Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
39. Pria Monster


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya berdiri, wajahnya kini berubah pucat pasi.


Matanya menatap tegang kearah Aaron yang


terlihat sudah berubah seperti monster. Sorot


matanya tampak menyala di penuhi angkara


murka dan rasa tidak terima dengan apa yang


di lihatnya barusan.


"Kakak..kau di sini.? Bukankah kau berencana


pergi ke pameran dengan Lady Catharina.?"


Ansel bertanya masih dalam posisi sama seperti


tadi, membelakangi Aaron dengan kedua tangan terangkat ke atas. Wajahnya terlihat tegang dan


sedikit memucat.


"Aku mengikuti gerak gerik kalian.!"


"Kau membatalkan rencana kepergian mu


dengannya ? bukankah kau mengatakan akan.."


"Agar kau bisa bebas menikung ku.?"


Suara Aaron semakin berat, dia menarik pelatuk


senjatanya bersiap meledakkan kepala Ansel


dalam sekali gerakan membuat Raya semakin melebarkan matanya panik. Sementara Ansel


hanya bisa memejamkan mata masih dalam


posisi seperti semula, menyerah dan pasrah.


"Kakak..aku tidak sengaja melakukan nya.!"


"Kau bisa memberinya peringatan saja !"


"Tidak sempat aku lakukan.!"


"Kau selalu menunggu kesempatan seperti


ini bukan.? Kau menyukai istriku.?"


"Aku bahkan berencana menikahi nya !"


"Kalau begitu kau layak untuk merasakan


panasnya peluruku !"


Aaron tampak bersiap melesakkan tembakan


membuat Raya kalap. Dengan gerakan cepat


tak terduga dia maju menghadang ke hadapan


Aaron dengan tatapan tajam, menghujam


wajah kelam pria itu.


"Hentikan.! Aku yang salah di sini.! Kalau kau


mau, kau bisa melenyapkan ku sekarang.!"


Seru Raya sambil merentangkan tangan dalam


upayanya melindungi Ansel yang kini membuka


mata, dia terkesiap melihat apa yang di lakukan


oleh wanita itu. Mata Aaron mengerjap hebat,


tidak menduga kalau Raya akan melakukan


tindakan nekad itu, wanita ini melindungi


Ansel.?


Wajahnya semakin terlihat kelam, tinjunya kini


terkepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya


berubah memutih. Giginya gemeletuk hebat.


"Kau membela ******** kecil ini.? "


Geram Aaron dengan tatapan membara yang


seakan melahap habis seluruh diri Raya.


"Dia tidak bersalah, kau selalu bertindak tanpa


mencari tahu dulu kebenarannya.!"


"Aku melihat sendiri semuanya.!"


"Memang nya apa yang kamu lihat hahh.? Dia


tidak melakukan apapun padaku.!"


"Kau menyukai tindakan kurang ajar si brengsek


ini padamu, apa kau juga menyukai nya.?"


"Cukup.! Tidak semua yang kau lihat adalah


apa yang terjadi sesungguhnya.!"


"Dia mencoba menyentuh dan mengambil


apa yang telah menjadi milikku.!"


"Aku bukan milikmu..!! Dari awal sudah aku


tegaskan bahwa aku bukanlah milikmu


Yang Mulya Putra Mahkota..!"


"Kau adalah istriku Maharaya..!!"


"Tapi aku tidak merasa seperti itu. Yang aku


tahu, aku hanyalah sekretaris pribadi mu


Tuan De Enzo..!"


Duaar !!!


"Aaa....!"


Raya menjerit histeris saat terdengar suara


tembakan yang di lancarkan Aaron menembus


dinding kaca yang ada di sudut ruangan. Mata


Raya membulat tidak percaya dengan apa yang


telah di lihatnya. Laki-laki ini sungguh gila.!


"Jangan main-main denganku.!"


Desis Aaron sambil mencengkeram dagu Raya


dengan kuat. Raya memberontak, dia menepis


tangan Aaron dengan kuat dan kasar.


"Kau adalah laki-laki kejam.! Biarkan aku kembali


pulang.! Aku tidak bisa berada di dekat monster


jahat menakutkan seperti mu.!"


"Hentikan kebodohan mu Nona sekretaris.!"


"Aku memang bodoh.! mau di perdaya begitu


saja oleh laki-laki jahat seperti mu. Sekarang..


biarkan aku mengurus hidupku sendiri.!"


Teriak Raya dengan derai air mata yang sudah


tidak terbendung. Ansel sendiri tampak hanya


bisa berdiri tegang dan tidak mampu berbuat


apa-apa melihat emosi Aaron yang meledak-


ledak seperti itu. Raya bergerak cepat berlari


keluar. Namun sebelum dia mencapai pintu


tubuhnya sudah lebih dulu terangkat ke dalam pangkuan Aaron yang kini melangkah cepat membawa Raya kearah kamar pribadinya


yang ada di sisi kiri ruangan tersebut.


"Lepaskan aku..! Biarkan aku pergi..!"


Raya meronta memukuli dada dan bahu Aaron.


Tapi laki-laki yang sedang terbakar emosi itu


bergeming, dia seakan tidak peduli dan tidak


merasakan apapun. Sebelum masuk ke dalam


kamar Aaron melirik kearah Ansel.


"Keluar sekarang ! Jangan biarkan siapapun


masuk ke dalam ruangan ini.!"


Aaron memberi perintah pada Ansel yang


terlihat mengetatkan rahangnya melihat Raya


meronta dan menjerit-jerit ingin melepaskan


diri dari kekuasaan Aaron.


"Lepaskan aku.! Kau benar-benar brengsek.!


Ansel.. tolong akuuu...Anseell...!!"


Raya kembali berteriak saat Aaron menutup


pintu kamar dan otomatis terkunci begitu dia


masuk ke dalam nya. Ansel mengacak kasar


rambutnya, apa yang harus di lakukan nya.?

__ADS_1


Suara jeritan Raya sangat menyayat hatinya


membuat dia frustasi dan hanya bisa memukul


serta meninju dinding ruangan berkali-kali.


Aaron adalah suami sah Raya, dia tidak punya


kuasa untuk mencampuri urusan mereka.


Tapi jeritan histeris Raya dari dalam kamar


membuat darahnya semakin mendidih.


Sementara itu, Aaron melempar kejam tubuh


Raya ke atas tempat tidur. Dengan cepat Raya


bangkit dan melompat turun dari atas ranjang,


berlari kearah pintu kemudian menggedor nya


kuat sambil berteriak minta tolong pada Ansel.


Melihat itu emosi Aaron semakin terbakar hebat.


Dengan kasar dia menyeret tubuh Raya lalu di lemparnya kembali ke atas tempat tidur. Raya


bangkit, mundur beringsut ke ujung ranjang


dengan tatapan penuh kebencian kearah Aaron


yang kini merangkak naik sambil membuka


dasi dan jas yang di kenakannya. Kemudian


dia menarik kemeja yang di pakainya dan


melemparnya asal. Raya membulatkan mata


di telan ketegangan saat melihat laki-laki itu


kini sudah bertelanjang dada. Tubuhnya


yang gagah perkasa dan terbentuk dengan


sempurna kini terpampang nyata di depan


matanya.


"Mau apa kamu..? Mundur..! jangan mendekat.


Aaron.. mundur ! apa yang kau inginkan.?"


Aaron menyeringai sadis, tatapannya kini


mengunci seluruh tubuh Raya dengan sorot


mata yang sangat dalam dan berkabut.


"Akan aku pastikan kau tidak akan bisa pergi


meninggalkan ku ! Kau terpaksa harus berada


di sisiku Maharaya..!"


Raya terkesiap, wajahnya kini sudah berubah


sepucat kapas, tubuhnya menegang hebat di


sertai getaran penuh ketakutan.


"Ti-tidak..kau tidak boleh melakukan itu.


Aku tidak rela kau memiliki tubuh ku tanpa


seizinku.!"


Raya menggeleng kuat dengan luruhan air


mata yang dari tadi sudah membanjiri wajahnya.


Aaron kini sudah mengurungnya, menatapnya


dalam penuh dengan gairah yang sudah mulai


menguasai seluruh aliran darahnya.


"Aku punya hak atas dirimu. Aku juga akan


memastikan kau memberikan keturunan


padaku.!"


"Tidak..! Kau laki-laki tidak waras..lepaskan


aku..! Aku tidak akan memberikan nya.!"


Dengan sisa kekuatannya Raya mendorong


keras tubuh Aaron kemudian bergerak ingin


menjauh. Aaron menggeram, mengetatkan


rahangnya melihat perlawanan tiada henti


yang di lakukan oleh wanita keras kepala ini.


"Kenapa kamu memaksaku melakukan ini


Raya ! Aku menginginkan mu sekarang..!"


dengan enteng lalu menjatuhkan nya kembali


di atas tempat tidur dan menindihnya.


"Lepaskan aku.. biarkan aku pergi.. eemhh..!"


Tidak menunggu waktu lagi Aaron langsung


membungkam bibir Raya, ******* nya kuat


dan rakus tidak memberi kesempatan pada


Raya untuk melawan. Namun sekuat tenaga


Raya mencoba melepaskan ciuman ganas


Aaron yang sangat memaksa itu walaupun


semua sia-sia saja karena pria itu malah


semakin memperdalam ciumannya.


Tidak sampai di situ tangan Aaron kini mulai


bergerak liar melucuti pakaian bagian atasnya


dengan menariknya paksa hingga kini tubuh


bagian atasnya sudah terbuka. Raya berontak


sekuat tenaga saat menyadari kini dirinya sudah dalam keadaan setengah polos. Namun pria itu


tidak jua melepaskan ciumannya hingga Raya


akhirnya kehabisan tenaga.


"Kakak.. hentikan perbuatan mu ! Di bawah


ada Lady Catharina ! Dia menunggu mu.!"


Ansel menggedor pintu kamar dengan keras


membuat Aaron terpaksa menghentikan semua perbuatannya. Dia melepaskan ciuman panas


nya, kemudian menatap lekat wajah Raya yang memucat di penuhi lelehan air mata kepedihan.


Perlahan Aaron kembali memagut bibir merah


alami Raya yang kali ini membiarkannya. Saat


ini dia sudah dalam mode tidak sinkron. Dia


benar-benar syok melihat semua tindakan


kasar Aaron barusan.


Aaron melepas ciumannya, kembali menatap


wajah Raya yang memalingkan mukanya


seolah tidak rela untuk bertemu pandang


dengan pria kejam ini, pria monster.!


"Kali ini kau lolos. Tapi aku tidak akan pernah melepaskan mu lain kali.! "


Geram Aaron sambil mengangkat tubuhnya


dari atas tubuh Raya yang langsung bangkit


lalu mundur dan terduduk lemas memeluk


lutut sambil menangis tersedu. Aaron hanya


bisa mendengus melihat Raya menangis tiada


henti. Ada perasaan tidak nyaman yang kini


di rasakannya, dia benar-benar merasa sangat


tersiksa saat melihat nya.


"Ingat ! jangan pernah berani bermain-main


di belakang ku.! Atau kau akan menyesal.!"


Desis Aaron sambil kemudian turun dari atas


tempat tidur. Meraih pakaiannya setelah itu


dia keluar dari dalam kamar. Tangis Raya kini


semakin pecah, sakit, perih dan pilu rasanya..


semua bercampur dalam hatinya membuat


dirinya serasa ingin lenyap saja dari dunia ini.


Tuhan.. sekejam inikah laki-laki yang sudah


menikahiku.? Apakah aku sanggup bertahan..


***


Agenda hari ini benar-benar kacau. Semua tidak


berjalan sesuai dengan rencana. Sampai hari


menjelang malam, Aaron tidak kembali lagi ke

__ADS_1


kantor. Schedule nya di isi dengan kegiatan


bersama Catharina menyangkut urusan istana.


Sebenarnya itu lebih baik bagi Raya, setidaknya


dia bisa bernapas sedikit lega tanpa kehadiran


laki-laki jahat itu di dekatnya.


Namun malam ini ada agenda Putra Mahkota


yang harus di hadirinya. Yakni acara Award


khusus bagi para pengusaha dan pebisnis


berbakat yang di berikan khusus dari pihak


kerajaan. Dan Putra Mahkota hadir di acara


ini mewakili istana dan negara. Selain itu akan


ada peragaan fashion show terlebih dahulu


dari para model internasional membawakan


beberapa rancangan desainer dunia yang


sudah biasa di selenggarakan tiap tahunnya.


Selama ini Raja Williams lah yang selalu hadir


dalam acara besar ini, tapi karena sekarang ini


Putra Mahkota sudah siap menjalankan semua


perannya, maka semua urusan seperti ini sudah menjadi tanggungjawab nya.


Raya tidak sempat pulang ke rumah karena


kesibukkan nya merevisi ulang agenda Aaron


untuk hari esok. Jadinya dia melakukan semua


persiapan di kantor. Ansel membawakan gaun


yang harus di kenakkan oleh Raya.


"Kakak akan menjemputmu nanti..!"


Ansel menatap Raya yang terlihat berubah


tegang begitu mendengar nama pria itu di


sebut. Dia menatap Ansel penuh keraguan.


"Kenapa tidak pergi dengan mu saja ?"


Ansel tampak mengerjap, kemudian tersenyum


tipis penuh rasa bimbang. Dia juga maunya sih


begitu, tapi untuk saat ini dia harus menjaga


jarak dulu dengan wanita ini kalau tidak ingin


kejadian seperti tadi terulang lagi.


"Aku akan duluan datang ke sana. Banyak hal


yang harus aku pastikan."


Ansel kembali menatap tenang wajah Raya


setelah itu dia keluar dari ruangan.


Sekitar pukul setengah 8 Raya selesai bersiap.


Griz setia menemani nya dari siang sesuai


dengan perintah Aaron. Raya mematut dirinya


di depan cermin besar yang ada di kamar pribadi,


memastikan kembali tampilan nya tidak ada


yang kurang. Kenapa dia harus berpenampilan


seperti ini ? Akan lebih baik baginya memakai


pakaian dinas saja daripada gaun malam


seperti ini. Dia hanyalah seorang sekretaris


pribadi, bukan seorang selebritis yang pantas


mengenakkan gaun semewah ini.


"Yang Mulya sudah menunggu anda di ruang


lobby utama Miss."


Griz mengingatkan membuat Raya kembali


tegang. Ketakutan pada sosok pria jahat itu


kini kembali lagi setelah kejadian tadi siang,


padahal sebelumnya sudah mulai berkurang.


"Baiklah Griz.. ayo kita turun.."


Raya keluar dari dalam kamar, dia menatap


Griz yang tampak berdiri mematung melihat


tampilan Raya malam ini yang terlihat begitu


mempesona, simpel namun sangat elegan dan


tidak berlebihan dengan make-up flawless


yang sangat memukau dan sempurna.


"Adakah sesuatu yang kurang pas Griz ?"


Raya menatap dirinya. Griz tampak tersipu.


Dia mengutuk dirinya karena tidak pernah bisa


menyembunyikan rasa kagumnya tiap kali Nona


nya ini tampil dalam nuansa berbeda.


"Tidak ada Miss.. anda sempurna malam ini."


Sahut Griz sambil menundukkan kepala. Raya


tersenyum tipis sambil kemudian melangkah


keluar dari ruang kerja yang baru hari ini dia


singgahi tapi sudah meninggalkan jejak yang


tidak mengenakkan.


Tiba di lobby utama saat ini masih banyak


karyawan lain yang baru saja menyelesaikan


pekerjaan nya. Padahal jam kerja berakhir di


sore hari. Begitu Raya keluar dari lift, sosoknya


sudah mencuri perhatian semua orang yang


kebetulan berpapasan dan bertemu dengannya


hingga banyak di antaranya yang melakukan


tindakan konyol seperti terjatuh, membentur


dinding atau bertabrakan dengan sesama teman.


Griz hanya bisa menggeleng geram melihat


tingkah absurb orang-orang itu. Mereka


memang tidak tahu siapa itu Raya.


Semua kejadian itu tidak luput dari pengamatan


sepasang mata panas yang dari tadi sudah


menunggu di dalam Limosin super mewahnya. Matanya kini menatap tajam sosok cantik jelita dengan tubuh tinggi ramping berbalut gaun


malam indah yang sedang berjalan anggun ke


arah mobilnya yang sudah terparkir di depan


pintu utama lobby megah Marvello's Corporation.


Raya tiba di depan mobil mewah yang baru


pertama kalinya dia lihat itu. Dua orang penjaga


langsung membukakan pintu utama. Untuk


sesaat Raya tampak ragu untuk masuk.


"Sampai kapan kamu akan berdiri di situ.?


Buang wajah bodohmu itu.! Cepat naik..!!"


Ada suara berat mengandung cemoohan yang membuat wajah Raya langsung saja memerah


campur emosi. Ya.. dirinya memang bodoh dan


kampungan ! Dengan gerakan sedikit kasar dan


kesal Raya masuk ke dalam mobil super duper


mewah itu.


Namun sesaat kemudian dia memekik saat


tubuh nya di tarik paksa dan kini terduduk di


atas pangkuan si pria monster itu. Masih dalam


mode terkejut mata mereka bertemu, saling


menatap kuat. Dan detik berikutnya bibir si


pria jahat sudah menyambar bibir ranum Raya


yang langsung membelalakkan matanya tidak menduga akan di serang secara brutal seperti ini..


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2