
Raya menatap tampilan minuman yang baru saja
di buatnya di dapur istana. Dia harus turun ke
lantai dasar dan berjalan jauh ke belakang agar
bisa mencapai dapur. Green Palace.. istana ini
sangat indah dan unik, di kelilingi oleh perbukitan
hijau dan danau biru yang membentang di bagian
belakang serta hamparan taman bunga yang ada
di bagian depannya. Benar-benar indah dan sangat
menenangkan, cocok bagi orang yang memang
membutuhkan kenyamanan serta ingin menjauh
dari hingar bingar kepadatan kota besar.
Minuman yang di sukai oleh Madam Rowena
adalah semacam eggnog.. tapi tidak memakai
campuran alkohol di dalamnya. Hanya terdiri
dari krim, gula, telor, dan susu serta beberapa
rempah alami. Selain membuatkan minuman
itu, Raya juga membuatkan Green tea.. spesial
dengan racikan sendiri ala negara asalnya.
"Biar saya yang bawakan Miss.."
Salah seorang pelayan pribadi Madam Rowena
yang menemani Raya turun ke dapur meraih
nampan dari atas meja. Raya tampak sedikit
ragu dan berdoa dalam hati agar segalanya di
mudahkan dan semua orang bisa terbebas dari
hukuman Ibu Suri.
Setelah semuanya siap dia kembali ke lantai
atas melalui lift khusus yang biasa di gunakan
oleh para pelayan pribadi penghuni istana ini.
Semua pelayan yang masih menjalani hukuman
tampak menatap kedatangan Raya dengan
perasaan was-was namun terselip harapan.
"Mari ikut saya Miss.."
Pelayan pribadi tadi mulai masuk ke dalam
kamar di ikuti oleh Raya dengan hati yang kini
berdebar hebat. Ada rasa tidak nyaman dalam
hatinya, namun dia mencoba untuk tetap tenang.
Kamar pribadi Ibu Suri ini tidak kalah luasnya
dari kamar milik Aaron, hanya berbeda konsep
dan desain interior nya yang lebih klasik dan
etnik dengan kesan anggun dan elegan. Saat
tiba di ruang tengah dia berpapasan dengan
asisten pribadi Madam Rowena, Gregory..yang
terlihat terkejut bukan main melihat kehadiran
Raya di dalam kamar ini. Sementara pelayan
pribadi tadi langsung melangkah menuju balkon
di luar kamar dimana saat ini Ibu Suri berada.
"Miss Raya.. anda ada di istana ini.?"
Raya tersenyum lembut kearah Gregory yang
terlihat menundukkan kepalanya sedikit.
"Putra Mahkota yang membawa ku kesini.
Apakah aku bisa menemui Yang Mulya Ibu
Suri.?"
Gregory tampak sedikit ragu, menatap jauh ke
arah balkon, tapi kemudian dia mengangguk.
"Mari ikut saya, kita akan lihat apakah suasana
hati beliau sudah membaik atau belum."
Raya mengangguk kemudian mengikuti langkah
Gregory ke arah balkon unik yang sengaja dibuat
sedikit memanjang menyerupai gazebo yang biasa
di gunakan oleh Ibu Suri sebagai tempat bersantai
dan menikmati angin yang berhembus sejuk dan segar. Wanita tua yang masih terlihat bugar itu
tampak sedang duduk tenang menghadap kearah taman serta bentangan danau biru yang indah
sangat memanjakan mata.
"Maaf Yang Mulya.. apakah anda ingin mencoba
kembali minuman yang baru ? Ada seseorang
yang telah membuatkan nya khusus untuk anda."
Pelayan pribadi itu berucap dengan hati-hati
di temani dua pelayan pribadi lainnya yang dari
tadi mendampingi Ibu Suri.
"Harus berapa kali aku mencoba.? Kalian tidak
ada satupun yang mampu membuatnya seperti
yang di buat oleh Rula.!!"
"Mohon maaf Yang Mulya..kami sudah mencoba
semampu kami, bahkan para pelayan itu masih
menjalani hukuman sampai sekarang."
"Baiklah..aku akan mencoba nya sekali lagi. Tapi
setelah ini tidak lagi. Biarkan para pelayan itu
menjalani hukuman sampai makan malam tiba."
"Baik Yang Mulya kami mengerti."
Pelayan pribadi itu mengangkat gelas unik yang
hanya di gunakan untuk menuang minuman ini.
Perlahan Ibu Suri mencicip minuman itu sedikit
enggan karena rasanya pasti sama saja. Para
pelayan, Raya dan Gregory yang kini berdiri di
belakang Madam Rowena tampak tegang.
Wanita tua itu menautkan alisnya, rasa Eggnog
ini sedikit berbeda, tidak seperti buatan Rula
yang sangat di sukainya itu. Tapi..ini rasanya
jauh lebih enak dan sangat berbeda, aroma
khas rempahnya sedikit lebih kuat namun tidak
mengurangi kemurnian rasa minuman ini. Satu
kata untuk minuman ini, luar biasa..minuman
ini benar-benar istimewa. Ibu Suri kembali
menyeruput minuman itu, memejamkan mata
untuk meresapinya dan menikmati rasanya.
"Hemm.. panggilkan orang nya..!"
Para pelayan saling pandang dengan wajah
bingung, antara tegang namun juga berharap
sebuah keajaiban terjadi. Raya menarik nafas
dalam-dalam mencoba menenangkan diri dan mengontrol perasaan tegang nya. Dengan
langkah tenang dia maju ke hadapan Ibu Suri.
"Selamat siang Yang Mulya.. mohon maafkan
kelancangan saya.."
Raya berkata dengan suara yang sangat lembut
seraya membungkuk hormat dalam gestur tubuh
yang sangat luwes nan anggun. Terlihat santun
dan halus di sertai aura terang yang senantiasa
terpendar dari sosoknya yang cantik. Mata Madam
Rowena menatap tidak percaya pada apa yang
kini di lihatnya. Wanita cucunya ada di istana ini?
Kenapa cucu nakalnya itu tidak memberitahu
kalau dia akan membawa wanita ini kesini.?
"Kau sekretaris pribadi Putra Mahkota bukan.?"
"Benar Yang Mulya.."
"Sedang apa kau di istana ini.?"
"Sebenarnya saya kurang faham, Yang Mulya
Putera Mahkota yang membawa saya kesini."
"Kurang faham, bukankah tugasmu mengetahui
segala hal menyangkut kegiatan majikan mu.?
Ada apa denganmu Miss sekretaris.?"
Madam Rowena mendelik gerah kearah Raya
sambil menyeruput kembali minuman nya.
"Maaf Yang Mulya.. saya memang banyak
sekali kekurangan."
"Sepertinya posisi sebagai sekretaris pribadi
Putra Mahkota kurang cocok untukmu."
Raya terdiam, hanya bisa menundukan kepala
__ADS_1
karena apa yang di katakan oleh Ibu Suri benar
adanya, apa sebenarnya yang dia kerjakan
sebagai seorang sekretaris.? Justru yang ada
hanya menyusahkan saja.!
"Kau yang membuat minuman ini.?"
"Benar Yang Mulya.."
"Duduklah..!"
Ahh.? Duduk, di depan Ibu Suri, bagaimana ini?
Apa yang di inginkan oleh nenek tua ini ! Raya
masih terdiam dalam kebingungan.
"Miss sekretaris, apa aku harus mengulangi
perintahku.?"
"Maafkan saya Yang Mulya.."
Raya membungkuk sesaat, kemudian bergerak
duduk di hadapan Madam Rowena di saksikan
oleh asisten dan para pelayan pribadi Ibu Suri
yang terlihat sedikit terkejut dengan perintah
yang di lontarkan oleh sang majikan. Dengan
mencoba renang, Raya duduk anggun di depan
Ibu Suri yang terlihat menatapnya lekat. Bibir
keriput itu mengulas senyum tipis.
Ternyata kau sangatlah cantik nona sekretaris.
Kau juga memiliki keistimewaan dalam matamu.
Pantas saja Aaron sampai segila itu padamu..
Madam Rowena membatin masih menatap
lekat wajah Raya yang terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan pakaian adat negara ini.
"Minuman buatanmu cukup enak, aku akui itu."
"Terimakasih Yang Mulya.. saya sedang belajar."
"Berikan aku teh hijau itu.!"
Ibu Suri menunjuk teh hijau dengan isyarat
matanya. Dengan tenang Raya meraih cangkir
teh hijau kemudian mengulurkan ke hadapan
Madam Rowena yang segera menerima nya.
Perlahan dia mulai menyeruput teh itu dengan
sedikit ragu. Namun matanya tampak terkejut
saat mencicip rasanya, ini sangat berbeda dari
teh hijau pada umumnya yang sering dia nikmati.
Raya kembali duduk memberanikan diri untuk
menatap wajah Ibu Suri yang masih menyisakan
raut kecantikan memukau di garis wajahnya.
"Ini sangat enak, kau punya rahasia khusus
untuk meraciknya.?"
"Hanya racikan turun temurun dari keluarga
saya Yang Mulya."
Alis Madam Rowena bertaut, keluarga ? Dia
kembali menyeruput teh hijau itu, menikmati
semua sensasi kesegarannya hingga membuat
wanita tua itu tampak bersemangat.
"Gregory..!"
"Saya Yang Mulya.."
Sang asisten mendekat kearahnya kemudian
membungkuk di samping nya.
"Aku ingin mengajak Miss Raya untuk pergi
ke hutan belakang..!"
Gregory bengong, begitupun semua pelayan
pribadi. Hanya Raya yang tidak mengerti apa-apa.
"Miss Raya.. kita akan berburu rusa kecil di
hutan. Aku sedang bersemangat hari ini.!"
Hahh.. berburu.? Apa dia tidak salah? kenapa
harus mengajak dirinya.?
"Yang Mulya.. apakah saya pantas untuk ikut
bersama dengan anda.?"
"Aku tidak suka di bantah.! Gregory.. cepat bawa
Miss Raya untuk mengganti pakaiannya.!"
Tatapan mata Madam Rowena tampak tajam
tidak mau harus menuruti nya.
"Baik Yang Mulya. Miss Raya.. mari ikut saya."
Akhirnya Raya beranjak, membungkuk sedikit
kearah Madam Rowena kemudian mengekor
langkah Gregory menuju ruang ganti. Madam
Rowena menatap kepergian Raya dengan sorot
mata seksama memperhatikan gerak tubuh
wanita itu untuk memastikan keyakinan nya
akan sesuatu yang berbeda dari tangkapan
mata bathin nya.
***
Rombongan kecil itu kini sudah tiba di belakang
bukit yang ada di sekitar Green Palace.. tempat
ini berupa hutan lindung yang merupakan milik keluarga De Enzo. Dan di hutan lindung ini ada berbagai macam hewan buruan yang biasa di
jadikan objek berburu keluarga kerajaan. Dari
dulu, Madam Rowena sangat menyukai aktivitas
ekstrim yang satu ini. Karena dia adalah seorang
Ratu yang sangat tangguh, memilki kemampuan
di bidang olahraga berat juga kelihaian di bidang
militer yang jarang di miliki oleh kebanyakan
Ratu di dunia, karena Madam Rowena adalah
seorang Warrior Princess..
Raya menatap jauh kearah hutan yang tidak
berupa hutan pada umumnya, karena ini adalah
hutan lindung yang di siapkan khusus sebagai
habitat hewan-hewan peliharaan kerajaan. Dan
di setiap sudut hutan juga di lengkapi oleh
sistem keamanan serta perlindungan canggih.
Mereka pergi bersama beberapa prajurit dan
pengawal pribadi Madam Rowena.
"Ayo Miss Raya.. kita turun.!"
Madam Rowena mendahului turun dari mobil
Jeep khusus kendaraan hutan. Dengan sedikit
ragu akhirnya Raya turun dari mobil. Saat ini dia
sudah berganti kostum yang lebih safety khas
berburu, yang membungkus ketat tubuh indah
nya hingga mampu membuat semua mata para
pelayan dan pengawal langsung terpukau melihat
nya begitu dia keluar dari istana mendampingi Ibu Suri. Pada pandangan pertama saja, semua orang sudah bisa menilai kalau kedua wanita beda usia
itu sangatlah istimewa, tampak menyatu dalam
satu aura yang sama-sama terang.
Turun dari mobil mereka semua berjalan mencari
tempat dan posisi yang strategis untuk mengincar
mangsa yang akan menjadi objek buruan hingga
akhirnya mencapai tempat yang cukup tinggi di
bawah pohon rindang. Mata Raya berbinar indah
menatap hamparan padang Savana terbentang
luas di depan matanya. Dan hal itu tidak luput
dari pengamatan mata jeli Madam Rowena.
Para pengawal pribadi mendampingi Madam
Rowena dan membantu memakai peralatan
berburu nya hingga wanita tua itu tampak
keren dan masih terlihat berwibawa.
"Mohon maaf Yang Mulya.. sungguh saya tidak
tahu menahu soal berburu, bahkan saya belum
pernah memegang alat ini sebelumnya."
Raya terlihat ragu dan sedikit gemetar saat
Gregory mengulurkan seperangkat alat panah
kemudian memasangkan nya di tubuh Raya.
"Kau harus belajar mulai sekarang. Menjadi
pendamping Putra Mahkota tidaklah mudah.
Kau harus menguasai berbagai hal, jangan
__ADS_1
hanya terbatas pada mesin canggih saja, tapi
hal-hal yang berbau fisik pun harus kamu
pelajari Miss Secretary..!"
Raya tertegun dalam diam, apa sebenarnya
yang di inginkan oleh neneknya Aaron ini.?
Wanita ini ternyata sedikit ekstrim. Mata Raya
melebar saat melihat Madam Rowena mulai
mencari posisi membidik sasaran pada seekor
kelinci yang terlihat berlarian di kejauhan.
"Jangan Yang Mulya..! Saya mohon..!"
Raya tiba-tiba memekik sambil menahan tangan
Ibu Suri yang tengah bersiap melesakkan anak
panah pada sasaran. Semua orang terlihat terkejut
dengan wajah tegang dan memucat melihat apa
yang di lakukan oleh Raya, sungguh lancang.!
"Apa yang kau lakukan.? Minggir.!!"
Mata Madam Rowena dan mata sendu indah
Raya kini bertemu, saling menatap mengadu
kekuatan. Keduanya ternyata sama-sama kuat
bahkan tangan Raya masih menahan panahan.
"Jangan kelinci Yang Mulya.. yang lain saja."
Alis Madam Rowena bertaut dalam, ini persis
seperti seorang Aaron, yang tidak pernah tega
kalau harus menjadikan kelinci sebagai hewan
buruan .
"Kenapa ? apa alasanmu.?"
"Kelinci hanyalah binatang lemah Yang Mulya."
Raya melepaskan pegangan tangannya, lalu
membungkuk dengan wajah memerah begitu
menyadari perbuatannya. Mata Madam Rowena
masih menatap lurus wajah cantik Raya yang
terlihat kemerah-merahan, sangat cantik dan
menggemaskan. Semua orang menarik napas
lega, ini sesuatu yang ajaib, Ibu Suri ternyata
tidak bereaksi berlebihan, apalagi murka.
Kau punya hati yang sangat lembut. Tapi itu
tidak cukup istimewa..
Bathin Madam Rowena sambil tersenyum tipis.
Dia kembali memfokuskan matanya pada buruan berikutnya. Dan Raya pun saat ini mulai belajar
fokus setelah Gregory mengajarkan teknik dan
pengunaan serta cara membidik tepat sasaran.
Dia mencoba melesakkan anak panahnya namun
belum mengenai sasaran. Tidak patah arang
Raya kembali mencobanya. Ternyata ini cukup
menyenangkan, dia seolah bisa melepas semua
beban pikiran yang kini sedang merundungnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa
riang Raya dan Madam Rowena saat keduanya berhasil memanah seekor rusa kecil pada
bidikan dan sasaran yang sama.
"Lumayan Miss Raya..! Lain kali kau harus
belajar berburu memakai senapan..!"
Ujar Madam Rowena dengan senyum tipis dan
wajah yang cukup cerah. Raya terdiam, senapan.? sepertinya itu cukup menantang..tapi terdengar
menyeramkan. Dalam keadaan itu tiba-tiba saja
dari kejauhan terdengar suara gemuruh tembakan
di sertai deru mesin mobil yang semakin lama semakin mendekat.
Semua mata kini mengarah pada kedatangan
beberapa mobil hutan yang melaju kencang
seperti mengejar sesuatu. Mata Raya membulat
begitu melihat sang pengendara mobil yang
paling depan. Sosok tinggi gagah dengan raut
wajah yang terlihat sangat dingin setengah
emosi langsung melompat dari atas mobilnya
kemudian berlari kearah Raya. Detik berikutnya
Raya semakin melebarkan matanya saat sosok
tinggi gagah itu memeluk erat tubuhnya hingga
setengah terangkat.
"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu ku
dulu Maharaya.? Kau mau mencekik leherku.?"
Raya bengong, Madam Rowena terhenyak,
sementara yang lain menganga. Apa ini ??
Tubuh Raya membeku, pelukan sosok itu
semakin terasa kuat hingga Raya meringis
merasakan sedikit sesak nafas.
"Siapa yang memberi kalian izin membawa
nya tanpa sepengetahuan ku.!!"
Bentakan sosok itu terdengar membahana
hingga gema nya memenuhi seluruh hutan.
Madam Rowena masih terlihat tak percaya
dengan apa yang di lihatnya. Benarkah ini
Aaron cucunya.? Sebegitu khawatir nya dia
terhadap sekretaris nya ini.? Luar biasa..!!
"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang
berani membawanya dariku.!"
"Aku yang membawanya kesini Aaron.!!"
Madam Rowena berucap tegas dan tenang
dengan tatapan tajam kearah Aaron yang
tiba-tiba saja membidikkan senjata kearah
Madam Rowena yang langsung membuat
semua orang syok dan menjatuhkan diri.
Putra Mahkota berani menodongkan senjata
ke hadapan Sang Nenek.?? Mata Raya kini
membulat sempurna dengan wajah yang
terlihat pucat pasi bagai kapas.
"Apa yang Grandma inginkan darinya.? Kau
berniat menjauhkannya dariku ?"
Geram Aaron dengan tatapan tajam bagai
elang yang siap memangsa. Bibir Ibu Suri kini
menyeringai tipis, tenang dan santai. Namun
justru Raya yang semakin terlihat kalangkabut.
"Kalau benar aku ingin menyingkirkan nya ,
apa yang akan kau lakukan Putra Mahkota..?"
Aaron menarik pelatuk senjata dengan ujung
jarinya membuat semua orang langsung saja
bersujud memohon agar Aaron tersadar. Air
mata Raya kini meluncur bebas, perlahan dia
meraih wajah Aaron agar berpaling padanya,
kedua mata mereka kini saling menatap.
"Aaron sayang.. tenanglah..Aku tidak apa-apa..
Ibu Suri hanya mengajakku berburu bersama.
Percayalah padaku..semuanya baik-baik saja."
Lirih Raya sambil kemudian berjinjit, mencium
lembut bibir Aaron yang langsung mematung
dan membeku di tempat sekaligus kehilangan
segala daya. Keduanya saling pandang lekat,
tangan Aaron membelai lembut wajah bening
mulus Raya yang di hiasi lelehan air mata.
"Jangan coba-coba untuk pergi dariku..!!"
Bisik Aaron pelan kemudian mencium lembut
kening Raya yang tidak kuasa lagi menahan
segala perasaan nya, dia memeluk erat tubuh
gagah Aaron menumpahkan seluruh air mata,
menangis tersedu di dada bidang pria itu.
Aaron.. kenapa kamu harus membawaku pada kebimbangan rasa ini..? Kenapa kamu harus membuatku tidak bisa mempertahankan
keangkuhan jiwaku..Harusnya aku bertahan
dengan kebencian ku.!! Kau adalah laki-laki
yang telah menghancurkan kehidupan ku...!!
__ADS_1
***