Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
83. Kedatangan Serkan


__ADS_3

***


Beberapa jam kemudian...


Rombongan mobil-mobil pasukan khusus yang


membawa Raya akhirnya memasuki kawasan


Markas Besar tentara Negara xxx.. di serbu


langsung oleh puluhan wartawan.


Dan yang membuat Raya sedikit syok adalah


adanya ratusan demonstran yang berkumpul


di jalanan menuju kawasan gedung Mabes itu.


Raya memekik kuat ketika para pendemo itu melakukan aksi anarkis, melempari mobil yang membawa Raya dengan batu dan benda-benda


lainnya sambil berteriak-teriak keras mencoba


menyampaikan kekesalannya. Wajah Raya kini


memucat, dia tidak menduga akan mendapat


sambutan istimewa seperti ini.


Ya Allah...apa ini.? Kenapa harus sampai


seperti ini ? Sebenarnya apa salahku...


Raya bergumam seraya memegangi dadanya.


Empat orang polisi wanita segera bergerak untuk


melindungi Raya dari segala kemungkinan.


Mobil melaju cepat menuju ke dalam gedung


di ikuti oleh para wartawan yang sudah memiliki


ijin khusus untuk memasuki tempat yang cukup menggetarkan jiwa itu karena kemegahan nya


serta kesan tegas yang tergambar dari beberapa patung singa yang ada di halaman depan


sebagai icon tempat ini. Puluhan tentara


langsung memblokade area steril itu dari


serbuan para pendemo.


Tiba di parkiran khusus Raya turun dari mobil, di sambut langsung oleh beberapa perwira tinggi.


Kembali.. jepretan dan kilatan kamera mengarah


pada dirinya, melahap seluruh sosoknya yang


terlihat berdiri tenang dan anggun. Jessica maju, melepas mantel yang di gunakan Raya hingga sosoknya yang mempesona kini nampak jelas


dan nyata di depan kamera membuat semua


mata tampak terpesona padanya.


"Selamat siang Miss Maharaya.. Mari ikuti kami."


Ujar salah seorang perwira. Raya menatap para


perwira itu tenang, namun ada aura mematikan


yang kini mulai terpancar keluar dari dirinya


membuat orang-orang yang ada di sana seketika


menundukkan kepala tidak sanggup kalau harus


berlaku lancang menatap wajah super cantik


wanita nya Putra Mahkota itu.


"Apakah bawahan saya bisa ikut masuk Tuan.?"


Raya bertanya dengan suara yang lembut namun


tegas dan sikap yang tampak begitu tenang.


"Mohon maaf Miss.. kami tidak memberi ijin


siapapun untuk ikut masuk ke ruang isolasi.!"


"Ruang isolasi.? Apakah ini tidak terkesan sedikit


berlebihan Tuan-tuan.? Saya bukan penjahat."


"Ini adalah perintah langsung Perdana Mentri."


"Ohh.. ya.. tentu saja. Baiklah.."


Raya tersenyum tipis. Dia melirik kearah para


bawahannya yang terlihat keberatan.


"Silahkan Miss Maharaya..!"


Salah seorang perwira memberi isyarat agar


Raya segera melangkah. Para bawahan Raya


tampak bergerak ingin menghadang, namun


Raya segera mengangkat tangannya sambil


menatap mereka memastikan bahwa semuanya


akan baik-baik saja. Setelah itu dia melangkah


tenang bersama rombongan para perwira dan


beberapa pasukan pengawal memasuki privat


lift yang tidak bisa di akses oleh sembarang orang.


Benjamin dan Griz serta para pengawal nampak kalangkabut karena tidak bisa mengikuti Lady


mereka dan hanya bisa menunggu di lantai


dasar tersebut. Para wartawan juga sama


kecewanya karena tidak bisa meliput apa yang


terjadi selanjutnya. Dan kini terjadi pembicaraan


seru diantara para pewarta itu mengenai sikap


tenang dan kharisma kuat yang terpancar dari


diri Sektretaris Putra Mahkota yang sedang


menjadi objek kerusuhan di negara xxx..sejak


beberapa hari terakhir itu. Dia sungguh diluar


dugaan, sangat tenang, anggun dan elegan.


Sementara itu Raya baru saja keluar dari lift


kemudian di bimbing memasuki sebuah ruang


yang ada di lantai atas. Para penghuni markas


besar itu yang kebetulan berpapasan dengan


rombongan mereka tampak terpaku di tempat


saat melihat kehadiran Raya.


Akhirnya Raya di bawa masuk ke sebuah ruang


yang cukup besar dengan dinding kaca di semua


bagiannya hingga bisa dengan jelas melihat apa


yang terjadi di halaman depan markas itu.


"Silahkan anda tunggu di sini, sebentar lagi Yang


Mulya Raja dan Perdana Menteri akan tiba."


Tegas seorang perwira sambil kemudian keluar


dari ruangan meninggalkan Raya yang di temani


oleh beberapa pengawal wanita. Raya menarik


nafas panjang sambil menjatuhkan dirinya di


atas sofa. Dia memejamkan matanya kuat.


Aaron.. dimana kamu.. Aku membutuhkan


dirimu saat ini..


Raya bergumam sambil merebahkan tubuhnya


ke sandaran sofa. Kepalanya saat ini sedikit


pusing. Dan ada rasa tidak nyaman di perutnya.


Sayang.. Ibu mohon.. kuatlah.. bantu ibu


untuk melewati semua ini.. Kita harus kuat..


Lirih Raya pelan sambil mengusap lembut perut


datarnya saat rasa mual kini mulai menyerang


dan membuatnya semakin tidak nyaman. Dia


tidak boleh memperlihatkan kejanggalan ini


pada orang-orang yang ada di tempat ini. Dia


kembali mencoba berbisik pelan dan mengusap


lembut perut nya. Dan akhirnya rasa mual itu


perlahan berkurang. Dia memejamkan mata


mencoba untuk meredam rasa mual yang


masih tersisa.


"Hello baby.. akhirnya kita bertemu lagi di sini."


Mata Raya terbuka dan kini melebar, terkejut


bukan main saat melihat satu sosok menawan


yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya, sedang menatapnya penuh dengan kerinduan.


"Lu-lucas..kamu..?"


"Yes baby.. it's me.."


Ucap sosok itu, tanpa basa-basi dia langsung


mengurung tubuh Raya yang belum sempat


bangkit dari duduknya. Sosok itu yang tiada


lain adalah Lucas meletakkan kedua tangannya


di kedua sisi tubuh Raya.


"Lucas..! Kenapa kamu bisa ada di sini.?"


Raya memundurkan tubuhnya mepet ke ujung


sofa. Matanya kini saling menatap kuat dengan


mata tajam pria itu langsung mengadu kekuatan.


Di dalam ruangan itu anehnya sudah tidak ada


siapa-siapa lagi. Hanya mereka berdua.


"Aku bisa datang kemana pun aku mau sayang.


Kau tahu..aku sangat merindukanmu Maharaya."


"Tidak, kau pria gila.! Pergi kamu.! Sebentar lagi


Yang Mulya Raja akan datang ke tempat ini.."


"Mereka masih di perjalanan sayang.. Jadi


masih ada waktu buat kita bersenang-senang."


"Apa maksudmu.? Cepat pergi sekarang juga.!"


"Aku sudah susah payah masuk ke tempat ini..


Mana mungkin pergi begitu saja.!"


"Apa yang kau inginkan sebenarnya.?"


"Yang ku inginkan..? Tentu saja dirimu sayang..


Aku sangat menginginkan mu saat ini.."


Raya mendorong keras dada Lucas yang kini


semakin mendekatkan wajahnya dan mencoba


untuk menyentuh bibir indah nan menggoda itu.


Raya membulatkan matanya, dalam gerakan


cepat dia mendorong keras tubuh Lucas.


"Lepaskan aku.! B*j*ng*n kamu..!!"


Tubuh Lucas terdorong hingga beberapa meter


ke belakang. Raya segera berdiri dan mundur


menjauh dengan tatapan tajam menembus


sosok Lucas yang terlihat kembali menegakkan


badannya dengan seringai tipis di bibirnya.


"Ohhh.. lumayan juga.. Tapi kau tidak akan bisa


menandingi apa yang aku miliki sayang. Justru


kita ini adalah satu kesatuan.. Seharusnya kita

__ADS_1


bersama agar bisa menguasai dunia.."


Desis Lucas sambil kemudian berkelebat kearah


Raya dan menyeret tubuh nya ke dinding ruangan. Raya kini mulai di serang kepanikan saat kedua


tangannya di kunci oleh telapak tangan Lucas


yang kuat. Dia mencoba berontak melepaskan


diri dari kurungan tubuh tegap laki-laki itu.


"Lepaskan aku.! Jangan coba-coba berbuat


hal yang tidak senonoh padaku.!"


Ancam Raya dengan tatapan yang semakin


tajam, dan kini mulai ada kilat biru yang keluar


dari matanya dan berusaha di imbangi oleh


Lucas. Pria itu kembali menyeringai tipis sambil memejamkan mata mencoba menghirup aroma


tubuh Raya yang telah membuatnya gila.


"Aku bisa gila kalau tidak bisa memiliki dirimu


Maharaya.. Pasrahkan lah dirimu padaku saat


ini juga agar aku bisa keluar dari kegilaan ini."


Bisiknya sambil menyerang Raya dalam satu


gerakan cepat ingin menyergap bibir ranumnya


yang sangat menggoda itu. Raya menjerit sambil


memejamkan matanya. Dan sebelum bibir Lucas


bisa menyentuh bibir Raya tubuh Lucas tiba-tiba


terlempar ke belakang dengan sadis hingga


membentur dinding kaca bersamaan dengan


suara gaduh di luar ruangan dengan teriakan


yang memberitahu kedatangan Raja Williams.


Lucas menatap tajam wajah Raya dengan sorot


mata tidak percaya. Kekuatannya malah kembali


menyerang balik dirinya. Sungguh aneh, dia tidak


bisa menyentuh Raya sama sekali. Sudah dua


kali dia mencoba, tapi hasilnya sama.


"Kita akan bertemu lagi nanti.."


Desis Lucas sambil kemudian berkelebat keluar ruangan saat kegaduhan semakin mendekat.


Raya menarik nafas panjang mencoba untuk menenangkan diri dan melangkah kembali ke


arah sofa, berdiri tenang di sana karena kini


rombongan Raja Williams sudah tiba di pintu.


"Selamat datang Yang Mulya.."


Raya langsung menyambut kedatangan Sang


Raja seraya membungkuk setengah badan


penuh hormat. Tatapan mata tajam Sang Raja


langsung mengunci sosok mempesona yang


ada di hadapannya itu. Dia menarik napas berat,


wajahnya terlihat dingin dan keras. Sementara ekspresi wajah Perdana Menteri Alfred Winston tampak lebih dingin lagi cenderung kelam. Dia


melihat ke seluruh sudut ruangan.


***


"Aku tidak akan banyak bicara.! Tanda tangani


surat perjanjian itu dan kau bisa keluar dari


wilayah negara ini dengan aman tanpa adanya


pengasingan dan black list.!"


Raja Williams berucap tegas sambil menatap


tajam wajah Raya penuh intimidasi. Raya yang


berdiri tenang di hadapan nya tampak melihat


sekilas surat perjanjian itu.


"Mohon maaf Yang Mulya.. Seperti nya saya


tidak bisa melaksanakan perintah anda."


Sahut Raya lembut namun penuh keyakinan.


Wajah Raja Williams tampak semakin keras.


"Apa alasanmu menolak nota kesepahaman


ini, apa kau tahu, keutuhan negara sedang di pertaruhkan sekarang ini.? Dan semuanya


hanya karena seorang wanita biasa seperti


kamu yang asal usul nya saja tidak jelas.!!"


Suara Raja Williams naik satu oktaf membuat


semua orang yang ada di tempat itu bergetar


di telan ketegangan. Di ruangan itu saat ini


berkumpul orang-orang penting dari istana,


dari parlemen dan beberapa senator serta


beberapa Mayjend yang berwenang.


Raya kembali membungkukkan badan sedikit.


Sikapnya masih saja terlihat tenang.


"Yang Mulya.. saya mohon maaf atas keadaan


yang terjadi di luar kendali ini. Saya tidak pernah


menginginkan nya sama sekali. Tapi saya tidak


akan meninggalkan Putra Mahkota..karena kami


berdua saling mencintai.. kami berdua saling


membutuhkan.."


"Cukup omong kosong mu Maharaya..!!"


Raja Williams membentak dengan suara yang


semakin menundukkan kepalanya. Selain itu


orang-orang juga kini di landa rasa terkejut saat


mendengar pernyataan Raya yang begitu lugas tentang hubungan nya dengan Putra Mahkota.


Raya menundukkan kepalanya dalam. Mata


nya kini terpejam kuat, dia harus kuat, dia tidak


boleh goyah, demi cintanya, demi janin yang ada dalam kandungannya


"Kau sudah berani membantah titah Sang Raja.


Maka hukuman berat akan menantimu.!"


Kali ini Perdana Mentri Alfred yang berbicara


dengan nada ancaman yang jelas dengan sorot


mata menyala di penuhi angkara murka. Raja


Williams bangkit dari duduknya. Menatap Raya


dengan tatapan yang terlihat kompleks.


"Aku memberimu satu kesempatan lagi.! Apa


yang kau pertaruhkan di sini.? Cinta tidak akan


bisa membawamu kemana-mana. Negara ini


memiliki peraturan yang harus di patuhi. Mulai


saat ini tinggalkan Putra Mahkota dan lupakan


cintamu.!"


"Maaf Yang Mulya.. Saya mencintai Pangeran


dengan setulus hati. Saya tidak mengharapkan


kedudukan apapun. Saya hanya ingin selalu


berada di sisinya."


Wajah Raja Williams tampak semakin keras.


Dia benar-benar tidak menduga kalau wanita


ini sangat kokoh, tidak takut dengan ancaman


apapun, dia tidak gentar sekalipun berhadapan


dengan dirinya yang seorang Raja.


"Masukkan dia ke kurungan pengasingan. Dan


Jangan sampai Putra Mahkota datang untuk membebaskannya.! Aturan istana sangat jelas,


tidak bisa di interupsi oleh petisi ataupun aksi


unjuk rasa.!"


Raja Williams berucap dengan tegas dan jelas.


Raya tampak sedikit terkejut dengan keputusan


Raja Williams. Sementara Perdana Mentri Alfred


Winston menyeringai tipis penuh arti.


"Howard.. kau urus semua proses nya.!"


"Baik Yang Mulya.. laksanakan !"


Sambut Jendral Howard tegas dengan sikap


sempurna dan memberi hormat. Dia adalah


jenderal yang memimpin seluruh kesatuan,


dan sebenarnya bawahan setia Aaron. Raja


Williams kembali menatap wajah Raya dengan


sorot mata sedikit berat.


"Kau yang memilih jalan ini. Jadi jalani semua


sesuai yang di tetapkan !"


Tegas Raja Williams sambil kemudian berlalu


keluar dari ruangan itu. Perdana menteri Alfred


maju ke hadapan Raya..


"Siapa kau..sampai berani bersaing dengan


putri ku yang berharga.! Lihat dulu kelas mu,


harkat mu dan martabat mu..gadis bodoh.!"


Desis Perdana Mentri Alfred dengan nada yang


sangat merendahkan. Raya hanya bisa terdiam


tidak bereaksi apapun.


Semua orang kini pergi dari ruangan itu. Raya langsung di bawa menuju ke dalam lift kembali.


Kali ini jenderal Howard sendiri yang membawa


nya ke dalam ruang pengasingan yang entah


berada di lantai berapa karena kode di dinding


lift memakai simbol khusus.


"Maafkan saya Lady..Ini adalah perintah Yang


Mulya Raja langsung, jadi kami tidak berdaya..!"


Jendral Howard menundukkan kepalanya di


hadapan Raya begitu dia di masukkan ke dalam


ruangan kecil berukuran 3x3 meter yang hanya


di isi dengan tempat tidur kecil.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti semuanya."


Sahut Raya sambil kemudian melangkah kearah


tempat tidur. Pintu jeruji besi kini tertutup rapat.


Untuk sesaat Jendral Howard tampak menatap


berat kearah Raya yang kini terduduk lemas di


tepi tempat tidur. Namun akhirnya dengan


berat hati dia pergi meninggalkan Raya sendiri

__ADS_1


di ruang pengasingan yang terlihat sangat menyeramkan, gelap dan lembab itu.


***


Situasi di lobby utama gedung Mabes tampak


genting. Di halaman depan baru saja mendarat


beberapa helikopter yang membawa Aaron dan


pasukan khusus nya. Dengan senjata berlaras


panjang Aaron di dampingi Ansel, Alex, Markus


dan barisan para pengawal pilihan masuk ke


ke dalam gedung di sambut langsung oleh dua


jendral angkatan ketahanan.


"Selamat datang Yang Mulya.."


"Jangan basa-basi..! Katakan padaku dimana


kalian mengasingkan nya ?"


"Maafkan kami Yang Mulya..Ini adalah perintah


langsung dari Yang Mulya Raja."


"Aku pemimpin kalian di sini.! Jangan coba-coba


melangkahi ku.! Cepat katakan di mana kalian


menempatkan nya.!!"


Bentakan Aaron menggelegar memecah hening


tegang yang kini tercipta di ruangan. Kamera para


wartawan saat ini sedang menyala dan merekam


secara live. Para jendral dan perwira tinggi hanya


bisa menundukkan kepala bingung.


"Sekali lagi kami mohon maaf Yang Mulya. Titah


Raja adalah sesuatu yang mutlak. Kami akan


melaksanakan dengan penuh tanggung jawab."


"Brengsek ! Dengan melakukan ini kalian semua


telah menghinaku.! Bergerak.. cepat.!!


Aaron menodongkan dua senjata di tangannya


ke arah dua jendral di depannya. Namun mereka


tidak gentar. Anak buah Aaron mulai bergerak,


tapi puluhan prajurit bersenjata lengkap tiba-tiba


datang dan mengepung seluruh pasukan Aaron.


Para wartawan kini bergetar ketakutan, mereka


semua mulai mundur menjauhi area lobby utama


yang sangat luas dan megah itu.


"Kami hanya menjalankan perintah dari Yang


Mulya Raja. Sebaiknya anda berbicara dulu


dengan beliau Pangeran.!"


Jendral Howard berbicara dengan nada yang


sangat sungkan. Kebingungan kini melanda


para petinggi itu. Namun perintah Raja adalah


di atas segalanya. Wajah Aaron kini berubah


kelam dan menjelma menjadi underground


devil yang menyeramkan.


"Baiklah..! Kalian memang patuh. Tapi aku


tidak bisa membiarkan wanitaku berada di


dalam pengasingan.!"


Duarr ! Duarr !


Aaron melancarkan tembakan ke segala arah


membuat suasana berubah genting seketika.


"Yang Mulya saya mohon jangan membuat


suasana bertambah genting. Anda tidak bisa


bertindak gegabah seperti ini.! Semuanya bisa


di bicarakan baik-baik.! Semua ada prosedur


yang harus di taati.!"


Dua jenderal membungkuk dalam di hadapan


Aaron yang tiada henti melancarkan tembakan


sambil berjalan kearah lift. Tapi barisan prajurit


kini rapat menghadang. Mereka adalah pasukan


berani mati, yang akan berdiri paling depan.


Aaron menghentikan langkahnya, wajahnya kini


sudah tak terbaca seperti apa. Dia masih bisa


berpikir, tidak mungkin menumpahkan darah


dari prajurit yang tidak bersalah. Tapi.. Raya..


bagaimanakah keadaannya sekarang.? Dia


pasti sedang menunggu kedatangannya.


Aaron meraih ponsel dari saku jas nya. Mau


tidak mau dia harus menghubungi Sang Raja.


Namun dalam keadaan itu di halaman depan


tiba-tiba saja datang 3 helikopter tempur yang


berbeda kode dan modelnya. Heli ini terlihat


sangat canggih dan modern. Dan yang paling


membuat mata para prajurit menatap tidak


percaya adalah lambang negara serta bendera


yang kini tergambar di heli tersebut.


Puluhan prajurit penjaga berlarian kearah Heli


tersebut menyambut siapa yang datang karena


rasanya ini tidak mungkin. Mata para prajurit


kini membelalak sempurna, karena yang tidak


mungkin itu benar-benar terjadi.


Seseorang keluar dari heli yang paling depan.


Dia adalah seorang pria setengah baya dengan


tinggi badan yang sangat proporsional sebagai seorang tentara, memiliki garis wajah yang keras


dan tegas dan tentunya sangatlah tampan di


usianya sekarang dengan tatapan setajam elang


yang siap menerkam mangsa. Dia mengenakkan pakaian dinas resmi dengan mantel tebal yang


terlihat sangat mahal dan exlusive, memakai


ikat kepala khas negaraTimur Tengah.


Pria tinggi menjulang itu di dampingi seorang


pria tinggi besar dengan tampang brewos yang


mampu membuat orang gemetar takut saat


melihatnya. Kemudian beberapa pengawal


bertubuh tinggi gagah dengan setelan resmi


hitam-hitam berkacamata hitam. Mereka


semua tidak membawa senjata apapun.


Terlihat santai dan tenang.


"Jenderal Serkan.."


Semua prajurit kini bergumam tidak percaya


pada apa yang di lihatnya. Bagaimana bisa


jendral besar itu berkunjung ke markas mereka,


bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Selamat datang Jenderal.."


Semua prajurit membungkuk dalam, berbaris melingkar menyambut kedatangan orang yang


tidak terduga itu. Pria itu yang tiada lain adalah


Prince Serkan Ahmed As Syaf Sulaiman tampak menepiskan tangan ke udara.


"Mari Jenderal.. silahkan.."


Salah seorang perwira langsung membimbing


Serkan untuk masuk ke dalam gedung dengan


wajah dan pikiran yang masih terkesima atas


kedatangan orang yang sangat berpengaruh


ini apalagi di dunia kemiliteran.


Aaron dan semua orang yang ada di dalam


ruangan tampak bengong melihat kemunculan


pria tinggi gagah itu ke tempat ini. Mata Aaron


dan mata Serkan bertemu, panas dan saling


mengadu kekuatan. Para jendral dan semua


orang yang ada di ruangan itu langsung saja


membungkuk setengah badan di hadapan pria


penuh kharisma dan aura kehadiran yang


teramat mendominasi itu.


"Se-selamat datang Jenderal Serkan.. Senang


sekali mendapat kunjungan anda ke tempat


ini. Tapi mohon maaf.. kami tidak layak.."


"Aku datang kesini memang mendadak.!"


Potong pria itu dengan cepat, matanya masih


mengunci sosok Aaron yang kini mendekat lalu membungkuk di hadapannya penuh hormat.


"Selamat datang ketua.. Sungguh..ini adalah


kejutan yang luar biasa. Maaf..semua terjadi


di luar kendali ku.."


"Kau sudah bertindak ceroboh Pangeran.!!"


Debat Serkan dengan nada keras dan tegas.


Aaron menundukkan kepalanya. Serkan kini


berpaling pada dua jenderal yang ada di depan


nya, masih dalam mode tidak percaya bahwa


seorang Serkan akan datang tanpa di duga


seperti ini. Mereka seolah tidak bisa berpikir


apa yang harus di lakukan saat ini.


"Aku datang kesini karena ingin membebaskan


seseorang dari kurungan kalian di tempat ini."


Para jenderal tampak bingung, saling melihat


satu sama lain.


"Mohon maaf Jenderal.. siapakah gerangan


orang yang anda maksud.?"


"Seorang wanita yang baru saja kalian bawa


dan kalian masukan ke dalam pengasingan


Maharaya Emeera As Syaf Sulaiman.."


Para jenderal dan semua orang yang ada di


tempat itu tercengang, mematung di tempat,

__ADS_1


benar-benar syok luar biasa..


***


__ADS_2