Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
62. Green Palace


__ADS_3

Mata Raya membulat sempurna begitu dia keluar


dari kondisi syok nya. Sosok itu kini tersenyum


tipis dengan tatapan yang berubah tenang dan


dalam. Sementara mata Aaron kini menyala di


penuhi semburan bara api melihat tubuh Raya


berada dalam pangkuan sosok penari tadi yang


tiada lain adalah Eden Wolf, Sang ketua mafia


bawah tanah yang tiada henti mencari gara-gara


hanya karena ingin memiliki seorang Maharaya.


"Kau..! Turunkan aku sekarang.!"


"Kau harus ikut dengan ku baby. Aku datang


kesini tidak ingin membuat keributan.!"


"Aku tidak mengenalmu.! Kau hanyalah orang


aneh yang selalu datang menggangguku.!"


"Tapi aku sudah sangat mengenalmu Raya. "


Raya menekan tubuh laki-laki itu dan memukuli


dadanya dengan kuat di sertai tatapan yang


semakin tajam mulai di penuhi emosi.


"Lepaskan aku.! Dan berhenti mengejar ku.!"


"Tidak bisa, kita adalah pasangan yang paling


serasi di dunia, kalau kita bersatu, dunia akan


ada dalam genggaman kita baby.."


"Eden Wolf.! Turunkan aku sekarang juga.!"


Teriak Raya dengan tatapan tajam penuh daya


lumpuh yang langsung membuat pria berwajah


tampan namun bengis itu membeku di tempat.


Mata mereka kembali bertemu dengan kilatan


hebat yang saling melumpuhkan. Pria itu kini


mengerjap hebat dengan tubuh yang terlihat


gemetar begitu ada kilat biru bening keluar


dari mata indah Raya dan langsung menembus


batas kekelaman jiwanya yang membuat pria


itu hampir kehilangan keseimbangan. Shit.!


Apa yang ada dalam diri wanita ini benar-benar


bisa menjadi bumerang bagi dirinya.


Raya melompat turun dari pangkuan pria itu


kemudian mundur menjauh sambil melihat


kearah Aaron yang sedang berlari cepat ke


arahnya. Raya menyerbu kedatangan Aaron


lalu melompat ke dalam pelukannya. Mereka


berdua saling memeluk erat, Aaron mendekap


erat tubuh Raya seraya mencium pelipisnya.


Tidak lama dia memfokuskan matanya pada


sosok Eden Wolf yang terlihat sudah berdiri


tegak sambil menyeringai tipis.


"Kau..! Tidak henti-hentinya mengejar apa


yang sudah menjadi milikku.!"


Geram Aaron sambil membidikkan senjata


kearah Eden Wolf yang terlihat santai saja.


Raya bersembunyi di balik punggung Aaron.


Tubuhnya kini mulai merasakan gelagat tidak


beres, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang


perut bagian bawahnya.


"Wanita itu adalah bagian ku Pangeran.! Dia


hanya akan cocok hidup bersamaku.! Kalau


kau terus memaksa memiliki nya, tubuhmu


tidak akan kuat menahan dominasi nya.!"


Ujar Eden Wolf dengan seringai aneh di sertai


tatapan yang semakin terlihat penuh ambisi.


Wajah Aaron kini berubah kelam, sudah jelas


kalau laki-laki ini mengetahui keistimewaan


yang di miliki oleh istrinya .


"Dan di dunia ini hanya akan ada satu laki-laki


yang mampu meredam dominasinya itu Tuan


Eden, kau akan mengetahui satu fakta penting


nanti, siapakah laki-laki itu.!"


Kali ini wajah Eden Wolf yang terlihat gelap


dengan kilatan angkara murka dan emosi


yang sudah mencapai ubun-ubun nya.


"Apapun yang terjadi..Kau harus melepaskan


wanita itu untukku.!"


"Kau bisa terus mencobanya sampai bosan.!


Mundur lah..aku harus memberi pelajaran


manusia berd*b*h yang satu ini.!"


Aaron menempatkan Raya di belakang nya


saat Alex dan Benjamin mendekat.


"Biarkan kami yang maju Yang Mulya..!"


Benjamin tampak maju dengan tampang


muka yang terlihat sudah sangat kelam dan


dingin, dia benar-benar penasaran dengan


Eden Wolf dan ingin melawannya langsung.


"Mundur..! Amankan saja area ini, jauhkan


masyarakat dari tempat ini.!"


"Baik Yang Mulya..! Anak buah Eden sudah


di bekuk semuanya.!"


Sahut Benjamin sambil memberi isyarat pada


seluruh pasukan nya untuk mensterilkan area


termasuk dari fokus kamera para pencari berita


yang dari awal acara terus saja mengincar dan


mengikuti seluruh gerak gerik Aaron walaupun


sebenarnya itu sangat sulit karena penjagaan


super ketat dari seluruh pengawal pribadi Aaron.


Beberapa saat kemudian Aaron dan Eden Wolf


sudah terlibat dalam pertarungan seru dan


sengit dengan gerakan cepat dan terukur.


Keduanya sama-sama di kuasai oleh amarah


yang meledak-ledak. Tidak lama tubuh mereka terpental ke belakang begitu tendangan dan


pukulan masuk ke bagian-bagian penting dalam


tubuh mereka. Raya nampak terkesiap saat


melihat bibir Aaron mengeluarkan darah. Aneh,


untuk saat ini dia benar-benar tidak sanggup


melihat laki-laki itu terluka sekecil apapun.


Perut bagian bawahnya semakin terasa melilit, keringat dingin mulai meremang dan wajahnya berubah memucat.


Tubuh Aaron dan Eden Wolf kembali melesat


saling menyerang dengan tingkat jurus yang


lebih tinggi lagi. Pertarungan mereka terlihat


semakin menggila dan mengerikan membuat


suasana semakin mencekam. Beberapa kali


Aaron memasukkan pukulan telak ke tubuh


laki-laki aneh itu, namun dia pun tidak luput


dari serangan hebat pria itu hingga membuat


tubuh mereka kembali terpental. Raya semakin


tidak tahan melihat pertarungan ini. Kepalanya


kini semakin terasa berat dan rasa sakit di


perut bagian bawahnya kian terasa.


"Aaron..sudah hentikan.! Sampai kapan kalian


akan bertarung di tempat terbuka seperti ini.!"


Teriak Raya tidak tahan lagi, kepalanya terasa


semakin berputar dan tenaganya kini semakin


hilang, tubuh nya tampak limbung. Gerakan


Aaron dan Eden seketika berhenti mendengar


teriakan Raya. Keduanya melirik kearah wanita


itu yang terlihat goyah. Alex terlihat bingung


dan getir mengawasi pergerakan lemah Raya


karena tidak berani menyentuh tubuh Sang


majikan.


"Raya...!"


Secara bersamaan Aaron dan Eden berteriak


panik saat melihat tubuh Raya terhuyung akan


jatuh ke dalam pangkuan Alex. Secepat kilat


kedua jagoan itu melesat terbang menyambar

__ADS_1


tubuh Raya. Dan kini tubuh lemah itu sudah ada


dalam dekapan kuat Aaron. Sementara Eden


hanya bisa berdiri mematung dengan wajah aneh menatap lekat wajah Raya yang kini membuka matanya lemah menatap redup wajah Aaron


yang terlihat begitu panik dan cemas.


"Aaron...berhentilah bertarung..Aku lelah


melihat semua ini.."


Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan, dan akhirnya tubuhnya terkulai lemas di rengkuh


oleh kegelapan dan kesenyapan.


"Raya.. hei.. apa yang terjadi dengan mu.?


Raya.. sayang.. sadarlah..!"


Aaron tampak panik dan cemas, dia menepuk


halus wajah Raya dan mendekap erat tubuhnya. Begitupun dengan raut wajah Eden Wolf. Pria


berwajah bengis itu kini menegakkan badannya,


kembali waspada saat melihat pergerakan para pengawal Aaron.


"Dia hanya pingsan, tangani secepatnya. Kita


akan melanjutkan pertarungan ini lain waktu.!"


Eden Wolf berbicara setelah itu dia mengibaskan


tangan nya dan tiba-tiba muncul asap pekat yang


langsung menelan dirinya kemudian sosoknya


lenyap tak berbekas membuat semua bawahan


Aaron hanya bisa menahan jengkel. Kabur lagi.!


"Alex siapkan mobil sekarang.! Kita aka pergi


ke Green Palace ! Istriku perlu tempat aman


saat ini."


"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"


Kedua orang itu langsung bergerak cepat.


Tidak lama Aaron memangku tubuh Raya di


bawa masuk ke dalam mobil yang di bawa


langsung oleh Benjamin di dampingi oleh Alex.


Kemudian iring-iringan mobil Putra Mahkota


melaju lancar membelah kerumunan massa


yang langsung memberi jalan tanpa di minta.


Iring-iringan mobil mewah itu kini meluncur


cepat menyusuri jalanan yang terlihat lengang


karena saat ini masyarakat sedang berkumpul


di satu titik, alun-alun kota. Mobil terus melaju


tanpa hambatan hingga akhirnya masuk ke


sebuah kawasan pribadi yang ada di area


perbukitan indah bernuansa hijau nan segar.


Jalanan yang di susuri tampak di hiasi gegap


nya pepohonan rindang yang berbaris rapi nan


indah membentang sepanjang jalan.


Tubuh Raya ada dalam pangkuan Aaron yang


tiada henti menatap lekat wajah cantik istrinya


yang terlihat memucat itu dengan sorot mata


penuh kecemasan, was-was dan entah apalagi


yang saat ini ada dalam pikirannya. Sesekali


dia menciumi kening dan wajah bening mulus


istrinya itu penuh perasaan.


"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi Ben.?!"


Aaron membentak karena tidak sabar ingin


cepat sampai di tempat tujuan.


"Baik Yang Mulya."


Akhirnya Benjamin melesatkan mobilnya


dengan kecepatan penuh agar lebih cepat


tiba di Green Palace..


***


Raya membuka mata perlahan saat kesadaran


kembali menyapanya. Kemudian mengedarkan


pandangan ke seluruh ruangan. Dia mengurut


pelipis sambil memejamkan matanya kembali mencoba untuk mengumpulkan kesadaran.


Alisnya mengernyit saat menyadari kini dirinya


ada dalam sebuah ruangan yang sangat besar


nan indah bernuansa white gold dengan desain interior yang terlihat futuristik modern.


"Kau sudah sadar.?"


Raya melirik ke asal suara. Sosok tinggi tegap


ibadah sholat dhuhur. Mata mereka langsung


terpaut satu sama lain dengan sorot mata


yang terlihat teduh dan hangat.


"Aaron.. kita ada dimana.?"


Raya bertanya sambil bangkit kemudian duduk


bersandar di ujung tempat tidur ukuran jumbo


itu, kembali menatap ke sekeliling ruangan.


Aaron mendekat, tanpa banyak kata dia naik


ke atas tempat tidur, kemudian meraih tubuh


lemah Raya ke dalam rengkuhan nya, memeluk


nya erat sambil memejamkan mata. Hatinya


kini terasa lega melihat wanita nya kembali sadar.


Dia tidak menyuruh Dokter yang ada di istana


ini untuk memeriksa kondisi Raya, karena hanya


Alea yang dia percaya saat ini untuk menangani


masalah kesehatan dirinya maupun istrinya ini.


Raya terdiam, perlahan dia membalas pelukan


Aaron, menyandarkan kepala di belahan dada


bidang suaminya itu dengan debaran jantung


yang tiba-tiba saja tidak beraturan.


"Aaron..kenapa kau membawaku ke tempat


asing ini.?"


"Ini rumahku, bukan tempat asing.!"


"Rumahmu.? Rumah yang mana lagi.?"


"Rumah yang aku tinggali sejak kecil. Aku


tidak begitu suka tinggal di Istana negara."


"Lalu kenapa kau membawaku kesini.?"


"Aku ingin berbulan madu di tempat ini.!"


"Aaron..ku mohon jangan bercanda.!"


"Siapa yang bercanda ? Aku tidak akan pernah


main-main untuk urusan yang satu ini. Kita


akan menghangatkan kamar ini dengan suara desahan mu yang menggoda itu.!"


Bisik Aaron parau di telinga Raya yang sontak


membuat Raya melebarkan matanya sambil melepaskan pelukannya di tubuh Aaron.


"Kenapa..? Bukan kah ini tempat yang cocok


untuk bulan madu kita.?!"


"Aaron.. sudah hentikan..!"


Raya memukul lengan Aaron dengan wajah


yang sudah memerah seluruhnya. Tapi Aaron


menangkap tangan Raya kemudian mencium


dan meletakkan di kedua pipinya. Raya terdiam,


tubuh nya kini mulai menegang melihat sorot


mata Aaron mulai berbeda, mata mereka saling menatap kuat. Dalam gerakan cepat tangan


Aaron menarik pinggang Raya hingga kini


tubuh mereka merapat, tangan Raya berada


di pundak kokoh Aaron.


"Aaron.. tidak bisakah kamu membiarkan aku


pulang pada keluargaku. Aku adalah wanita


pembawa masalah bagimu."


Wajah Aaron tampak berubah sedikit keras


dengan sorot mata yang semakin tajam.


"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan


aku Raya ! Aku tidak akan melepaskan dirimu."


"Kau akan terus menemui masalah kalau


terus bersamaku..!"


"Apa kau lupa kalau aku seorang ksatria.?"


"Tapi aku tidak sanggup kalau harus selalu


melihat mu dalam masalah Aaron.."


Mata Aaron mengerjap, ada perasaan hangat


yang kini semakin mengalir memenuhi aliran


darah dalam tubuh nya.


"Kau meragukan kemampuan ku.? Kau takut


aku tidak bisa melawan para pesulap


murahan itu.?"


Mata mereka semakin terpaut dalam, saling

__ADS_1


mencoba meyakinkan diri masing-masing.


"Tidak, aku tidak pernah meragukan mu.!"


"Kalau begitu tetaplah di sampingku.!"


"Apa yang kau harapkan dariku.? Sepertinya


aku tidak akan pernah mengandung benih


keturunanmu Aaron.."


"Aku akan tetap mengikatmu dengan cara


apapun.!"


"Aaron.. pikirkan lah semuanya baik-baik."


"Jangan mencoba mempengaruhiku.! Aku


tidak pernah salah dengan keyakinan ku.!"


Keduanya kembali saling pandang kuat dan


mencoba untuk meyakinkan diri. Hati mereka


kini di penuhi perasaan yang tidak terjabarkan.


Begitu rumit, sangat sulit untuk tersampaikan.


Namun hasrat dalam diri mereka lain dengan


kondisi hatinya. Sentuhan fisik seperti ini selalu memantik api gairah yang seketika membakar


darah mereka. Perlahan bibir mereka mendekat,


mata keduanya semakin terpaut dalam di tengah ketegangan yang mulai melanda.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku


Maharaya.."


Bisik Aaron dengan suara yang sangat parau.


Bibir mereka bertemu, saling memagut, ******* lembut, menyesap, merasakan kehangatan dan


rasa manis yang mengalir di setiap cecapan dan


jilatan lembut bibir masing-masing. Ciuman itu semakin lama semakin panas dan nikmat saat


lidah mereka saling bertautan dan saling membelit dengan intens tersulut hasrat yang semakin lama semakin menggebu membakar seluruh aliran


darah keduanya. Tubuh mereka semakin bergetar hebat menahan ledakkan gairah yang ingin


segera di tuntaskan.


Tubuh Aaron sudah mulai menindih tubuh Raya.


Aksi liar bibirnya kini turun ke bagian bawah


menyusuri leher jenjang Raya yang sangat


indah dan menggoda, mencoba menggigitnya


kecil meninggalkan banyak jejak kenikmatan.


"Emmhh.. Aaron... hentikan semua ini..! Aku


mau ke kamar mandi."


Raya mencoba menghentikan aksi liar Aaron


saat kesadaran kini kembali menguasai dirinya


bersamaan dengan suara panggilan di ponsel


Aaron yang tiada henti bergetar dari tadi.


"Ohh Shit..! Kenapa kamu menggangguku.?"


"Hei.. sabar Tuanku Yang Mulya..!"


Aaron langsung terdiam saat mendengar suara


orang di sebrang sana. Dia menjuhkan ponsel


dan melihat nama yang tertera di layar untuk memastikan siapa orang yang menelpon dirinya.


Alisnya mengernyit, Rayen.? Ada apa pria ini


menghubungi nya.?


"Ada perlu apa menghubungi ku.?"


"Kemana saja Tuan, sudah satu minggu ini aku


berusaha menghubungi mu.!"


Aaron terpaksa mengangkat tubuhnya dari


atas tubuh Raya yang terlihat menatap dirinya


dalam diam sambil membenahi pakaiannya.


"Apa yang terjadi.?"


"Ada masalah serius dengan jantung Tuan


Moolay.!"


Wajah Aaron langsung berubah aneh, dingin


dan sangat serius. Dia menatap wajah Raya


yang kini sudah kembali duduk di ujung kasur.


"Aku keluar dulu sebentar..!"


Aaron mengecup lembut bibir Raya kemudian


turun dari atas tempat tidur dan langsung keluar


dari dalam kamar super besar itu meninggalkan


Raya yang masih terdiam, sedikit merenung aneh


tentang penelpon tadi yang mampu membuat


Aaron terlihat berubah dingin.


Akhirnya Raya turun dari atas tempat tidur. Dia


benar-benar penasaran, sebenarnya dirinya ada


di mana, benarkah rumah ini tempat tinggal Aaron


selama ini.? Dia juga harus segera menjalankan


kewajiban nya. Tanpa pikir panjang Raya masuk


ke kamar mandi yang ukurannya sangatlah luas


di lengkapi berbagai fasilitas komplit dan modern.


Dia sempat tertegun ketika masuk kedalam ruang walk in closet karena di sana sudah tersedia


berbagai pakaian wanita komplit dengan segala


perlengkapannya, termasuk perlengkapan ibadah


seperti di white house. Raya segera menjalankan


segala kewajibannya dengan khusyuk.


Beberapa saat setelahnya..


Raya keluar dari dalam kamar ingin melihat


keadaan di luar sekalian mencari keberadaan


Aaron. Tiba di luar, dia tampak mengernyitkan


alisnya melihat satu pemandangan tak biasa.


Bukan karena kemegahan istana yang berdesain interior serba hijau dengan segala kemewahan


nya, namun karena di lantai bawah istana hijau


ini terlihat ada kerumunan para pelayan yang


sedang duduk bersimpuh di lantai sambil menundukkan kepala.


Tidak tahan dengan rasa penasarannya Raya


segera turun ke lantai bawah, langsung datang


menghampiri para pelayan yang tampak terkejut


saat melihat kemunculannya. Mereka semua


terlihat menatap bengong kearah Raya yang kini berdiri di depan semua pelayan itu. Dan fokus


mereka kembali buyar saat terdengar suara


pecahan barang dari dalam kamar yang kini jadi


pusat perhatian semua pelayan.


Ada seorang pelayan lagi yang keluar dari dalam kamar misterius itu dengan wajah pucat pasi dan linangan air mata. Melihat hal itu Raya semakin


di buat bingung dan penasaran.


"Maaf semuanya.. kalau boleh tahu, ada apa


ini sebenarnya.?"


Raya menatap para pelayan itu yang masih


terduduk di lantai, pasrah di tengah ketakutan.


Mereka mengangkat wajah, menatap segan


wajah Raya yang terlihat begitu cantik dan


bercahaya, sangat menyilaukan.


"Maaf Miss, anda ini siapa.?"


"Saya sekretaris pribadi Prince Marvell."


Mereka semua saling pandang terkejut, tidak


percaya pada apa yang di dengarnya. Memang


tidak akan ada yang tahu tentang keberadaan


Raya di istana ini karena Aaron membawa Raya


melewati jalur lift khusus dari basement yang


langsung masuk ke dalam kamar, jadi tidak ada


yang melihat kedatangan nya.


"Ada apa ini.? apa ada sesuatu yang bisa


saya bantu.?"


Mereka saling pandang sedikit ragu..


"Begini Miss, pelayan pribadi Yang Mulya Ibu


Suri sedang sakit, kami semua tidak ada yang


bisa membuatkan minuman kesukaan beliau,


jadi semua minuman hasil buatan kami tidak


ada satupun yang memenuhi seleranya, semua


di lempar oleh beliau, dan kami kena hukuman


di sini."


Raya tertegun mendengar penjelasan dari salah


seorang pelayan tersebut. Jadi ini adalah istana


tempat tinggal Madam Rowena.? Kalau begitu


selama ini Aaron tinggal dan dan besar bersama


dengan Sang Nenek.?


"Apa saya boleh mencoba membuatkan


minuman itu.?"


Semua pelayan tampak bengong dan ragu..


***

__ADS_1


__ADS_2