Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
66. Jebakan Batman


__ADS_3

Keduanya kini saling menatap kuat dengan


sorot mata yang sama-sama panas. Sedang


Aaron terlihat santai, tatapan nya kini beralih


dan terfokus pada wajah cantik Raya yang


sudah memerah terbakar api cemburu. Ada


seringai tipis di bibir Aaron dengan ekspresi


wajah senang namun tersembunyi.


"Apa maksudmu Miss Maharaya ? Kau hanya


seorang sekretaris.! Tidak punya hak untuk


ikut campur urusan pribadi Putra Mahkota.!"


"Tentu saja saya punya hak Lady. Saya harus


memastikan apa yang baik dan tidak untuk di konsumsi oleh Putra Mahkota."


"Memang apa yang tidak aku ketahui ? Aku ini


calon istri beliau.! Aku sudah mempelajari


segala hal tentang nya.!"


"Kalau begitu harusnya anda tahu bahwa Putra


Mahkota tidak terbiasa makan malam dengan


sesuatu yang terlalu berat Lady..!"


Ucap Raya dengan suara yang sangat tegas


penuh penekanan namun tetap tenang dan


terkendali hingga mampu membuat Catharina


terhenyak tidak percaya. Dia menggeleng kuat


lalu melirik kearah Aaron dengan raut wajah


tidak nyaman dan merasa bersalah.


"Be-benarkah itu..?"


"Itu benar Lady Catharina. Kau harus lebih


mempelajari lagi tentang kebiasaan Putra


Mahkota setelah ini.!"


Kali ini Madam Rowena mengeluarkan suara


sambil kemudian menyeruput teh hijau dengan


santai dan tenang. Catharina tampak memucat.


"Maafkan saya Yang Mulya.. sungguh saya


tidak tahu soal ini."


Lirih Catharina sambil kemudian menunduk


dan memindahkan makanan berat yang tadi


di siapkan nya lalu menggantinya dengan


makanan yang lebih bersifat ringan dan tidak


mengandung karbohidrat atau kalori tinggi.


Aaron terdiam memperhatikan Catharina.


"Sudah.. kita mulai saja makan malamnya.!"


Titah Ibu Suri sambil kembali menikmati makan malamnya dengan tenang, ada seulas senyum


yang lagi-lagi tergurat di sudut bibirnya. Aaron memandang lurus kearah Raya yang terlihat


mulai menikmati makanannya. Raut wajahnya


seketika berubah datar sedikit kesal menyadari


istrinya itu tampak acuh saja dan seakan tidak


peduli pada dirinya. Sialnya lagi dia malah terlihat semakin menggemaskan dengan gaya makannya yang sangat anggun dan mempesona itu.


Akhirnya Aaron pun mulai meneguk minuman


yang ada di depannya. Tidak lama Raya mencuri


pandang kearah Aaron dan Catharina. Rasa


panas yang membakar di dalam hatinya masih


saja terasa melihat mereka duduk berdekatan.


Ke dalam ruangan tiba-tiba muncul Ansel yang


terlihat bengong sesaat melihat keberadaan


Raya di istana ini. Raut wajahnya langsung saja


berubah senang dengan senyum seribu watt.


Dia segera menghampiri Madam Rowena.


"Selamat malam Grandma.."


Sapa nya sambil tanpa ragu merangkul dan


mencium pipi keriput wanita itu penuh kasih


hingga membuat Raya tertegun. Kenapa Ansel


bisa sedekat itu dengan Madam Rowena.?


Sementara cucu kandung nya sendiri malah menodongkan senjata padanya.


"Dasar anak nakal, kenapa baru pulang.?"


Tegur Ibu Suri sambil menepuk bahu Ansel


dengan wajah terlihat cerah. Ansel tersenyum


kecut sambil menggaruk tengkuknya.


"Tentu saja karena aku harus menghandle


semua urusan cucu kesayanganmu itu.!"


Ujar Ansel sambil melirik kearah Aaron yang


terlihat acuh dan datar saja tak bereaksi. Raya


semakin di buat bingung, jadi.. apakah Ansel


juga tinggal di istana ini.? Huuh ini benar-benar


membingungkan dan sedikit mengejutkan.


"Duduklah.! Kau harus segera mengisi perutmu.!"


Titah Ibu Suri sambil menunjuk kursi di sebelah


Raya pada Ansel yang langsung sumringah


dan berjalan menghampiri Raya.


"Selamat malam Lady Catharina."


Ansel menyapa sembari menghadap kearah


Catharina yang tampak berdiri dan tersenyum


lembut kearah nya.


"Selamat malam lord Ansel.."


Sambut Catharina sambil menundukkan


kepala sedikit kemudian duduk kembali.


"Hallo.. Miss Raya.. aku senang melihatmu


ada di sini."


Sapa Ansel sambil kemudian duduk di sebelah


Raya membuat Aaron menajamkan tatapannya


kearah Ansel mengantisipasi kalau-kalau adik


menyebalkan nya itu mencuri kesempatan.


"Maaf karena kau harus repot sendiri."


Sahut Raya sambil tersenyum kearah Ansel dan


untuk sesaat keduanya tampak saling pandang


dalam jarak yang cukup dekat. Madam Rowena mengamati interaksi ketiga orang itu dengan


sedikit menautkan alis. Cinta segitiga yang


sangat rumit.!


"Ini sudah biasa bagiku. Resiko pekerjaan.!


Seharusnya kau memang hanya tinggal duduk


nyaman di rumah, biarkan para pria yang sibuk


di luaran..!"


Ucap Ansel dengan tatapan dan senyum yang


semakin sumringah membuat rahang Aaron


mengeras seketika. Sungguh adik sepupunya


ini minta di kasih satu jurus yang bisa membuat


otaknya lurus kembali.


"Ansel..! Jangan berbasa-basi ! Nikmati saja


makan malam mu.!"


Aaron tidak tahan lagi. Ansel dan Raya kembali


duduk tegak. Ansel menatap sekilas kearah


Aaron sambil mengangkat bahu dan


mendengus pelan.


Akhirnya mereka semua mulai menikmati


makan malam nya dengan tenang. Namun


nampaknya nafsu makan Raya memang sedang terganggu. Dia hanya mencicipi sedikit makanan


yang tidak terlalu berat. Perutnya terasa tidak


nyaman dan kepala nya juga sedikit berat. Aaron mengamati perubahan mood istri nya itu. Dia mengernyitkan alisnya melihat mimik wajah


Raya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.


Sebenarnya dia pun sama, tidak berselera pada


semua makanan yang ada di meja makan, dia


lebih menginginkan makanan pedas hasil


buatan istrinya yang super lezat itu..


Madam Rowena mengakhiri makan malamnya.


Dia melirik kearah Ansel dan Raya. Senyum tipis


kini terulas di sudut bibirnya. Dia mengusap


lembut sudut bibirnya dengan serbet putih.


"Seperti yang kita ketahui, dua hari lagi Prince


Marvell dan Lady Catharina akan bertunangan.


Aku harap semuanya akan berjalan dengan


lancar tanpa ada gangguan apapun.!"


Tegas Madam Rowena sambil melirik kearah


Raya yang langsung terlihat pias, bertunangan.?


Iya benar, waktu itu akhirnya akan tiba juga.


Tubuhnya tiba-tiba saja terasa sangat lemas,


dia menundukkan kepala dan meremas jari


tangannya yang kini terasa dingin. Sementara


Aaron menatap perubahan raut wajah Raya


dengan tampang yang semakin dingin.

__ADS_1


"Mungkin ada baiknya setelah itu Ansel juga


memikirkan masa depannya. Dan aku rasa


Miss Raya cukup cocok untuk mendampingi


Ansel ku yang berharga.!"


Uhuk Uhuk..!!


Raya langsung tersedak dan terbatuk-batuk


dengan keras membuat Aaron dan Ansel


tersentak kaget dan panik. Dengan gerakan


cepat Aaron beranjak dari duduknya kemudian


berlari menghampiri Raya, merebut gelas air


putih yang baru saja di ulurkan oleh Ansel, lalu meminumkannya langsung pada Raya seraya menepuk halus pundaknya. Wajah Raya saat ini terlihat merah padam dan berurai air mata.


Catharina dan Madam Rowena tampak menatap


tidak percaya melihat apa yang di lakukan oleh


Aaron dan Ansel. Jelas sekali dua pria itu sangat


cemas melihat kondisi Raya saat ini.


Aaron tampak berjongkok menatap lekat wajah


Raya yang mulai tenang. Dia mengelus lembut


pelipis Raya yang berkeringat dingin, kemudian


merapihkan anak rambut yang jatuh di sekitar


wajah nya yang terlihat kemerahan.


"Apa yang kau rasakan.? Apa ada yang sakit.?"


"Aaron.. tenanglah. Aku tidak apa-apa."


Raya berucap pelan sedikit kesulitan sambil


menggeleng dan menatap wajah Aaron dengan


ekspresi wajah tampak tidak enak pada situasi


ini. Keduanya saling menatap kuat mencoba


untuk meyakinkan diri masing-masing. Aaron


menggengam tangan Raya dan mengecupnya


perlahan membuat Catharina membulatkan


matanya tidak terima.


"Prince Marvell.! apa kau sadar dengan semua


yang kau lakukan ini.? Kau terlalu berlebihan.!


Dia hanyalah sekretaris pribadi mu.!"


Madam Rowena kembali berucap tegas dan


ada sedikit penekanan dalam nada suaranya.


Aaron menegakkan badan, wajahnya mengeras


dengan aura dingin yang kini menyelimuti


seluruh sosoknya.


"Dia bukan hanya sekedar sekretaris pribadiku.


Dia wanita yang sangat penting dalam hidupku


saat ini Yang Mulya Ibu Suri."


"Memangnya siapa dia.? Kau tidak mungkin


berhubungan dengan sembarangan wanita.


Kau ini calon Raja negara xxx.. Aaron Marvell.!"


"Siapapun dia yang jelas saat ini peran nya


sangat penting bagiku Grandma.! Aku tidak


pernah memperdulikan latar belakang dan


kedudukan seseorang. !"


"Hoohh.. begitu rupanya. Tapi satu hal yang


pasti, sepenting apapun wanita itu, urusan


masa depan kerajaan harus menjadi prioritas


utama bagimu Putra Mahkota.!"


"Tapi aku punya tanggung jawab yang lebih


besar padanya.!! "


"Tanggungjawab mu adalah pada rakyat dan


negaramu. Sadarlah Putra Mahkota.! di sini


ada calon istrimu, calon Ratu masa depan.!"


"Aku sudah memberi nya pilihan. Tetap bertahan dengan segala kehormatan tanpa cinta dariku,


atau mundur dengan baik-baik.! Keputusan ada padanya !"


"Putra Mahkota.. semua itu tidak mudah. Ada


banyak pertimbangan yang harus di perhatikan.


Aku tidak bisa egois untuk hal yang satu ini.!"


Kali ini Catharina mengeluarkan suara karena


tidak tahan dengan semua kekisruhan ini. Dia


berdiri dari duduknya menatap tajam kearah


Aaron yang berdiri di samping Raya. Saat ini


Raya tampak memegang kuat tangan Aaron


dengan mata terpejam karena kepalanya yang semakin berat dan perutnya juga semakin


bergejolak.


"Kau hanya tidak ingin nama baik keluargamu


kesempatan untuk menolak ku, itu merupakan


satu kehormatan besar untukmu..!"


"Tapi aku mencintaimu Aaron..! Aku sangat


mencintaimu.!"


"Dan cinta itu tidak akan bisa aku berikan


padamu Catharina.! Pikirkanlah.. Ansel jauh


lebih baik daripada aku, cobalah untuk terbuka.."


Ansel dan Catharina membelalakkan matanya.


Sejak awal Aaron memang sudah mengarahkan


Ansel untuk menjadi penggantinya. Kali ini Ansel


tidak bisa diam lagi, pria menawan itu tampak


berdiri dengan wajah yang sudah memerah.


"Kakak..kau tahu dengan pasti..Aku telah jatuh


cinta pada Raya. Aku akan tetap berharap untuk


bisa memilikinya.!"


Tegas Ansel sambil melirik dan menatap Raya


yang semakin menunduk, lelah dengan semua


perdebatan ini yang hanya membuat kepalanya


semakin pusing saja.


"Mulai sekarang kau harus menghentikan


semua kebodohan itu, karena dia tidak akan


pernah jadi milikmu, dia adalah milikku.!!"


"Kakak..kau tidak boleh egois.! Kau tidak bisa


memiliki mereka berdua.!"


"Ansel..!! Pergi.. antarkan Catharina pulang !"


"Kakak.. Aku mohon..!"


"Aaron..Ansel..sudah, tolong hentikan semua perdebatan tidak penting ini.!"


Akhirnya Raya mengeluarkan suara membuat


kedua pria itu langsung terdiam. Raya berdiri


diantara Aaron dan Ansel.


"Tolong.. jangan hanya karena wanita yang tidak penting sepertiku kalian menjatuhkan harga diri


dan kehormatan di depan semua pelayan dan orang-orang yang ada di sini.!"


Ucap Raya tegas dengan tatapan yang terlihat


sangat tajam dan mengintimidasi. Ibu Suri kini


berdiri, membagi pandangan pada setiap orang.


Semuanya sudah terlihat jelas sekarang, dia


hanya butuh satu hal lagi untuk membuktikan keyakinannya.


"Aku rasa sudah cukup perdebatan ini.! Ansel,


antarkan Lady Catharina pulang dengan


pengawalan ketat.!"


Ansel menarik napas dalam-dalam, kemudian


menunduk di hadapan Madam Rowena.


"Baiklah Grandma.. Lady mari.. saya akan


mengantarkan anda pulang."


Ansel menatap kearah Catharina yang masih


menatap Aaron, kemudian beralih pada Raya.


Gadis itu menarik napas berusaha untuk tetap


tenang dan mengontrol emosinya. Dia meraih


tas mahalnya kemudian menegakkan badan


sambil merapihkan gaunnya.


"Kita akan bertemu dua hari lagi Yang Mulya


Putra Mahkota.! Selamat malam semuanya, terimakasih atas jamuan makan malam yang


sangat spesial ini.!"


Ucapnya dengan suara yang sangat tertekan, lalu


dia membungkuk sopan di hadapan Ibu Suri dan


Aaron, setelah itu berlalu pergi bersama dengan


Ansel dan para asistennya.


"Kalian berdua ikut aku ke ruang kerja.!"


Titah Madam Rowena seraya menatap tajam


wajah Aaron dan Raya. Kemudian berlalu pergi


ke luar ruangan di dampingi asistennya. Raya


dan Aaron saling pandang lekat.


***


"Sekarang apa yang ingin kalian sampaikan.?"


Madam Rowena menatap tajam kedua insan


yang kini berdiri di hadapannya setelah mereka


tiba di dalam ruang kerja. Raya maju sedikit ke hadapan Madam Rowena.

__ADS_1


"Mohon maaf Yang Mulya kalau saya sudah


bertindak lancang. Saya tidak pernah berniat


untuk masuk ke dalam kehidupan Putra.."


"Aaron.. siapa wanita ini sebenarnya ?"


Madam Rowena memotong dan menatap


tajam wajah Raya penuh intimidasi dengan


raut wajah yang kini berubah keras dan serius.


Raya tersentak saat Aaron menarik tubuhnya


dan merangkul pinggangnya posesif.


"Grandma tahu pasti dia seseorang yang


sangat penting bagiku.!"


Desis Aaron sambil mengadu tatap dengan


sang nenek yang terlihat menyeringai tipis


dan mengalihkan pandangannya pada Raya.


"Kau juga tahu pasti, jodoh mu ada di tangan


keluargamu bukan.? Tidak sembarang wanita


bisa berhubungan dengan mu.! "


"Aku tahu yang terbaik untukku.! Dan aku


punya hak untuk menentukan pilihan hatiku


sendiri.!"


"Kau bukanlah pria biasa. Wanita yang akan


menjadi pendamping mu haruslah istimewa.


Bukan wanita biasa-biasa sepertinya.! Jadi aku


minta bebaskan wanita ini, dan lupakan dia. Kembalikan dia pada tempat asalnya.!"


Deg !


Jantung Raya seakan berhenti berdetak saat


ini juga. Tubuhnya langsung goyah. Kepalanya


kini seakan berputar. Tidak, apakah semuanya


akan berakhir sekarang.? Wajah Aaron sontak


saja langsung kelam. Dia mendekap erat tubuh


Raya yang kini limbung.


"Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan


dia pergi dariku ! Dia adalah milikku.!"


"Memangnya siapa wanita itu ? Kenapa kamu


begitu keukeuh mempertahankan nya.?"


"Dia adalah istriku ! Wanita yang aku siapkan


untuk melahirkan keturunan ku.! "


Tubuh Madam Rowena membeku di tempat.


Istrinya.? Tidak, ini di luar dugaan. Ini di luar


prediksi nya. Tenyata wanita ini adalah istri


cucu kurang ajar nya.!! Bukan hanya Madam


Rowena yang terlihat terkejut, Raya pun tidak


kalah terkejutnya. Dia membulatkan matanya


menatap Aaron tidak percaya dengan apa yang


di dengarnya. Tubuhnya kini luruh kehilangan


tenaga.


Dalam gerakan cepat Aaron mengangkat tubuh


Raya ke dalam pangkuannya. Raya melingkarkan tangannya di leher kokoh Aaron. Dia seakan tidak peduli pada apapun lagi, matanya kini terpejam dengan kepala yang tersandar nyaman di dada


bidang suaminya itu.


Madam Rowena terduduk lemas di atas kursi


kebesarannya. Menatap tidak percaya pada


sosok Aaron yang kini berdiri di hadapannya


sambil menggendong tubuh Raya.


"Kapan kalian menikah.? Kenapa kamu tidak


memberitahu ku soal ini.!"


Ibu Suri kembali mengeluarkan suara yang


sedikit tercekat di tenggorokan nya karena


belum bisa mempercayai semua ini.


"Satu bulan lalu. Aku tidak sengaja merampas


kesuciannya karena kehilangan kontrol.!"


"Apa ?? Kau memperkosa nya.?? Jadi wanita


ini korban kekerasan mu.? Aaroonn...!!"


Tiba-tiba saja Madam Rowena berteriak keras


dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian


dalam gerakan cepat dia menodongkan senjata


kearah Aaron yang terlihat berdiri mematung.


Raya ikut tersentak, dia mengangkat kepalanya


dan membulatkan mata begitu melihat Madam


Rowena maju ke hadapan mereka dalam posisi


membidikkan senjata di tangan kanannya kearah


kepala Aaron. Dia bergerak turun dan berdiri di


hadapan Ibu Suri memposisikan dirinya untuk


melindungi Aaron dengan tatapan di penuhi


kecemasan.


"Yang Mulya.. saya mohon tenanglah.! Ini bisa


di bicarakan baik-baik.."


"Minggir kamu ! Seharusnya yang melakukan


hal ini adalah kamu. Dia laki-laki yang sudah


merusak masa depan mu.! Aku tidak pernah


mengajarkannya menjadi seorang pemerkosa.!"


"Tentu saja, hal ini pun sudah lama ingin saya


lakukan.! Tapi Tuhan punya cara tersendiri


untuk mengatur takdir hidup manusia. Saya


mohon turunkan senjata anda Yang Mulya.!


"Hei..Kenapa kamu malah melindungi laki-laki


pemerkosa mu ini Maharaya ? Apa kau sudah


jatuh cinta padanya ?"


Deg !


Jantung Raya bergelombang. Wajahnya kini


memucat. Bukan hanya jantung Raya yang


telah terguncang, jantung Aaron bahkan lebih


tidak karuan lagi, benarkah wanita yang sudah


di renggut kesuciannya ini telah menaruh hati


padanya ? Apakah itu mungkin terjadi.?


"Yang Mulya.. Kalau Tuhan telah berkehendak,


tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."


"Baiklah.. itu cukup masuk akal, tapi aku tetap


harus memberikan pelajaran padanya. Dia


sudah merusak kepercayaan ku.!"


Raya menatap tajam senjata di tangan Madam


Rowena dengan gelombang hebat yang kini


bergejolak di dalam jiwanya. Tidak, dia tidak


bisa membiarkan nyawa suaminya terancam.


Sementara Aaron masih terlihat tenang dan


membiarkan Raya larut dalam kepanikannya.


"Aku membencinya Yang Mulya..! Tapi itu


semua tidak ada gunanya saat ini. Semua


kehormatan ku tidak akan pernah kembali.!"


Alis Madam Rowena bertaut melihat ada kilat


hebat yang kini berputar di kedalaman mata


indah cucu menantunya itu. Bibirnya terangkat


sedikit, dia menarik pelatuk senjatanya dalam


satu gerakan cepat membuat Raya semakin


terfokus di terjang kecemasan berlebih.


"Kalau begitu aku akan membantumu untuk


membalaskan rasa sakit hatimu. Anak kurang


ajar ini layak di beri pelajaran..!!"


"Tidaakk..jangaann...!!"


Raya menjerit histeris saat Madam Rowena


melesakkan tembakan ke arah kepala Aaron.


Ada satu kilat hebat yang keluar dari matanya


dan memutar menyelubungi tubuh Raya yang


mampu mementahkan tembakan tersebut ke


arah yang berbeda dan akhirnya menembus


atap bangunan. Sementara posisi Raya saat


ini mendekap dan memeluk erat tubuh Aaron


sambil berteriak-teriak tiada henti.


"Tidaakk...jangaann..Aku tidak akan bisa


bertahan tanpa kehadirannya..!"


Aaron dan Madam Rowena tampak tercengang.


Mata mereka melongo, tidak percaya dengan


apa yang baru saja di saksikan nya. Mereka benar-


benar menyaksikan sendiri ada sebuah cahaya


terang memancar dari tubuh Raya yang mampu mengurung serta melindungi dirinya dan Aaron


dari serangan tembakan tadi..Ini adalah sesuatu


yang terjadi di luar nalar..


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2