ayah
yang jarang di ucapkan oleh Aaron ibarat oase
di padang pasir yang mampu menghilangkan
dahaga jiwanya. Wajah Ratu Virginia pun sama,
tampak berbinar bahagia.
"Kembalilah ke istana.. Mulai sekarang kau
harus menjalankan peran mu seutuhnya. Aku
sudah semakin tua, sudah tidak mampu untuk
mengurusi semua hal. Sekarang saatnya kalian
yang berperan untuk memajukan negara ini.!"
Aaron dan Raya saling pandang. Wajah Raya
tampak ragu untuk meyakini semua ini.
"Mohon maaf Yang Mulya.. Sepertinya situasi
keamanan negara saat ini belum mendukung
bagi saya untuk tinggal di istana ."
"Aku juga tidak akan tinggal di istana tanpa
membawa istriku masuk secara resmi.!"
Tegas Aaron dengan wajah yang terlihat keras.
Raya menatap Aaron tidak setuju. Ratu Virginia mendekat lalu berdiri di hadapan mereka.
"Kau harus memasuki istana sekarang Princess.
Kami tidak bisa membiarkan keselamatan mu terancam. Kau adalah seseorang yang paling
penting untuk bangsa dan negara xxx..saat ini.!
Kau mengandung keturunan keluarga kerajaan.!"
Tegas Ratu Virginia dengan tatapan teduh dan
yakin. Entah kemana lenyapnya seorang Ratu
Virginia yang begitu membanggakan Catharina.
Satu fakta penting tentang kehamilan Raya telah
mampu menjungkir balikkan kepercayaan dan
keyakinan Raja dan Ratu. Mereka tidak akan
mempertimbangkan apapun lagi. Karena fakta
__ADS_1
ini adalah satu hal yang paling di inginkan oleh
mereka semua.
Raya tampak menatap ragu ibu mertuanya itu
yang terlihat mengangguk mencoba meyakinkan.
"Maafkan kelancangan saya Yang Mulya..Kami
akan datang dan masuk secara resmi ke istana
kalau rakyat sudah bisa menerima kehadiran
saya di sisi Putra Mahkota.."
Tegas Raya yang membuat semua orang kini
terhenyak dan terdiam. Apa yang di katakan
oleh Raya memang satu hal yang tepat. Tapi
tempat ini benar-benar sangat tidak layak.
"Saya nyaman tinggal di tempat ini Yang Mulya..
Dan jangan khawatir soal kemananan.."
Raya menegaskan kembali seolah memahami
apa yang ada dalam pikiran kedua mertuanya.
Aaron menyeringai tipis sambil memeluk erat
pinggang Raya posesif.
"Jangan khawatir.. kalau kalian memang sudah
memutuskan, aku akan berkantor di istana mulai
hari ini juga. Aku akan pergi menyusul nanti."
Ujar Aaron sambil mencium puncak kepala Raya
tanpa ragu dan malu membuat semua orang kini
terlihat salah tingkah. Wajah Raya pun langsung
memerah seluruhnya. Dia benar-benar malu dan
kesal dengan tingkah suaminya itu. Raja dan
Ratu hanya bisa saling pandang lalu menarik
napas berat melihat bagaimana posesifnya
Putra Mahkota terhadap istrinya itu.
"Baiklah..kalian akan memasuki istana secara
resmi saat semua permasalahan sudah bisa
di selesaikan dengan baik dan rakyat sudah bisa
menerima keberadaan Princess Emeera. Jadi
untuk sekarang biarkan semua nya seperti ini.!"
Akhirnya Raja Williams memutuskan sambil
kemudian mengusap lembut rambut Raya yang
langsung membungkukkan badannya penuh
hormat. Akhirnya Raja dan Ratu pergi duluan
dari kompleks perumahan itu di ikuti oleh seluruh jajarannya dan puluhan mobil pengawal serta
para wartawan yang tadi tertahan di luar rumah.
Berbagai spekulasi muncul di khalayak ramai
tentang kedatangan Raja dan Ratu ke rumah
tempat tinggal Sang sekretaris pribadi Putra
Mahkota yang sedang menjadi pusat perhatian
dan pusat masalah itu. Apakah Raja dan Ratu
sedang memberikan ultimatum atau surat
pengasingan terhadap gadis asing itu.?
Hari ini terjadi lagi demo besar di beberapa sudut wilayah kota hingga menyebabkan terganggunya ekonomi dan aktifitas harian sebagian warga kota yang lebih berpikiran moderat dan tidak ingin ikut-ikutan tindakan tidak perlu ini. Mereka berpikir bahwa istana akan lebih bijak dalam menangani masalah ini.
Aksi unjuk rasa itu isinya menginginkan jawaban
dari pihak istana tentang masalah yang sedang
terjadi, terutama ketegasan dari pihak istana
dalam yang di pimpin oleh Ibu Suri dan Sang
Ratu yang bertanggung jawab terhadap semua
masalah perjodohan ini. Namun sampai aksi
selesai, tidak ada siapapun yang di kirim oleh
pihak istana untuk memenuhi tuntutan mereka.
Akhirnya para pendemo mengancam akan
mengerahkan massa yang lebih besar lagi
esok hari untuk mengakhiri semua kemelut ini.
***
Keesokan harinya...
Suasana di sekitar perumahan White House
hari ini sangat berbeda. Di setiap sudut tempat
terlihat penjaga berseragam hitam-hitam sudah bersiaga sejak tengah malam. Karena ancaman persekusi yang akan di lakukan oleh pendemo
terhadap Raya bukanlah main-main. Ada pasukan
khusus yang mencoba masuk menerobos jalur
penjagaan yang di terapkan di gerbang perumahan.
Komplek perumahan itu saat ini sudah berubah
seakan menjadi markas pertahanan. Para warga
di larang keluar komplek untuk menjaga segala
kemungkinan. Dan anehnya mereka tidak merasa
keberatan dengan kondisi ini, mereka malah
menyatakan diri akan ada di belakang Raya
untuk mendukung dan mempertahankannya
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Saat
ini Raya sedang memasangkan dasi di leher
Aaron. Wajah keduanya tampak datar sedikit
kaku saat menyadari situasi keamanan detik
ini semakin tidak terkendali. Sejak semalam
perasaan Raya sudah tidak bisa di bohongi.
Hari ini sepertinya akan menjadi penentuan
untuk langkah Takdir hidupnya ke depan.
"Aaron..hari ini Takdir kehidupan kita ke depan
akan di mulai. Kau tidak boleh gegabah dalam
bertindak dan mengambil keputusan."
Lirih Raya dengan tatapan lurus ke wajah tampan
Sang suami yang terlihat datar dan dingin. Mata
mereka saling menatap lekat, sementara tangan
Raya masih bergerak aktif memasang dasi. Aaron menarik pinggang Raya agar tubuh mereka
semakin merapat hingga wajah mereka kini
hanya tersisa beberapa inchi saja.
"Kita akan melewati semuanya.. Hari ini rakyat
akan melihat siapa Alfred Winston sebenarnya.!"
"Berhati-hatilah.. Eden Wolf bisa melakukan
apapun tanpa memikirkan nyawa orang lain."
"Aku tahu, pasukan bayangan nya yang kemarin
dia sebar sudah berhasil di amankan semuanya
oleh pasukan ku.! Saat ini mereka mengandalkan pasukan black Hunter dan pasukan rekrutan baru
yang sudah masuk ke dalam kerumunan para
pendemo.!"
Raya mengelus pelan dada Aaron. Dia menatap
tampilan suaminya itu yang terlihat gagah dalam balutan jas warna hitam. Pandangan mereka kini semakin mendalam.
"Aku mencintaimu Aaron.. Aku tidak ingin
terjadi apapun padamu."
Bisik Raya sambil mengusap lembut bibir seksi
Aaron yang mencoba menetralkan pernapasan
nya saat serbuan hasrat tiba-tiba saja datang
tanpa permisi.
"Kau adalah nyawaku saat ini. Tanpa dirimu
apalah artinya keberadaan ku sekarang."
Desis Aaron dengan suara yang sangat berat
dan dalam gerakan reflek bibir mereka saling memagut, saling ******* lembut, melancarkan
aksi panas dan intens yang semalam terlewat
karena situasi yang tidak mendukung.
Sementara itu di tengah kota...
Ternyata ancaman yang di lancarkan pendemo
hari kemarin di buktikan hari ini. Para pendemo kembali datang dengan jumlah massa yang lebih banyak lagi. Bukan hanya itu, sepertinya mereka
juga datang dengan persiapan penuh. Mereka
datang membawa misi harus mendapatkan hasil
yang memuaskan. Yakni pengusiran terhadap Sekretaris pribadi Putra Mahkota dan keputusan tanggal pernikahan antara Putra Mahkota dengan
Lady Catharina.
Situasi di alun-alun kota saat ini di penuhi oleh
ribuan pendemo yang menginginkan kehadiran
Aaron serta seluruh keluarga kerajaan. Mereka
menuntut jawaban pasti dari pihak istana tentang
semua kemelut yang sedang terjadi. Dan mereka
mengancam akan melakukan tindakan persekusi
terhadap wanita yang telah menyebabkan semua
kekacauan ini terjadi.
Semua stasiun televisi hari ini menayangkan
proses demo besar-besaran ini secara live. Ini
adalah gebrakan besar yang dari awal sudah
di dengungkan oleh pihak Alfred Winston. Dia
beserta para pengikutnya dan beberapa keluarga bangsawan yang ada di bawah kuasanya terjun langsung ke lokasi memimpin semua gerakan
yang semakin lama semakin anarkis saja.
Para pendemo kini bergerak merusak berbagai fasilitas negara dan taman kota. Mereka juga mengancam para pedagang dan pemilik toko
yang ada di sepanjang jalan agar meliburkan
kegiatan usahanya hari ini hingga kini ekonomi
di ibukota menjadi lumpuh.
Hari ini ribuan pasukan keamanan negara turun
ke jalan untuk meredam aksi yang semakin lama
semakin anarkis tersebut hingga bentrokan pun
tidak bisa di hindari antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan. Dan kawasan istana menjadi
pusat dari penjagaan hari ini dengan penerapan
lapisan keamanan yang terbagi dalam beberapa
ring sebab para pendemo saat ini sudah mulai merapat ke istana.
__ADS_1
Sementara Aaron saat ini tengah duduk di kursi tahtanya di dalam kantor istana yang bertempat
di bagian depan. Istana depan memang khusus
di peruntukkan sebagai kantor Sang Raja beserta
para stafnya.
Semua bawahannya saat ini sedang berkumpul.
Ada Ansel, Alex, Benjamin, termasuk juga Enrique
dan Jenderal Howard, serta beberapa Jenderal
yang membawahi kesatuan masing-masing di kemiliteran. Mereka semua sedang membahas
situasi keamanan yang saat ini sudah mulai
terlihat arahnya kemana. Dan inilah yang di
tunggu-tunggu oleh Aaron.
Mereka semua sedang mengamati pergerakan
para pendemo yang kini sudah mendekat ke
istana di pimpin oleh Alfred Winston, Lucas dan
beberapa petinggi parlemen serta beberapa
senator yang terlihat jelas di layar monitor besar
yang ada di dalam ruang kerja berukuran luas
dan super mewah tersebut.
"Biarkan mereka mendekat. Kita akan datang
setelah mereka semua masuk perangkap.!"
Tegas Aaron begitu ada telepon dari Markus
dan Matius yang di tugaskan untuk menangani
situasi di lapangan. Semua orang terdiam, wajah
mereka kini tampak mengeras dengan ekspresi
yang terlihat menahan emosi melihat situasi
yang semakin memanas itu.
"Jenderal Howard.. suruh bawahan mu untuk
mengarahkan para pendemo ke menara Utara.
Katakan bahwa Raja dan aku akan menemui
mereka di sana !"
Aaron memberi perintah tegas membuat semua
orang langsung serentak berdiri.
"Baik Yang Mulya.!"
"Kita akan bergerak sesuai rencana awal.!"
"Baik, laksanakan.!"
Semua orang serempak menjawab. Setelah itu
para jenderal bergerak keluar ruangan.
"Pastikan istriku berada di tempat yang aman.
Jangan biarkan dia keluar sebelum aku suruh.!"
Aaron kembali memberi perintah pada Alex dan
Benjamin yang langsung memberi sikap hormat.
Ansel tampak menatap khawatir ke arah Aaron
yang sedang menatap layar monitor.
"Kakak.. apa kau yakin ini akan berakhir baik.?"
Aaron terdiam, melipat kedua tangannya di dada
sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak ada yang baik dalam sebuah peperangan.
Tapi tetap saja, harus ada yang di korbankan
untuk bisa mencapai suatu tujuan. !"
Ansel mengangguk resah. Pikirannya saat ini
sedang melayang pada sosok Raya yang entah
berada dimana karena Aaron menyembunyikan keberadaan nya.
Sementara itu para pendemo saat ini sudah ada
area menara utara. Mereka yang berjumlah ribuan
itu kini berkumpul di titik khusus halaman menara yang biasa di gunakan oleh istana untuk acara pertemuan langsung dengan rakyat. Di barisan
bagian depan tampak keberadaan Alfred Winston
di dampingi oleh Lucas serta beberapa pria yang
terlihat menyeramkan. Kemudian para pengikut
dan bawahan perdana menteri yang menduduki
jabatan penting di pemerintahan
Satu jam kemudian Raja Williams bersama Aaron
bergerak ke bagian menara utara yang berada di
istana bagian sayap kiri. Mereka di temani semua petinggi istana, para senator dan petinggi militer.
Keduanya kini berdiri di balkon menara, menatap
sedih dan kecewa kearah ribuan pendemo yang
mau saja di gerakkan oleh oknum tertentu.
Begitu melihat kemunculan Raja Williams dan
Putra Mahkota di balkon utama menara yang
berjarak sekitar 10 meter dari atas permukaan
tanah itu suasana berubah jadi semakin tidak
terkendali karena Massa terus berteriak dan
merangsek maju mendekat kearah balkon yang
sudah di lapisi barikade penjagaan dari aparat
keamanan.
"Saudaraku semuanya tenanglah..! Saya minta
kerjasama nya dari kalian semua..!"
Raja Williams mulai berbicara menggunakan
pengeras suara. Namun massa tampaknya sudah kelewat kesal, mereka tiada henti menyuarakan aspirasi dan segala tuntutannya hingga tidak lagi
memperdulikan himbauan dari Sang Raja. Mereka menginginkan kehadiran dari sosok yang saat ini sedang menjadi pusat permasalahan.
"Hadirkan sekretaris pribadi Putra Mahkota..
Dia harus bertanggung jawab atas semua ini.!"
Begitulah isi teriakan dari para pengunjuk rasa.
Mereka benar-benar menginginkan kehadiran
Sekretaris pribadi Putra Mahkota yang tidak tahu
diri, perebut calon suami orang, wanita murahan,
wanita buangan, wanita penuh kutukan dan..
entah apalagi hujatan kejam yang di alamatkan
padanya.!
Wajah Aaron tampak mengeras seketika. Mata
nya kini menatap tajam kearah Alfred Winston
dan Lucas yang terlihat tersenyum miring penuh
kepuasan. Inilah yang mereka maksudkan, ada
mayoritas dukungan rakyat di belakang mereka.
"Bisakah kalian semua untuk sedikit tenang.?
Bukankah kalian menginginkan pernyataanku?"
Akhirnya Aaron membuka suara dengan nada
yang terdengar berat menahan serbuan amarah
yang kini memenuhi dadanya. Suasana berubah
sedikit tenang walaupun di bagian belakang
masih saja terjadi kericuhan.
"Aku akan memberi pernyataan dan keputusan
penting terkait semua masalah yang akhir-akhir
ini membuat keutuhan negara terancam. Semua
ini terjadi karena pilihanku berbeda dengan
pilihan istana.!"
Kembali tegas Aaron membuat suasana malah
bertambah gaduh dan ribut.
"Maaf kalau rakyat harus merasa kecewa pada
apa yang aku putuskan ini , karena aku tidak
bisa menerima perjodohan ini..!!"
Untuk sesaat para pendemo tampak bengong.
Terdiam di tempat nya masing-masing. Mereka
benar-benar tidak percaya kalau Putra Mahkota
akan menolak mentah-mentah perjodohan ini.
"Aku tidak akan bisa menerima kehadiran wanita
lain di dalam kehidupan ku. Karena aku sudah
memilki seseorang di dalam hatiku. Aku jatuh
cinta pada wanita lain. Wanita yang kalian kenal
sebagai sekertaris ku, dia sebenarnya adalah
istriku.. wanita satu-satunya dalam hidupku..!!"
Ribuan orang itu tampak terkejut, mematung di
tempat dengan tatapan yang semuanya sama..
tidak percaya atas apa yang di dengarnya. Putra
Mahkota telah menikah, dan dengan wanita
yang akhir-akhir ini jadi sorotan.??
"Kami butuh bukti.. Kami memerlukan kehadiran
wanita sekretaris itu.. !!"
Sekelompok orang yang di pimpin oleh Lucas
terdengar memberikan provokasi hingga kini
menyulut emosi dan kericuhan di antara para
pendemo yang akhirnya memicu keributan
kembali terjadi. Mereka berteriak-teriak lantang meminta kehadiran wanita yang di akui sebagai
istri Putra Mahkota tersebut dengan tindakan
yang semakin di luar kendali, melemparkan
batu dan botol-botol minuman kearah menara.
"Saya sudah di ada di sini sekarang. Jadi saya
minta kerjasamanya dari kalian semua untuk
tetap menjaga keamanan dan ketertiban..!!"
Grep !!
Suasana hening seketika, ribuan mata pendemo
kini terfokus seluruh nya pada kemunculan sosok cantik jelita yang begitu bercahaya di atas balkon dengan pancaran aura terang yang menyelubungi seluruh dirinya.
Di samping kanan kiri sosok itu tampak ada 4
sosok pria tinggi kekar dengan tampang dan penampilan yang terlihat berbeda. Mereka adalah
para prajurit pilihan, pengawal pribadi jenderal
besar Serkan Ahmed yang terkenal dengan
sebutan 4 iblis bayangan dari Timur...
__ADS_1
***