
Mata Raya membulat sempurna begitu dia keluar
dari kondisi syok nya. Sosok itu kini tersenyum
tipis dengan tatapan yang berubah tenang dan
dalam. Sementara mata Aaron kini menyala di
penuhi semburan bara api melihat tubuh Raya
berada dalam pangkuan sosok penari tadi yang
tiada lain adalah Eden Wolf, Sang ketua mafia
bawah tanah yang tiada henti mencari gara-gara
hanya karena ingin memiliki seorang Maharaya.
"Kau..! Turunkan aku sekarang.!"
"Kau harus ikut dengan ku baby. Aku datang
kesini tidak ingin membuat keributan.!"
"Aku tidak mengenalmu.! Kau hanyalah orang
aneh yang selalu datang menggangguku.!"
"Tapi aku sudah sangat mengenalmu Raya. "
Raya menekan tubuh laki-laki itu dan memukuli
dadanya dengan kuat di sertai tatapan yang
semakin tajam mulai di penuhi emosi.
"Lepaskan aku.! Dan berhenti mengejar ku.!"
"Tidak bisa, kita adalah pasangan yang paling
serasi di dunia, kalau kita bersatu, dunia akan
ada dalam genggaman kita baby.."
"Eden Wolf.! Turunkan aku sekarang juga.!"
Teriak Raya dengan tatapan tajam penuh daya
lumpuh yang langsung membuat pria berwajah
tampan namun bengis itu membeku di tempat.
Mata mereka kembali bertemu dengan kilatan
hebat yang saling melumpuhkan. Pria itu kini
mengerjap hebat dengan tubuh yang terlihat
gemetar begitu ada kilat biru bening keluar
dari mata indah Raya dan langsung menembus
batas kekelaman jiwanya yang membuat pria
itu hampir kehilangan keseimbangan. Shit.!
Apa yang ada dalam diri wanita ini benar-benar
bisa menjadi bumerang bagi dirinya.
Raya melompat turun dari pangkuan pria itu
kemudian mundur menjauh sambil melihat
kearah Aaron yang sedang berlari cepat ke
arahnya. Raya menyerbu kedatangan Aaron
lalu melompat ke dalam pelukannya. Mereka
berdua saling memeluk erat, Aaron mendekap
erat tubuh Raya seraya mencium pelipisnya.
Tidak lama dia memfokuskan matanya pada
sosok Eden Wolf yang terlihat sudah berdiri
tegak sambil menyeringai tipis.
"Kau..! Tidak henti-hentinya mengejar apa
yang sudah menjadi milikku.!"
Geram Aaron sambil membidikkan senjata
kearah Eden Wolf yang terlihat santai saja.
Raya bersembunyi di balik punggung Aaron.
Tubuhnya kini mulai merasakan gelagat tidak
beres, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang
perut bagian bawahnya.
"Wanita itu adalah bagian ku Pangeran.! Dia
hanya akan cocok hidup bersamaku.! Kalau
kau terus memaksa memiliki nya, tubuhmu
tidak akan kuat menahan dominasi nya.!"
Ujar Eden Wolf dengan seringai aneh di sertai
tatapan yang semakin terlihat penuh ambisi.
Wajah Aaron kini berubah kelam, sudah jelas
kalau laki-laki ini mengetahui keistimewaan
yang di miliki oleh istrinya .
"Dan di dunia ini hanya akan ada satu laki-laki
yang mampu meredam dominasinya itu Tuan
Eden, kau akan mengetahui satu fakta penting
nanti, siapakah laki-laki itu.!"
Kali ini wajah Eden Wolf yang terlihat gelap
dengan kilatan angkara murka dan emosi
yang sudah mencapai ubun-ubun nya.
"Apapun yang terjadi..Kau harus melepaskan
wanita itu untukku.!"
"Kau bisa terus mencobanya sampai bosan.!
Mundur lah..aku harus memberi pelajaran
manusia berd*b*h yang satu ini.!"
Aaron menempatkan Raya di belakang nya
saat Alex dan Benjamin mendekat.
"Biarkan kami yang maju Yang Mulya..!"
Benjamin tampak maju dengan tampang
muka yang terlihat sudah sangat kelam dan
dingin, dia benar-benar penasaran dengan
Eden Wolf dan ingin melawannya langsung.
"Mundur..! Amankan saja area ini, jauhkan
masyarakat dari tempat ini.!"
"Baik Yang Mulya..! Anak buah Eden sudah
di bekuk semuanya.!"
Sahut Benjamin sambil memberi isyarat pada
seluruh pasukan nya untuk mensterilkan area
termasuk dari fokus kamera para pencari berita
yang dari awal acara terus saja mengincar dan
mengikuti seluruh gerak gerik Aaron walaupun
sebenarnya itu sangat sulit karena penjagaan
super ketat dari seluruh pengawal pribadi Aaron.
Beberapa saat kemudian Aaron dan Eden Wolf
sudah terlibat dalam pertarungan seru dan
sengit dengan gerakan cepat dan terukur.
Keduanya sama-sama di kuasai oleh amarah
yang meledak-ledak. Tidak lama tubuh mereka terpental ke belakang begitu tendangan dan
pukulan masuk ke bagian-bagian penting dalam
tubuh mereka. Raya nampak terkesiap saat
melihat bibir Aaron mengeluarkan darah. Aneh,
untuk saat ini dia benar-benar tidak sanggup
melihat laki-laki itu terluka sekecil apapun.
Perut bagian bawahnya semakin terasa melilit, keringat dingin mulai meremang dan wajahnya berubah memucat.
Tubuh Aaron dan Eden Wolf kembali melesat
saling menyerang dengan tingkat jurus yang
lebih tinggi lagi. Pertarungan mereka terlihat
semakin menggila dan mengerikan membuat
suasana semakin mencekam. Beberapa kali
Aaron memasukkan pukulan telak ke tubuh
laki-laki aneh itu, namun dia pun tidak luput
dari serangan hebat pria itu hingga membuat
tubuh mereka kembali terpental. Raya semakin
tidak tahan melihat pertarungan ini. Kepalanya
kini semakin terasa berat dan rasa sakit di
perut bagian bawahnya kian terasa.
"Aaron..sudah hentikan.! Sampai kapan kalian
akan bertarung di tempat terbuka seperti ini.!"
Teriak Raya tidak tahan lagi, kepalanya terasa
semakin berputar dan tenaganya kini semakin
hilang, tubuh nya tampak limbung. Gerakan
Aaron dan Eden seketika berhenti mendengar
teriakan Raya. Keduanya melirik kearah wanita
itu yang terlihat goyah. Alex terlihat bingung
dan getir mengawasi pergerakan lemah Raya
karena tidak berani menyentuh tubuh Sang
majikan.
"Raya...!"
Secara bersamaan Aaron dan Eden berteriak
panik saat melihat tubuh Raya terhuyung akan
jatuh ke dalam pangkuan Alex. Secepat kilat
kedua jagoan itu melesat terbang menyambar
__ADS_1
tubuh Raya. Dan kini tubuh lemah itu sudah ada
dalam dekapan kuat Aaron. Sementara Eden
hanya bisa berdiri mematung dengan wajah aneh menatap lekat wajah Raya yang kini membuka matanya lemah menatap redup wajah Aaron
yang terlihat begitu panik dan cemas.
"Aaron...berhentilah bertarung..Aku lelah
melihat semua ini.."
Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan, dan akhirnya tubuhnya terkulai lemas di rengkuh
oleh kegelapan dan kesenyapan.
"Raya.. hei.. apa yang terjadi dengan mu.?
Raya.. sayang.. sadarlah..!"
Aaron tampak panik dan cemas, dia menepuk
halus wajah Raya dan mendekap erat tubuhnya. Begitupun dengan raut wajah Eden Wolf. Pria
berwajah bengis itu kini menegakkan badannya,
kembali waspada saat melihat pergerakan para pengawal Aaron.
"Dia hanya pingsan, tangani secepatnya. Kita
akan melanjutkan pertarungan ini lain waktu.!"
Eden Wolf berbicara setelah itu dia mengibaskan
tangan nya dan tiba-tiba muncul asap pekat yang
langsung menelan dirinya kemudian sosoknya
lenyap tak berbekas membuat semua bawahan
Aaron hanya bisa menahan jengkel. Kabur lagi.!
"Alex siapkan mobil sekarang.! Kita aka pergi
ke Green Palace ! Istriku perlu tempat aman
saat ini."
"Baik Yang Mulya.. laksanakan.!"
Kedua orang itu langsung bergerak cepat.
Tidak lama Aaron memangku tubuh Raya di
bawa masuk ke dalam mobil yang di bawa
langsung oleh Benjamin di dampingi oleh Alex.
Kemudian iring-iringan mobil Putra Mahkota
melaju lancar membelah kerumunan massa
yang langsung memberi jalan tanpa di minta.
Iring-iringan mobil mewah itu kini meluncur
cepat menyusuri jalanan yang terlihat lengang
karena saat ini masyarakat sedang berkumpul
di satu titik, alun-alun kota. Mobil terus melaju
tanpa hambatan hingga akhirnya masuk ke
sebuah kawasan pribadi yang ada di area
perbukitan indah bernuansa hijau nan segar.
Jalanan yang di susuri tampak di hiasi gegap
nya pepohonan rindang yang berbaris rapi nan
indah membentang sepanjang jalan.
Tubuh Raya ada dalam pangkuan Aaron yang
tiada henti menatap lekat wajah cantik istrinya
yang terlihat memucat itu dengan sorot mata
penuh kecemasan, was-was dan entah apalagi
yang saat ini ada dalam pikirannya. Sesekali
dia menciumi kening dan wajah bening mulus
istrinya itu penuh perasaan.
"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi Ben.?!"
Aaron membentak karena tidak sabar ingin
cepat sampai di tempat tujuan.
"Baik Yang Mulya."
Akhirnya Benjamin melesatkan mobilnya
dengan kecepatan penuh agar lebih cepat
tiba di Green Palace..
***
Raya membuka mata perlahan saat kesadaran
kembali menyapanya. Kemudian mengedarkan
pandangan ke seluruh ruangan. Dia mengurut
pelipis sambil memejamkan matanya kembali mencoba untuk mengumpulkan kesadaran.
Alisnya mengernyit saat menyadari kini dirinya
ada dalam sebuah ruangan yang sangat besar
nan indah bernuansa white gold dengan desain interior yang terlihat futuristik modern.
"Kau sudah sadar.?"
Raya melirik ke asal suara. Sosok tinggi tegap
ibadah sholat dhuhur. Mata mereka langsung
terpaut satu sama lain dengan sorot mata
yang terlihat teduh dan hangat.
"Aaron.. kita ada dimana.?"
Raya bertanya sambil bangkit kemudian duduk
bersandar di ujung tempat tidur ukuran jumbo
itu, kembali menatap ke sekeliling ruangan.
Aaron mendekat, tanpa banyak kata dia naik
ke atas tempat tidur, kemudian meraih tubuh
lemah Raya ke dalam rengkuhan nya, memeluk
nya erat sambil memejamkan mata. Hatinya
kini terasa lega melihat wanita nya kembali sadar.
Dia tidak menyuruh Dokter yang ada di istana
ini untuk memeriksa kondisi Raya, karena hanya
Alea yang dia percaya saat ini untuk menangani
masalah kesehatan dirinya maupun istrinya ini.
Raya terdiam, perlahan dia membalas pelukan
Aaron, menyandarkan kepala di belahan dada
bidang suaminya itu dengan debaran jantung
yang tiba-tiba saja tidak beraturan.
"Aaron..kenapa kau membawaku ke tempat
asing ini.?"
"Ini rumahku, bukan tempat asing.!"
"Rumahmu.? Rumah yang mana lagi.?"
"Rumah yang aku tinggali sejak kecil. Aku
tidak begitu suka tinggal di Istana negara."
"Lalu kenapa kau membawaku kesini.?"
"Aku ingin berbulan madu di tempat ini.!"
"Aaron..ku mohon jangan bercanda.!"
"Siapa yang bercanda ? Aku tidak akan pernah
main-main untuk urusan yang satu ini. Kita
akan menghangatkan kamar ini dengan suara desahan mu yang menggoda itu.!"
Bisik Aaron parau di telinga Raya yang sontak
membuat Raya melebarkan matanya sambil melepaskan pelukannya di tubuh Aaron.
"Kenapa..? Bukan kah ini tempat yang cocok
untuk bulan madu kita.?!"
"Aaron.. sudah hentikan..!"
Raya memukul lengan Aaron dengan wajah
yang sudah memerah seluruhnya. Tapi Aaron
menangkap tangan Raya kemudian mencium
dan meletakkan di kedua pipinya. Raya terdiam,
tubuh nya kini mulai menegang melihat sorot
mata Aaron mulai berbeda, mata mereka saling menatap kuat. Dalam gerakan cepat tangan
Aaron menarik pinggang Raya hingga kini
tubuh mereka merapat, tangan Raya berada
di pundak kokoh Aaron.
"Aaron.. tidak bisakah kamu membiarkan aku
pulang pada keluargaku. Aku adalah wanita
pembawa masalah bagimu."
Wajah Aaron tampak berubah sedikit keras
dengan sorot mata yang semakin tajam.
"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan
aku Raya ! Aku tidak akan melepaskan dirimu."
"Kau akan terus menemui masalah kalau
terus bersamaku..!"
"Apa kau lupa kalau aku seorang ksatria.?"
"Tapi aku tidak sanggup kalau harus selalu
melihat mu dalam masalah Aaron.."
Mata Aaron mengerjap, ada perasaan hangat
yang kini semakin mengalir memenuhi aliran
darah dalam tubuh nya.
"Kau meragukan kemampuan ku.? Kau takut
aku tidak bisa melawan para pesulap
murahan itu.?"
Mata mereka semakin terpaut dalam, saling
__ADS_1
mencoba meyakinkan diri masing-masing.
"Tidak, aku tidak pernah meragukan mu.!"
"Kalau begitu tetaplah di sampingku.!"
"Apa yang kau harapkan dariku.? Sepertinya
aku tidak akan pernah mengandung benih
keturunanmu Aaron.."
"Aku akan tetap mengikatmu dengan cara
apapun.!"
"Aaron.. pikirkan lah semuanya baik-baik."
"Jangan mencoba mempengaruhiku.! Aku
tidak pernah salah dengan keyakinan ku.!"
Keduanya kembali saling pandang kuat dan
mencoba untuk meyakinkan diri. Hati mereka
kini di penuhi perasaan yang tidak terjabarkan.
Begitu rumit, sangat sulit untuk tersampaikan.
Namun hasrat dalam diri mereka lain dengan
kondisi hatinya. Sentuhan fisik seperti ini selalu memantik api gairah yang seketika membakar
darah mereka. Perlahan bibir mereka mendekat,
mata keduanya semakin terpaut dalam di tengah ketegangan yang mulai melanda.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku
Maharaya.."
Bisik Aaron dengan suara yang sangat parau.
Bibir mereka bertemu, saling memagut, ******* lembut, menyesap, merasakan kehangatan dan
rasa manis yang mengalir di setiap cecapan dan
jilatan lembut bibir masing-masing. Ciuman itu semakin lama semakin panas dan nikmat saat
lidah mereka saling bertautan dan saling membelit dengan intens tersulut hasrat yang semakin lama semakin menggebu membakar seluruh aliran
darah keduanya. Tubuh mereka semakin bergetar hebat menahan ledakkan gairah yang ingin
segera di tuntaskan.
Tubuh Aaron sudah mulai menindih tubuh Raya.
Aksi liar bibirnya kini turun ke bagian bawah
menyusuri leher jenjang Raya yang sangat
indah dan menggoda, mencoba menggigitnya
kecil meninggalkan banyak jejak kenikmatan.
"Emmhh.. Aaron... hentikan semua ini..! Aku
mau ke kamar mandi."
Raya mencoba menghentikan aksi liar Aaron
saat kesadaran kini kembali menguasai dirinya
bersamaan dengan suara panggilan di ponsel
Aaron yang tiada henti bergetar dari tadi.
"Ohh Shit..! Kenapa kamu menggangguku.?"
"Hei.. sabar Tuanku Yang Mulya..!"
Aaron langsung terdiam saat mendengar suara
orang di sebrang sana. Dia menjuhkan ponsel
dan melihat nama yang tertera di layar untuk memastikan siapa orang yang menelpon dirinya.
Alisnya mengernyit, Rayen.? Ada apa pria ini
menghubungi nya.?
"Ada perlu apa menghubungi ku.?"
"Kemana saja Tuan, sudah satu minggu ini aku
berusaha menghubungi mu.!"
Aaron terpaksa mengangkat tubuhnya dari
atas tubuh Raya yang terlihat menatap dirinya
dalam diam sambil membenahi pakaiannya.
"Apa yang terjadi.?"
"Ada masalah serius dengan jantung Tuan
Moolay.!"
Wajah Aaron langsung berubah aneh, dingin
dan sangat serius. Dia menatap wajah Raya
yang kini sudah kembali duduk di ujung kasur.
"Aku keluar dulu sebentar..!"
Aaron mengecup lembut bibir Raya kemudian
turun dari atas tempat tidur dan langsung keluar
dari dalam kamar super besar itu meninggalkan
Raya yang masih terdiam, sedikit merenung aneh
tentang penelpon tadi yang mampu membuat
Aaron terlihat berubah dingin.
Akhirnya Raya turun dari atas tempat tidur. Dia
benar-benar penasaran, sebenarnya dirinya ada
di mana, benarkah rumah ini tempat tinggal Aaron
selama ini.? Dia juga harus segera menjalankan
kewajiban nya. Tanpa pikir panjang Raya masuk
ke kamar mandi yang ukurannya sangatlah luas
di lengkapi berbagai fasilitas komplit dan modern.
Dia sempat tertegun ketika masuk kedalam ruang walk in closet karena di sana sudah tersedia
berbagai pakaian wanita komplit dengan segala
perlengkapannya, termasuk perlengkapan ibadah
seperti di white house. Raya segera menjalankan
segala kewajibannya dengan khusyuk.
Beberapa saat setelahnya..
Raya keluar dari dalam kamar ingin melihat
keadaan di luar sekalian mencari keberadaan
Aaron. Tiba di luar, dia tampak mengernyitkan
alisnya melihat satu pemandangan tak biasa.
Bukan karena kemegahan istana yang berdesain interior serba hijau dengan segala kemewahan
nya, namun karena di lantai bawah istana hijau
ini terlihat ada kerumunan para pelayan yang
sedang duduk bersimpuh di lantai sambil menundukkan kepala.
Tidak tahan dengan rasa penasarannya Raya
segera turun ke lantai bawah, langsung datang
menghampiri para pelayan yang tampak terkejut
saat melihat kemunculannya. Mereka semua
terlihat menatap bengong kearah Raya yang kini berdiri di depan semua pelayan itu. Dan fokus
mereka kembali buyar saat terdengar suara
pecahan barang dari dalam kamar yang kini jadi
pusat perhatian semua pelayan.
Ada seorang pelayan lagi yang keluar dari dalam kamar misterius itu dengan wajah pucat pasi dan linangan air mata. Melihat hal itu Raya semakin
di buat bingung dan penasaran.
"Maaf semuanya.. kalau boleh tahu, ada apa
ini sebenarnya.?"
Raya menatap para pelayan itu yang masih
terduduk di lantai, pasrah di tengah ketakutan.
Mereka mengangkat wajah, menatap segan
wajah Raya yang terlihat begitu cantik dan
bercahaya, sangat menyilaukan.
"Maaf Miss, anda ini siapa.?"
"Saya sekretaris pribadi Prince Marvell."
Mereka semua saling pandang terkejut, tidak
percaya pada apa yang di dengarnya. Memang
tidak akan ada yang tahu tentang keberadaan
Raya di istana ini karena Aaron membawa Raya
melewati jalur lift khusus dari basement yang
langsung masuk ke dalam kamar, jadi tidak ada
yang melihat kedatangan nya.
"Ada apa ini.? apa ada sesuatu yang bisa
saya bantu.?"
Mereka saling pandang sedikit ragu..
"Begini Miss, pelayan pribadi Yang Mulya Ibu
Suri sedang sakit, kami semua tidak ada yang
bisa membuatkan minuman kesukaan beliau,
jadi semua minuman hasil buatan kami tidak
ada satupun yang memenuhi seleranya, semua
di lempar oleh beliau, dan kami kena hukuman
di sini."
Raya tertegun mendengar penjelasan dari salah
seorang pelayan tersebut. Jadi ini adalah istana
tempat tinggal Madam Rowena.? Kalau begitu
selama ini Aaron tinggal dan dan besar bersama
dengan Sang Nenek.?
"Apa saya boleh mencoba membuatkan
minuman itu.?"
Semua pelayan tampak bengong dan ragu..
***
__ADS_1