
Marvello's Hospital...
Aaron membawa Raya datang ke rumah sakit
miliknya, tidak ke rumah sakit istana. Suasana
di private parking kini tampak mencekam saat
ambulance yang membawa Raya tiba. Alea
terlihat sibuk memberi instruksi pada semua
petugas medis yang sudah menanti di sana.
Para dokter jaga dan perawat terlihat bergerak
cepat pada tugasnya masing-masing setelah mendapat perintah langsung dari Sang direktur
pusat rumah sakit milik Putra Mahkota ini.
Tubuh Raya di dorong di atas blangkar dan sudah terpasang selang infus serta oksigen karena Alea
sudah langsung mengambil tindakan selama di
perjalanan tadi melihat kondisi Raya yang lemah.
Aaron menatap kuat wajah lemah Raya selama mereka berada di dalam lift menuju Emergency
Room. Wajahnya saat ini sudah sedingin es balok namun sorot matanya di penuhi kecemasan yang teramat sangat. Sementara Alea terus memantau kondisinya, sedang Ansel tampak hancur melihat
apa yang terjadi pada Raya.
"Kalian tunggu di sini.! Aku akan menanganinya
sebaik mungkin. Berdoalah pada Tuhan untuk
keselamatannya.!"
Ucap Alea begitu mereka tiba di emergency room
sambil menutup pintu ruangan membuat Aaron
membeku di tempat dengan tatapan yang terlihat
hampa di telan kekhawatiran. Apa yang terjadi
sebenarnya.? Kenapa Alea terlihat sangat serius
dengan kondisi Raya. Aaron menjatuhkan dirinya
di bangku yang ada di sana. Ansel ikut duduk di
sebelahnya. Keduanya tampak menundukkan
kepala sambil meremasnya kuat. Alex, Benjamin
dan para pengawal pribadi berdiri di kejauhan
dengan tampang muka yang tidak kalah cemas
dari majikannya. Lady De Enzo.. apa yang terjadi
dengannya.?
Beberapa waktu berlalu..
Aaron berjalan mondar-mandir di depan ruangan.
Dia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan
dirinya lagi. Kecemasan yang di rasakannya telah
membuat jiwanya seakan ingin meledak. Kenapa
Alea belum juga keluar.??
Ansel berdiri, menepuk bahu Aaron mencoba
untuk menenangkan nya. Saat ini dia sudah bisa
memastikan bagaimana perasaan kakak sepupu
nya itu terhadap Raya. Melihat semua kecemasan
dan reaksi kepanikannya, dia sudah bisa menebak
seberapa dalamnya perasaan Aaron pada Raya.
Dalam keadaan mencekam seperti itu di ujung
koridor ruangan muncul Madam Rowena yang
datang bersama dengan Gregory, para pelayan
pribadi dan beberapa pengawal pilihan.
Dia langsung menghampiri Aaron yang sedang
membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
"Apa yang terjadi.? Bagaimana kondisinya.?
Apakah Alea sudah memberi kabar pada kalian ?"
Ibu Suri berdiri di hadapan Aaron dan Ansel.
Wajah tua nya mulai di warnai ketakutan dan
was-was. Tidak ! dia yakin semuanya baik-baik
saja, tidak akan terjadi apa-apa pada hal yang
paling berharga itu. Ada penyesalan yang kini
menggelayuti hati mantan Ratu kesohor itu
karena membiarkan Raya melewati fase ini.
"Kami juga tidak tahu Grandma.! Dari tadi
Alea belum juga keluar."
Ansel menjawab sambil bangkit berdiri dan
melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Apa yang terjadi dengan nya. Apakah dia
terlalu tertekan dengan semua keadaan ini.!"
Gumam Madam Rowena sambil mengurut
pelipisnya dengan kaki sedikit goyah.
"Grandma tenang.. Sekarang sebaiknya duduk
dulu, jangan terlalu banyak berpikir."
Ansel segera merangkul bahu Madam Rowena
dan membimbing nya untuk duduk. Sedangkan
Aaron masih tampak terdiam dalam kekalutan pikirannya. Maharaya.. sebenarnya apa yang
terjadi dengan mu.?
Pintu ruangan emergency terbuka, Alea dan
rombongan paramedis lainnya keluar dengan
terburu-buru sambil mendorong hospital bad.
Di atasnya terbaring tubuh lemah Raya yang
terlihat telah terpasang alat bantu di beberapa
bagian tubuhnya. Aaron mematung, tampak
syok melihat kondisi Raya yang terlihat sudah
dalam keadaan seputih kapas. Yang lain pun
sama terkejutnya, hanya bisa membeku. Alea
berdiri sebentar di hadapan keluarganya itu
dengan sorot mata berat dan tertekan.
"Kami harus melakukan tindakan cepat untuk
menyelamatkan mereka berdua.."
Hahh.?? Wajah Aaron berubah.. tak terbaca..
Entah seperti apa saat ini kondisi jiwanya.
Tunggu dulu, mereka berdua.. apa maksud
Alea sebenarnya.?
"Alea..apa yang terjadi dengan nya.?? katakan
padaku bagaimana keadaannya.?!!"
Aaron membentak dengan suara yang sangat
keras hingga menggegerkan seluruh bangunan
lantai atas tersebut. Alea mengibaskan tangan
memberi isyarat pada seluruh bawahannya agar
segera bergerak maju membuat Aaron serentak
menghadang dan merengkuh tubuh Raya, lalu mengelus serta menatap lekat wajah pucat pasi
itu yang terpejam rapat dalam kondisi lemah.
"Alea..! Jelaskan padaku semuanya.!"
"Kakak..aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang biarkan kami menanganinya dengan
segera. Kondisi kakak ipar saat ini dalam
keadaan kritis.! Ayo cepat jalan.!"
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya.? Dia
wanita yang kuat, tidak mungkin terjadi
apapun padanya.!"
"Tentu saja, aku tahu..dia memang wanita
yang sangat kuat dan istimewa.! "
Tanpa basa-basi lagi Alea segera melangkah
cepat di ikuti rombongan nya menuju ruangan
lain yang masih berada di lantai VVIP tersebut.
Aaron mengikuti mereka masih memegang kuat jemari tangan Raya yang kini sudah sedingin es.
Matanya tidak lepas menatap kuat wajah pucat
Raya.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan
operasi dimana di sana para dokter dan perawat
sudah menunggu dengan siaga penuh.
"Kau wanita yang kuat Maharaya.. Tidak akan
terjadi apapun padamu. Aku di sini bersamamu.!"
Bisik Aaron rapuh di telinga Raya sambil mencium
lembut kening nya sebelum akhirnya dia terpaksa
melepas Raya untuk di bawa masuk ke dalam
ruang tindakan. Ansel dan Madam Rowena kini
datang menyusul. Mereka bertiga tampak berdiri
mematung dengan pikiran di selimuti kecemasan.
Mata Aaron menatap hampa ke dalam ruangan
yang hanya bisa di lihat dari kaca kontrol di pintu
ruangan. Tubuh nya saat ini kehilangan tenaga.
Pria yang sangat perkasa itu kini tidak berdaya.
Dia jatuh, terpuruk ke dalam lembah kecemasan.
Dia di kalahkan oleh kekhawatiran dan ketakutan
yang membuat jiwanya seakan tidak utuh lagi.
Dia benar-benar takut kehilangan. Rasa takut
yang selama ini belum pernah di rasakannya.
Jiwa normalnya kini keluar. Dia hanya seorang
manusia biasa saat ini. Manusia yang memiliki
batas kekuatan dan kemampuan.
"Kau percaya bukan, dia wanita yang sangat
kuat. Tidak akan terjadi apa-apa padanya.!"
Madam Rowena menepuk punggung Aaron
__ADS_1
yang berdiri tegak, matanya menatap lurus ke
depan berusaha menembus ke dalam ruangan
dimana di sana seluruh petugas medis terlihat
sangat sibuk. Raya.. kau harus kuat.! Aaron
kembali mengacak rambutnya frustasi sambil
berjalan ke sisi ruangan. Dia merenung, apa
yang membuat Raya berada dalam kondisi
kritis seperti ini, adakah sesuatu yang dia
lewatkan dari pengetahuannya tentang Raya?
Ansel kembali membawa Ibu Suri duduk di kursi
tunggu. Ada beberapa staf rumah sakit yang
datang dan mempersilahkan mereka untuk
menuggu di ruang khusus yang lebih nyaman.
Namun Ibu Suri menolak dengan keras.
Waktu terus berjalan dan terasa begitu lambat.
Aaron sudah tidak tahan lagi. Dia tidak mampu
bernafas dengan lega. Dadanya terasa sesak.
Dua jam sudah berlalu namun keadaan di dalam
ruang tindakan masih terlihat sibuk. Tubuh Aaron merosot, jatuh terduduk di dinding ruangan
dengan mata terpejam kuat. Wajahnya terlihat
semakin beku, rambutnya jatuh berantakan. Dia
membuka jas dan dasi yang di pakainya, lalu
melemparnya asal yang kemudian segera di
ambil oleh Alex.
Tidak, dia tidak bisa diam saja menunggu semua
ini. Aaron bangkit, lalu melangkah gontai ke luar
dari ruangan itu. Dia segera mencari mushola
yang ada di sisi lain gedung ini. Ukurannya
tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan
memiliki fasilitas yang cukup komplit.
Tidak lama kemudian dia segera menjalankan kewajibannya melaksanakan sholat isya, di lanjut dengan melantunkan doa khusyuk. Memohon
pertolongan Tuhan untuk keselamatan istrinya.
Istri yang pada awal di nikahinya hanya sebagai
bentuk pertanggungjawaban nya saja. Namun
dalam waktu singkat semuanya telah berubah
arah. Sekarang ini dia sudah tidak mungkin
bisa di pisahkan dari wanita itu, wanita yang
sudah membuat hidupnya terasa berwarna,
karena sekarang di setiap tarikan nafasnya
hanya berisi satu namanya saja..
"Yang Mulya.. Lady Maharaya sudah melewati
masa kritis. Sekarang sudah di pindahkan ke
ruang perawatan intensive."
Lapor Alex yang dari tadi setia menemani dan
baru saja menerima telepon dari Ansel.
"Alhamdulillah ya Allah.."
Gumam Aaron dengan wajah yang terlihat
sedikit tenang. Dia segera bangkit kemudian
melangkah pergi dari tempat itu di ikuti oleh
Alex dan dua orang pengawal.
***
Aaron segera masuk ke dalam ruang perawatan
intensive dengan mengenalkan APD lengkap.
Di sana sudah ada Madam Rowena dan Alea.
Ibu Suri tampak sedang duduk di kursi di pinggir ranjang pasien, tengah menatap lekat wajah
Raya yang sedang terbaring tenang dalam
keadaan yang masih terlihat lemah tak berdaya. Namun saat ini wajahnya sudah tidak sepucat
tadi. Dan beberapa alat bantu kini sudah tidak
terlihat lagi, oksigen pun sudah tidak terpasang,
hanya tinggal selang infus saja.
Aaron segera mendekat kearah Raya, matanya
langsung mengunci keseluruhan kondisi tubuh
Raya yang masih terlihat lemah itu. Dia masih
belum kembali pada kesadarannya.
"Alea.. bagaimana kondisinya.? Tidak ada yang
serius dengan nya kan.? Dia baik-baik saja kan.?"
Aaron menatap teduh wajah Raya dengan sorot
mata di penuhi kecemasan. Alea mundur untuk
memberi ruang pada Aaron agar lebih dekat.
Ibu Suri yang duduk di kursi seberang tampak
sedang menekan pergelangan tangan Raya
Aaron terduduk lemas di samping tubuh Raya, perlahan tangannya mengelus lembut rambut
istrinya itu, kemudian mencium keningnya lama.
Setelah itu meraih jemari tangannya, mengecup
nya kuat dengan tatapan tidak lepas dari wajah
Raya yang masih enggan membuka mata itu.
"Kakak sangat ceroboh..! Selama ini kamu telah menempatkan istrimu dalam bahaya besar.!"
Aaron menautkan alisnya mendengar ucapan
Alea. Dia melirik dan menatap tajam wajah adik
sepupunya yang terlihat sangat serius itu.
"Apa maksudmu.? Bicara yang jelas.!"
"Dia hampir saja kehilangan sesuatu yang akan
menjadi hal Paling Berharga Berikutnya bagi
negeri ini.!"
Alea berucap dengan wajah yang terlihat dingin.
Namun tampang muka Ibu Suri jauh lebih dingin
lagi saat ini. Wanita tua itu tampak menunduk
dan menarik nafas panjang berkali-kali. Sedang
Aaron terlihat tidak mengerti, innocent dan
hanya bisa menatap bingung setengah emosi
kearah Alea yang terlihat mengambil kertas
hasil lab dari atas nakas.
"Alea, apa yang ingin kau katakan sebenarnya.?
Jangan bertele-tele, aku tidak pandai mencerna
bahasa silat lidah.!"
Geram Aaron sambil menatap tajam wajah Alea,
mulai kesal dan tidak sabar. Alea menyerahkan
kertas tadi ke tangan Aaron.
"Lihatlah baik-baik, kau hampir saja kehilangan
apa yang kau harapkan selama ini. Bukankah
tujuanmu menikahinya hanya untuk ini.?!"
Aaron melihat isi kertas itu, membaca nya dengan
teliti dan seksama. Matanya tampak melebar dan
kembali membacanya sekali lagi. Jantungnya saat
ini berhenti berdetak, dadanya terasa sesak. Dia
berdiri, kemudian reflek mundur dengan tatapan
tidak percaya pada isi kertas itu. Tangannya kini
gemetar mencengkram kertas itu dengan kuat.
"Alea.. apa ini benar.? Apakah dia..dia sedang.."
"Kenapa kamu tidak peka pada kondisi kakak
ipar, kamu hampir saja menghancurkan semua
impian mu sendiri kak.?"
"Tidak, katakan padaku kalau semua ini bukan
hanya lelucon mu saja.!"
"Kakak..mana mungkin aku bercanda dalam
keadaan seperti ini, Grandma bahkan sudah
bisa mengetahui semua ini sebelum kalian.!"
Seru Alea karena tidak tahan lagi dengan
segala tekanan perasaannya. Beberapa saat
lalu dia harus mati-matian mengerahkan segala
pengetahuannya untuk menyelamatkan dua
nyawa yang paling berharga bagi seorang Aaron
yang bahkan karena dirinya lah kondisi kritis
itu tercipta dan hampir saja berakhir tragis.
Aaron masih menggelengkan kepalanya karena
belum bisa meyakini kenyataan ini. Semua ini
terlalu besar untuknya.
"Alea.. katakan padaku.. apakah saat ini Raya
sedang mengandung.? Dia benar-benar bisa
mengandung benih ku..! Alea.. Grandma.. apa.."
"Iyaa.. dia sedang mengandung anakmu..!!"
Madam Rowena dan Alea berseru serempak
sambil melotot kearah Aaron yang langsung
kehilangan separuh jiwanya. Tubuhnya kini
ambruk, jatuh lemas bersimpuh di atas lantai.
Kepalanya tertunduk dalam, matanya terpejam
kuat.Maharaya..istrinya itu sedang mengandung
benih berharganya.?? Dia benar-benar sanggup
dan di takdirkan untuk memberikan keturunan
padanya ? Apalagi yang dia ragukan dari dirinya sekarang.? Semuanya sudah terbukti.! Tapi
__ADS_1
karena kebodohan dan keangkuhannya dia
hampir saja kehilangan calon anak mereka.
"Untung saja Ibu dan calon bayi kalian sangat
kuat hingga semuanya bisa di lalui dengan baik.
Kakak tahu..dia wanita yang luar biasa !"
Ucap Alea sambil menepuk-nepuk bahu Aaron
yang masih berada pada mode menyesali semua kecerobohan nya. Aaron memejamkan matanya
kuat, mengatur dan mengontrol dirinya yang saat
ini hampir saja meledak. Ingin sekali dia berteriak
dan mengatakan..
Maharaya..you are my mine..!!
"Mulai sekarang jaga dia baik-baik.! Rahasiakan
kehamilan ini dan jangan sampai bocor keluar.
Nyawa mereka akan selalu terancam setiap saat.!"
Desis Ibu Suri sambil kemudian berdiri. Aaron
segera bangkit kemudian tanpa di duga dia
mendekati neneknya itu dan merangkulnya erat.
Bibir madam Rowena tersenyum tipis seraya
menepuk punggung cucunya itu.
"Percayalah.. dia adalah takdirmu..!!"
Bisik Ibu Suri sambil mengusap rambut Aaron
saat rangkulan mereka terlepas. Aaron terhenyak dalam diam mendengar apa yang di ucapkan
oleh neneknya barusan.
"Aku akan pulang untuk istirahat. Tingkatkan
penjagaan mulai malam ini. Dan setelah semua
siap, bawa dia pulang ke Green palace..!"
Ucap Ibu Suri kemudian sambil melangkah keluar ruangan di sambut oleh para bawahan setianya.
Tidak lama Ansel masuk ke dalam ruangan
dengan wajah di selimuti kecemasan dan
langsung menyerbu kearah Raya.
"Hei.. mulai sekarang.. dia hanyalah kakak ipar
mu Ansel.! Kau tidak boleh lagi mengharapkan
hal yang tidak mungkin terjadi.!"
Aaron langsung menghadang Ansel yang ingin
meraih jemari tangan Raya. Ansel menegakkan
badannya, keduanya kini saling berhadapan.
Alea yang sedang mengecek kembali kondisi
Raya hanya menggeleng gerah melihat mereka.
"Aku tidak peduli ancaman mu kak, bagiku cukup
aku yang mencintainya, tidak perlu balasan.!"
"Aku tidak akan mengijinkan laki-laki manapun
menaruh hati padanya.! Dia harus bersih dari
pengaruh pria lain.!"
"Wahh..kakak..kau bukan posesif lagi tapi
itu egois namanya.!"
"Aku tidak peduli, yang aku tahu dia hanyalah
milikku seorang.!"
"Aku mencintainya, aku sudah mengatakannya.
Lalu bagaimana dengan mu.? Apakah kakak
sudah siap mengatakan itu padanya.?"
Aaron terhenyak, cinta..?? Wajahnya tampak
berubah sedikit aneh. Mereka tidak sadar kalau
saat ini Raya sudah kembali pada kesadarannya.
Dia mulai membuka matanya perlahan, namun
kembali terpejam karena kepalanya masih
terasa sedikit pusing.
Aaron memalingkan wajahnya, Ansel berdecak
sinis, dia melipat kedua tangannya di dada.
"Aku tahu kau belum sempurna mencintainya.
Hatimu masih saja mengambang, dan hal itu
membuatku ragu untuk mengubur perasanku
padanya. Kau belum mencintainya ternyata.!"
"Ansel cukup.!! Semua itu tidak perlu di katakan. Sebuah kata cinta tidak akan cukup mewakili dan
menggambarkan bagaimana besar dan dalam
nya perasaanku padanya.!"
Ansel dan Alea terhenyak, tertegun mendengar
kata-kata Aaron yang begitu dalam. Keduanya
menatap Aaron, benar-benar tidak percaya kalau Pangeran Es bisa mengucapkan kata-kata yang
sarat akan makna tersebut.
"Saat ini dia sudah mengandung benih ku yang
sangat berharga, dan itu sudah lebih dari cukup
mewakili perasaan ku padanya. Dia mengandung
benih cintaku..!!"
"Apa..?? dia hamil.??"
Ansel berseru tidak percaya. Aaron menyeringai
tipis, makin lama seringaian nya makin lebar.
Mata Aaron dan Ansel saling menatap dan...
"Kakak... selamat.. akhirnya..!!"
Ansel dan Aaron saling berangkulan kuat, saling
memukul punggung meluapkan segala perasaan
yang kini seolah-olah ingin meledak. Akhirnya
apa yang di tunggu-tunggu itu datang juga.
"Aku akan jadi ayah Ansel..!! Aku akan memiliki
keturunan.!! Dia adalah wanita yang luar biasa.!"
Desis Aaron dengan nada suara yang terdengar
begitu berat karena masih belum mempercayai
semua kebesaran Tuhan ini .
"Iya kak.. kau akan menjadi seorang ayah. Dan
aku akan memiliki ponakan baru yang sangat
berharga.!"
Sahut Ansel penuh haru. Alea tersenyum manis
sambil menggelengkan kepala melihat reaksi
naif dan sedikit norak dari kedua pria itu. Namun senyumnya tiba-tiba tertarik dan terkulum begitu melihat kearah Raya, saat ini wanita yang sedang menjadi fokus pembicaraan itu tampak bengong.. matanya terlihat syok..
"A-Aaron.... aku.. hamil...??"
Deg !
Aaron dan Ansel langsung membeku, segera
melepas rangkulan dan melihat kearah Raya.
Wajah Aaron langsung bereaksi aneh, ada raut
kebahagiaan yang tak terbendung namun dia
tidak mampu mengekspresikannya seperti apa.
Aaron segera mendekat dan merengkuh tubuh
Raya yang mencoba untuk bangkit dari tidurnya,
kemudian mendekapnya, memeluknya erat dan
kuat. Menciumi puncak kepalanya berulangkali.
"Kau tidak boleh banyak bergerak dulu sayang..
Kau harus bedrest, kondisimu belum stabil..!"
Jantung Raya kini bergelombang. Panggilan
sayang yang di ucapkan Aaron barusan terasa
begitu dalam sampai menembus ke dalam
relung hatinya, menyentuh kedalaman jiwanya.
"A-Aaron...apakah yang aku dengar tadi benar.?
A-apa aku sedang mengandung.?"
Lirih Raya dengan suara yang sangat pelan dan
bergetar karena ini semua sangat mengejutkan.
Aaron memejamkan matanya, pelukannya kini
semakin erat hingga sedikit membuat Raya
merasakan sesak .
"Aaron.. tolong jawab aku, apakah benar aku.."
"Itu benar, saat ini kau sedang mengandung
benih berharga ku, kau sedang mengandung
keturunan ku Maharaya.. anak kita berdua.."
Raya ternganga.. kembali syok untuk kedua
kalinya. Aaron melepaskan pelukannya. Mata
mereka kini saling menatap kuat, mencoba
untuk saling meyakinkan diri.
"Kau adalah wanita istimewa yang telah di
takdirkan Tuhan untuk memberikan keturunan
pada keluarga De Enzo Maharaya.."
Cairan bening tiba-tiba saja turun menelusuri
wajah bening Raya yang langsung di sambut
oleh kecupan lembut bibir Aaron..
"Terimakasih sayang atas kabar bahagia ini.
Semua ini tak ternilai harganya.."
Bisik Aaron sambil mengangsurkan bibirnya
menghujani wajah Raya dengan ciuman lembut
dan hangat tanpa terlewat di semua bagian dan berakhir di bibir ranumnya. Keduanya kini saling memagut lembut dan manis, terhanyut dalam kebahagiaan dan keharuan, tidak peduli pada pasangan kembar jomblo yang langsung saja
mendengus gerah lalu melangkah keluar dari
ruangan meninggalkan sepasang suami istri
yang sedang di mabuk asmara itu..
***
__ADS_1