
❤️❤️❤️
Mata Aaron menatap tajam ke salah satu sudut ruangan yang tersembunyi. Ada kelebatan
bayangan aneh yang tertangkap dari tempat itu.
Rahang nya mengeras seketika, ternyata ada
penyusup masuk ke dalam acara. Ini adalah kejanggalan yang sama dengan yang terjadi
tempo hari di dalam kapal. Dan sampai saat ini
dia bersama team nya masih belum bisa
memastikan siapa manusia yang memiliki
kemampuan di luar nalar tersebut walaupun
kecurigaan itu sudah mengarah pada seseorang,
tapi untuk itu perlu bukti lebih lanjut.
"Apa yang di inginkan orang itu. Apa dia ingin
mengacaukan agenda penting ku.?"
Geram Aaron dengan tinju yang terkepal kuat
membuat Raya meringis dan menautkan alis
saat menyadari pelukan Aaron semakin kuat.
"Apa yang kau katakan.? Adakah seseorang
yang melakukan konspirasi untuk hal ini.?
Raya melepaskan diri dari pelukan Aaron dan
kini mereka saling menatap kuat.
"Mereka sengaja melakukan semua ini untuk
memberikan peringatan padaku.!"
Wajah Raya mulai tegang dan memucat. Dia
menggeleng kuat sambil mencengkeram
pinggiran jas yang di pakai Aaron.
"Apakah mereka orang-orang yang sama
dengan yang kemarin.? Apa yang mereka
inginkan sebenarnya..?"
"Tetap tenang, dan tetaplah di dekatku.!"
Desis Aaron sambil kembali menggenggam
erat tangan Raya yang terlihat tegang. Dia
memepetkan dirinya ke lengan Aaron.
Lampu tiba-tiba saja kembali menyala hingga
keadaan mulai normal dan kondusif. Namun
mata semua orang kini menatap bengong pada interaksi intim yang terjadi antara Sang Pangeran bersama wanita yang datang bersamanya karena mereka berdua tampak begitu dekat, bahkan
terlihat sekali kalau Sang Pangeran berusaha melindungi wanita itu. Sebenarnya siapa wanita
yang bersama dengan Putra Mahkota ini? Ansel
tampak menatap kesal semua wartawan yang
masih terpana kearah Aaron dan Raya.
"Apa yang kalian lihat. Bereskan semuanya.!
Anggap semua ini tidak pernah terjadi.!"
Ansel membentak membuat semua orang
terlonjak kaget melihat reaksi keras yang di
perlihatkan oleh asisten Putra Mahkota itu.
Semua wartawan bergerak sambil menunduk
melaksanakan perintah Ansel.
"Yang Mulya.. sebaiknya anda segera masuk."
Kepala pengawal segera mengingatkan Aaron
untuk memasuki ruangan agar keadaan tidak
semakin bertambah kacau.
"Mereka adalah orang yang sama dengan yang
di kapal. Telusuri dengan senyap.!"
"Baik Yang Mulya.."
Kepala pengawal membungkuk dalam. Aaron
akhirnya mulai melangkah menyusuri karpet
merah tanpa melepas genggaman tangannya
di lengan Raya yang terpaksa mengikuti tarikan
tangan Aaron di kawal oleh rombongan nya.
Para wartawan kembali hanya bisa bengong
tanpa sempat merekam atau mewawancara
Sang Pangeran karena terlalu sibuk menangani
kejadian tak terduga barusan. Ini adalah sesuatu
yang aneh dan tidak masuk akal. Karena kamera mereka pun kini mengalami sedikit masalah
hingga tidak bisa lagi di gunakan.
Sementara itu di dalam ruangan...
Susana di dalam ruangan kini sudah sangat
meriah. Tidak terganggu dengan insiden yang
terjadi di luar. Semua tamu undangan sudah
hadir dan menempati kursi masing-masing
yang sudah di atur sedemikian rupa sesuai
dengan golongan dan komunitas personalnya.
Begitu Aaron muncul di pintu masuk utama,
semua tamu serentak berdiri dari tempat
duduknya masing-masing, kemudian bersiap
menyambut kehadiran Sang Putra Mahkota.
Untuk sesaat Aaron tampak berdiri di pintu,
menatap lurus kearah depan dengan wajah
datar dan tenang. Raya yang berdiri di sebelah
nya tampak terdiam dengan perasaan sedikit
tegang melihat bagaimana meriahnya suasana.
Dia segera melepaskan genggaman tangan
Aaron yang masih setia memegang nya.
"Selamat malam Yang Mulya..selamat datang."
Sapa beberapa pejabat dan pengusaha yang
datang menghampiri dan menyambut kedatangan Aaron sambil membungkuk setengah badan.
"Selamat malam.. tidak perlu terlalu formal.!"
Sahut Aaron dengan suara tegasnya membuat
para tamu itu tersipu malu sambil menunduk.
"Silahkan Yang Mulya.."
Mereka kembali membungkuk beberapa kali.
Ekspresi Aaron masih tetap sama, datar dan
dingin. Namun tetap saja, gestur tubuh tidak
bisa di bohongi, dia terlihat begitu gagah, tegas
dan tenang. Elegan serta tidak terbantahkan.
Aaron kembali melangkah tenang di sambut
sapaan serempak dari para tamu yang ada di
gedung itu yang terlewati olehnya.
Semua mata tampak begitu terkesima saat
melihat nya. Ini adalah malam yang luar biasa
karena bisa melihat secara langsung sosok
central itu yang ternyata di luar ekspektasi. Ketampanan nya benar-benar di luar dugaan.
Aslinya jauh lebih gagah dari gambar yang
di lihat di televisi.
Raya hanya bisa menarik napas dalam-dalam
melihat semua penghormatan yang tiada henti
terhadap pria yang notabenenya adalah suaminya
itu. Tuhan.. apa ini ? setinggi inikah posisi Aaron
di mata orang lain.? Sementara di matanya, dia
tidak lebih dari seorang penjahat kejam.!
Aaron di arahkan untuk duduk di kursi utama
__ADS_1
bersama dengan sederet tamu penting lainnya termasuk 2 orang pangeran tampan dari negeri sahabat. Sementara saat ini Catharina tampak
sedang menyapa dan berbincang hangat dengan
beberapa tokoh penting dari dunia entertainment.
Raya berbicara serius dengan Ansel soal agenda penting Aaron saat ini. Dia berdiri sedikit jauh
dari keberadaan Aaron yang kini sudah tiba di
tempat duduknya. Dua Pangeran dari negeri
sahabat menyambut Aaron dengan hangat,
mereka bertiga berjabat tangan, tampak akrab.
"Apa kabar Prince Marvell.?"
Sapa salah seorang Pangeran yang memiliki
wajah khas, sangat gentle dan maskulin.
"Seperti yang kalian lihat prince Elliot, Prince
Desmond.!"
"Selamat Aaron.. akhirnya kau mengambil
keputusan untuk berdiri di posisi ini .!"
Ujar salah seorang pangeran tampan dengan
garis wajah yang sangat tegas dan memikat.
Para Pangeran itu terlihat sudah sangat akrab
dengan Aaron dan hal itu membuat semua orang tampak terkejut, tidak menduganya sama sekali.
"Mau tidak mau aku tetap harus mengambil
tanggung jawab ini.! Cepat atau lambat !"
"Apa karena putri bangsawan itu akhirnya
kau kembali ke dunia nyata ini.?"
Pangeran yang pertama mengedipkan mata
kearah keberadaan Catharina. Aaron melirik
gadis itu dengan tatapan datarnya.
"Dia salah satu yang tidak bisa di elakkan.!"
jawab Aaron sambil memasukkan kedua tangan
ke dalam saku celananya. Kedua Pangeran itu tersenyum penuh arti.
"Dia wanita yang cukup cerdas dan menarik.
Kau beruntung mendapatkan nya.!"
Aaron terdiam, tapi sudut matanya mencari
keberadaan seseorang yang tiba-tiba saja
menghilang dari sisinya.
"Sudah 3 bulan kita tidak berkomunikasi.!
Bagaimana kabar team mu ?"
Pangeran yang satu lagi kini berbicara serius.
Aaron menatap mereka berdua dengan sorot
mata penuh intimidasi dan peringatan.
"Kita berdiri di sini dengan peran yang berbeda.!
Jadi bicaralah sesuai posisi sekarang.!"
Desis Aaron dengan tampang dinginnya yang
membuat kedua Pangeran itu menyeringai tipis.
"All right..! Kita bicarakan ini lain kali.!"
Elak sang pangeran sambil tersenyum miring
dan menepuk halus bahu Aaron.
"Aku datang kesini karena ada model yang
jadi incaran ku hadir di acara ini.!"
"Yes..aku juga punya janji kencan dengan
salah satu model yang akan tampil malam ini."
Aaron kembali terdiam, sesungguhnya dia juga
ada jadwal kencan dengan salah satu model
nomor satu dunia malam ini. Wanita itu adalah
Miss xx.. yang berasal dari negeri para dewa.
Dan jadwal ini sudah menjadi agenda bulanan
baginya untuk memenuhi kebutuhan biologis
Raya datang mendekat kearah Aaron setelah
dia selesai berbicara dengan Ansel di sambut
tatapan dingin Aaron yang langsung membuat
tubuh Raya panas dingin. Mata dua Pangeran
tadi kini jatuh seluruhnya pada sosok Raya yang
berdiri di dekat Aaron. Tatapan mereka berubah seketika, dan Aaron tahu pasti karakter ke dua
pangeran itu. Dia menangkap tatapan tertarik
dua rekan nya itu terhadap Raya yang mencoba
untuk bersikap sedatar mungkin dan tidak terlalu
peduli pada tatapan mesum para Pangeran itu.
"Hallo beautiful lady.."
Sapa salah seorang Pangeran pada Raya yang
langsung mendapat tatapan tajam dari Aaron.
Pria itu melirik sekilas kearah Raya yang terlihat
menundukan kepala sedikit kearah mereka.
"Jangan coba-coba mencari masalah dengan
nya, dia adalah sekretaris pribadi ku.!"
"What, your private secretary.?"
Mereka berdua berseru tertahan membuat
Aaron kembali menatap tajam keduanya yang
langsung meringis dan mengangkat bahu.
Mereka berdua kini menatap lekat wajah cantik
Raya yang terlihat begitu menarik membuat
naluri lelaki mereka bangkit seketika.
"Raya..mereka adalah teman-teman dekat ku.
Prince Desmon dan Prince Elliot.!"
Aaron memperkenalkan kedua teman nya itu
pada Raya yang terlihat maju ke hadapan
mereka lalu membungkuk hormat dengan
gestur tubuh yang sangat halus dan santun.
"Selamat malam Yang Mulya. Saya Maharaya,
sekertaris pribadinya Prince Marvell."
Raya berucap tenang dan lugas, tidak lupa
menyelipkan senyum lembut yang membuat
mata kedua pangeran itu mengerjap hebat.
Dalam sekali pandang mereka sudah bisa
melihat kalau wanita ini sangatlah istimewa.
"Hello Miss Maharaya.. senang mengenalmu."
Prince Desmon mengulurkan tangan nya tapi
segera di tepis oleh Aaron membuat mata
pangeran itu memutar jengah. Mereka sudah
bisa menebak kalau wanita ini punya tempat
khusus di sisi Sang ketua mafia yang kini
sedang berubah wujud menjadi seorang
Putra Mahkota itu.
"Selamat malam Yang Mulya.."
Ada suara yang sangat lembut di antara mereka
yang membuyarkan konsentrasi para pangeran
itu. Mereka semua melirik kearah suara, sosok
cantik Lady Catharina sudah berdiri di hadapan
Aaron, menundukkan kepala sedikit dengan
gestur tubuh yang sangat anggun, mereka
berdua saling menatap. Senyum semanis
madu kini terbit dari bibir indah Catharina.
__ADS_1
"Selamat malam Lady.."
Aaron menyahut dengan suara yang sangat
khas, berat dan seksi membuat jantung gadis
itu kian berdebar kencang tidak terkendali.
Walau sudah seharian bersama dengan pria
ini tapi kerinduannya malah semakin menjadi.
Kalau boleh ingin rasanya dia tinggal bersama
dengannya agar segala dahaganya terpuaskan.
Lucas yang datang bersama dengan Catharina
tampak menatap dalam wajah cantik Raya.
"Duke Lucas.. apa kabar.?"
Prince Elliot menyapa Lucas dengan tatapan
tajam dan sikap yang sedikit congkak.
"Ohhh.. selamat malam Prince Elliot. Saya
baik-baik saja malam ini. Apalagi di sini ada
seseorang yang sangat spesial.!"
Sambut Lucas dengan gaya yang tenang dan
tampang datar nya sembari menundukkan
kepala sedikit di hadapan Elliot dan Aaron yang
kini menatap seksama keseluruhan fisik dari
laki-laki yang penuh dengan daya pikat itu.
"Selamat malam calon istriku.."
Raya terkejut, menatap cepat kearah Lucas
dengan wajah yang langsung merah padam.
Semua orang juga terkejut, terlebih bagi Aaron
yang langsung menatap tajam Lucas, namun
dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak
terprovokasi. Hanya saja aura wajahnya kini
mulai menyebarkan hawa dingin.
"Tuan Lucas.. tolong jaga ucapan anda."
Raya menatap tajam wajah Lucas yang kini maju mendekat kearahnya. Matanya membulat, dia
reflek mundur saat mendapati wajah tampan
menawan Lucas kini berada di dekat wajah nya
dengan senyum sempurna terkembang di bibir seksinya.
"Aku tidak pernah main-main dengan apa
yang aku ucapkan Nona sekretaris."
"Tuan Lucas tolong jaga tata krama anda. Dia
adalah bawahan ku. !"
Aaron berucap tegas dengan tatapan penuh
intimidasi. Lucas tersenyum sambil melirik
kearah Aaron lalu membungkuk hormat.
"Maafkan kelancangan saya Yang Mulya.Tapi
saya tidak pernah main-main dengan apa
yang saya inginkan.!"
Sahut Lucas, mata mereka bertemu, ada kilat
aneh yang berusaha mengintimidasi Aaron.
Tapi lelaki perkasa itu bergeming, wajahnya
kini sudah sedingin kutub utara. Rahang Aaron
mengeras, dia sudah tidak bisa lagi memasang
wajah datar di hadapan pria ini yang jelas-jelas
menginginkan istrinya itu.
"Yang Mulya.. Kakak.. sebaiknya kita duduk.
Acara sudah di mulai."
Catharina berusaha mendinginkan suasana.
Aaron mendengus, dia segera mengibaskan
jas nya kemudian duduk di kursinya dengan
tenang dan gaya yang sangat elegan. Kaki di
tumpang, dengan satu sikut bertumpu pada
pinggiran sofa dan telapak tangan di dagu.
Dia masih berusaha mengontrol emosi nya.
Catharina duduk di sisi sebelah kanan Aaron
sedang dua pangeran teman Aaron di sebelah
kirinya. Kedua Pangeran itu masih saja mencoba
mencuri lihat kearah Raya dan Aaron. Mereka
tahu sesuatu yang aneh terjadi di sini dengan
hubungan bos dan sekretaris itu melihat reaksi
berlebih yang di perlihatkan oleh Aaron tadi.
Raya dan Ansel yang baru datang kini duduk
di belakang Aaron. Dia sungguh risih, banyak
mata yang kini mengarah padanya, terlebih
Lucas yang duduk di deretan kursi bangsawan
dan tepat berada di kanan hingga bisa melihat
dirinya dengan leluasa.
Acara kini sudah di mulai, dua pembawa acara
sudah mulai berbicara bla-bla-bla..di panggung
megah dan luas. Dan kini acara sudah berlanjut
pada peragaan busana dari model-model kelas
dunia yang membawakan pakaian rancangan
desainer kelas dunia pula. Para model dengan
tubuh dan wajah sempurna saat ini sudah naik
keatas pentas, berlenggak-lenggok gemulai dan
menggoda di atas panggung dengan menebar
sejuta pesona kepada para tamu yang hadir.
Namun hampir semua mata para model itu
terfokus pada keberadaan satu bintang paling
terang yang duduk di kursi utama. Senyum
indah merekah mereka lemparkan ke arah
Aaron yang setia memasang wajah datar nya.
Namun pandangan nya tampak lekat dan kuat
pada semua keindahan yang tersuguh di atas
panggung dimana tubuh-tubuh indah itu kini
mengirimkan signal ingin di sentuh dan di pilih
oleh Sang Pangeran sebagai teman kencan hot
semalam nya, itu adalah dambaan dan impian
semua model-model cantik dan seksi itu.
Namun dari sekian banyak model yang pentas
kini ada satu yang paling menyilaukan di antara
yang lain, dia benar-benar cantik dan memukau.
Para hadirin bertepuk tangan meriah begitu
melihat kemunculan nya, dia berjalan dengan
anggun dan gemulai dengan gestur tubuh yang
membuat semua darah para pria mendidih
seketika.
Mata indah model itu saling mengunci dengan
mata Aaron. Setelah bagian nya selesai model
itu tiba-tiba turun dari atas pentas di ikuti oleh
dua asisten nya. Dia berjalan anggun kearah keberadaan Aaron dengan senyum yang
senantiasa terkembang indah..
***
Happy Reading....
__ADS_1