
***
"Kondisinya sedikit lemah. Tapi tidak apa-apa.
Dia hanya butuh istirahat."
Alea mengakhiri pemeriksaan nya terhadap Raya
yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Aaron
menatap ragu kearah Raya yang terlihat pucat.
Dia masih terlihat khawatir dengan kondisi Raya.
Saat ini mereka sudah ada di dalam kamar.
Setelah kejadian yang cukup mengerikan tadi,
Aaron memutuskan untuk pulang ke hotel. Dia
juga akan mengadakan pertemuan dengan
pihak pengelola untuk menginterogasi mereka
karena telah lalai hingga peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu terjadi. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang telah bertindak
ceroboh hingga menyebabkan semua ini terjadi.
"Ijinkan aku memeriksa nya juga."
Rayen yang ikut masuk ke dalam kamar maju
mendekat dengan raut wajah tampak cemas.
"Apa kau sudah bosan hidup Tuan dokter.?"
Aaron menatap tajam wajah Rayen dengan
tangan terlipat santai di depan dadanya namun
sorot matanya tampak sangat berbisa. Rayen
melengoskan wajahnya dengan tampang
kecut dan tak berdaya.
"Jangan coba-coba menantang maut Tuan
Dokter kalau kau masih sayang nyawamu.!"
Alea menimpali sambil tersenyum miring.
Rayen menarik napas berat, menatap Raya
yang terlihat memejamkan matanya mencoba
untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.
"Aku benar-benar tidak menduga Pangeran
Aaron bisa bersikap seberingas ini kalau
segala sesuatunya menyangkut sang istri !"
Decak Rayen, melirik sinis kearah Aaron yang
berdiri tegak dengan mata tidak lepas menatap
dan mengamati kondisi Raya.
"Jangan banyak bicara, cepat urus masalah
pengobatan untuk Dirga. Kalau bisa hubungi
dia sekali lagi aku perlu bicara dengannya !"
"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya sebelum pulang agar kalian bisa bicara.!"
"Kapan rencananya kau kembali.?"
"Nanti sore, setelah Ansel datang kesini agar
aku bisa menggunakan pesawat nya untuk
pergi ke bandara.!"
"Baiklah ! Sekarang urus masalah obat yang
akan di gunakan untuk pengobatan pertama.!"
Tegas Aaron sambil mendekat kearah tempat
tidur saat Alea merapihkan peralatannya.
"Oke..sebentar lagi orang-orang itu akan datang.
Kita harus segera ke bawah untuk menemuinya.
Biarkan dia istirahat. Kondisi fisik dan psikisnya
cukup terganggu dengan kejadian tadi."
Alea berucap sambil berdiri setelah memastikan kondisi Raya sepenuhnya. Aaron naik ke atas
tempat tidur. Kemudian meraih tubuh Raya ke
dalam pelukannya tidak peduli pada Alea dan
Rayen yang masih berdiri di hadapannya.
"Kalian katakan pada Alex, aku akan segera
turun sebentar lagi.!"
Tegas Aaron sebagai isyarat agar mereka berdua
segera menyingkir. Dia memiringkan tubuhnya,
memeluk dan mengurung tubuh Raya. Alea dan
Rayen saling melirik lalu berdecak gerah melihat
apa yang di lakukan oleh Aaron. Tidak lama
keduanya melangkah pergi keluar dari kamar.
Aaron menatap tenang wajah cantik Raya yang
ada di depannya. Dirinya sedang berusaha
untuk menenangkan diri. Beberapa saat lalu,
dia hampir saja kehilangan wanita ini. Wanita
yang telah membuatnya gila setiap saat.
Maharaya..apa kau tidak tahu.. dirimu begitu
berarti dalam hidupku saat ini.? Apa yang akan
terjadi padaku kalau aku kehilanganmu tadi..
Aaron bergumam dalam hati. Dia menciumi
puncak kepala Raya penuh gejolak perasaan.
Dia benar-benar tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan wanita ini. Selain semua itu
dia juga masih memikirkan apa yang di lakukan
oleh Raya tadi. Dengan reflek dan tidak sadar
semua keistimewaan yang ada dalam tubuhnya
keluar dengan sendirinya pada saat dia ingin
melindungi dirinya. Apakah itu artinya dirinya
memiliki tempat istimewa dalam hati Raya.?
Menyadari ada sosok hangat di dekatnya, Raya membuka mata. Dia menggerakkan tubuhnya
mencoba keluar dari kurungan tubuh Aaron.
"Aaron..kau masih ada di sini.? Bukankah
kau akan menghadiri pertemuan di bawah ?"
Aaron melonggarkan pelukannya, mata mereka
bertemu, saling pandang dalam diam mencoba meresapi dan menelaah apa yang kini sedang memenuhi dada keduanya.
"Kenapa kau melakukan tindakan bodoh seperti
tadi ? Kau bisa kehilangan nyawa tadi.!"
"Aku hanya merasa bahwa kau berada dalam
bahaya tadi.!"
"Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.!"
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa diam saja. Kau
bukan dewa Aaron.. Apapun bisa terjadi di
luar kendali kita.!"
Aaron terdiam, perlahan dia mengangkat dagu
Raya hingga kini wajah mereka mendekat dan
saling bersentuhan.
"Jangan pernah membahayakan nyawamu
lagi Maharaya.. aku tidak ingin terjadi apapun
padamu dan calon anak kita."
Raya membeku. Mata mereka terpaut dalam di
penuhi oleh perasaan yang semakin membawa
Raya pada kemelut serta perdebatan bathin yang
begitu menyiksanya. Apapun yang terjadi, walau akhirnya kesakitan akan kembali menelan dirinya
dia harus mengetahui apa yang ada dalam hati
laki-laki ini sebenarnya. Apakah cintanya masih
tetap utuh untuk seorang Mayra.? Tidak adakah tempat di hatinya sedikit saja untuk dirinya ?
"Aku akan turun untuk pertemuan. Jangan lupa
makan siang dan istirahat. Nanti sore kita akan
mengunjungi Sky break.."
Aaron berucap dengan suara yang sangat pelan
dan tatapan yang semakin lekat. Perlahan dia
mengecup lembut kening Raya lama, kemudian
mendaratkan ciuman singkat di bibirnya. Untuk
sesaat dia kembali memeluk erat tubuh Raya
seolah berat untuk meninggalkan nya. Namun
ada seringai tipis yang tercipta di sudut bibirnya
sampai akhirnya dia melangkah pergi keluar
dari kamar meninggalkan Raya sendiri.
Raya menatap kepergian Aaron dengan sorot
mata yang sangat kompleks. Saat ini hati dan
perasaannya sangatlah berat, di penuhi berbagai beban pikiran yang membuat air matanya meleleh begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya.
Aaron.. dimanakah sekarang hatimu berada..
Tidak adakah celah bagiku untuk menempati
satu sudut ruang di hatimu..? Hidupku akan
sia-sia saja kalau cintaku ini hanya sepihak..
Apa yang bisa aku banggakan di depan kedua
orangtua ku nanti..
Raya mengusap lembut air mata yang kini jatuh menyusuri wajah cantiknya. Batinnya semakin
terasa teriris saat mengingat jalan hidupnya yang
terjal dan menyedihkan sejak dia lahir ke dunia.
Dirinya yang terbuang.. dirinya yang terpaksa di
hilangkan dari catatan kelahiran..Dan dirinya
yang tidak di akui sebagai anggota dua keluarga
besar..As Syaf Sulaiman.. serta Kertaradjasa..
***
Waktu semakin beranjak sore..
Jessica dan Griz kini berada di kamar pribadi
Raya. Mereka datang bersama dengan para
pelayan yang membawakan cemilan sore atas perintah Aaron. Sejak keluar dari kamar tadi
siang, Aaron masih belum juga kembali.
Sepertinya dia berlanjut ke urusan lain hingga
tidak sempat kembali kamar.
Saat ini Jessica dan Griz kembali memantau
perkembangan isu yang sedang terjadi. Raya
sampai merasa sesak nafas saat melihat apa
yang tengah terjadi detik ini. Aksi unjuk rasa kini
semakin meluas, mencakup berbagai kota dan
daerah. Isi aksi unjuk rasa tersebut semua sama, meminta pengasingan dan deportasi serta black
list atas nama seorang Maharaya.
"Tuhan.. apa sebenarnya yang terjadi.? Kenapa
semuanya jadi begini.? Keberadaan ku telah
menimbulkan kekacauan di negara ini."
__ADS_1
Lirih Raya sambil menangkup wajahnya yang
terlihat memucat. Jessica juga menelusuri
channel televisi yang rata-rata menayangkan
wawancara eksklusif Catharina dengan semua
media tentang kondisi dirinya saat ini setelah
di permalukan pada malam pertunangan. Gadis bangsawan itu seperti biasa, selalu bersikap
tenang, sabar dan mencoba menebar senyum
manis walau terselip kepahitan dalam batinnya.
Semua hasil wawancara itu kini menuai reaksi
beragam dari berbagai kalangan. Sebagian besar berisi simpati, support dan dukungan dari semua pihak. Namun yang paling panas yaitu hasutan
agar Catharina mau melawan Sekretaris Pribadi
Putra Mahkota yang tidak tahu diri itu.!
"Aku rasa Aaron sudah salah memilih jalan ini.
Aku tidak menduga reaksinya akan sebesar ini.
Kestabilan negara di pertaruhkan sekarang."
Raya kembali mengeluh dan merebahkan kepala
di sandaran sofa. Pikirannya kini berputar dan
beterbangan kemana-mana.. Memory nya kini
kembali pada pertemuannya dengan seseorang
yang sangat di rindukan kehadirannya saat ini.
Kehadiran mu di anggap akan menimbulkan
banyak masalah dan pertentangan di tengah
keluarga besar ayahmu dan dimana pun kamu
berada sayang.. Jadi sabarlah..Dan belajarlah
untuk menjadi gadis biasa-biasa saja agar
hidupmu lebih aman dan damai..
"Ibu.. kenapa semua pengaruh buruk ku tetap
aku bawa kemanapun aku melangkah.."
Lirih Raya di tengah rasa perih yang kini sudah
kembali menyayat hatinya. Apa sebenarnya
yang salah dengan dirinya ? Kenapa kehadiran
nya selalu saja membawa masalah bagi orang-
orang terdekatnya.!
"Sudahlah Ray.. jangan menyalahkan dirimu
sendiri. Ini adalah jalan hidupmu. Tuhan sudah
mengatur semuanya dengan baik. Kau hanya
harus menjalani nya dengan ikhlas dan sabar."
Jessica berusaha menenangkan sambil
merengkuh tubuh Raya ke dalam pelukannya.
Raya terdiam dalam pelukan sahabatnya itu
sambil mencoba menenangkan diri.
"Aku ingin menemui Aaron.. apa kalian tahu
dimana dia ?"
Raya menegakkan badannya, menatap Dua
asistennya itu yang kembali sibuk dengan
laptop dan penelusurannya.
"Tadi beliau baru selesai melakukan meeting.
Masih ada di ruangan itu sepertinya."
Jessica menjawab dengan mata yang tetap
fokus pada layar laptopnya.
"Aku akan turun untuk menemuinya setelah
sholat ashar.!"
Raya beranjak menuju ruangan lain untuk segera
menjalankan kewajibannya sembari berdoa agar
di beri ketenangan. Dia juga berganti pakaian
yang lebih hangat dan menutup seluruh tubuh.
Jessica dan Griz mengakhiri kegiatannya lalu
bersiap untuk menemani Lady turun ke bawah.
Beberapa saat kemudian Raya sudah turun
ke lantai bawah langsung menuju ruangan
tempat Aaron mengadakan meeting.
"Kalian tunggu di sini.! Aku tidak akan lama."
Titah Raya begitu mereka tiba di depan pintu
ruangan. Jessica dan Griz mengangguk faham.
Beberapa pengawal pribadi Aaron yang berjaga
di depan pintu langsung membungkuk hormat.
"Selamat sore Lady.."
"Selamat sore.. Apa Yang Mulya masih ada di
dalam ruangan ?"
"Benar Lady..beliau masih ada di dalam."
Sahut mereka, Raya melangkah masuk ke dalam
ruangan yang ternyata ini adalah ruang meeting
rahasia karena setelah melewati ruang depan
harus berjalan kembali menyusuri koridor
panjang hingga akhirnya dia tiba di depan
pintu besar yang sedikit terbuka.
"Kondisi Dirga saat ini sangat rawan. Tapi dia
meyakinkan nya sekuat tenaga."
Langkah kaki Raya tertahan begitu mendengar
obrolan antara Aaron dan Rayen dari dalam
ruangan. Di sana juga ada Alex dan Benjamin.
"Apakah Mayra sudah tahu semua ini.?"
Terdengar suara Aaron dengan nada yang
terkesan sangat dingin karena menahan rasa
kesal dan sedikit emosi atas sikap keras kepala
Dirga yang tidak mau mendengarkan ucapannya.
"Dia sengaja tidak di beritahu. Dirga melarang
keras untuk memberitahu nya. Kasihan, mereka
baru saja merasakan kebahagiaan atas kehadiran
anak mereka "
Tubuh Raya mematung, terpaku di tempat tidak
mampu untuk bergerak. Hatinya langsung saja
gelisah dan tidak menentu.
"Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan
mereka hancur begitu saja. Mayra tidak boleh
lagi merasakan kesedihan karena kehilangan.
Dia harus selalu bahagia.."
Deg !
Jantung Raya seakan jatuh dari tempatnya.
Kakinya lemas seketika. Dia kehilangan tenaga.
Aaron masih begitu peduli pada cinta pertama
nya itu. Ternyata hatinya masih utuh untuk
wanita cantik nan memukau itu.
"Aaron.. apa kau masih mencintai wanita itu.?
Ingat, kau sudah menikah sekarang. Istrimu
sedang mengandung darah daging mu saat
ini. Dia juga wanita yang luar biasa cantik
dan sangat istimewa.."
Aaron menatap tajam wajah Rayen yang kini
berdiri berhadapan dengan nya. Aaron terdiam,
tidak menjawab, tapi tatapannya kini semakin menusuk dengan rahang yang mulai mengeras.
Raya memegang dadanya yang tiba-tiba saja
terasa berat seakan tertumbuk batu besar.
Dia menyandarkan punggungnya di dinding
agar tubuh nya tetap bisa berdiri.
"Dirga pernah berkata.. kalau terjadi sesuatu
padanya maka kau adalah orang pertama yang
akan di mintai tolong untuk menjaga anak dan
istrinya. Apa kau bersedia menerima Mayra
sebagai istrimu seandainya Dirga tiada.?"
Tubuh Raya kini benar-benar limbung. Tidak !
Inilah yang menjadi beban pikirannya saat ini.
Dan Rayen ternyata mengatakannya dengan
lugas tanpa basa-basi. Raya menggelengkan
kepala kuat sambil memejamkan matanya
mencoba untuk tidak menangis. Dia sudah
menduga hal ini dari awal, jadi ini bukanlah
sesuatu yang mengejutkan baginya. Tapi sial,
air mata itu tetap saja berjatuhan seiring dengan
langkah gontai nya meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu
terjadi. Aku akan mengusahakan apapun untuk
kesembuhannya. Operasi transplantasi jantung
adalah jalan satu-satunya. Alea sudah mulai
berkoordinasi dengan semua jaringan untuk
mendapatkan jantung yang cocok dengan
Dirga. Bagiku pernikahan cukup sekali untuk
seumur hidupku. Dan istriku hanya akan ada
satu, selamanya.."
Rayen terhenyak dalam diam. Dia mendudukkan dirinya lemas dengan tatapan tidak percaya pada Aaron. Bukankah pernikahan mereka terjadi
karena terpaksa.?Tapi komitmen Sang Pangeran tentang arti pernikahannya begitu kokoh. Luar
biasa..! Dia memang laki-laki sejati.
***
Raya membawa mobil sendiri dengan pikiran
yang tidak menentu. Semua bawahannya yang
mengejar di belakang tidak di pedulikanya. Air matanya mengalir deras tiada henti. Rasa sakit
itu kini mencabik hati dan jiwanya. Kesakitan, kepedihan dan segala kemelut kini menyatu
dalam dirinya membuat dia seolah hancur lebur menjadi butiran debu dan hanya menyisakan
raga yang kosong tanpa isi.
"Raya... berhenti...!"
Raya mengerem mobilnya mendadak dengan
mata membulat sempurna ketika dia hampir
saja menggilas Jessica, Griz dan Alea yang kini
__ADS_1
berdiri menghadang laju mobilnya tepat di pinggir
tebing sambil berteriak-teriak histeris dengan
mata terpejam dan tangan yang di rentangkan.
Tubuh Raya bergetar hebat, dia hilang kendali
hingga tidak sadar mengendarai mobil dan
melaju tanpa arah sampai ke tepi tebing tinggi.
"Kakak ipar sadarlah.. apa yang terjadi dengan
mu ? Kenapa kamu melakukan semua ini.?"
Alea menyerbu dan memeluk erat tubuh Raya
begitu dia keluar dari mobil dalam keadaan
tubuh yang limbung tak bertenaga.
"Maafkan aku Alea.. Aku memang pembawa
masalah bagi semua orang. Aku tidak akan
membawa kebaikan bagi siapapun."
"Apa yang kau katakan kakak ipar..? Apa yang
akan terjadi kalau kakak tahu semua ini.! Dia
pasti akan meleburkan kita semua..."
Belum Alea menyelesaikan kata-katanya dari
kejauhan berdatangan mobil lain yang melaju
kencang seolah mengejar musuh. Tidak lama
dari mobil yang paling depan melompat sosok
Aaron yang terlihat sudah berwajah iblis. Alea
melepaskan pelukannya di tubuh Raya begitu
melihat Aaron mendekat, berdiri di hadapan
Raya yang menunduk masih dengan pikiran
yang mengambang.
"Maharaya..apa yang kau inginkan sebenarnya.?
Kau benar-benar ingin membuatku mati berdiri?
Kau ingin melihatku gila.? Kau ingin melihatku
mati pelan-pelan karena kehilanganmu.?"
Bentakan Aaron menggelegar menggema ke
seluruh lembah dan melemaskan lutut semua
orang yang kini menunduk gemetar.
"Kalian semua tidak becus menjaga satu orang
wanita saja. Apa kalian sudah bosan hidup hahh?"
Duarr ! Duarr !
Aaron melepaskan beberapa tembakan ke
sembarang arah membuat semua orang
terlonjak kaget gemetar ketakutan. Tapi tidak
dengan Raya, dia kini mengangkat wajahnya.
Saling menatap kuat dengan mata Aaron yang
sedang menyala di penuhi amarah sekaligus
kecemasan luar biasa.
"Sebenarnya siapa aku buatmu Aaron.. Apakah
ada namaku sedikit saja di hatimu? Aku ini
hanya wanita bayangan mu.! Posisiku tidak
pernah jelas di hatimu.. Aku lelah Aaron..Aku
butuh kejelasan.!"
Ucap Raya dengan suara yang berat dan derai
air mata yang semakin meluncur deras.
Tatapan Aaron terlihat semakin tajam.
"Ohh.. jadi kau butuh bukti tentang perasaan
ku padamu.? Kau butuh pengakuan ku.? Baik..
Kau akan mendapatkan itu sekarang juga.!"
Dengan gerakan cepat Aaron mengangkat
tubuh Raya ke dalam gendongannya di bawa
masuk ke dalam mobil dan tanpa jeda langsung meleset pergi dari tempat itu. Raya terdiam
masih mengeluarkan air matanya. Raut wajah
Aaron kini sudah mulai tenang tidak sekelam
tadi. Dia terus melirik dan mengamati keadaan
Raya yang masih terlihat kacau.
Hari sudah gelap ketika rombongan besar itu
tiba di Sky Break. Ini adalah spot wisata yang
menyediakan wahana kereta gantung yang sangat
di sukai oleh para wisatawan. Dari atas cable car
yang ada di tempat ini para pengunjung bisa menikmati dan menjelajah seluruh keindahan
lembah gunung Carrington yang luas dan
mempesona.
"Kau akan tahu seberapa besar perasaan ku
padamu sekarang. Kalau perlu aku akan terjun
ke lembah itu agar kau percaya.!"
Desis Aaron saat mereka berdua sudah masuk
ke dalam kereta. Raya tampak ketakutan karena
pemandangan gelap di sekelilingnya. Hanya ada
hamparan putih bersih di bawah ketinggian
yang kini sedang mereka arungi.
"Aaron.. aku takut..kenapa kita harus naik
kereta malam-malam begini..aku takut.."
"Kau akan tahu kenapa aku membawamu ke
tempat ini sekarang, di waktu malam seperti
ini. Aku sudah menyiapkan semua nya.!"
Ucap Aaron dengan suara yang tiba-tiba saja
berubah berat dan pelan sedikit bergetar. Dia
membawa Raya untuk berdiri di depan pintu
kereta yang terhalang besi penyangga.
"Aaron.. aku takut... apa yang kau lakukan,
kita bisa jatuh kalau berdiri di sini.."
Tubuh Raya bergetar ketakutan. Namun Aaron
memeluknya erat dari belakang sambil mencium
lembut pipinya.
"Lihatlah ke bawah sayang.. lihatlah baik-baik..!"
Bisik Aaron lembut. Raya mengarahkan tatapan
nya ke arah lembah bersalju yang terhampar luas.
Matanya membulat sempurna begitu melihat
ada kilasan cahaya warna-warni di atas
hamparan salju bertuliskan..
** I love You Maharaya.. You Are My Mine..!!
Raya tampak bengong, menatap tidak percaya
pada tulisan yang entah bagaimana caranya
bisa seperti itu. Belum usai keterkejutannya
dengan semua icon yang terlukis di atas salju
tiba-tiba saja ada helikopter yang terbang rendah
tepat di hadapan mereka, dan ada spanduk
menyala yang berisi tulisan..
* I Love You Maharaya.. You Are My World..
Raya benar-benar syok. Tidak, ini pasti mimpi.
Dia sedang berada di dalam halusinasi saja,
ini tidaklah nyata.
"A-aaron.. apa ini.? Apa maksudmu dengan
menyiapkan semua ini.?"
Aaron membalikan tubuh Raya hingga mereka
kini saling berhadapan. Mata mereka bertemu,
saling pandang lekat. Aaron mengusap lembut
air mata yang masih tersisa di wajah cantik Raya.
"Apa kau masih butuh pernyataan langsung
dariku.? Apakah semua ini tidak cukup.?"
Raya menggeleng kuat dengan tatapan yang
masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Aku mencintaimu Maharaya sayang.. Aku
sangat mencintaimu.. Apa kau tahu itu.??"
Raya terhenyak, bengong. Tatapan mereka
saling menembus batas kedalaman jiwa
masing-masing. Air mata itu kembali luruh.
"Bagaimana bisa..bukankah kau masih terus
berharap pada cinta pertama mu..."
"Jangan menyiksa dirimu dengan praduga dan
pikiran yang bukan-bukan Maharaya.. Kenapa
kamu tidak bisa melihat bagaimana besar dan
dalamnya perasaan ku padamu.!"
"Aku mencintaimu Aaron.. Aku juga sangat
mencintaimu.. Aku tersiksa karena rasa cinta
ini yang terlalu besar padamu.!"
Raya memeluk erat tubuh Aaron sambil terisak
dan menangis tersedu. Keduanya berpelukan
saling menyalurkan perasaan masing-masing.
Aaron melonggarkan pelukannya, keduanya
saling menatap kuat.
"Jangan meragukan perasaanku. Saat ini dan
selamanya.. hanya kau yang akan mengisi hati
dan jiwaku Maharaya De Enzo.."
Air mata Raya semakin deras. Dengan cepat
dia menyambar bibir Aaron dan **********
kuat. Tanpa menunggu Aaron membalas ciuman
itu dengan lebih ganas. Keduanya kini terhanyut
dalam buaian ciuman panas yang manis dan
penuh candu di penuhi luapan perasaan cinta
yang kini sudah terucapkan dan tersampaikan
membuat kenikmatan ciuman itu semakin
terasa, begitu membuai dan memabukkan...
***
MON MAAF UNTUK BEBERAPA HARI KE DEPAN AUTHOR MO LIBUR DULU YA..ADA KESIBUKAN
DI DUNIA NYATA YANG TIDAK BISA DI ABAIKAN..
🙏🙏🤗🤗
__ADS_1