Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
18. Bertemu Mantan


__ADS_3

❤️❤️


Aaron menarik tangan Raya untuk mundur


perlahan menghindari serangan yang datang


dari berbagai penjuru di ikuti oleh Alex dan


Sean serta beberapa bawahannya.


"Sean..aku ingin keluar dari sini, aku takut.


Aku mohon bawa aku pergi dari sini.!"


Raya berucap lirih saat mereka bersembunyi


di balik peti kemas yang berada tidak jauh


dari tempat yang tadi. Sean menatap wajah


pucat Raya penuh kecemasan. Sementara


Aaron melirik kearah mereka berdua dengan


sorot mata yang tidak terbaca.


"Tuan.. biarkan saya mengamankan Nona


Raya.!"


Sean memberanikan diri meminta Raya yang


masih berada dalam perlindungan Aaron.


"Pikirkan keselamatan mu sendiri.!"


Dengus Aaron sambil melirik sekilas kearah


Sean yang langsung mengetatkan rahangnya.


Raya melepaskan pegangan tangan Aaron


kemudian mendekat kearah Sean, menatap


pria itu dengan wajah memelas.


"Aku ingin pergi dari sini, kumohon.."


Raya kembali berucap dengan suara gemetar.


Sean tidak tahan lagi, dia segera menarik


tangan Raya bersiap untuk melangkah.


"Lepaskan dia sekarang juga.!"


Suara Aaron yang berat membuat tubuh


mereka membeku. Tangis Raya kini pecah.


Sean tidak melepaskan pegangan tangan nya.


Wajah Aaron terlihat semakin mengeras,


tangan nya terkepal dengan kuat.


"Aku akan membawamu dari sini. Semuanya


akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-


apa padamu, percaya padaku baby.."


Sean berusaha menenangkan, tangannya


mengelus lembut rambut Raya yang kini


tergerai berantakan. Rahang Aaron semakin


mengeras, dia benar-benar tidak bisa melihat


semua pemandangan ini. Tapi dia tidak bisa


berbuat banyak mengingat situasi saat ini.


Dengan kasar dia mengokang senjatanya


dan bersiap melancarkan tembakan.


"Tuan..saya akan membawa Raya, dia tidak


akan kuat kalau harus lama-lama berada


dalam situasi seperti ini."


Sean kembali memohon masih mencoba


menenangkan Raya yang menangis tertahan.


"Aku yang akan melindunginya.!"


Desis Aaron dengan suara yang sangat dingin.


Sean menautkan alisnya melihat reaksi tak


biasa dari bos nya itu. Dia tidak bisa berkata


apa-apa lagi, dia akan menunggu kesempatan


untuk membawa lari Raya dari situasi ini.


Tembakan membabi tiba-tiba saja datang


dari atas peti kemas membuat Raya kembali


menjerit histeris. Sebelum Sean bergerak


Aaron sudah menarik tangan Raya dan


membawanya berlari menghindar karena kini bayangan yang berlari di atas peti kemas itu benar-benar mengincar mereka berdua.


"Alex.. bereskan mereka semua.!"


Teriak Aaron masih dalam keadaan berlari


bersama Raya, sementara Sean tertinggal


karena dia berusaha melindungi mereka.


"Baik Tuan, Singa Putih sebentar lagi datang.!"


Alex balas teriak sambil tak henti membalas


serangan lawan yang masih berlarian di atas.


Sudah tidak terbayang bagaimana panik dan


tegang nya Raya saat ini. Semua ini adalah


hal di luar bayangan nya. Trauma atas kejadian


yang lalu di pulau tersembunyi kini kembali


dan membuat Raya di kuasai oleh ketakutan.


"Aaa..."


Raya menjerit keras saat tubuhnya terpeleset


diatas genangan oli yang tak bisa di hindari.


Namun dengan sigap Aaron menyambar tubuh


wanita itu kemudian mengangkat nya ke dalam


pangkuan. Untuk sesaat mereka saling tatap


dalam keterkejutan. Aaron membawa Raya bersembunyi dibalik peti kemas besar.


Satu tembakan melesat mengenai peti kemas


itu tepat di samping Raya membuat wanita itu


kembali menjerit, spontan menubruk tubuh


Aaron dan memeluk erat laki-laki itu. Wajah


Aaron kini semakin kelam, dengan amarah


yang sudah mencapai ubun-ubun dia memberondongkan dua senjata sekaligus


ke arah lawan dalam kondisi mendekap erat


tubuh Raya yang menangis ketakutan.


Akhirnya baku tembak berhenti. Tubuh Raya


masih saja bergetar hebat. Alex dan Sean


berdatangan ke tempat itu. Untuk sesaat


Sean tampak tertegun melihat Raya berada


dalam pelukan sang Presdir.


"Tolong..bawa aku pergi dari tempat ini.."


Suara Raya terdengar begitu pelan, dan tidak


lama kemudian tubuh nya melemas. Sean


bergerak ingin meraih tubuh Raya namun


Aaron sudah terlebih dahulu mengangkat


nya ke dalam gendongan. Saat ini Raya


dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Urus mereka semua, aku tunggu hasil nya


nanti malam di hotel.!"


"Baik Tuan.!"


Alex membungkuk hormat. Tanpa melirik


lagi kearah Sean Aaron segera melangkah


pergi dengan menggendong tubuh Raya.


***


Keadaan di dalam kamar hotel besar tempat


tinggal Aaron kini tampak sedikit mencekam.


Ada 3 orang laki-laki bertubuh tinggi besar


yang mendatangi kamar itu. Mereka semua


kini berdiri dengan menundukkan kepala.


"Apa yang kalian dapat.? Siapa mereka.?"


Aaron menyesap minuman di tangan nya


dengan tatapan tajam yang seolah mampu


menembus kedalaman lautan.


"Mereka pasukan kedua Black Hunter Yang


Mulya. Baru beberapa bulan ini beraliansi


dengan pasukan Black Wolf.!"


"Black Wolf.? sepertinya mereka sangat


penasaran denganku.!"

__ADS_1


"Karena insiden tewas nya Jayden kemarin,


tampaknya adik nya yang jadi wakil Jayden


tidak akan tinggal diam Yang Mulya.!"


"Hemm.. kelihatannya mereka sudah tahu


siapa aku sebenarnya.!"


"Benar sekali Yang Mulya..hal ini akan sedikit


menyulitkan anda."


"Biarkan saja, aku akan lihat sampai dimana


pergerakan mereka."


"Yang Mulya.. situasi sekarang mulai tidak


terkendali. Ada kekuatan baru di luar nalar


yang mulai mengincar ketenangan negara


kita. Kami mohon kembalilah sekarang juga


untuk mencegah kemungkinan yang lebih


buruk terjadi pada lingkungan istana.!"


Salah seorang dari laki-laki bertubuh besar


dan berpenampilan sedikit seram itu berkata


sambil membungkuk rendah di hadapan


Aaron yang kini menautkan alisnya.


"Apa sebenarnya yang mereka inginkan.?"


"Kedudukan paling tinggi di pemerintahan


untuk keturunan selanjutnya yang tidak


bisa di goyang oleh siapapun.!"


Aaron kembali menyesap minuman nya.


Dia merasa situasi nya sekarang memang


sudah mulai di luar kendali.


"Kalau begitu sudah waktunya aku kembali.


Tapi aku harus melakukan sesuatu dulu


sebelum kembali.! Aku harus menikahi


seorang wanita dari negara ini.!"


Tiga orang laki-laki itu tampak terkejut bukan


main. Mereka saling pandang, benar-benar


tidak percaya pada apa yang di dengarnya.


"Me-menikah dengan gadis dari negara ini


Yang Mulya.?"


Salah seorang diantaranya mencoba untuk


meyakinkan diri.


"Hemm.. aku tidak sengaja menodainya. Dan


wanita itu bisa saja mengandung benih ku.!"


Mereka semua bengong. Tuan berharga


mereka melakukan kekerasan seksual.?


Benar-benar tidak bisa di percaya.! Selama


ini semua wanita bahkan harus mengemis


agar bisa menemui dan mendekatinya.


"Tapi aku tidak bisa membiarkan wanita itu


jadi incaran pihak ketiga. Pernikahan ini


sebisa mungkin harus di rahasiakan. Aku


tidak akan membiarkan keselamatan


wanita itu di pertaruhkan.!"


"Apa rencana Yang Mulya.?"


"Aku sudah mengatur semuanya dengan


baik. Dia akan ada dalam pengawasan ku


tanpa harus menimbulkan kecurigaan.!"


Jawab Aaron sambil mendudukan dirinya di


atas sofa. Ketiga orang itu hanya bisa diam


mencoba memahami rencana Tuan nya.


"Kalian Kembali ke kapal pesiar malam ini


juga. Aku akan datang sesuai jadwal.!"


Akhirnya Aaron memutuskan. Mereka bertiga


kembali saling melihat sesaat.


"Biarkan saya menemani Yang Mulya disini


"Tidak perlu, Ansel sudah mengatur semuanya


dengan sangat baik ! Kalian kembali saja.Terus


pantau keadaan di dalam istana dan laporkan


padaku seperti biasa.!"


"Baik Yang Mulya.. Kalau begitu kami permisi."


Serempak tiga orang itu sambil kemudian


membungkuk dengan gaya yang sangat khas


penuh penghormatan.


Aaron menatap kepergian mereka sambil


menerawang lewat gelas kecil bening yang


ada di tangan nya. Dia mencoba mencari


bayangan wajah seseorang. Wajah wanita


yang sudah jelas milik sahabatnya. Namun


sampai saat ini, wanita itu masih saja terus


mengganggu malam-malam nya.


***


Hari ini Raya memaksakan diri untuk pergi


ke kantor. Walau keadaannya belum pulih


sepenuhnya, tapi dia harus profesional. Dia


juga harus mendampingi Bos jahatnya itu


ke pertemuan penting di sebuah perusahaan


yang menyediakan jasa onderdil dan juga


mesin-mesin canggih lainnya.


Aaron menatap Raya cukup intens begitu


mereka bertemu di basement perusahaan


yang akan di datangi. Hari ini Aaron memang


tidak datang ke kantor dan mereka langsung


bertemu di tempat.


"Kau sudah menyiapkan semuanya.?"


Aaron bertanya begitu mereka berada di


dalam lift.


"Semua sudah sesuai instruksi.!"


Raya menjawab seperlunya. Aaron yang


berdiri di depan tampak menatap wajah


Raya dari pantulan dinding lift yang bening.


"Bagaimana keadaan mu.?"


Raya mendongak, mata mereka bertemu


lewat pantulan dinding lift.


"Tidak perlu memperdulikan ku.!"


Ketus Raya seraya memalingkan wajahnya.


Aaron masih menatapnya, lebih intens dan


mendalam. Tapi Raya sepertinya tidak ingin


ambil pusing. Bahkan sangat terlihat kalau


dia tersiksa berada satu lift dengan pria itu.


"Jangan lupa, kau adalah tawanan ku.!"


Desis Aaron yang tiba-tiba saja sudah ada


di samping Raya dan berbisik di telinga nya.


Mata Raya melebar indah, tatapannya terlihat


kesal tapi semburat merah mewarnai wajah


beningnya yang mampu membuat Aaron


terpana sesaat. Keduanya saling pandang


lekat, seolah ada magnet kuat yang sangat


sulit untuk di lepaskan.


TING !


Pintu lift terbuka, tapi mata mereka masih


saja saling terpaut dalam. Tidak lama Raya


tersadar duluan, dia melengoskan wajah nya


sambil berlalu keluar lift duluan. Wajah Aaron


sedikit bereaksi, ada warna merah yang kini

__ADS_1


mewarnai wajah super tampan nya.


"Selamat datang Tuan De Enzo..! Ini sebuah


kehormatan besar bagi kami mendapat


kunjungan anda, langsung di tempat kami."


Pimpinan perusahaan tersebut beserta para


pejabat penting lainnya tampak menyambut


Aaron penuh hormat. Raya hanya bisa terdiam


tidak menyangka akan mendapat sambutan


yang begitu formal dalam formasi lengkap.


Sedangkan mereka hanya datang berdua saja.


"Tidak perlu berlebihan.!"


Aaron mengibaskan tangannya ke udara.


Sang pimpinan kini berpaling pada Raya..


Dan mata mereka tampak terkejut, saling


menatap tidak percaya.


"Raya... kau.."


"Selamat siang Tuan Alexander."


Raya menundukkan kepalanya berusaha


memutus keterkejutan pria muda itu yang


masih menatapnya lekat, dia benar-benar


tidak menduga bisa bertemu Raya saat ini.


"Apa sudah bisa di mulai.?"


Suara Aaron membuyarkan keterpesonaan


Sang CEO dan para staf terhadap Raya.


"Mari Tuan.. Silahkan duduk ."


Para staf mempersiapkan Aaron untuk duduk


di tempat yang sudah di sediakan. Namun


sang CEO tampaknya masih belum bisa


melepaskan diri dari wajah cantik Raya yang


terlihat mulai tidak nyaman menyadari tatapan


pria itu yang tidak jua lepas dari dirinya.


Akhirnya mereka semua duduk di tempat


masing-masing. Raya duduk di samping


Aaron berusaha bersikap setenang mungkin


walau sebenarnya hatinya saat ini merasa


semakin tidak nyaman karena tatapan Sang


CEO seolah ingin sekali menyergap dirinya.


"Mohon maaf sebelumnya Tuan De Enzo..


apakah Nona Raya ini..."


"Dia sekertaris pribadiku.!"


Aaron menjawab cepat dengan wajah yang


terlihat datar dan dingin. CEO tersebut, atau


Zoe Alexander tampak mengangguk faham.


Raya menatap sebentar kearah Zoe, terlihat


sekali kalau pria itu masih menyimpan rasa


padanya. Zoe adalah mantan kekasih Raya


sewaktu kuliah dulu di luar negeri.


Mereka berpisah karena pria itu memutuskan


untuk merintis karir di luar negeri di saat Raya


sudah berniat untuk membawa hubungan


mereka ke jenjang yang lebih serius. Dan


kegagalan itulah yang membawa Raya


betah dalam kesendirian selama ini hingga


akhirnya dia mulai merasakan kenyamanan


saat bersama dengan Sean.


"Baiklah Tuan..kalau begitu kita mulai saja


pembicaraan nya."


Zoe tampak semangat. Tatapannya kembali


jatuh di wajah cantik Raya yang semakin di


lihat semakin membius, membawa dirinya


pada penyesalan yang sangat dalam.


"Tuan Alexander..kalau anda tidak bisa fokus


pada pertemuan ini sebaiknya kita batalkan


saja kerjasama ini.!"


Aaron berkata dengan nada yang sangat


arogan. Zoe dan para stat tampak terkejut,


begitu pun dengan Raya.


"Tidak Tuan. Maafkan saya..terus terang saya


sangat senang karena bisa bertemu dengan


Nona Maharaya. Kami adalah teman lama."


Zoe nampak sangat menyesal. Wajah Aaron


terlihat semakin dingin cenderung kesal.


Akhirnya pembicaraan pun di mulai. Dan


seperti biasa Raya maju memaparkan apa


yang akan menjadi inti dari kerjasama dua


perusahaan mereka.


Selama pembicaraan berlangsung, Aaron


terlihat semakin geram melihat tatapan Zoe


yang tiada bosan melahap diri Raya seolah


ingin menerkamnya.


"Bagaimana Tuan, apakah anda keberatan


atau ada hal yang ingin di perjelas lagi ?


Raya mengakhiri pemaparannya, matanya


menatap sekilas kearah Zoe yang sedang


terlena mendengar dan melihat seluruh


penampakan dirinya.


"Tuan Alexander.? apakah anda menyimak


apa yang saya terangkan.?"


Raya benar-benar gerah melihat kelakuan


Zoe yang tidak tahu situasi itu.


"Ohh..ya tentu saja saya menyimak semua


yang anda tuturkan. Semua nya sudah saya


fahami, tidak ada keraguan lagi."


Zoe tampak sedikit gelagapan. Aaron sudah


sangat geram melihat situasi ini. Wanita ini


ternyata memiliki racun yang sangat ganas


hingga bisa menyebarkan virus yang cukup


mematikan bagi para pria yang melihatnya.


Setelah semua disepakati tanpa basa basi


lagi Aaron menarik tangan Raya untuk keluar


dari ruang pertemuan sebelum Zoe sempat


mengajaknya berbicara serius.


Pria itu tidak melepaskan genggaman tangan


nya sampai mereka tiba di basement. Raya


menarik tangannya yang kini sedikit memerah


karena kuat nya pegangan tangan Aaron tadi.


"Kau kembali ke kantor sekarang juga.!"


Titah Aaron seraya mendorong tubuh Raya


masuk ke dalam mobil. Raya menautkan


alisnya mendapati sikap aneh bos jahat nya


itu. Dia segera duduk dengan memasang


wajah geram dan kesal. Mata mereka untuk


sesaat saling menatap kuat sampai akhirnya


Raya memalingkan muka kemudian mobil


mulai melaju meninggalkan tempat itu.


"Kita urus semuanya sekarang juga.!"


Titah Aaron seraya masuk ke dalam mobil.


"Baik Tuan.!"


Sahut Alex mulai meluncurkan mobilnya..


***

__ADS_1


Happy Reading.....


__ADS_2