Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
97. Tak Terjangkau


__ADS_3

***


Mereka semua di bimbing masuk kedalam istana.


Rasa takjub dan tidak percaya atas apa yang kini


sedang di alami membuat ke 5 nya hanya bisa


melongo melihat segala kemewahan yang ada


di dalam istana super megah itu. Hampir saja


Nyonya Leni dan putri-putrinya itu tidak mampu


melanjutkan langkah mereka di saat melihat


semua keindahan interior di dalam istana yang


serba gemerlap keemasan tersebut.


Para staf istana menempatkan mereka di dalam


sebuah ruangan besar mirip paviliun. Dimana di


dalamnya ada ruang pelengkap lainnya, terdiri


dari 3 kamar tidur, ruang istirahat, ruang makan,


ruang olahraga serta kolam renang mewah


berukuran sedang. Karuan saja hal ini membuat keluarga itu kembali di buat tak percaya melihat semua penyambutan yang serba di luar dugaan


ini. Mereka merasa saat ini seolah-olah sedang bermimpi, mimpi di luar bayangannya..


"Silahkan beristirahat Tuan dan keluarga.. Kami


sudah menyediakan hidangan di ruang makan.


Pakaian di dalam kamar masing-masing dan


ada banyak pelayan di luar ruangan yang selalu


siap melayani segala kebutuhan kalian. Kalian


hanya tinggal menekan tombol hijau di sana,


untuk memanggil pelayan. Nanti malam kami


akan kembali untuk menemani kalian bertemu


dengan Putera Mahkota dan Princess Agung.."


Salah seorang staf istana memberi penjelasan


yang membuat Tuan Danu dan Arka cepat-cepat


membungkuk hormat.


"Terimakasih Tuan-tuan atas sambutannya.."


Sambut Tuan Danu. Para staf istana itu balas


membungkuk sedikit, setelah itu mereka berlalu


keluar dari ruangan yang mirip rumah tersebut.


Tuan Danu menarik napas panjang, mencoba


untuk membuang segala keterkejutan yang


masih saja menguasai dirinya.


"Pah..ada apa ini.? Kenapa kita malah di bawa


ke istana ini.? Aku ingin bertemu dengan Kak


Raya. Bukannya mau berwisata sejarah begini..!"


Semua orang tercenung mendengar ucapan


Arka yang terkesan tidak menerima semua


yang kini sedang di alami.


"Ya ampun Arka..harusnya kita bersyukur punya


kesempatan untuk menginjakan kaki di istana ini.


Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini loh.!"


Ketus Mila dengan wajah jutek nya. Arka menarik


nafas berat, lalu menatap kedua kakaknya itu.


"Mungkin bagi kalian seperti itu, tapi tujuan kita


datang kesini untuk bertemu dengan Kak Raya."


"Ya itu mungkin bagi kamu, aku sih malas.!"


"Terserah..! Arka mau istirahat saja Pah.."


Arka melangkah kearah kamar tidur yang sudah


di sediakan khusus untuknya.


"Ya Tuhan..karma baik apa yang kita buat selama


ini sampai-sampai bisa nyasar ke tempat ini..


Rasanya ini seperti mimpi yang menjadi nyata.!"


Pekik Riri tidak tahan lagi, dia berjalan memutar


melihat semua keindahan yang ada di ruangan itu.


"Ayo kita nikmati semua yang ada di tempat ini


Mil..Ini tidak boleh di sia-siakan..!"


Ucapnya sambil menarik tangan Mila menuju


ke arah kolang renang. Tuan Danu dan Nyonya


Leni hanya bisa terdiam melihat tingkah konyol


kedua anak gadisnya itu.


Waktu terus merayap petang...


Raya baru saja kembali ke dalam kamar pribadi


nya setelah selesai menghadiri acara pertemuan


dengan para petinggi istana. Dia tampak begitu


kelelahan karena pertemuan ini memakan waktu


cukup lama, membahas masalah perayaan nanti


yang akan di selenggarakan mulai esok hari.


Sebenarnya hari ini istana sudah mulai melakukan


perayaan, yaitu dengan mengadakan acara Open


House bagi beberapa yayasan yang ada di bawah


pengawasan istana. Esok hari akan diadakan


berbagai acara adat. Setelah itu, lusa nya Raya


harus istirahat total dan melakukan isolasi.


Kemudian lusa nya lagi akan diadakan pesta arak-arakan mengelilingi pusat kota dengan menggunakan seluruh kereta kencana kerajaan


untuk menyapa masyarakat dalam rangka mengenalkan Maharaya sebagai calon ratu masa depan negara ini. Dan setelah itu barulah acara


puncak di gelar yakni resepsi megah yang akan


di selenggarakan di dalam aula agung istana.


Saat ini Raya baru saja selesai membersihkan


dirinya. Dia berendam cukup lama untuk dapat


memulihkan kondisinya dari segala kepenatan


yang di rasakannya. Sementara Aaron pergi ke


kantor untuk mengurus beberapa hal.


Brenda dengan sigap menyiapkan pakaian yang


akan di kenakkan oleh Raya lalu memakaikan


pakaian santai tersebut ke tubuh sang majikan


dan mengeringkan rambutnya. Semua rutinitas


ini sudah di jalankan Brenda sebagai pelayan


pribadi Raya sejak hari pertama sang Putri


masuk ke dalam istana ini.


"Brenda.. rapihkan rambutku di balkon saja.


Aku ingin segera menikmati angin sore."


"Baik Yang Mulya.."


Akhirnya Raya keluar dari walk in closet menuju


ke balkon kamarnya dimana di sana sudah ada


Jessica dan dua orang pelayan pribadi lainnya


yang sedang menyiapkan camilan sore untuk


Sang Putri Agung.


"Apa Papah dan yang lain sudah sampai Jes.?"


Raya bertanya sambil kemudian duduk santai berselonjor kaki menikmati hembusan angin di


sore yang sejuk. Salah satu pelayan pribadinya


dengan sigap langsung meraih kaki sehalus


sutra itu ke atas pangkuannya untuk di lakukan


pijat relaksasi. Sedang yang satu lagi mendapat


tugas menyisir rambut sang putri yang halus


dan menebarkan aroma wangi yang mampu


membuat semua orang di buai ketenangan


dan kedamaian.


"Sudah Yang Mulya.. Mereka semua sudah ada


di ruang khusus yang telah di siapkan. Aku tidak


sabar ingin melihat bagaimana syok nya kedua


saudari angkatmu itu.!"


Sahut Jessica sambil mengulurkan cangkir teh


ke hadapan Raya yang langsung menerimanya


dan menghirup aroma melati segar dari teh itu.


Entah kenapa dia mulai menyukai beberapa hal


yang ada di negara ini.


Dan Brenda segera memilihkan makanan yang


harus di nikmati oleh Raya sore ini. Sungguh


semua kebiasaan ini cukup membuat Raya gerah,


tapi dia tidak punya pilihan selain mengikuti


segala peraturan yang sudah di tetapkan ini.


"Syukurlah.. aku sudah sangat merindukan


Papa dan Arka. "


Raya mulai menikmati camilan kue kecil dan


beberapa potong buah-buahan yang sudah


di hidangkan oleh Brenda di hadapannya.


"Apa anda tahu Yang Mulya.? Mereka semua


di buat syok saat di bawa ke istana ini, terlihat


sekali kalau mereka bingung dan ketakutan.!"


"Oya..? Kasihan sekali Papa dan Arka. Aku tidak


ingin lama-lama membuat mereka berada dalam


kebingungan, aku takut mereka berpikiran yang


tidak-tidak Jes."


"Biarkan saja ini jadi kejutan besar bagi mereka.


Terutama bagi kedua saudari mu itu. Harusnya


mereka berdua di beri sedikit pelajaran.! Selama

__ADS_1


ini mereka telah berlaku seenaknya padamu.!"


"Biarkan saja. ! Walau bagaimanapun mereka


pernah hidup bersama dengan ku..!"


Jessica dan yang lain langsung berdiri begitu


melihat kemunculan Aaron ke ruangan itu lalu


serempak membungkuk setengah badan.


"Selamat sore Yang Mulya.."


"Hem.. kalian boleh keluar sekarang.!"


"Baik Yang Mulya.. kami permisi."


Mereka kembali membungkuk kemudian berlalu


pergi dari ruangan itu. Raya menatap kehadiran


Aaron dengan wajah yang terlihat berbinar cerah.


"Sayang.. kau sudah selesai.?"


Raya menaruh cangkir teh nya. Aaron mendekat


lalu berdiri tegak di hadapannya, menatap lekat


wajah cantik Raya yang terlihat begitu cerah.


"Aku tidak bisa konsentrasi.! Pikiranku kacau


tidak bisa di ajak bekerja.!"


Sahut Aaron sambil kemudian berjongkok di


hadapan Raya dan tangannya bergerak mengelus lembut perut buncit istrinya itu yang tersembunyi


di balik dress sutra tipis sedikit transparan. Dia


juga menempelkan pipinya di perut itu sambil


memejamkan matanya. Raya tersenyum lembut


kemudian membelai rambut Aaron yang masih


asik mengelus-elus perut buncitnya itu gemas.


"Kenapa sayang, apa ada sesuatu yang terjadi


dan mengganggu pikiranmu ?"


"Masalahnya ada padamu..!"


"Loh..kok ada padaku, memangnya aku kenapa.?"


"Aku tidak bisa jauh darimu. Wajahmu selalu


saja membayangi ku, kenapa bisa begini.!"


Gerakan tangan Raya di rambut Aaron berhenti.


Alisnya tampak bertaut dan wajahnya memerah.


"Yang Mulya Putra Mahkota.. benarkah kau ini


masih seorang Aaron Marvell De Enzo..? "


Aaron mendongak, mata mereka saling menatap


kuat. Bibir Aaron menyeringai tipis, kemudian


dia mengangkat tubuh Raya di bawa duduk di


atas pangkuannya dengan posisi yang saling berhadapan hingga paha sebening porselen itu terpampang nyata di depan matanya dan mampu membuat Aaron menelan salivanya berat.


"Apa kau merindukan kekejaman ku.? Kau mau


melihat ku melenyapkan nyawa orang, begitu.??"


"Apa kau masih bisa melakukanya sekarang.?"


"Kalau keadaan mendesak, aku bahkan masih


bisa melahap puluhan orang dalam sekejap.!"


"Isshh... dasar monster.! Tapi aku tidak yakin


kau masih bisa melakukannya.!"


Ledek Raya dengan senyum miring nya. Aaron


menyeringai tipis sambil perlahan melingkari


pinggang Raya dan menarik tubuhnya.


"Apa perlu aku membuktikannya padamu.?


Aku bisa memakanmu sekarang juga sayang.."


"Aaron.. jangan ngaco kamu ya.! Aku baru saja


selesai membersihkan diri.!"


"Justru itu, kau semakin membuatku panas.!"


Raya berusaha menjauhkan dirinya. Keduanya


saling pandang lekat, bibir Aaron tersenyum tipis penuh arti. Dan tangannya kini mulai bergerilya,


masuk ke balik dress lalu menyusuri paha halus


mulus itu membuat tubuh Raya panas dingin


seketika, wajahnya terlihat semakin memerah.


"Aaron.. kumohon jangan mulai .! Turunkan


aku sekarang juga.!"


Raya mulai berontak saat pinggangnya kembali


di tarik kuat hingga tubuh mereka kini menempel


ketat dan tangan Aaron sudah sampai di daerah sensitif nya yang sangat di gilai oleh suaminya


itu. Tangannya kembali bermain nakal di sana.


"Aku menginginkan mu sekarang sayang.."


"Aakhh... Aaron jangan gila..! Sebentar lagi


hari gelap..aaa.. Aaron lepaskan aku.."


"Tidak..! Aku sangat merindukanmu..!"


Raya menarik dirinya dari dekapan kuat suami


super mesumnya itu. Dia juga menarik tangan


"Satu jam yang lalu kita masih bersama. Bahkan


kau selalu bersikap tidak kontrol di depan para


dewan istana.."


"Aku tahu itu, tapi saat ini aku merindukanmu.


Apa tidak boleh kalau aku merindukan istriku


sendiri hem.?"


Raya menggeleng resah dengan sikap over


obsesif Aaron terhadap dirinya. Dia meraup


wajah super tampan suaminya itu yang terlihat


sedikit kemerahan, tampak menggemaskan.


Kalau sudah ada di hadapannya seperti ini


Aaron seolah menjelma menjadi seorang pria


yang sangat berbeda.


"Tentu saja kau berhak merindukan ku, dan aku


sangat bahagia dengan itu.Tapi jangan sampai


hal ini membuat semua urusanmu terganggu."


"Aku tahu yang harus aku lakukan. Aku adalah


Putra Mahkota..Semua akan berjalan di bawah


perintahku, dan otakku akan berjalan kalau kau


memberiku ketenangan.."


Raya terdiam, tatapan mereka semakin dalam.


Tanpa komando keduanya langsung terpagut


dalam ciuman lembut dan manis yang membawa


kehangatan dan ketenangan bathin bagi Aaron.


Ini semua memang cukup mengherankan bagi


Aaron sendiri, kenapa dia bisa segila ini pada


sosok istrinya ini. Dia benar-benar tidak bisa


bernafas kalau tidak melihat Raya lebih dari


satu jam lamanya. Sungguh dahsyat efek


ngidam dari si jabang bayi ini..


***


Tuan Danu dan seluruh anggota keluarganya


kini telah bersiap. Mereka semua kembali di buat


terkejut dan terheran-heran atas segala hal yang


sudah tersedia di tempat itu. Decak kekaguman


kembali terlontar dari mulut Nyonya Leni dan


dua putri nya yang kini sudah berganti pakaian


dengan gaun malam cantik nan mewah yang


sudah di sediakan oleh para pelayan. Bahkan


para pelayan membantu ketiga wanita itu untuk


berhias diri agar lebih terlihat perfect. Mereka


semua saat ini mengenakkan pakaian resmi


yang terlihat begitu mewah dan elegan.


"Selamat malam semuanya..Kami datang untuk


membimbing kalian bertemu dengan Yang


Mulya Putra Mahkota dan Princess Agung.."


Tenyata kepala Staf istana langsung yang kini


datang ke tempat itu untuk menjemput mereka.


Melihat aura dan kharisma kuat dari pria tinggi


tegap dengan sikap yang sangat dingin dan tegas


itu, Tuan Danu dan keluarganya tampak sedikit mengkerut nyalinya.


"Jadi kami sekarang akan bertemu dengan


anggota keluarga kerajaan.?"


Tuan Danu mengeluarkan suara nya ragu-ragu.


Yang lain menundukkan kepala segan.


"Benar Tuan.. Saya minta jaga sikap kalian di


hadapan mereka. Jangan membuat keributan.


Sekarang..mari ikuti saya.!"


Tegas Kepala staf istana sambil kemudian mulai melangkah tenang keluar dari ruangan itu di ikuti


oleh Tuan Danu dan semua keluarga nya. Jantung mereka saat ini tidak karuan, tak terasa keringat


dingin pun mulai meremang di tubuh mereka


karena terlalu gugup dan tegang. Selama berjalan menyusuri seluruh ruangan yang serba gemerlap


itu mata mereka tiada henti menatap takjub. Ini


semua bagaikan sebuah mimpi yang begitu nyata.


Kepala staf istana membawa mereka masuk ke


istana utama dan langsung mengarah ke ruang


perjamuan belakang yang ada di taman bunga


dan terdapat kolam air mancur yang sangat


indah dan menenangkan suasana.

__ADS_1


Di ruangan itu sudah berjajar para pelayan istana


yang berpakaian dan berpenampilan rapi. Untuk


sesaat mereka semua tampak semakin bingung


dan grogi melihat bagaimana kaku nya segala


prosedur dan peraturan di tempat ini. Kepala


staf istana menempatkan mereka untuk berdiri


di tengah ruangan di belakang meja perjamuan.


"Yang Mulya Putra Mahkota beserta Princess


Agung telah tibaa..."


Terdengar seruan komandan ruangan yang


memberitahukan kedatangan dua tokoh utama


yang sedang di tunggu-tunggu itu.


Semua pelayan yang sudah berbaris di dua sisi ruangan serempak membungkukkan badan dan


bertahan dalam posisi menyambut kehadiran


mereka berdua. Tuan Danu dan keluarganya pun mengikuti gerakan mereka dengan perasaan


yang semakin di cekam ketegangan.


Tidak lama dari arah ruangan dalam muncul dua sosok yang begitu menyilaukan. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan mesra. Aaron


tampak gagah dan mempesona dengan kemeja


panjang warna dark ash berbalut rompi tanpa


jas. Sementara Raya terlihat begitu memukau


dengan gaun malam elegan dan berkelas di


tambah model yang sangat ekslusif di sesuaikan dengan kondisi tubuhnya saat ini serta warna


yang terlihat begitu anggun dan indah.


Tiba di dalam ruangan, Aaron dan Raya tampak


menghentikan langkahnya, menatap kearah


Tuan Danu sekeluarga yang masih menundukkan kepala. Mata Raya langsung saja berkaca-kaca


saat melihat Papah dan adik angkatnya itu.


"Tuan dan keluarga.. Yang Mulya Prince Marvell


dan Princess Agung Maharaya telah tiba.. kalian


sudah boleh menyapa beliau berdua.."


Deg !


Jantung seluruh keluarga Danu Atmaja saat ini


seakan jatuh dari tempatnya. Dengan wajah yang


terlihat terkejut luar biasa mereka mengangkat


kepala.. melihat kearah keberadaan Aaron dan


Raya. Mata mereka tampak terlongong, terpaku


di tempat seperti orang kesambet.


"Prince Marvell..? Princess Maharaya..?"


Desis Mila dengan wajah yang perlahan menciut


dan memutih. Princess Maharaya..? Apakah ini


sebuah lelucon.? Wanita super cantik yang terlihat begitu menyilaukan itu memang benar-benar


saudari angkat nya, tapi kenapa tiba-tiba dia bisa menyandang gelar sebagai seorang Putri.??


"Ini pasti hanya halusinasi saja..!"


Riri ikut berbisik dengan wajah yang kini sudah


seputih kapas dan lutut yang semakin lemas.


Raya dan Aaron mendekat. Aroma wangi lembut


nan membuai yang menguar dari tubuh dua sosok


itu mampu menerbangkan sukma semua orang.


"Selamat malam semuanya.. selamat datang di


Grand Marco Palace.. Papah.. Arka.. Ibu.."


Sambut Raya dengan suara yang sangat lembut


dan tenang namun tetap tegas dan berwibawa.


Tuan Danu dan Arka tampak masih terdiam..


bengong. Sementara Nyonya Leni dan kedua


putrinya kini mulai mundur karena kaki mereka


tidak bisa menapak dengan sempurna. Mata


mereka menatap syok kearah Raya dan Aaron.


Aaron merangkul erat bahu Raya yang mencoba


untuk tetap berdiri tenang karena tidak sanggup


melihat reaksi syok seluruh keluarganya.


"Selamat datang semuanya..Aku..Aaron Marvell


De Enzo..adalah Putra Mahkota negara ini. Dan


istriku.. Maharaya Emeera As Syaf Sulaiman


adalah Princess Agung keturunan kesultanan


Al Harruman..dari negara T.. Dia Putri kandung


Prince Serkan Ahmed atau Jenderal Serkan..!"


Aaron berucap tegas penuh kharisma, membuat semua keluarga Danu Atmaja semakin ternganga,


syok luar biasa dan semakin tidak percaya pada


realita yang terlalu..dan amat sangat mengejutkan


ini. Jadi.. pria yang menikahi Raya adalah seorang Putra Mahkota negara xxx..??


Lalu yang paling mengejutkan lagi adalah jati


diri seorang Maharaya sebagai keturunan sejati kesultanan Sulaiman.? Benarkah dia putrinya


jenderal Serkan ?


"Papah.. selamat datang di duniaku yang baru."


Lirih Raya sambil kemudian menyerbu ke dalam


pelukan Tuan Danu yang baru sadar dari segala keterkejutannya. Air mata Raya tumpah di pelukan sang Papa.


"Raya.. putriku..Jadi kamu sudah menemukan


identitas kedua orang tua kandung mu Nak.."


Tuan Danu memeluk erat Putri kesayangan nya


itu sambil menitikkan air mata keharuan. Arka


tampak menunduk, mengusap air matanya. Ini


adalah fakta yang terlalu besar, kakaknya itu


ternyata bintang yang teramat tinggi di langit.


"Mereka sendiri yang datang menemui ku Pah.


Nanti juga Papah pasti akan bertemu mereka.."


Sahut Raya pelan. Setelah lama akhirnya dia


beralih pada Arka, memeluk erat tubuh adiknya


itu yang langsung menangis bak anak kecil yang


baru saja bertemu kembali dengan barang atau


mainan kesayangan nya. Aaron hanya terdiam, membiarkan istrinya itu melepaskan segala


kerinduan pada keluarganya itu.


Nyonya Leni jatuh terduduk lemas, tak sanggup


lagi menopang tubuhnya. Dia benar-benar bagai tersambar petir di siang bolong. Putri suaminya


yang selama ini sudah di sia-siakan dan selalu


di anak tirikan olehnya, ternyata memilki derajat


yang tak terjangkau. Mila pun tampak goyah, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi meja perjamuan yang ada di belakangnya. Sementara itu..


Bruk.!


"Riri..ohh ya Tuhan..!"


Nyonya Leni berseru kaget, kali ini Riri tampaknya


tak kuasa menahan segala kenyataan yang terlalu mengguncang bathinnya ini. Dia jatuh pingsan di tengah ruangan membuat semua orang terkejut. Nyonya Leni dan Mila segera mengangkat kepala gadis itu ke atas pangkuan nya.


Para pelayan dan para staf istana kini mendekat kearah Riri untuk segera menangani keadaannya.


"Biarkan aku saja yang akan menangani nya.!"


Semua orang membeku di tempat begitu suara


tegas Sang Putri terdengar. Raya melepaskan


Arka dari pelukannya, mengusap lembut kepala


adiknya itu kemudian menepuk bahu nya.


"Jadilah pria yang kuat.. Jangan cengeng lagi.!"


Ujar nya sambil kemudian mendekat kearah Riri


yang terlihat terbaring lemah dan pucat. Aaron menggeleng pasrah melihat pergerakan Raya


yang kini sudah menekuk lutut di hadapan Riri.


Mila dan Nyonya Leni tak mampu berkata-kata


saat melihat Raya mengusap pelan kepala Riri


lalu mengecek pergelangan tangan gadis itu.


Mata mereka berdua tampak begitu terpesona


pada sosok cantik luar biasa yang kini ada di


hadapan mereka. Wanita yang dari kecil sudah


terlihat begitu istimewa itu sekarang benar-benar menjelma bak Dewi dari khayangan yang begitu bercahaya dan menyilaukan mata. Kecantikannya begitu sempurna tanpa cela. Mereka berdua kini


menundukkan kepala tunduk pada kharisma


sang Putri yang begitu menggetarkan.


"Riri.. bangunlah..dan jadilah kuat. Berdirilah di


atas kakimu sendiri.!"


Raya berucap tenang sambil kemudian berdiri.


Aaron mendekat dan langsung merangkulnya.


Sekejap kemudian Riri membuka matanya, gadis


itu kini tersadar. Matanya tampak menatap syok


kearah Raya yang tersenyum lembut.


"Ayo..kita rayakan pertemuan ini dengan makan


malam bersama."


Tegas Raya sambil kemudian melangkah tenang


bersama Aaron kearah meja perjamuan sambil


menjentikkan jarinya sedikit. Tiba-tiba lampu


lighting air mancur menyala di iringi permainan


air mancur yang dapat menari tersebut. Semua


orang kembali terperangah karena permainan


cahaya dan tarian air mancur itu terlihat sangat


atraktif dan berbeda dari biasanya..


"Kamu benar-benar nakal ya sekarang.."


Desis Aaron sambil mendaratkan ciuman mesra


di bibir Raya yang lagi-lagi membuat semua orang


bengong. Kali ini Mila lah yang jatuh pingsan..

__ADS_1


***


__ADS_2