
***
Tiba di kamar pribadi mereka, Aaron langsung membawa Raya masuk kedalam kamar mandi
dan segera melepas pakaian yang menempel
di tubuh mereka. Untuk sejenak dia berjongkok
di hadapan Raya, menciumi perut buncit istrinya
itu penuh dengan kelembutan.
"Aaron.. aku merasa tidak nyaman. Sepertinya
ada yang mengamati villa ini dari kejauhan."
Aaron mengakhiri kegiatannya, dia mengangkat
tubuh polos Raya di bawa masuk ke dalam bak
whirpool untuk berendam.
"Jangan khawatir..Benjamin dan Roman sedang menyisir seluruh area pulau untuk memastikan semuanya aman."
Desis Aaron sambil kemudian mulai mengusap
permukaan kulit tubuh istrinya itu memakai
busa halus untuk membersihkannya.
"Tapi aku melihat ini sedikit berbeda. Adakah
sesuatu yang tidak kau ketahui tentang tempat
ini.? Mungkin Roman tidak sempat mengatakan
semuanya."
Aaron terdiam, mempererat pelukannya dari
belakang sambil menciumi punggung polos
Raya yang menguarkan aroma wangi lembut
yang sangat khas dan sangat di sukai Aaron
hingga membuat tubuh bagian bawahnya
langsung meronta.
"Setahuku semuanya aman-aman saja. Kalau
pun ada yang tidak beres, aku rasa itu bukan
masalah besar untuk kita."
Keduanya terdiam, Raya merebahkan kepalanya
di atas dada bidang Aaron, merasakan segala
kenyamanan dari belaian lembut tangan suami
nya itu yang bergerak menyusuri seluruh bagian
tubuhnya dengan sentuhan yang sangat halus.
"Sayang.. ada sesuatu yang ingin aku katakan
padamu. Dan aku harap, kamu menanggapinya
dengan tenang. Aku ingin kau mengetahui hal
ini agar bisa menyiapkan dirimu."
Aaron berbisik di telinga Raya sambil mencium
lembut tengkuk lehernya, tangannya kini berada
di kedua bukit kembar istrinya itu, meremasnya
kuat dan intens membuat Raya memejamkan
mata di tengah rasa penasaran.
"Ada apa sayang.? Apakah ini sesuatu yang
sangat penting untukku.?"
"Tentu saja, ini adalah sesuatu yang sangat
penting bagimu karena berhubungan dengan
saudari sepupumu."
"Saudari sepupu ku.? Apa kau mengenalnya.?"
Raya melebarkan matanya. Aaron terdiam. Raya membalikan badannya. Kini mereka sudah saling berhadapan, mata indah Raya menatap lekat
wajah tampan Aaron yang bereaksi sedikit aneh,
tenang namun ada sesuatu yang tidak terbaca.
"Aku mengetahuinya setelah menelusuri seluruh
jati diri keluargamu."
"Katakan padaku siapa dia.? Aku memang tidak
sempat berbicara banyak dengan kakek."
"Kau mengenalnya juga, walau mungkin hanya
sebatas mengenal namanya saja.! Dia adalah
orang yang selama ini secara tidak langsung
selalu di hubungkan dengan ku.!"
Wajah Raya berubah aneh, sedikit memucat.
Mata mereka semakin terpaut dalam. Raya
mencoba mencerna maksud perkataan Aaron.
Tidak, itu tidak mungkin, itu rasanya mustahil.
"Tidak, aku rasa itu tidak mungkin. Kau pasti
salah sayang, dia tidak mungkin saudariku kan.?"
"Dia adalah saudari mu. Kalian berdua adalah
cucu dari Wiratama Kertaradjasa.! Tuhan telah
mengatur pertemuan kita dengan begitu indah."
Raya menggelengkan kepalanya kuat. Tidak, ini
semua tidak benar. Tuhan.. apakah benar mereka
berdua bersaudara, dan Aaron..?? Secara tidak
sengaja dia terhubung dengan mereka berdua.
"Kalian berdua sama-sama istimewa. Tapi kau
adalah wanita pilihan yang telah di persiapkan
Tuhan untuk mendampingi ku sayang.."
Desis Aaron sambil kemudian memagut bibir
ranum Raya yang masih berada dalam mode
tidak percaya dan pikiran yang tidak sinkron.
***
Malam nya usai sholat magrib mereka semua
berkumpul di ruang makan yang ada di bagian
belakangan Villa menghadap langsung ke laut
lepas yang menampakkan panorama alam yang
begitu indah dan memukau. Debur ombak putih
datang bergulung-gulung dan pecah di tengah
membentuk pemandangan yang sangat unik.
"Apa Alluna sudah tidur.?"
Raya bertanya begitu dia dan Aaron tiba di ruang makan kemudian duduk di kursi yang sudah di
siapkan oleh para pelayan. Jessica langsung
memasang serbet di atas pangkuan Raya.
"Sudah kakak ipar.. Sepertinya dia kelelahan."
Sahut Arabella. Raya tersenyum, Alluna memang
anak yang sangat aktif, dia juga pemberani dan
tidak cengeng.
"Dia anak yang hebat. Jangan pernah lengah
dalam memperhatikan setiap pergerakannya."
"Tentu Kakak ipar. Kalau tidak di perhatikan,
dia bisa membuat masalah dalam sekejap."
Raya kembali tersenyum. Aaron mengambilkan
jus lalu di berikan pada Raya yang langsung
menerima dan menatap lembut wajah Aaron.
"Terimakasih sayang.. tidak perlu repot-repot."
"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan selain
yang ada di meja ini.?"
Raya memperhatikan hidangan yang ada di atas
meja. Dia menggeleng pelan dan yakin. Malam
ini dia memang kurang bersemangat. Perasaan
nya juga sedikit tidak nyaman.
"Tidak ada, aku hanya ingin makan buah saja.
Aku tidak selera makan makanan berat."
"Tapi tubuhmu perlu asupan makanan bergizi
sayang. Kau harus makan nasi atau roti."
"Aku tidak mau sayang. Aku akan minum susu
saja. Semuanya tidak akan masuk kalau di
paksakan."
Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang
malam ini mengenakkan setelan manis warna
pastel dengan hijab simpel yang sangat menarik
di tambah polesan lipstik tipis di bibir indahnya.
Dia tampak begitu menggemaskan.
"Baiklah.. jangan lupa di minum susu nya."
Tukas Aaron sambil kemudian memberi isyarat
pada Brenda untuk menyiapkan apa yang di
inginkan oleh istrinya itu. Brenda bergerak maju
mempersiapkan semuanya. Alea dan Rayen
baru saja muncul ke ruangan itu, langsung
bergabung dengan yang lain.
Dalam keadaan itu tiba-tiba saja Alex dan dua
orang bawahannya masuk ke dalam ruangan
dengan wajah yang terlihat sedikit aneh dan
tampak terburu-buru. Namun mereka tidak
berani untuk mendekat.
"Alex, apa yang terjadi.? Mana Benjamin dan
Roman.?"
Aaron bertanya masih pada posisi duduk di
kursinya, tapi wajahnya kini berubah dingin.
"M-mohon maaf Yang Mulya..ada pengintai
yang masuk ke dalam kawasan pulau. Kita
harus segera mengantisipasi nya."
Semua orang tampak terkejut. Raut wajah Aaron langsung saja berubah keras. Dia menjatuhkan
sendok dengan kencang membuat semua orang
kini membeku . Arthur, Rayen dan dua Pangeran
sahabat Aaron tampak menyudahi makan malam mereka. Raya menarik nafas berat, dia mengusap lembut punggung tangan Aaron sambil menatap
tenang wajah kelam suaminya itu.
"Kau harus tenang sayang. Coba di cek dulu apa
sebenarnya yang terjadi."
Lirih Raya sambil mengusap bahu Aaron yang
balas menatap Raya berusaha untuk tenang
__ADS_1
dan mengontrol emosi nya.
"Maafkan aku..ini benar-benar di luar rencana."
"Tidak apa, terkadang apa yang di rencanakan
tidak selalu berjalan sesuai dengan yang di
harapkan. Itu adalah sesuatu hal yang wajar."
"Lanjutkan makan malam kalian. Aku tidak akan
lama.! Setelah selesai, masuk ke dalam kamar masing-masing dan jangan keluar sebelum kita kembali.!"
Aaron berujar sambil kemudian mencium pelipis
Raya sedikit terburu-buru, setelah itu dia berlalu
keluar ruangan di ikuti oleh semua pria dan hanya
menyisakan para pengawal pribadi saja.
Raya menatap kepergian Aaron dengan perasaan
yang semakin tidak nyaman.
***
Sementara itu Aaron dan semua bawahannya
saat ini sedang berada di ruang kontrol yang ada
di bagian samping vila. Bangunan ini merupakan
pos jaga untuk memindai keamanan di sekitar
area pulau pribadi. Dia memukul mesin kontrol
yang tiba-tiba saja tidak berfungsi.
"Apa yang terjadi.? Apa kalian tidak mengecek
dulu tempat ini sebelum kita kesini.?"
Geram Aaron dengan wajah yang terlihat keras.
Matanya menatap tajam keluar ruangan hingga
menembus dinding kaca yang terhubung ke
gerbang depan bangunan villa megah itu.
"Maaf Yang Mulya..kami baru saja mendapat
laporan detailnya dari Roman dan Ben."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tempat
ini? Adakah sesuatu yang kita lewatkan ?"
Dengan tegang Alex maju mendekat kemudian mengulurkan tablet tipis kehadapan Aaron yang langsung mengecek dan mengamati nya. Alisnya tampak bertaut dalam dengan raut wajah yang
terlihat semakin tidak sedap di pandang.
"Apa yang terjadi pada orang-orang ini.?
Kenapa mereka bisa keluar dari wilayahnya.?"
"Ada eksploitasi besar-besaran yang di lakukan
oleh para pengembang dan pembeli lahan yang
di tempati oleh mereka Yang Mulya. Sepertinya
mereka tidak terima dan melakukan serangan
balik terhadap para pendatang."
Wajah Aaron tampak mengeras, dia mengamati
kembali gambar-gambar itu. Orang-orang yang
ada di layar itu tampak berpenampilan sedikit
aneh dan berbeda dengan orang pada umumnya.
"Apa mereka juga melakukan gangguan pada
para penghuni pulau lain di sekitar sini.?"
"Sepertinya begitu Yang Mulya.. Sudah 6 bulan
terakhir ini tidak ada lagi yang berani datang
ke wilayah ini."
"Kenapa kalian bisa ceroboh.? Apa selama ini
Roman tidak pernah melaporkan masalah ini
padamu.?"
"Selama ini para pengganggu itu tidak pernah
berani datang ke wilayah ini Yang Mulya."
"Hubungi Hiu putih, suruh merapat.! Kita tidak
punya persenjataan apapun.!!"
"M-mohon maaf Yang Mulya, pasukan sedang
berada di luar jangkauan. Butuh waktu cukup
lama untuk bisa mencapai tempat ini."
Rahang Aaron semakin mengeras. Sungguh
sial.! Niat liburan ke tempat ini malah disuguhi
kondisi keamanan yang kurang mengenakkan
begini. Dia tidak membawa pasukan bayangan
nya, hanya beberapa pengawal pribadi pilihan
saja.Dan yang lebih parahnya lagi mereka
semua tidak membawa persenjataan lengkap.
"Aku dengar orang-orang dari pulau terpencil
bisa melakukan hal di luar kewajaran. Mereka
juga tidak bisa berpikir logis.!"
Pangeran Desmon ikut berbicara. Semua orang
tampak terdiam. Dalam keadaan itu tiba-tiba saja
Aaron melakukan gerakan siaga, mengeluarkan
dua senjata dari balik pinggangnya saat matanya menangkap gerakan cepat dan tak terlihat yang
melintas di halaman depan villa.
"Shit ! Mereka bergerak lebih cepat dari yang
aku perkirakan. Berpencar, amankan villa.!"
kontrol menuju bangunan villa. Semua orang
berhamburan, bergerak cepat mengikuti Aaron
sambil mengokang senjata di tangan mereka.
Namun apa yang terjadi kemudian sungguh di
luar dugaan. Seluruh villa kini sudah di kepung
oleh orang-orang yang memilki bentuk fisik
sedikit aneh. Bertubuh setengah bungkuk dan
berwajah menyeramkan karena muka mereka
di penuhi goresan.Tubuh mereka juga tampak
di penuhi tato mengerikan dengan kepala yang
tertutup hiasan kulit binatang.
"Damn.! Manusia macam apa mereka ini.!"
Desis Aaron yang terkejut sesaat begitu melihat
penampakkan orang-orang aneh itu. Mata mereka
tampak menyala dengan sorot yang menakutkan.
Manusia-manusia aneh itu berbicara meracau
dalam bahasa yang tidak di mengerti sambil
menjilati senjata tajam mereka hingga membuat
Aaron dan anak buahnya sedikit bergidik.
"Serang.. lumpuhkan mereka..!!"
Teriak Aaron memberi perintah sambil maju
menyerang orang-orang itu yang bergerak cepat
dan buas. Dan akhirnya pertempuran pun tidak
bisa di hindari. Sialnya kini berdatangan makhluk serupa lainnya dengan membawa senjata yang beragam. Namun tidak lama dari dalam villa,
para pengawal pribadi berdatangan, langsung
membantu melawan orang-orang itu.
"Alex.. bereskan mereka aku akan masuk."
Titah Aaron sambil kemudian berlari cepat ke
dalam bangunan villa bersama dengan Arthur
dan Rayen. Dia mencemaskan keadaan Raya
dan dua adiknya serta keponakannya.
Namun belum sempat dia mencapai pintu, dari
arah lain tiba-tiba saja muncul beberapa orang
aneh lainnya yang di pimpin oleh seseorang
yang memiliki fisik lebih seram dari yang lain.
Mereka langsung meracau bersamaan dengan
gema yang sangat kuat. Dan hal aneh pun kini
terjadi, tubuh Aaron dan semua bawahannya
tiba-tiba terpental, lalu terlempar sadis dan
terjatuh ke tengah halaman. Senjata di tangan
mereka terlempar entah kemana.
Belum sempat mereka bangkit, sang pimpinan
manusia aneh itu, yang paling besar dan paling menyeramkan tiba-tiba mengibaskan tangannya
ke udara, menyebarkan asap putih yang langsung membuat Aaron dan anak buahnya batuk-batuk
parah lalu ambruk ke tanah. Aaron menutup
mulut dan hidungnya dengan mata yang terlihat
melebar kuat.
"Mereka meracuni kita. Atur nafas kalian.!"
Aaron berteriak mengingatkan sambil mengatur
nafas dan mencoba bangkit dengan memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Namun tubuh
nya tiba-tiba goyah, dia mulai kehilangan tenaga
dan daya kontrolnya. Para bawahannya bahkan
lebih parah lagi kondisinya, mereka banyak yang
tumbang tak sadarkan diri.
"Aaroonn...!!"
Dari arah pintu masuk villa tiba-tiba saja muncul
Raya dengan wajah yang terlihat memucat
saat melihat kondisi Aaron serta bawahannya.
"Sayang... jangan mendekat, cepat masuk.!!"
Aaron berteriak sekuat tenaga sambil mencoba
untuk berdiri. Namun Raya tidak memperdulikan
peringatan Aaron. Dia berlari menuruni tangga
depan villa menuju halaman.
Melihat kemunculan Raya, orang-orang aneh itu
tampak lari menyerbu kearah nya, mencoba untuk
menangkapnya. Namun Raya segera mengibas
tangan nya kearah orang-orang itu yang seketika
terlempar jauh ke segala penjuru. Sang pimpinan
manusia aneh itu tampak menatap tajam kearah
kemunculan Raya dengan tatapan keterkejutan
dan rasa penasaran yang tersirat dari matanya.
Begitu Raya mencapai halaman, sang pimpinan
manusia aneh tadi datang menghadang sambil
__ADS_1
memutar tangannya ingin kembali menebar
racun pelumpuh. Namun gerakan Raya lebih
cepat lagi, dia mengibaskan tangannya ke udara, memecah energi negatif yang mengurung villa
ini kemudian menetralkan racun aneh yang kini
menyelubungi seluruh halaman villa tersebut.
Sang pemimpin dan seluruh anak buahnya kini
membelalakkan mata ketika ada kilatan cahaya
biru yang menyapu bersih semua pengaruh sihir
aneh yang mereka sebarkan. Dan tubuh mereka
pun ikut terpental jauh hingga berjatuhan.
"Aaroonn..."
Raya segera berlari kearah Aaron yang langsung
menarik tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Aaron.. kau tidak apa-apa kan.?"
Raya memeriksa kondisi Aaron dengan wajah
yang terlihat cemas luar biasa.
"Kenapa kamu keluar sayang.? Di sini sangat
berbahaya."
Desis Aaron sambil mempererat pelukannya.
"Siapa mereka, apa yang mereka inginkan.?"
"Aku juga tidak tahu, sekarang cepat pergi
selamatkan dirimu.!"
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan mu.!"
Raya malah semakin memperkuat pelukannya.
Sang pimpinan orang-orang aneh itu tampak
bangkit, kemudian bergerak cepat melepas
sesuatu dari pinggangnya.
Aaron dan Raya tersentak ketika tiba-tiba saja
tubuh mereka terjerat oleh sebuah tali yang
terbuat dari kulit pohon langka. Tubuh mereka
di tarik dan di satukan dalam satu ikatan.
"Brengsek.! Hei.. apa yang kalian inginkan.?"
Aaron berteriak menggema dengan sorot mata
yang menyala dan kemarahan yang kini sudah
mencapai puncak saat melihat tubuh istrinya
terikat kuat. Dia mencoba membuka ikatan tali
tersebut, tapi ini aneh, semakin dia mencoba
bergerak, ikatan itu semakin terasa kuat.
"Aahh Aaron.. bagaimana ini.. Aku tidak bisa
bergerak.! Tali ini punya daya lumpuh. Aku
tidak bisa mengaktifkan energi positif ku.!"
Ujar Raya sambil mencoba memfokuskan diri
dan konsentrasi nya, namun tetap saja, semakin
dia berusaha memusatkan pikirannya, ikatan tali
itu seolah semakin menjeratnya. Apa yang ada
dalam dirinya tidak berfungsi sama sekali.
Sang pimpinan kini maju ke hadapan Aaron dan
Raya. Sementara para bawahan Aaron saat ini
masih mencoba mengatur pernafasan mereka.
Orang dengan tubuh bongkok itu berdiri di depan
Aaron dan Raya lalu berbicara dengan bahasa
yang benar-benar tidak di mengerti.
"Aku tidak mengerti maksudmu.! Kalau kau
merasa kuat hadapi aku secara jantan.!!"
Geram Aaron sambil menatap kuat wajah pria
menyeramkan itu. Orang itu menyeringai iblis,
lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat berujung
runcing dan kini di dekatkan ke wajah Aaron
yang membuat Raya terkesiap mulai di serang kepanikan.
Namun dalam keadaan genting itu tiba-tiba saja
terdengar bunyi gemuruh helikopter yang kini
mendarat di ujung halaman yang membuat para manusia aneh itu mundur, bersiaga dan tampak menyiapkan senjata di tangan. Tidak lama ada
tembakan berkaliber besar yang jatuh di depan
orang-orang aneh itu hingga membuat mereka
terlempar sadis. Kemudian dari arah helikopter
tersebut muncul seorang pria tinggi tegap di ikuti
oleh beberapa pria tinggi besar yang mengokang
senjata berlaras panjang di tangan.
Pria gagah itu kini melangkah mantap ke tengah
halaman sambil menodongkan senjata kecil
canggih kearah pimpinan orang-orang aneh itu.
Dia tampak gagah dan menggetarkan dalam
balutan setelan hitam-hitam dengan rompi ala
militer yang membungkus ketat tubuh tinggi
tegap nya.
"Kak Dev....??"
Raya berucap gemetar kearah pria tinggi gagah
itu yang melirik kearah nya, mengamati kondisi
dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tanpa ragu lagi pria itu langsung melesakkan
satu tembakan kearah pimpinan orang-orang
aneh itu tepat mengenai dahi nya.
Sang pimpinan tampak membelalak sempurna,
tubuh nya kaku seketika. Dia jatuh terduduk di
atas tanah dengan tatapan mata mengambang
kearah pria gagah itu yang kini maju mendekat.
Bibirnya menyeringai tipis lalu dia berjongkok di hadapan sang pimpinan, menempelkan pelatuk
senjatanya di dahi lelaki menyeramkan itu yang
langsung memejamkan mata rapat.
Ternyata peluru yang di lesakkan oleh pria gagah
itu adalah peluru emas pelumpuh. Melihat ketua mereka jatuh menyerah, maka yang lain pun kini
duduk bersimpuh di belakangnya.
Sang pria gagah itu yang tiada lain adalah Dev
terdengar berbicara pada ketua menusia aneh
itu dengan bahasa yang tidak di mengerti. Dan
pimpinan orang-orang aneh itu terlihat hanya
bisa mengangguk manut dan pasrah. Seorang
pria bertubuh besar tadi kini maju mendekat
kearah Dev lalu mengulurkan satu tas besar
ke hadapan nya.
"Aku tahu yang kalian inginkan hanyalah barang
berkilauan ini. Kalian sangat mendewakan nya
bukan.? Maka aku membawakannya untuk kalian.
Dan setelah ini pergilah yang jauh. Jangan pernah
lagi mengganggu orang-orang yang datang..!!"
Tegas Dev sambil mengangkat tinggi tas hitam
tersebut lalu menumpahkan isinya ke hadapan
para manusia aneh itu yang langsung melotot
tak percaya dan langsung menyembah Devan
berkali-kali.
Bukan hanya orang-orang aneh itu yang kini
melotot tak percaya pada tumpukan benda
berkilauan di atas pasir itu, semua orang yang
ada di tempat itu juga sama tak percaya nya.
Karena yang di tumpahkan oleh Dev adalah
emas murni batangan yang entah berapa kilo
beratnya. Manusia-manusia aneh itu kini maju
meraih emas-emas itu, kemudian menyembah
Dev sekali lagi setelah itu bergerak pergi dari
tempat itu dengan gerakan cepat tak terlihat.
Semua orang akhirnya bisa menarik nafas lega.
Dev terlihat mendekat ke arah Aaron dan Raya
yang masih terikat tali aneh tadi. Tali ini tidak
bisa di lepas begitu saja. Aaron dan Raya masih mencoba membuka tali tersebut. Dev kini berdiri
di hadapan keduanya.
"Kak Dev..? kenapa kamu bisa ada di sini.?"
Raya menyerah, dia menatap lelah kearah Dev
yang berdiri santai menatapi keduanya.
"Sudah ku bilang aku akan selalu mengawasi
kalian berdua.!"
"Bagaimana kau bisa tahu kelemahan mereka.?"
Aaron memotong dengan cepat, wajahnya
tampak tidak suka dengan situasi ini. Kenapa
pria ini bisa datang tepat waktu begini, apalagi
di saat dirinya tidak berdaya, menyebalkan.!!
"Aku lebih cerdas dari mu Yang Mulya.. Sudah
ku bilang aku tidak percaya padamu. Terbukti
bukan, kau nekad membawa adikku ke tempat
berbahaya ini. !!"
Desis Dev dengan wajah yang sangat dingin.
Sesaat kemudian dia mengibaskan tangannya
lalu mengarahkan dua jari tengahnya pada
ikatan tali tersebut yang langsung lepas, jatuh
merosot ke lantai..
Semua orang tampak melongo, terpaku di tempat. Bagaimana Dev bisa melakukan hal seperti itu.? Princess Maharaya..Mr Elajar..mereka berdua sama-sama memiliki keistimewaan.??
***
Note:
Towards the final episodes...
__ADS_1