Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
63. Berburu


__ADS_3

Raya menatap tampilan minuman yang baru saja


di buatnya di dapur istana. Dia harus turun ke


lantai dasar dan berjalan jauh ke belakang agar


bisa mencapai dapur. Green Palace.. istana ini


sangat indah dan unik, di kelilingi oleh perbukitan


hijau dan danau biru yang membentang di bagian


belakang serta hamparan taman bunga yang ada


di bagian depannya. Benar-benar indah dan sangat


menenangkan, cocok bagi orang yang memang


membutuhkan kenyamanan serta ingin menjauh


dari hingar bingar kepadatan kota besar.


Minuman yang di sukai oleh Madam Rowena


adalah semacam eggnog.. tapi tidak memakai


campuran alkohol di dalamnya. Hanya terdiri


dari krim, gula, telor, dan susu serta beberapa


rempah alami. Selain membuatkan minuman


itu, Raya juga membuatkan Green tea.. spesial


dengan racikan sendiri ala negara asalnya.


"Biar saya yang bawakan Miss.."


Salah seorang pelayan pribadi Madam Rowena


yang menemani Raya turun ke dapur meraih


nampan dari atas meja. Raya tampak sedikit


ragu dan berdoa dalam hati agar segalanya di


mudahkan dan semua orang bisa terbebas dari


hukuman Ibu Suri.


Setelah semuanya siap dia kembali ke lantai


atas melalui lift khusus yang biasa di gunakan


oleh para pelayan pribadi penghuni istana ini.


Semua pelayan yang masih menjalani hukuman


tampak menatap kedatangan Raya dengan


perasaan was-was namun terselip harapan.


"Mari ikut saya Miss.."


Pelayan pribadi tadi mulai masuk ke dalam


kamar di ikuti oleh Raya dengan hati yang kini


berdebar hebat. Ada rasa tidak nyaman dalam


hatinya, namun dia mencoba untuk tetap tenang.


Kamar pribadi Ibu Suri ini tidak kalah luasnya


dari kamar milik Aaron, hanya berbeda konsep


dan desain interior nya yang lebih klasik dan


etnik dengan kesan anggun dan elegan. Saat


tiba di ruang tengah dia berpapasan dengan


asisten pribadi Madam Rowena, Gregory..yang


terlihat terkejut bukan main melihat kehadiran


Raya di dalam kamar ini. Sementara pelayan


pribadi tadi langsung melangkah menuju balkon


di luar kamar dimana saat ini Ibu Suri berada.


"Miss Raya.. anda ada di istana ini.?"


Raya tersenyum lembut kearah Gregory yang


terlihat menundukkan kepalanya sedikit.


"Putra Mahkota yang membawa ku kesini.


Apakah aku bisa menemui Yang Mulya Ibu


Suri.?"


Gregory tampak sedikit ragu, menatap jauh ke


arah balkon, tapi kemudian dia mengangguk.


"Mari ikut saya, kita akan lihat apakah suasana


hati beliau sudah membaik atau belum."


Raya mengangguk kemudian mengikuti langkah


Gregory ke arah balkon unik yang sengaja dibuat


sedikit memanjang menyerupai gazebo yang biasa


di gunakan oleh Ibu Suri sebagai tempat bersantai


dan menikmati angin yang berhembus sejuk dan segar. Wanita tua yang masih terlihat bugar itu


tampak sedang duduk tenang menghadap kearah taman serta bentangan danau biru yang indah


sangat memanjakan mata.


"Maaf Yang Mulya.. apakah anda ingin mencoba


kembali minuman yang baru ? Ada seseorang


yang telah membuatkan nya khusus untuk anda."


Pelayan pribadi itu berucap dengan hati-hati


di temani dua pelayan pribadi lainnya yang dari


tadi mendampingi Ibu Suri.


"Harus berapa kali aku mencoba.? Kalian tidak


ada satupun yang mampu membuatnya seperti


yang di buat oleh Rula.!!"


"Mohon maaf Yang Mulya..kami sudah mencoba


semampu kami, bahkan para pelayan itu masih


menjalani hukuman sampai sekarang."


"Baiklah..aku akan mencoba nya sekali lagi. Tapi


setelah ini tidak lagi. Biarkan para pelayan itu


menjalani hukuman sampai makan malam tiba."


"Baik Yang Mulya kami mengerti."


Pelayan pribadi itu mengangkat gelas unik yang


hanya di gunakan untuk menuang minuman ini.


Perlahan Ibu Suri mencicip minuman itu sedikit


enggan karena rasanya pasti sama saja. Para


pelayan, Raya dan Gregory yang kini berdiri di


belakang Madam Rowena tampak tegang.


Wanita tua itu menautkan alisnya, rasa Eggnog


ini sedikit berbeda, tidak seperti buatan Rula


yang sangat di sukainya itu. Tapi..ini rasanya


jauh lebih enak dan sangat berbeda, aroma


khas rempahnya sedikit lebih kuat namun tidak


mengurangi kemurnian rasa minuman ini. Satu


kata untuk minuman ini, luar biasa..minuman


ini benar-benar istimewa. Ibu Suri kembali


menyeruput minuman itu, memejamkan mata


untuk meresapinya dan menikmati rasanya.


"Hemm.. panggilkan orang nya..!"


Para pelayan saling pandang dengan wajah


bingung, antara tegang namun juga berharap


sebuah keajaiban terjadi. Raya menarik nafas


dalam-dalam mencoba menenangkan diri dan mengontrol perasaan tegang nya. Dengan


langkah tenang dia maju ke hadapan Ibu Suri.


"Selamat siang Yang Mulya.. mohon maafkan


kelancangan saya.."


Raya berkata dengan suara yang sangat lembut


seraya membungkuk hormat dalam gestur tubuh


yang sangat luwes nan anggun. Terlihat santun


dan halus di sertai aura terang yang senantiasa


terpendar dari sosoknya yang cantik. Mata Madam


Rowena menatap tidak percaya pada apa yang


kini di lihatnya. Wanita cucunya ada di istana ini?


Kenapa cucu nakalnya itu tidak memberitahu


kalau dia akan membawa wanita ini kesini.?


"Kau sekretaris pribadi Putra Mahkota bukan.?"


"Benar Yang Mulya.."


"Sedang apa kau di istana ini.?"


"Sebenarnya saya kurang faham, Yang Mulya


Putera Mahkota yang membawa saya kesini."


"Kurang faham, bukankah tugasmu mengetahui


segala hal menyangkut kegiatan majikan mu.?


Ada apa denganmu Miss sekretaris.?"


Madam Rowena mendelik gerah kearah Raya


sambil menyeruput kembali minuman nya.


"Maaf Yang Mulya.. saya memang banyak


sekali kekurangan."


"Sepertinya posisi sebagai sekretaris pribadi


Putra Mahkota kurang cocok untukmu."


Raya terdiam, hanya bisa menundukan kepala

__ADS_1


karena apa yang di katakan oleh Ibu Suri benar


adanya, apa sebenarnya yang dia kerjakan


sebagai seorang sekretaris.? Justru yang ada


hanya menyusahkan saja.!


"Kau yang membuat minuman ini.?"


"Benar Yang Mulya.."


"Duduklah..!"


Ahh.? Duduk, di depan Ibu Suri, bagaimana ini?


Apa yang di inginkan oleh nenek tua ini ! Raya


masih terdiam dalam kebingungan.


"Miss sekretaris, apa aku harus mengulangi


perintahku.?"


"Maafkan saya Yang Mulya.."


Raya membungkuk sesaat, kemudian bergerak


duduk di hadapan Madam Rowena di saksikan


oleh asisten dan para pelayan pribadi Ibu Suri


yang terlihat sedikit terkejut dengan perintah


yang di lontarkan oleh sang majikan. Dengan


mencoba renang, Raya duduk anggun di depan


Ibu Suri yang terlihat menatapnya lekat. Bibir


keriput itu mengulas senyum tipis.


Ternyata kau sangatlah cantik nona sekretaris.


Kau juga memiliki keistimewaan dalam matamu.


Pantas saja Aaron sampai segila itu padamu..


Madam Rowena membatin masih menatap


lekat wajah Raya yang terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan pakaian adat negara ini.


"Minuman buatanmu cukup enak, aku akui itu."


"Terimakasih Yang Mulya.. saya sedang belajar."


"Berikan aku teh hijau itu.!"


Ibu Suri menunjuk teh hijau dengan isyarat


matanya. Dengan tenang Raya meraih cangkir


teh hijau kemudian mengulurkan ke hadapan


Madam Rowena yang segera menerima nya.


Perlahan dia mulai menyeruput teh itu dengan


sedikit ragu. Namun matanya tampak terkejut


saat mencicip rasanya, ini sangat berbeda dari


teh hijau pada umumnya yang sering dia nikmati.


Raya kembali duduk memberanikan diri untuk


menatap wajah Ibu Suri yang masih menyisakan


raut kecantikan memukau di garis wajahnya.


"Ini sangat enak, kau punya rahasia khusus


untuk meraciknya.?"


"Hanya racikan turun temurun dari keluarga


saya Yang Mulya."


Alis Madam Rowena bertaut, keluarga ? Dia


kembali menyeruput teh hijau itu, menikmati


semua sensasi kesegarannya hingga membuat


wanita tua itu tampak bersemangat.


"Gregory..!"


"Saya Yang Mulya.."


Sang asisten mendekat kearahnya kemudian


membungkuk di samping nya.


"Aku ingin mengajak Miss Raya untuk pergi


ke hutan belakang..!"


Gregory bengong, begitupun semua pelayan


pribadi. Hanya Raya yang tidak mengerti apa-apa.


"Miss Raya.. kita akan berburu rusa kecil di


hutan. Aku sedang bersemangat hari ini.!"


Hahh.. berburu.? Apa dia tidak salah? kenapa


harus mengajak dirinya.?


"Yang Mulya.. apakah saya pantas untuk ikut


bersama dengan anda.?"


"Aku tidak suka di bantah.! Gregory.. cepat bawa


Miss Raya untuk mengganti pakaiannya.!"


Tatapan mata Madam Rowena tampak tajam


tidak mau harus menuruti nya.


"Baik Yang Mulya. Miss Raya.. mari ikut saya."


Akhirnya Raya beranjak, membungkuk sedikit


kearah Madam Rowena kemudian mengekor


langkah Gregory menuju ruang ganti. Madam


Rowena menatap kepergian Raya dengan sorot


mata seksama memperhatikan gerak tubuh


wanita itu untuk memastikan keyakinan nya


akan sesuatu yang berbeda dari tangkapan


mata bathin nya.


***


Rombongan kecil itu kini sudah tiba di belakang


bukit yang ada di sekitar Green Palace.. tempat


ini berupa hutan lindung yang merupakan milik keluarga De Enzo. Dan di hutan lindung ini ada berbagai macam hewan buruan yang biasa di


jadikan objek berburu keluarga kerajaan. Dari


dulu, Madam Rowena sangat menyukai aktivitas


ekstrim yang satu ini. Karena dia adalah seorang


Ratu yang sangat tangguh, memilki kemampuan


di bidang olahraga berat juga kelihaian di bidang


militer yang jarang di miliki oleh kebanyakan


Ratu di dunia, karena Madam Rowena adalah


seorang Warrior Princess..


Raya menatap jauh kearah hutan yang tidak


berupa hutan pada umumnya, karena ini adalah


hutan lindung yang di siapkan khusus sebagai


habitat hewan-hewan peliharaan kerajaan. Dan


di setiap sudut hutan juga di lengkapi oleh


sistem keamanan serta perlindungan canggih.


Mereka pergi bersama beberapa prajurit dan


pengawal pribadi Madam Rowena.


"Ayo Miss Raya.. kita turun.!"


Madam Rowena mendahului turun dari mobil


Jeep khusus kendaraan hutan. Dengan sedikit


ragu akhirnya Raya turun dari mobil. Saat ini dia


sudah berganti kostum yang lebih safety khas


berburu, yang membungkus ketat tubuh indah


nya hingga mampu membuat semua mata para


pelayan dan pengawal langsung terpukau melihat


nya begitu dia keluar dari istana mendampingi Ibu Suri. Pada pandangan pertama saja, semua orang sudah bisa menilai kalau kedua wanita beda usia


itu sangatlah istimewa, tampak menyatu dalam


satu aura yang sama-sama terang.


Turun dari mobil mereka semua berjalan mencari


tempat dan posisi yang strategis untuk mengincar


mangsa yang akan menjadi objek buruan hingga


akhirnya mencapai tempat yang cukup tinggi di


bawah pohon rindang. Mata Raya berbinar indah


menatap hamparan padang Savana terbentang


luas di depan matanya. Dan hal itu tidak luput


dari pengamatan mata jeli Madam Rowena.


Para pengawal pribadi mendampingi Madam


Rowena dan membantu memakai peralatan


berburu nya hingga wanita tua itu tampak


keren dan masih terlihat berwibawa.


"Mohon maaf Yang Mulya.. sungguh saya tidak


tahu menahu soal berburu, bahkan saya belum


pernah memegang alat ini sebelumnya."


Raya terlihat ragu dan sedikit gemetar saat


Gregory mengulurkan seperangkat alat panah


kemudian memasangkan nya di tubuh Raya.


"Kau harus belajar mulai sekarang. Menjadi


pendamping Putra Mahkota tidaklah mudah.


Kau harus menguasai berbagai hal, jangan

__ADS_1


hanya terbatas pada mesin canggih saja, tapi


hal-hal yang berbau fisik pun harus kamu


pelajari Miss Secretary..!"


Raya tertegun dalam diam, apa sebenarnya


yang di inginkan oleh neneknya Aaron ini.?


Wanita ini ternyata sedikit ekstrim. Mata Raya


melebar saat melihat Madam Rowena mulai


mencari posisi membidik sasaran pada seekor


kelinci yang terlihat berlarian di kejauhan.


"Jangan Yang Mulya..! Saya mohon..!"


Raya tiba-tiba memekik sambil menahan tangan


Ibu Suri yang tengah bersiap melesakkan anak


panah pada sasaran. Semua orang terlihat terkejut


dengan wajah tegang dan memucat melihat apa


yang di lakukan oleh Raya, sungguh lancang.!


"Apa yang kau lakukan.? Minggir.!!"


Mata Madam Rowena dan mata sendu indah


Raya kini bertemu, saling menatap mengadu


kekuatan. Keduanya ternyata sama-sama kuat


bahkan tangan Raya masih menahan panahan.


"Jangan kelinci Yang Mulya.. yang lain saja."


Alis Madam Rowena bertaut dalam, ini persis


seperti seorang Aaron, yang tidak pernah tega


kalau harus menjadikan kelinci sebagai hewan


buruan .


"Kenapa ? apa alasanmu.?"


"Kelinci hanyalah binatang lemah Yang Mulya."


Raya melepaskan pegangan tangannya, lalu


membungkuk dengan wajah memerah begitu


menyadari perbuatannya. Mata Madam Rowena


masih menatap lurus wajah cantik Raya yang


terlihat kemerah-merahan, sangat cantik dan


menggemaskan. Semua orang menarik napas


lega, ini sesuatu yang ajaib, Ibu Suri ternyata


tidak bereaksi berlebihan, apalagi murka.


Kau punya hati yang sangat lembut. Tapi itu


tidak cukup istimewa..


Bathin Madam Rowena sambil tersenyum tipis.


Dia kembali memfokuskan matanya pada buruan berikutnya. Dan Raya pun saat ini mulai belajar


fokus setelah Gregory mengajarkan teknik dan


pengunaan serta cara membidik tepat sasaran.


Dia mencoba melesakkan anak panahnya namun


belum mengenai sasaran. Tidak patah arang


Raya kembali mencobanya. Ternyata ini cukup


menyenangkan, dia seolah bisa melepas semua


beban pikiran yang kini sedang merundungnya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa


riang Raya dan Madam Rowena saat keduanya berhasil memanah seekor rusa kecil pada


bidikan dan sasaran yang sama.


"Lumayan Miss Raya..! Lain kali kau harus


belajar berburu memakai senapan..!"


Ujar Madam Rowena dengan senyum tipis dan


wajah yang cukup cerah. Raya terdiam, senapan.? sepertinya itu cukup menantang..tapi terdengar


menyeramkan. Dalam keadaan itu tiba-tiba saja


dari kejauhan terdengar suara gemuruh tembakan


di sertai deru mesin mobil yang semakin lama semakin mendekat.


Semua mata kini mengarah pada kedatangan


beberapa mobil hutan yang melaju kencang


seperti mengejar sesuatu. Mata Raya membulat


begitu melihat sang pengendara mobil yang


paling depan. Sosok tinggi gagah dengan raut


wajah yang terlihat sangat dingin setengah


emosi langsung melompat dari atas mobilnya


kemudian berlari kearah Raya. Detik berikutnya


Raya semakin melebarkan matanya saat sosok


tinggi gagah itu memeluk erat tubuhnya hingga


setengah terangkat.


"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu ku


dulu Maharaya.? Kau mau mencekik leherku.?"


Raya bengong, Madam Rowena terhenyak,


sementara yang lain menganga. Apa ini ??


Tubuh Raya membeku, pelukan sosok itu


semakin terasa kuat hingga Raya meringis


merasakan sedikit sesak nafas.


"Siapa yang memberi kalian izin membawa


nya tanpa sepengetahuan ku.!!"


Bentakan sosok itu terdengar membahana


hingga gema nya memenuhi seluruh hutan.


Madam Rowena masih terlihat tak percaya


dengan apa yang di lihatnya. Benarkah ini


Aaron cucunya.? Sebegitu khawatir nya dia


terhadap sekretaris nya ini.? Luar biasa..!!


"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang


berani membawanya dariku.!"


"Aku yang membawanya kesini Aaron.!!"


Madam Rowena berucap tegas dan tenang


dengan tatapan tajam kearah Aaron yang


tiba-tiba saja membidikkan senjata kearah


Madam Rowena yang langsung membuat


semua orang syok dan menjatuhkan diri.


Putra Mahkota berani menodongkan senjata


ke hadapan Sang Nenek.?? Mata Raya kini


membulat sempurna dengan wajah yang


terlihat pucat pasi bagai kapas.


"Apa yang Grandma inginkan darinya.? Kau


berniat menjauhkannya dariku ?"


Geram Aaron dengan tatapan tajam bagai


elang yang siap memangsa. Bibir Ibu Suri kini


menyeringai tipis, tenang dan santai. Namun


justru Raya yang semakin terlihat kalangkabut.


"Kalau benar aku ingin menyingkirkan nya ,


apa yang akan kau lakukan Putra Mahkota..?"


Aaron menarik pelatuk senjata dengan ujung


jarinya membuat semua orang langsung saja


bersujud memohon agar Aaron tersadar. Air


mata Raya kini meluncur bebas, perlahan dia


meraih wajah Aaron agar berpaling padanya,


kedua mata mereka kini saling menatap.


"Aaron sayang.. tenanglah..Aku tidak apa-apa..


Ibu Suri hanya mengajakku berburu bersama.


Percayalah padaku..semuanya baik-baik saja."


Lirih Raya sambil kemudian berjinjit, mencium


lembut bibir Aaron yang langsung mematung


dan membeku di tempat sekaligus kehilangan


segala daya. Keduanya saling pandang lekat,


tangan Aaron membelai lembut wajah bening


mulus Raya yang di hiasi lelehan air mata.


"Jangan coba-coba untuk pergi dariku..!!"


Bisik Aaron pelan kemudian mencium lembut


kening Raya yang tidak kuasa lagi menahan


segala perasaan nya, dia memeluk erat tubuh


gagah Aaron menumpahkan seluruh air mata,


menangis tersedu di dada bidang pria itu.


Aaron.. kenapa kamu harus membawaku pada kebimbangan rasa ini..? Kenapa kamu harus membuatku tidak bisa mempertahankan


keangkuhan jiwaku..Harusnya aku bertahan


dengan kebencian ku.!! Kau adalah laki-laki


yang telah menghancurkan kehidupan ku...!!

__ADS_1


***


__ADS_2