
***
Mereka semua di bimbing masuk kedalam istana.
Rasa takjub dan tidak percaya atas apa yang kini
sedang di alami membuat ke 5 nya hanya bisa
melongo melihat segala kemewahan yang ada
di dalam istana super megah itu. Hampir saja
Nyonya Leni dan putri-putrinya itu tidak mampu
melanjutkan langkah mereka di saat melihat
semua keindahan interior di dalam istana yang
serba gemerlap keemasan tersebut.
Para staf istana menempatkan mereka di dalam
sebuah ruangan besar mirip paviliun. Dimana di
dalamnya ada ruang pelengkap lainnya, terdiri
dari 3 kamar tidur, ruang istirahat, ruang makan,
ruang olahraga serta kolam renang mewah
berukuran sedang. Karuan saja hal ini membuat keluarga itu kembali di buat tak percaya melihat semua penyambutan yang serba di luar dugaan
ini. Mereka merasa saat ini seolah-olah sedang bermimpi, mimpi di luar bayangannya..
"Silahkan beristirahat Tuan dan keluarga.. Kami
sudah menyediakan hidangan di ruang makan.
Pakaian di dalam kamar masing-masing dan
ada banyak pelayan di luar ruangan yang selalu
siap melayani segala kebutuhan kalian. Kalian
hanya tinggal menekan tombol hijau di sana,
untuk memanggil pelayan. Nanti malam kami
akan kembali untuk menemani kalian bertemu
dengan Putera Mahkota dan Princess Agung.."
Salah seorang staf istana memberi penjelasan
yang membuat Tuan Danu dan Arka cepat-cepat
membungkuk hormat.
"Terimakasih Tuan-tuan atas sambutannya.."
Sambut Tuan Danu. Para staf istana itu balas
membungkuk sedikit, setelah itu mereka berlalu
keluar dari ruangan yang mirip rumah tersebut.
Tuan Danu menarik napas panjang, mencoba
untuk membuang segala keterkejutan yang
masih saja menguasai dirinya.
"Pah..ada apa ini.? Kenapa kita malah di bawa
ke istana ini.? Aku ingin bertemu dengan Kak
Raya. Bukannya mau berwisata sejarah begini..!"
Semua orang tercenung mendengar ucapan
Arka yang terkesan tidak menerima semua
yang kini sedang di alami.
"Ya ampun Arka..harusnya kita bersyukur punya
kesempatan untuk menginjakan kaki di istana ini.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini loh.!"
Ketus Mila dengan wajah jutek nya. Arka menarik
nafas berat, lalu menatap kedua kakaknya itu.
"Mungkin bagi kalian seperti itu, tapi tujuan kita
datang kesini untuk bertemu dengan Kak Raya."
"Ya itu mungkin bagi kamu, aku sih malas.!"
"Terserah..! Arka mau istirahat saja Pah.."
Arka melangkah kearah kamar tidur yang sudah
di sediakan khusus untuknya.
"Ya Tuhan..karma baik apa yang kita buat selama
ini sampai-sampai bisa nyasar ke tempat ini..
Rasanya ini seperti mimpi yang menjadi nyata.!"
Pekik Riri tidak tahan lagi, dia berjalan memutar
melihat semua keindahan yang ada di ruangan itu.
"Ayo kita nikmati semua yang ada di tempat ini
Mil..Ini tidak boleh di sia-siakan..!"
Ucapnya sambil menarik tangan Mila menuju
ke arah kolang renang. Tuan Danu dan Nyonya
Leni hanya bisa terdiam melihat tingkah konyol
kedua anak gadisnya itu.
Waktu terus merayap petang...
Raya baru saja kembali ke dalam kamar pribadi
nya setelah selesai menghadiri acara pertemuan
dengan para petinggi istana. Dia tampak begitu
kelelahan karena pertemuan ini memakan waktu
cukup lama, membahas masalah perayaan nanti
yang akan di selenggarakan mulai esok hari.
Sebenarnya hari ini istana sudah mulai melakukan
perayaan, yaitu dengan mengadakan acara Open
House bagi beberapa yayasan yang ada di bawah
pengawasan istana. Esok hari akan diadakan
berbagai acara adat. Setelah itu, lusa nya Raya
harus istirahat total dan melakukan isolasi.
Kemudian lusa nya lagi akan diadakan pesta arak-arakan mengelilingi pusat kota dengan menggunakan seluruh kereta kencana kerajaan
untuk menyapa masyarakat dalam rangka mengenalkan Maharaya sebagai calon ratu masa depan negara ini. Dan setelah itu barulah acara
puncak di gelar yakni resepsi megah yang akan
di selenggarakan di dalam aula agung istana.
Saat ini Raya baru saja selesai membersihkan
dirinya. Dia berendam cukup lama untuk dapat
memulihkan kondisinya dari segala kepenatan
yang di rasakannya. Sementara Aaron pergi ke
kantor untuk mengurus beberapa hal.
Brenda dengan sigap menyiapkan pakaian yang
akan di kenakkan oleh Raya lalu memakaikan
pakaian santai tersebut ke tubuh sang majikan
dan mengeringkan rambutnya. Semua rutinitas
ini sudah di jalankan Brenda sebagai pelayan
pribadi Raya sejak hari pertama sang Putri
masuk ke dalam istana ini.
"Brenda.. rapihkan rambutku di balkon saja.
Aku ingin segera menikmati angin sore."
"Baik Yang Mulya.."
Akhirnya Raya keluar dari walk in closet menuju
ke balkon kamarnya dimana di sana sudah ada
Jessica dan dua orang pelayan pribadi lainnya
yang sedang menyiapkan camilan sore untuk
Sang Putri Agung.
"Apa Papah dan yang lain sudah sampai Jes.?"
Raya bertanya sambil kemudian duduk santai berselonjor kaki menikmati hembusan angin di
sore yang sejuk. Salah satu pelayan pribadinya
dengan sigap langsung meraih kaki sehalus
sutra itu ke atas pangkuannya untuk di lakukan
pijat relaksasi. Sedang yang satu lagi mendapat
tugas menyisir rambut sang putri yang halus
dan menebarkan aroma wangi yang mampu
membuat semua orang di buai ketenangan
dan kedamaian.
"Sudah Yang Mulya.. Mereka semua sudah ada
di ruang khusus yang telah di siapkan. Aku tidak
sabar ingin melihat bagaimana syok nya kedua
saudari angkatmu itu.!"
Sahut Jessica sambil mengulurkan cangkir teh
ke hadapan Raya yang langsung menerimanya
dan menghirup aroma melati segar dari teh itu.
Entah kenapa dia mulai menyukai beberapa hal
yang ada di negara ini.
Dan Brenda segera memilihkan makanan yang
harus di nikmati oleh Raya sore ini. Sungguh
semua kebiasaan ini cukup membuat Raya gerah,
tapi dia tidak punya pilihan selain mengikuti
segala peraturan yang sudah di tetapkan ini.
"Syukurlah.. aku sudah sangat merindukan
Papa dan Arka. "
Raya mulai menikmati camilan kue kecil dan
beberapa potong buah-buahan yang sudah
di hidangkan oleh Brenda di hadapannya.
"Apa anda tahu Yang Mulya.? Mereka semua
di buat syok saat di bawa ke istana ini, terlihat
sekali kalau mereka bingung dan ketakutan.!"
"Oya..? Kasihan sekali Papa dan Arka. Aku tidak
ingin lama-lama membuat mereka berada dalam
kebingungan, aku takut mereka berpikiran yang
tidak-tidak Jes."
"Biarkan saja ini jadi kejutan besar bagi mereka.
Terutama bagi kedua saudari mu itu. Harusnya
mereka berdua di beri sedikit pelajaran.! Selama
__ADS_1
ini mereka telah berlaku seenaknya padamu.!"
"Biarkan saja. ! Walau bagaimanapun mereka
pernah hidup bersama dengan ku..!"
Jessica dan yang lain langsung berdiri begitu
melihat kemunculan Aaron ke ruangan itu lalu
serempak membungkuk setengah badan.
"Selamat sore Yang Mulya.."
"Hem.. kalian boleh keluar sekarang.!"
"Baik Yang Mulya.. kami permisi."
Mereka kembali membungkuk kemudian berlalu
pergi dari ruangan itu. Raya menatap kehadiran
Aaron dengan wajah yang terlihat berbinar cerah.
"Sayang.. kau sudah selesai.?"
Raya menaruh cangkir teh nya. Aaron mendekat
lalu berdiri tegak di hadapannya, menatap lekat
wajah cantik Raya yang terlihat begitu cerah.
"Aku tidak bisa konsentrasi.! Pikiranku kacau
tidak bisa di ajak bekerja.!"
Sahut Aaron sambil kemudian berjongkok di
hadapan Raya dan tangannya bergerak mengelus lembut perut buncit istrinya itu yang tersembunyi
di balik dress sutra tipis sedikit transparan. Dia
juga menempelkan pipinya di perut itu sambil
memejamkan matanya. Raya tersenyum lembut
kemudian membelai rambut Aaron yang masih
asik mengelus-elus perut buncitnya itu gemas.
"Kenapa sayang, apa ada sesuatu yang terjadi
dan mengganggu pikiranmu ?"
"Masalahnya ada padamu..!"
"Loh..kok ada padaku, memangnya aku kenapa.?"
"Aku tidak bisa jauh darimu. Wajahmu selalu
saja membayangi ku, kenapa bisa begini.!"
Gerakan tangan Raya di rambut Aaron berhenti.
Alisnya tampak bertaut dan wajahnya memerah.
"Yang Mulya Putra Mahkota.. benarkah kau ini
masih seorang Aaron Marvell De Enzo..? "
Aaron mendongak, mata mereka saling menatap
kuat. Bibir Aaron menyeringai tipis, kemudian
dia mengangkat tubuh Raya di bawa duduk di
atas pangkuannya dengan posisi yang saling berhadapan hingga paha sebening porselen itu terpampang nyata di depan matanya dan mampu membuat Aaron menelan salivanya berat.
"Apa kau merindukan kekejaman ku.? Kau mau
melihat ku melenyapkan nyawa orang, begitu.??"
"Apa kau masih bisa melakukanya sekarang.?"
"Kalau keadaan mendesak, aku bahkan masih
bisa melahap puluhan orang dalam sekejap.!"
"Isshh... dasar monster.! Tapi aku tidak yakin
kau masih bisa melakukannya.!"
Ledek Raya dengan senyum miring nya. Aaron
menyeringai tipis sambil perlahan melingkari
pinggang Raya dan menarik tubuhnya.
"Apa perlu aku membuktikannya padamu.?
Aku bisa memakanmu sekarang juga sayang.."
"Aaron.. jangan ngaco kamu ya.! Aku baru saja
selesai membersihkan diri.!"
"Justru itu, kau semakin membuatku panas.!"
Raya berusaha menjauhkan dirinya. Keduanya
saling pandang lekat, bibir Aaron tersenyum tipis penuh arti. Dan tangannya kini mulai bergerilya,
masuk ke balik dress lalu menyusuri paha halus
mulus itu membuat tubuh Raya panas dingin
seketika, wajahnya terlihat semakin memerah.
"Aaron.. kumohon jangan mulai .! Turunkan
aku sekarang juga.!"
Raya mulai berontak saat pinggangnya kembali
di tarik kuat hingga tubuh mereka kini menempel
ketat dan tangan Aaron sudah sampai di daerah sensitif nya yang sangat di gilai oleh suaminya
itu. Tangannya kembali bermain nakal di sana.
"Aku menginginkan mu sekarang sayang.."
"Aakhh... Aaron jangan gila..! Sebentar lagi
hari gelap..aaa.. Aaron lepaskan aku.."
"Tidak..! Aku sangat merindukanmu..!"
Raya menarik dirinya dari dekapan kuat suami
super mesumnya itu. Dia juga menarik tangan
"Satu jam yang lalu kita masih bersama. Bahkan
kau selalu bersikap tidak kontrol di depan para
dewan istana.."
"Aku tahu itu, tapi saat ini aku merindukanmu.
Apa tidak boleh kalau aku merindukan istriku
sendiri hem.?"
Raya menggeleng resah dengan sikap over
obsesif Aaron terhadap dirinya. Dia meraup
wajah super tampan suaminya itu yang terlihat
sedikit kemerahan, tampak menggemaskan.
Kalau sudah ada di hadapannya seperti ini
Aaron seolah menjelma menjadi seorang pria
yang sangat berbeda.
"Tentu saja kau berhak merindukan ku, dan aku
sangat bahagia dengan itu.Tapi jangan sampai
hal ini membuat semua urusanmu terganggu."
"Aku tahu yang harus aku lakukan. Aku adalah
Putra Mahkota..Semua akan berjalan di bawah
perintahku, dan otakku akan berjalan kalau kau
memberiku ketenangan.."
Raya terdiam, tatapan mereka semakin dalam.
Tanpa komando keduanya langsung terpagut
dalam ciuman lembut dan manis yang membawa
kehangatan dan ketenangan bathin bagi Aaron.
Ini semua memang cukup mengherankan bagi
Aaron sendiri, kenapa dia bisa segila ini pada
sosok istrinya ini. Dia benar-benar tidak bisa
bernafas kalau tidak melihat Raya lebih dari
satu jam lamanya. Sungguh dahsyat efek
ngidam dari si jabang bayi ini..
***
Tuan Danu dan seluruh anggota keluarganya
kini telah bersiap. Mereka semua kembali di buat
terkejut dan terheran-heran atas segala hal yang
sudah tersedia di tempat itu. Decak kekaguman
kembali terlontar dari mulut Nyonya Leni dan
dua putri nya yang kini sudah berganti pakaian
dengan gaun malam cantik nan mewah yang
sudah di sediakan oleh para pelayan. Bahkan
para pelayan membantu ketiga wanita itu untuk
berhias diri agar lebih terlihat perfect. Mereka
semua saat ini mengenakkan pakaian resmi
yang terlihat begitu mewah dan elegan.
"Selamat malam semuanya..Kami datang untuk
membimbing kalian bertemu dengan Yang
Mulya Putra Mahkota dan Princess Agung.."
Tenyata kepala Staf istana langsung yang kini
datang ke tempat itu untuk menjemput mereka.
Melihat aura dan kharisma kuat dari pria tinggi
tegap dengan sikap yang sangat dingin dan tegas
itu, Tuan Danu dan keluarganya tampak sedikit mengkerut nyalinya.
"Jadi kami sekarang akan bertemu dengan
anggota keluarga kerajaan.?"
Tuan Danu mengeluarkan suara nya ragu-ragu.
Yang lain menundukkan kepala segan.
"Benar Tuan.. Saya minta jaga sikap kalian di
hadapan mereka. Jangan membuat keributan.
Sekarang..mari ikuti saya.!"
Tegas Kepala staf istana sambil kemudian mulai melangkah tenang keluar dari ruangan itu di ikuti
oleh Tuan Danu dan semua keluarga nya. Jantung mereka saat ini tidak karuan, tak terasa keringat
dingin pun mulai meremang di tubuh mereka
karena terlalu gugup dan tegang. Selama berjalan menyusuri seluruh ruangan yang serba gemerlap
itu mata mereka tiada henti menatap takjub. Ini
semua bagaikan sebuah mimpi yang begitu nyata.
Kepala staf istana membawa mereka masuk ke
istana utama dan langsung mengarah ke ruang
perjamuan belakang yang ada di taman bunga
dan terdapat kolam air mancur yang sangat
indah dan menenangkan suasana.
__ADS_1
Di ruangan itu sudah berjajar para pelayan istana
yang berpakaian dan berpenampilan rapi. Untuk
sesaat mereka semua tampak semakin bingung
dan grogi melihat bagaimana kaku nya segala
prosedur dan peraturan di tempat ini. Kepala
staf istana menempatkan mereka untuk berdiri
di tengah ruangan di belakang meja perjamuan.
"Yang Mulya Putra Mahkota beserta Princess
Agung telah tibaa..."
Terdengar seruan komandan ruangan yang
memberitahukan kedatangan dua tokoh utama
yang sedang di tunggu-tunggu itu.
Semua pelayan yang sudah berbaris di dua sisi ruangan serempak membungkukkan badan dan
bertahan dalam posisi menyambut kehadiran
mereka berdua. Tuan Danu dan keluarganya pun mengikuti gerakan mereka dengan perasaan
yang semakin di cekam ketegangan.
Tidak lama dari arah ruangan dalam muncul dua sosok yang begitu menyilaukan. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan mesra. Aaron
tampak gagah dan mempesona dengan kemeja
panjang warna dark ash berbalut rompi tanpa
jas. Sementara Raya terlihat begitu memukau
dengan gaun malam elegan dan berkelas di
tambah model yang sangat ekslusif di sesuaikan dengan kondisi tubuhnya saat ini serta warna
yang terlihat begitu anggun dan indah.
Tiba di dalam ruangan, Aaron dan Raya tampak
menghentikan langkahnya, menatap kearah
Tuan Danu sekeluarga yang masih menundukkan kepala. Mata Raya langsung saja berkaca-kaca
saat melihat Papah dan adik angkatnya itu.
"Tuan dan keluarga.. Yang Mulya Prince Marvell
dan Princess Agung Maharaya telah tiba.. kalian
sudah boleh menyapa beliau berdua.."
Deg !
Jantung seluruh keluarga Danu Atmaja saat ini
seakan jatuh dari tempatnya. Dengan wajah yang
terlihat terkejut luar biasa mereka mengangkat
kepala.. melihat kearah keberadaan Aaron dan
Raya. Mata mereka tampak terlongong, terpaku
di tempat seperti orang kesambet.
"Prince Marvell..? Princess Maharaya..?"
Desis Mila dengan wajah yang perlahan menciut
dan memutih. Princess Maharaya..? Apakah ini
sebuah lelucon.? Wanita super cantik yang terlihat begitu menyilaukan itu memang benar-benar
saudari angkat nya, tapi kenapa tiba-tiba dia bisa menyandang gelar sebagai seorang Putri.??
"Ini pasti hanya halusinasi saja..!"
Riri ikut berbisik dengan wajah yang kini sudah
seputih kapas dan lutut yang semakin lemas.
Raya dan Aaron mendekat. Aroma wangi lembut
nan membuai yang menguar dari tubuh dua sosok
itu mampu menerbangkan sukma semua orang.
"Selamat malam semuanya.. selamat datang di
Grand Marco Palace.. Papah.. Arka.. Ibu.."
Sambut Raya dengan suara yang sangat lembut
dan tenang namun tetap tegas dan berwibawa.
Tuan Danu dan Arka tampak masih terdiam..
bengong. Sementara Nyonya Leni dan kedua
putrinya kini mulai mundur karena kaki mereka
tidak bisa menapak dengan sempurna. Mata
mereka menatap syok kearah Raya dan Aaron.
Aaron merangkul erat bahu Raya yang mencoba
untuk tetap berdiri tenang karena tidak sanggup
melihat reaksi syok seluruh keluarganya.
"Selamat datang semuanya..Aku..Aaron Marvell
De Enzo..adalah Putra Mahkota negara ini. Dan
istriku.. Maharaya Emeera As Syaf Sulaiman
adalah Princess Agung keturunan kesultanan
Al Harruman..dari negara T.. Dia Putri kandung
Prince Serkan Ahmed atau Jenderal Serkan..!"
Aaron berucap tegas penuh kharisma, membuat semua keluarga Danu Atmaja semakin ternganga,
syok luar biasa dan semakin tidak percaya pada
realita yang terlalu..dan amat sangat mengejutkan
ini. Jadi.. pria yang menikahi Raya adalah seorang Putra Mahkota negara xxx..??
Lalu yang paling mengejutkan lagi adalah jati
diri seorang Maharaya sebagai keturunan sejati kesultanan Sulaiman.? Benarkah dia putrinya
jenderal Serkan ?
"Papah.. selamat datang di duniaku yang baru."
Lirih Raya sambil kemudian menyerbu ke dalam
pelukan Tuan Danu yang baru sadar dari segala keterkejutannya. Air mata Raya tumpah di pelukan sang Papa.
"Raya.. putriku..Jadi kamu sudah menemukan
identitas kedua orang tua kandung mu Nak.."
Tuan Danu memeluk erat Putri kesayangan nya
itu sambil menitikkan air mata keharuan. Arka
tampak menunduk, mengusap air matanya. Ini
adalah fakta yang terlalu besar, kakaknya itu
ternyata bintang yang teramat tinggi di langit.
"Mereka sendiri yang datang menemui ku Pah.
Nanti juga Papah pasti akan bertemu mereka.."
Sahut Raya pelan. Setelah lama akhirnya dia
beralih pada Arka, memeluk erat tubuh adiknya
itu yang langsung menangis bak anak kecil yang
baru saja bertemu kembali dengan barang atau
mainan kesayangan nya. Aaron hanya terdiam, membiarkan istrinya itu melepaskan segala
kerinduan pada keluarganya itu.
Nyonya Leni jatuh terduduk lemas, tak sanggup
lagi menopang tubuhnya. Dia benar-benar bagai tersambar petir di siang bolong. Putri suaminya
yang selama ini sudah di sia-siakan dan selalu
di anak tirikan olehnya, ternyata memilki derajat
yang tak terjangkau. Mila pun tampak goyah, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi meja perjamuan yang ada di belakangnya. Sementara itu..
Bruk.!
"Riri..ohh ya Tuhan..!"
Nyonya Leni berseru kaget, kali ini Riri tampaknya
tak kuasa menahan segala kenyataan yang terlalu mengguncang bathinnya ini. Dia jatuh pingsan di tengah ruangan membuat semua orang terkejut. Nyonya Leni dan Mila segera mengangkat kepala gadis itu ke atas pangkuan nya.
Para pelayan dan para staf istana kini mendekat kearah Riri untuk segera menangani keadaannya.
"Biarkan aku saja yang akan menangani nya.!"
Semua orang membeku di tempat begitu suara
tegas Sang Putri terdengar. Raya melepaskan
Arka dari pelukannya, mengusap lembut kepala
adiknya itu kemudian menepuk bahu nya.
"Jadilah pria yang kuat.. Jangan cengeng lagi.!"
Ujar nya sambil kemudian mendekat kearah Riri
yang terlihat terbaring lemah dan pucat. Aaron menggeleng pasrah melihat pergerakan Raya
yang kini sudah menekuk lutut di hadapan Riri.
Mila dan Nyonya Leni tak mampu berkata-kata
saat melihat Raya mengusap pelan kepala Riri
lalu mengecek pergelangan tangan gadis itu.
Mata mereka berdua tampak begitu terpesona
pada sosok cantik luar biasa yang kini ada di
hadapan mereka. Wanita yang dari kecil sudah
terlihat begitu istimewa itu sekarang benar-benar menjelma bak Dewi dari khayangan yang begitu bercahaya dan menyilaukan mata. Kecantikannya begitu sempurna tanpa cela. Mereka berdua kini
menundukkan kepala tunduk pada kharisma
sang Putri yang begitu menggetarkan.
"Riri.. bangunlah..dan jadilah kuat. Berdirilah di
atas kakimu sendiri.!"
Raya berucap tenang sambil kemudian berdiri.
Aaron mendekat dan langsung merangkulnya.
Sekejap kemudian Riri membuka matanya, gadis
itu kini tersadar. Matanya tampak menatap syok
kearah Raya yang tersenyum lembut.
"Ayo..kita rayakan pertemuan ini dengan makan
malam bersama."
Tegas Raya sambil kemudian melangkah tenang
bersama Aaron kearah meja perjamuan sambil
menjentikkan jarinya sedikit. Tiba-tiba lampu
lighting air mancur menyala di iringi permainan
air mancur yang dapat menari tersebut. Semua
orang kembali terperangah karena permainan
cahaya dan tarian air mancur itu terlihat sangat
atraktif dan berbeda dari biasanya..
"Kamu benar-benar nakal ya sekarang.."
Desis Aaron sambil mendaratkan ciuman mesra
di bibir Raya yang lagi-lagi membuat semua orang
bengong. Kali ini Mila lah yang jatuh pingsan..
__ADS_1
***