Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
79. Amazing Holiday


__ADS_3

***


"Kondisinya sedikit lemah. Tapi tidak apa-apa.


Dia hanya butuh istirahat."


Alea mengakhiri pemeriksaan nya terhadap Raya


yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Aaron


menatap ragu kearah Raya yang terlihat pucat.


Dia masih terlihat khawatir dengan kondisi Raya.


Saat ini mereka sudah ada di dalam kamar.


Setelah kejadian yang cukup mengerikan tadi,


Aaron memutuskan untuk pulang ke hotel. Dia


juga akan mengadakan pertemuan dengan


pihak pengelola untuk menginterogasi mereka


karena telah lalai hingga peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu terjadi. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang telah bertindak


ceroboh hingga menyebabkan semua ini terjadi.


"Ijinkan aku memeriksa nya juga."


Rayen yang ikut masuk ke dalam kamar maju


mendekat dengan raut wajah tampak cemas.


"Apa kau sudah bosan hidup Tuan dokter.?"


Aaron menatap tajam wajah Rayen dengan


tangan terlipat santai di depan dadanya namun


sorot matanya tampak sangat berbisa. Rayen


melengoskan wajahnya dengan tampang


kecut dan tak berdaya.


"Jangan coba-coba menantang maut Tuan


Dokter kalau kau masih sayang nyawamu.!"


Alea menimpali sambil tersenyum miring.


Rayen menarik napas berat, menatap Raya


yang terlihat memejamkan matanya mencoba


untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.


"Aku benar-benar tidak menduga Pangeran


Aaron bisa bersikap seberingas ini kalau


segala sesuatunya menyangkut sang istri !"


Decak Rayen, melirik sinis kearah Aaron yang


berdiri tegak dengan mata tidak lepas menatap


dan mengamati kondisi Raya.


"Jangan banyak bicara, cepat urus masalah


pengobatan untuk Dirga. Kalau bisa hubungi


dia sekali lagi aku perlu bicara dengannya !"


"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya sebelum pulang agar kalian bisa bicara.!"


"Kapan rencananya kau kembali.?"


"Nanti sore, setelah Ansel datang kesini agar


aku bisa menggunakan pesawat nya untuk


pergi ke bandara.!"


"Baiklah ! Sekarang urus masalah obat yang


akan di gunakan untuk pengobatan pertama.!"


Tegas Aaron sambil mendekat kearah tempat


tidur saat Alea merapihkan peralatannya.


"Oke..sebentar lagi orang-orang itu akan datang.


Kita harus segera ke bawah untuk menemuinya.


Biarkan dia istirahat. Kondisi fisik dan psikisnya


cukup terganggu dengan kejadian tadi."


Alea berucap sambil berdiri setelah memastikan kondisi Raya sepenuhnya. Aaron naik ke atas


tempat tidur. Kemudian meraih tubuh Raya ke


dalam pelukannya tidak peduli pada Alea dan


Rayen yang masih berdiri di hadapannya.


"Kalian katakan pada Alex, aku akan segera


turun sebentar lagi.!"


Tegas Aaron sebagai isyarat agar mereka berdua


segera menyingkir. Dia memiringkan tubuhnya,


memeluk dan mengurung tubuh Raya. Alea dan


Rayen saling melirik lalu berdecak gerah melihat


apa yang di lakukan oleh Aaron. Tidak lama


keduanya melangkah pergi keluar dari kamar.


Aaron menatap tenang wajah cantik Raya yang


ada di depannya. Dirinya sedang berusaha


untuk menenangkan diri. Beberapa saat lalu,


dia hampir saja kehilangan wanita ini. Wanita


yang telah membuatnya gila setiap saat.


Maharaya..apa kau tidak tahu.. dirimu begitu


berarti dalam hidupku saat ini.? Apa yang akan


terjadi padaku kalau aku kehilanganmu tadi..


Aaron bergumam dalam hati. Dia menciumi


puncak kepala Raya penuh gejolak perasaan.


Dia benar-benar tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan wanita ini. Selain semua itu


dia juga masih memikirkan apa yang di lakukan


oleh Raya tadi. Dengan reflek dan tidak sadar


semua keistimewaan yang ada dalam tubuhnya


keluar dengan sendirinya pada saat dia ingin


melindungi dirinya. Apakah itu artinya dirinya


memiliki tempat istimewa dalam hati Raya.?


Menyadari ada sosok hangat di dekatnya, Raya membuka mata. Dia menggerakkan tubuhnya


mencoba keluar dari kurungan tubuh Aaron.


"Aaron..kau masih ada di sini.? Bukankah


kau akan menghadiri pertemuan di bawah ?"


Aaron melonggarkan pelukannya, mata mereka


bertemu, saling pandang dalam diam mencoba meresapi dan menelaah apa yang kini sedang memenuhi dada keduanya.


"Kenapa kau melakukan tindakan bodoh seperti


tadi ? Kau bisa kehilangan nyawa tadi.!"


"Aku hanya merasa bahwa kau berada dalam


bahaya tadi.!"


"Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.!"


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa diam saja. Kau


bukan dewa Aaron.. Apapun bisa terjadi di


luar kendali kita.!"


Aaron terdiam, perlahan dia mengangkat dagu


Raya hingga kini wajah mereka mendekat dan


saling bersentuhan.


"Jangan pernah membahayakan nyawamu


lagi Maharaya.. aku tidak ingin terjadi apapun


padamu dan calon anak kita."


Raya membeku. Mata mereka terpaut dalam di


penuhi oleh perasaan yang semakin membawa


Raya pada kemelut serta perdebatan bathin yang


begitu menyiksanya. Apapun yang terjadi, walau akhirnya kesakitan akan kembali menelan dirinya


dia harus mengetahui apa yang ada dalam hati


laki-laki ini sebenarnya. Apakah cintanya masih


tetap utuh untuk seorang Mayra.? Tidak adakah tempat di hatinya sedikit saja untuk dirinya ?


"Aku akan turun untuk pertemuan. Jangan lupa


makan siang dan istirahat. Nanti sore kita akan


mengunjungi Sky break.."


Aaron berucap dengan suara yang sangat pelan


dan tatapan yang semakin lekat. Perlahan dia


mengecup lembut kening Raya lama, kemudian


mendaratkan ciuman singkat di bibirnya. Untuk


sesaat dia kembali memeluk erat tubuh Raya


seolah berat untuk meninggalkan nya. Namun


ada seringai tipis yang tercipta di sudut bibirnya


sampai akhirnya dia melangkah pergi keluar


dari kamar meninggalkan Raya sendiri.


Raya menatap kepergian Aaron dengan sorot


mata yang sangat kompleks. Saat ini hati dan


perasaannya sangatlah berat, di penuhi berbagai beban pikiran yang membuat air matanya meleleh begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya.


Aaron.. dimanakah sekarang hatimu berada..


Tidak adakah celah bagiku untuk menempati


satu sudut ruang di hatimu..? Hidupku akan


sia-sia saja kalau cintaku ini hanya sepihak..


Apa yang bisa aku banggakan di depan kedua


orangtua ku nanti..


Raya mengusap lembut air mata yang kini jatuh menyusuri wajah cantiknya. Batinnya semakin


terasa teriris saat mengingat jalan hidupnya yang


terjal dan menyedihkan sejak dia lahir ke dunia.


Dirinya yang terbuang.. dirinya yang terpaksa di


hilangkan dari catatan kelahiran..Dan dirinya


yang tidak di akui sebagai anggota dua keluarga


besar..As Syaf Sulaiman.. serta Kertaradjasa..


***


Waktu semakin beranjak sore..


Jessica dan Griz kini berada di kamar pribadi


Raya. Mereka datang bersama dengan para


pelayan yang membawakan cemilan sore atas perintah Aaron. Sejak keluar dari kamar tadi


siang, Aaron masih belum juga kembali.


Sepertinya dia berlanjut ke urusan lain hingga


tidak sempat kembali kamar.


Saat ini Jessica dan Griz kembali memantau


perkembangan isu yang sedang terjadi. Raya


sampai merasa sesak nafas saat melihat apa


yang tengah terjadi detik ini. Aksi unjuk rasa kini


semakin meluas, mencakup berbagai kota dan


daerah. Isi aksi unjuk rasa tersebut semua sama, meminta pengasingan dan deportasi serta black


list atas nama seorang Maharaya.


"Tuhan.. apa sebenarnya yang terjadi.? Kenapa


semuanya jadi begini.? Keberadaan ku telah


menimbulkan kekacauan di negara ini."

__ADS_1


Lirih Raya sambil menangkup wajahnya yang


terlihat memucat. Jessica juga menelusuri


channel televisi yang rata-rata menayangkan


wawancara eksklusif Catharina dengan semua


media tentang kondisi dirinya saat ini setelah


di permalukan pada malam pertunangan. Gadis bangsawan itu seperti biasa, selalu bersikap


tenang, sabar dan mencoba menebar senyum


manis walau terselip kepahitan dalam batinnya.


Semua hasil wawancara itu kini menuai reaksi


beragam dari berbagai kalangan. Sebagian besar berisi simpati, support dan dukungan dari semua pihak. Namun yang paling panas yaitu hasutan


agar Catharina mau melawan Sekretaris Pribadi


Putra Mahkota yang tidak tahu diri itu.!


"Aku rasa Aaron sudah salah memilih jalan ini.


Aku tidak menduga reaksinya akan sebesar ini.


Kestabilan negara di pertaruhkan sekarang."


Raya kembali mengeluh dan merebahkan kepala


di sandaran sofa. Pikirannya kini berputar dan


beterbangan kemana-mana.. Memory nya kini


kembali pada pertemuannya dengan seseorang


yang sangat di rindukan kehadirannya saat ini.


Kehadiran mu di anggap akan menimbulkan


banyak masalah dan pertentangan di tengah


keluarga besar ayahmu dan dimana pun kamu


berada sayang.. Jadi sabarlah..Dan belajarlah


untuk menjadi gadis biasa-biasa saja agar


hidupmu lebih aman dan damai..


"Ibu.. kenapa semua pengaruh buruk ku tetap


aku bawa kemanapun aku melangkah.."


Lirih Raya di tengah rasa perih yang kini sudah


kembali menyayat hatinya. Apa sebenarnya


yang salah dengan dirinya ? Kenapa kehadiran


nya selalu saja membawa masalah bagi orang-


orang terdekatnya.!


"Sudahlah Ray.. jangan menyalahkan dirimu


sendiri. Ini adalah jalan hidupmu. Tuhan sudah


mengatur semuanya dengan baik. Kau hanya


harus menjalani nya dengan ikhlas dan sabar."


Jessica berusaha menenangkan sambil


merengkuh tubuh Raya ke dalam pelukannya.


Raya terdiam dalam pelukan sahabatnya itu


sambil mencoba menenangkan diri.


"Aku ingin menemui Aaron.. apa kalian tahu


dimana dia ?"


Raya menegakkan badannya, menatap Dua


asistennya itu yang kembali sibuk dengan


laptop dan penelusurannya.


"Tadi beliau baru selesai melakukan meeting.


Masih ada di ruangan itu sepertinya."


Jessica menjawab dengan mata yang tetap


fokus pada layar laptopnya.


"Aku akan turun untuk menemuinya setelah


sholat ashar.!"


Raya beranjak menuju ruangan lain untuk segera


menjalankan kewajibannya sembari berdoa agar


di beri ketenangan. Dia juga berganti pakaian


yang lebih hangat dan menutup seluruh tubuh.


Jessica dan Griz mengakhiri kegiatannya lalu


bersiap untuk menemani Lady turun ke bawah.


Beberapa saat kemudian Raya sudah turun


ke lantai bawah langsung menuju ruangan


tempat Aaron mengadakan meeting.


"Kalian tunggu di sini.! Aku tidak akan lama."


Titah Raya begitu mereka tiba di depan pintu


ruangan. Jessica dan Griz mengangguk faham.


Beberapa pengawal pribadi Aaron yang berjaga


di depan pintu langsung membungkuk hormat.


"Selamat sore Lady.."


"Selamat sore.. Apa Yang Mulya masih ada di


dalam ruangan ?"


"Benar Lady..beliau masih ada di dalam."


Sahut mereka, Raya melangkah masuk ke dalam


ruangan yang ternyata ini adalah ruang meeting


rahasia karena setelah melewati ruang depan


harus berjalan kembali menyusuri koridor


panjang hingga akhirnya dia tiba di depan


pintu besar yang sedikit terbuka.


"Kondisi Dirga saat ini sangat rawan. Tapi dia


meyakinkan nya sekuat tenaga."


Langkah kaki Raya tertahan begitu mendengar


obrolan antara Aaron dan Rayen dari dalam


ruangan. Di sana juga ada Alex dan Benjamin.


"Apakah Mayra sudah tahu semua ini.?"


Terdengar suara Aaron dengan nada yang


terkesan sangat dingin karena menahan rasa


kesal dan sedikit emosi atas sikap keras kepala


Dirga yang tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Dia sengaja tidak di beritahu. Dirga melarang


keras untuk memberitahu nya. Kasihan, mereka


baru saja merasakan kebahagiaan atas kehadiran


anak mereka "


Tubuh Raya mematung, terpaku di tempat tidak


mampu untuk bergerak. Hatinya langsung saja


gelisah dan tidak menentu.


"Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan


mereka hancur begitu saja. Mayra tidak boleh


lagi merasakan kesedihan karena kehilangan.


Dia harus selalu bahagia.."


Deg !


Jantung Raya seakan jatuh dari tempatnya.


Kakinya lemas seketika. Dia kehilangan tenaga.


Aaron masih begitu peduli pada cinta pertama


nya itu. Ternyata hatinya masih utuh untuk


wanita cantik nan memukau itu.


"Aaron.. apa kau masih mencintai wanita itu.?


Ingat, kau sudah menikah sekarang. Istrimu


sedang mengandung darah daging mu saat


ini. Dia juga wanita yang luar biasa cantik


dan sangat istimewa.."


Aaron menatap tajam wajah Rayen yang kini


berdiri berhadapan dengan nya. Aaron terdiam,


tidak menjawab, tapi tatapannya kini semakin menusuk dengan rahang yang mulai mengeras.


Raya memegang dadanya yang tiba-tiba saja


terasa berat seakan tertumbuk batu besar.


Dia menyandarkan punggungnya di dinding


agar tubuh nya tetap bisa berdiri.


"Dirga pernah berkata.. kalau terjadi sesuatu


padanya maka kau adalah orang pertama yang


akan di mintai tolong untuk menjaga anak dan


istrinya. Apa kau bersedia menerima Mayra


sebagai istrimu seandainya Dirga tiada.?"


Tubuh Raya kini benar-benar limbung. Tidak !


Inilah yang menjadi beban pikirannya saat ini.


Dan Rayen ternyata mengatakannya dengan


lugas tanpa basa-basi. Raya menggelengkan


kepala kuat sambil memejamkan matanya


mencoba untuk tidak menangis. Dia sudah


menduga hal ini dari awal, jadi ini bukanlah


sesuatu yang mengejutkan baginya. Tapi sial,


air mata itu tetap saja berjatuhan seiring dengan


langkah gontai nya meninggalkan tempat itu.


"Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu


terjadi. Aku akan mengusahakan apapun untuk


kesembuhannya. Operasi transplantasi jantung


adalah jalan satu-satunya. Alea sudah mulai


berkoordinasi dengan semua jaringan untuk


mendapatkan jantung yang cocok dengan


Dirga. Bagiku pernikahan cukup sekali untuk


seumur hidupku. Dan istriku hanya akan ada


satu, selamanya.."


Rayen terhenyak dalam diam. Dia mendudukkan dirinya lemas dengan tatapan tidak percaya pada Aaron. Bukankah pernikahan mereka terjadi


karena terpaksa.?Tapi komitmen Sang Pangeran tentang arti pernikahannya begitu kokoh. Luar


biasa..! Dia memang laki-laki sejati.


***


Raya membawa mobil sendiri dengan pikiran


yang tidak menentu. Semua bawahannya yang


mengejar di belakang tidak di pedulikanya. Air matanya mengalir deras tiada henti. Rasa sakit


itu kini mencabik hati dan jiwanya. Kesakitan, kepedihan dan segala kemelut kini menyatu


dalam dirinya membuat dia seolah hancur lebur menjadi butiran debu dan hanya menyisakan


raga yang kosong tanpa isi.


"Raya... berhenti...!"


Raya mengerem mobilnya mendadak dengan


mata membulat sempurna ketika dia hampir


saja menggilas Jessica, Griz dan Alea yang kini

__ADS_1


berdiri menghadang laju mobilnya tepat di pinggir


tebing sambil berteriak-teriak histeris dengan


mata terpejam dan tangan yang di rentangkan.


Tubuh Raya bergetar hebat, dia hilang kendali


hingga tidak sadar mengendarai mobil dan


melaju tanpa arah sampai ke tepi tebing tinggi.


"Kakak ipar sadarlah.. apa yang terjadi dengan


mu ? Kenapa kamu melakukan semua ini.?"


Alea menyerbu dan memeluk erat tubuh Raya


begitu dia keluar dari mobil dalam keadaan


tubuh yang limbung tak bertenaga.


"Maafkan aku Alea.. Aku memang pembawa


masalah bagi semua orang. Aku tidak akan


membawa kebaikan bagi siapapun."


"Apa yang kau katakan kakak ipar..? Apa yang


akan terjadi kalau kakak tahu semua ini.! Dia


pasti akan meleburkan kita semua..."


Belum Alea menyelesaikan kata-katanya dari


kejauhan berdatangan mobil lain yang melaju


kencang seolah mengejar musuh. Tidak lama


dari mobil yang paling depan melompat sosok


Aaron yang terlihat sudah berwajah iblis. Alea


melepaskan pelukannya di tubuh Raya begitu


melihat Aaron mendekat, berdiri di hadapan


Raya yang menunduk masih dengan pikiran


yang mengambang.


"Maharaya..apa yang kau inginkan sebenarnya.?


Kau benar-benar ingin membuatku mati berdiri?


Kau ingin melihatku gila.? Kau ingin melihatku


mati pelan-pelan karena kehilanganmu.?"


Bentakan Aaron menggelegar menggema ke


seluruh lembah dan melemaskan lutut semua


orang yang kini menunduk gemetar.


"Kalian semua tidak becus menjaga satu orang


wanita saja. Apa kalian sudah bosan hidup hahh?"


Duarr ! Duarr !


Aaron melepaskan beberapa tembakan ke


sembarang arah membuat semua orang


terlonjak kaget gemetar ketakutan. Tapi tidak


dengan Raya, dia kini mengangkat wajahnya.


Saling menatap kuat dengan mata Aaron yang


sedang menyala di penuhi amarah sekaligus


kecemasan luar biasa.


"Sebenarnya siapa aku buatmu Aaron.. Apakah


ada namaku sedikit saja di hatimu? Aku ini


hanya wanita bayangan mu.! Posisiku tidak


pernah jelas di hatimu.. Aku lelah Aaron..Aku


butuh kejelasan.!"


Ucap Raya dengan suara yang berat dan derai


air mata yang semakin meluncur deras.


Tatapan Aaron terlihat semakin tajam.


"Ohh.. jadi kau butuh bukti tentang perasaan


ku padamu.? Kau butuh pengakuan ku.? Baik..


Kau akan mendapatkan itu sekarang juga.!"


Dengan gerakan cepat Aaron mengangkat


tubuh Raya ke dalam gendongannya di bawa


masuk ke dalam mobil dan tanpa jeda langsung meleset pergi dari tempat itu. Raya terdiam


masih mengeluarkan air matanya. Raut wajah


Aaron kini sudah mulai tenang tidak sekelam


tadi. Dia terus melirik dan mengamati keadaan


Raya yang masih terlihat kacau.


Hari sudah gelap ketika rombongan besar itu


tiba di Sky Break. Ini adalah spot wisata yang


menyediakan wahana kereta gantung yang sangat


di sukai oleh para wisatawan. Dari atas cable car


yang ada di tempat ini para pengunjung bisa menikmati dan menjelajah seluruh keindahan


lembah gunung Carrington yang luas dan


mempesona.


"Kau akan tahu seberapa besar perasaan ku


padamu sekarang. Kalau perlu aku akan terjun


ke lembah itu agar kau percaya.!"


Desis Aaron saat mereka berdua sudah masuk


ke dalam kereta. Raya tampak ketakutan karena


pemandangan gelap di sekelilingnya. Hanya ada


hamparan putih bersih di bawah ketinggian


yang kini sedang mereka arungi.


"Aaron.. aku takut..kenapa kita harus naik


kereta malam-malam begini..aku takut.."


"Kau akan tahu kenapa aku membawamu ke


tempat ini sekarang, di waktu malam seperti


ini. Aku sudah menyiapkan semua nya.!"


Ucap Aaron dengan suara yang tiba-tiba saja


berubah berat dan pelan sedikit bergetar. Dia


membawa Raya untuk berdiri di depan pintu


kereta yang terhalang besi penyangga.


"Aaron.. aku takut... apa yang kau lakukan,


kita bisa jatuh kalau berdiri di sini.."


Tubuh Raya bergetar ketakutan. Namun Aaron


memeluknya erat dari belakang sambil mencium


lembut pipinya.


"Lihatlah ke bawah sayang.. lihatlah baik-baik..!"


Bisik Aaron lembut. Raya mengarahkan tatapan


nya ke arah lembah bersalju yang terhampar luas.


Matanya membulat sempurna begitu melihat


ada kilasan cahaya warna-warni di atas


hamparan salju bertuliskan..


** I love You Maharaya.. You Are My Mine..!!


Raya tampak bengong, menatap tidak percaya


pada tulisan yang entah bagaimana caranya


bisa seperti itu. Belum usai keterkejutannya


dengan semua icon yang terlukis di atas salju


tiba-tiba saja ada helikopter yang terbang rendah


tepat di hadapan mereka, dan ada spanduk


menyala yang berisi tulisan..


* I Love You Maharaya.. You Are My World..


Raya benar-benar syok. Tidak, ini pasti mimpi.


Dia sedang berada di dalam halusinasi saja,


ini tidaklah nyata.


"A-aaron.. apa ini.? Apa maksudmu dengan


menyiapkan semua ini.?"


Aaron membalikan tubuh Raya hingga mereka


kini saling berhadapan. Mata mereka bertemu,


saling pandang lekat. Aaron mengusap lembut


air mata yang masih tersisa di wajah cantik Raya.


"Apa kau masih butuh pernyataan langsung


dariku.? Apakah semua ini tidak cukup.?"


Raya menggeleng kuat dengan tatapan yang


masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Aku mencintaimu Maharaya sayang.. Aku


sangat mencintaimu.. Apa kau tahu itu.??"


Raya terhenyak, bengong. Tatapan mereka


saling menembus batas kedalaman jiwa


masing-masing. Air mata itu kembali luruh.


"Bagaimana bisa..bukankah kau masih terus


berharap pada cinta pertama mu..."


"Jangan menyiksa dirimu dengan praduga dan


pikiran yang bukan-bukan Maharaya.. Kenapa


kamu tidak bisa melihat bagaimana besar dan


dalamnya perasaan ku padamu.!"


"Aku mencintaimu Aaron.. Aku juga sangat


mencintaimu.. Aku tersiksa karena rasa cinta


ini yang terlalu besar padamu.!"


Raya memeluk erat tubuh Aaron sambil terisak


dan menangis tersedu. Keduanya berpelukan


saling menyalurkan perasaan masing-masing.


Aaron melonggarkan pelukannya, keduanya


saling menatap kuat.


"Jangan meragukan perasaanku. Saat ini dan


selamanya.. hanya kau yang akan mengisi hati


dan jiwaku Maharaya De Enzo.."


Air mata Raya semakin deras. Dengan cepat


dia menyambar bibir Aaron dan **********


kuat. Tanpa menunggu Aaron membalas ciuman


itu dengan lebih ganas. Keduanya kini terhanyut


dalam buaian ciuman panas yang manis dan


penuh candu di penuhi luapan perasaan cinta


yang kini sudah terucapkan dan tersampaikan


membuat kenikmatan ciuman itu semakin


terasa, begitu membuai dan memabukkan...


***


MON MAAF UNTUK BEBERAPA HARI KE DEPAN AUTHOR MO LIBUR DULU YA..ADA KESIBUKAN


DI DUNIA NYATA YANG TIDAK BISA DI ABAIKAN..


🙏🙏🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2