
Para pengendara tampak keluar dari mobil
mereka dan berdiri di depan pintu melihat
kearah Aaron, meyakini bahwa sosok yang
barusan terjun dari atas helikopter tersebut
adalah Sang Pangeran negara xxx.. Putra
Mahkota kerajaan ini. Semuanya sungguh
sulit untuk di percaya. Tenyata Pangeran
mereka bukan hanya sangat tampan namun
juga sangat keren dan pemberani.
Ansel menatap cemas kearah keduanya. Aaron
langsung mendudukkan Raya di jok depan di
samping kemudi lalu memasangkan sabuk dan
mengecup lembut kening Raya yang tiba-tiba
saja meringis sambil memegangi perutnya.
"Aaa...A-Aaron.. perutku sakit ahhh..."
Raya merintih sambil memegangi kuat lengan
Aaron yang terlihat terkejut bukan main.
"Apanya yang sakit.? Apa manusia berdebah
itu menyakiti mu tadi..?"
"Ti-tidak.. tapi perutku sakit banget Aaron.."
Raya memejamkan mata sambil menekan kuat
perutnya yang terasa semakin melilit. Ansel
yang dari tadi berdiri luar pintu mobil tampak
khawatir melihat reaksi Raya yang kini terlihat
sudah mulai memucat.
"Kakak kita harus segera membawanya pulang.
Dia harus segera mendapatkan perawatan dan
beristirahat. Kita gunakan helikopter saja agar
bisa cepat sampai.!"
Ansel berbicara dengan suara yang terdengar
sangat khawatir. Aaron menatap tajam wajah
Raya yang masih memejamkan matanya dalam keadaan meringis kesakitan.
"Baiklah.. turunkan helikopter untukku.!"
Titah Aaron dengan wajah yang sudah sangat
dingin melihat kondisi Raya yang semakin
terlihat lemas. Tangannya kini mengelus pelan
perut datar Raya dengan otak yang berputar
cepat, kenapa Raya selalu mengeluh sakit di
bagian perutnya.
Ajaib..!! begitu tangan Aaron mengelus lembut perutnya rasa sakit yang tadi di rasakan oleh
Raya kini berangsur-angsur mulai sirna di ganti
oleh rasa lain, rasa lapar yang teramat sangat
karena saat ini memang sudah lewat waktunya
makan siang.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu ?
Apa rasa sakitnya masih ada ?"
Aaron berucap sambil tiada henti mengelus
pelan perut Raya yang kini membuka matanya perlahan. Mata mereka saling menatap teduh.
Tangan Raya memegang tangan Aaron yang
masih mengelus-elus perutnya.
"Aaron aku ingin pulang ke White House.
Aku sekarang sudah tidak apa-apa.!"
"Tidak kita akan pulang ke Green Palace..
Kau harus mendapat perawatan."
"Pokoknya aku ingin pulang ke White House.
Aku kangen dapurku.!"
"Maharaya De Enzo..! Jangan membantahku
terus, aku ini suamimu.!"
"Aaron..aku lapar.! Aku hanya ingin memakan
sesuatu buatanku sendiri.!"
Aaron terdiam dengan reaksi wajah yang kini
terlihat aneh. Ansel yang baru muncul kembali
ke dekat mereka pun ikut-ikutan bengong. Raut
wajah Aaron tampak semakin aneh, ada rasa
bersalah yang menghantam dadanya. Jadi
istrinya ini sebenarnya kelaparan ? Laki-laki
macam apa dirinya, membiarkan wanitanya
sendiri dalam kelaparan. Apalagi tadi pagi
mereka berdua memang tidak sarapan dulu.
"Baiklah.. kita akan pergi kemanapun kamu
suka Lady.! Ayo..kita pulang ke White House..!"
Titah Aaron pada semua bawahannya sambil kemudian mengangkat kembali tubuh Raya ke
dalam pangkuannya. Raya reflek mengalungkan
tangannya di leher Aaron seraya merebahkan
kepala di dada bidang suaminya itu dengan
senyum manis yang terulas di bibir indahnya.
Helikopter yang di bawa oleh Markus tampak
berputar-putar di udara di atas area yang sudah
di sterilkan oleh pasukan Singa putih kemudian mendarat perlahan membuat semua orang yang
dari tadi memperhatikan pergerakan Aaron di
bawah pengawalan pasukan singa putih otomatis
mundur menghindari sapuan angin dari pesawat.
Mereka semua tidak bisa mendekat. Para wanita hanya bisa berteriak-teriak histeris memanggil
nama Sang Pangeran yang tidak peduli sama
sekali karena yang ada di mata nya hanyalah
sosok cantik jelita dalam gendongannya.
Dengan langkah lebar Aaron berjalan kearah
helikopter tersebut kemudian naik tanpa melepas Raya dari pangkuannya. Tidak lama pesawat itu kembali mengudara meninggalkan kawasan
tersebut, menyisakan kegaduhan dan keributan
dari orang-orang yang memfokuskan perhatian
pada kereta cepat tadi yang sudah berhasil
berhenti tepat di ujung rel buntu tersebut di
sambut jeritan haru orang-orang menyaksikan
kereta itu tidak jadi jatuh ke dalam lautan.
Mereka semua menarik napas lega sambil
mengusap dada yang tadi sempat berdebar
hebat di penuhi ketegangan.
***
Tiba di komplek perumahan, helikopter yang membawa Aaron dan Raya mendarat di landasan khusus yang ada di tempat berbeda dan berusaha
untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada para penghuni lain. Dari tempat itu mereka menaiki
mobil yang langsung meluncur ke arah perumahan hingga akhirnya tiba di white house. Lilly sudah
berdiri di depan pintu menyambut kedatangan
sang majikan yang sudah semalam tidak pulang.
Aaron langsung membawa Raya naik ke kamar
di lantai atas dan keduanya langsung masuk ke
kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini
Aaron benar-benar sabar dan mencoba menahan
diri untuk tidak menerkam selama memandikan
Raya. Walupun Raya menolak mati-matian apa
yang di lakukan oleh suaminya itu, tapi kalau
Aaron sudah berkehendak maka sudah tidak
ada kesempatan lagi bagi dirinya untuk berlari.
Mereka berdua melanjutkan kegiatan dengan
sholat Ashar berjamaah dan berdoa bersama, memohon perlindungan dan pengampunan
Tuhan atas segala yang telah di alami barusan.
Aaron sempat tertegun begitu menyadari saat
ini tidak ada trauma ataupun kecemasan yang biasanya di alami oleh Raya setelah mengalami sebuah insident. Ini benar-benar aneh, apakah sekarang ini jiwa istrinya itu sudah lebih kuat
dan siap menghadapi segala kemungkinan
yang akan terjadi?
Begitu selesai beribadah keduanya turun ke
lantai bawah di sambut oleh Ansel dan Lily
di ruang keluarga.
"Aku akan membuatkan sesuatu yang spesial
untuk kita semua.!"
Ucap Raya sambil kemudian berlalu pergi ke
arah dapur yang sudah sangat di rindukannya
di iringi tatapan Aaron dan Ansel yang masih
terpesona melihat penampilan Raya yang kini
mengenakkan dress rumahan sebatas lutut
namun pas body hingga menampilkan bentuk
tubuh nya yang indah dan menggiurkan.
"Jaga matamu.! Kenapa kamu tidak juga
mencoba menghentikan obsesi mu padanya.!"
Geram Aaron sambil menepuk pundak Ansel
lalu melangkah menuju ruang depan karena
__ADS_1
ada hal yang harus di bahas bersama semua
bawahannya mengenai insiden tadi.
"Aku baru akan berhenti setelah memastikan
kalian berdua benar-benar saling terhubung
satu sama lain."
"Tidak perlu beralasan, walau bagaimanapun
dia adalah kakak ipar mu, dan kau tidak boleh
mengharapkannya sedikit pun.!"
"Baiklah..Aku mengerti, aku hanya berharap
yang terbaik untuk kalian.!"
Ansel mengangkat bahu, dia memang sudah
mulai melihat ada sesuatu yang lain terjadi
pada hati Raya terhadap kakak sepupunya itu.
Mereka berdua masuk ke ruang depan di
sambut oleh 4 orang kepercayaan Aaron.
Alex, Benjamin, Markus dan Matius pimpinan
Hiu Putih juga sudah ada di sana. Ke 4 pria
berperawakan tinggi kekar dengan tampang
yang sebenarnya macho dan tampan namun
bertampang bengis itu langsung membungkuk
begitu melihat Aaron muncul di ruang depan.
Di depan mereka ada sebuah perangkat canggih
semacam laptop yang sedang aktif dan saat
ini sedang ada panggilan masuk dari Ibu Suri
yang merupakan penasihat pribadi dari pasukan istimewa yang telah di bentuk oleh Aaron itu.
"Mana pimpinan kalian.? Aku ingin berbicara
dengan nya !"
Suara Madam Rowena terdengar sedikit keras
penuh dengan perintah. Aaron segera duduk
di kursi singel menghadap layar dimana saat
ini sang nenek sedang duduk di kursi kerjanya
di dampingi oleh Gregory.
"Kenapa kalian bisa kecolongan.? Selalu saja
mengecewakan.! Berita insiden pembajakan
kereta cepat ini sampai menggegerkan publik
dunia.! Kau dalam sorotan sekarang Aaron.!"
Cecar Ibu Suri dengan wajah yang terlihat dingin
dan keras. Aaron memalingkan wajahnya tidak
mau bertemu tatap dengan sang Nenek. Ini
semua memang akibat kecerobohan pasukan
pengamanan yang berada di bawah komando
dirinya langsung.
"Dan istrimu.. dia selalu saja menjadi korban.
Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku tidak
akan pernah mengampuni kalian semua.!"
Gertak Ibu Suri kembali membuat Aaron terdiam
sementara para bawahannya gemetaran.
"Dia baik-baik saja . Ini memang salahku.! Aku
tidak menduga mereka berani bergerak secara terang-terangan seperti ini.!"
"Apakah mereka mengincar istrimu.?"
Aaron terdiam, menarik napas berat. Dia yakin
kini sang nenek sudah menelusuri keseluruhan
informasi tentang Raya hingga dia mengetahui
hal satu ini. Lagipula sekarang sudah tidak ada
lagi yang perlu dia sembunyikan dari neneknya.
"Sepertinya Eden Wolf sudah tahu semuanya
tentang keistimewaan yang di miliki olehnya.!"
"Baiklah.! Mulai sekarang kalian harus lebih
waspada lagi. Jangan biarkan istrimu lepas
dari pengawasan.!"
Aaron mengangguk, dan layar pun tertutup.
Ansel duduk di samping Aaron sementara
4 sekawan duduk di depannya.
"Alex.. Benjamin.. kalian sudah mendapatkan
informasi tentang jasad atau sosok ********
Eden Wolf di temukan.?"
Aaron bertanya sambil membuka laptop tadi
dan mencoba untuk melacak sesuatu, meretas
"Kami menemukan informasi akurat tentang
semua nya yang sudah terlacak secara terkait
Yang Mulya."
Lapor Alex seraya mendekat dan mengulurkan
ponsel ke hadapan Aaron yang langsung meraih
dan mengeceknya secara seksama. Wajahnya
terlihat mengeras dengan sorot mata menyala
karena tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, namun dia juga sudah menduga dari awal.
"Pasukan Curtis..!! Sudah aku duga semua ini
ada hubungan dengan Alfred Winston..!! Dia
sudah mengendus operasi kita.!"
"Pasukan Roman Muller juga sudah di tarik ke
dalam pasukan nya Yang Mulya..!"
"Dia sudah membangun militer sendiri untuk
menjaga dirinya dari serangan ku.!"
"Benar Yang Mulya.."
"Mereka pikir akan bisa menandingi kekuatan
pasukan yang sudah aku bangun dengan susah payah.! Ciihh..Alfred Winston terlalu percaya diri."
"Dia mencoba menarik kekuatan bawah tanah
dari Timur Tengah tapi mereka menolak."
"Hemm..tentu saja karena aku sudah melakukan koordinasi dengan Prince Mahmud terlebih
dahulu, mereka semua tidak mungkin berani main-main dengan ku.!"
"Benar Yang Mulya.. Sekarang dia mencoba
melakukan lobi ke daerah Utara.!"
"Biarkan saja. Kalian lacak terus dimana markas mereka saat ini. Pastikan kondisi Eden Wolf.!
Aku yakin manusia itu punya seribu nyawa
untuk bangkit lagi dari kematiannya.!"
"Baik Yang Mulya."
Aaron mendengus geram karena belum bisa
masuk menembus sistem pertahanan yang di
pasang oleh pihak Winston.Ke dalam ruangan
muncul Lily kemudian membungkuk di hadapan
Aaron.
"Mohon maaf Yang Mulya.. Lady memanggil
anda dan yang lainnya untuk datang ke ruang
makan."
Lapor Lily dengan kepala yang tertunduk dalam.
Aaron menautkan alisnya saat mendengar bukan
hanya dirinya yang di panggil oleh Raya tapi juga
semuanya. Ansel dan 4 sekawan pun tampak
terkejut dalam diam, lalu saling pandang.
"Apa kakak ipar tidak salah.? Dia memanggil
kita semua ?"
Ansel bertanya mencoba meyakinkan diri,
Lily berpaling pada Ansel lalu membungkuk.
"Benar Lord Ansel.. semuanya."
"Ayo kita kesana, apa sebenarnya yang dia
inginkan.!"
Tegas Aaron sambil kemudian melangkah ke
arah ruang makan di belakang. Ansel berdiri
di susul oleh 4 sekawan yang terlihat ragu dan
sedikit bingung, apa sebenarnya maksud Lady
mereka memanggil semua orang ke ruang
makan.? Namun akhirnya mereka melangkah
mengikuti Ansel menuju ruang makan .
Aaron menatap Raya yang sedang sibuk menata
dan mempersiapkan hidangan di atas meja.
Makanan khas negara asalnya yang membuat
Aaron tertegun sesaat begitu melihatnya.
"Apa yang kau buat.? Kau juga menyuruh
mereka semua kesini, untuk apa.?"
Aaron bertanya, namun matanya tidak lepas dari
atas meja dimana di sana ada beberapa mangkuk
kuah mie berisi makanan berbentuk bundar dan
terlihat sedikit aneh. Bakso.. Raya sebenarnya
sudah lama membuat makanan yang satu ini
tapi belum ada kesempatan untuk memakannya.
__ADS_1
Dan Aaron sedikit nya sudah mengenal makanan
yang satu ini tapi dia belum pernah mencoba
menikmati rasanya.
"Duduklah..kita akan makan bersama sekarang.
Aku ingin kalian semua mencoba mencicipi
makanan khas negara asal ku."
Raya membimbing Aaron untuk duduk di kursi
utama. Yang lain tampak bengong, menatap
aneh pada makanan yang ada di atas meja.
"Ayo..kalian semua duduklah.!"
Hahh.?? Mereka semua terkejut, duduk, di meja
yang sama dengan Putra Mahkota.?? Yang benar
saja, mana berani.?? Aaron tampak terdiam tak
berkomentar, tatapannya kini jatuh di wajah
cantik jelita Raya yang tampak begitu indah,
bercahaya dan terlihat sumringah.
"Hei.. kenapa kalian masih diam.? Ayo duduk.
Aku sengaja membuat semua ini agar kita bisa
makan bersama.!"
Raya menatap tajam kearah 4 sekawan yang
masih terlihat bingung dan kaku sedangkan
Ansel sudah duduk di samping kanan Aaron.
"Tapi lady..kami tidak pantas untuk duduk di
meja bersama Yang Mulya."
Alex mencoba berbicara sambil menundukkan
kepala begitupun yang lainnya.
"Aku tidak mau mendengar alasan, ayo cepat
duduk.! Lil sajikan makanannya untuk mereka
semua dan kau duduk di sebelah sini.!"
Raya memberi rentetan perintah pada semua
bawahan suaminya itu. Lily bergerak menata
mangkuk bakso sesuai dengan tempat duduk
di mulai dari Ansel yang terlihat sedang menatap makanan itu penuh semangat, dia memang merindukan makanan buatan wanita yang di
cintainya ini yang notabenenya adalah kakak
iparnya.
"Duduklah.! Turuti perintah nya.!"
Aaron akhirnya mengeluarkan perintah yang
membuat ke 4 bawahannya itu mau tidak mau
harus mematuhi nya dan segera duduk di kursi
masing-masing dengan tatapan aneh pada
makanan yang sudah terhidang di depannya.
Raya tersenyum sambil menghidangkan bakso
di hadapan Aaron.
"Ayo.. kita mulai saja makannya."
Ujar Ansel sambil mulai mengaduk makanan
itu dengan wajah sumringah di ikuti oleh yang
lain dengan ragu dan sedikit segan. Apa benar
mereka akan mencoba mencicipi makanan
buatan sang majikan.? sungguh ini sebuah
kejutan luar biasa.
Aaron menatap Raya yang mulai menyendok
kuah bakso tersebut dan mencicipinya..Uuhh..
rasanya benar-benar lezat, ini semua sesuai
dengan keinginan dan ekspektasi nya yang
sudah lama tertahan.
"Aaron.. cobalah ini, kau akan menyukainya.!"
Raya menyendok kembali kuah bakso dan
mendekatkan ke mulut Aaron yang masih
terdiam, ragu untuk memakannya.
"Ayolah Aaron.. hargai sedikit jerih payahku.!"
Rajuk Raya yang membuat Aaron akhirnya mau
membuka mulut dan menerima suapan itu.
Dia mengunyahnya sebentar, matanya tampak
mengerjap, berbinar dan terlihat penasaran. Dia
segera mengaduk bakso bagiannya. Yang lain
tampak mulai mencicipi makanan itu sedikit
ragu. Begitu masuk ke mulut, ekspresi mereka
sama seperti Aaron, aneh tapi ketagihan. Ansel
yang terlihat tak sabar, kembali menyuapkan
kuah ajaib itu. Makanan ini rasanya sangat lah
lezat dan sangat berbeda, tapi masuk di lidah
mereka. Empat sekawan terlihat bersemangat,
mereka mulai benar-benar menikmati makanan buatan lady De Enzo itu.
"Tunggu ! Lil.. tambahkan cabai pada makanan
mereka biar lebih masuk rasanya.!!"
Raya berucap sambil menatap ke arah Alex dan
teman-teman nya yang langsung menganga syok.
Sambal ? matilah mereka, sepertinya sang lady
ingin mengerjai kalau melihat gelagat seperti ini.
Lily bergerak kemudian menambahkan bubuk
cabai ke dalam kuah makanan mereka sesuai
instruksi dari Raya yang membuat ke 4 pria itu
bertambah bengong karena makanan itu jadi
berubah warna dan aromanya, sedikit menyengat
bau cabai.
Aaron dan Ansel menatap mereka dengan reaksi wajah geli menahan tawa yang ingin meledak
melihat tampang ke 4 pria perkasa itu tampak meringis dan tegang.
"Ayo makan sekarang.! Aku ingin melihat apa
kalian benar-benar tangguh.!"
Titah Raya sambil menegakkan badan melihat
kearah mereka dengan tatapan penuh intimidasi
dan sikap seorang atasan seolah-olah sedang
melakukan inspeksi mendadak.
"Tapi lady..kami tidak terlalu suka makanan
pedas, kami tidak terbiasa..."
"Alex..aku sudah bersusah payah membuatkan
makanan itu untuk kalian, ayo makan sekarang !"
Mata indah Raya terlihat melebar dengan tatapan
yang tidak mungkin terbantahkan lagi.
"Baik lady.. kami akan memakannya."
Alex dan 3 temannya langsung menyuapkan
kuah bakso itu dengan terpaksa. Mereka semua
langsung saja terbatuk karena tidak kuat dengan
rasa pedasnya. Tapi kok.. rasanya jadi berbeda,
lebih terasa enak dan lebih mantap. Mereka
tampak meneguk air putih, kembali menyuapkan
makanan aneh tapi enak itu dengan wajah yang
mulai memerah dan keringat yang meremang.
Mereka merasa seolah sedang lari marathon.
Kali ini Aaron benar-benar tidak bisa menahan
diri untuk tidak tertawa melihat penderitaan bawahannya itu yang terbatuk-batuk parah tapi ketagihan untuk terus menyuapkan makanan itu
sampai harus berkeringat parah. Melihat dan mendengar Aaron tertawa semua orang tampak
menjatuhkan sendok dan garpu nya dengan
wajah bengong..melongo..tidak percaya pada
satu keajaiban dunia ini. Seorang Aaron Marvell
yang terkenal sadis dan dingin tertawa.? Ansel
tampak menganga, menatap kakak sepupunya
itu sedikit syok dengan mata melebar.
"Kalian jangan senang dulu..Aku juga harus
memastikan bahwa kalian sama hebatnya
seperti mereka.!"
Ucap Raya sambil kemudian menambahkan
bubuk cabe tersebut ke dalam kuah bakso milik
Aaron dan Ansel yang langsung berjingkat
menjuhkan badan dengan mata melebar, dan
kini giliran 4 sekawan yang terlihat menatap
kearah mereka berdua dengan sorot mata
geli menahan tawa, impas.!!!
"Ayo... habiskan semua makanan kalian.!!"
Sang Lady memberi perintah tegas membuat
semua orang langsung melanjutkan menikmati
makanan itu. Aaron sampai harus berkali-kali
batuk tapi dia terlihat sangat menikmati bakso
spesial buatan si Nyonya tukang perintah itu...
***
__ADS_1