Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
85. Penegasan


__ADS_3

***


Mereka bertiga tampak berjalan tenang penuh kharisma dan aura kehadiran yang teramat kuat membuat semua pelayan dan penjaga istana terkesima di buatnya begitu melihat kedatangan ketiganya. Kepala staf istana dengan sungkan membimbing langkah mereka menuju ruang


yang sudah di persiapkan yang berjarak cukup


jauh dari pintu utama istana.


"Apa yang kau inginkan sekarang Pangeran.?"


Serkan berbicara sambil berjalan tenang di


samping kanan Raya. Aaron melirik sekilas


kearah Serkan dengan ekspresi wajah datar.


"Aku menginginkan yang terbaik untuk masa


depan putri mu.!"


Serkan menyeringai tipis mendengar ucapan


Aaron yang terkesan santai namun dalam. Di


belakang mereka para bawahan mengawal


langkah ketiganya dengan gagah di sertai


tampang wajah yang terlihat keras dan tegas


serta di selubungi aura intimidasi yang kuat.


Serkan memegang tangan Raya lalu menariknya


ke arah dirinya. Aaron langsung bereaksi, dia


segera menggenggam tangan kiri Raya dan


menariknya kearahnya.


"Ayah.. Aaron.. kumohon..! Kalian bukan anak


kecil lagi. Dan sadari juga siapa kalian ini.!"


Raya menghentikan langkah sambil melepas


pegangan tangan kedua orang pria yang tiba-


tiba aneh itu. Wajahnya terlihat gerah dengan


ekspresi kesal sekaligus geli. Serkan dan Aaron


saling lirik, saling menatap kuat.


"Dia adalah milikku ! Kau baru muncul hari ini,


tapi tingkahmu seolah kau adalah penguasa


hidupnya selama ini.!"


Desis Aaron dengan wajah yang terlihat sinis


dan kesal setengah mati. Mereka kembali lagi


berjalan, Raya melangkah di depan sementara


dua orang pria aneh itu berjalan di belakang.


Para staf istana hanya bisa terdiam di tengah


keterkejutan mendengar isi perdebatan mereka.


Miss sekretaris memanggil Jenderal Serkan


dengan sebutan ayah..?? Ada apa ini.??


"Aku memang penguasa kehidupannya. Kalau


bukan karena aku, istrimu ini tidak akan ada


di dunia ini Pangeran.!"


"Ohhh.. jadi sekarang kau berbicara masalah hak


dan kepemilikan. Kau bahkan Ayah yang penuh


dengan keraguan hingga tidak berani mengakui


keberadaan nya selama ini.!"


"Aku tidak pernah tidak mengakuinya. Dia hanya berada jauh dari jangkauan ku, demi keamanan


dan kenyamanan nya. Sampai akhirnya semua


itu lenyap begitu Underground devil masuk ke


dalam kehidupannya.!"


"Sungguh mengherankan..Sekelas Jenderal


Serkan yang menggetarkan masih memilki


rasa takut terhadap musuh.!"


"Kau akan merasakannya nanti saat keturunan


mu lahir lalu menjerat jiwa mu dengan segala


kekhawatiran dan ketakutan akan keselamatan


nya.!"


"Ayah.. Aaron... sudah hentikan..!"


Raya kembali menghentikan langkahnya. Dia


menarik napas dalam-dalam. Serkan dan Aaron


tampak meluruskan pandangan mereka dengan


ekspresi wajah datar dan dingin.


"Alex...Mr Murat..! Tolong tangani mereka.!"


Raya menatap dua bawahan Aaron dan Serkan


yang langsung mendongakkan kepala terkejut,


lalu saling lirik dan meringis dengan ekspresi


wajah aneh tak tergambarkan.


"Maafkan kami Princess Emeera.."


Sahut mereka sambil menundukkan kepala


dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam.


Jadi tolong..berdirilah di atas kedudukan kalian


masing-masing yang sangat tinggi itu."


Lirih Raya sambil kemudian kembali melangkah


tenang. Aaron dan Serkan menyeringai tipis, lalu


melangkah kembali dengan segala kharisma


dan pembawaan yang sama-sama mumpuni.


Tapi anehnya, di depan seorang Maharaya..


keduanya seolah melupakan jati diri.


Alex dan Murat memang tidak heran, walaupun


Serkan adalah guru Aaron, tapi pada prakteknya


mereka lebih tepat seperti saingan. Setiap kali


bertemu selalu saja ada perdebatan seru yang


tidak jarang juga berujung pertempuran. Tapi


sejatinya Aaron sangat menghormati serta


mengagumi gurunya itu.


Tiba di ruang khusus perjamuan mereka sudah


di nanti oleh Raja Williams yang di dampingi


Ratu Virginia, lalu ada perdana menteri Alfred


dan juga..lady Catharina yang membuat Aaron


dan Serkan menajamkan mata mereka. Raja dan


Ratu serta perdana mentri tampak menyambut kedatangan Jenderal Serkan di tengah ruangan dengan pakaian dan gaya yang sangat simpatik. Terlihat sekali kalau ketiganya sangat antusias


dengan kedatangan tokoh dunia yang sangat di


segani itu.


Aaron menggenggam erat tangan Raya seolah


ingin memperlihatkan kepemilikannya terhadap


wanita itu sekaligus menegaskan posisi hatinya


ada dimana saat ini. Wajah Catharina tampak memerah melihat bagaimana perlakuan Aaron terhadap Raya yang sudah tidak di tutup-tutupi


lagi dan sengaja memperlihatkan kalau mereka berdua memang memiliki hubungan khusus.


"Selamat datang Yang Mulya Prince Ahmed.."


Raja Williams memberi salam penghormatan


dengan menundukkan kepala sedikit di hadapan


Serkan di ikuti oleh Ratu Virginia, Perdana Mentri


serta semua orang yang ada di sana. Aaron dan


Raya berdiri di belakang Serkan, menatap datar orang-orang yang sedang menundukkan kepala itu.


"Terimakasih atas sambutannya Yang Mulya


Raja Williams.!"


Serkan membalas dengan menundukkan kepala


sedikit sambil tersenyum tenang. Tidak lama


Raja dan Jenderal Serkan saling berjabat tangan


sambil menghadap kearah para wartawan istana


yang dari tadi sudah menghujani mereka semua dengan kilatan dan jepretan kamera.


Aaron dan Raya maju ke hadapan Raja dan Ratu


yang menatap keduanya dengan sorot mata tidak


terbaca, tapi raut wajah mereka tampak dingin.


"Selamat malam Yang Mulya Raja dan Ratu.."


Raya lah yang menyapa keduanya dengan


suara yang sangat lembut dan halus seraya


membungkukkan badan dengan gestur yang


terlihat anggun dan luwes.


"Selamat malam Miss sekretaris.!"


Sahut Ratu Virginia, matanya tampak menatap keseluruhan diri Raya dengan seksama seolah


sedang menilai bahwa wanita yang telah berani


menyatakan diri saling mencintai dengan putra


nya itu cukup layak untuk Putra Mahkota.


Di lihat dari segi fisik wanita ini memang jauh


lebih unggul dari Catharina, dia memiliki banyak


kelebihan yang terlihat dari aura terang yang


keluar dari dirinya. Tapi..urusan pendamping


hidup seorang Putra Mahkota tidak lah hanya


terbatas pada urusan fisik semata..


"Jadi.. Putra Mahkota..kau sampai memohon


bantuan Yang Mulya Prince Ahmed hanya


untuk membebaskan sekertaris mu dari


kurungan.? Ini sungguh memalukan.!"


Raja Williams berucap pedas dengan raut wajah


yang semakin dingin. Serkan dan Aaron saling


melihat sesaat, lalu menyeringai tipis.


"Tidak ada salahnya saya sedikit membantu


Prince Marvell untuk mendapatkan keinginan


nya saudaraku Raja Williams.."


Serkan berucap tenang dan tegas membuat


Raja Williams terdiam lalu tersenyum tipis.


"Saya benar-benar minta maaf atas kejadian


yang sangat memalukan ini jenderal, ini semua


terjadi di luar kendali. Putra saya memang

__ADS_1


sedikit sulit untuk di fahami."


Ucap Raja Williams sambil kemudian melangkah


tenang bersama Serkan menuju ruangan khusus


tempat menerima tamu negara di ikuti perdana


menteri Alfred dan para petinggi istana.


Pemimpin negara xxx.. itu terlihat begitu senang


sekaligus merasa tidak percaya bahwa Serkan berkunjung ke negaranya secara mendadak


seperti ini. Dia menarik kesimpulan bahwa


kedatangan Serkan ke Mabes kesatuan adalah


atas permintaan Putra Mahkota karena tidak


bisa membebaskan sekretaris nya, makanya dia menggunakan kekuasaan dan nama besar Serkan untuk menggugurkan Titah dirinya yang tidak


bisa di tentang oleh Aaron. Dasar memalukan.!


Wajah Catharina sudah terlihat memerah begitu


melihat kearah Aaron yang menggandeng mesra


Raya. Dia benar-benar merasa terhina, semua ini


tidak bisa di terima olehnya. Pasangan itu dengan


jelas dan nyata memperlihatkan kemesraan di


depan matanya.


"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota..


Selamat malam Miss Maharaya.."


Sambut Catharina seraya membungkukkan


badan dengan gestur tubuh yang sangat halus.


"Selamat malam Lady Catharina.."


Raya balas membungkuk dengan gestur yang


lebih anggun dan elegan. Ratu Virginia menatap


kedua wanita yang sama-sama memiliki peluang


untuk menjadi pendamping Putra nya itu. Namun


tetap saja aura dan kharisma yang di miliki oleh


Raya tidak bisa di imbangi oleh Catharina. Dan


sekarang ini aura terang yang terpancar dari


sosok nya tampak semakin kuat. Ratu Virginia


bersama Aaron dan yang lainnya melangkah


tenang mengikuti rombongan Raja Williams


yang sudah masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan Jenderal.. Kami sangat senang anda


bisa berkunjung ke istana ini."


Raja Williams mempersilahkan Serkan ketika


mereka tiba di ruang pertemuan khusus dimana


di sana sudah ada kursi yang saling berhadapan dengan meja marmer panjang di tengahnya. Dan


di sana ternyata sudah ada Arthur serta Arabella


yang terlihat terkesima sesaat begitu melihat


kemunculan Serkan sebelum akhirnya mereka


berdua membungkukkan badan penuh hormat.


Arthur sangat mengenal siapa itu Serkan di dunia


bawah tanah selain sebagai Jenderal besar di


negara xx..dan juga keturunan ketiga dari klan


Sultan Sulaiman.


"Terimakasih saudara ku.. Tidak perlu terlalu


resmi dan berlebihan."


Serkan berucap dengan suara dan ekspresi


wajah yang sangat tenang bak air di kolam. Dia kemudian duduk di sebelah kiri kursi Sang Raja


berhadapan dengan Ratu, lalu Aaron duduk di sebelahnya. Mata mereka berdua kini menatap


kearah Raya yang masih berdiri tegak.


"Duduklah..apa yang kau tunggu.?"


Aaron menarik tangan Raya yang terlihat ragu


untuk duduk. Mata mereka saling pandang,


Aaron tampak menautkan alisnya.


"Duduklah Miss Secretary.. malam ini posisimu


bukan sebagai sekretaris pribadi Putra Mahkota, melainkan sebagai wanita yang sudah berani


menyatakan diri mencintai Pangeran.."


Raja Williams berucap tegas dan sedikit pedas.


Raya langsung membungkukkan badan sedikit


dengan wajah yang memerah seluruhnya.


"Terimakasih Yang Mulya.. Mohon maafkan


segala kelancangan saya."


Sahut Raya lembut sambil kemudian bergerak


duduk di samping Aaron yang masih menatap


nya dengan lekat. Serkan memperhatikan raut


wajah Putrinya nya dengan reaksi tetap tenang


walaupun ada gejolak di dalam dadanya.


Catharina yang duduk di sebelah perdana menteri


dan berhadapan tepat dengan Raya kini menatap


tajam kearah Raya yang masih saling menatap


kini seakan meradang. Rasanya dia tidak akan


bisa bersabar lagi melihat semua kenyataan yang


ada di depan matanya itu. Apalagi yang bisa dia dapatkan sekarang dari hati Aaron.? Mungkin dia hanya akan mendapatkan kedudukan sebagai pendamping lahirnya saja, tapi tidak dengan hatinya.


***


Pembicaraan mengenai urusan negara dan


keamanan dunia sudah berlangsung sekitar


satu jam antara Raja Williams, Jenderal Serkan,


perdana menteri Alfred dan juga Aaron yang


hanya sesekali saja menimpali. Sementara yang


lain berperan sebagai pendengar setia dan


tidak di perkenankan untuk menginterupsi.


"Jadi Yang Mulya Prince Ahmed..Maksud saya mengundang anda datang ke istana sebenarnya


sebagai orang tua dari Prince Marvell saya mohon maaf karena putra saya telah merepotkan anda


sampai harus datang ke negara kami hanya untuk urusan yang tidak ada hubungannya dengan anda,


ini benar-benar sangat memalukan.!"


Raja Williams melanjutkan pembicaraan pada hal


yang lebih pribadi menyangkut masalah tadi siang


sambil menikmati minuman yang di sajikan secara


berurutan oleh para pelayan istana.


"Saya datang ke negara ini memang sengaja


karena ada seseorang yang membutuhkan


kehadiran saya saudaraku Raja Williams.."


Serkan berucap tenang kemudian meneguk


minumannya dengan gaya yang terlihat begitu


elegan membuat sebagian mata tampak jatuh


terpesona pada kharisma nya termasuk dengan


Ratu Virginia dan Arabella. Raja Williams tampak


tersenyum tipis penuh rasa tidak enak hati.


"Saya mengerti Jenderal, maafkan kebodohan


Putra kami. Anda tentu tahu apa yang sedang


kami alami sekarang ini. Kami sangat malu


karena anda harus mengetahui semua ini."


"Tidak apa-apa. Anggap saja saya memang


pantas untuk ikut terlibat di dalam masalah ini."


Raja Williams sedikit menautkan alisnya, dia


tidak menyangka kalau Aaron dan Serkan punya


kedekatan yang cukup mendalam. Sementara


Aaron tampak terdiam, duduk tenang sambil


tidak lepas menggengam erat tangan Raya


yang mulai terasa sedikit membeku. Dia tampak santai, memperhatikan interaksi antara Sang


Raja dengan ayah mertuanya itu. Sedang sorot


mata Catharina justru semakin terlihat tidak


nyaman melihat kemesraan yang di perlihatkan


oleh Aaron, dan sang ayah Alfred Winston


tampaknya faham betul dengan situasi hati


putri kesayangannya itu.


"Saya benar-benar tidak menduga kalau Prince


Marvell sampai sejauh ini melibatkan anda.."


Kembali terdengar suara Raja Williams dengan


nada penyesalan yang dalam.


"Mohon maaf Yang Mulya Raja, aku tidak pernah


meminta Jendral Serkan untuk datang ke negara


ini, beliau sendiri yang berinisiatif untuk datang.


Itu semua dia lakukan semata-mata hanya untuk


memenuhi segala kewajibannya !"


Kali ini Aaron lah yang mengeluarkan suara.


Raja Williams dan Ratu Virginia serta semua


orang yang ada di ruangan itu tampak terkejut.


Tatapan Alfred Winston kini mengarah terfokus


pada sosok sang jenderal besar lalu berpaling


pada Aaron yang terlihat santai.


"Putra Mahkota.. situasi keamanan negara saat


ini sedang tidak kondusif. Sebaiknya turunkan


sedikit ego mu demi keutuhan negara. Tidak


layak rasanya kalau anda melibatkan orang luar


untuk urusan asmara mu dengan sekretarismu


yang tidak jelas asal usulnya itu !"


Alfred Winston mengeluarkan suara dengan nada


yang sedikit meninggi. Rasanya dia sudah tidak


bisa berdiam diri lagi melihat ulah Putra Mahkota


yang seolah tidak menghargai kehadiran Putri nya


dan malah asik mengumbar kemesraan dengan

__ADS_1


sekertaris rendahan nya itu.


"Tuan perdana Mentri..Jenderal Serkan tidak memerlukan undangan ku untuk datang ke sini.


Dia memiliki alasan tersendiri."


"Putra Mahkota.. jaga lidahmu.! Jangan mencari


alasan untuk menutupi sikap arogan mu.!"


Raja Williams tampak mulai terpancing emosi


nya. Dia menatap marah kearah Aaron dengan


raut wajah yang terlihat mulai mengeras.


"Aku tidak mengada-ada.! Kalian juga sudah


bertindak gegabah dengan membawa serta


mengasingkan sekretaris ku !"


"Semua itu di lakukan atas pertimbangan yang


sudah di sepakati semua pihak. Kebersamaan


kalian hanya akan memicu konflik yang semakin


besar dan keutuhan negara di pertaruhkan.!"


"Aku mencintainya.. apakah itu sesuatu yang


salah.? "


Raja dan Ratu langsung membeku di tempat.


Mata mereka menatap tidak percaya dengan


apa yang barusan di dengarnya. Aaron.. putra


mereka yang seperti gunung es mengatakan


kalau dia mencintai seorang wanita.? Semua


ini benar-benar di luar dugaan. Sementara


Catharina langsung syok, dan perdana Mentri


Alfred Winston terbakar emosi. Lain lagi dengan Arthur dan Arabella, mereka berdua tampak


saling melihat dan mengulas senyum.


Serkan terdiam, reaksi wajahnya tampak datar.


Namun tatapannya kini berubah semakin tajam.


Raja Williams beralih menatap Raya yang kini


menundukkan kepala sambil memejamkan


mata nya kuat.


"Kau melupakan kedudukan mu hanya karena


seorang sektretaris biasa, apa yang ada dalam


pikiranmu sebenarnya.?"


Raja Williams tampak terbakar emosi. Raya


semakin menundukkan kepalanya, sementara


genggaman tangan Aaron semakin kuat. Wajah


Aaron tampak berubah keras dengan tatapan


yang mulai menyala. Sedang Serkan masih saja


terlihat tenang dan santai, menonton perdebatan


kedua ayah dan anak itu.


"Yang Mulya Raja.. jangan melupakan satu hal


bahwa wanita yang ada di sampingku ini adalah


seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku


saat ini..!"


"Aaron.. cukup.! Jangan menentang ayahmu


lagi. Kita sedang ada tamu. Ini sungguh sangat


memalukan.!"


Ratu Virginia kini mengeluarkan suara dengan


wajah yang terlihat memerah karena emosi dan


juga menahan malu atas perdebatan ini yang


terjadi di depan seorang Serkan.


"Maafkan kami Prince Ahmed..!"


Raja Williams melirik kearah Serkan dengan


wajah yang terlihat sangat tidak nyaman.


"Lanjutkan saja.. Secara tidak langsung aku


sudah masuk dan terlibat dalam masalah ini."


Raja Williams tampak benar-benar malu. Dia


menarik napas dalam-dalam mencoba untuk


menenangkan dirinya.


"Putra Mahkota.. kami sudah memutuskan


bahwa pernikahan mu dengan Lady Catharina


akan di percepat, satu bulan lagi kalian akan


segera melangsungkan pernikahan.!"


Tegas Raja Williams dengan penuh penekanan.


Aaron dan Raya tampak terkejut. Mereka saling melirik, wajah Raya tampak memucat, namun


wajah Aaron kini terlihat kelam.


"Dari awal aku tidak pernah menerima semua


agenda istana ini. Jadi aku tegaskan, aku tidak


akan pernah menerima kehadiran Catharina di


dalam kehidupanku.!"


"Aaron..!! Aku perintahkan..Lepaskan wanita


tidak berguna itu atau kau akan kehilangan segalanya..!!"


Wajah Aaron tampak semakin kelam, sorot


matanya kini menyala penuh amarah dan rasa


tidak terima dengan semua perkataan Raja.


Dia bangkit dari duduknya di ikuti oleh Raya.


Genggaman tangannya kini semakin kuat.


"Aku tidak akan pernah melepaskan nya. Tapi


sebaliknya..Aku akan melepaskan seluruh dunia


hanya untuk mempertahankan keberadaan nya


di sisiku. Harta, tahta, kedudukan.. semuanya


akan aku letakkan hanya agar dia tetap di sisiku.


Karena..dia adalah istriku.. milikku..!!"


Jleb.!


Semua orang tercengang, seperti tersambar


petir di siang bolong. Wajah Raja dan Ratu serta


perdana menteri dan Catharina langsung saja


memutih dalam sekejap.


Raya langsung memeluk erat tubuh Aaron dan


menyusupkan wajahnya tidak kuasa menahan


tekanan bathin yang kini mengoyak jiwanya.


Dan kali ini Serkan tidak bisa berdiam diri lagi.


Dia berdiri, menatap tajam wajah-wajah yang


masih bengong itu.


"A-apa..?? di-dia istri mu.??"


Ratu Virginia bertanya dengan suara yang


sangat bergetar karena kelewat syok.


"Benar Yang Mulya Ratu..Mereka adalah suami


istri. Seandainya kalian bijaksana..biarkan rakyat


yang menentukan pilihannya, siapa yang lebih


baik dan lebih layak mendampingi Pangeran


di masa depan.!"


Serkan berucap tegas dengan ekspresi wajah


yang kini telah merubah pada seorang Jenderal


Serkan yang menyeramkan. Semua orang kini


berdiri masih mencoba menenangkan diri. Raja


menatap tajam kearah Aaron yang sedang


memeluk erat tubuh Raya .


"Pilihan rakyat sudah jelas Jenderal.. Seorang


calon Ratu masa depan harus jelas bibit, bebet


dan bobot nya serta semua asal usulnya. Dia


harus memiliki darah bangsawan dan keturunan


yang berkualitas, tidak bisa asal wanita yang


telah di ambil dari tempat yang tidak jelas.!"


"Ohh jadi begitu..ketahuilah saudara ku..wanita


yang kalian anggap rendahan dan tidak berguna


itu adalah Putri kandungku. Di dalam tubuh nya


mengalir darah ku. Dia adalah putri agung dari


klan Sulaiman. Princess Maharaya Emeera As


Syaf Sulaiman.!"


Tegas Serkan dengan nada suara yang sangat


berat karena sudah tidak bisa mengendalikan


emosi jiwanya lagi.


Semua orang membeku, kembali tercengang.


Tubuh Raja Williams gemetar, sementara Ratu


Virginia terduduk lemas kehilangan tenaganya.


Sedang yang lain mundur dengan tubuh yang


limbung. Perdana menteri Alfred mengepalkan tinjunya dengan tubuh bergetar. Tidak, ini pasti


tidak benar.! Semua orang tahu jenderal Serkan


tidak memilki keturunan, lalu bagaimana bisa.?


"Sayang sekali aku tenyata memilki besan yang


tidak bisa menilai dan melihat kelebihan serta


keistimewaan seseorang.. Anda terlalu kaku


Saudara ku Raja Williams.."


Ujar Serkan kemudian dengan seringai tipis.


Raja Williams terduduk lemas, kepalanya kini


menunduk dengan mata terpejam. Maharaya


adalah putrinya Jenderal Serkan.? Jadi pria


berpengaruh ini datang ke sini semata-mata


untuk membebaskan putrinya.?


Princess Agung As Syaf Sulaiman.? Ini adalah


mimpi..ini benar-benar sesuatu yang terlalu


mengejutkan hingga dirinya seolah kehilangan separuh jiwanya..


*****

__ADS_1


__ADS_2