Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
45. Dia Adalah Istriku


__ADS_3

❤️❤️❤️


Gedung megah Marvello's Corporation..


Waktu meeting direksi sesaat lagi akan di mulai.


Di adakan di ruang pertemuan khusus yang ada


di lantai bawah. Raya baru saja selesai bersiap


dan memastikan segala sesuatunya ready ketika


tiba-tiba saja Aaron masuk ke dalam ruangan


setelah dia selesai mengadakan pembicaraan


tertutup dengan Ansel dan Alex. Entah apa yang mereka bicarakan karena Raya tidak di libatkan.


Mata mereka langsung bersirobos tatap, untuk


sesaat keduanya saling pandang, sangat sulit


untuk saling melepaskan diri. Bayangan segala


kehangatan yang tercipta tadi malam membuat


tubuh mereka memanas seketika. Raya segera memutus pandangan nya kemudian meraih


tablet dari atas meja. Ada apa dengan dirinya ?


Kenapa harus mengingat kejadian tadi malam.!


"Kita harus segera turun, para peserta meeting


sudah menunggu mu di ruangan."


Raya berucap sambil kemudian melangkah


keluar dari meja kerjanya. Namun langkahnya


terhenti ketika Aaron maju mendekat kearahnya dengan tatapan mata mengunci seluruh wajah cantiknya yang terlihat sedikit pucat itu.


"Sebaiknya kau istirahat saja di kamar.!"


Raya menatap jengah wajah Aaron, istirahat ?


Apa maksudnya? ini kan jam kerja.!


"Ini masih jam kerja, aku tidak bisa beristirahat


sebelum waktunya.!"


"Kau bukanlah pegawai biasa, aku memberimu


kebebasan untuk beristirahat kapanpun kau


inginkan.!"


"Tidak Yang Mulya.. terimakasih.!"


Tubuh Raya membeku ketika tiba-tiba Aaron


merengkuh tubuhnya dan memeluknya erat.


Dia tidak mampu bergerak, antara tegang tapi


juga ada perasaan nyaman yang kini mengalir


ke dalam dirinya.


"Maaf.. mungkin aku terlalu ganas tadi malam.


Seharusnya hari ini kau tidak pergi ke kantor.


Tapi aku tidak bisa membiarkan mu tinggal di


rumah tanpa pengawasan ku.!"


Deg !


Jantung Raya terguncang seketika. Laki-laki ini


minta maaf ? Huuhh.. jadi dia menyadari telah menganiaya dirinya semalam. Sampai saat ini


rasa sakit itu masih terasa, tubuhnya kini terasa


luluh lantak. Tapi dia tidak boleh mengeluh,


pria ini tidak akan memberi toleransi.


"Aaron.. kita harus segera turun."


Raya mencoba mengingatkan sambil berusaha


melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.


"Aku akan menemanimu istirahat di kamar.!"


Tubuh Raya langsung menegang saat pelukan


Aaron semakin terasa kuat. Dia mencoba untuk


mendorong tubuh laki-laki itu walau semuanya


percuma saja karena dia tidak bergerak sedikitpun.


"Aaron.. jangan macam-macam..! Kita harus


segera turun sekarang.!"


"Aku lebih suka tinggal di sini.!"


Ini gila, tidak bisa di biarkan. Pria aneh ini bisa


saja melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Tubuh


Raya semakin menegang saat Aaron menghirup dalam-dalam aroma wangi lembut yang menguar


dari rambut dan tubuhnya. Aaron memejamkan matanya. Kalau menuruti nafsu ingin rasanya dia mengurung wanita ini dalam kamar pribadi nya,


menerkamnya kembali, dan mengulangi segala kenikmatan semalam sampai puas, walau bagi


dirinya tidak akan ada kata puas saat menikmati


tubuh wanita ini. Sebab tubuhnya mengandung


candu yang sangat memabukkan.


"Aaron..aku mohon.. lepaskan aku."


"Aku menginginkan mu lagi, sekarang..!"


"Aaron..!! Jangan gila kamu..!!"


Raya memekik kuat dan reflek mengangkat


wajahnya yang sudah terlihat pucat pasi. Mata


mereka saling menatap kuat. Ada sorot penuh


ketakutan di mata sendu nan bening itu yang


mampu membuat jiwa Aaron resah selama ini.


Namun justru ada seringai tipis di bibir Aaron


melihat reaksi paranoid Raya. Tatapannya pun


terlihat semakin dalam dan terfokus di bibir


ranum Raya yang begitu menggoda.


"Kenapa kau sangat ketakutan.? Bukankah


semalam kau juga sangat menikmati nya.?"


Wajah Raya langsung merah padam. Rasanya


ingin sekali dia memutilasi mahkluk tampan


yang ada di hadapannya ini karena tidak tahan


mendengar ucapan nya barusan .


"Sudah lepaskan aku..! Kau manusia yang


sangat tidak tahu malu !"


"Baiklah..! Kita akan mengulanginya nanti


malam di rumah, setiap malam.!"


Raya membulatkan matanya, namun sebelum


dia protes, Aaron sudah menyambar bibirnya.


********** lembut dan hangat dengan gerakan


sedikit liar yang membuat Raya tersentak.


"Kakak.. kita harus segera turun ke bawah..."


Ansel yang baru masuk ke dalam ruangan tampak


membeku di tempat saat melihat pemandangan


menyakitkan yang langsung membuat wajahnya merah padam itu. Raya tampak sedang berusaha melepaskan ciuman Aaron yang semakin lama semakin panas itu. Aaron melepaskan ciuman itu dengan terpaksa. Kini tatapan nya menghunus


kearah Ansel yang langsung memalingkan muka.


"Aku adalah atasanmu.! Kau harus memakai


tata krama saat masuk kesini.!!"


Geram Aaron sambil kemudian melepaskan tubuh


Raya dari pelukannya. Wajah Raya saat ini sudah


sudah tidak terbayang semerah apa. Matanya


bertabrakan dengan mata Ansel yang terlihat


mengamati keadaan dirinya dengan seksama.


Ada sesuatu yang mengiris bathin Ansel begitu


melihat aura yang keluar dari wajah Raya saat ini.


"Maaf Kak.. Kita harus segera turun.!"


Ansel segera memutar badannya kemudian


keluar dari ruangan. Mata Aaron berpaling pada


Raya yang masih menatap kepergian Ansel


dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman.


Wajah Aaron langsung saja berubah dingin.

__ADS_1


Dengan hentakan keras dia menggenggam


tangan Raya kemudian di bawa berjalan keluar


dari ruangan. Raya yang terkejut dengan tindakan


tiba-tiba Aaron berusaha melepaskan pegangan


itu namun Aaron malah semakin memperkuat


pegangan tangannya.


***


Semua peserta meeting hari ini sudah tampak


memasuki ruangan. Mereka terlihat semangat


dan antusias karena akan bertemu dan melihat


Sang Presdir yang hanya bisa di lihatnya pada


saat tertentu saja. Sangat sulit untuk bertemu


apalagi melihat kehadirannya di tempat ini.


Karena selama ini Aaron jarang berada di kantor.


Dia berada di tempat yang berbeda-beda. Dan


hanya datang kalau ada pertemuan penting saja.


Selama ini Ansel lah yang selalu menghandel


semua urusan perusahaan nya.


Tidak lama yang di tunggu-tunggu akhirnya


muncul juga. Aaron datang bersama dengan


Raya dan Ansel serta dua orang sektretaris pria


yang selama ini membantu Ansel mengurus


segala pekerjaan nya. Para staf direksi tersebut langsung membungkuk hormat menyambut kehadiran Aaron.


"Selamat datang Yang Mulya.."


Sambut mereka serempak sambil menundukkan


kepala dalam. Namun sesaat kemudian mata


mereka terpana melihat kehadiran Raya di sisi


Aaron yang terlihat memasang wajah dingin dan


super datar. Yang lebih membuat mereka terkejut adalah apa yang di lakukan oleh Sang Presdir,


karena saat ini Aaron masih menggenggam erat tangan Raya. Aaron menatap mereka dengan datar cenderung dingin. Dia mengibaskan jasnya, lalu


duduk elegan di kursi kebesarannya di hadapan


para bawahannya yang masih mencoba mencuri pandang kearah Raya. Mereka tampak bingung


namun juga sangat terpesona. Raut wajah Aaron


kini semakin dingin dan kaku.


"Ehemm.. apa yang kalian lihat.?"


Ansel mengingatkan orang-orang itu dengan


tampang wajah yang terlihat kesal dan emosi.


Di tambah lagi saat ini dia memang merasakan


tidak nyaman melihat kondisi Raya yang terlihat


sedikit pucat dan lemas. Hatinya benar-benar


panas terbakar api cemburu dan dugaan liar, dia


yakin kakak sepupunya itu telah memaksakan kehendaknya lagi pada Raya. Karena hari ini


aura wajah Aaron tampak berbeda.


Para staf direksi langsung menundukkan kepala


sambil kemudian duduk di kursi masing-masing


yang menghadap meja berbentuk bundar. Tapi


mata mereka masih belum bisa teralihkan dari


keberadaan sosok Raya di samping Aaron.


"Rekan-rekan semua..Perkenalkan..dia adalah


Miss Maharaya..sekretaris pribadi Presdir.."


Ansel kembali berbicara, dia berdiri di sebelah


kiri Aaron, sementara Raya di sebelah kanan.


Orang-orang yang memiliki kedudukan penting


di Marvello's Corporation itu tampak terkejut.


Sektretaris Pribadi.? Apakah ini sebuah lelucon?


Yang mereka tahu, Presdir mereka adalah orang


kegiatan sehari-hari nya. Lalu kenapa sekarang?


Mereka semua tampak saling pandang.


"Sektretaris Pribadi Presdir.?"


Gumam mereka masih dalam mode bingung.


Mata mereka kembali jatuh di sosok Raya.


"Selamat pagi semuanya.."


Raya berbicara sambil menundukkan kepalanya


penuh kesantunan. Aaron melirik sekilas wajah


Raya yang terlihat semakin pucat. Dia menarik


tangan Raya yang tersentak kaget. Mata mereka


saling melihat, sorot mata Raya tampak bingung


campur tegang. Orang-orang itu kembali di buat terkejut dengan interaksi yang terjadi antara


Sang Presdir dengan wanita yang di perkenalkan sebagai sekretaris pribadinya itu.


"Duduklah di sini.!!"


Aaron menunjuk paha nya. Raya membulatkan


mata syok, begitupun dengan yang lain termasuk


Ansel. Mata mereka melongo tak percaya. Belum


sempat Raya mengeluarkan suara tubuhnya kini


sudah di tarik dan terduduk di atas pangkuan


Aaron.


"A-Aaron.. apa-apaan ini.?"


Desis Raya sambil kemudian berusaha bangkit


dari pangkuan Aaron yang sudah melingkarkan


tangan di pinggang nya. Kali ini para staf direksi


itu benar-benar di buat seperti berada di dalam


halusinasi. Wanita ini berani memanggil Sang


Presdir dengan sebutan begitu lancang.!


"Aku tahu kau butuh kenyamanan.!"


Aaron berbicara santai dan enteng. Wajah Raya


saat ini sudah merah seperti kepiting rebus.


Pria ini benar-benar sudah tidak waras ! Saat


ini mereka sedang ada di ruang meeting, di


hadapan para staf pula. Dan mereka bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang terhormat, tapi kenapa laki-laki ini tampaknya mengacuhkan semua itu ?


"Presdir.. kumohon..biarkan aku turun.! Anda


harus segera membuka meeting ini.!"


Akhirnya Raya mencoba berbicara sehalus


mungkin di depan pria aneh itu masih dalam


upayanya melepaskan diri dari dekapan nya.


Wajah Ansel tampak semakin merah, panas.


Sementara yang lain masih melongo. Ini tidak


bisa di percaya sama sekali. Tatapan Aaron


mengunci dan mengamati wajah pucat Raya.


"Andy..ambilkan kursi yang lebih nyaman.!"


Aaron memberi perintah pada salah seorang


sekretaris nya yang langsung membungkuk


kemudian bergerak kearah lain menjalankan


perintah Sang Presdir. Orang-orang hanya bisa


terdiam memperhatikan pergerakan Andy yang


kini sudah kembali membawa satu kursi yang


lebih empuk dan nyaman untuk di duduki. Lalu


dia menyimpan kursi tersebut tepat di samping


Sang Presdir.


"Duduklah.!"


Titah Aaron sambil melirik sekilas kearah kursi

__ADS_1


tersebut. Raya menatap kursi tersebut sedikit ragu, kenapa harus mengambil kursi lain.? Bukankah


semua orang sudah punya tempat duduk sendiri


di kanan kiri posisi Sang Presdir.?


"Baiklah..sepertinya kau lebih nyaman untuk


duduk di pangkuanku.!"


Raya cepat-cepat bangkit dari pangkuan Aaron


kemudian dengan terpaksa duduk di kursi yang


telah di siapkan Andy tadi. Semua orang masih


dalam mode tidak sinkron. Aaron merapihkan


dasi dan jas nya, kemudian kembali bersikap


dingin dan tegas, menatap tajam seluruh staf


direksi, mereka adalah orang-orang kepercayaan


dirinya, dan selalu manut apapun perintahnya.


"Kalian hanya perlu tutup mulut.! kemudian


menurunkan pandangan saat berada di


hadapannya.!"


Tegas Aaron sambil membagikan tatapan


mematikan pada orang-orang itu yang masih


mencoba memahami semua situasi ini.


"Kami mengerti Yang Mulya..!"


Serempak mereka semua sambil menunduk


dengan wajah yang mulai tegang. Siapa wanita


ini sebenarnya ? Kenapa Presdir sampai harus


memberikan peringatan kepada mereka.


"Jangan ada yang berani macam-macam di


belakang ku ! Karena dia adalah istriku.!"


Orang-orang itu mengangkat wajahnya, syok.


Menatap tidak percaya dengan apa yang baru


saja mereka dengar. Wanita ini istri Presdir.?


Wanita ini istrinya Sang Putra Mahkota.?


"Yang Mulya.. maafkan kelancangan kami.."


Mereka semua langsung saja menundukkan


kepala berkali-kali dengan wajah memucat


mengingat kelancangan mereka tadi.


Ansel sendiri tampak terkejut, kenapa Aaron


memutuskan untuk membuka semua ini di


hadapan para staf direksi.? Apa sebenarnya


yang terjadi.? Lain lagi dengan Raya, saat ini


dia menatap tajam wajah Aaron, benar-benar


tidak menduga kalau pria ini akan berbicara


seperti itu. Ada apa dengan pria aneh ini.?


"Kita mulai meeting nya sekarang. !"


Tegas Aaron memecah kekakuan dan kebisuan


suasana hingga semua orang kini kembali pada


kesadaran nya. Tidak lama mereka semua sudah


kembali konsentrasi dan fokus pada pertemuan


yang membawa kabar mengejutkan ini.


***


Hari semakin beranjak sore...


Saat ini Raya sudah ada di perjalanan menuju ke


Grand Marco Palace untuk mendampingi Aaron


dalam acara makan malam khusus di istana. Dua


jam lalu Aaron pergi bersama dengan Ansel untuk menghadiri pertemuan para senator sebagai Putra Mahkota. Aaron memutuskan tidak mengajak Raya


ke pertemuan itu karena melihat kondisinya yang terlihat sangat kelelahan.


Raya merebahkan tubuhnya ke sandaran jok


mobil yang di bawa oleh Alex sambil mencoba


memejamkan matanya yang terasa sangat penat setelah seharian full mengurus semua agenda


bos sekaligus suaminya itu yang super padat.


Griz duduk di depan bersama dengan Alex.


Sementara 2 mobil di depan dan belakang


setia mengawal.


Suasana yang tadi tenang tiba-tiba saja sedikit


aneh saat suara monitor controlling di bagian


depan mobil berbunyi tiada henti.


"Semua siaga satu dalam posisi.!!"


Alex memberi perintah tegas sambil memasang earphone di telinganya. Griz langsung bersiaga


dengan mengokang senjata di tangan.


"Ada apa ini Alex ? apa yang terjadi.?"


Raya yang baru saja membuka mata tampak


terkejut melihat dua orang pengawalnya itu


bersiaga penuh. Selain itu mobil mereka kini


melaju dengan kecepatan tinggi.


"Ada pengintai Miss.. sebaiknya anda tenang


dan kencangkan sabuk pengaman.!"


"Apa..? Kenapa mereka mengikuti kita ?"


Itu dia yang aneh ! Apa yang mereka inginkan?


Karena Underground Devil tidak ada di sini.


"Sepertinya mereka mengira Yang Mulya ada


di sini.! Anda tenang Miss.. jangan panik.!"


"Apa yang mereka inginkan sebenarnya aaa..!"


Raya menjerit ketika tiba-tiba Alex membelokan


mobilnya dengan tajam plus kecepatan penuh


menyebabkan posisi mobil kini dalam keadaan


miring maksimal.


Duaarr..!!


Satu tembakan berkaliber besar mendarat di


belakang mobil mereka menimbulkan ledakan


dahsyat yang sontak membuat Raya menjerit


sambil menutup telinganya. Naasnya mobil


pengawal yang ada di belakang menjadi korban


ledakan besar tersebut. Mata Raya membulat


sempurna saat satu tembakan kembali melesat


kearah depan mobil mereka membuat Alex


harus menginjak pedal gas maksimum hingga


menyebabkan mobilnya melesat setengah terbang menghindar dari tembakan tersebut yang jatuh mengenai mobil warga sipil lain yang kebetulan


lewat menimbulkan satu ledakan kembali


terdengar. Suara tabrakan dan benturan hebat


serta decitan rem kini mewarnai suasana jalanan


kota yang biasanya aman dan tertib itu.


"Singa putih masuk..! Kita tarik ke jembatan


layang Middle Bross.!"


Alex berbicara sambil kemudian meluncurkan


mobilnya ke arah jembatan layang di pusat kota


yang menjadi salah satu icon dari negara ini.


Namun baru saja mereka masuk ke jembatan


tersebut, tiba-tiba saja ada helikopter penyerang


yang mengikutinya dari atas dan tanpa aba-aba langsung melancarkan tembakan besar yang


jatuh tepat di depan mobil Alex membuat Alex terpaksa mengerem mendadak mobilnya..


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2