Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
84. Mertua Vs Menantu


__ADS_3

***


Aaron juga sedikit terkejut mendengar Serkan


menyebutkan nama lengkap Maharaya tanpa


ragu. Apakah pria ini sudah tidak bermaksud


untuk menutupi jati diri Putrinya itu.?


"M-Mohon maaf Jenderal.. apakah yang anda


maksud adalah Miss Maharaya ?"


Jenderal Howard kembali menegaskan karena


masih merasa ragu.


"Jenderal Howard.. apa aku perlu mengulangi


perkataan ku ?"


"Tentu tidak Jenderal. Tapi..kami mohon maaf sebelumnya..semua ini ada di bawah perintah langsung Raja Williams."


"Aku akan bertanggung-jawab untuk ini. Kalian


tidak perlu berpikir macam-macam.!"


"Ba-baik kalau begitu. Mari ikuti saya.!"


Jenderal Howard langsung membungkuk dan


segera membimbing Serkan. Aaron masih


tampak berdiri di tempat nya. Wajah nya terlihat


sedikit kesal dengan reaksi Jenderal Howard


yang langsung patuh dan manut di hadapan ayah mertuanya itu.


"Apa kau masih akan berdiri di sana Pangeran.?"


Serkan berucap sambil menatap tajam kearah


Aaron yang langsung berjalan mensejajari langkah Sang Jenderal besar itu. Murat menyeringai tipis melihat reaksi wajah kesal Aaron, rupanya aura kehadiran sang mertua mampu meredam aura


sang menantu yang selama ini begitu kuat.


** Sementara itu di dalam kurungan...


Raya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan


sempit itu. Hatinya saat ini begitu resah. Wajah


Aaron terus saja membayangi pikirannya. Apa


yang harus di lakukannya saat ini. Kenapa jiwa


nya malah semakin terasa tidak tenang. Tubuh


nya saat ini terasa sedikit lemas. Ada makanan


dan minuman yang di bawakan oleh beberapa


penjaga wanita untuk nya tapi dia tidak punya


selera sedikit pun untuk memakannya.


Raya memutuskan untuk berbaring miring di


tempat tidur dan memejamkan mata. Rasa


perih dan pedih kini kembali merasuki jiwanya.


Kenapa perjalanan hidupnya harus sampai di


titik ini, masuk ke dalam ruang pengasingan.


"Miss Maharaya.. sebaiknya anda makan dulu.


Jangan sampai terjadi apa-apa pada anda.


Kami tidak ingin Putra Mahkota murka.."


Salah seorang penjaga berbicara dan berdiri


di depan pintu sambil menatap sosok Raya


yang terbaring lemah.


"Aku tidak berselera. Jangan khawatir.. tidak


akan terjadi apa-apa padaku."


Lirih Raya masih memejamkan matanya. Sang


penjaga menarik napas berat, sebenarnya dia


tidak tega melihat Raya harus terkurung seperti


ini, walau bagaimanapun wanita ini adalah


seseorang yang sangat berharga untuk Putra


Mahkota. Tapi dia terpaksa harus menerima


perlakukan tidak pantas seperti ini.


"Baiklah.. tolong katakan kalau ada sesuatu


yang anda inginkan.."


Ucap penjaga itu sambil kemudian berdiri tegak


di depan jeruji dengan sikap sempurna. Raya


kembali mencoba memejamkan matanya.


Tidak lama ke dalam ruangan berlarian para


penjaga lain dengan wajah yang terlihat sedikit


pucat dan syok. Mereka semua langsung masuk


ke ruangan itu dan mengecek kondisi Raya dari


balik jeruji besi.


"Bagaimana keadaannya.? Apakah beliau


baik-baik saja ?"


"Sejauh ini Miss Raya baik-baik saja, hanya


sedikit lemas."


Sahut penjaga tadi dengan wajah yang terlihat


bingung melihat reaksi panik penjaga yang baru


saja datang itu.


"Ada apa ? Apakah Yang Mulya Putra Mahkota


sudah datang ?"


"Bu-bukan hanya Putra Mahkota.. tapi.. tapi


ada orang yang lebih berkuasa datang ke sini


dan bermaksud membebaskan Miss Raya."


"Hahh.. siapa..? Madam Rowena kah. ?"


Mereka langsung bersikap sempurna ketika


dari arah lorong gelap muncul rombongan


pria-pria tinggi tegap dengan aura kehadiran


dan kharisma yang sama-sama mendominasi.


Semua penjaga kini menyingkir, berbaris di sisi


ruangan dengan lutut yang bergetar hebat saat


melihat kemunculan seseorang yang sangat


di kagumi sekaligus di takuti di dunia militer.


Ada apakah gerangan Jenderal besar itu


datang ke tempat ini ?


Langkah Serkan dan Aaron langsung terhenti.


Membeku di tempat dengan mata yang sama-


sama menyala penuh rasa tidak terima saat


melihat kondisi Raya yang sedang terbaring


lemah di atas tempat tidur kecil dalam ruang


kecil dan sempit yang sangat menjijikkan.


Dua jenderal dan para perwira tinggi hanya


bisa menundukkan kepala di liputi ketegangan


dan kegugupan. Apa yang akan terjadi pada


karir mereka setelah ini.?


Rahang Aaron langsung mengeras dengan


tinju terkepal sempurna.


"Kalian menempatkan nya di ruangan ini.?


Apa yang ada dalam otak kalian.? Berani sekali


kalian memperlakukan istriku seperti ini.!"


Aaron membentak keras hingga gemanya


menggetarkan seluruh bangunan. Semua orang


langsung berlutut dan bersimpuh begitu kata


istri keluar dari mulut Aaron. Raya membuka


mata seketika saat mendengar suara bentakan


Aaron. Dia membalikkan badannya, dan mata


nya kini bersirobos tatap dengan mata Aaron


yang penuh kesakitan.


"A-Aaron.. kau datang..?"


Raya bergumam pelan sambil bangkit perlahan


dari pembaringan nya. Namun matanya kini


mengarah pada sosok yang ada di samping


Aaron, mata mereka bertemu, saling menatap


kuat mencoba menyalurkan segala rasa yang


kini bergolak di dalam dada. Cairan bening


tiba-tiba saja terjun dari mata sebening kristal


milik Raya. Dia menggelengkan kepalanya kuat,


tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat


ini. Tidak, ini pasti hanya halusinasi saja.!


"A-ayah.. kau datang juga..? "


Lirih Raya dengan suara yang bergetar hebat


di hantam rasa sakit yang mencabik jiwanya.


Mata mereka masih saling menatap kuat.


Sorot mata Serkan tampak hancur, dia tidak


terima, pertemuan pertama dengan sang buah


hati harus di tempat menjijikkan seperti ini.


Tangan Serkan terangkat ke udara kemudian


di kibaskan dengan gerakan cepat tak terlihat


mengarah ke pintu jeruji besi dan yang seketika


hancur berantakan. Semua orang kini menganga


tidak percaya. Apa yang di isu kan bahwa Sang


jenderal memiliki kemampuan yang mampu


menembus batas kini nyata di depan mata.


Aaron bergerak cepat masuk kedalam ruangan.


"Aaron..."


Raya menyerbu dan memeluk erat tubuh Aaron


yang mengangkat tubuh lemah itu ke dalam


pangkuannya dan menciumi puncak kepalanya


penuh perasaan yang campur aduk.


"Maafkan aku sayang..Ini semua terjadi karena


kecerobohan ku. Aku meninggalkan mu tadi."


"Aaron.. aku tidak bisa berada di tempat ini.


Aku takut, bawa aku pergi dari sini.."


"Iya sayang.. kita akan pergi dari sini. Aku


tidak akan pernah membiarkan mu berada


di tempat kotor seperti ini.!"


Keduanya semakin mempererat pelukannya.


Raya menumpahkan seluruh air mata di dada


bidang suaminya itu. Sementara Serkan tampak


terdiam, memperhatikan interaksi intim Putri


dan menantunya itu. Ya.. sekarang semuanya

__ADS_1


sudah terkendali, putrinya itu harus mengenali


siapa dirinya sesungguhnya. Dia akan bertaruh


nyawa untuk melindungi nya dari semua musuh


yang akan mencoba melukainya.


"Ayah..! Aaron.. ayah ada di sini juga.?"


Raya kini tersadar, dia segera melepaskan diri


dari pelukan Aaron. Keduanya saling pandang


lekat, Aaron mengusap lembut air mata yang


membanjiri wajah cantik istrinya itu.


"Iya dia ada di sini.. Ayo temui lah..Ini adalah


moment yang tepat untuk kalian.!"


Raya masih terlihat ragu, tapi Aaron tampak


mengangguk meyakinkan. Raya melirik kearah


keberadaan Serkan di dekat pintu jeruji yang


sudah hancur berantakan. Tatapan Serkan


terlihat di penuhi kerinduan yang sudah tidak terjabarkan lagi.


"Kemarilah sayang.."


Serkan mengeluarkan suara nya berat sambil


merentangkan tangan dengan sorot mata yang


semakin teduh. Raya melangkah perlahan kearah Serkan dengan tatapan yang masih tidak percaya bahwa pria yang selama ini membuang dirinya


kini ada di hadapannya. Ayah yang sangat di


rindukannya.


"Ayah..."


Raya menubruk tubuh kokoh ayahnya itu yang


langsung memeluknya erat. Keduanya saling


berpelukan erat penuh kerinduan. Air mata


Raya kembali luruh tak tertahankan.


Semua orang bengong, lagi-lagi terserang syok


yang luar biasa. Ini semua benar-benar kejutan.


Jadi wanita yang saat ini sedang jadi trending


topik dan membuat situasi keamanan negara


tidak terkendali, adalah istrinya Putra Mahkota,


dan.. yang lebih mengejutkan lagi dia adalah


putrinya Jenderal Serkan.?? Berarti dia adalah Princess Agung dari klan Sulaiman..??


Cukup, semua fakta ini hanya akan sampai di


mereka saja, dan tidak akan melebar kemana


mana, itu sudah menjadi prinsip keprajuritan.


"Maafkan ayah sayang.. Maafkan.. Semoga


kamu mau mengampuni segala perbuatan


dan kesalahan Ayah mu selama ini."


Serkan berucap pelan dan bergetar, dengan


penuh kasih dia membelai rambut putrinya


itu sambil menciumi puncak kepalanya.


"Ayah jahatt..! Ayah tidak pernah mengakui


keberadaan ku.! Aku terbuang, aku terasing.!"


"Tidak Nak, itu tidak benar. Kau adalah yang


paling berharga untuk kami. Semuanya ayah


lakukan semata-mata demi keselamatan mu."


Raya semakin mempererat pelukannya. Rasa


lega di dalam jiwanya kini seakan membuat


tubuhnya ringan, hilang..perlahan membawa


dia tenggelam ke dalam kegelapan.


Dalam gerakan ringan Serkan mengangkat


tubuh lemah putrinya itu ke dalam gendongan


nya. Saat ini Raya sudah dalam kondisi tak


sadarkan diri. Sepertinya dia terlalu syok


dengan kenyataan yang di hadapinya.


"Apa yang terjadi dengan nya.?"


Aaron mendekat, tapi Serkan melangkah


cepat keluar dari ruangan tidak layak itu.


"Kita harus keluar sekarang !"


Titahnya membuat Aaron mematung sesaat


menyadari Raya berada dalam kekuasaan Sang


mertua. Dia segera mengekori langkah Serkan


keluar dari tempat itu di ikuti oleh semua orang.


***


Helikopter canggih milik Serkan kini mendarat


di atas landasan mini yang berada tepat di atas


kamar pribadi Aaron di Green Palace..


Dengan cepat mereka turun dari pesawat dan


segera turun ke lantai bawah menuju kamar


Aaron. Di sana sudah ada Alea dan beberapa


perawat yang sudah siap siaga. Serkan tidak


pernah melepaskan Raya dari pangkuannya


hingga Aaron terpaksa bertangan hampa. Dia


mencoba tenang dan membiarkan mertuanya


itu menguasai Raya sepenuhnya. Walaupun


Untuk sesaat Alea tampak ternganga melihat


kemunculan Prince Ahmed ke dalam istana itu,


tokoh dunia yang sangat di idolakan nya, bahkan


dia sangat tergila-gila pada pria setengah baya


itu yang masih terlihat paripurna di usianya


sekarang. Lutut Alea langsung saja lemas.


Tapi..kenapa dia bisa menggendong Raya.?


"Cepat lakukan apapun yang bisa membuatnya


kembali pada kondisi sempurna.!"


Titah Serkan sambil membaringkan tubuh lemah


Raya di atas tempat tidur. Dan dia sendiri yang


membuka sepatu serta melonggarkan pakaian


Raya kemudian mengecek denyut nadinya.


Alea masih bengong di tempat melihat semua


yang di lakukan oleh pria idolanya itu. Ada apa


ini sebenarnya ? Kenapa Sang jenderal besar


bisa ada di kamar ini.?


"Apa yang kau tunggu Dokter.? Apa aku perlu


memanggil Dokter Pribadi ku kesini.?"


Serkan menatap tajam kearah Alea yang


terlonjak kaget dan segera tersadar dari


segala keterpesonaan nya.


"Tidak Yang Mulya.. Saya akan menangani


nya secepatnya."


"Cepatlah jangan membuang-buang waktu.!"


Alea tampak gugup dan tegang. Dia segera


membungkuk dan maju ke hadapan Serkan


yang mundur beberapa langkah, matanya


tidak lepas menatap wajah pucat Raya.


Sedang Aaron duduk di ujung kaki Raya, saat


ini hatinya benar-benar tidak sinkron. Ada rasa


was-was yang tiba-tiba saja memenuhi otak


dan pikirannya. Dia takut Serkan akan membawa


Raya dari sisi nya karena kecerobohan nya.


Dia akan di anggap tidak becus menjaga dan


melindungi Raya, putri Serkan yang berharga.


"Aaron.. kita harus bicara sekarang.!!"


Aaron tersentak, dia segera bangkit kemudian


membungkuk hormat di hadapan Serkan.


"Baik ketua. Kita akan bicara di ruang kerja."


"Suruh bawahan mu memanggil nenekmu."


Aaron tampak sedikit terkejut, tapi dia segera


berpaling pada Alex yang ada di sudut ruangan.


Alex mengangguk kemudian berlalu pergi.


Aaron mendekat kearah Raya, menatapnya


berat namun akhirnya dia melangkah keluar


dari kamar bersama dengan Serkan di ikuti


oleh para tangan kanannya.


** Ruang kerja Green Palace...


Serkan, Aaron dan Madam Rowena kini sudah


ada di ruang kerja. Duduk di sofa yang ada di


ruangan itu. Madam Rowena masih terlihat


sedikit terkejut dengan fakta bahwa Maharaya


adalah Princess As Syaf Sulaiman. Wanita yang


selalu berada dalam penerawangan nya itu


adalah darah daging seorang Serkan. Semua


ini benar-benar di luar dugaan. Sungguh di


luar ekspektasi nya.


"Aku akan membawa nya pulang.! Kau sudah


tidak bisa di andalkan. Bahkan akhir-akhir ini


Putri ku lah yang lebih banyak melindungi mu.!"


Deg !


Jantung Aaron serasa berhenti berdetak. Dia


mengangkat wajahnya. Menatap tajam wajah


Serkan dengan sorot mata tidak terima.


"Kau tidak bisa membawanya dariku. Kau tidak


punya hak apapun padanya, aku suaminya.!"


"Dia Putri kandung ku.! Dan dia berhak tahu


serta mengenali keluarga kandung nya.!"


"Putri kandung yang sengaja kau buang.!"


"Kau tahu benar alasan di balik semua itu.!"


"Tetap saja, saat ini aku yang lebih berhak


atas dirinya. Dia harus melangkah bersamaku


agar bisa mencapai takdir nya..!!"


Serkan menyeringai tipis saling menatap kuat


dengan Aaron. Keduanya tampak tidak ingin

__ADS_1


mengalah, sama-sama keras kepala.


"Yang Mulya Prince Ahmed.. tolong berilah satu


kesempatan lagi pada mereka untuk meraih apa


yang sudah di gariskan dalam hidup mereka."


Akhirnya Madam Rowena mengeluarkan suara


membuat perang mata di antara Mertua dan


menantu itu berakhir.


"Baiklah.. Kalau keadaannya sudah tenang


biarkan dia pulang ke rumahnya yang sejati !"


Aaron mendengus sambil memalingkan wajah.


Sudah dia duga, akhirnya Serkan akan meminta


Raya untuk pulang.


"Apa kau yakin semua nya sudah terkendali.?


Bukanlah di tempatmu segalanya serba genting.


Kau bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak.!"


Aaron mencibir dengan wajah sinis. Serkan


tersenyum miring sambil merebahkan tubuh


dan meletakan kedua tangan di atas sandaran


sofa, tampak santai dan tenang.


"Sekarang semuanya sudah ada di bawah


kendaliku, tidak ada lagi yang akan berani


mengancam keselamatan Putriku..!"


Aaron menatap Serkan berusaha meyakinkan


diri. Ke dalam ruangan tiba-tiba muncul Alex


dan Murat yang datang tergesa-gesa.


"Maafkan saya mengganggu Yang Mulya.."


Alex membungkukkan badan penuh hormat


di hadapan 3 orang penting itu.


"Ada apa Alex ?"


Madam Rowena menatap Alex penasaran.


"Yang Mulya Raja mengundang Yang Mulya


Jendral Serkan untuk datang makan malam


di istana. Beliau sangat berharap Jenderal


mau memenuhi undangannya.!"


Serkan dan Aaron saling melihat. Ada seringai


tipis di bibir Sang Jenderal.


"Baiklah.. aku akan kesana sebelum terbang


kembali. Kita lihat bagaimana tanggapan


ayah mu itu atas kejadian ini.!!"


Desis Serkan sambil menarik napas panjang.


Aaron melirik kembali kearah Alex.


"Dia juga menyuruhmu datang ?"


"Benar Yang Mulya.. Raja memberi perintah


agar anda bersama Princess Maharaya


datang juga ke istana."


Aaron kembali saling melihat dengan Serkan.


"Biarkan dia tahu siapa putriku sesungguhnya.!"


Tegas Serkan. Aaron dan Madam Rowena kini


saling pandang, Madam Rowena mengangguk


pelan sambil mengedipkan mata meyakinkan.


***


Aaron menatap tampilan Raya yang baru saja


selesai bersiap dengan gaun cantik nan anggun


yang membalut elegan tubuh indahnya plus


polesan tipis yang menyempurnakan segala


keindahan fisiknya yang luar biasa memukau.


Aaron menarik tubuh Raya ke dalam pelukan


nya. Mendekapnya erat seolah tidak ingin lagi


melepaskannya. Raya balas memeluk tubuh


gagah suaminya itu yang agak sedikit berbeda.


Dia terlihat banyak terdiam dan merenung.


"Ada apa sayang..? Apa Ayah mengatakan


sesuatu yang mengganggu pikiran mu.?"


"Jangan pernah meninggalkan ku Raya.


Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu.!"


Raya menautkan alisnya, dia melonggarkan


pelukannya. Keduanya kini saling menatap


kuat. Tangan Raya bergerak membelai lembut


wajah halus mulus Aaron yang bercahaya.


"Kenapa kau meragukan kesungguhan ku.?


Apa karena sekarang aku sudah di akui sebagai


Putri Prince Ahmed.? Kau takut aku di ambil


oleh keluarga ku.? Aaron.. kalau begitu kau


masih meragukan perasaanku.!"


Keduanya semakin terpaut dalam tatapan


yang saling menjerat satu sama lain.


"Ayahmu akan merebut mu dariku Raya.!"


Ekspresi wajah Raya kini berubah sedikit geli.


Dia tersenyum lembut sambil meraup wajah


Aaron dan mendekatkan nya hingga hampir


bersentuhan.


"Aku sangat mencintaimu Putra Mahkota..


Mana mungkin aku meninggalkan mu. Kau


adalah pemilik kehormatan ku. Kau yang


telah membawaku ke jalan ini. Jadi.. jangan


pernah meragukan cintaku sayang.."


Lirih Raya sambil kemudian memagut bibir


Aaron dengan sangat lembut dan manis. Aaron langsung terbang terbuai oleh ciuman dahsyat


itu, dengan buas dia membalas ciuman penuh


cinta dan kerinduan itu. Insiden tadi semakin


membuat mereka merasa takut kehilangan


satu sama lain..


30 menit kemudian...


Iring-iringan mobil super mewah itu kini sudah


masuk ke halaman depan istana utama. Dan


tidak lama helikopter yang membawa Serkan


pun mendarat di landasan depan. Kedatangan


mereka di sambut puluhan staf istana juga para


prajurit penjaga istana.


Aaron keluar dari Limosin yang membawanya.


Tangan nya kini terulur menggengam jemari


tangan Raya yang baru keluar dari mobil.


Mereka berdua berdiri berdampingan menanti


kedatangan Serkan yang baru turun dari dalam


pesawat. Semua prajurit penjaga, para staf


istana langsung membungkuk dalam di hadapan


mereka bertiga yang begitu menyilaukan.


"Silahkan Yang Mulya.. silahkan Jenderal..


Raja sudah menanti anda di ruang khusus


perjamuan."


Sambut kepala staf istana sambil mengulurkan


tangan membimbing ketiganya untuk segera


memasuki Grand Marco Palace..


Serkan mengibaskan tangannya ke udara


membuat lampu-lampu yang ada di sekitar


istana tiba-tiba berkedip-kedip seolah terjadi konsleting listrik. Raya menatap kesal kearah


ayahnya yang berdiri di samping kanannya itu.


"Ayah..aku mohon jangan membuat keributan.!"


Decak Raya sambil menggenggam tangan kiri


Serkan yang sempat akan membuat atraksi baru.


Aaron hanya menatap dingin ayah mertuanya


itu sambil menarik nafas berat.


"Ayah hanya ingin memberikan sedikit oleh-oleh


untuk ayah mertua mu yang kurang peka itu.!"


Desis Serkan sambil tersenyum tipis seraya


mengusap lembut kepala Raya. Mereka bertiga


kini mulai melangkah beriringan menuju pintu


utama yang sudah terbuka lebar. Sesaat sebelum


masuk ke dalam istana, kini giliran Raya yang


tampak mengibaskan tangannya ke belakang


melihat keributan yang terjadi karena lampu


yang berkedip-kedip semakin parah hingga


para pelayan berlarian panik.


Tiba-tiba saja lampu-lampu itu kembali menyala


dengan normal dan suasana kembali kondusif.


Aaron dan Serkan menghentikan langkah. Mata


mereka kini menatap tajam wajah Raya yang


terlihat santai dan acuh. Murat dan bawahan


Aaron pun sama terkejutnya.


"Kau sudah bisa mengendalikan nya.?"


Hampir bersamaan Aaron dan Jenderal Serkan


bertanya. Raya menatap kedua orang yang


sangat penting dalam hidupnya itu bergantian.


"Apanya yang harus di kendalikan.? Bukankah


semuanya itu terpusat dalam pikiran kita.?"


Jawab Raya acuh. Aaron dan Serkan langsung


mengerjapkan mata, keduanya saling pandang.


Sementara Raya kembali melangkah tenang


masuk ke dalam istana dengan kepercayaan


diri yang tinggi karena di sampingnya ada dua


pria paling hebat dan paling jantan yang akan


selalu melindunginya..


***

__ADS_1


__ADS_2