
***
Beberapa jam kemudian...
Rombongan mobil-mobil pasukan khusus yang
membawa Raya akhirnya memasuki kawasan
Markas Besar tentara Negara xxx.. di serbu
langsung oleh puluhan wartawan.
Dan yang membuat Raya sedikit syok adalah
adanya ratusan demonstran yang berkumpul
di jalanan menuju kawasan gedung Mabes itu.
Raya memekik kuat ketika para pendemo itu melakukan aksi anarkis, melempari mobil yang membawa Raya dengan batu dan benda-benda
lainnya sambil berteriak-teriak keras mencoba
menyampaikan kekesalannya. Wajah Raya kini
memucat, dia tidak menduga akan mendapat
sambutan istimewa seperti ini.
Ya Allah...apa ini.? Kenapa harus sampai
seperti ini ? Sebenarnya apa salahku...
Raya bergumam seraya memegangi dadanya.
Empat orang polisi wanita segera bergerak untuk
melindungi Raya dari segala kemungkinan.
Mobil melaju cepat menuju ke dalam gedung
di ikuti oleh para wartawan yang sudah memiliki
ijin khusus untuk memasuki tempat yang cukup menggetarkan jiwa itu karena kemegahan nya
serta kesan tegas yang tergambar dari beberapa patung singa yang ada di halaman depan
sebagai icon tempat ini. Puluhan tentara
langsung memblokade area steril itu dari
serbuan para pendemo.
Tiba di parkiran khusus Raya turun dari mobil, di sambut langsung oleh beberapa perwira tinggi.
Kembali.. jepretan dan kilatan kamera mengarah
pada dirinya, melahap seluruh sosoknya yang
terlihat berdiri tenang dan anggun. Jessica maju, melepas mantel yang di gunakan Raya hingga sosoknya yang mempesona kini nampak jelas
dan nyata di depan kamera membuat semua
mata tampak terpesona padanya.
"Selamat siang Miss Maharaya.. Mari ikuti kami."
Ujar salah seorang perwira. Raya menatap para
perwira itu tenang, namun ada aura mematikan
yang kini mulai terpancar keluar dari dirinya
membuat orang-orang yang ada di sana seketika
menundukkan kepala tidak sanggup kalau harus
berlaku lancang menatap wajah super cantik
wanita nya Putra Mahkota itu.
"Apakah bawahan saya bisa ikut masuk Tuan.?"
Raya bertanya dengan suara yang lembut namun
tegas dan sikap yang tampak begitu tenang.
"Mohon maaf Miss.. kami tidak memberi ijin
siapapun untuk ikut masuk ke ruang isolasi.!"
"Ruang isolasi.? Apakah ini tidak terkesan sedikit
berlebihan Tuan-tuan.? Saya bukan penjahat."
"Ini adalah perintah langsung Perdana Mentri."
"Ohh.. ya.. tentu saja. Baiklah.."
Raya tersenyum tipis. Dia melirik kearah para
bawahannya yang terlihat keberatan.
"Silahkan Miss Maharaya..!"
Salah seorang perwira memberi isyarat agar
Raya segera melangkah. Para bawahan Raya
tampak bergerak ingin menghadang, namun
Raya segera mengangkat tangannya sambil
menatap mereka memastikan bahwa semuanya
akan baik-baik saja. Setelah itu dia melangkah
tenang bersama rombongan para perwira dan
beberapa pasukan pengawal memasuki privat
lift yang tidak bisa di akses oleh sembarang orang.
Benjamin dan Griz serta para pengawal nampak kalangkabut karena tidak bisa mengikuti Lady
mereka dan hanya bisa menunggu di lantai
dasar tersebut. Para wartawan juga sama
kecewanya karena tidak bisa meliput apa yang
terjadi selanjutnya. Dan kini terjadi pembicaraan
seru diantara para pewarta itu mengenai sikap
tenang dan kharisma kuat yang terpancar dari
diri Sektretaris Putra Mahkota yang sedang
menjadi objek kerusuhan di negara xxx..sejak
beberapa hari terakhir itu. Dia sungguh diluar
dugaan, sangat tenang, anggun dan elegan.
Sementara itu Raya baru saja keluar dari lift
kemudian di bimbing memasuki sebuah ruang
yang ada di lantai atas. Para penghuni markas
besar itu yang kebetulan berpapasan dengan
rombongan mereka tampak terpaku di tempat
saat melihat kehadiran Raya.
Akhirnya Raya di bawa masuk ke sebuah ruang
yang cukup besar dengan dinding kaca di semua
bagiannya hingga bisa dengan jelas melihat apa
yang terjadi di halaman depan markas itu.
"Silahkan anda tunggu di sini, sebentar lagi Yang
Mulya Raja dan Perdana Menteri akan tiba."
Tegas seorang perwira sambil kemudian keluar
dari ruangan meninggalkan Raya yang di temani
oleh beberapa pengawal wanita. Raya menarik
nafas panjang sambil menjatuhkan dirinya di
atas sofa. Dia memejamkan matanya kuat.
Aaron.. dimana kamu.. Aku membutuhkan
dirimu saat ini..
Raya bergumam sambil merebahkan tubuhnya
ke sandaran sofa. Kepalanya saat ini sedikit
pusing. Dan ada rasa tidak nyaman di perutnya.
Sayang.. Ibu mohon.. kuatlah.. bantu ibu
untuk melewati semua ini.. Kita harus kuat..
Lirih Raya pelan sambil mengusap lembut perut
datarnya saat rasa mual kini mulai menyerang
dan membuatnya semakin tidak nyaman. Dia
tidak boleh memperlihatkan kejanggalan ini
pada orang-orang yang ada di tempat ini. Dia
kembali mencoba berbisik pelan dan mengusap
lembut perut nya. Dan akhirnya rasa mual itu
perlahan berkurang. Dia memejamkan mata
mencoba untuk meredam rasa mual yang
masih tersisa.
"Hello baby.. akhirnya kita bertemu lagi di sini."
Mata Raya terbuka dan kini melebar, terkejut
bukan main saat melihat satu sosok menawan
yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya, sedang menatapnya penuh dengan kerinduan.
"Lu-lucas..kamu..?"
"Yes baby.. it's me.."
Ucap sosok itu, tanpa basa-basi dia langsung
mengurung tubuh Raya yang belum sempat
bangkit dari duduknya. Sosok itu yang tiada
lain adalah Lucas meletakkan kedua tangannya
di kedua sisi tubuh Raya.
"Lucas..! Kenapa kamu bisa ada di sini.?"
Raya memundurkan tubuhnya mepet ke ujung
sofa. Matanya kini saling menatap kuat dengan
mata tajam pria itu langsung mengadu kekuatan.
Di dalam ruangan itu anehnya sudah tidak ada
siapa-siapa lagi. Hanya mereka berdua.
"Aku bisa datang kemana pun aku mau sayang.
Kau tahu..aku sangat merindukanmu Maharaya."
"Tidak, kau pria gila.! Pergi kamu.! Sebentar lagi
Yang Mulya Raja akan datang ke tempat ini.."
"Mereka masih di perjalanan sayang.. Jadi
masih ada waktu buat kita bersenang-senang."
"Apa maksudmu.? Cepat pergi sekarang juga.!"
"Aku sudah susah payah masuk ke tempat ini..
Mana mungkin pergi begitu saja.!"
"Apa yang kau inginkan sebenarnya.?"
"Yang ku inginkan..? Tentu saja dirimu sayang..
Aku sangat menginginkan mu saat ini.."
Raya mendorong keras dada Lucas yang kini
semakin mendekatkan wajahnya dan mencoba
untuk menyentuh bibir indah nan menggoda itu.
Raya membulatkan matanya, dalam gerakan
cepat dia mendorong keras tubuh Lucas.
"Lepaskan aku.! B*j*ng*n kamu..!!"
Tubuh Lucas terdorong hingga beberapa meter
ke belakang. Raya segera berdiri dan mundur
menjauh dengan tatapan tajam menembus
sosok Lucas yang terlihat kembali menegakkan
badannya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Ohhh.. lumayan juga.. Tapi kau tidak akan bisa
menandingi apa yang aku miliki sayang. Justru
kita ini adalah satu kesatuan.. Seharusnya kita
__ADS_1
bersama agar bisa menguasai dunia.."
Desis Lucas sambil kemudian berkelebat kearah
Raya dan menyeret tubuh nya ke dinding ruangan. Raya kini mulai di serang kepanikan saat kedua
tangannya di kunci oleh telapak tangan Lucas
yang kuat. Dia mencoba berontak melepaskan
diri dari kurungan tubuh tegap laki-laki itu.
"Lepaskan aku.! Jangan coba-coba berbuat
hal yang tidak senonoh padaku.!"
Ancam Raya dengan tatapan yang semakin
tajam, dan kini mulai ada kilat biru yang keluar
dari matanya dan berusaha di imbangi oleh
Lucas. Pria itu kembali menyeringai tipis sambil memejamkan mata mencoba menghirup aroma
tubuh Raya yang telah membuatnya gila.
"Aku bisa gila kalau tidak bisa memiliki dirimu
Maharaya.. Pasrahkan lah dirimu padaku saat
ini juga agar aku bisa keluar dari kegilaan ini."
Bisiknya sambil menyerang Raya dalam satu
gerakan cepat ingin menyergap bibir ranumnya
yang sangat menggoda itu. Raya menjerit sambil
memejamkan matanya. Dan sebelum bibir Lucas
bisa menyentuh bibir Raya tubuh Lucas tiba-tiba
terlempar ke belakang dengan sadis hingga
membentur dinding kaca bersamaan dengan
suara gaduh di luar ruangan dengan teriakan
yang memberitahu kedatangan Raja Williams.
Lucas menatap tajam wajah Raya dengan sorot
mata tidak percaya. Kekuatannya malah kembali
menyerang balik dirinya. Sungguh aneh, dia tidak
bisa menyentuh Raya sama sekali. Sudah dua
kali dia mencoba, tapi hasilnya sama.
"Kita akan bertemu lagi nanti.."
Desis Lucas sambil kemudian berkelebat keluar ruangan saat kegaduhan semakin mendekat.
Raya menarik nafas panjang mencoba untuk menenangkan diri dan melangkah kembali ke
arah sofa, berdiri tenang di sana karena kini
rombongan Raja Williams sudah tiba di pintu.
"Selamat datang Yang Mulya.."
Raya langsung menyambut kedatangan Sang
Raja seraya membungkuk setengah badan
penuh hormat. Tatapan mata tajam Sang Raja
langsung mengunci sosok mempesona yang
ada di hadapannya itu. Dia menarik napas berat,
wajahnya terlihat dingin dan keras. Sementara ekspresi wajah Perdana Menteri Alfred Winston tampak lebih dingin lagi cenderung kelam. Dia
melihat ke seluruh sudut ruangan.
***
"Aku tidak akan banyak bicara.! Tanda tangani
surat perjanjian itu dan kau bisa keluar dari
wilayah negara ini dengan aman tanpa adanya
pengasingan dan black list.!"
Raja Williams berucap tegas sambil menatap
tajam wajah Raya penuh intimidasi. Raya yang
berdiri tenang di hadapan nya tampak melihat
sekilas surat perjanjian itu.
"Mohon maaf Yang Mulya.. Seperti nya saya
tidak bisa melaksanakan perintah anda."
Sahut Raya lembut namun penuh keyakinan.
Wajah Raja Williams tampak semakin keras.
"Apa alasanmu menolak nota kesepahaman
ini, apa kau tahu, keutuhan negara sedang di pertaruhkan sekarang ini.? Dan semuanya
hanya karena seorang wanita biasa seperti
kamu yang asal usul nya saja tidak jelas.!!"
Suara Raja Williams naik satu oktaf membuat
semua orang yang ada di tempat itu bergetar
di telan ketegangan. Di ruangan itu saat ini
berkumpul orang-orang penting dari istana,
dari parlemen dan beberapa senator serta
beberapa Mayjend yang berwenang.
Raya kembali membungkukkan badan sedikit.
Sikapnya masih saja terlihat tenang.
"Yang Mulya.. saya mohon maaf atas keadaan
yang terjadi di luar kendali ini. Saya tidak pernah
menginginkan nya sama sekali. Tapi saya tidak
akan meninggalkan Putra Mahkota..karena kami
berdua saling mencintai.. kami berdua saling
membutuhkan.."
"Cukup omong kosong mu Maharaya..!!"
Raja Williams membentak dengan suara yang
semakin menundukkan kepalanya. Selain itu
orang-orang juga kini di landa rasa terkejut saat
mendengar pernyataan Raya yang begitu lugas tentang hubungan nya dengan Putra Mahkota.
Raya menundukkan kepalanya dalam. Mata
nya kini terpejam kuat, dia harus kuat, dia tidak
boleh goyah, demi cintanya, demi janin yang ada dalam kandungannya
"Kau sudah berani membantah titah Sang Raja.
Maka hukuman berat akan menantimu.!"
Kali ini Perdana Mentri Alfred yang berbicara
dengan nada ancaman yang jelas dengan sorot
mata menyala di penuhi angkara murka. Raja
Williams bangkit dari duduknya. Menatap Raya
dengan tatapan yang terlihat kompleks.
"Aku memberimu satu kesempatan lagi.! Apa
yang kau pertaruhkan di sini.? Cinta tidak akan
bisa membawamu kemana-mana. Negara ini
memiliki peraturan yang harus di patuhi. Mulai
saat ini tinggalkan Putra Mahkota dan lupakan
cintamu.!"
"Maaf Yang Mulya.. Saya mencintai Pangeran
dengan setulus hati. Saya tidak mengharapkan
kedudukan apapun. Saya hanya ingin selalu
berada di sisinya."
Wajah Raja Williams tampak semakin keras.
Dia benar-benar tidak menduga kalau wanita
ini sangat kokoh, tidak takut dengan ancaman
apapun, dia tidak gentar sekalipun berhadapan
dengan dirinya yang seorang Raja.
"Masukkan dia ke kurungan pengasingan. Dan
Jangan sampai Putra Mahkota datang untuk membebaskannya.! Aturan istana sangat jelas,
tidak bisa di interupsi oleh petisi ataupun aksi
unjuk rasa.!"
Raja Williams berucap dengan tegas dan jelas.
Raya tampak sedikit terkejut dengan keputusan
Raja Williams. Sementara Perdana Mentri Alfred
Winston menyeringai tipis penuh arti.
"Howard.. kau urus semua proses nya.!"
"Baik Yang Mulya.. laksanakan !"
Sambut Jendral Howard tegas dengan sikap
sempurna dan memberi hormat. Dia adalah
jenderal yang memimpin seluruh kesatuan,
dan sebenarnya bawahan setia Aaron. Raja
Williams kembali menatap wajah Raya dengan
sorot mata sedikit berat.
"Kau yang memilih jalan ini. Jadi jalani semua
sesuai yang di tetapkan !"
Tegas Raja Williams sambil kemudian berlalu
keluar dari ruangan itu. Perdana menteri Alfred
maju ke hadapan Raya..
"Siapa kau..sampai berani bersaing dengan
putri ku yang berharga.! Lihat dulu kelas mu,
harkat mu dan martabat mu..gadis bodoh.!"
Desis Perdana Mentri Alfred dengan nada yang
sangat merendahkan. Raya hanya bisa terdiam
tidak bereaksi apapun.
Semua orang kini pergi dari ruangan itu. Raya langsung di bawa menuju ke dalam lift kembali.
Kali ini jenderal Howard sendiri yang membawa
nya ke dalam ruang pengasingan yang entah
berada di lantai berapa karena kode di dinding
lift memakai simbol khusus.
"Maafkan saya Lady..Ini adalah perintah Yang
Mulya Raja langsung, jadi kami tidak berdaya..!"
Jendral Howard menundukkan kepalanya di
hadapan Raya begitu dia di masukkan ke dalam
ruangan kecil berukuran 3x3 meter yang hanya
di isi dengan tempat tidur kecil.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti semuanya."
Sahut Raya sambil kemudian melangkah kearah
tempat tidur. Pintu jeruji besi kini tertutup rapat.
Untuk sesaat Jendral Howard tampak menatap
berat kearah Raya yang kini terduduk lemas di
tepi tempat tidur. Namun akhirnya dengan
berat hati dia pergi meninggalkan Raya sendiri
__ADS_1
di ruang pengasingan yang terlihat sangat menyeramkan, gelap dan lembab itu.
***
Situasi di lobby utama gedung Mabes tampak
genting. Di halaman depan baru saja mendarat
beberapa helikopter yang membawa Aaron dan
pasukan khusus nya. Dengan senjata berlaras
panjang Aaron di dampingi Ansel, Alex, Markus
dan barisan para pengawal pilihan masuk ke
ke dalam gedung di sambut langsung oleh dua
jendral angkatan ketahanan.
"Selamat datang Yang Mulya.."
"Jangan basa-basi..! Katakan padaku dimana
kalian mengasingkan nya ?"
"Maafkan kami Yang Mulya..Ini adalah perintah
langsung dari Yang Mulya Raja."
"Aku pemimpin kalian di sini.! Jangan coba-coba
melangkahi ku.! Cepat katakan di mana kalian
menempatkan nya.!!"
Bentakan Aaron menggelegar memecah hening
tegang yang kini tercipta di ruangan. Kamera para
wartawan saat ini sedang menyala dan merekam
secara live. Para jendral dan perwira tinggi hanya
bisa menundukkan kepala bingung.
"Sekali lagi kami mohon maaf Yang Mulya. Titah
Raja adalah sesuatu yang mutlak. Kami akan
melaksanakan dengan penuh tanggung jawab."
"Brengsek ! Dengan melakukan ini kalian semua
telah menghinaku.! Bergerak.. cepat.!!
Aaron menodongkan dua senjata di tangannya
ke arah dua jendral di depannya. Namun mereka
tidak gentar. Anak buah Aaron mulai bergerak,
tapi puluhan prajurit bersenjata lengkap tiba-tiba
datang dan mengepung seluruh pasukan Aaron.
Para wartawan kini bergetar ketakutan, mereka
semua mulai mundur menjauhi area lobby utama
yang sangat luas dan megah itu.
"Kami hanya menjalankan perintah dari Yang
Mulya Raja. Sebaiknya anda berbicara dulu
dengan beliau Pangeran.!"
Jendral Howard berbicara dengan nada yang
sangat sungkan. Kebingungan kini melanda
para petinggi itu. Namun perintah Raja adalah
di atas segalanya. Wajah Aaron kini berubah
kelam dan menjelma menjadi underground
devil yang menyeramkan.
"Baiklah..! Kalian memang patuh. Tapi aku
tidak bisa membiarkan wanitaku berada di
dalam pengasingan.!"
Duarr ! Duarr !
Aaron melancarkan tembakan ke segala arah
membuat suasana berubah genting seketika.
"Yang Mulya saya mohon jangan membuat
suasana bertambah genting. Anda tidak bisa
bertindak gegabah seperti ini.! Semuanya bisa
di bicarakan baik-baik.! Semua ada prosedur
yang harus di taati.!"
Dua jenderal membungkuk dalam di hadapan
Aaron yang tiada henti melancarkan tembakan
sambil berjalan kearah lift. Tapi barisan prajurit
kini rapat menghadang. Mereka adalah pasukan
berani mati, yang akan berdiri paling depan.
Aaron menghentikan langkahnya, wajahnya kini
sudah tak terbaca seperti apa. Dia masih bisa
berpikir, tidak mungkin menumpahkan darah
dari prajurit yang tidak bersalah. Tapi.. Raya..
bagaimanakah keadaannya sekarang.? Dia
pasti sedang menunggu kedatangannya.
Aaron meraih ponsel dari saku jas nya. Mau
tidak mau dia harus menghubungi Sang Raja.
Namun dalam keadaan itu di halaman depan
tiba-tiba saja datang 3 helikopter tempur yang
berbeda kode dan modelnya. Heli ini terlihat
sangat canggih dan modern. Dan yang paling
membuat mata para prajurit menatap tidak
percaya adalah lambang negara serta bendera
yang kini tergambar di heli tersebut.
Puluhan prajurit penjaga berlarian kearah Heli
tersebut menyambut siapa yang datang karena
rasanya ini tidak mungkin. Mata para prajurit
kini membelalak sempurna, karena yang tidak
mungkin itu benar-benar terjadi.
Seseorang keluar dari heli yang paling depan.
Dia adalah seorang pria setengah baya dengan
tinggi badan yang sangat proporsional sebagai seorang tentara, memiliki garis wajah yang keras
dan tegas dan tentunya sangatlah tampan di
usianya sekarang dengan tatapan setajam elang
yang siap menerkam mangsa. Dia mengenakkan pakaian dinas resmi dengan mantel tebal yang
terlihat sangat mahal dan exlusive, memakai
ikat kepala khas negaraTimur Tengah.
Pria tinggi menjulang itu di dampingi seorang
pria tinggi besar dengan tampang brewos yang
mampu membuat orang gemetar takut saat
melihatnya. Kemudian beberapa pengawal
bertubuh tinggi gagah dengan setelan resmi
hitam-hitam berkacamata hitam. Mereka
semua tidak membawa senjata apapun.
Terlihat santai dan tenang.
"Jenderal Serkan.."
Semua prajurit kini bergumam tidak percaya
pada apa yang di lihatnya. Bagaimana bisa
jendral besar itu berkunjung ke markas mereka,
bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Selamat datang Jenderal.."
Semua prajurit membungkuk dalam, berbaris melingkar menyambut kedatangan orang yang
tidak terduga itu. Pria itu yang tiada lain adalah
Prince Serkan Ahmed As Syaf Sulaiman tampak menepiskan tangan ke udara.
"Mari Jenderal.. silahkan.."
Salah seorang perwira langsung membimbing
Serkan untuk masuk ke dalam gedung dengan
wajah dan pikiran yang masih terkesima atas
kedatangan orang yang sangat berpengaruh
ini apalagi di dunia kemiliteran.
Aaron dan semua orang yang ada di dalam
ruangan tampak bengong melihat kemunculan
pria tinggi gagah itu ke tempat ini. Mata Aaron
dan mata Serkan bertemu, panas dan saling
mengadu kekuatan. Para jendral dan semua
orang yang ada di ruangan itu langsung saja
membungkuk setengah badan di hadapan pria
penuh kharisma dan aura kehadiran yang
teramat mendominasi itu.
"Se-selamat datang Jenderal Serkan.. Senang
sekali mendapat kunjungan anda ke tempat
ini. Tapi mohon maaf.. kami tidak layak.."
"Aku datang kesini memang mendadak.!"
Potong pria itu dengan cepat, matanya masih
mengunci sosok Aaron yang kini mendekat lalu membungkuk di hadapannya penuh hormat.
"Selamat datang ketua.. Sungguh..ini adalah
kejutan yang luar biasa. Maaf..semua terjadi
di luar kendali ku.."
"Kau sudah bertindak ceroboh Pangeran.!!"
Debat Serkan dengan nada keras dan tegas.
Aaron menundukkan kepalanya. Serkan kini
berpaling pada dua jenderal yang ada di depan
nya, masih dalam mode tidak percaya bahwa
seorang Serkan akan datang tanpa di duga
seperti ini. Mereka seolah tidak bisa berpikir
apa yang harus di lakukan saat ini.
"Aku datang kesini karena ingin membebaskan
seseorang dari kurungan kalian di tempat ini."
Para jenderal tampak bingung, saling melihat
satu sama lain.
"Mohon maaf Jenderal.. siapakah gerangan
orang yang anda maksud.?"
"Seorang wanita yang baru saja kalian bawa
dan kalian masukan ke dalam pengasingan
Maharaya Emeera As Syaf Sulaiman.."
Para jenderal dan semua orang yang ada di
tempat itu tercengang, mematung di tempat,
__ADS_1
benar-benar syok luar biasa..
***