Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
2. Pertemuan


__ADS_3

❤️❤️❤️


Raya mencoba untuk menggedor pintu kamar


dan berteriak minta tolong. Dia harus keluar


dari tempat ini. Dia yakin ada pasukan yang


datang untuk menyelamatkan istri raja bisnis


itu. Raya kembali berteriak minta tolong dan


tiada henti menggedor pintu.


Setelah cukup lama daun pintu bergetar hebat,


ada suara tendangan dari luar, dengan tubuh


gemetar Raya segera menepi ke sisi pintu, dan


tidak lama pintu terbuka, hancur berantakan.


Raya tampak waspada, matanya langsung


bersirobos tatap dengan sepasang mata elang seorang pria tinggi tegap yang memegang


senjata besar di tangannya. Bahunya tampak memerah mengeluarkan rembesan darah.


Untuk beberapa saat mereka malah terdiam,


saling menatap kuat, seolah terkesima satu


sama lain. Pria itu tiada lain dan tiada bukan


adalah Aaron. Raya mundur menjauh dengan


tatapan penuh kecurigaan.


Namun tiba-tiba saja tubuh Aaron terhuyung


ke depan saat satu tendangan kuat menerjang punggungnya. Dengan cepat dia membalikan badannya dan melihat Jayden sudah berdiri


di depan pintu dengan seringai iblis nya.


"Akhirnya kamu datang juga..! Aku cukup


lama menunggu saat ini..!!"


Jayden berkata, tanpa basa-basi langsung


menyerang Aaron. Dan terjadilah perkelahian


sengit di dalam ruangan itu membuat Raya


semakin gemetar ketakutan, tubuhnya kini


merapat ke dinding ruangan. Kedua tangan


menyilang di dada berusaha untuk menutupi


tubuh bagian atasnya yang terbuka.


Kedua pimpinan mafia itu bertarung seru dan


sengit dengan kekuatan yang cukup seimbang. Walaupun Aaron dalam keadaan terluka, tapi


itu tidak membuat keberingasannya berkurang,


dia bertarung dengan amarah yang sudah sangat memuncak. Dia harus mengakhiri sepak terjang


ketua Black Hunter ini agar kehidupan sahabat


dan wanita yang di cintainya bisa tenang.


Mereka mundur saat pukulan dan tendangan


masuk ke tubuh masing-masing. Rembesan


darah di bahu Aaron semakin terlihat memerah.


Seringai puas tercipta di bibir Jayden melihat


Aaron memegang bahunya. Pria sangar itu


menepis darah yang keluar di sudut bibirnya.


Keduanya kembali saling menerjang mencoba


untuk melumpuhkan lawan secepatnya.


Sementara Raya semakin ketakutan, dia terdiam


dengan tubuh gemetar, menyembunyikan wajah


dengan berpaling dan memejamkan mata, tidak


sanggup kalau harus melihat pertarungan itu.


Setelah cukup lama bertarung, akhirnya Jayden


mulai terdesak. Aaron berhasil memasukan


tendangan dengan kekuatan penuh ke bagian


dada Jayden membuat pria itu menyemburkan


darah segar, tubuhnya ambruk di hadapan Raya


yang sontak menjerit ketakutan, wajahnya kini


sudah seputih kapas. Matanya menatap lebar


kearah Jayden yang tergeletak dengan semburan darah tiada henti keluar dari mulutnya. Dia


tidak bisa bergerak, tubuh nya seakan terpaku


di tempat.


Dengan sisa kekuatannya Jayden mencoba


berdiri, lalu tanpa di duga dia meraih tubuh


Raya, membelit lehernya menggunakan tangan


kirinya kemudian menodongkan pistol di pelipis bagian kanannya membuat Raya terkesiap.


Wajahnya kini tampak semakin memucat.


Dia mencoba untuk berontak, membuka


belitan tangan Jayden di lehernya.


"Kau bergerak, nyawa gadis tak berdosa ini


akan berakhir di tanganku..!"


Ancam Jayden saat melihat Aaron bergerak


maju, dia memperkuat pitingannya di leher


Raya membuat Aaron berhenti seketika. Mata


gadis itu tampak membeliak kuat karena


napasnya kian tersengal. Aaron berdiri kaku


di tempat dengan ekspresi yang sudah tak


terbaca. Tangannya terkepal kuat, tubuhnya


bergetar hebat, tatapannya lurus kearah Raya


yang menatap nya redup, semakin melemah.


Aaron mengalihkan pandangan kearah Jayden


mencoba untuk membaca gerakan pria itu.


"Jangan bergerak Tuan Marvell.! Atau aku


akan segera meledakkan kepalanya.!"


Perlahan Jayden mundur masih menyandera


Raya sebagai tameng, dia berniat membawa


Raya keluar dari ruangan itu, namun dalam


satu gerakan kilat Aaron meraih senjata dari


balik punggungnya dan melepaskan tembakan,


tepat mengenai jantung Jayden yang langsung


mengejang, tangannya terlepas dari leher Raya


kemudian tubuhnya ambruk ke lantai.

__ADS_1


Raya memekik kuat, matanya membulat melihat


Jayden yang sudah tak bergerak. Dia menutup


wajahnya, syock melihat kejadian mengerikan


di depan matanya itu, tubuhnya lemas seketika.


Dia mencoba mengatur napasnya yang masih


tersengal, kepalanya kini terasa pening. Namun


belum sempat dia menguasai dirinya Aaron


sudah menyambar tangannya di bawa berlari


keluar dari ruangan itu.


Mereka berlari menyusuri lorong panjang lalu


turun ke lantai kedua. Sayup-sayup terdengar


tembakan dari arah lantai dasar dan area luar


villa. Tubuh Raya semakin lemah, tenaganya


kini terkuras habis. Rasanya dia tidak kuat lagi,


sementara tangannya masih di genggam kuat


oleh pria asing itu.


Raya menghentikan langkahnya karena kini


tubuh nya semakin lemas. Aaron ikut berhenti,


menoleh kearah Raya yang sedang berjongkok


mencoba mengatur napas. Aaron mencoba


menghubungi anak buahnya. Wajah gadis itu


tampak pucat pasi . Dia menarik tangan Raya


di bawa ke salah satu lorong.


"Tuan..aku lelah, aku sudah tidak kuat lagi."


Raya mengeluarkan suara untuk pertama


kalinya. Dia menyandarkan tubuhnya ke


dinding ruangan sambil memejamkan mata.


Aaron menatap sekilas wajah Raya, keadaan


gadis itu sangat lah kacau, pakaiannya sudah


tidak karu-karuan. Tanpa kata Aaron membuka


mantel yang di pakainya, lalu menutupkannya


ke tubuh Raya yang dari tadi memang sudah


terbuka di beberapa bagian. Mata keduanya


kembali bertemu, saling menatap kuat dalam


diam. Namun tidak lama Raya tampak terkejut


saat melihat rembesan darah yang keluar dari


bahu Aaron semakin banyak.


"Tu-Tuan..luka anda mengeluarkan banyak


darah.. Anda harus segera mendapatkan


pertolongan."


Raya bergerak maju ingin meraih luka Aaron.


Tapi pria itu reflek mundur dengan tatapan


tajam yang langsung menciutkan nyali Raya.


Dia hanya bisa menatap dalam diam saat


melihat Aaron menyobek lengan kemeja yang


di bahunya itu agar tidak terus mengeluarkan


darah. Raya menghembuskan nafas berat.


"Terimakasih.."


Ucapnya sambil merapatkan mantel tadi agar


lebih melindungi tubuh nya. Aaron berpaling


pada kedatangan 4 orang anak buahnya ke


tempat itu.


"Amankan dia..!"


Titah nya sambil kemudian melempar senjata


besar di tangannya pada anak buahnya, lalu


mengambil senjata kecil dari balik pinggangnya bersiap untuk melangkah.


"Tuan.. anda mau kemana.?"


Raya menatap Aaron, kemudian melirik pada


anak buahnya yang terdiam tanpa kata dengan


sorot mata penuh ketakutan.


"Bawa dia keluar dari tempat ini.!"


"Baik Tuan."


Aaron mengokang senjata di tangannya


kemudian melangkah pergi tanpa menoleh


lagi kearah Raya yang hanya bisa terdiam


menatap punggung pria itu.


"Nona.. mari ikut kami.!"


Raya menatap ragu, namun dia mencoba


memberanikan diri mengikuti langkah anak


buah Aaron keluar dari dalam Villa lewat jalan belakang. Dia membulatkan matanya melihat


pemandangan mengerikan di depan matanya


dimana banyak sosok yang tergeletak dalam


keadaan yang sangat mengerikan. Anak buah


Aaron membawa Raya menaiki helikopter


yang sudah terparkir di dekat pantai.


Tidak lama kemudian keadaan bertambah


genting. Walaupun dari jarak yang cukup jauh


Raya masih bisa melihat bagaimana reaksi


panik dari pria yang tadi menolongnya dimana


saat ini laki-laki itu sedang membopong tubuh


Mayra dalam pangkuannya. Raya hanya bisa


menatap takut dan cemas menyaksikan dua


tubuh suami istri yang terlihat dalam keadaaan


sangat kritis itu. 4 helikopter kini mulai terbang meninggalkan area pulau tersembunyi yang


sudah menjadi saksi bisu pembantaian yang dilakukan oleh Aaron dan para anggota


' Underground Devil' nya.


Raya terbang dalam helikopter yang berbeda,


terpisah dengan Aaron.


Turun dari pesawat gadis itu langsung di bawa

__ADS_1


masuk ke dalam sebuah mobil hitam dengan


penjagaan yang sangat ketat dari beberapa


orang anak buah Aaron. Mobil mereka kini


meluncur menyusuri jalanan kota yang sudah


mulai lengang. Raya tidak tahu akan di bawa


kemana dirinya oleh orang-orang itu. Entah


dimana pria penolong nya itu berada.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit


akhirnya mobil yang membawa Raya tiba di


parkiran basement sebuah rumah sakit yang


di ketahui Raya sebagai rumah sakit keluarga


Moolay. Mereka menunggu di tempat itu.


Raya tidak mengerti siapa orang-orang ini


dan kenapa dirinya tidak di biarkan pergi saja.


Bahkan bergerak sedikit saja orang-orang itu


tampak langsung bereaksi waspada.


"Tuan-Tuan.. saya mohon, biarkan saya pergi


dari tempat ini."


Raya mencoba untuk memohon pada mereka.


Namun mereka bergeming, terdiam membisu


bagai sebuah patung. Dia mencoba membuka


handel pintu mobil, tapi tetap terkunci. Huuh..


ini benar-benar melelahkan.! Sebenarnya apa


yang mereka inginkan darinya.?


Entah sudah berapa lama mereka menunggu


membuat tubuh Raya yang sudah sangat


kelelahan akhirnya di dera rasa kantuk. Dan


akhirnya dia jatuh tertidur tidak peduli lagi


dengan kondisinya saat ini yang di kelilingi


oleh orang-orang menyeramkan.


Menjelang tengah malam akhirnya Aaron


muncul di basement. Anak buahnya tampak


membungkuk hormat menyambutnya.


"Kita ke hotel sekarang.!"


Titahnya sambil kemudian masuk ke dalam


mobil. Matanya langsung menyapu sosok


wanita yang ada di sampingnya yang kini


sedang tertidur lelap. Aaron merebahkan


tubuhnya ke sandaran jok saat mobil mulai


melaju keluar dari parkiran khusus itu. Dia


meraba bahu kiri nya yang masih menyisakan


rembesan darah. Dahinya sedikit berkerut


saat rasa sakit kini mulai di rasakannya.


Aaron tersentak saat tiba-tiba kepala Raya


jatuh di bahu kanannya.Tubuh nya sedikit


tegang, dia melirik, menatap dan mengamati


wajah lelah gadis yang sudah di bawanya itu.


Siapa sebenarnya gadis ini.? Kenapa dia bisa


berada di sarang nya Black Hunter ? Aaron


membiarkan saja kepala gadis itu bersandar


di bahunya tanpa berniat untuk menyingkirkan


ataupun membenarkan posisinya.


Pria itu membawa Raya ke sebuah hotel yang


sudah biasa di tempati nya. Dia menghuni


Penthouse dari hotel ini yang terletak di lantai


paling atas. Untuk sesaat Aaron tampak


bingung, menatap Raya yang masih terlelap


dalam tidurnya. Tidak ada pilihan lain, dia


mengangkat tubuh gadis itu ke dalam


pangkuan nya kemudian masuk ke dalam


privat lift yang akan membawanya langsung


ke kamarnya.


"Kalian tunggu aku di sini.!"


Titah nya pada anak buahnya saat pintu lift


mulai tertutup. Anak buahnya membungkuk


sebagai tanda kepatuhan tanpa kata.


Dalam diamnya Aaron mengamati gadis


yang kini ada dalam pangkuannya itu. Dia


menautkan alisnya saat gadis itu bergerak menyusupkan wajahnya di antara belahan


dada bidang laki-laki itu mencoba mencari


kenyamanan. Tubuh Aaron kembali tegang.


Shit.! apa-apaan wanita ini.? apa dia tidak


sadar dengan apa yang di lakukannya?


Aaron mencoba untuk tenang. Dia segera


keluar begitu pintu lift terbuka di lantai


paling atas.


Raya tersentak bangun begitu Aaron tiba di


dalam kamarnya. Dia terkejut saat menyadari


kini dirinya ada dalam pangkuan pria asing


yang sudah membawanya pergi itu. Dengan


gerakan spontan Raya menekan dada Aaron


dan melompat turun dari pangkuan nya.


Namun karena gerakan nya yang frontal


kakinya tidak menapak dengan benar hingga


mengakibatkan tubuhnya terpelanting dan


hampir terjatuh kalau saja Aaron tidak sigap


menangkap pinggangnya.


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2