Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
102. Gagal Liburan


__ADS_3

***


Tiba di kamar pribadi mereka, Aaron langsung membawa Raya masuk kedalam kamar mandi


dan segera melepas pakaian yang menempel


di tubuh mereka. Untuk sejenak dia berjongkok


di hadapan Raya, menciumi perut buncit istrinya


itu penuh dengan kelembutan.


"Aaron.. aku merasa tidak nyaman. Sepertinya


ada yang mengamati villa ini dari kejauhan."


Aaron mengakhiri kegiatannya, dia mengangkat


tubuh polos Raya di bawa masuk ke dalam bak


whirpool untuk berendam.


"Jangan khawatir..Benjamin dan Roman sedang menyisir seluruh area pulau untuk memastikan semuanya aman."


Desis Aaron sambil kemudian mulai mengusap


permukaan kulit tubuh istrinya itu memakai


busa halus untuk membersihkannya.


"Tapi aku melihat ini sedikit berbeda. Adakah


sesuatu yang tidak kau ketahui tentang tempat


ini.? Mungkin Roman tidak sempat mengatakan


semuanya."


Aaron terdiam, mempererat pelukannya dari


belakang sambil menciumi punggung polos


Raya yang menguarkan aroma wangi lembut


yang sangat khas dan sangat di sukai Aaron


hingga membuat tubuh bagian bawahnya


langsung meronta.


"Setahuku semuanya aman-aman saja. Kalau


pun ada yang tidak beres, aku rasa itu bukan


masalah besar untuk kita."


Keduanya terdiam, Raya merebahkan kepalanya


di atas dada bidang Aaron, merasakan segala


kenyamanan dari belaian lembut tangan suami


nya itu yang bergerak menyusuri seluruh bagian


tubuhnya dengan sentuhan yang sangat halus.


"Sayang.. ada sesuatu yang ingin aku katakan


padamu. Dan aku harap, kamu menanggapinya


dengan tenang. Aku ingin kau mengetahui hal


ini agar bisa menyiapkan dirimu."


Aaron berbisik di telinga Raya sambil mencium


lembut tengkuk lehernya, tangannya kini berada


di kedua bukit kembar istrinya itu, meremasnya


kuat dan intens membuat Raya memejamkan


mata di tengah rasa penasaran.


"Ada apa sayang.? Apakah ini sesuatu yang


sangat penting untukku.?"


"Tentu saja, ini adalah sesuatu yang sangat


penting bagimu karena berhubungan dengan


saudari sepupumu."


"Saudari sepupu ku.? Apa kau mengenalnya.?"


Raya melebarkan matanya. Aaron terdiam. Raya membalikan badannya. Kini mereka sudah saling berhadapan, mata indah Raya menatap lekat


wajah tampan Aaron yang bereaksi sedikit aneh,


tenang namun ada sesuatu yang tidak terbaca.


"Aku mengetahuinya setelah menelusuri seluruh


jati diri keluargamu."


"Katakan padaku siapa dia.? Aku memang tidak


sempat berbicara banyak dengan kakek."


"Kau mengenalnya juga, walau mungkin hanya


sebatas mengenal namanya saja.! Dia adalah


orang yang selama ini secara tidak langsung


selalu di hubungkan dengan ku.!"


Wajah Raya berubah aneh, sedikit memucat.


Mata mereka semakin terpaut dalam. Raya


mencoba mencerna maksud perkataan Aaron.


Tidak, itu tidak mungkin, itu rasanya mustahil.


"Tidak, aku rasa itu tidak mungkin. Kau pasti


salah sayang, dia tidak mungkin saudariku kan.?"


"Dia adalah saudari mu. Kalian berdua adalah


cucu dari Wiratama Kertaradjasa.! Tuhan telah


mengatur pertemuan kita dengan begitu indah."


Raya menggelengkan kepalanya kuat. Tidak, ini


semua tidak benar. Tuhan.. apakah benar mereka


berdua bersaudara, dan Aaron..?? Secara tidak


sengaja dia terhubung dengan mereka berdua.


"Kalian berdua sama-sama istimewa. Tapi kau


adalah wanita pilihan yang telah di persiapkan


Tuhan untuk mendampingi ku sayang.."


Desis Aaron sambil kemudian memagut bibir


ranum Raya yang masih berada dalam mode


tidak percaya dan pikiran yang tidak sinkron.


***


Malam nya usai sholat magrib mereka semua


berkumpul di ruang makan yang ada di bagian


belakangan Villa menghadap langsung ke laut


lepas yang menampakkan panorama alam yang


begitu indah dan memukau. Debur ombak putih


datang bergulung-gulung dan pecah di tengah


membentuk pemandangan yang sangat unik.


"Apa Alluna sudah tidur.?"


Raya bertanya begitu dia dan Aaron tiba di ruang makan kemudian duduk di kursi yang sudah di


siapkan oleh para pelayan. Jessica langsung


memasang serbet di atas pangkuan Raya.


"Sudah kakak ipar.. Sepertinya dia kelelahan."


Sahut Arabella. Raya tersenyum, Alluna memang


anak yang sangat aktif, dia juga pemberani dan


tidak cengeng.


"Dia anak yang hebat. Jangan pernah lengah


dalam memperhatikan setiap pergerakannya."


"Tentu Kakak ipar. Kalau tidak di perhatikan,


dia bisa membuat masalah dalam sekejap."


Raya kembali tersenyum. Aaron mengambilkan


jus lalu di berikan pada Raya yang langsung


menerima dan menatap lembut wajah Aaron.


"Terimakasih sayang.. tidak perlu repot-repot."


"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan selain


yang ada di meja ini.?"


Raya memperhatikan hidangan yang ada di atas


meja. Dia menggeleng pelan dan yakin. Malam


ini dia memang kurang bersemangat. Perasaan


nya juga sedikit tidak nyaman.


"Tidak ada, aku hanya ingin makan buah saja.


Aku tidak selera makan makanan berat."


"Tapi tubuhmu perlu asupan makanan bergizi


sayang. Kau harus makan nasi atau roti."


"Aku tidak mau sayang. Aku akan minum susu


saja. Semuanya tidak akan masuk kalau di


paksakan."


Aaron menatap lekat wajah cantik Raya yang


malam ini mengenakkan setelan manis warna


pastel dengan hijab simpel yang sangat menarik


di tambah polesan lipstik tipis di bibir indahnya.


Dia tampak begitu menggemaskan.


"Baiklah.. jangan lupa di minum susu nya."


Tukas Aaron sambil kemudian memberi isyarat


pada Brenda untuk menyiapkan apa yang di


inginkan oleh istrinya itu. Brenda bergerak maju


mempersiapkan semuanya. Alea dan Rayen


baru saja muncul ke ruangan itu, langsung


bergabung dengan yang lain.


Dalam keadaan itu tiba-tiba saja Alex dan dua


orang bawahannya masuk ke dalam ruangan


dengan wajah yang terlihat sedikit aneh dan


tampak terburu-buru. Namun mereka tidak


berani untuk mendekat.


"Alex, apa yang terjadi.? Mana Benjamin dan


Roman.?"


Aaron bertanya masih pada posisi duduk di


kursinya, tapi wajahnya kini berubah dingin.


"M-mohon maaf Yang Mulya..ada pengintai


yang masuk ke dalam kawasan pulau. Kita


harus segera mengantisipasi nya."


Semua orang tampak terkejut. Raut wajah Aaron langsung saja berubah keras. Dia menjatuhkan


sendok dengan kencang membuat semua orang


kini membeku . Arthur, Rayen dan dua Pangeran


sahabat Aaron tampak menyudahi makan malam mereka. Raya menarik nafas berat, dia mengusap lembut punggung tangan Aaron sambil menatap


tenang wajah kelam suaminya itu.


"Kau harus tenang sayang. Coba di cek dulu apa


sebenarnya yang terjadi."


Lirih Raya sambil mengusap bahu Aaron yang


balas menatap Raya berusaha untuk tenang

__ADS_1


dan mengontrol emosi nya.


"Maafkan aku..ini benar-benar di luar rencana."


"Tidak apa, terkadang apa yang di rencanakan


tidak selalu berjalan sesuai dengan yang di


harapkan. Itu adalah sesuatu hal yang wajar."


"Lanjutkan makan malam kalian. Aku tidak akan


lama.! Setelah selesai, masuk ke dalam kamar masing-masing dan jangan keluar sebelum kita kembali.!"


Aaron berujar sambil kemudian mencium pelipis


Raya sedikit terburu-buru, setelah itu dia berlalu


keluar ruangan di ikuti oleh semua pria dan hanya


menyisakan para pengawal pribadi saja.


Raya menatap kepergian Aaron dengan perasaan


yang semakin tidak nyaman.


***


Sementara itu Aaron dan semua bawahannya


saat ini sedang berada di ruang kontrol yang ada


di bagian samping vila. Bangunan ini merupakan


pos jaga untuk memindai keamanan di sekitar


area pulau pribadi. Dia memukul mesin kontrol


yang tiba-tiba saja tidak berfungsi.


"Apa yang terjadi.? Apa kalian tidak mengecek


dulu tempat ini sebelum kita kesini.?"


Geram Aaron dengan wajah yang terlihat keras.


Matanya menatap tajam keluar ruangan hingga


menembus dinding kaca yang terhubung ke


gerbang depan bangunan villa megah itu.


"Maaf Yang Mulya..kami baru saja mendapat


laporan detailnya dari Roman dan Ben."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tempat


ini? Adakah sesuatu yang kita lewatkan ?"


Dengan tegang Alex maju mendekat kemudian mengulurkan tablet tipis kehadapan Aaron yang langsung mengecek dan mengamati nya. Alisnya tampak bertaut dalam dengan raut wajah yang


terlihat semakin tidak sedap di pandang.


"Apa yang terjadi pada orang-orang ini.?


Kenapa mereka bisa keluar dari wilayahnya.?"


"Ada eksploitasi besar-besaran yang di lakukan


oleh para pengembang dan pembeli lahan yang


di tempati oleh mereka Yang Mulya. Sepertinya


mereka tidak terima dan melakukan serangan


balik terhadap para pendatang."


Wajah Aaron tampak mengeras, dia mengamati


kembali gambar-gambar itu. Orang-orang yang


ada di layar itu tampak berpenampilan sedikit


aneh dan berbeda dengan orang pada umumnya.


"Apa mereka juga melakukan gangguan pada


para penghuni pulau lain di sekitar sini.?"


"Sepertinya begitu Yang Mulya.. Sudah 6 bulan


terakhir ini tidak ada lagi yang berani datang


ke wilayah ini."


"Kenapa kalian bisa ceroboh.? Apa selama ini


Roman tidak pernah melaporkan masalah ini


padamu.?"


"Selama ini para pengganggu itu tidak pernah


berani datang ke wilayah ini Yang Mulya."


"Hubungi Hiu putih, suruh merapat.! Kita tidak


punya persenjataan apapun.!!"


"M-mohon maaf Yang Mulya, pasukan sedang


berada di luar jangkauan. Butuh waktu cukup


lama untuk bisa mencapai tempat ini."


Rahang Aaron semakin mengeras. Sungguh


sial.! Niat liburan ke tempat ini malah disuguhi


kondisi keamanan yang kurang mengenakkan


begini. Dia tidak membawa pasukan bayangan


nya, hanya beberapa pengawal pribadi pilihan


saja.Dan yang lebih parahnya lagi mereka


semua tidak membawa persenjataan lengkap.


"Aku dengar orang-orang dari pulau terpencil


bisa melakukan hal di luar kewajaran. Mereka


juga tidak bisa berpikir logis.!"


Pangeran Desmon ikut berbicara. Semua orang


tampak terdiam. Dalam keadaan itu tiba-tiba saja


Aaron melakukan gerakan siaga, mengeluarkan


dua senjata dari balik pinggangnya saat matanya menangkap gerakan cepat dan tak terlihat yang


melintas di halaman depan villa.


"Shit ! Mereka bergerak lebih cepat dari yang


aku perkirakan. Berpencar, amankan villa.!"


kontrol menuju bangunan villa. Semua orang


berhamburan, bergerak cepat mengikuti Aaron


sambil mengokang senjata di tangan mereka.


Namun apa yang terjadi kemudian sungguh di


luar dugaan. Seluruh villa kini sudah di kepung


oleh orang-orang yang memilki bentuk fisik


sedikit aneh. Bertubuh setengah bungkuk dan


berwajah menyeramkan karena muka mereka


di penuhi goresan.Tubuh mereka juga tampak


di penuhi tato mengerikan dengan kepala yang


tertutup hiasan kulit binatang.


"Damn.! Manusia macam apa mereka ini.!"


Desis Aaron yang terkejut sesaat begitu melihat


penampakkan orang-orang aneh itu. Mata mereka


tampak menyala dengan sorot yang menakutkan.


Manusia-manusia aneh itu berbicara meracau


dalam bahasa yang tidak di mengerti sambil


menjilati senjata tajam mereka hingga membuat


Aaron dan anak buahnya sedikit bergidik.


"Serang.. lumpuhkan mereka..!!"


Teriak Aaron memberi perintah sambil maju


menyerang orang-orang itu yang bergerak cepat


dan buas. Dan akhirnya pertempuran pun tidak


bisa di hindari. Sialnya kini berdatangan makhluk serupa lainnya dengan membawa senjata yang beragam. Namun tidak lama dari dalam villa,


para pengawal pribadi berdatangan, langsung


membantu melawan orang-orang itu.


"Alex.. bereskan mereka aku akan masuk."


Titah Aaron sambil kemudian berlari cepat ke


dalam bangunan villa bersama dengan Arthur


dan Rayen. Dia mencemaskan keadaan Raya


dan dua adiknya serta keponakannya.


Namun belum sempat dia mencapai pintu, dari


arah lain tiba-tiba saja muncul beberapa orang


aneh lainnya yang di pimpin oleh seseorang


yang memiliki fisik lebih seram dari yang lain.


Mereka langsung meracau bersamaan dengan


gema yang sangat kuat. Dan hal aneh pun kini


terjadi, tubuh Aaron dan semua bawahannya


tiba-tiba terpental, lalu terlempar sadis dan


terjatuh ke tengah halaman. Senjata di tangan


mereka terlempar entah kemana.


Belum sempat mereka bangkit, sang pimpinan


manusia aneh itu, yang paling besar dan paling menyeramkan tiba-tiba mengibaskan tangannya


ke udara, menyebarkan asap putih yang langsung membuat Aaron dan anak buahnya batuk-batuk


parah lalu ambruk ke tanah. Aaron menutup


mulut dan hidungnya dengan mata yang terlihat


melebar kuat.


"Mereka meracuni kita. Atur nafas kalian.!"


Aaron berteriak mengingatkan sambil mengatur


nafas dan mencoba bangkit dengan memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Namun tubuh


nya tiba-tiba goyah, dia mulai kehilangan tenaga


dan daya kontrolnya. Para bawahannya bahkan


lebih parah lagi kondisinya, mereka banyak yang


tumbang tak sadarkan diri.


"Aaroonn...!!"


Dari arah pintu masuk villa tiba-tiba saja muncul


Raya dengan wajah yang terlihat memucat


saat melihat kondisi Aaron serta bawahannya.


"Sayang... jangan mendekat, cepat masuk.!!"


Aaron berteriak sekuat tenaga sambil mencoba


untuk berdiri. Namun Raya tidak memperdulikan


peringatan Aaron. Dia berlari menuruni tangga


depan villa menuju halaman.


Melihat kemunculan Raya, orang-orang aneh itu


tampak lari menyerbu kearah nya, mencoba untuk


menangkapnya. Namun Raya segera mengibas


tangan nya kearah orang-orang itu yang seketika


terlempar jauh ke segala penjuru. Sang pimpinan


manusia aneh itu tampak menatap tajam kearah


kemunculan Raya dengan tatapan keterkejutan


dan rasa penasaran yang tersirat dari matanya.


Begitu Raya mencapai halaman, sang pimpinan


manusia aneh tadi datang menghadang sambil

__ADS_1


memutar tangannya ingin kembali menebar


racun pelumpuh. Namun gerakan Raya lebih


cepat lagi, dia mengibaskan tangannya ke udara, memecah energi negatif yang mengurung villa


ini kemudian menetralkan racun aneh yang kini


menyelubungi seluruh halaman villa tersebut.


Sang pemimpin dan seluruh anak buahnya kini


membelalakkan mata ketika ada kilatan cahaya


biru yang menyapu bersih semua pengaruh sihir


aneh yang mereka sebarkan. Dan tubuh mereka


pun ikut terpental jauh hingga berjatuhan.


"Aaroonn..."


Raya segera berlari kearah Aaron yang langsung


menarik tubuhnya ke dalam dekapannya.


"Aaron.. kau tidak apa-apa kan.?"


Raya memeriksa kondisi Aaron dengan wajah


yang terlihat cemas luar biasa.


"Kenapa kamu keluar sayang.? Di sini sangat


berbahaya."


Desis Aaron sambil mempererat pelukannya.


"Siapa mereka, apa yang mereka inginkan.?"


"Aku juga tidak tahu, sekarang cepat pergi


selamatkan dirimu.!"


"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan mu.!"


Raya malah semakin memperkuat pelukannya.


Sang pimpinan orang-orang aneh itu tampak


bangkit, kemudian bergerak cepat melepas


sesuatu dari pinggangnya.


Aaron dan Raya tersentak ketika tiba-tiba saja


tubuh mereka terjerat oleh sebuah tali yang


terbuat dari kulit pohon langka. Tubuh mereka


di tarik dan di satukan dalam satu ikatan.


"Brengsek.! Hei.. apa yang kalian inginkan.?"


Aaron berteriak menggema dengan sorot mata


yang menyala dan kemarahan yang kini sudah


mencapai puncak saat melihat tubuh istrinya


terikat kuat. Dia mencoba membuka ikatan tali


tersebut, tapi ini aneh, semakin dia mencoba


bergerak, ikatan itu semakin terasa kuat.


"Aahh Aaron.. bagaimana ini.. Aku tidak bisa


bergerak.! Tali ini punya daya lumpuh. Aku


tidak bisa mengaktifkan energi positif ku.!"


Ujar Raya sambil mencoba memfokuskan diri


dan konsentrasi nya, namun tetap saja, semakin


dia berusaha memusatkan pikirannya, ikatan tali


itu seolah semakin menjeratnya. Apa yang ada


dalam dirinya tidak berfungsi sama sekali.


Sang pimpinan kini maju ke hadapan Aaron dan


Raya. Sementara para bawahan Aaron saat ini


masih mencoba mengatur pernafasan mereka.


Orang dengan tubuh bongkok itu berdiri di depan


Aaron dan Raya lalu berbicara dengan bahasa


yang benar-benar tidak di mengerti.


"Aku tidak mengerti maksudmu.! Kalau kau


merasa kuat hadapi aku secara jantan.!!"


Geram Aaron sambil menatap kuat wajah pria


menyeramkan itu. Orang itu menyeringai iblis,


lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat berujung


runcing dan kini di dekatkan ke wajah Aaron


yang membuat Raya terkesiap mulai di serang kepanikan.


Namun dalam keadaan genting itu tiba-tiba saja


terdengar bunyi gemuruh helikopter yang kini


mendarat di ujung halaman yang membuat para manusia aneh itu mundur, bersiaga dan tampak menyiapkan senjata di tangan. Tidak lama ada


tembakan berkaliber besar yang jatuh di depan


orang-orang aneh itu hingga membuat mereka


terlempar sadis. Kemudian dari arah helikopter


tersebut muncul seorang pria tinggi tegap di ikuti


oleh beberapa pria tinggi besar yang mengokang


senjata berlaras panjang di tangan.


Pria gagah itu kini melangkah mantap ke tengah


halaman sambil menodongkan senjata kecil


canggih kearah pimpinan orang-orang aneh itu.


Dia tampak gagah dan menggetarkan dalam


balutan setelan hitam-hitam dengan rompi ala


militer yang membungkus ketat tubuh tinggi


tegap nya.


"Kak Dev....??"


Raya berucap gemetar kearah pria tinggi gagah


itu yang melirik kearah nya, mengamati kondisi


dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Tanpa ragu lagi pria itu langsung melesakkan


satu tembakan kearah pimpinan orang-orang


aneh itu tepat mengenai dahi nya.


Sang pimpinan tampak membelalak sempurna,


tubuh nya kaku seketika. Dia jatuh terduduk di


atas tanah dengan tatapan mata mengambang


kearah pria gagah itu yang kini maju mendekat.


Bibirnya menyeringai tipis lalu dia berjongkok di hadapan sang pimpinan, menempelkan pelatuk


senjatanya di dahi lelaki menyeramkan itu yang


langsung memejamkan mata rapat.


Ternyata peluru yang di lesakkan oleh pria gagah


itu adalah peluru emas pelumpuh. Melihat ketua mereka jatuh menyerah, maka yang lain pun kini


duduk bersimpuh di belakangnya.


Sang pria gagah itu yang tiada lain adalah Dev


terdengar berbicara pada ketua menusia aneh


itu dengan bahasa yang tidak di mengerti. Dan


pimpinan orang-orang aneh itu terlihat hanya


bisa mengangguk manut dan pasrah. Seorang


pria bertubuh besar tadi kini maju mendekat


kearah Dev lalu mengulurkan satu tas besar


ke hadapan nya.


"Aku tahu yang kalian inginkan hanyalah barang


berkilauan ini. Kalian sangat mendewakan nya


bukan.? Maka aku membawakannya untuk kalian.


Dan setelah ini pergilah yang jauh. Jangan pernah


lagi mengganggu orang-orang yang datang..!!"


Tegas Dev sambil mengangkat tinggi tas hitam


tersebut lalu menumpahkan isinya ke hadapan


para manusia aneh itu yang langsung melotot


tak percaya dan langsung menyembah Devan


berkali-kali.


Bukan hanya orang-orang aneh itu yang kini


melotot tak percaya pada tumpukan benda


berkilauan di atas pasir itu, semua orang yang


ada di tempat itu juga sama tak percaya nya.


Karena yang di tumpahkan oleh Dev adalah


emas murni batangan yang entah berapa kilo


beratnya. Manusia-manusia aneh itu kini maju


meraih emas-emas itu, kemudian menyembah


Dev sekali lagi setelah itu bergerak pergi dari


tempat itu dengan gerakan cepat tak terlihat.


Semua orang akhirnya bisa menarik nafas lega.


Dev terlihat mendekat ke arah Aaron dan Raya


yang masih terikat tali aneh tadi. Tali ini tidak


bisa di lepas begitu saja. Aaron dan Raya masih mencoba membuka tali tersebut. Dev kini berdiri


di hadapan keduanya.


"Kak Dev..? kenapa kamu bisa ada di sini.?"


Raya menyerah, dia menatap lelah kearah Dev


yang berdiri santai menatapi keduanya.


"Sudah ku bilang aku akan selalu mengawasi


kalian berdua.!"


"Bagaimana kau bisa tahu kelemahan mereka.?"


Aaron memotong dengan cepat, wajahnya


tampak tidak suka dengan situasi ini. Kenapa


pria ini bisa datang tepat waktu begini, apalagi


di saat dirinya tidak berdaya, menyebalkan.!!


"Aku lebih cerdas dari mu Yang Mulya.. Sudah


ku bilang aku tidak percaya padamu. Terbukti


bukan, kau nekad membawa adikku ke tempat


berbahaya ini. !!"


Desis Dev dengan wajah yang sangat dingin.


Sesaat kemudian dia mengibaskan tangannya


lalu mengarahkan dua jari tengahnya pada


ikatan tali tersebut yang langsung lepas, jatuh


merosot ke lantai..


Semua orang tampak melongo, terpaku di tempat. Bagaimana Dev bisa melakukan hal seperti itu.? Princess Maharaya..Mr Elajar..mereka berdua sama-sama memiliki keistimewaan.??


***


Note:


Towards the final episodes...

__ADS_1


__ADS_2