
❤️❤️❤️
Raya berdiri, wajahnya kini berubah pucat pasi.
Matanya menatap tegang kearah Aaron yang
terlihat sudah berubah seperti monster. Sorot
matanya tampak menyala di penuhi angkara
murka dan rasa tidak terima dengan apa yang
di lihatnya barusan.
"Kakak..kau di sini.? Bukankah kau berencana
pergi ke pameran dengan Lady Catharina.?"
Ansel bertanya masih dalam posisi sama seperti
tadi, membelakangi Aaron dengan kedua tangan terangkat ke atas. Wajahnya terlihat tegang dan
sedikit memucat.
"Aku mengikuti gerak gerik kalian.!"
"Kau membatalkan rencana kepergian mu
dengannya ? bukankah kau mengatakan akan.."
"Agar kau bisa bebas menikung ku.?"
Suara Aaron semakin berat, dia menarik pelatuk
senjatanya bersiap meledakkan kepala Ansel
dalam sekali gerakan membuat Raya semakin melebarkan matanya panik. Sementara Ansel
hanya bisa memejamkan mata masih dalam
posisi seperti semula, menyerah dan pasrah.
"Kakak..aku tidak sengaja melakukan nya.!"
"Kau bisa memberinya peringatan saja !"
"Tidak sempat aku lakukan.!"
"Kau selalu menunggu kesempatan seperti
ini bukan.? Kau menyukai istriku.?"
"Aku bahkan berencana menikahi nya !"
"Kalau begitu kau layak untuk merasakan
panasnya peluruku !"
Aaron tampak bersiap melesakkan tembakan
membuat Raya kalap. Dengan gerakan cepat
tak terduga dia maju menghadang ke hadapan
Aaron dengan tatapan tajam, menghujam
wajah kelam pria itu.
"Hentikan.! Aku yang salah di sini.! Kalau kau
mau, kau bisa melenyapkan ku sekarang.!"
Seru Raya sambil merentangkan tangan dalam
upayanya melindungi Ansel yang kini membuka
mata, dia terkesiap melihat apa yang di lakukan
oleh wanita itu. Mata Aaron mengerjap hebat,
tidak menduga kalau Raya akan melakukan
tindakan nekad itu, wanita ini melindungi
Ansel.?
Wajahnya semakin terlihat kelam, tinjunya kini
terkepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya
berubah memutih. Giginya gemeletuk hebat.
"Kau membela ******** kecil ini.? "
Geram Aaron dengan tatapan membara yang
seakan melahap habis seluruh diri Raya.
"Dia tidak bersalah, kau selalu bertindak tanpa
mencari tahu dulu kebenarannya.!"
"Aku melihat sendiri semuanya.!"
"Memang nya apa yang kamu lihat hahh.? Dia
tidak melakukan apapun padaku.!"
"Kau menyukai tindakan kurang ajar si brengsek
ini padamu, apa kau juga menyukai nya.?"
"Cukup.! Tidak semua yang kau lihat adalah
apa yang terjadi sesungguhnya.!"
"Dia mencoba menyentuh dan mengambil
apa yang telah menjadi milikku.!"
"Aku bukan milikmu..!! Dari awal sudah aku
tegaskan bahwa aku bukanlah milikmu
Yang Mulya Putra Mahkota..!"
"Kau adalah istriku Maharaya..!!"
"Tapi aku tidak merasa seperti itu. Yang aku
tahu, aku hanyalah sekretaris pribadi mu
Tuan De Enzo..!"
Duaar !!!
"Aaa....!"
Raya menjerit histeris saat terdengar suara
tembakan yang di lancarkan Aaron menembus
dinding kaca yang ada di sudut ruangan. Mata
Raya membulat tidak percaya dengan apa yang
telah di lihatnya. Laki-laki ini sungguh gila.!
"Jangan main-main denganku.!"
Desis Aaron sambil mencengkeram dagu Raya
dengan kuat. Raya memberontak, dia menepis
tangan Aaron dengan kuat dan kasar.
"Kau adalah laki-laki kejam.! Biarkan aku kembali
pulang.! Aku tidak bisa berada di dekat monster
jahat menakutkan seperti mu.!"
"Hentikan kebodohan mu Nona sekretaris.!"
"Aku memang bodoh.! mau di perdaya begitu
saja oleh laki-laki jahat seperti mu. Sekarang..
biarkan aku mengurus hidupku sendiri.!"
Teriak Raya dengan derai air mata yang sudah
tidak terbendung. Ansel sendiri tampak hanya
bisa berdiri tegang dan tidak mampu berbuat
apa-apa melihat emosi Aaron yang meledak-
ledak seperti itu. Raya bergerak cepat berlari
keluar. Namun sebelum dia mencapai pintu
tubuhnya sudah lebih dulu terangkat ke dalam pangkuan Aaron yang kini melangkah cepat membawa Raya kearah kamar pribadinya
yang ada di sisi kiri ruangan tersebut.
"Lepaskan aku..! Biarkan aku pergi..!"
Raya meronta memukuli dada dan bahu Aaron.
Tapi laki-laki yang sedang terbakar emosi itu
bergeming, dia seakan tidak peduli dan tidak
merasakan apapun. Sebelum masuk ke dalam
kamar Aaron melirik kearah Ansel.
"Keluar sekarang ! Jangan biarkan siapapun
masuk ke dalam ruangan ini.!"
Aaron memberi perintah pada Ansel yang
terlihat mengetatkan rahangnya melihat Raya
meronta dan menjerit-jerit ingin melepaskan
diri dari kekuasaan Aaron.
"Lepaskan aku.! Kau benar-benar brengsek.!
Ansel.. tolong akuuu...Anseell...!!"
Raya kembali berteriak saat Aaron menutup
pintu kamar dan otomatis terkunci begitu dia
masuk ke dalam nya. Ansel mengacak kasar
rambutnya, apa yang harus di lakukan nya.?
__ADS_1
Suara jeritan Raya sangat menyayat hatinya
membuat dia frustasi dan hanya bisa memukul
serta meninju dinding ruangan berkali-kali.
Aaron adalah suami sah Raya, dia tidak punya
kuasa untuk mencampuri urusan mereka.
Tapi jeritan histeris Raya dari dalam kamar
membuat darahnya semakin mendidih.
Sementara itu, Aaron melempar kejam tubuh
Raya ke atas tempat tidur. Dengan cepat Raya
bangkit dan melompat turun dari atas ranjang,
berlari kearah pintu kemudian menggedor nya
kuat sambil berteriak minta tolong pada Ansel.
Melihat itu emosi Aaron semakin terbakar hebat.
Dengan kasar dia menyeret tubuh Raya lalu di lemparnya kembali ke atas tempat tidur. Raya
bangkit, mundur beringsut ke ujung ranjang
dengan tatapan penuh kebencian kearah Aaron
yang kini merangkak naik sambil membuka
dasi dan jas yang di kenakannya. Kemudian
dia menarik kemeja yang di pakainya dan
melemparnya asal. Raya membulatkan mata
di telan ketegangan saat melihat laki-laki itu
kini sudah bertelanjang dada. Tubuhnya
yang gagah perkasa dan terbentuk dengan
sempurna kini terpampang nyata di depan
matanya.
"Mau apa kamu..? Mundur..! jangan mendekat.
Aaron.. mundur ! apa yang kau inginkan.?"
Aaron menyeringai sadis, tatapannya kini
mengunci seluruh tubuh Raya dengan sorot
mata yang sangat dalam dan berkabut.
"Akan aku pastikan kau tidak akan bisa pergi
meninggalkan ku ! Kau terpaksa harus berada
di sisiku Maharaya..!"
Raya terkesiap, wajahnya kini sudah berubah
sepucat kapas, tubuhnya menegang hebat di
sertai getaran penuh ketakutan.
"Ti-tidak..kau tidak boleh melakukan itu.
Aku tidak rela kau memiliki tubuh ku tanpa
seizinku.!"
Raya menggeleng kuat dengan luruhan air
mata yang dari tadi sudah membanjiri wajahnya.
Aaron kini sudah mengurungnya, menatapnya
dalam penuh dengan gairah yang sudah mulai
menguasai seluruh aliran darahnya.
"Aku punya hak atas dirimu. Aku juga akan
memastikan kau memberikan keturunan
padaku.!"
"Tidak..! Kau laki-laki tidak waras..lepaskan
aku..! Aku tidak akan memberikan nya.!"
Dengan sisa kekuatannya Raya mendorong
keras tubuh Aaron kemudian bergerak ingin
menjauh. Aaron menggeram, mengetatkan
rahangnya melihat perlawanan tiada henti
yang di lakukan oleh wanita keras kepala ini.
"Kenapa kamu memaksaku melakukan ini
Raya ! Aku menginginkan mu sekarang..!"
dengan enteng lalu menjatuhkan nya kembali
di atas tempat tidur dan menindihnya.
"Lepaskan aku.. biarkan aku pergi.. eemhh..!"
Tidak menunggu waktu lagi Aaron langsung
membungkam bibir Raya, ******* nya kuat
dan rakus tidak memberi kesempatan pada
Raya untuk melawan. Namun sekuat tenaga
Raya mencoba melepaskan ciuman ganas
Aaron yang sangat memaksa itu walaupun
semua sia-sia saja karena pria itu malah
semakin memperdalam ciumannya.
Tidak sampai di situ tangan Aaron kini mulai
bergerak liar melucuti pakaian bagian atasnya
dengan menariknya paksa hingga kini tubuh
bagian atasnya sudah terbuka. Raya berontak
sekuat tenaga saat menyadari kini dirinya sudah dalam keadaan setengah polos. Namun pria itu
tidak jua melepaskan ciumannya hingga Raya
akhirnya kehabisan tenaga.
"Kakak.. hentikan perbuatan mu ! Di bawah
ada Lady Catharina ! Dia menunggu mu.!"
Ansel menggedor pintu kamar dengan keras
membuat Aaron terpaksa menghentikan semua perbuatannya. Dia melepaskan ciuman panas
nya, kemudian menatap lekat wajah Raya yang memucat di penuhi lelehan air mata kepedihan.
Perlahan Aaron kembali memagut bibir merah
alami Raya yang kali ini membiarkannya. Saat
ini dia sudah dalam mode tidak sinkron. Dia
benar-benar syok melihat semua tindakan
kasar Aaron barusan.
Aaron melepas ciumannya, kembali menatap
wajah Raya yang memalingkan mukanya
seolah tidak rela untuk bertemu pandang
dengan pria kejam ini, pria monster.!
"Kali ini kau lolos. Tapi aku tidak akan pernah melepaskan mu lain kali.! "
Geram Aaron sambil mengangkat tubuhnya
dari atas tubuh Raya yang langsung bangkit
lalu mundur dan terduduk lemas memeluk
lutut sambil menangis tersedu. Aaron hanya
bisa mendengus melihat Raya menangis tiada
henti. Ada perasaan tidak nyaman yang kini
di rasakannya, dia benar-benar merasa sangat
tersiksa saat melihat nya.
"Ingat ! jangan pernah berani bermain-main
di belakang ku.! Atau kau akan menyesal.!"
Desis Aaron sambil kemudian turun dari atas
tempat tidur. Meraih pakaiannya setelah itu
dia keluar dari dalam kamar. Tangis Raya kini
semakin pecah, sakit, perih dan pilu rasanya..
semua bercampur dalam hatinya membuat
dirinya serasa ingin lenyap saja dari dunia ini.
Tuhan.. sekejam inikah laki-laki yang sudah
menikahiku.? Apakah aku sanggup bertahan..
***
Agenda hari ini benar-benar kacau. Semua tidak
berjalan sesuai dengan rencana. Sampai hari
menjelang malam, Aaron tidak kembali lagi ke
__ADS_1
kantor. Schedule nya di isi dengan kegiatan
bersama Catharina menyangkut urusan istana.
Sebenarnya itu lebih baik bagi Raya, setidaknya
dia bisa bernapas sedikit lega tanpa kehadiran
laki-laki jahat itu di dekatnya.
Namun malam ini ada agenda Putra Mahkota
yang harus di hadirinya. Yakni acara Award
khusus bagi para pengusaha dan pebisnis
berbakat yang di berikan khusus dari pihak
kerajaan. Dan Putra Mahkota hadir di acara
ini mewakili istana dan negara. Selain itu akan
ada peragaan fashion show terlebih dahulu
dari para model internasional membawakan
beberapa rancangan desainer dunia yang
sudah biasa di selenggarakan tiap tahunnya.
Selama ini Raja Williams lah yang selalu hadir
dalam acara besar ini, tapi karena sekarang ini
Putra Mahkota sudah siap menjalankan semua
perannya, maka semua urusan seperti ini sudah menjadi tanggungjawab nya.
Raya tidak sempat pulang ke rumah karena
kesibukkan nya merevisi ulang agenda Aaron
untuk hari esok. Jadinya dia melakukan semua
persiapan di kantor. Ansel membawakan gaun
yang harus di kenakkan oleh Raya.
"Kakak akan menjemputmu nanti..!"
Ansel menatap Raya yang terlihat berubah
tegang begitu mendengar nama pria itu di
sebut. Dia menatap Ansel penuh keraguan.
"Kenapa tidak pergi dengan mu saja ?"
Ansel tampak mengerjap, kemudian tersenyum
tipis penuh rasa bimbang. Dia juga maunya sih
begitu, tapi untuk saat ini dia harus menjaga
jarak dulu dengan wanita ini kalau tidak ingin
kejadian seperti tadi terulang lagi.
"Aku akan duluan datang ke sana. Banyak hal
yang harus aku pastikan."
Ansel kembali menatap tenang wajah Raya
setelah itu dia keluar dari ruangan.
Sekitar pukul setengah 8 Raya selesai bersiap.
Griz setia menemani nya dari siang sesuai
dengan perintah Aaron. Raya mematut dirinya
di depan cermin besar yang ada di kamar pribadi,
memastikan kembali tampilan nya tidak ada
yang kurang. Kenapa dia harus berpenampilan
seperti ini ? Akan lebih baik baginya memakai
pakaian dinas saja daripada gaun malam
seperti ini. Dia hanyalah seorang sekretaris
pribadi, bukan seorang selebritis yang pantas
mengenakkan gaun semewah ini.
"Yang Mulya sudah menunggu anda di ruang
lobby utama Miss."
Griz mengingatkan membuat Raya kembali
tegang. Ketakutan pada sosok pria jahat itu
kini kembali lagi setelah kejadian tadi siang,
padahal sebelumnya sudah mulai berkurang.
"Baiklah Griz.. ayo kita turun.."
Raya keluar dari dalam kamar, dia menatap
Griz yang tampak berdiri mematung melihat
tampilan Raya malam ini yang terlihat begitu
mempesona, simpel namun sangat elegan dan
tidak berlebihan dengan make-up flawless
yang sangat memukau dan sempurna.
"Adakah sesuatu yang kurang pas Griz ?"
Raya menatap dirinya. Griz tampak tersipu.
Dia mengutuk dirinya karena tidak pernah bisa
menyembunyikan rasa kagumnya tiap kali Nona
nya ini tampil dalam nuansa berbeda.
"Tidak ada Miss.. anda sempurna malam ini."
Sahut Griz sambil menundukkan kepala. Raya
tersenyum tipis sambil kemudian melangkah
keluar dari ruang kerja yang baru hari ini dia
singgahi tapi sudah meninggalkan jejak yang
tidak mengenakkan.
Tiba di lobby utama saat ini masih banyak
karyawan lain yang baru saja menyelesaikan
pekerjaan nya. Padahal jam kerja berakhir di
sore hari. Begitu Raya keluar dari lift, sosoknya
sudah mencuri perhatian semua orang yang
kebetulan berpapasan dan bertemu dengannya
hingga banyak di antaranya yang melakukan
tindakan konyol seperti terjatuh, membentur
dinding atau bertabrakan dengan sesama teman.
Griz hanya bisa menggeleng geram melihat
tingkah absurb orang-orang itu. Mereka
memang tidak tahu siapa itu Raya.
Semua kejadian itu tidak luput dari pengamatan
sepasang mata panas yang dari tadi sudah
menunggu di dalam Limosin super mewahnya. Matanya kini menatap tajam sosok cantik jelita dengan tubuh tinggi ramping berbalut gaun
malam indah yang sedang berjalan anggun ke
arah mobilnya yang sudah terparkir di depan
pintu utama lobby megah Marvello's Corporation.
Raya tiba di depan mobil mewah yang baru
pertama kalinya dia lihat itu. Dua orang penjaga
langsung membukakan pintu utama. Untuk
sesaat Raya tampak ragu untuk masuk.
"Sampai kapan kamu akan berdiri di situ.?
Buang wajah bodohmu itu.! Cepat naik..!!"
Ada suara berat mengandung cemoohan yang membuat wajah Raya langsung saja memerah
campur emosi. Ya.. dirinya memang bodoh dan
kampungan ! Dengan gerakan sedikit kasar dan
kesal Raya masuk ke dalam mobil super duper
mewah itu.
Namun sesaat kemudian dia memekik saat
tubuh nya di tarik paksa dan kini terduduk di
atas pangkuan si pria monster itu. Masih dalam
mode terkejut mata mereka bertemu, saling
menatap kuat. Dan detik berikutnya bibir si
pria jahat sudah menyambar bibir ranum Raya
yang langsung membelalakkan matanya tidak menduga akan di serang secara brutal seperti ini..
***
Happy Reading...
__ADS_1