Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
70. Makanan Aneh


__ADS_3

Para pengendara tampak keluar dari mobil


mereka dan berdiri di depan pintu melihat


kearah Aaron, meyakini bahwa sosok yang


barusan terjun dari atas helikopter tersebut


adalah Sang Pangeran negara xxx.. Putra


Mahkota kerajaan ini. Semuanya sungguh


sulit untuk di percaya. Tenyata Pangeran


mereka bukan hanya sangat tampan namun


juga sangat keren dan pemberani.


Ansel menatap cemas kearah keduanya. Aaron


langsung mendudukkan Raya di jok depan di


samping kemudi lalu memasangkan sabuk dan


mengecup lembut kening Raya yang tiba-tiba


saja meringis sambil memegangi perutnya.


"Aaa...A-Aaron.. perutku sakit ahhh..."


Raya merintih sambil memegangi kuat lengan


Aaron yang terlihat terkejut bukan main.


"Apanya yang sakit.? Apa manusia berdebah


itu menyakiti mu tadi..?"


"Ti-tidak.. tapi perutku sakit banget Aaron.."


Raya memejamkan mata sambil menekan kuat


perutnya yang terasa semakin melilit. Ansel


yang dari tadi berdiri luar pintu mobil tampak


khawatir melihat reaksi Raya yang kini terlihat


sudah mulai memucat.


"Kakak kita harus segera membawanya pulang.


Dia harus segera mendapatkan perawatan dan


beristirahat. Kita gunakan helikopter saja agar


bisa cepat sampai.!"


Ansel berbicara dengan suara yang terdengar


sangat khawatir. Aaron menatap tajam wajah


Raya yang masih memejamkan matanya dalam keadaan meringis kesakitan.


"Baiklah.. turunkan helikopter untukku.!"


Titah Aaron dengan wajah yang sudah sangat


dingin melihat kondisi Raya yang semakin


terlihat lemas. Tangannya kini mengelus pelan


perut datar Raya dengan otak yang berputar


cepat, kenapa Raya selalu mengeluh sakit di


bagian perutnya.


Ajaib..!! begitu tangan Aaron mengelus lembut perutnya rasa sakit yang tadi di rasakan oleh


Raya kini berangsur-angsur mulai sirna di ganti


oleh rasa lain, rasa lapar yang teramat sangat


karena saat ini memang sudah lewat waktunya


makan siang.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu ?


Apa rasa sakitnya masih ada ?"


Aaron berucap sambil tiada henti mengelus


pelan perut Raya yang kini membuka matanya perlahan. Mata mereka saling menatap teduh.


Tangan Raya memegang tangan Aaron yang


masih mengelus-elus perutnya.


"Aaron aku ingin pulang ke White House.


Aku sekarang sudah tidak apa-apa.!"


"Tidak kita akan pulang ke Green Palace..


Kau harus mendapat perawatan."


"Pokoknya aku ingin pulang ke White House.


Aku kangen dapurku.!"


"Maharaya De Enzo..! Jangan membantahku


terus, aku ini suamimu.!"


"Aaron..aku lapar.! Aku hanya ingin memakan


sesuatu buatanku sendiri.!"


Aaron terdiam dengan reaksi wajah yang kini


terlihat aneh. Ansel yang baru muncul kembali


ke dekat mereka pun ikut-ikutan bengong. Raut


wajah Aaron tampak semakin aneh, ada rasa


bersalah yang menghantam dadanya. Jadi


istrinya ini sebenarnya kelaparan ? Laki-laki


macam apa dirinya, membiarkan wanitanya


sendiri dalam kelaparan. Apalagi tadi pagi


mereka berdua memang tidak sarapan dulu.


"Baiklah.. kita akan pergi kemanapun kamu


suka Lady.! Ayo..kita pulang ke White House..!"


Titah Aaron pada semua bawahannya sambil kemudian mengangkat kembali tubuh Raya ke


dalam pangkuannya. Raya reflek mengalungkan


tangannya di leher Aaron seraya merebahkan


kepala di dada bidang suaminya itu dengan


senyum manis yang terulas di bibir indahnya.


Helikopter yang di bawa oleh Markus tampak


berputar-putar di udara di atas area yang sudah


di sterilkan oleh pasukan Singa putih kemudian mendarat perlahan membuat semua orang yang


dari tadi memperhatikan pergerakan Aaron di


bawah pengawalan pasukan singa putih otomatis


mundur menghindari sapuan angin dari pesawat.


Mereka semua tidak bisa mendekat. Para wanita hanya bisa berteriak-teriak histeris memanggil


nama Sang Pangeran yang tidak peduli sama


sekali karena yang ada di mata nya hanyalah


sosok cantik jelita dalam gendongannya.


Dengan langkah lebar Aaron berjalan kearah


helikopter tersebut kemudian naik tanpa melepas Raya dari pangkuannya. Tidak lama pesawat itu kembali mengudara meninggalkan kawasan


tersebut, menyisakan kegaduhan dan keributan


dari orang-orang yang memfokuskan perhatian


pada kereta cepat tadi yang sudah berhasil


berhenti tepat di ujung rel buntu tersebut di


sambut jeritan haru orang-orang menyaksikan


kereta itu tidak jadi jatuh ke dalam lautan.


Mereka semua menarik napas lega sambil


mengusap dada yang tadi sempat berdebar


hebat di penuhi ketegangan.


***


Tiba di komplek perumahan, helikopter yang membawa Aaron dan Raya mendarat di landasan khusus yang ada di tempat berbeda dan berusaha


untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada para penghuni lain. Dari tempat itu mereka menaiki


mobil yang langsung meluncur ke arah perumahan hingga akhirnya tiba di white house. Lilly sudah


berdiri di depan pintu menyambut kedatangan


sang majikan yang sudah semalam tidak pulang.


Aaron langsung membawa Raya naik ke kamar


di lantai atas dan keduanya langsung masuk ke


kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini


Aaron benar-benar sabar dan mencoba menahan


diri untuk tidak menerkam selama memandikan


Raya. Walupun Raya menolak mati-matian apa


yang di lakukan oleh suaminya itu, tapi kalau


Aaron sudah berkehendak maka sudah tidak


ada kesempatan lagi bagi dirinya untuk berlari.


Mereka berdua melanjutkan kegiatan dengan


sholat Ashar berjamaah dan berdoa bersama, memohon perlindungan dan pengampunan


Tuhan atas segala yang telah di alami barusan.


Aaron sempat tertegun begitu menyadari saat


ini tidak ada trauma ataupun kecemasan yang biasanya di alami oleh Raya setelah mengalami sebuah insident. Ini benar-benar aneh, apakah sekarang ini jiwa istrinya itu sudah lebih kuat


dan siap menghadapi segala kemungkinan


yang akan terjadi?


Begitu selesai beribadah keduanya turun ke


lantai bawah di sambut oleh Ansel dan Lily


di ruang keluarga.


"Aku akan membuatkan sesuatu yang spesial


untuk kita semua.!"


Ucap Raya sambil kemudian berlalu pergi ke


arah dapur yang sudah sangat di rindukannya


di iringi tatapan Aaron dan Ansel yang masih


terpesona melihat penampilan Raya yang kini


mengenakkan dress rumahan sebatas lutut


namun pas body hingga menampilkan bentuk


tubuh nya yang indah dan menggiurkan.


"Jaga matamu.! Kenapa kamu tidak juga


mencoba menghentikan obsesi mu padanya.!"


Geram Aaron sambil menepuk pundak Ansel


lalu melangkah menuju ruang depan karena

__ADS_1


ada hal yang harus di bahas bersama semua


bawahannya mengenai insiden tadi.


"Aku baru akan berhenti setelah memastikan


kalian berdua benar-benar saling terhubung


satu sama lain."


"Tidak perlu beralasan, walau bagaimanapun


dia adalah kakak ipar mu, dan kau tidak boleh


mengharapkannya sedikit pun.!"


"Baiklah..Aku mengerti, aku hanya berharap


yang terbaik untuk kalian.!"


Ansel mengangkat bahu, dia memang sudah


mulai melihat ada sesuatu yang lain terjadi


pada hati Raya terhadap kakak sepupunya itu.


Mereka berdua masuk ke ruang depan di


sambut oleh 4 orang kepercayaan Aaron.


Alex, Benjamin, Markus dan Matius pimpinan


Hiu Putih juga sudah ada di sana. Ke 4 pria


berperawakan tinggi kekar dengan tampang


yang sebenarnya macho dan tampan namun


bertampang bengis itu langsung membungkuk


begitu melihat Aaron muncul di ruang depan.


Di depan mereka ada sebuah perangkat canggih


semacam laptop yang sedang aktif dan saat


ini sedang ada panggilan masuk dari Ibu Suri


yang merupakan penasihat pribadi dari pasukan istimewa yang telah di bentuk oleh Aaron itu.


"Mana pimpinan kalian.? Aku ingin berbicara


dengan nya !"


Suara Madam Rowena terdengar sedikit keras


penuh dengan perintah. Aaron segera duduk


di kursi singel menghadap layar dimana saat


ini sang nenek sedang duduk di kursi kerjanya


di dampingi oleh Gregory.


"Kenapa kalian bisa kecolongan.? Selalu saja


mengecewakan.! Berita insiden pembajakan


kereta cepat ini sampai menggegerkan publik


dunia.! Kau dalam sorotan sekarang Aaron.!"


Cecar Ibu Suri dengan wajah yang terlihat dingin


dan keras. Aaron memalingkan wajahnya tidak


mau bertemu tatap dengan sang Nenek. Ini


semua memang akibat kecerobohan pasukan


pengamanan yang berada di bawah komando


dirinya langsung.


"Dan istrimu.. dia selalu saja menjadi korban.


Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku tidak


akan pernah mengampuni kalian semua.!"


Gertak Ibu Suri kembali membuat Aaron terdiam


sementara para bawahannya gemetaran.


"Dia baik-baik saja . Ini memang salahku.! Aku


tidak menduga mereka berani bergerak secara terang-terangan seperti ini.!"


"Apakah mereka mengincar istrimu.?"


Aaron terdiam, menarik napas berat. Dia yakin


kini sang nenek sudah menelusuri keseluruhan


informasi tentang Raya hingga dia mengetahui


hal satu ini. Lagipula sekarang sudah tidak ada


lagi yang perlu dia sembunyikan dari neneknya.


"Sepertinya Eden Wolf sudah tahu semuanya


tentang keistimewaan yang di miliki olehnya.!"


"Baiklah.! Mulai sekarang kalian harus lebih


waspada lagi. Jangan biarkan istrimu lepas


dari pengawasan.!"


Aaron mengangguk, dan layar pun tertutup.


Ansel duduk di samping Aaron sementara


4 sekawan duduk di depannya.


"Alex.. Benjamin.. kalian sudah mendapatkan


informasi tentang jasad atau sosok ********


Eden Wolf di temukan.?"


Aaron bertanya sambil membuka laptop tadi


dan mencoba untuk melacak sesuatu, meretas


"Kami menemukan informasi akurat tentang


semua nya yang sudah terlacak secara terkait


Yang Mulya."


Lapor Alex seraya mendekat dan mengulurkan


ponsel ke hadapan Aaron yang langsung meraih


dan mengeceknya secara seksama. Wajahnya


terlihat mengeras dengan sorot mata menyala


karena tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, namun dia juga sudah menduga dari awal.


"Pasukan Curtis..!! Sudah aku duga semua ini


ada hubungan dengan Alfred Winston..!! Dia


sudah mengendus operasi kita.!"


"Pasukan Roman Muller juga sudah di tarik ke


dalam pasukan nya Yang Mulya..!"


"Dia sudah membangun militer sendiri untuk


menjaga dirinya dari serangan ku.!"


"Benar Yang Mulya.."


"Mereka pikir akan bisa menandingi kekuatan


pasukan yang sudah aku bangun dengan susah payah.! Ciihh..Alfred Winston terlalu percaya diri."


"Dia mencoba menarik kekuatan bawah tanah


dari Timur Tengah tapi mereka menolak."


"Hemm..tentu saja karena aku sudah melakukan koordinasi dengan Prince Mahmud terlebih


dahulu, mereka semua tidak mungkin berani main-main dengan ku.!"


"Benar Yang Mulya.. Sekarang dia mencoba


melakukan lobi ke daerah Utara.!"


"Biarkan saja. Kalian lacak terus dimana markas mereka saat ini. Pastikan kondisi Eden Wolf.!


Aku yakin manusia itu punya seribu nyawa


untuk bangkit lagi dari kematiannya.!"


"Baik Yang Mulya."


Aaron mendengus geram karena belum bisa


masuk menembus sistem pertahanan yang di


pasang oleh pihak Winston.Ke dalam ruangan


muncul Lily kemudian membungkuk di hadapan


Aaron.


"Mohon maaf Yang Mulya.. Lady memanggil


anda dan yang lainnya untuk datang ke ruang


makan."


Lapor Lily dengan kepala yang tertunduk dalam.


Aaron menautkan alisnya saat mendengar bukan


hanya dirinya yang di panggil oleh Raya tapi juga


semuanya. Ansel dan 4 sekawan pun tampak


terkejut dalam diam, lalu saling pandang.


"Apa kakak ipar tidak salah.? Dia memanggil


kita semua ?"


Ansel bertanya mencoba meyakinkan diri,


Lily berpaling pada Ansel lalu membungkuk.


"Benar Lord Ansel.. semuanya."


"Ayo kita kesana, apa sebenarnya yang dia


inginkan.!"


Tegas Aaron sambil kemudian melangkah ke


arah ruang makan di belakang. Ansel berdiri


di susul oleh 4 sekawan yang terlihat ragu dan


sedikit bingung, apa sebenarnya maksud Lady


mereka memanggil semua orang ke ruang


makan.? Namun akhirnya mereka melangkah


mengikuti Ansel menuju ruang makan .


Aaron menatap Raya yang sedang sibuk menata


dan mempersiapkan hidangan di atas meja.


Makanan khas negara asalnya yang membuat


Aaron tertegun sesaat begitu melihatnya.


"Apa yang kau buat.? Kau juga menyuruh


mereka semua kesini, untuk apa.?"


Aaron bertanya, namun matanya tidak lepas dari


atas meja dimana di sana ada beberapa mangkuk


kuah mie berisi makanan berbentuk bundar dan


terlihat sedikit aneh. Bakso.. Raya sebenarnya


sudah lama membuat makanan yang satu ini


tapi belum ada kesempatan untuk memakannya.

__ADS_1


Dan Aaron sedikit nya sudah mengenal makanan


yang satu ini tapi dia belum pernah mencoba


menikmati rasanya.


"Duduklah..kita akan makan bersama sekarang.


Aku ingin kalian semua mencoba mencicipi


makanan khas negara asal ku."


Raya membimbing Aaron untuk duduk di kursi


utama. Yang lain tampak bengong, menatap


aneh pada makanan yang ada di atas meja.


"Ayo..kalian semua duduklah.!"


Hahh.?? Mereka semua terkejut, duduk, di meja


yang sama dengan Putra Mahkota.?? Yang benar


saja, mana berani.?? Aaron tampak terdiam tak


berkomentar, tatapannya kini jatuh di wajah


cantik jelita Raya yang tampak begitu indah,


bercahaya dan terlihat sumringah.


"Hei.. kenapa kalian masih diam.? Ayo duduk.


Aku sengaja membuat semua ini agar kita bisa


makan bersama.!"


Raya menatap tajam kearah 4 sekawan yang


masih terlihat bingung dan kaku sedangkan


Ansel sudah duduk di samping kanan Aaron.


"Tapi lady..kami tidak pantas untuk duduk di


meja bersama Yang Mulya."


Alex mencoba berbicara sambil menundukkan


kepala begitupun yang lainnya.


"Aku tidak mau mendengar alasan, ayo cepat


duduk.! Lil sajikan makanannya untuk mereka


semua dan kau duduk di sebelah sini.!"


Raya memberi rentetan perintah pada semua


bawahan suaminya itu. Lily bergerak menata


mangkuk bakso sesuai dengan tempat duduk


di mulai dari Ansel yang terlihat sedang menatap makanan itu penuh semangat, dia memang merindukan makanan buatan wanita yang di


cintainya ini yang notabenenya adalah kakak


iparnya.


"Duduklah.! Turuti perintah nya.!"


Aaron akhirnya mengeluarkan perintah yang


membuat ke 4 bawahannya itu mau tidak mau


harus mematuhi nya dan segera duduk di kursi


masing-masing dengan tatapan aneh pada


makanan yang sudah terhidang di depannya.


Raya tersenyum sambil menghidangkan bakso


di hadapan Aaron.


"Ayo.. kita mulai saja makannya."


Ujar Ansel sambil mulai mengaduk makanan


itu dengan wajah sumringah di ikuti oleh yang


lain dengan ragu dan sedikit segan. Apa benar


mereka akan mencoba mencicipi makanan


buatan sang majikan.? sungguh ini sebuah


kejutan luar biasa.


Aaron menatap Raya yang mulai menyendok


kuah bakso tersebut dan mencicipinya..Uuhh..


rasanya benar-benar lezat, ini semua sesuai


dengan keinginan dan ekspektasi nya yang


sudah lama tertahan.


"Aaron.. cobalah ini, kau akan menyukainya.!"


Raya menyendok kembali kuah bakso dan


mendekatkan ke mulut Aaron yang masih


terdiam, ragu untuk memakannya.


"Ayolah Aaron.. hargai sedikit jerih payahku.!"


Rajuk Raya yang membuat Aaron akhirnya mau


membuka mulut dan menerima suapan itu.


Dia mengunyahnya sebentar, matanya tampak


mengerjap, berbinar dan terlihat penasaran. Dia


segera mengaduk bakso bagiannya. Yang lain


tampak mulai mencicipi makanan itu sedikit


ragu. Begitu masuk ke mulut, ekspresi mereka


sama seperti Aaron, aneh tapi ketagihan. Ansel


yang terlihat tak sabar, kembali menyuapkan


kuah ajaib itu. Makanan ini rasanya sangat lah


lezat dan sangat berbeda, tapi masuk di lidah


mereka. Empat sekawan terlihat bersemangat,


mereka mulai benar-benar menikmati makanan buatan lady De Enzo itu.


"Tunggu ! Lil.. tambahkan cabai pada makanan


mereka biar lebih masuk rasanya.!!"


Raya berucap sambil menatap ke arah Alex dan


teman-teman nya yang langsung menganga syok.


Sambal ? matilah mereka, sepertinya sang lady


ingin mengerjai kalau melihat gelagat seperti ini.


Lily bergerak kemudian menambahkan bubuk


cabai ke dalam kuah makanan mereka sesuai


instruksi dari Raya yang membuat ke 4 pria itu


bertambah bengong karena makanan itu jadi


berubah warna dan aromanya, sedikit menyengat


bau cabai.


Aaron dan Ansel menatap mereka dengan reaksi wajah geli menahan tawa yang ingin meledak


melihat tampang ke 4 pria perkasa itu tampak meringis dan tegang.


"Ayo makan sekarang.! Aku ingin melihat apa


kalian benar-benar tangguh.!"


Titah Raya sambil menegakkan badan melihat


kearah mereka dengan tatapan penuh intimidasi


dan sikap seorang atasan seolah-olah sedang


melakukan inspeksi mendadak.


"Tapi lady..kami tidak terlalu suka makanan


pedas, kami tidak terbiasa..."


"Alex..aku sudah bersusah payah membuatkan


makanan itu untuk kalian, ayo makan sekarang !"


Mata indah Raya terlihat melebar dengan tatapan


yang tidak mungkin terbantahkan lagi.


"Baik lady.. kami akan memakannya."


Alex dan 3 temannya langsung menyuapkan


kuah bakso itu dengan terpaksa. Mereka semua


langsung saja terbatuk karena tidak kuat dengan


rasa pedasnya. Tapi kok.. rasanya jadi berbeda,


lebih terasa enak dan lebih mantap. Mereka


tampak meneguk air putih, kembali menyuapkan


makanan aneh tapi enak itu dengan wajah yang


mulai memerah dan keringat yang meremang.


Mereka merasa seolah sedang lari marathon.


Kali ini Aaron benar-benar tidak bisa menahan


diri untuk tidak tertawa melihat penderitaan bawahannya itu yang terbatuk-batuk parah tapi ketagihan untuk terus menyuapkan makanan itu


sampai harus berkeringat parah. Melihat dan mendengar Aaron tertawa semua orang tampak


menjatuhkan sendok dan garpu nya dengan


wajah bengong..melongo..tidak percaya pada


satu keajaiban dunia ini. Seorang Aaron Marvell


yang terkenal sadis dan dingin tertawa.? Ansel


tampak menganga, menatap kakak sepupunya


itu sedikit syok dengan mata melebar.


"Kalian jangan senang dulu..Aku juga harus


memastikan bahwa kalian sama hebatnya


seperti mereka.!"


Ucap Raya sambil kemudian menambahkan


bubuk cabe tersebut ke dalam kuah bakso milik


Aaron dan Ansel yang langsung berjingkat


menjuhkan badan dengan mata melebar, dan


kini giliran 4 sekawan yang terlihat menatap


kearah mereka berdua dengan sorot mata


geli menahan tawa, impas.!!!


"Ayo... habiskan semua makanan kalian.!!"


Sang Lady memberi perintah tegas membuat


semua orang langsung melanjutkan menikmati


makanan itu. Aaron sampai harus berkali-kali


batuk tapi dia terlihat sangat menikmati bakso


spesial buatan si Nyonya tukang perintah itu...


***

__ADS_1


__ADS_2