
❤️❤️❤️
"Jadi..bangunan ini kediaman pribadi Putra
Mahkota.?"
Raya seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Dia tidak menyadari kalau wakil kepala pelayan
ada di dekatnya, mengikuti langkah nya.
"Benar Lady..! Kami semua siap melayani anda.
Sekarang sebaiknya anda membersihkan diri,
setelah itu anda harus segera sarapan."
"Apakah aku bisa turun ke sana untuk bermain
air, aku sangat ingin kesana."
Wakil kepala pelayan tampak merenung saat
melihat Raya menunjuk kearah pantai yang
ada di bawah sana.
"Kami akan berkoordinasi dulu dengan Lord
Ansel. Dia yang bertanggung jawab di sini.!"
"Ansel masih ada di sini.?"
Mata Raya tampak berbinar, entah kenapa ada
rasa bahagia di hatinya begitu mendengar pria
menawan itu masih ada di tempat ini.
"Benar lady..beliau ada di ruang bawah bersama
dengan Miss Alea dan teman-teman nya."
Wajah Raya semakin terlihat berbinar senang.
Dia seolah lupa pada semua kejadian semalam
dan kemelut dalam pikirannya begitu melihat keindahan laut nan eksotis itu, dia ingin segera menikmati semua keindahan ini.
"Kalau begitu aku akan turun dan sarapan di
bawah bersama mereka.! Tolong siapkan saja
pakaian yang bisa aku kenakkan.!"
Raya segera berbalik kemudian melangkah ke
arah kamar mandi yang ada di sudut lain dari
ruangan kamar yang sangat luas ini. Wakil
kepala pelayan dan 4 pelayan lainnya tampak
mencuri pandang kearah wajah wanita yang
di katakan sebagai Wanita spesial nya Putra
Mahkota itu. Ya..wanita ini memang spesial.
Sangat pantas bila di sandingkan dengan
Putra Mahkota. Mereka segera menyiapkan
pakaian untuk Raya.
Satu jam kemudian Raya sudah siap, wakil
kepala pelayan membimbing Raya keluar dari
dalam kamar kemudian masuk ke dalam lift
gantung yang sangat unik membuat Raya tampak terkagum-kagum melihat semua keunikan serta
kecanggihan yang ada di dalam kastil mewah ini.
Seumur-umur baru kali ini dia menginjakkan kaki langsung dalam bangunan klasik nan legendaris seperti ini, apalagi kastil ini ada di atas bukit
berbatu di kelilingi lautan tersembunyi. Hanya
ada satu akses jalan utama untuk masuk ke
dalam kawasan kastil eksotis ini.
Setelah melewati 3 lantai yang berisi ruang-
ruang megah yang entah ruangan apa saja,
akhirnya Raya dan wakil kepala pelayan tiba
di lantai utama di sambut oleh seorang pria
setengah baya berkumis nyentrik berbadan
besar dengan sorot mata setajam pisau. Di
sekitarnya ada beberapa pelayan yang berdiri
rapi dan kaku dengan tampang sedatar triplek.
"Selamat pagi Lady De Enzo.."
Sambut mereka serempak yang membuat
tubuh Raya kaku seketika. Lady De Enzo..?
Hahh.. menggelikan sekali ! Dia bahkan tidak
pantas menyandang sebutan terhormat itu.
"Selamat pagi semua.."
Kepala pelayan dan barisan pelayan lainnya
terkejut dalam diam mendengar Nyonya muda
mereka sudi membalas sapaan dengan suara
yang sangat lembut dan intonasi yang enak
di dengar. Sungguh sangat mengejutkan.!
"Mari Lady.. ikuti saya.."
Kepala pelayan membimbing Raya melangkah
menuju ruang makan yang entah ada di sebelah
mana karena dia harus berjalan cukup jauh
hingga akhirnya dia keluar dari ruangan dalam
dan tiba di sebuah ruangan indah yang ada di
balkon bangunan utama kastil ini. Begitu tiba
di ruangan itu dia sudah di sambut dengan
hembusan angin kencang yang langsung
menerpa wajah dan tubuh nya hingga dia reflek memejamkan mata sambil tersenyum tenang
menikmati sensasi sejuk yang menenangkan.
Hal itu membuat beberapa pasang mata yang
sudah ada di tempat itu langsung terkesima
maksimal saat melihat bagaimana cantik dan
eloknya paras wanita yang notabenenya istri
Putra Mahkota tersebut. Dia tampak begitu
memukau dan mempesona dengan daya tarik
luar biasa yang mampu membuat tenggorokan
mereka kering kerontang seketika.
Semua orang yang ada di tempat itu tampak
berdiri dengan tatapan tidak lepas dari wajah
Raya yang masih memejamkan matanya, tidak
menyadari kalau dirinya sedang menjadi objek
tatapan panas 3 pria menawan yang sudah ada
di meja makan, dan tidak menduga kalau Raya
akan turun untuk sarapan di bawah.
Mereka begitu terpesona, melihat kemunculan
peri cantik berbalut dress indah di bawah lutut
dengan ikat pinggang manis yang menampilkan
kesempurnaan bentuk tubuh nya yang begitu
menggoda dan menggiurkan tersebut.
Yang ada di ruang makan tersebut adalah Ansel, Prince Elliot juga Prince Desmon. Dua Pangeran
dari negeri sahabat itu ternyata masih berada di
kastil ini, setelah semalam melakukan pertemuan dengan Aaron serta seluruh jaringan keamanan
nya guna membahas insiden kemarin.
"Selamat pagi kakak ipar.."
Ada suara sapaan lembut di belakang Raya
yang membuat dia membuka mata dan segera
tersadar bahwa di tempat itu sudah ada orang
lain, bahkan mereka adalah laki-laki. Wajahnya
sontak saja memerah dengan senyum gusar
kearah Alea yang baru muncul ke ruangan itu.
Wanita cantik nan energik itu langsung saja
mengarahkan tatapan intimidasi kearah tiga
orang pria yang saat ini masih memfokuskan perhatian nya pada sosok Raya.
"Hi.. selamat pagi Alea.."
Sambut Raya sambil kemudian melirik kearah
Ansel, keduanya saling pandang cukup lama
dan hal itu tidak lepas dari pengamatan dua
pangeran charming .
"Ayo kakak ipar.. kita sarapan sekarang. Setelah
__ADS_1
itu barulah pergi ke pantai.!"
Alea menggandeng Raya menuju meja makan
besar yang terbuat dari marmer asli nan mewah.
Ruang makan ini ternyata berada tepat di atas
permukaan air laut dan berada di luar ruangan.
"Selamat pagi prince Elliot, selamat pagi prince
Desmond.."
Raya menyapa kedua pangeran itu dengan suara
yang sangat halus dan menundukkan kepalanya penuh hormat. Kedua pangeran tampan itupun
membalasnya dengan menundukkan kepala
sedikit dan tatapan lembut jatuh seluruhnya
di wajah cantik Raya yang masih terlihat agak
sedikit pucat, namun tetap tidak mengurangi
pesona nya yang telah mampu membuat darah
para pria itu memanas.
"Good morning Lady De Enzo.."
Sahut kedua pangeran itu dengan senyum yang
terus terukir di bibir keduanya. Raya langsung mengangkat wajahnya dengan tampang sedikit terkejut dan tidak nyaman. Dia melirik kearah
Ansel yang mengedipkan mata.
"Kakak yang memberitahu mereka semuanya !"
Ujar Ansel sambil kemudian duduk di kursinya.
Raya tampak terdiam, ada rasa tidak nyaman
dalam hatinya saat dia mengingat sosok Aaron, kemana sebenarnya pria itu perginya.?
"Duduklah.. Kita sarapan sekarang.!"
Ansel menarik tangan Raya yang langsung
berjingkat dan menjauhkan tangannya. Mata
mereka kembali saling menatap. Namun Raya
cepat-cepat berpaling lalu duduk di samping
Ansel, kemudian Alea duduk di sebelahnya.
Sementara kedua pangeran duduk di depannya.
Para pelayan mulai bergerak melayani mereka
semua satu orang satu.
"Bagaimana kondisi anda saat ini lady.?"
Elliot bertanya sambil kemudian meneguk jus
yang ada di hadapannya.
"Sudah lebih baik Yang Mulya.! "
Sahut Raya lembut. Dia melirik kearah Alea
yang sudah memulai sarapan nya.
"Alea, terimakasih ya sudah merawatku."
"Sama-sama.. Itu adalah tugasku sebagai
dokter pribadi Putra Mahkota."
Sahut Alea seraya memulai sarapannya. Tidak
ada lagi pembicaraan, mereka semua mulai
menikmati sarapan paginya dengan tenang.
Setelah selesai dengan sarapannya, mereka
semua keluar Kastil melalui pintu utama. Di
sana telah terparkir beberapa mobil mewah
dan beberapa orang pengawal pribadi dengan
senjata lengkap di tangan. Tidak lama Raya
dan rombongan meninggalkan bangunan
kastil indah nan eksotis itu menuju ke pantai
yang letaknya agak landai dan berada cukup
jauh dari Kastil.
Begitu tiba di bibir pantai mata Raya tampak
bengong menyaksikan keindahan alam yang
begitu memukau. Hamparan pasir putih yang
tersambung dengan bentangan air laut berwarna
hijau tosca kebiru-biruan nampak sangat indah
memanjakan mata. Raya langsung berjalan
menyusuri pantai dengan wajah cerah ceria.
berlari-lari menikmati hembusan angin pantai
yang sejuk dan memberinya kenyamanan.
"Alea..ayo kita main air..!"
Raya menarik tangan Alea menyongsong
ombak yang datang bergelombang. Dengan
senyum yang senantiasa terkembang Alea
menemani kakak ipar nya itu bermain air
sementara ketiga pria tampan pengawalnya
duduk santai di bawah pohon sambil tak henti mengamati keadaan, terutama keberadaan
sosok Raya dan Alea yang sedang asik bermain ombak sambil tertawa riang.
Ansel tersenyum manis, melihat wanita yang
telah mengisi hatinya itu tampak bahagia jiwa
nya terasa tenang. Dia ingin melihat senyum
indah itu terus terukir di bibir nya. Mungkinkah
kakak sepupunya bisa membuat senyum indah
wanita itu kembali terukir di wajahnya.?
Akhirnya Ansel dan dua Pangeran memutuskan
untuk ikut bermain air. Mereka berlima berlarian
di atas pasir putih, bermain air sepuasnya. Ketiga
pria tampan itu harus menelan ludahnya berkali-
kali saat melihat keindahan bentuk tubuh Raya
dan Alea yang tersuguh di depan mata karena
pakaian yang mereka kenakkan sudah basah dan rapat di tubuh. Cuaca di sekitar pantai tiba-tiba
saja berubah sedikit gelap dan ada hembusan
angin cukup kencang datang dari arah laut.
Ansel segera menarik tangan Raya, sementara
Alea dan dua Pangeran sudah menepi duluan
ke pinggir pantai.
"Ada apa Ansel..? Aku masih mau main.!"
"Cuaca tampaknya kurang bersahabat.! Kita
harus kembali sekarang juga.!"
"Tapi aku masih ingin bermain An.."
"Kakak akan murka kalau tahu kamu main
kesini dalam keadaan cuaca seperti ini.!"
"Baiklah.. beri aku waktu sedikit lagi ya.."
Raya melepaskan pegangan tangan Ansel, tapi
pria itu tiba-tiba menarik kencang tangannya
dan reflek memutar tubuhnya melindungi Raya
menghadang ombak yang datang cukup besar.
Raya menyembunyikan wajah dalam rengkuhan
kuat Ansel seraya memejamkan mata. Namun
tidak lama, dia melebarkan mata saat menyadari
kini dirinya ada dalam dekapan erat pria menawan
itu. Orang-orang yang ada di pinggir pantai pun
kini sama bengong nya. Tangan Raya menekan
dada Ansel, mata mereka kini saling menatap
kuat. Ada gejolak perasaan yang entah seperti
apa, karena yang jelas untuk sesaat Raya tidak
mampu menjauhkan diri dari rengkuhan kuat
laki-laki itu.
"Aku mencintaimu Raya.."
Deg !
Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Mata
nya menatap tidak percaya mendengar ucapan
lugas laki-laki itu. Bagaimana bisa dia senekad
ini menyatakan perasaannya padahal dia tahu
sendiri status dirinya saat ini.
__ADS_1
"Ansel.. jangan mengatakan sesuatu yang tidak
pantas kau katakan. Di akui atau tidak, aku ini
istri seseorang, walaupun orang itu tidak pernah
menginginkan hal itu !"
Tatapan Ansel tampak semakin dalam. Tangan
nya menarik pinggang kecil Raya dan melingkari
nya dengan kuat hingga tubuh mereka otomatis
merapat. Wajah Raya tampak memerah dengan
tubuh yang mulai di serang kepanikan karena
Ansel semakin memperkuat belitan tangannya.
"Aku sadar dengan hal itu Raya. Namun walau
nantinya aku tidak bisa mendapatkan dirimu,
tapi setidaknya aku bisa tenang sekarang
karena sudah mengungkapkan perasaan ku.!"
Bisik Ansel dengan suara yang sangat serak
terdorong oleh perasaan yang penuh dengan
beban serta dilema besar. Mata mereka kembali
saling menatap kuat. Raya kini terkesiap saat
kelebatan wajah laki-laki yang sangat di bencinya membawa dirinya pada kesadaran. Dia segera
mendorong tubuh Ansel, mata mereka kembali
saling menatap kuat, tidak lama Raya berlari ke
arah laut bersamaan dengan kemunculan ombak
besar yang datang menerjang tanpa aba-aba.
Dan ini bukanlah main-main, ombak yang datang
tersebut ternyata sangatlah besar dan tinggi,
menyerbu ke pantai bergulung-gulung.
"Raya..awass...!"
Ansel membulatkan matanya saat melihat
Raya masih berdiri mematung menyaksikan
kedatangan ombak besar itu yang siap untuk
menggulung dan melahap tubuhnya. Semua
pengawal dan orang-orang yang ada di pinggir
pantai pun tampak terkesiap. Namun dari atas
gulungan ombak besar tersebut muncul satu
sosok peselancar yang sedang meliukkan
tubuh nya membelah dan memecah keganasan
ombak tersebut. Sosok peselancar tersebut
menyambar tubuh Raya bersamaan dengan
kedatangan ombak ganas yang menyapu
bersih seluruh sisi pantai hingga semua
orang sontak berlarian menghindar.
Untuk sesaat Raya masih terlihat syok. Saat ini
dia berada diatas pangkuan sosok peselancar
tadi, kakinya melingkar kuat di pinggang sosok
itu, sementara tangannya melilit di leher kokoh
pria itu yang sedang menatapnya tajam penuh kecemasan sekaligus emosi. Mata mereka
bertemu panas, wajah super tampan pria itu
terlihat basah dengan rambut yang jatuh
berantakan di hiasi rintik air, terlihat begitu
seksi dan menggoda.
Mata elang nya kini mengamati keseluruhan
diri Raya, tubuh wanita itu basah kuyup hingga
pakaian yang di kenakkannya kini rapat di badan membuat lekuk tubuh indahnya tercetak jelas
dan nyata. Sepasang bukit kembar berukuran
sedang itu kini ada di depan matanya, begitu
menantang dan menggoda, membuat tubuh
bagian bawahnya menegang seketika.
Dari arah lautan berdatangan beberapa motor
boat yang membawa Alex dan para pengawal
pribadi Aaron. Mereka semua langsung berlari
kearah Aaron dengan tampang wajah tegang.
Ansel dan yang lain juga kini mendekat.
"A-Aaron.. bagaimana kamu bisa ada di.."
"Kau ingin mencoba melenyapkan nyawamu
di tempat ini.?!"
Hahh..? Mata Raya membulat, apa yang dia
katakan, kenapa jadi berpikiran kesana sih?
"Tidak..! Siapa yang ingin melenyapkan diri ?
Aku tidak tahu kalau ombaknya akan sebesar
itu, aku benar-benar.."
"Semua ini kesalahan pria-pria bodoh itu.!!"
Dengus sosok itu yang ternyata adalah Aaron.
Wajah Raya langsung saja memucat, Tuhan..
ini bahaya.! Manusia satu ini akan bertindak
tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Aaron..ini semua salahku. Mereka hanya
menuruti keinginanku saja."
Lirih Raya sambil kemudian turun dari atas
pangkuan Aaron yang kini sudah merubah
wajah tampannya menjadi sosok Devil yang
sangat menakutkan dan menggetarkan jiwa.
"Ansel, Elliot, Desmon..!!"
Teriakan Aaron menggelegar memecah dan
mengalahkan suara debur ombak. Ketiga pria
tampan itu kini mendekat, berdiri menunduk
di hadapan Sang Devil dalam mode tegang
tingkat tinggi.
"Alex.. berikan aku senjata.!"
Semua orang membelalakkan mata terkejut,
terlebih lagi bagi Raya. Alex maju mendekat,
sedikit ragu dia mengulurkan senjata ke tangan
Aaron yang langsung mengokang nya dalam
gerakkan kilat dan kini senjata itu sudah di
todongkan kearah ketiga pria tampan itu yang
reflek mengangkat kedua tangan ke atas.
"Aku tidak akan memberi toleransi pada siapa
pun yang sudah berani bermain-main dengan
keselamatan nyawa istriku.!"
Mata Raya membulat sempurna, jantung nya
kini benar-benar jatuh. Segila inikah laki-laki
ini, kenapa dia harus melakukan semua hal
gila ini hanya karena dirinya.!
"Aaron.. jangan gila kamu.! mereka semua
tidak bersalah, aku yang salah.!"
Tiba-tiba Raya maju kehadapan Aaron sambil merentangkan kedua tangannya. Tapi si devil bergeming, dia malah menarik pelatuk senjata
nya membuat semua orang semakin panik.
"Aku tidak pernah mentolerir kecerobohan.!"
"Aaron..!! Hentikan kegilaan mu..!!"
Dengan gerakan cepat tanpa berpikir Raya maju kemudian memeluk tubuh gagah pria itu seraya membungkam bibirnya dengan ciuman lembut
dan kuat yang membuat semua mata terperangah, melongo dan mematung.Tubuh Aaron membeku,
matanya membulat syok, tenaganya hilang sudah.
Senjata di tangan nya jatuh seketika. Dia menepis
tangan nya ke udara.
Semua orang kini bergerak pergi dengan senyap
masih dalam mode tidak sinkron meninggalkan
dua insan yang sedang terhanyut dalam buaian ciuman yang semakin lama semakin panas dan membara yang membangkitkan gairah bercinta..
***
__ADS_1
Happy Reading...