
***
Aaron juga sedikit terkejut mendengar Serkan
menyebutkan nama lengkap Maharaya tanpa
ragu. Apakah pria ini sudah tidak bermaksud
untuk menutupi jati diri Putrinya itu.?
"M-Mohon maaf Jenderal.. apakah yang anda
maksud adalah Miss Maharaya ?"
Jenderal Howard kembali menegaskan karena
masih merasa ragu.
"Jenderal Howard.. apa aku perlu mengulangi
perkataan ku ?"
"Tentu tidak Jenderal. Tapi..kami mohon maaf sebelumnya..semua ini ada di bawah perintah langsung Raja Williams."
"Aku akan bertanggung-jawab untuk ini. Kalian
tidak perlu berpikir macam-macam.!"
"Ba-baik kalau begitu. Mari ikuti saya.!"
Jenderal Howard langsung membungkuk dan
segera membimbing Serkan. Aaron masih
tampak berdiri di tempat nya. Wajah nya terlihat
sedikit kesal dengan reaksi Jenderal Howard
yang langsung patuh dan manut di hadapan ayah mertuanya itu.
"Apa kau masih akan berdiri di sana Pangeran.?"
Serkan berucap sambil menatap tajam kearah
Aaron yang langsung berjalan mensejajari langkah Sang Jenderal besar itu. Murat menyeringai tipis melihat reaksi wajah kesal Aaron, rupanya aura kehadiran sang mertua mampu meredam aura
sang menantu yang selama ini begitu kuat.
** Sementara itu di dalam kurungan...
Raya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan
sempit itu. Hatinya saat ini begitu resah. Wajah
Aaron terus saja membayangi pikirannya. Apa
yang harus di lakukannya saat ini. Kenapa jiwa
nya malah semakin terasa tidak tenang. Tubuh
nya saat ini terasa sedikit lemas. Ada makanan
dan minuman yang di bawakan oleh beberapa
penjaga wanita untuk nya tapi dia tidak punya
selera sedikit pun untuk memakannya.
Raya memutuskan untuk berbaring miring di
tempat tidur dan memejamkan mata. Rasa
perih dan pedih kini kembali merasuki jiwanya.
Kenapa perjalanan hidupnya harus sampai di
titik ini, masuk ke dalam ruang pengasingan.
"Miss Maharaya.. sebaiknya anda makan dulu.
Jangan sampai terjadi apa-apa pada anda.
Kami tidak ingin Putra Mahkota murka.."
Salah seorang penjaga berbicara dan berdiri
di depan pintu sambil menatap sosok Raya
yang terbaring lemah.
"Aku tidak berselera. Jangan khawatir.. tidak
akan terjadi apa-apa padaku."
Lirih Raya masih memejamkan matanya. Sang
penjaga menarik napas berat, sebenarnya dia
tidak tega melihat Raya harus terkurung seperti
ini, walau bagaimanapun wanita ini adalah
seseorang yang sangat berharga untuk Putra
Mahkota. Tapi dia terpaksa harus menerima
perlakukan tidak pantas seperti ini.
"Baiklah.. tolong katakan kalau ada sesuatu
yang anda inginkan.."
Ucap penjaga itu sambil kemudian berdiri tegak
di depan jeruji dengan sikap sempurna. Raya
kembali mencoba memejamkan matanya.
Tidak lama ke dalam ruangan berlarian para
penjaga lain dengan wajah yang terlihat sedikit
pucat dan syok. Mereka semua langsung masuk
ke ruangan itu dan mengecek kondisi Raya dari
balik jeruji besi.
"Bagaimana keadaannya.? Apakah beliau
baik-baik saja ?"
"Sejauh ini Miss Raya baik-baik saja, hanya
sedikit lemas."
Sahut penjaga tadi dengan wajah yang terlihat
bingung melihat reaksi panik penjaga yang baru
saja datang itu.
"Ada apa ? Apakah Yang Mulya Putra Mahkota
sudah datang ?"
"Bu-bukan hanya Putra Mahkota.. tapi.. tapi
ada orang yang lebih berkuasa datang ke sini
dan bermaksud membebaskan Miss Raya."
"Hahh.. siapa..? Madam Rowena kah. ?"
Mereka langsung bersikap sempurna ketika
dari arah lorong gelap muncul rombongan
pria-pria tinggi tegap dengan aura kehadiran
dan kharisma yang sama-sama mendominasi.
Semua penjaga kini menyingkir, berbaris di sisi
ruangan dengan lutut yang bergetar hebat saat
melihat kemunculan seseorang yang sangat
di kagumi sekaligus di takuti di dunia militer.
Ada apakah gerangan Jenderal besar itu
datang ke tempat ini ?
Langkah Serkan dan Aaron langsung terhenti.
Membeku di tempat dengan mata yang sama-
sama menyala penuh rasa tidak terima saat
melihat kondisi Raya yang sedang terbaring
lemah di atas tempat tidur kecil dalam ruang
kecil dan sempit yang sangat menjijikkan.
Dua jenderal dan para perwira tinggi hanya
bisa menundukkan kepala di liputi ketegangan
dan kegugupan. Apa yang akan terjadi pada
karir mereka setelah ini.?
Rahang Aaron langsung mengeras dengan
tinju terkepal sempurna.
"Kalian menempatkan nya di ruangan ini.?
Apa yang ada dalam otak kalian.? Berani sekali
kalian memperlakukan istriku seperti ini.!"
Aaron membentak keras hingga gemanya
menggetarkan seluruh bangunan. Semua orang
langsung berlutut dan bersimpuh begitu kata
istri keluar dari mulut Aaron. Raya membuka
mata seketika saat mendengar suara bentakan
Aaron. Dia membalikkan badannya, dan mata
nya kini bersirobos tatap dengan mata Aaron
yang penuh kesakitan.
"A-Aaron.. kau datang..?"
Raya bergumam pelan sambil bangkit perlahan
dari pembaringan nya. Namun matanya kini
mengarah pada sosok yang ada di samping
Aaron, mata mereka bertemu, saling menatap
kuat mencoba menyalurkan segala rasa yang
kini bergolak di dalam dada. Cairan bening
tiba-tiba saja terjun dari mata sebening kristal
milik Raya. Dia menggelengkan kepalanya kuat,
tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat
ini. Tidak, ini pasti hanya halusinasi saja.!
"A-ayah.. kau datang juga..? "
Lirih Raya dengan suara yang bergetar hebat
di hantam rasa sakit yang mencabik jiwanya.
Mata mereka masih saling menatap kuat.
Sorot mata Serkan tampak hancur, dia tidak
terima, pertemuan pertama dengan sang buah
hati harus di tempat menjijikkan seperti ini.
Tangan Serkan terangkat ke udara kemudian
di kibaskan dengan gerakan cepat tak terlihat
mengarah ke pintu jeruji besi dan yang seketika
hancur berantakan. Semua orang kini menganga
tidak percaya. Apa yang di isu kan bahwa Sang
jenderal memiliki kemampuan yang mampu
menembus batas kini nyata di depan mata.
Aaron bergerak cepat masuk kedalam ruangan.
"Aaron..."
Raya menyerbu dan memeluk erat tubuh Aaron
yang mengangkat tubuh lemah itu ke dalam
pangkuannya dan menciumi puncak kepalanya
penuh perasaan yang campur aduk.
"Maafkan aku sayang..Ini semua terjadi karena
kecerobohan ku. Aku meninggalkan mu tadi."
"Aaron.. aku tidak bisa berada di tempat ini.
Aku takut, bawa aku pergi dari sini.."
"Iya sayang.. kita akan pergi dari sini. Aku
tidak akan pernah membiarkan mu berada
di tempat kotor seperti ini.!"
Keduanya semakin mempererat pelukannya.
Raya menumpahkan seluruh air mata di dada
bidang suaminya itu. Sementara Serkan tampak
terdiam, memperhatikan interaksi intim Putri
dan menantunya itu. Ya.. sekarang semuanya
__ADS_1
sudah terkendali, putrinya itu harus mengenali
siapa dirinya sesungguhnya. Dia akan bertaruh
nyawa untuk melindungi nya dari semua musuh
yang akan mencoba melukainya.
"Ayah..! Aaron.. ayah ada di sini juga.?"
Raya kini tersadar, dia segera melepaskan diri
dari pelukan Aaron. Keduanya saling pandang
lekat, Aaron mengusap lembut air mata yang
membanjiri wajah cantik istrinya itu.
"Iya dia ada di sini.. Ayo temui lah..Ini adalah
moment yang tepat untuk kalian.!"
Raya masih terlihat ragu, tapi Aaron tampak
mengangguk meyakinkan. Raya melirik kearah
keberadaan Serkan di dekat pintu jeruji yang
sudah hancur berantakan. Tatapan Serkan
terlihat di penuhi kerinduan yang sudah tidak terjabarkan lagi.
"Kemarilah sayang.."
Serkan mengeluarkan suara nya berat sambil
merentangkan tangan dengan sorot mata yang
semakin teduh. Raya melangkah perlahan kearah Serkan dengan tatapan yang masih tidak percaya bahwa pria yang selama ini membuang dirinya
kini ada di hadapannya. Ayah yang sangat di
rindukannya.
"Ayah..."
Raya menubruk tubuh kokoh ayahnya itu yang
langsung memeluknya erat. Keduanya saling
berpelukan erat penuh kerinduan. Air mata
Raya kembali luruh tak tertahankan.
Semua orang bengong, lagi-lagi terserang syok
yang luar biasa. Ini semua benar-benar kejutan.
Jadi wanita yang saat ini sedang jadi trending
topik dan membuat situasi keamanan negara
tidak terkendali, adalah istrinya Putra Mahkota,
dan.. yang lebih mengejutkan lagi dia adalah
putrinya Jenderal Serkan.?? Berarti dia adalah Princess Agung dari klan Sulaiman..??
Cukup, semua fakta ini hanya akan sampai di
mereka saja, dan tidak akan melebar kemana
mana, itu sudah menjadi prinsip keprajuritan.
"Maafkan ayah sayang.. Maafkan.. Semoga
kamu mau mengampuni segala perbuatan
dan kesalahan Ayah mu selama ini."
Serkan berucap pelan dan bergetar, dengan
penuh kasih dia membelai rambut putrinya
itu sambil menciumi puncak kepalanya.
"Ayah jahatt..! Ayah tidak pernah mengakui
keberadaan ku.! Aku terbuang, aku terasing.!"
"Tidak Nak, itu tidak benar. Kau adalah yang
paling berharga untuk kami. Semuanya ayah
lakukan semata-mata demi keselamatan mu."
Raya semakin mempererat pelukannya. Rasa
lega di dalam jiwanya kini seakan membuat
tubuhnya ringan, hilang..perlahan membawa
dia tenggelam ke dalam kegelapan.
Dalam gerakan ringan Serkan mengangkat
tubuh lemah putrinya itu ke dalam gendongan
nya. Saat ini Raya sudah dalam kondisi tak
sadarkan diri. Sepertinya dia terlalu syok
dengan kenyataan yang di hadapinya.
"Apa yang terjadi dengan nya.?"
Aaron mendekat, tapi Serkan melangkah
cepat keluar dari ruangan tidak layak itu.
"Kita harus keluar sekarang !"
Titahnya membuat Aaron mematung sesaat
menyadari Raya berada dalam kekuasaan Sang
mertua. Dia segera mengekori langkah Serkan
keluar dari tempat itu di ikuti oleh semua orang.
***
Helikopter canggih milik Serkan kini mendarat
di atas landasan mini yang berada tepat di atas
kamar pribadi Aaron di Green Palace..
Dengan cepat mereka turun dari pesawat dan
segera turun ke lantai bawah menuju kamar
Aaron. Di sana sudah ada Alea dan beberapa
perawat yang sudah siap siaga. Serkan tidak
pernah melepaskan Raya dari pangkuannya
hingga Aaron terpaksa bertangan hampa. Dia
mencoba tenang dan membiarkan mertuanya
itu menguasai Raya sepenuhnya. Walaupun
Untuk sesaat Alea tampak ternganga melihat
kemunculan Prince Ahmed ke dalam istana itu,
tokoh dunia yang sangat di idolakan nya, bahkan
dia sangat tergila-gila pada pria setengah baya
itu yang masih terlihat paripurna di usianya
sekarang. Lutut Alea langsung saja lemas.
Tapi..kenapa dia bisa menggendong Raya.?
"Cepat lakukan apapun yang bisa membuatnya
kembali pada kondisi sempurna.!"
Titah Serkan sambil membaringkan tubuh lemah
Raya di atas tempat tidur. Dan dia sendiri yang
membuka sepatu serta melonggarkan pakaian
Raya kemudian mengecek denyut nadinya.
Alea masih bengong di tempat melihat semua
yang di lakukan oleh pria idolanya itu. Ada apa
ini sebenarnya ? Kenapa Sang jenderal besar
bisa ada di kamar ini.?
"Apa yang kau tunggu Dokter.? Apa aku perlu
memanggil Dokter Pribadi ku kesini.?"
Serkan menatap tajam kearah Alea yang
terlonjak kaget dan segera tersadar dari
segala keterpesonaan nya.
"Tidak Yang Mulya.. Saya akan menangani
nya secepatnya."
"Cepatlah jangan membuang-buang waktu.!"
Alea tampak gugup dan tegang. Dia segera
membungkuk dan maju ke hadapan Serkan
yang mundur beberapa langkah, matanya
tidak lepas menatap wajah pucat Raya.
Sedang Aaron duduk di ujung kaki Raya, saat
ini hatinya benar-benar tidak sinkron. Ada rasa
was-was yang tiba-tiba saja memenuhi otak
dan pikirannya. Dia takut Serkan akan membawa
Raya dari sisi nya karena kecerobohan nya.
Dia akan di anggap tidak becus menjaga dan
melindungi Raya, putri Serkan yang berharga.
"Aaron.. kita harus bicara sekarang.!!"
Aaron tersentak, dia segera bangkit kemudian
membungkuk hormat di hadapan Serkan.
"Baik ketua. Kita akan bicara di ruang kerja."
"Suruh bawahan mu memanggil nenekmu."
Aaron tampak sedikit terkejut, tapi dia segera
berpaling pada Alex yang ada di sudut ruangan.
Alex mengangguk kemudian berlalu pergi.
Aaron mendekat kearah Raya, menatapnya
berat namun akhirnya dia melangkah keluar
dari kamar bersama dengan Serkan di ikuti
oleh para tangan kanannya.
** Ruang kerja Green Palace...
Serkan, Aaron dan Madam Rowena kini sudah
ada di ruang kerja. Duduk di sofa yang ada di
ruangan itu. Madam Rowena masih terlihat
sedikit terkejut dengan fakta bahwa Maharaya
adalah Princess As Syaf Sulaiman. Wanita yang
selalu berada dalam penerawangan nya itu
adalah darah daging seorang Serkan. Semua
ini benar-benar di luar dugaan. Sungguh di
luar ekspektasi nya.
"Aku akan membawa nya pulang.! Kau sudah
tidak bisa di andalkan. Bahkan akhir-akhir ini
Putri ku lah yang lebih banyak melindungi mu.!"
Deg !
Jantung Aaron serasa berhenti berdetak. Dia
mengangkat wajahnya. Menatap tajam wajah
Serkan dengan sorot mata tidak terima.
"Kau tidak bisa membawanya dariku. Kau tidak
punya hak apapun padanya, aku suaminya.!"
"Dia Putri kandung ku.! Dan dia berhak tahu
serta mengenali keluarga kandung nya.!"
"Putri kandung yang sengaja kau buang.!"
"Kau tahu benar alasan di balik semua itu.!"
"Tetap saja, saat ini aku yang lebih berhak
atas dirinya. Dia harus melangkah bersamaku
agar bisa mencapai takdir nya..!!"
Serkan menyeringai tipis saling menatap kuat
dengan Aaron. Keduanya tampak tidak ingin
__ADS_1
mengalah, sama-sama keras kepala.
"Yang Mulya Prince Ahmed.. tolong berilah satu
kesempatan lagi pada mereka untuk meraih apa
yang sudah di gariskan dalam hidup mereka."
Akhirnya Madam Rowena mengeluarkan suara
membuat perang mata di antara Mertua dan
menantu itu berakhir.
"Baiklah.. Kalau keadaannya sudah tenang
biarkan dia pulang ke rumahnya yang sejati !"
Aaron mendengus sambil memalingkan wajah.
Sudah dia duga, akhirnya Serkan akan meminta
Raya untuk pulang.
"Apa kau yakin semua nya sudah terkendali.?
Bukanlah di tempatmu segalanya serba genting.
Kau bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak.!"
Aaron mencibir dengan wajah sinis. Serkan
tersenyum miring sambil merebahkan tubuh
dan meletakan kedua tangan di atas sandaran
sofa, tampak santai dan tenang.
"Sekarang semuanya sudah ada di bawah
kendaliku, tidak ada lagi yang akan berani
mengancam keselamatan Putriku..!"
Aaron menatap Serkan berusaha meyakinkan
diri. Ke dalam ruangan tiba-tiba muncul Alex
dan Murat yang datang tergesa-gesa.
"Maafkan saya mengganggu Yang Mulya.."
Alex membungkukkan badan penuh hormat
di hadapan 3 orang penting itu.
"Ada apa Alex ?"
Madam Rowena menatap Alex penasaran.
"Yang Mulya Raja mengundang Yang Mulya
Jendral Serkan untuk datang makan malam
di istana. Beliau sangat berharap Jenderal
mau memenuhi undangannya.!"
Serkan dan Aaron saling melihat. Ada seringai
tipis di bibir Sang Jenderal.
"Baiklah.. aku akan kesana sebelum terbang
kembali. Kita lihat bagaimana tanggapan
ayah mu itu atas kejadian ini.!!"
Desis Serkan sambil menarik napas panjang.
Aaron melirik kembali kearah Alex.
"Dia juga menyuruhmu datang ?"
"Benar Yang Mulya.. Raja memberi perintah
agar anda bersama Princess Maharaya
datang juga ke istana."
Aaron kembali saling melihat dengan Serkan.
"Biarkan dia tahu siapa putriku sesungguhnya.!"
Tegas Serkan. Aaron dan Madam Rowena kini
saling pandang, Madam Rowena mengangguk
pelan sambil mengedipkan mata meyakinkan.
***
Aaron menatap tampilan Raya yang baru saja
selesai bersiap dengan gaun cantik nan anggun
yang membalut elegan tubuh indahnya plus
polesan tipis yang menyempurnakan segala
keindahan fisiknya yang luar biasa memukau.
Aaron menarik tubuh Raya ke dalam pelukan
nya. Mendekapnya erat seolah tidak ingin lagi
melepaskannya. Raya balas memeluk tubuh
gagah suaminya itu yang agak sedikit berbeda.
Dia terlihat banyak terdiam dan merenung.
"Ada apa sayang..? Apa Ayah mengatakan
sesuatu yang mengganggu pikiran mu.?"
"Jangan pernah meninggalkan ku Raya.
Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu.!"
Raya menautkan alisnya, dia melonggarkan
pelukannya. Keduanya kini saling menatap
kuat. Tangan Raya bergerak membelai lembut
wajah halus mulus Aaron yang bercahaya.
"Kenapa kau meragukan kesungguhan ku.?
Apa karena sekarang aku sudah di akui sebagai
Putri Prince Ahmed.? Kau takut aku di ambil
oleh keluarga ku.? Aaron.. kalau begitu kau
masih meragukan perasaanku.!"
Keduanya semakin terpaut dalam tatapan
yang saling menjerat satu sama lain.
"Ayahmu akan merebut mu dariku Raya.!"
Ekspresi wajah Raya kini berubah sedikit geli.
Dia tersenyum lembut sambil meraup wajah
Aaron dan mendekatkan nya hingga hampir
bersentuhan.
"Aku sangat mencintaimu Putra Mahkota..
Mana mungkin aku meninggalkan mu. Kau
adalah pemilik kehormatan ku. Kau yang
telah membawaku ke jalan ini. Jadi.. jangan
pernah meragukan cintaku sayang.."
Lirih Raya sambil kemudian memagut bibir
Aaron dengan sangat lembut dan manis. Aaron langsung terbang terbuai oleh ciuman dahsyat
itu, dengan buas dia membalas ciuman penuh
cinta dan kerinduan itu. Insiden tadi semakin
membuat mereka merasa takut kehilangan
satu sama lain..
30 menit kemudian...
Iring-iringan mobil super mewah itu kini sudah
masuk ke halaman depan istana utama. Dan
tidak lama helikopter yang membawa Serkan
pun mendarat di landasan depan. Kedatangan
mereka di sambut puluhan staf istana juga para
prajurit penjaga istana.
Aaron keluar dari Limosin yang membawanya.
Tangan nya kini terulur menggengam jemari
tangan Raya yang baru keluar dari mobil.
Mereka berdua berdiri berdampingan menanti
kedatangan Serkan yang baru turun dari dalam
pesawat. Semua prajurit penjaga, para staf
istana langsung membungkuk dalam di hadapan
mereka bertiga yang begitu menyilaukan.
"Silahkan Yang Mulya.. silahkan Jenderal..
Raja sudah menanti anda di ruang khusus
perjamuan."
Sambut kepala staf istana sambil mengulurkan
tangan membimbing ketiganya untuk segera
memasuki Grand Marco Palace..
Serkan mengibaskan tangannya ke udara
membuat lampu-lampu yang ada di sekitar
istana tiba-tiba berkedip-kedip seolah terjadi konsleting listrik. Raya menatap kesal kearah
ayahnya yang berdiri di samping kanannya itu.
"Ayah..aku mohon jangan membuat keributan.!"
Decak Raya sambil menggenggam tangan kiri
Serkan yang sempat akan membuat atraksi baru.
Aaron hanya menatap dingin ayah mertuanya
itu sambil menarik nafas berat.
"Ayah hanya ingin memberikan sedikit oleh-oleh
untuk ayah mertua mu yang kurang peka itu.!"
Desis Serkan sambil tersenyum tipis seraya
mengusap lembut kepala Raya. Mereka bertiga
kini mulai melangkah beriringan menuju pintu
utama yang sudah terbuka lebar. Sesaat sebelum
masuk ke dalam istana, kini giliran Raya yang
tampak mengibaskan tangannya ke belakang
melihat keributan yang terjadi karena lampu
yang berkedip-kedip semakin parah hingga
para pelayan berlarian panik.
Tiba-tiba saja lampu-lampu itu kembali menyala
dengan normal dan suasana kembali kondusif.
Aaron dan Serkan menghentikan langkah. Mata
mereka kini menatap tajam wajah Raya yang
terlihat santai dan acuh. Murat dan bawahan
Aaron pun sama terkejutnya.
"Kau sudah bisa mengendalikan nya.?"
Hampir bersamaan Aaron dan Jenderal Serkan
bertanya. Raya menatap kedua orang yang
sangat penting dalam hidupnya itu bergantian.
"Apanya yang harus di kendalikan.? Bukankah
semuanya itu terpusat dalam pikiran kita.?"
Jawab Raya acuh. Aaron dan Serkan langsung
mengerjapkan mata, keduanya saling pandang.
Sementara Raya kembali melangkah tenang
masuk ke dalam istana dengan kepercayaan
diri yang tinggi karena di sampingnya ada dua
pria paling hebat dan paling jantan yang akan
selalu melindunginya..
***
__ADS_1