Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
49. Over Crazy


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Jadi..bangunan ini kediaman pribadi Putra


Mahkota.?"


Raya seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Dia tidak menyadari kalau wakil kepala pelayan


ada di dekatnya, mengikuti langkah nya.


"Benar Lady..! Kami semua siap melayani anda.


Sekarang sebaiknya anda membersihkan diri,


setelah itu anda harus segera sarapan."


"Apakah aku bisa turun ke sana untuk bermain


air, aku sangat ingin kesana."


Wakil kepala pelayan tampak merenung saat


melihat Raya menunjuk kearah pantai yang


ada di bawah sana.


"Kami akan berkoordinasi dulu dengan Lord


Ansel. Dia yang bertanggung jawab di sini.!"


"Ansel masih ada di sini.?"


Mata Raya tampak berbinar, entah kenapa ada


rasa bahagia di hatinya begitu mendengar pria


menawan itu masih ada di tempat ini.


"Benar lady..beliau ada di ruang bawah bersama


dengan Miss Alea dan teman-teman nya."


Wajah Raya semakin terlihat berbinar senang.


Dia seolah lupa pada semua kejadian semalam


dan kemelut dalam pikirannya begitu melihat keindahan laut nan eksotis itu, dia ingin segera menikmati semua keindahan ini.


"Kalau begitu aku akan turun dan sarapan di


bawah bersama mereka.! Tolong siapkan saja


pakaian yang bisa aku kenakkan.!"


Raya segera berbalik kemudian melangkah ke


arah kamar mandi yang ada di sudut lain dari


ruangan kamar yang sangat luas ini. Wakil


kepala pelayan dan 4 pelayan lainnya tampak


mencuri pandang kearah wajah wanita yang


di katakan sebagai Wanita spesial nya Putra


Mahkota itu. Ya..wanita ini memang spesial.


Sangat pantas bila di sandingkan dengan


Putra Mahkota. Mereka segera menyiapkan


pakaian untuk Raya.


Satu jam kemudian Raya sudah siap, wakil


kepala pelayan membimbing Raya keluar dari


dalam kamar kemudian masuk ke dalam lift


gantung yang sangat unik membuat Raya tampak terkagum-kagum melihat semua keunikan serta


kecanggihan yang ada di dalam kastil mewah ini.


Seumur-umur baru kali ini dia menginjakkan kaki langsung dalam bangunan klasik nan legendaris seperti ini, apalagi kastil ini ada di atas bukit


berbatu di kelilingi lautan tersembunyi. Hanya


ada satu akses jalan utama untuk masuk ke


dalam kawasan kastil eksotis ini.


Setelah melewati 3 lantai yang berisi ruang-


ruang megah yang entah ruangan apa saja,


akhirnya Raya dan wakil kepala pelayan tiba


di lantai utama di sambut oleh seorang pria


setengah baya berkumis nyentrik berbadan


besar dengan sorot mata setajam pisau. Di


sekitarnya ada beberapa pelayan yang berdiri


rapi dan kaku dengan tampang sedatar triplek.


"Selamat pagi Lady De Enzo.."


Sambut mereka serempak yang membuat


tubuh Raya kaku seketika. Lady De Enzo..?


Hahh.. menggelikan sekali ! Dia bahkan tidak


pantas menyandang sebutan terhormat itu.


"Selamat pagi semua.."


Kepala pelayan dan barisan pelayan lainnya


terkejut dalam diam mendengar Nyonya muda


mereka sudi membalas sapaan dengan suara


yang sangat lembut dan intonasi yang enak


di dengar. Sungguh sangat mengejutkan.!


"Mari Lady.. ikuti saya.."


Kepala pelayan membimbing Raya melangkah


menuju ruang makan yang entah ada di sebelah


mana karena dia harus berjalan cukup jauh


hingga akhirnya dia keluar dari ruangan dalam


dan tiba di sebuah ruangan indah yang ada di


balkon bangunan utama kastil ini. Begitu tiba


di ruangan itu dia sudah di sambut dengan


hembusan angin kencang yang langsung


menerpa wajah dan tubuh nya hingga dia reflek memejamkan mata sambil tersenyum tenang


menikmati sensasi sejuk yang menenangkan.


Hal itu membuat beberapa pasang mata yang


sudah ada di tempat itu langsung terkesima


maksimal saat melihat bagaimana cantik dan


eloknya paras wanita yang notabenenya istri


Putra Mahkota tersebut. Dia tampak begitu


memukau dan mempesona dengan daya tarik


luar biasa yang mampu membuat tenggorokan


mereka kering kerontang seketika.


Semua orang yang ada di tempat itu tampak


berdiri dengan tatapan tidak lepas dari wajah


Raya yang masih memejamkan matanya, tidak


menyadari kalau dirinya sedang menjadi objek


tatapan panas 3 pria menawan yang sudah ada


di meja makan, dan tidak menduga kalau Raya


akan turun untuk sarapan di bawah.


Mereka begitu terpesona, melihat kemunculan


peri cantik berbalut dress indah di bawah lutut


dengan ikat pinggang manis yang menampilkan


kesempurnaan bentuk tubuh nya yang begitu


menggoda dan menggiurkan tersebut.


Yang ada di ruang makan tersebut adalah Ansel, Prince Elliot juga Prince Desmon. Dua Pangeran


dari negeri sahabat itu ternyata masih berada di


kastil ini, setelah semalam melakukan pertemuan dengan Aaron serta seluruh jaringan keamanan


nya guna membahas insiden kemarin.


"Selamat pagi kakak ipar.."


Ada suara sapaan lembut di belakang Raya


yang membuat dia membuka mata dan segera


tersadar bahwa di tempat itu sudah ada orang


lain, bahkan mereka adalah laki-laki. Wajahnya


sontak saja memerah dengan senyum gusar


kearah Alea yang baru muncul ke ruangan itu.


Wanita cantik nan energik itu langsung saja


mengarahkan tatapan intimidasi kearah tiga


orang pria yang saat ini masih memfokuskan perhatian nya pada sosok Raya.


"Hi.. selamat pagi Alea.."


Sambut Raya sambil kemudian melirik kearah


Ansel, keduanya saling pandang cukup lama


dan hal itu tidak lepas dari pengamatan dua


pangeran charming .


"Ayo kakak ipar.. kita sarapan sekarang. Setelah

__ADS_1


itu barulah pergi ke pantai.!"


Alea menggandeng Raya menuju meja makan


besar yang terbuat dari marmer asli nan mewah.


Ruang makan ini ternyata berada tepat di atas


permukaan air laut dan berada di luar ruangan.


"Selamat pagi prince Elliot, selamat pagi prince


Desmond.."


Raya menyapa kedua pangeran itu dengan suara


yang sangat halus dan menundukkan kepalanya penuh hormat. Kedua pangeran tampan itupun


membalasnya dengan menundukkan kepala


sedikit dan tatapan lembut jatuh seluruhnya


di wajah cantik Raya yang masih terlihat agak


sedikit pucat, namun tetap tidak mengurangi


pesona nya yang telah mampu membuat darah


para pria itu memanas.


"Good morning Lady De Enzo.."


Sahut kedua pangeran itu dengan senyum yang


terus terukir di bibir keduanya. Raya langsung mengangkat wajahnya dengan tampang sedikit terkejut dan tidak nyaman. Dia melirik kearah


Ansel yang mengedipkan mata.


"Kakak yang memberitahu mereka semuanya !"


Ujar Ansel sambil kemudian duduk di kursinya.


Raya tampak terdiam, ada rasa tidak nyaman


dalam hatinya saat dia mengingat sosok Aaron, kemana sebenarnya pria itu perginya.?


"Duduklah.. Kita sarapan sekarang.!"


Ansel menarik tangan Raya yang langsung


berjingkat dan menjauhkan tangannya. Mata


mereka kembali saling menatap. Namun Raya


cepat-cepat berpaling lalu duduk di samping


Ansel, kemudian Alea duduk di sebelahnya.


Sementara kedua pangeran duduk di depannya.


Para pelayan mulai bergerak melayani mereka


semua satu orang satu.


"Bagaimana kondisi anda saat ini lady.?"


Elliot bertanya sambil kemudian meneguk jus


yang ada di hadapannya.


"Sudah lebih baik Yang Mulya.! "


Sahut Raya lembut. Dia melirik kearah Alea


yang sudah memulai sarapan nya.


"Alea, terimakasih ya sudah merawatku."


"Sama-sama.. Itu adalah tugasku sebagai


dokter pribadi Putra Mahkota."


Sahut Alea seraya memulai sarapannya. Tidak


ada lagi pembicaraan, mereka semua mulai


menikmati sarapan paginya dengan tenang.


Setelah selesai dengan sarapannya, mereka


semua keluar Kastil melalui pintu utama. Di


sana telah terparkir beberapa mobil mewah


dan beberapa orang pengawal pribadi dengan


senjata lengkap di tangan. Tidak lama Raya


dan rombongan meninggalkan bangunan


kastil indah nan eksotis itu menuju ke pantai


yang letaknya agak landai dan berada cukup


jauh dari Kastil.


Begitu tiba di bibir pantai mata Raya tampak


bengong menyaksikan keindahan alam yang


begitu memukau. Hamparan pasir putih yang


tersambung dengan bentangan air laut berwarna


hijau tosca kebiru-biruan nampak sangat indah


memanjakan mata. Raya langsung berjalan


menyusuri pantai dengan wajah cerah ceria.


berlari-lari menikmati hembusan angin pantai


yang sejuk dan memberinya kenyamanan.


"Alea..ayo kita main air..!"


Raya menarik tangan Alea menyongsong


ombak yang datang bergelombang. Dengan


senyum yang senantiasa terkembang Alea


menemani kakak ipar nya itu bermain air


sementara ketiga pria tampan pengawalnya


duduk santai di bawah pohon sambil tak henti mengamati keadaan, terutama keberadaan


sosok Raya dan Alea yang sedang asik bermain ombak sambil tertawa riang.


Ansel tersenyum manis, melihat wanita yang


telah mengisi hatinya itu tampak bahagia jiwa


nya terasa tenang. Dia ingin melihat senyum


indah itu terus terukir di bibir nya. Mungkinkah


kakak sepupunya bisa membuat senyum indah


wanita itu kembali terukir di wajahnya.?


Akhirnya Ansel dan dua Pangeran memutuskan


untuk ikut bermain air. Mereka berlima berlarian


di atas pasir putih, bermain air sepuasnya. Ketiga


pria tampan itu harus menelan ludahnya berkali-


kali saat melihat keindahan bentuk tubuh Raya


dan Alea yang tersuguh di depan mata karena


pakaian yang mereka kenakkan sudah basah dan rapat di tubuh. Cuaca di sekitar pantai tiba-tiba


saja berubah sedikit gelap dan ada hembusan


angin cukup kencang datang dari arah laut.


Ansel segera menarik tangan Raya, sementara


Alea dan dua Pangeran sudah menepi duluan


ke pinggir pantai.


"Ada apa Ansel..? Aku masih mau main.!"


"Cuaca tampaknya kurang bersahabat.! Kita


harus kembali sekarang juga.!"


"Tapi aku masih ingin bermain An.."


"Kakak akan murka kalau tahu kamu main


kesini dalam keadaan cuaca seperti ini.!"


"Baiklah.. beri aku waktu sedikit lagi ya.."


Raya melepaskan pegangan tangan Ansel, tapi


pria itu tiba-tiba menarik kencang tangannya


dan reflek memutar tubuhnya melindungi Raya


menghadang ombak yang datang cukup besar.


Raya menyembunyikan wajah dalam rengkuhan


kuat Ansel seraya memejamkan mata. Namun


tidak lama, dia melebarkan mata saat menyadari


kini dirinya ada dalam dekapan erat pria menawan


itu. Orang-orang yang ada di pinggir pantai pun


kini sama bengong nya. Tangan Raya menekan


dada Ansel, mata mereka kini saling menatap


kuat. Ada gejolak perasaan yang entah seperti


apa, karena yang jelas untuk sesaat Raya tidak


mampu menjauhkan diri dari rengkuhan kuat


laki-laki itu.


"Aku mencintaimu Raya.."


Deg !


Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Mata


nya menatap tidak percaya mendengar ucapan


lugas laki-laki itu. Bagaimana bisa dia senekad


ini menyatakan perasaannya padahal dia tahu


sendiri status dirinya saat ini.

__ADS_1


"Ansel.. jangan mengatakan sesuatu yang tidak


pantas kau katakan. Di akui atau tidak, aku ini


istri seseorang, walaupun orang itu tidak pernah


menginginkan hal itu !"


Tatapan Ansel tampak semakin dalam. Tangan


nya menarik pinggang kecil Raya dan melingkari


nya dengan kuat hingga tubuh mereka otomatis


merapat. Wajah Raya tampak memerah dengan


tubuh yang mulai di serang kepanikan karena


Ansel semakin memperkuat belitan tangannya.


"Aku sadar dengan hal itu Raya. Namun walau


nantinya aku tidak bisa mendapatkan dirimu,


tapi setidaknya aku bisa tenang sekarang


karena sudah mengungkapkan perasaan ku.!"


Bisik Ansel dengan suara yang sangat serak


terdorong oleh perasaan yang penuh dengan


beban serta dilema besar. Mata mereka kembali


saling menatap kuat. Raya kini terkesiap saat


kelebatan wajah laki-laki yang sangat di bencinya membawa dirinya pada kesadaran. Dia segera


mendorong tubuh Ansel, mata mereka kembali


saling menatap kuat, tidak lama Raya berlari ke


arah laut bersamaan dengan kemunculan ombak


besar yang datang menerjang tanpa aba-aba.


Dan ini bukanlah main-main, ombak yang datang


tersebut ternyata sangatlah besar dan tinggi,


menyerbu ke pantai bergulung-gulung.


"Raya..awass...!"


Ansel membulatkan matanya saat melihat


Raya masih berdiri mematung menyaksikan


kedatangan ombak besar itu yang siap untuk


menggulung dan melahap tubuhnya. Semua


pengawal dan orang-orang yang ada di pinggir


pantai pun tampak terkesiap. Namun dari atas


gulungan ombak besar tersebut muncul satu


sosok peselancar yang sedang meliukkan


tubuh nya membelah dan memecah keganasan


ombak tersebut. Sosok peselancar tersebut


menyambar tubuh Raya bersamaan dengan


kedatangan ombak ganas yang menyapu


bersih seluruh sisi pantai hingga semua


orang sontak berlarian menghindar.


Untuk sesaat Raya masih terlihat syok. Saat ini


dia berada diatas pangkuan sosok peselancar


tadi, kakinya melingkar kuat di pinggang sosok


itu, sementara tangannya melilit di leher kokoh


pria itu yang sedang menatapnya tajam penuh kecemasan sekaligus emosi. Mata mereka


bertemu panas, wajah super tampan pria itu


terlihat basah dengan rambut yang jatuh


berantakan di hiasi rintik air, terlihat begitu


seksi dan menggoda.


Mata elang nya kini mengamati keseluruhan


diri Raya, tubuh wanita itu basah kuyup hingga


pakaian yang di kenakkannya kini rapat di badan membuat lekuk tubuh indahnya tercetak jelas


dan nyata. Sepasang bukit kembar berukuran


sedang itu kini ada di depan matanya, begitu


menantang dan menggoda, membuat tubuh


bagian bawahnya menegang seketika.


Dari arah lautan berdatangan beberapa motor


boat yang membawa Alex dan para pengawal


pribadi Aaron. Mereka semua langsung berlari


kearah Aaron dengan tampang wajah tegang.


Ansel dan yang lain juga kini mendekat.


"A-Aaron.. bagaimana kamu bisa ada di.."


"Kau ingin mencoba melenyapkan nyawamu


di tempat ini.?!"


Hahh..? Mata Raya membulat, apa yang dia


katakan, kenapa jadi berpikiran kesana sih?


"Tidak..! Siapa yang ingin melenyapkan diri ?


Aku tidak tahu kalau ombaknya akan sebesar


itu, aku benar-benar.."


"Semua ini kesalahan pria-pria bodoh itu.!!"


Dengus sosok itu yang ternyata adalah Aaron.


Wajah Raya langsung saja memucat, Tuhan..


ini bahaya.! Manusia satu ini akan bertindak


tanpa konfirmasi terlebih dahulu.


"Aaron..ini semua salahku. Mereka hanya


menuruti keinginanku saja."


Lirih Raya sambil kemudian turun dari atas


pangkuan Aaron yang kini sudah merubah


wajah tampannya menjadi sosok Devil yang


sangat menakutkan dan menggetarkan jiwa.


"Ansel, Elliot, Desmon..!!"


Teriakan Aaron menggelegar memecah dan


mengalahkan suara debur ombak. Ketiga pria


tampan itu kini mendekat, berdiri menunduk


di hadapan Sang Devil dalam mode tegang


tingkat tinggi.


"Alex.. berikan aku senjata.!"


Semua orang membelalakkan mata terkejut,


terlebih lagi bagi Raya. Alex maju mendekat,


sedikit ragu dia mengulurkan senjata ke tangan


Aaron yang langsung mengokang nya dalam


gerakkan kilat dan kini senjata itu sudah di


todongkan kearah ketiga pria tampan itu yang


reflek mengangkat kedua tangan ke atas.


"Aku tidak akan memberi toleransi pada siapa


pun yang sudah berani bermain-main dengan


keselamatan nyawa istriku.!"


Mata Raya membulat sempurna, jantung nya


kini benar-benar jatuh. Segila inikah laki-laki


ini, kenapa dia harus melakukan semua hal


gila ini hanya karena dirinya.!


"Aaron.. jangan gila kamu.! mereka semua


tidak bersalah, aku yang salah.!"


Tiba-tiba Raya maju kehadapan Aaron sambil merentangkan kedua tangannya. Tapi si devil bergeming, dia malah menarik pelatuk senjata


nya membuat semua orang semakin panik.


"Aku tidak pernah mentolerir kecerobohan.!"


"Aaron..!! Hentikan kegilaan mu..!!"


Dengan gerakan cepat tanpa berpikir Raya maju kemudian memeluk tubuh gagah pria itu seraya membungkam bibirnya dengan ciuman lembut


dan kuat yang membuat semua mata terperangah, melongo dan mematung.Tubuh Aaron membeku,


matanya membulat syok, tenaganya hilang sudah.


Senjata di tangan nya jatuh seketika. Dia menepis


tangan nya ke udara.


Semua orang kini bergerak pergi dengan senyap


masih dalam mode tidak sinkron meninggalkan


dua insan yang sedang terhanyut dalam buaian ciuman yang semakin lama semakin panas dan membara yang membangkitkan gairah bercinta..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2