
Keduanya kini saling menatap kuat dengan
sorot mata yang sama-sama panas. Sedang
Aaron terlihat santai, tatapan nya kini beralih
dan terfokus pada wajah cantik Raya yang
sudah memerah terbakar api cemburu. Ada
seringai tipis di bibir Aaron dengan ekspresi
wajah senang namun tersembunyi.
"Apa maksudmu Miss Maharaya ? Kau hanya
seorang sekretaris.! Tidak punya hak untuk
ikut campur urusan pribadi Putra Mahkota.!"
"Tentu saja saya punya hak Lady. Saya harus
memastikan apa yang baik dan tidak untuk di konsumsi oleh Putra Mahkota."
"Memang apa yang tidak aku ketahui ? Aku ini
calon istri beliau.! Aku sudah mempelajari
segala hal tentang nya.!"
"Kalau begitu harusnya anda tahu bahwa Putra
Mahkota tidak terbiasa makan malam dengan
sesuatu yang terlalu berat Lady..!"
Ucap Raya dengan suara yang sangat tegas
penuh penekanan namun tetap tenang dan
terkendali hingga mampu membuat Catharina
terhenyak tidak percaya. Dia menggeleng kuat
lalu melirik kearah Aaron dengan raut wajah
tidak nyaman dan merasa bersalah.
"Be-benarkah itu..?"
"Itu benar Lady Catharina. Kau harus lebih
mempelajari lagi tentang kebiasaan Putra
Mahkota setelah ini.!"
Kali ini Madam Rowena mengeluarkan suara
sambil kemudian menyeruput teh hijau dengan
santai dan tenang. Catharina tampak memucat.
"Maafkan saya Yang Mulya.. sungguh saya
tidak tahu soal ini."
Lirih Catharina sambil kemudian menunduk
dan memindahkan makanan berat yang tadi
di siapkan nya lalu menggantinya dengan
makanan yang lebih bersifat ringan dan tidak
mengandung karbohidrat atau kalori tinggi.
Aaron terdiam memperhatikan Catharina.
"Sudah.. kita mulai saja makan malamnya.!"
Titah Ibu Suri sambil kembali menikmati makan malamnya dengan tenang, ada seulas senyum
yang lagi-lagi tergurat di sudut bibirnya. Aaron memandang lurus kearah Raya yang terlihat
mulai menikmati makanannya. Raut wajahnya
seketika berubah datar sedikit kesal menyadari
istrinya itu tampak acuh saja dan seakan tidak
peduli pada dirinya. Sialnya lagi dia malah terlihat semakin menggemaskan dengan gaya makannya yang sangat anggun dan mempesona itu.
Akhirnya Aaron pun mulai meneguk minuman
yang ada di depannya. Tidak lama Raya mencuri
pandang kearah Aaron dan Catharina. Rasa
panas yang membakar di dalam hatinya masih
saja terasa melihat mereka duduk berdekatan.
Ke dalam ruangan tiba-tiba muncul Ansel yang
terlihat bengong sesaat melihat keberadaan
Raya di istana ini. Raut wajahnya langsung saja
berubah senang dengan senyum seribu watt.
Dia segera menghampiri Madam Rowena.
"Selamat malam Grandma.."
Sapa nya sambil tanpa ragu merangkul dan
mencium pipi keriput wanita itu penuh kasih
hingga membuat Raya tertegun. Kenapa Ansel
bisa sedekat itu dengan Madam Rowena.?
Sementara cucu kandung nya sendiri malah menodongkan senjata padanya.
"Dasar anak nakal, kenapa baru pulang.?"
Tegur Ibu Suri sambil menepuk bahu Ansel
dengan wajah terlihat cerah. Ansel tersenyum
kecut sambil menggaruk tengkuknya.
"Tentu saja karena aku harus menghandle
semua urusan cucu kesayanganmu itu.!"
Ujar Ansel sambil melirik kearah Aaron yang
terlihat acuh dan datar saja tak bereaksi. Raya
semakin di buat bingung, jadi.. apakah Ansel
juga tinggal di istana ini.? Huuh ini benar-benar
membingungkan dan sedikit mengejutkan.
"Duduklah.! Kau harus segera mengisi perutmu.!"
Titah Ibu Suri sambil menunjuk kursi di sebelah
Raya pada Ansel yang langsung sumringah
dan berjalan menghampiri Raya.
"Selamat malam Lady Catharina."
Ansel menyapa sembari menghadap kearah
Catharina yang tampak berdiri dan tersenyum
lembut kearah nya.
"Selamat malam lord Ansel.."
Sambut Catharina sambil menundukkan
kepala sedikit kemudian duduk kembali.
"Hallo.. Miss Raya.. aku senang melihatmu
ada di sini."
Sapa Ansel sambil kemudian duduk di sebelah
Raya membuat Aaron menajamkan tatapannya
kearah Ansel mengantisipasi kalau-kalau adik
menyebalkan nya itu mencuri kesempatan.
"Maaf karena kau harus repot sendiri."
Sahut Raya sambil tersenyum kearah Ansel dan
untuk sesaat keduanya tampak saling pandang
dalam jarak yang cukup dekat. Madam Rowena mengamati interaksi ketiga orang itu dengan
sedikit menautkan alis. Cinta segitiga yang
sangat rumit.!
"Ini sudah biasa bagiku. Resiko pekerjaan.!
Seharusnya kau memang hanya tinggal duduk
nyaman di rumah, biarkan para pria yang sibuk
di luaran..!"
Ucap Ansel dengan tatapan dan senyum yang
semakin sumringah membuat rahang Aaron
mengeras seketika. Sungguh adik sepupunya
ini minta di kasih satu jurus yang bisa membuat
otaknya lurus kembali.
"Ansel..! Jangan berbasa-basi ! Nikmati saja
makan malam mu.!"
Aaron tidak tahan lagi. Ansel dan Raya kembali
duduk tegak. Ansel menatap sekilas kearah
Aaron sambil mengangkat bahu dan
mendengus pelan.
Akhirnya mereka semua mulai menikmati
makan malam nya dengan tenang. Namun
nampaknya nafsu makan Raya memang sedang terganggu. Dia hanya mencicipi sedikit makanan
yang tidak terlalu berat. Perutnya terasa tidak
nyaman dan kepala nya juga sedikit berat. Aaron mengamati perubahan mood istri nya itu. Dia mengernyitkan alisnya melihat mimik wajah
Raya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
Sebenarnya dia pun sama, tidak berselera pada
semua makanan yang ada di meja makan, dia
lebih menginginkan makanan pedas hasil
buatan istrinya yang super lezat itu..
Madam Rowena mengakhiri makan malamnya.
Dia melirik kearah Ansel dan Raya. Senyum tipis
kini terulas di sudut bibirnya. Dia mengusap
lembut sudut bibirnya dengan serbet putih.
"Seperti yang kita ketahui, dua hari lagi Prince
Marvell dan Lady Catharina akan bertunangan.
Aku harap semuanya akan berjalan dengan
lancar tanpa ada gangguan apapun.!"
Tegas Madam Rowena sambil melirik kearah
Raya yang langsung terlihat pias, bertunangan.?
Iya benar, waktu itu akhirnya akan tiba juga.
Tubuhnya tiba-tiba saja terasa sangat lemas,
dia menundukkan kepala dan meremas jari
tangannya yang kini terasa dingin. Sementara
Aaron menatap perubahan raut wajah Raya
dengan tampang yang semakin dingin.
__ADS_1
"Mungkin ada baiknya setelah itu Ansel juga
memikirkan masa depannya. Dan aku rasa
Miss Raya cukup cocok untuk mendampingi
Ansel ku yang berharga.!"
Uhuk Uhuk..!!
Raya langsung tersedak dan terbatuk-batuk
dengan keras membuat Aaron dan Ansel
tersentak kaget dan panik. Dengan gerakan
cepat Aaron beranjak dari duduknya kemudian
berlari menghampiri Raya, merebut gelas air
putih yang baru saja di ulurkan oleh Ansel, lalu meminumkannya langsung pada Raya seraya menepuk halus pundaknya. Wajah Raya saat ini terlihat merah padam dan berurai air mata.
Catharina dan Madam Rowena tampak menatap
tidak percaya melihat apa yang di lakukan oleh
Aaron dan Ansel. Jelas sekali dua pria itu sangat
cemas melihat kondisi Raya saat ini.
Aaron tampak berjongkok menatap lekat wajah
Raya yang mulai tenang. Dia mengelus lembut
pelipis Raya yang berkeringat dingin, kemudian
merapihkan anak rambut yang jatuh di sekitar
wajah nya yang terlihat kemerahan.
"Apa yang kau rasakan.? Apa ada yang sakit.?"
"Aaron.. tenanglah. Aku tidak apa-apa."
Raya berucap pelan sedikit kesulitan sambil
menggeleng dan menatap wajah Aaron dengan
ekspresi wajah tampak tidak enak pada situasi
ini. Keduanya saling menatap kuat mencoba
untuk meyakinkan diri masing-masing. Aaron
menggengam tangan Raya dan mengecupnya
perlahan membuat Catharina membulatkan
matanya tidak terima.
"Prince Marvell.! apa kau sadar dengan semua
yang kau lakukan ini.? Kau terlalu berlebihan.!
Dia hanyalah sekretaris pribadi mu.!"
Madam Rowena kembali berucap tegas dan
ada sedikit penekanan dalam nada suaranya.
Aaron menegakkan badan, wajahnya mengeras
dengan aura dingin yang kini menyelimuti
seluruh sosoknya.
"Dia bukan hanya sekedar sekretaris pribadiku.
Dia wanita yang sangat penting dalam hidupku
saat ini Yang Mulya Ibu Suri."
"Memangnya siapa dia.? Kau tidak mungkin
berhubungan dengan sembarangan wanita.
Kau ini calon Raja negara xxx.. Aaron Marvell.!"
"Siapapun dia yang jelas saat ini peran nya
sangat penting bagiku Grandma.! Aku tidak
pernah memperdulikan latar belakang dan
kedudukan seseorang. !"
"Hoohh.. begitu rupanya. Tapi satu hal yang
pasti, sepenting apapun wanita itu, urusan
masa depan kerajaan harus menjadi prioritas
utama bagimu Putra Mahkota.!"
"Tapi aku punya tanggung jawab yang lebih
besar padanya.!! "
"Tanggungjawab mu adalah pada rakyat dan
negaramu. Sadarlah Putra Mahkota.! di sini
ada calon istrimu, calon Ratu masa depan.!"
"Aku sudah memberi nya pilihan. Tetap bertahan dengan segala kehormatan tanpa cinta dariku,
atau mundur dengan baik-baik.! Keputusan ada padanya !"
"Putra Mahkota.. semua itu tidak mudah. Ada
banyak pertimbangan yang harus di perhatikan.
Aku tidak bisa egois untuk hal yang satu ini.!"
Kali ini Catharina mengeluarkan suara karena
tidak tahan dengan semua kekisruhan ini. Dia
berdiri dari duduknya menatap tajam kearah
Aaron yang berdiri di samping Raya. Saat ini
Raya tampak memegang kuat tangan Aaron
dengan mata terpejam karena kepalanya yang semakin berat dan perutnya juga semakin
bergejolak.
"Kau hanya tidak ingin nama baik keluargamu
kesempatan untuk menolak ku, itu merupakan
satu kehormatan besar untukmu..!"
"Tapi aku mencintaimu Aaron..! Aku sangat
mencintaimu.!"
"Dan cinta itu tidak akan bisa aku berikan
padamu Catharina.! Pikirkanlah.. Ansel jauh
lebih baik daripada aku, cobalah untuk terbuka.."
Ansel dan Catharina membelalakkan matanya.
Sejak awal Aaron memang sudah mengarahkan
Ansel untuk menjadi penggantinya. Kali ini Ansel
tidak bisa diam lagi, pria menawan itu tampak
berdiri dengan wajah yang sudah memerah.
"Kakak..kau tahu dengan pasti..Aku telah jatuh
cinta pada Raya. Aku akan tetap berharap untuk
bisa memilikinya.!"
Tegas Ansel sambil melirik dan menatap Raya
yang semakin menunduk, lelah dengan semua
perdebatan ini yang hanya membuat kepalanya
semakin pusing saja.
"Mulai sekarang kau harus menghentikan
semua kebodohan itu, karena dia tidak akan
pernah jadi milikmu, dia adalah milikku.!!"
"Kakak..kau tidak boleh egois.! Kau tidak bisa
memiliki mereka berdua.!"
"Ansel..!! Pergi.. antarkan Catharina pulang !"
"Kakak.. Aku mohon..!"
"Aaron..Ansel..sudah, tolong hentikan semua perdebatan tidak penting ini.!"
Akhirnya Raya mengeluarkan suara membuat
kedua pria itu langsung terdiam. Raya berdiri
diantara Aaron dan Ansel.
"Tolong.. jangan hanya karena wanita yang tidak penting sepertiku kalian menjatuhkan harga diri
dan kehormatan di depan semua pelayan dan orang-orang yang ada di sini.!"
Ucap Raya tegas dengan tatapan yang terlihat
sangat tajam dan mengintimidasi. Ibu Suri kini
berdiri, membagi pandangan pada setiap orang.
Semuanya sudah terlihat jelas sekarang, dia
hanya butuh satu hal lagi untuk membuktikan keyakinannya.
"Aku rasa sudah cukup perdebatan ini.! Ansel,
antarkan Lady Catharina pulang dengan
pengawalan ketat.!"
Ansel menarik napas dalam-dalam, kemudian
menunduk di hadapan Madam Rowena.
"Baiklah Grandma.. Lady mari.. saya akan
mengantarkan anda pulang."
Ansel menatap kearah Catharina yang masih
menatap Aaron, kemudian beralih pada Raya.
Gadis itu menarik napas berusaha untuk tetap
tenang dan mengontrol emosinya. Dia meraih
tas mahalnya kemudian menegakkan badan
sambil merapihkan gaunnya.
"Kita akan bertemu dua hari lagi Yang Mulya
Putra Mahkota.! Selamat malam semuanya, terimakasih atas jamuan makan malam yang
sangat spesial ini.!"
Ucapnya dengan suara yang sangat tertekan, lalu
dia membungkuk sopan di hadapan Ibu Suri dan
Aaron, setelah itu berlalu pergi bersama dengan
Ansel dan para asistennya.
"Kalian berdua ikut aku ke ruang kerja.!"
Titah Madam Rowena seraya menatap tajam
wajah Aaron dan Raya. Kemudian berlalu pergi
ke luar ruangan di dampingi asistennya. Raya
dan Aaron saling pandang lekat.
***
"Sekarang apa yang ingin kalian sampaikan.?"
Madam Rowena menatap tajam kedua insan
yang kini berdiri di hadapannya setelah mereka
tiba di dalam ruang kerja. Raya maju sedikit ke hadapan Madam Rowena.
__ADS_1
"Mohon maaf Yang Mulya kalau saya sudah
bertindak lancang. Saya tidak pernah berniat
untuk masuk ke dalam kehidupan Putra.."
"Aaron.. siapa wanita ini sebenarnya ?"
Madam Rowena memotong dan menatap
tajam wajah Raya penuh intimidasi dengan
raut wajah yang kini berubah keras dan serius.
Raya tersentak saat Aaron menarik tubuhnya
dan merangkul pinggangnya posesif.
"Grandma tahu pasti dia seseorang yang
sangat penting bagiku.!"
Desis Aaron sambil mengadu tatap dengan
sang nenek yang terlihat menyeringai tipis
dan mengalihkan pandangannya pada Raya.
"Kau juga tahu pasti, jodoh mu ada di tangan
keluargamu bukan.? Tidak sembarang wanita
bisa berhubungan dengan mu.! "
"Aku tahu yang terbaik untukku.! Dan aku
punya hak untuk menentukan pilihan hatiku
sendiri.!"
"Kau bukanlah pria biasa. Wanita yang akan
menjadi pendamping mu haruslah istimewa.
Bukan wanita biasa-biasa sepertinya.! Jadi aku
minta bebaskan wanita ini, dan lupakan dia. Kembalikan dia pada tempat asalnya.!"
Deg !
Jantung Raya seakan berhenti berdetak saat
ini juga. Tubuhnya langsung goyah. Kepalanya
kini seakan berputar. Tidak, apakah semuanya
akan berakhir sekarang.? Wajah Aaron sontak
saja langsung kelam. Dia mendekap erat tubuh
Raya yang kini limbung.
"Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan
dia pergi dariku ! Dia adalah milikku.!"
"Memangnya siapa wanita itu ? Kenapa kamu
begitu keukeuh mempertahankan nya.?"
"Dia adalah istriku ! Wanita yang aku siapkan
untuk melahirkan keturunan ku.! "
Tubuh Madam Rowena membeku di tempat.
Istrinya.? Tidak, ini di luar dugaan. Ini di luar
prediksi nya. Tenyata wanita ini adalah istri
cucu kurang ajar nya.!! Bukan hanya Madam
Rowena yang terlihat terkejut, Raya pun tidak
kalah terkejutnya. Dia membulatkan matanya
menatap Aaron tidak percaya dengan apa yang
di dengarnya. Tubuhnya kini luruh kehilangan
tenaga.
Dalam gerakan cepat Aaron mengangkat tubuh
Raya ke dalam pangkuannya. Raya melingkarkan tangannya di leher kokoh Aaron. Dia seakan tidak peduli pada apapun lagi, matanya kini terpejam dengan kepala yang tersandar nyaman di dada
bidang suaminya itu.
Madam Rowena terduduk lemas di atas kursi
kebesarannya. Menatap tidak percaya pada
sosok Aaron yang kini berdiri di hadapannya
sambil menggendong tubuh Raya.
"Kapan kalian menikah.? Kenapa kamu tidak
memberitahu ku soal ini.!"
Ibu Suri kembali mengeluarkan suara yang
sedikit tercekat di tenggorokan nya karena
belum bisa mempercayai semua ini.
"Satu bulan lalu. Aku tidak sengaja merampas
kesuciannya karena kehilangan kontrol.!"
"Apa ?? Kau memperkosa nya.?? Jadi wanita
ini korban kekerasan mu.? Aaroonn...!!"
Tiba-tiba saja Madam Rowena berteriak keras
dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian
dalam gerakan cepat dia menodongkan senjata
kearah Aaron yang terlihat berdiri mematung.
Raya ikut tersentak, dia mengangkat kepalanya
dan membulatkan mata begitu melihat Madam
Rowena maju ke hadapan mereka dalam posisi
membidikkan senjata di tangan kanannya kearah
kepala Aaron. Dia bergerak turun dan berdiri di
hadapan Ibu Suri memposisikan dirinya untuk
melindungi Aaron dengan tatapan di penuhi
kecemasan.
"Yang Mulya.. saya mohon tenanglah.! Ini bisa
di bicarakan baik-baik.."
"Minggir kamu ! Seharusnya yang melakukan
hal ini adalah kamu. Dia laki-laki yang sudah
merusak masa depan mu.! Aku tidak pernah
mengajarkannya menjadi seorang pemerkosa.!"
"Tentu saja, hal ini pun sudah lama ingin saya
lakukan.! Tapi Tuhan punya cara tersendiri
untuk mengatur takdir hidup manusia. Saya
mohon turunkan senjata anda Yang Mulya.!
"Hei..Kenapa kamu malah melindungi laki-laki
pemerkosa mu ini Maharaya ? Apa kau sudah
jatuh cinta padanya ?"
Deg !
Jantung Raya bergelombang. Wajahnya kini
memucat. Bukan hanya jantung Raya yang
telah terguncang, jantung Aaron bahkan lebih
tidak karuan lagi, benarkah wanita yang sudah
di renggut kesuciannya ini telah menaruh hati
padanya ? Apakah itu mungkin terjadi.?
"Yang Mulya.. Kalau Tuhan telah berkehendak,
tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
"Baiklah.. itu cukup masuk akal, tapi aku tetap
harus memberikan pelajaran padanya. Dia
sudah merusak kepercayaan ku.!"
Raya menatap tajam senjata di tangan Madam
Rowena dengan gelombang hebat yang kini
bergejolak di dalam jiwanya. Tidak, dia tidak
bisa membiarkan nyawa suaminya terancam.
Sementara Aaron masih terlihat tenang dan
membiarkan Raya larut dalam kepanikannya.
"Aku membencinya Yang Mulya..! Tapi itu
semua tidak ada gunanya saat ini. Semua
kehormatan ku tidak akan pernah kembali.!"
Alis Madam Rowena bertaut melihat ada kilat
hebat yang kini berputar di kedalaman mata
indah cucu menantunya itu. Bibirnya terangkat
sedikit, dia menarik pelatuk senjatanya dalam
satu gerakan cepat membuat Raya semakin
terfokus di terjang kecemasan berlebih.
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk
membalaskan rasa sakit hatimu. Anak kurang
ajar ini layak di beri pelajaran..!!"
"Tidaakk..jangaann...!!"
Raya menjerit histeris saat Madam Rowena
melesakkan tembakan ke arah kepala Aaron.
Ada satu kilat hebat yang keluar dari matanya
dan memutar menyelubungi tubuh Raya yang
mampu mementahkan tembakan tersebut ke
arah yang berbeda dan akhirnya menembus
atap bangunan. Sementara posisi Raya saat
ini mendekap dan memeluk erat tubuh Aaron
sambil berteriak-teriak tiada henti.
"Tidaakk...jangaann..Aku tidak akan bisa
bertahan tanpa kehadirannya..!"
Aaron dan Madam Rowena tampak tercengang.
Mata mereka melongo, tidak percaya dengan
apa yang baru saja di saksikan nya. Mereka benar-
benar menyaksikan sendiri ada sebuah cahaya
terang memancar dari tubuh Raya yang mampu mengurung serta melindungi dirinya dan Aaron
dari serangan tembakan tadi..Ini adalah sesuatu
yang terjadi di luar nalar..
***
__ADS_1
Happy Reading...