Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
74. Big Surprise


__ADS_3

Marvello's Hospital...


Aaron membawa Raya datang ke rumah sakit


miliknya, tidak ke rumah sakit istana. Suasana


di private parking kini tampak mencekam saat


ambulance yang membawa Raya tiba. Alea


terlihat sibuk memberi instruksi pada semua


petugas medis yang sudah menanti di sana.


Para dokter jaga dan perawat terlihat bergerak


cepat pada tugasnya masing-masing setelah mendapat perintah langsung dari Sang direktur


pusat rumah sakit milik Putra Mahkota ini.


Tubuh Raya di dorong di atas blangkar dan sudah terpasang selang infus serta oksigen karena Alea


sudah langsung mengambil tindakan selama di


perjalanan tadi melihat kondisi Raya yang lemah.


Aaron menatap kuat wajah lemah Raya selama mereka berada di dalam lift menuju Emergency


Room. Wajahnya saat ini sudah sedingin es balok namun sorot matanya di penuhi kecemasan yang teramat sangat. Sementara Alea terus memantau kondisinya, sedang Ansel tampak hancur melihat


apa yang terjadi pada Raya.


"Kalian tunggu di sini.! Aku akan menanganinya


sebaik mungkin. Berdoalah pada Tuhan untuk


keselamatannya.!"


Ucap Alea begitu mereka tiba di emergency room


sambil menutup pintu ruangan membuat Aaron


membeku di tempat dengan tatapan yang terlihat


hampa di telan kekhawatiran. Apa yang terjadi


sebenarnya.? Kenapa Alea terlihat sangat serius


dengan kondisi Raya. Aaron menjatuhkan dirinya


di bangku yang ada di sana. Ansel ikut duduk di


sebelahnya. Keduanya tampak menundukkan


kepala sambil meremasnya kuat. Alex, Benjamin


dan para pengawal pribadi berdiri di kejauhan


dengan tampang muka yang tidak kalah cemas


dari majikannya. Lady De Enzo.. apa yang terjadi


dengannya.?


Beberapa waktu berlalu..


Aaron berjalan mondar-mandir di depan ruangan.


Dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan


dirinya lagi. Kecemasan yang di rasakannya telah


membuat jiwanya seakan ingin meledak. Kenapa


Alea belum juga keluar.??


Ansel berdiri, menepuk bahu Aaron mencoba


untuk menenangkan nya. Saat ini dia sudah bisa


memastikan bagaimana perasaan kakak sepupu


nya itu terhadap Raya. Melihat semua kecemasan


dan reaksi kepanikannya, dia sudah bisa menebak


seberapa dalamnya perasaan Aaron pada Raya.


Dalam keadaan mencekam seperti itu di ujung


koridor ruangan muncul Madam Rowena yang


datang bersama dengan Gregory, para pelayan


pribadi dan beberapa pengawal pilihan.


Dia langsung menghampiri Aaron yang sedang


membentur-benturkan kepalanya ke dinding.


"Apa yang terjadi.? Bagaimana kondisinya.?


Apakah Alea sudah memberi kabar pada kalian ?"


Ibu Suri berdiri di hadapan Aaron dan Ansel.


Wajah tua nya mulai di warnai ketakutan dan


was-was. Tidak ! dia yakin semuanya baik-baik


saja, tidak akan terjadi apa-apa pada hal yang


paling berharga itu. Ada penyesalan yang kini


menggelayuti hati mantan Ratu kesohor itu


karena membiarkan Raya melewati fase ini.


"Kami juga tidak tahu Grandma.! Dari tadi


Alea belum juga keluar."


Ansel menjawab sambil bangkit berdiri dan


melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.


"Apa yang terjadi dengan nya. Apakah dia


terlalu tertekan dengan semua keadaan ini.!"


Gumam Madam Rowena sambil mengurut


pelipisnya dengan kaki sedikit goyah.


"Grandma tenang.. Sekarang sebaiknya duduk


dulu, jangan terlalu banyak berpikir."


Ansel segera merangkul bahu Madam Rowena


dan membimbing nya untuk duduk. Sedangkan


Aaron masih tampak terdiam dalam kekalutan pikirannya. Maharaya.. sebenarnya apa yang


terjadi dengan mu.?


Pintu ruangan emergency terbuka, Alea dan


rombongan paramedis lainnya keluar dengan


terburu-buru sambil mendorong hospital bad.


Di atasnya terbaring tubuh lemah Raya yang


terlihat telah terpasang alat bantu di beberapa


bagian tubuhnya. Aaron mematung, tampak


syok melihat kondisi Raya yang terlihat sudah


dalam keadaan seputih kapas. Yang lain pun


sama terkejutnya, hanya bisa membeku. Alea


berdiri sebentar di hadapan keluarganya itu


dengan sorot mata berat dan tertekan.


"Kami harus melakukan tindakan cepat untuk


menyelamatkan mereka berdua.."


Hahh.?? Wajah Aaron berubah.. tak terbaca..


Entah seperti apa saat ini kondisi jiwanya.


Tunggu dulu, mereka berdua.. apa maksud


Alea sebenarnya.?


"Alea..apa yang terjadi dengan nya.?? katakan


padaku bagaimana keadaannya.?!!"


Aaron membentak dengan suara yang sangat


keras hingga menggegerkan seluruh bangunan


lantai atas tersebut. Alea mengibaskan tangan


memberi isyarat pada seluruh bawahannya agar


segera bergerak maju membuat Aaron serentak


menghadang dan merengkuh tubuh Raya, lalu mengelus serta menatap lekat wajah pucat pasi


itu yang terpejam rapat dalam kondisi lemah.


"Alea..! Jelaskan padaku semuanya.!"


"Kakak..aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang biarkan kami menanganinya dengan


segera. Kondisi kakak ipar saat ini dalam


keadaan kritis.! Ayo cepat jalan.!"


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya.? Dia


wanita yang kuat, tidak mungkin terjadi


apapun padanya.!"


"Tentu saja, aku tahu..dia memang wanita


yang sangat kuat dan istimewa.! "


Tanpa basa-basi lagi Alea segera melangkah


cepat di ikuti rombongan nya menuju ruangan


lain yang masih berada di lantai VVIP tersebut.


Aaron mengikuti mereka masih memegang kuat jemari tangan Raya yang kini sudah sedingin es.


Matanya tidak lepas menatap kuat wajah pucat


Raya.


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan


operasi dimana di sana para dokter dan perawat


sudah menunggu dengan siaga penuh.


"Kau wanita yang kuat Maharaya.. Tidak akan


terjadi apapun padamu. Aku di sini bersamamu.!"


Bisik Aaron rapuh di telinga Raya sambil mencium


lembut kening nya sebelum akhirnya dia terpaksa


melepas Raya untuk di bawa masuk ke dalam


ruang tindakan. Ansel dan Madam Rowena kini


datang menyusul. Mereka bertiga tampak berdiri


mematung dengan pikiran di selimuti kecemasan.


Mata Aaron menatap hampa ke dalam ruangan


yang hanya bisa di lihat dari kaca kontrol di pintu


ruangan. Tubuh nya saat ini kehilangan tenaga.


Pria yang sangat perkasa itu kini tidak berdaya.


Dia jatuh, terpuruk ke dalam lembah kecemasan.


Dia di kalahkan oleh kekhawatiran dan ketakutan


yang membuat jiwanya seakan tidak utuh lagi.


Dia benar-benar takut kehilangan. Rasa takut


yang selama ini belum pernah di rasakannya.


Jiwa normalnya kini keluar. Dia hanya seorang


manusia biasa saat ini. Manusia yang memiliki


batas kekuatan dan kemampuan.


"Kau percaya bukan, dia wanita yang sangat


kuat. Tidak akan terjadi apa-apa padanya.!"


Madam Rowena menepuk punggung Aaron

__ADS_1


yang berdiri tegak, matanya menatap lurus ke


depan berusaha menembus ke dalam ruangan


dimana di sana seluruh petugas medis terlihat


sangat sibuk. Raya.. kau harus kuat.! Aaron


kembali mengacak rambutnya frustasi sambil


berjalan ke sisi ruangan. Dia merenung, apa


yang membuat Raya berada dalam kondisi


kritis seperti ini, adakah sesuatu yang dia


lewatkan dari pengetahuannya tentang Raya?


Ansel kembali membawa Ibu Suri duduk di kursi


tunggu. Ada beberapa staf rumah sakit yang


datang dan mempersilahkan mereka untuk


menuggu di ruang khusus yang lebih nyaman.


Namun Ibu Suri menolak dengan keras.


Waktu terus berjalan dan terasa begitu lambat.


Aaron sudah tidak tahan lagi. Dia tidak mampu


bernafas dengan lega. Dadanya terasa sesak.


Dua jam sudah berlalu namun keadaan di dalam


ruang tindakan masih terlihat sibuk. Tubuh Aaron merosot, jatuh terduduk di dinding ruangan


dengan mata terpejam kuat. Wajahnya terlihat


semakin beku, rambutnya jatuh berantakan. Dia


membuka jas dan dasi yang di pakainya, lalu


melemparnya asal yang kemudian segera di


ambil oleh Alex.


Tidak, dia tidak bisa diam saja menunggu semua


ini. Aaron bangkit, lalu melangkah gontai ke luar


dari ruangan itu. Dia segera mencari mushola


yang ada di sisi lain gedung ini. Ukurannya


tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan


memiliki fasilitas yang cukup komplit.


Tidak lama kemudian dia segera menjalankan kewajibannya melaksanakan sholat isya, di lanjut dengan melantunkan doa khusyuk. Memohon


pertolongan Tuhan untuk keselamatan istrinya.


Istri yang pada awal di nikahinya hanya sebagai


bentuk pertanggungjawaban nya saja. Namun


dalam waktu singkat semuanya telah berubah


arah. Sekarang ini dia sudah tidak mungkin


bisa di pisahkan dari wanita itu, wanita yang


sudah membuat hidupnya terasa berwarna,


karena sekarang di setiap tarikan nafasnya


hanya berisi satu namanya saja..


"Yang Mulya.. Lady Maharaya sudah melewati


masa kritis. Sekarang sudah di pindahkan ke


ruang perawatan intensive."


Lapor Alex yang dari tadi setia menemani dan


baru saja menerima telepon dari Ansel.


"Alhamdulillah ya Allah.."


Gumam Aaron dengan wajah yang terlihat


sedikit tenang. Dia segera bangkit kemudian


melangkah pergi dari tempat itu di ikuti oleh


Alex dan dua orang pengawal.


***


Aaron segera masuk ke dalam ruang perawatan


intensive dengan mengenalkan APD lengkap.


Di sana sudah ada Madam Rowena dan Alea.


Ibu Suri tampak sedang duduk di kursi di pinggir ranjang pasien, tengah menatap lekat wajah


Raya yang sedang terbaring tenang dalam


keadaan yang masih terlihat lemah tak berdaya. Namun saat ini wajahnya sudah tidak sepucat


tadi. Dan beberapa alat bantu kini sudah tidak


terlihat lagi, oksigen pun sudah tidak terpasang,


hanya tinggal selang infus saja.


Aaron segera mendekat kearah Raya, matanya


langsung mengunci keseluruhan kondisi tubuh


Raya yang masih terlihat lemah itu. Dia masih


belum kembali pada kesadarannya.


"Alea.. bagaimana kondisinya.? Tidak ada yang


serius dengan nya kan.? Dia baik-baik saja kan.?"


Aaron menatap teduh wajah Raya dengan sorot


mata di penuhi kecemasan. Alea mundur untuk


memberi ruang pada Aaron agar lebih dekat.


Ibu Suri yang duduk di kursi seberang tampak


sedang menekan pergelangan tangan Raya


Aaron terduduk lemas di samping tubuh Raya, perlahan tangannya mengelus lembut rambut


istrinya itu, kemudian mencium keningnya lama.


Setelah itu meraih jemari tangannya, mengecup


nya kuat dengan tatapan tidak lepas dari wajah


Raya yang masih enggan membuka mata itu.


"Kakak sangat ceroboh..! Selama ini kamu telah menempatkan istrimu dalam bahaya besar.!"


Aaron menautkan alisnya mendengar ucapan


Alea. Dia melirik dan menatap tajam wajah adik


sepupunya yang terlihat sangat serius itu.


"Apa maksudmu.? Bicara yang jelas.!"


"Dia hampir saja kehilangan sesuatu yang akan


menjadi hal Paling Berharga Berikutnya bagi


negeri ini.!"


Alea berucap dengan wajah yang terlihat dingin.


Namun tampang muka Ibu Suri jauh lebih dingin


lagi saat ini. Wanita tua itu tampak menunduk


dan menarik nafas panjang berkali-kali. Sedang


Aaron terlihat tidak mengerti, innocent dan


hanya bisa menatap bingung setengah emosi


kearah Alea yang terlihat mengambil kertas


hasil lab dari atas nakas.


"Alea, apa yang ingin kau katakan sebenarnya.?


Jangan bertele-tele, aku tidak pandai mencerna


bahasa silat lidah.!"


Geram Aaron sambil menatap tajam wajah Alea,


mulai kesal dan tidak sabar. Alea menyerahkan


kertas tadi ke tangan Aaron.


"Lihatlah baik-baik, kau hampir saja kehilangan


apa yang kau harapkan selama ini. Bukankah


tujuanmu menikahinya hanya untuk ini.?!"


Aaron melihat isi kertas itu, membaca nya dengan


teliti dan seksama. Matanya tampak melebar dan


kembali membacanya sekali lagi. Jantungnya saat


ini berhenti berdetak, dadanya terasa sesak. Dia


berdiri, kemudian reflek mundur dengan tatapan


tidak percaya pada isi kertas itu. Tangannya kini


gemetar mencengkram kertas itu dengan kuat.


"Alea.. apa ini benar.? Apakah dia..dia sedang.."


"Kenapa kamu tidak peka pada kondisi kakak


ipar, kamu hampir saja menghancurkan semua


impian mu sendiri kak.?"


"Tidak, katakan padaku kalau semua ini bukan


hanya lelucon mu saja.!"


"Kakak..mana mungkin aku bercanda dalam


keadaan seperti ini, Grandma bahkan sudah


bisa mengetahui semua ini sebelum kalian.!"


Seru Alea karena tidak tahan lagi dengan


segala tekanan perasaannya. Beberapa saat


lalu dia harus mati-matian mengerahkan segala


pengetahuannya untuk menyelamatkan dua


nyawa yang paling berharga bagi seorang Aaron


yang bahkan karena dirinya lah kondisi kritis


itu tercipta dan hampir saja berakhir tragis.


Aaron masih menggelengkan kepalanya karena


belum bisa meyakini kenyataan ini. Semua ini


terlalu besar untuknya.


"Alea.. katakan padaku.. apakah saat ini Raya


sedang mengandung.? Dia benar-benar bisa


mengandung benih ku..! Alea.. Grandma.. apa.."


"Iyaa.. dia sedang mengandung anakmu..!!"


Madam Rowena dan Alea berseru serempak


sambil melotot kearah Aaron yang langsung


kehilangan separuh jiwanya. Tubuhnya kini


ambruk, jatuh lemas bersimpuh di atas lantai.


Kepalanya tertunduk dalam, matanya terpejam


kuat.Maharaya..istrinya itu sedang mengandung


benih berharganya.?? Dia benar-benar sanggup


dan di takdirkan untuk memberikan keturunan


padanya ? Apalagi yang dia ragukan dari dirinya sekarang.? Semuanya sudah terbukti.! Tapi

__ADS_1


karena kebodohan dan keangkuhannya dia


hampir saja kehilangan calon anak mereka.


"Untung saja Ibu dan calon bayi kalian sangat


kuat hingga semuanya bisa di lalui dengan baik.


Kakak tahu..dia wanita yang luar biasa !"


Ucap Alea sambil menepuk-nepuk bahu Aaron


yang masih berada pada mode menyesali semua kecerobohan nya. Aaron memejamkan matanya


kuat, mengatur dan mengontrol dirinya yang saat


ini hampir saja meledak. Ingin sekali dia berteriak


dan mengatakan..


Maharaya..you are my mine..!!


"Mulai sekarang jaga dia baik-baik.! Rahasiakan


kehamilan ini dan jangan sampai bocor keluar.


Nyawa mereka akan selalu terancam setiap saat.!"


Desis Ibu Suri sambil kemudian berdiri. Aaron


segera bangkit kemudian tanpa di duga dia


mendekati neneknya itu dan merangkulnya erat.


Bibir madam Rowena tersenyum tipis seraya


menepuk punggung cucunya itu.


"Percayalah.. dia adalah takdirmu..!!"


Bisik Ibu Suri sambil mengusap rambut Aaron


saat rangkulan mereka terlepas. Aaron terhenyak dalam diam mendengar apa yang di ucapkan


oleh neneknya barusan.


"Aku akan pulang untuk istirahat. Tingkatkan


penjagaan mulai malam ini. Dan setelah semua


siap, bawa dia pulang ke Green palace..!"


Ucap Ibu Suri kemudian sambil melangkah keluar ruangan di sambut oleh para bawahan setianya.


Tidak lama Ansel masuk ke dalam ruangan


dengan wajah di selimuti kecemasan dan


langsung menyerbu kearah Raya.


"Hei.. mulai sekarang.. dia hanyalah kakak ipar


mu Ansel.! Kau tidak boleh lagi mengharapkan


hal yang tidak mungkin terjadi.!"


Aaron langsung menghadang Ansel yang ingin


meraih jemari tangan Raya. Ansel menegakkan


badannya, keduanya kini saling berhadapan.


Alea yang sedang mengecek kembali kondisi


Raya hanya menggeleng gerah melihat mereka.


"Aku tidak peduli ancaman mu kak, bagiku cukup


aku yang mencintainya, tidak perlu balasan.!"


"Aku tidak akan mengijinkan laki-laki manapun


menaruh hati padanya.! Dia harus bersih dari


pengaruh pria lain.!"


"Wahh..kakak..kau bukan posesif lagi tapi


itu egois namanya.!"


"Aku tidak peduli, yang aku tahu dia hanyalah


milikku seorang.!"


"Aku mencintainya, aku sudah mengatakannya.


Lalu bagaimana dengan mu.? Apakah kakak


sudah siap mengatakan itu padanya.?"


Aaron terhenyak, cinta..?? Wajahnya tampak


berubah sedikit aneh. Mereka tidak sadar kalau


saat ini Raya sudah kembali pada kesadarannya.


Dia mulai membuka matanya perlahan, namun


kembali terpejam karena kepalanya masih


terasa sedikit pusing.


Aaron memalingkan wajahnya, Ansel berdecak


sinis, dia melipat kedua tangannya di dada.


"Aku tahu kau belum sempurna mencintainya.


Hatimu masih saja mengambang, dan hal itu


membuatku ragu untuk mengubur perasanku


padanya. Kau belum mencintainya ternyata.!"


"Ansel cukup.!! Semua itu tidak perlu di katakan. Sebuah kata cinta tidak akan cukup mewakili dan


menggambarkan bagaimana besar dan dalam


nya perasaanku padanya.!"


Ansel dan Alea terhenyak, tertegun mendengar


kata-kata Aaron yang begitu dalam. Keduanya


menatap Aaron, benar-benar tidak percaya kalau Pangeran Es bisa mengucapkan kata-kata yang


sarat akan makna tersebut.


"Saat ini dia sudah mengandung benih ku yang


sangat berharga, dan itu sudah lebih dari cukup


mewakili perasaan ku padanya. Dia mengandung


benih cintaku..!!"


"Apa..?? dia hamil.??"


Ansel berseru tidak percaya. Aaron menyeringai


tipis, makin lama seringaian nya makin lebar.


Mata Aaron dan Ansel saling menatap dan...


"Kakak... selamat.. akhirnya..!!"


Ansel dan Aaron saling berangkulan kuat, saling


memukul punggung meluapkan segala perasaan


yang kini seolah-olah ingin meledak. Akhirnya


apa yang di tunggu-tunggu itu datang juga.


"Aku akan jadi ayah Ansel..!! Aku akan memiliki


keturunan.!! Dia adalah wanita yang luar biasa.!"


Desis Aaron dengan nada suara yang terdengar


begitu berat karena masih belum mempercayai


semua kebesaran Tuhan ini .


"Iya kak.. kau akan menjadi seorang ayah. Dan


aku akan memiliki ponakan baru yang sangat


berharga.!"


Sahut Ansel penuh haru. Alea tersenyum manis


sambil menggelengkan kepala melihat reaksi


naif dan sedikit norak dari kedua pria itu. Namun senyumnya tiba-tiba tertarik dan terkulum begitu melihat kearah Raya, saat ini wanita yang sedang menjadi fokus pembicaraan itu tampak bengong.. matanya terlihat syok..


"A-Aaron.... aku.. hamil...??"


Deg !


Aaron dan Ansel langsung membeku, segera


melepas rangkulan dan melihat kearah Raya.


Wajah Aaron langsung bereaksi aneh, ada raut


kebahagiaan yang tak terbendung namun dia


tidak mampu mengekspresikannya seperti apa.


Aaron segera mendekat dan merengkuh tubuh


Raya yang mencoba untuk bangkit dari tidurnya,


kemudian mendekapnya, memeluknya erat dan


kuat. Menciumi puncak kepalanya berulangkali.


"Kau tidak boleh banyak bergerak dulu sayang..


Kau harus bedrest, kondisimu belum stabil..!"


Jantung Raya kini bergelombang. Panggilan


sayang yang di ucapkan Aaron barusan terasa


begitu dalam sampai menembus ke dalam


relung hatinya, menyentuh kedalaman jiwanya.


"A-Aaron...apakah yang aku dengar tadi benar.?


A-apa aku sedang mengandung.?"


Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan dan


bergetar karena ini semua sangat mengejutkan.


Aaron memejamkan matanya, pelukannya kini


semakin erat hingga sedikit membuat Raya


merasakan sesak .


"Aaron.. tolong jawab aku, apakah benar aku.."


"Itu benar, saat ini kau sedang mengandung


benih berharga ku, kau sedang mengandung


keturunan ku Maharaya.. anak kita berdua.."


Raya ternganga.. kembali syok untuk kedua


kalinya. Aaron melepaskan pelukannya. Mata


mereka kini saling menatap kuat, mencoba


untuk saling meyakinkan diri.


"Kau adalah wanita istimewa yang telah di


takdirkan Tuhan untuk memberikan keturunan


pada keluarga De Enzo Maharaya.."


Cairan bening tiba-tiba saja turun menelusuri


wajah bening Raya yang langsung di sambut


oleh kecupan lembut bibir Aaron..


"Terimakasih sayang atas kabar bahagia ini.


Semua ini tak ternilai harganya.."


Bisik Aaron sambil mengangsurkan bibirnya


menghujani wajah Raya dengan ciuman lembut


dan hangat tanpa terlewat di semua bagian dan berakhir di bibir ranumnya. Keduanya kini saling memagut lembut dan manis, terhanyut dalam kebahagiaan dan keharuan, tidak peduli pada pasangan kembar jomblo yang langsung saja


mendengus gerah lalu melangkah keluar dari


ruangan meninggalkan sepasang suami istri


yang sedang di mabuk asmara itu..


***

__ADS_1


__ADS_2