
❤️❤️❤️
Gedung megah Marvello's Corporation..
Waktu meeting direksi sesaat lagi akan di mulai.
Di adakan di ruang pertemuan khusus yang ada
di lantai bawah. Raya baru saja selesai bersiap
dan memastikan segala sesuatunya ready ketika
tiba-tiba saja Aaron masuk ke dalam ruangan
setelah dia selesai mengadakan pembicaraan
tertutup dengan Ansel dan Alex. Entah apa yang mereka bicarakan karena Raya tidak di libatkan.
Mata mereka langsung bersirobos tatap, untuk
sesaat keduanya saling pandang, sangat sulit
untuk saling melepaskan diri. Bayangan segala
kehangatan yang tercipta tadi malam membuat
tubuh mereka memanas seketika. Raya segera memutus pandangan nya kemudian meraih
tablet dari atas meja. Ada apa dengan dirinya ?
Kenapa harus mengingat kejadian tadi malam.!
"Kita harus segera turun, para peserta meeting
sudah menunggu mu di ruangan."
Raya berucap sambil kemudian melangkah
keluar dari meja kerjanya. Namun langkahnya
terhenti ketika Aaron maju mendekat kearahnya dengan tatapan mata mengunci seluruh wajah cantiknya yang terlihat sedikit pucat itu.
"Sebaiknya kau istirahat saja di kamar.!"
Raya menatap jengah wajah Aaron, istirahat ?
Apa maksudnya? ini kan jam kerja.!
"Ini masih jam kerja, aku tidak bisa beristirahat
sebelum waktunya.!"
"Kau bukanlah pegawai biasa, aku memberimu
kebebasan untuk beristirahat kapanpun kau
inginkan.!"
"Tidak Yang Mulya.. terimakasih.!"
Tubuh Raya membeku ketika tiba-tiba Aaron
merengkuh tubuhnya dan memeluknya erat.
Dia tidak mampu bergerak, antara tegang tapi
juga ada perasaan nyaman yang kini mengalir
ke dalam dirinya.
"Maaf.. mungkin aku terlalu ganas tadi malam.
Seharusnya hari ini kau tidak pergi ke kantor.
Tapi aku tidak bisa membiarkan mu tinggal di
rumah tanpa pengawasan ku.!"
Deg !
Jantung Raya terguncang seketika. Laki-laki ini
minta maaf ? Huuhh.. jadi dia menyadari telah menganiaya dirinya semalam. Sampai saat ini
rasa sakit itu masih terasa, tubuhnya kini terasa
luluh lantak. Tapi dia tidak boleh mengeluh,
pria ini tidak akan memberi toleransi.
"Aaron.. kita harus segera turun."
Raya mencoba mengingatkan sambil berusaha
melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.
"Aku akan menemanimu istirahat di kamar.!"
Tubuh Raya langsung menegang saat pelukan
Aaron semakin terasa kuat. Dia mencoba untuk
mendorong tubuh laki-laki itu walau semuanya
percuma saja karena dia tidak bergerak sedikitpun.
"Aaron.. jangan macam-macam..! Kita harus
segera turun sekarang.!"
"Aku lebih suka tinggal di sini.!"
Ini gila, tidak bisa di biarkan. Pria aneh ini bisa
saja melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Tubuh
Raya semakin menegang saat Aaron menghirup dalam-dalam aroma wangi lembut yang menguar
dari rambut dan tubuhnya. Aaron memejamkan matanya. Kalau menuruti nafsu ingin rasanya dia mengurung wanita ini dalam kamar pribadi nya,
menerkamnya kembali, dan mengulangi segala kenikmatan semalam sampai puas, walau bagi
dirinya tidak akan ada kata puas saat menikmati
tubuh wanita ini. Sebab tubuhnya mengandung
candu yang sangat memabukkan.
"Aaron..aku mohon.. lepaskan aku."
"Aku menginginkan mu lagi, sekarang..!"
"Aaron..!! Jangan gila kamu..!!"
Raya memekik kuat dan reflek mengangkat
wajahnya yang sudah terlihat pucat pasi. Mata
mereka saling menatap kuat. Ada sorot penuh
ketakutan di mata sendu nan bening itu yang
mampu membuat jiwa Aaron resah selama ini.
Namun justru ada seringai tipis di bibir Aaron
melihat reaksi paranoid Raya. Tatapannya pun
terlihat semakin dalam dan terfokus di bibir
ranum Raya yang begitu menggoda.
"Kenapa kau sangat ketakutan.? Bukankah
semalam kau juga sangat menikmati nya.?"
Wajah Raya langsung merah padam. Rasanya
ingin sekali dia memutilasi mahkluk tampan
yang ada di hadapannya ini karena tidak tahan
mendengar ucapan nya barusan .
"Sudah lepaskan aku..! Kau manusia yang
sangat tidak tahu malu !"
"Baiklah..! Kita akan mengulanginya nanti
malam di rumah, setiap malam.!"
Raya membulatkan matanya, namun sebelum
dia protes, Aaron sudah menyambar bibirnya.
********** lembut dan hangat dengan gerakan
sedikit liar yang membuat Raya tersentak.
"Kakak.. kita harus segera turun ke bawah..."
Ansel yang baru masuk ke dalam ruangan tampak
membeku di tempat saat melihat pemandangan
menyakitkan yang langsung membuat wajahnya merah padam itu. Raya tampak sedang berusaha melepaskan ciuman Aaron yang semakin lama semakin panas itu. Aaron melepaskan ciuman itu dengan terpaksa. Kini tatapan nya menghunus
kearah Ansel yang langsung memalingkan muka.
"Aku adalah atasanmu.! Kau harus memakai
tata krama saat masuk kesini.!!"
Geram Aaron sambil kemudian melepaskan tubuh
Raya dari pelukannya. Wajah Raya saat ini sudah
sudah tidak terbayang semerah apa. Matanya
bertabrakan dengan mata Ansel yang terlihat
mengamati keadaan dirinya dengan seksama.
Ada sesuatu yang mengiris bathin Ansel begitu
melihat aura yang keluar dari wajah Raya saat ini.
"Maaf Kak.. Kita harus segera turun.!"
Ansel segera memutar badannya kemudian
keluar dari ruangan. Mata Aaron berpaling pada
Raya yang masih menatap kepergian Ansel
dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman.
Wajah Aaron langsung saja berubah dingin.
__ADS_1
Dengan hentakan keras dia menggenggam
tangan Raya kemudian di bawa berjalan keluar
dari ruangan. Raya yang terkejut dengan tindakan
tiba-tiba Aaron berusaha melepaskan pegangan
itu namun Aaron malah semakin memperkuat
pegangan tangannya.
***
Semua peserta meeting hari ini sudah tampak
memasuki ruangan. Mereka terlihat semangat
dan antusias karena akan bertemu dan melihat
Sang Presdir yang hanya bisa di lihatnya pada
saat tertentu saja. Sangat sulit untuk bertemu
apalagi melihat kehadirannya di tempat ini.
Karena selama ini Aaron jarang berada di kantor.
Dia berada di tempat yang berbeda-beda. Dan
hanya datang kalau ada pertemuan penting saja.
Selama ini Ansel lah yang selalu menghandel
semua urusan perusahaan nya.
Tidak lama yang di tunggu-tunggu akhirnya
muncul juga. Aaron datang bersama dengan
Raya dan Ansel serta dua orang sektretaris pria
yang selama ini membantu Ansel mengurus
segala pekerjaan nya. Para staf direksi tersebut langsung membungkuk hormat menyambut kehadiran Aaron.
"Selamat datang Yang Mulya.."
Sambut mereka serempak sambil menundukkan
kepala dalam. Namun sesaat kemudian mata
mereka terpana melihat kehadiran Raya di sisi
Aaron yang terlihat memasang wajah dingin dan
super datar. Yang lebih membuat mereka terkejut adalah apa yang di lakukan oleh Sang Presdir,
karena saat ini Aaron masih menggenggam erat tangan Raya. Aaron menatap mereka dengan datar cenderung dingin. Dia mengibaskan jasnya, lalu
duduk elegan di kursi kebesarannya di hadapan
para bawahannya yang masih mencoba mencuri pandang kearah Raya. Mereka tampak bingung
namun juga sangat terpesona. Raut wajah Aaron
kini semakin dingin dan kaku.
"Ehemm.. apa yang kalian lihat.?"
Ansel mengingatkan orang-orang itu dengan
tampang wajah yang terlihat kesal dan emosi.
Di tambah lagi saat ini dia memang merasakan
tidak nyaman melihat kondisi Raya yang terlihat
sedikit pucat dan lemas. Hatinya benar-benar
panas terbakar api cemburu dan dugaan liar, dia
yakin kakak sepupunya itu telah memaksakan kehendaknya lagi pada Raya. Karena hari ini
aura wajah Aaron tampak berbeda.
Para staf direksi langsung menundukkan kepala
sambil kemudian duduk di kursi masing-masing
yang menghadap meja berbentuk bundar. Tapi
mata mereka masih belum bisa teralihkan dari
keberadaan sosok Raya di samping Aaron.
"Rekan-rekan semua..Perkenalkan..dia adalah
Miss Maharaya..sekretaris pribadi Presdir.."
Ansel kembali berbicara, dia berdiri di sebelah
kiri Aaron, sementara Raya di sebelah kanan.
Orang-orang yang memiliki kedudukan penting
di Marvello's Corporation itu tampak terkejut.
Sektretaris Pribadi.? Apakah ini sebuah lelucon?
Yang mereka tahu, Presdir mereka adalah orang
kegiatan sehari-hari nya. Lalu kenapa sekarang?
Mereka semua tampak saling pandang.
"Sektretaris Pribadi Presdir.?"
Gumam mereka masih dalam mode bingung.
Mata mereka kembali jatuh di sosok Raya.
"Selamat pagi semuanya.."
Raya berbicara sambil menundukkan kepalanya
penuh kesantunan. Aaron melirik sekilas wajah
Raya yang terlihat semakin pucat. Dia menarik
tangan Raya yang tersentak kaget. Mata mereka
saling melihat, sorot mata Raya tampak bingung
campur tegang. Orang-orang itu kembali di buat terkejut dengan interaksi yang terjadi antara
Sang Presdir dengan wanita yang di perkenalkan sebagai sekretaris pribadinya itu.
"Duduklah di sini.!!"
Aaron menunjuk paha nya. Raya membulatkan
mata syok, begitupun dengan yang lain termasuk
Ansel. Mata mereka melongo tak percaya. Belum
sempat Raya mengeluarkan suara tubuhnya kini
sudah di tarik dan terduduk di atas pangkuan
Aaron.
"A-Aaron.. apa-apaan ini.?"
Desis Raya sambil kemudian berusaha bangkit
dari pangkuan Aaron yang sudah melingkarkan
tangan di pinggang nya. Kali ini para staf direksi
itu benar-benar di buat seperti berada di dalam
halusinasi. Wanita ini berani memanggil Sang
Presdir dengan sebutan begitu lancang.!
"Aku tahu kau butuh kenyamanan.!"
Aaron berbicara santai dan enteng. Wajah Raya
saat ini sudah merah seperti kepiting rebus.
Pria ini benar-benar sudah tidak waras ! Saat
ini mereka sedang ada di ruang meeting, di
hadapan para staf pula. Dan mereka bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang terhormat, tapi kenapa laki-laki ini tampaknya mengacuhkan semua itu ?
"Presdir.. kumohon..biarkan aku turun.! Anda
harus segera membuka meeting ini.!"
Akhirnya Raya mencoba berbicara sehalus
mungkin di depan pria aneh itu masih dalam
upayanya melepaskan diri dari dekapan nya.
Wajah Ansel tampak semakin merah, panas.
Sementara yang lain masih melongo. Ini tidak
bisa di percaya sama sekali. Tatapan Aaron
mengunci dan mengamati wajah pucat Raya.
"Andy..ambilkan kursi yang lebih nyaman.!"
Aaron memberi perintah pada salah seorang
sekretaris nya yang langsung membungkuk
kemudian bergerak kearah lain menjalankan
perintah Sang Presdir. Orang-orang hanya bisa
terdiam memperhatikan pergerakan Andy yang
kini sudah kembali membawa satu kursi yang
lebih empuk dan nyaman untuk di duduki. Lalu
dia menyimpan kursi tersebut tepat di samping
Sang Presdir.
"Duduklah.!"
Titah Aaron sambil melirik sekilas kearah kursi
__ADS_1
tersebut. Raya menatap kursi tersebut sedikit ragu, kenapa harus mengambil kursi lain.? Bukankah
semua orang sudah punya tempat duduk sendiri
di kanan kiri posisi Sang Presdir.?
"Baiklah..sepertinya kau lebih nyaman untuk
duduk di pangkuanku.!"
Raya cepat-cepat bangkit dari pangkuan Aaron
kemudian dengan terpaksa duduk di kursi yang
telah di siapkan Andy tadi. Semua orang masih
dalam mode tidak sinkron. Aaron merapihkan
dasi dan jas nya, kemudian kembali bersikap
dingin dan tegas, menatap tajam seluruh staf
direksi, mereka adalah orang-orang kepercayaan
dirinya, dan selalu manut apapun perintahnya.
"Kalian hanya perlu tutup mulut.! kemudian
menurunkan pandangan saat berada di
hadapannya.!"
Tegas Aaron sambil membagikan tatapan
mematikan pada orang-orang itu yang masih
mencoba memahami semua situasi ini.
"Kami mengerti Yang Mulya..!"
Serempak mereka semua sambil menunduk
dengan wajah yang mulai tegang. Siapa wanita
ini sebenarnya ? Kenapa Presdir sampai harus
memberikan peringatan kepada mereka.
"Jangan ada yang berani macam-macam di
belakang ku ! Karena dia adalah istriku.!"
Orang-orang itu mengangkat wajahnya, syok.
Menatap tidak percaya dengan apa yang baru
saja mereka dengar. Wanita ini istri Presdir.?
Wanita ini istrinya Sang Putra Mahkota.?
"Yang Mulya.. maafkan kelancangan kami.."
Mereka semua langsung saja menundukkan
kepala berkali-kali dengan wajah memucat
mengingat kelancangan mereka tadi.
Ansel sendiri tampak terkejut, kenapa Aaron
memutuskan untuk membuka semua ini di
hadapan para staf direksi.? Apa sebenarnya
yang terjadi.? Lain lagi dengan Raya, saat ini
dia menatap tajam wajah Aaron, benar-benar
tidak menduga kalau pria ini akan berbicara
seperti itu. Ada apa dengan pria aneh ini.?
"Kita mulai meeting nya sekarang. !"
Tegas Aaron memecah kekakuan dan kebisuan
suasana hingga semua orang kini kembali pada
kesadaran nya. Tidak lama mereka semua sudah
kembali konsentrasi dan fokus pada pertemuan
yang membawa kabar mengejutkan ini.
***
Hari semakin beranjak sore...
Saat ini Raya sudah ada di perjalanan menuju ke
Grand Marco Palace untuk mendampingi Aaron
dalam acara makan malam khusus di istana. Dua
jam lalu Aaron pergi bersama dengan Ansel untuk menghadiri pertemuan para senator sebagai Putra Mahkota. Aaron memutuskan tidak mengajak Raya
ke pertemuan itu karena melihat kondisinya yang terlihat sangat kelelahan.
Raya merebahkan tubuhnya ke sandaran jok
mobil yang di bawa oleh Alex sambil mencoba
memejamkan matanya yang terasa sangat penat setelah seharian full mengurus semua agenda
bos sekaligus suaminya itu yang super padat.
Griz duduk di depan bersama dengan Alex.
Sementara 2 mobil di depan dan belakang
setia mengawal.
Suasana yang tadi tenang tiba-tiba saja sedikit
aneh saat suara monitor controlling di bagian
depan mobil berbunyi tiada henti.
"Semua siaga satu dalam posisi.!!"
Alex memberi perintah tegas sambil memasang earphone di telinganya. Griz langsung bersiaga
dengan mengokang senjata di tangan.
"Ada apa ini Alex ? apa yang terjadi.?"
Raya yang baru saja membuka mata tampak
terkejut melihat dua orang pengawalnya itu
bersiaga penuh. Selain itu mobil mereka kini
melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ada pengintai Miss.. sebaiknya anda tenang
dan kencangkan sabuk pengaman.!"
"Apa..? Kenapa mereka mengikuti kita ?"
Itu dia yang aneh ! Apa yang mereka inginkan?
Karena Underground Devil tidak ada di sini.
"Sepertinya mereka mengira Yang Mulya ada
di sini.! Anda tenang Miss.. jangan panik.!"
"Apa yang mereka inginkan sebenarnya aaa..!"
Raya menjerit ketika tiba-tiba Alex membelokan
mobilnya dengan tajam plus kecepatan penuh
menyebabkan posisi mobil kini dalam keadaan
miring maksimal.
Duaarr..!!
Satu tembakan berkaliber besar mendarat di
belakang mobil mereka menimbulkan ledakan
dahsyat yang sontak membuat Raya menjerit
sambil menutup telinganya. Naasnya mobil
pengawal yang ada di belakang menjadi korban
ledakan besar tersebut. Mata Raya membulat
sempurna saat satu tembakan kembali melesat
kearah depan mobil mereka membuat Alex
harus menginjak pedal gas maksimum hingga
menyebabkan mobilnya melesat setengah terbang menghindar dari tembakan tersebut yang jatuh mengenai mobil warga sipil lain yang kebetulan
lewat menimbulkan satu ledakan kembali
terdengar. Suara tabrakan dan benturan hebat
serta decitan rem kini mewarnai suasana jalanan
kota yang biasanya aman dan tertib itu.
"Singa putih masuk..! Kita tarik ke jembatan
layang Middle Bross.!"
Alex berbicara sambil kemudian meluncurkan
mobilnya ke arah jembatan layang di pusat kota
yang menjadi salah satu icon dari negara ini.
Namun baru saja mereka masuk ke jembatan
tersebut, tiba-tiba saja ada helikopter penyerang
yang mengikutinya dari atas dan tanpa aba-aba langsung melancarkan tembakan besar yang
jatuh tepat di depan mobil Alex membuat Alex terpaksa mengerem mendadak mobilnya..
***
Happy Reading...
__ADS_1