
***
Mereka bertiga tampak berjalan tenang penuh kharisma dan aura kehadiran yang teramat kuat membuat semua pelayan dan penjaga istana terkesima di buatnya begitu melihat kedatangan ketiganya. Kepala staf istana dengan sungkan membimbing langkah mereka menuju ruang
yang sudah di persiapkan yang berjarak cukup
jauh dari pintu utama istana.
"Apa yang kau inginkan sekarang Pangeran.?"
Serkan berbicara sambil berjalan tenang di
samping kanan Raya. Aaron melirik sekilas
kearah Serkan dengan ekspresi wajah datar.
"Aku menginginkan yang terbaik untuk masa
depan putri mu.!"
Serkan menyeringai tipis mendengar ucapan
Aaron yang terkesan santai namun dalam. Di
belakang mereka para bawahan mengawal
langkah ketiganya dengan gagah di sertai
tampang wajah yang terlihat keras dan tegas
serta di selubungi aura intimidasi yang kuat.
Serkan memegang tangan Raya lalu menariknya
ke arah dirinya. Aaron langsung bereaksi, dia
segera menggenggam tangan kiri Raya dan
menariknya kearahnya.
"Ayah.. Aaron.. kumohon..! Kalian bukan anak
kecil lagi. Dan sadari juga siapa kalian ini.!"
Raya menghentikan langkah sambil melepas
pegangan tangan kedua orang pria yang tiba-
tiba aneh itu. Wajahnya terlihat gerah dengan
ekspresi kesal sekaligus geli. Serkan dan Aaron
saling lirik, saling menatap kuat.
"Dia adalah milikku ! Kau baru muncul hari ini,
tapi tingkahmu seolah kau adalah penguasa
hidupnya selama ini.!"
Desis Aaron dengan wajah yang terlihat sinis
dan kesal setengah mati. Mereka kembali lagi
berjalan, Raya melangkah di depan sementara
dua orang pria aneh itu berjalan di belakang.
Para staf istana hanya bisa terdiam di tengah
keterkejutan mendengar isi perdebatan mereka.
Miss sekretaris memanggil Jenderal Serkan
dengan sebutan ayah..?? Ada apa ini.??
"Aku memang penguasa kehidupannya. Kalau
bukan karena aku, istrimu ini tidak akan ada
di dunia ini Pangeran.!"
"Ohhh.. jadi sekarang kau berbicara masalah hak
dan kepemilikan. Kau bahkan Ayah yang penuh
dengan keraguan hingga tidak berani mengakui
keberadaan nya selama ini.!"
"Aku tidak pernah tidak mengakuinya. Dia hanya berada jauh dari jangkauan ku, demi keamanan
dan kenyamanan nya. Sampai akhirnya semua
itu lenyap begitu Underground devil masuk ke
dalam kehidupannya.!"
"Sungguh mengherankan..Sekelas Jenderal
Serkan yang menggetarkan masih memilki
rasa takut terhadap musuh.!"
"Kau akan merasakannya nanti saat keturunan
mu lahir lalu menjerat jiwa mu dengan segala
kekhawatiran dan ketakutan akan keselamatan
nya.!"
"Ayah.. Aaron... sudah hentikan..!"
Raya kembali menghentikan langkahnya. Dia
menarik napas dalam-dalam. Serkan dan Aaron
tampak meluruskan pandangan mereka dengan
ekspresi wajah datar dan dingin.
"Alex...Mr Murat..! Tolong tangani mereka.!"
Raya menatap dua bawahan Aaron dan Serkan
yang langsung mendongakkan kepala terkejut,
lalu saling lirik dan meringis dengan ekspresi
wajah aneh tak tergambarkan.
"Maafkan kami Princess Emeera.."
Sahut mereka sambil menundukkan kepala
dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam.
Jadi tolong..berdirilah di atas kedudukan kalian
masing-masing yang sangat tinggi itu."
Lirih Raya sambil kemudian kembali melangkah
tenang. Aaron dan Serkan menyeringai tipis, lalu
melangkah kembali dengan segala kharisma
dan pembawaan yang sama-sama mumpuni.
Tapi anehnya, di depan seorang Maharaya..
keduanya seolah melupakan jati diri.
Alex dan Murat memang tidak heran, walaupun
Serkan adalah guru Aaron, tapi pada prakteknya
mereka lebih tepat seperti saingan. Setiap kali
bertemu selalu saja ada perdebatan seru yang
tidak jarang juga berujung pertempuran. Tapi
sejatinya Aaron sangat menghormati serta
mengagumi gurunya itu.
Tiba di ruang khusus perjamuan mereka sudah
di nanti oleh Raja Williams yang di dampingi
Ratu Virginia, lalu ada perdana menteri Alfred
dan juga..lady Catharina yang membuat Aaron
dan Serkan menajamkan mata mereka. Raja dan
Ratu serta perdana mentri tampak menyambut kedatangan Jenderal Serkan di tengah ruangan dengan pakaian dan gaya yang sangat simpatik. Terlihat sekali kalau ketiganya sangat antusias
dengan kedatangan tokoh dunia yang sangat di
segani itu.
Aaron menggenggam erat tangan Raya seolah
ingin memperlihatkan kepemilikannya terhadap
wanita itu sekaligus menegaskan posisi hatinya
ada dimana saat ini. Wajah Catharina tampak memerah melihat bagaimana perlakuan Aaron terhadap Raya yang sudah tidak di tutup-tutupi
lagi dan sengaja memperlihatkan kalau mereka berdua memang memiliki hubungan khusus.
"Selamat datang Yang Mulya Prince Ahmed.."
Raja Williams memberi salam penghormatan
dengan menundukkan kepala sedikit di hadapan
Serkan di ikuti oleh Ratu Virginia, Perdana Mentri
serta semua orang yang ada di sana. Aaron dan
Raya berdiri di belakang Serkan, menatap datar orang-orang yang sedang menundukkan kepala itu.
"Terimakasih atas sambutannya Yang Mulya
Raja Williams.!"
Serkan membalas dengan menundukkan kepala
sedikit sambil tersenyum tenang. Tidak lama
Raja dan Jenderal Serkan saling berjabat tangan
sambil menghadap kearah para wartawan istana
yang dari tadi sudah menghujani mereka semua dengan kilatan dan jepretan kamera.
Aaron dan Raya maju ke hadapan Raja dan Ratu
yang menatap keduanya dengan sorot mata tidak
terbaca, tapi raut wajah mereka tampak dingin.
"Selamat malam Yang Mulya Raja dan Ratu.."
Raya lah yang menyapa keduanya dengan
suara yang sangat lembut dan halus seraya
membungkukkan badan dengan gestur yang
terlihat anggun dan luwes.
"Selamat malam Miss sekretaris.!"
Sahut Ratu Virginia, matanya tampak menatap keseluruhan diri Raya dengan seksama seolah
sedang menilai bahwa wanita yang telah berani
menyatakan diri saling mencintai dengan putra
nya itu cukup layak untuk Putra Mahkota.
Di lihat dari segi fisik wanita ini memang jauh
lebih unggul dari Catharina, dia memiliki banyak
kelebihan yang terlihat dari aura terang yang
keluar dari dirinya. Tapi..urusan pendamping
hidup seorang Putra Mahkota tidak lah hanya
terbatas pada urusan fisik semata..
"Jadi.. Putra Mahkota..kau sampai memohon
bantuan Yang Mulya Prince Ahmed hanya
untuk membebaskan sekertaris mu dari
kurungan.? Ini sungguh memalukan.!"
Raja Williams berucap pedas dengan raut wajah
yang semakin dingin. Serkan dan Aaron saling
melihat sesaat, lalu menyeringai tipis.
"Tidak ada salahnya saya sedikit membantu
Prince Marvell untuk mendapatkan keinginan
nya saudaraku Raja Williams.."
Serkan berucap tenang dan tegas membuat
Raja Williams terdiam lalu tersenyum tipis.
"Saya benar-benar minta maaf atas kejadian
yang sangat memalukan ini jenderal, ini semua
terjadi di luar kendali. Putra saya memang
__ADS_1
sedikit sulit untuk di fahami."
Ucap Raja Williams sambil kemudian melangkah
tenang bersama Serkan menuju ruangan khusus
tempat menerima tamu negara di ikuti perdana
menteri Alfred dan para petinggi istana.
Pemimpin negara xxx.. itu terlihat begitu senang
sekaligus merasa tidak percaya bahwa Serkan berkunjung ke negaranya secara mendadak
seperti ini. Dia menarik kesimpulan bahwa
kedatangan Serkan ke Mabes kesatuan adalah
atas permintaan Putra Mahkota karena tidak
bisa membebaskan sekretaris nya, makanya dia menggunakan kekuasaan dan nama besar Serkan untuk menggugurkan Titah dirinya yang tidak
bisa di tentang oleh Aaron. Dasar memalukan.!
Wajah Catharina sudah terlihat memerah begitu
melihat kearah Aaron yang menggandeng mesra
Raya. Dia benar-benar merasa terhina, semua ini
tidak bisa di terima olehnya. Pasangan itu dengan
jelas dan nyata memperlihatkan kemesraan di
depan matanya.
"Selamat malam Yang Mulya Putra Mahkota..
Selamat malam Miss Maharaya.."
Sambut Catharina seraya membungkukkan
badan dengan gestur tubuh yang sangat halus.
"Selamat malam Lady Catharina.."
Raya balas membungkuk dengan gestur yang
lebih anggun dan elegan. Ratu Virginia menatap
kedua wanita yang sama-sama memiliki peluang
untuk menjadi pendamping Putra nya itu. Namun
tetap saja aura dan kharisma yang di miliki oleh
Raya tidak bisa di imbangi oleh Catharina. Dan
sekarang ini aura terang yang terpancar dari
sosok nya tampak semakin kuat. Ratu Virginia
bersama Aaron dan yang lainnya melangkah
tenang mengikuti rombongan Raja Williams
yang sudah masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan Jenderal.. Kami sangat senang anda
bisa berkunjung ke istana ini."
Raja Williams mempersilahkan Serkan ketika
mereka tiba di ruang pertemuan khusus dimana
di sana sudah ada kursi yang saling berhadapan dengan meja marmer panjang di tengahnya. Dan
di sana ternyata sudah ada Arthur serta Arabella
yang terlihat terkesima sesaat begitu melihat
kemunculan Serkan sebelum akhirnya mereka
berdua membungkukkan badan penuh hormat.
Arthur sangat mengenal siapa itu Serkan di dunia
bawah tanah selain sebagai Jenderal besar di
negara xx..dan juga keturunan ketiga dari klan
Sultan Sulaiman.
"Terimakasih saudara ku.. Tidak perlu terlalu
resmi dan berlebihan."
Serkan berucap dengan suara dan ekspresi
wajah yang sangat tenang bak air di kolam. Dia kemudian duduk di sebelah kiri kursi Sang Raja
berhadapan dengan Ratu, lalu Aaron duduk di sebelahnya. Mata mereka berdua kini menatap
kearah Raya yang masih berdiri tegak.
"Duduklah..apa yang kau tunggu.?"
Aaron menarik tangan Raya yang terlihat ragu
untuk duduk. Mata mereka saling pandang,
Aaron tampak menautkan alisnya.
"Duduklah Miss Secretary.. malam ini posisimu
bukan sebagai sekretaris pribadi Putra Mahkota, melainkan sebagai wanita yang sudah berani
menyatakan diri mencintai Pangeran.."
Raja Williams berucap tegas dan sedikit pedas.
Raya langsung membungkukkan badan sedikit
dengan wajah yang memerah seluruhnya.
"Terimakasih Yang Mulya.. Mohon maafkan
segala kelancangan saya."
Sahut Raya lembut sambil kemudian bergerak
duduk di samping Aaron yang masih menatap
nya dengan lekat. Serkan memperhatikan raut
wajah Putrinya nya dengan reaksi tetap tenang
walaupun ada gejolak di dalam dadanya.
Catharina yang duduk di sebelah perdana menteri
dan berhadapan tepat dengan Raya kini menatap
tajam kearah Raya yang masih saling menatap
kini seakan meradang. Rasanya dia tidak akan
bisa bersabar lagi melihat semua kenyataan yang
ada di depan matanya itu. Apalagi yang bisa dia dapatkan sekarang dari hati Aaron.? Mungkin dia hanya akan mendapatkan kedudukan sebagai pendamping lahirnya saja, tapi tidak dengan hatinya.
***
Pembicaraan mengenai urusan negara dan
keamanan dunia sudah berlangsung sekitar
satu jam antara Raja Williams, Jenderal Serkan,
perdana menteri Alfred dan juga Aaron yang
hanya sesekali saja menimpali. Sementara yang
lain berperan sebagai pendengar setia dan
tidak di perkenankan untuk menginterupsi.
"Jadi Yang Mulya Prince Ahmed..Maksud saya mengundang anda datang ke istana sebenarnya
sebagai orang tua dari Prince Marvell saya mohon maaf karena putra saya telah merepotkan anda
sampai harus datang ke negara kami hanya untuk urusan yang tidak ada hubungannya dengan anda,
ini benar-benar sangat memalukan.!"
Raja Williams melanjutkan pembicaraan pada hal
yang lebih pribadi menyangkut masalah tadi siang
sambil menikmati minuman yang di sajikan secara
berurutan oleh para pelayan istana.
"Saya datang ke negara ini memang sengaja
karena ada seseorang yang membutuhkan
kehadiran saya saudaraku Raja Williams.."
Serkan berucap tenang kemudian meneguk
minumannya dengan gaya yang terlihat begitu
elegan membuat sebagian mata tampak jatuh
terpesona pada kharisma nya termasuk dengan
Ratu Virginia dan Arabella. Raja Williams tampak
tersenyum tipis penuh rasa tidak enak hati.
"Saya mengerti Jenderal, maafkan kebodohan
Putra kami. Anda tentu tahu apa yang sedang
kami alami sekarang ini. Kami sangat malu
karena anda harus mengetahui semua ini."
"Tidak apa-apa. Anggap saja saya memang
pantas untuk ikut terlibat di dalam masalah ini."
Raja Williams sedikit menautkan alisnya, dia
tidak menyangka kalau Aaron dan Serkan punya
kedekatan yang cukup mendalam. Sementara
Aaron tampak terdiam, duduk tenang sambil
tidak lepas menggengam erat tangan Raya
yang mulai terasa sedikit membeku. Dia tampak santai, memperhatikan interaksi antara Sang
Raja dengan ayah mertuanya itu. Sedang sorot
mata Catharina justru semakin terlihat tidak
nyaman melihat kemesraan yang di perlihatkan
oleh Aaron, dan sang ayah Alfred Winston
tampaknya faham betul dengan situasi hati
putri kesayangannya itu.
"Saya benar-benar tidak menduga kalau Prince
Marvell sampai sejauh ini melibatkan anda.."
Kembali terdengar suara Raja Williams dengan
nada penyesalan yang dalam.
"Mohon maaf Yang Mulya Raja, aku tidak pernah
meminta Jendral Serkan untuk datang ke negara
ini, beliau sendiri yang berinisiatif untuk datang.
Itu semua dia lakukan semata-mata hanya untuk
memenuhi segala kewajibannya !"
Kali ini Aaron lah yang mengeluarkan suara.
Raja Williams dan Ratu Virginia serta semua
orang yang ada di ruangan itu tampak terkejut.
Tatapan Alfred Winston kini mengarah terfokus
pada sosok sang jenderal besar lalu berpaling
pada Aaron yang terlihat santai.
"Putra Mahkota.. situasi keamanan negara saat
ini sedang tidak kondusif. Sebaiknya turunkan
sedikit ego mu demi keutuhan negara. Tidak
layak rasanya kalau anda melibatkan orang luar
untuk urusan asmara mu dengan sekretarismu
yang tidak jelas asal usulnya itu !"
Alfred Winston mengeluarkan suara dengan nada
yang sedikit meninggi. Rasanya dia sudah tidak
bisa berdiam diri lagi melihat ulah Putra Mahkota
yang seolah tidak menghargai kehadiran Putri nya
dan malah asik mengumbar kemesraan dengan
__ADS_1
sekertaris rendahan nya itu.
"Tuan perdana Mentri..Jenderal Serkan tidak memerlukan undangan ku untuk datang ke sini.
Dia memiliki alasan tersendiri."
"Putra Mahkota.. jaga lidahmu.! Jangan mencari
alasan untuk menutupi sikap arogan mu.!"
Raja Williams tampak mulai terpancing emosi
nya. Dia menatap marah kearah Aaron dengan
raut wajah yang terlihat mulai mengeras.
"Aku tidak mengada-ada.! Kalian juga sudah
bertindak gegabah dengan membawa serta
mengasingkan sekretaris ku !"
"Semua itu di lakukan atas pertimbangan yang
sudah di sepakati semua pihak. Kebersamaan
kalian hanya akan memicu konflik yang semakin
besar dan keutuhan negara di pertaruhkan.!"
"Aku mencintainya.. apakah itu sesuatu yang
salah.? "
Raja dan Ratu langsung membeku di tempat.
Mata mereka menatap tidak percaya dengan
apa yang barusan di dengarnya. Aaron.. putra
mereka yang seperti gunung es mengatakan
kalau dia mencintai seorang wanita.? Semua
ini benar-benar di luar dugaan. Sementara
Catharina langsung syok, dan perdana Mentri
Alfred Winston terbakar emosi. Lain lagi dengan Arthur dan Arabella, mereka berdua tampak
saling melihat dan mengulas senyum.
Serkan terdiam, reaksi wajahnya tampak datar.
Namun tatapannya kini berubah semakin tajam.
Raja Williams beralih menatap Raya yang kini
menundukkan kepala sambil memejamkan
mata nya kuat.
"Kau melupakan kedudukan mu hanya karena
seorang sektretaris biasa, apa yang ada dalam
pikiranmu sebenarnya.?"
Raja Williams tampak terbakar emosi. Raya
semakin menundukkan kepalanya, sementara
genggaman tangan Aaron semakin kuat. Wajah
Aaron tampak berubah keras dengan tatapan
yang mulai menyala. Sedang Serkan masih saja
terlihat tenang dan santai, menonton perdebatan
kedua ayah dan anak itu.
"Yang Mulya Raja.. jangan melupakan satu hal
bahwa wanita yang ada di sampingku ini adalah
seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku
saat ini..!"
"Aaron.. cukup.! Jangan menentang ayahmu
lagi. Kita sedang ada tamu. Ini sungguh sangat
memalukan.!"
Ratu Virginia kini mengeluarkan suara dengan
wajah yang terlihat memerah karena emosi dan
juga menahan malu atas perdebatan ini yang
terjadi di depan seorang Serkan.
"Maafkan kami Prince Ahmed..!"
Raja Williams melirik kearah Serkan dengan
wajah yang terlihat sangat tidak nyaman.
"Lanjutkan saja.. Secara tidak langsung aku
sudah masuk dan terlibat dalam masalah ini."
Raja Williams tampak benar-benar malu. Dia
menarik napas dalam-dalam mencoba untuk
menenangkan dirinya.
"Putra Mahkota.. kami sudah memutuskan
bahwa pernikahan mu dengan Lady Catharina
akan di percepat, satu bulan lagi kalian akan
segera melangsungkan pernikahan.!"
Tegas Raja Williams dengan penuh penekanan.
Aaron dan Raya tampak terkejut. Mereka saling melirik, wajah Raya tampak memucat, namun
wajah Aaron kini terlihat kelam.
"Dari awal aku tidak pernah menerima semua
agenda istana ini. Jadi aku tegaskan, aku tidak
akan pernah menerima kehadiran Catharina di
dalam kehidupanku.!"
"Aaron..!! Aku perintahkan..Lepaskan wanita
tidak berguna itu atau kau akan kehilangan segalanya..!!"
Wajah Aaron tampak semakin kelam, sorot
matanya kini menyala penuh amarah dan rasa
tidak terima dengan semua perkataan Raja.
Dia bangkit dari duduknya di ikuti oleh Raya.
Genggaman tangannya kini semakin kuat.
"Aku tidak akan pernah melepaskan nya. Tapi
sebaliknya..Aku akan melepaskan seluruh dunia
hanya untuk mempertahankan keberadaan nya
di sisiku. Harta, tahta, kedudukan.. semuanya
akan aku letakkan hanya agar dia tetap di sisiku.
Karena..dia adalah istriku.. milikku..!!"
Jleb.!
Semua orang tercengang, seperti tersambar
petir di siang bolong. Wajah Raja dan Ratu serta
perdana menteri dan Catharina langsung saja
memutih dalam sekejap.
Raya langsung memeluk erat tubuh Aaron dan
menyusupkan wajahnya tidak kuasa menahan
tekanan bathin yang kini mengoyak jiwanya.
Dan kali ini Serkan tidak bisa berdiam diri lagi.
Dia berdiri, menatap tajam wajah-wajah yang
masih bengong itu.
"A-apa..?? di-dia istri mu.??"
Ratu Virginia bertanya dengan suara yang
sangat bergetar karena kelewat syok.
"Benar Yang Mulya Ratu..Mereka adalah suami
istri. Seandainya kalian bijaksana..biarkan rakyat
yang menentukan pilihannya, siapa yang lebih
baik dan lebih layak mendampingi Pangeran
di masa depan.!"
Serkan berucap tegas dengan ekspresi wajah
yang kini telah merubah pada seorang Jenderal
Serkan yang menyeramkan. Semua orang kini
berdiri masih mencoba menenangkan diri. Raja
menatap tajam kearah Aaron yang sedang
memeluk erat tubuh Raya .
"Pilihan rakyat sudah jelas Jenderal.. Seorang
calon Ratu masa depan harus jelas bibit, bebet
dan bobot nya serta semua asal usulnya. Dia
harus memiliki darah bangsawan dan keturunan
yang berkualitas, tidak bisa asal wanita yang
telah di ambil dari tempat yang tidak jelas.!"
"Ohh jadi begitu..ketahuilah saudara ku..wanita
yang kalian anggap rendahan dan tidak berguna
itu adalah Putri kandungku. Di dalam tubuh nya
mengalir darah ku. Dia adalah putri agung dari
klan Sulaiman. Princess Maharaya Emeera As
Syaf Sulaiman.!"
Tegas Serkan dengan nada suara yang sangat
berat karena sudah tidak bisa mengendalikan
emosi jiwanya lagi.
Semua orang membeku, kembali tercengang.
Tubuh Raja Williams gemetar, sementara Ratu
Virginia terduduk lemas kehilangan tenaganya.
Sedang yang lain mundur dengan tubuh yang
limbung. Perdana menteri Alfred mengepalkan tinjunya dengan tubuh bergetar. Tidak, ini pasti
tidak benar.! Semua orang tahu jenderal Serkan
tidak memilki keturunan, lalu bagaimana bisa.?
"Sayang sekali aku tenyata memilki besan yang
tidak bisa menilai dan melihat kelebihan serta
keistimewaan seseorang.. Anda terlalu kaku
Saudara ku Raja Williams.."
Ujar Serkan kemudian dengan seringai tipis.
Raja Williams terduduk lemas, kepalanya kini
menunduk dengan mata terpejam. Maharaya
adalah putrinya Jenderal Serkan.? Jadi pria
berpengaruh ini datang ke sini semata-mata
untuk membebaskan putrinya.?
Princess Agung As Syaf Sulaiman.? Ini adalah
mimpi..ini benar-benar sesuatu yang terlalu
mengejutkan hingga dirinya seolah kehilangan separuh jiwanya..
*****
__ADS_1