Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
23. Jet Pribadi


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron membawa Raya masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di kabin khusus dan harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk masuk


ke dalam ruangan ini yang terlihat sangat luas


dengan desain interior setaraf kamar hotel


bintang lima. Sangat mewah dan menakjubkan.


Raya hanya bisa menganga takjub begitu dia


masuk ke dalam kamar tersebut. Bagaimana


bisa di dalam pesawat ada fasilitas kamar


semewah ni.? Dengan tenang Aaron berjalan


kearah tempat tidur besar di tengah ruangan.


Raya menegang saat Aaron merebahkan


tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berusaha


untuk bangkit dan beringsut dengan tatapan


tajam penuh antisipasi terhadap gerakan


Aaron yang kini menatapnya dengan sorot


mata aneh, layaknya predator yang bersiap


untuk menerkam mangsanya. Aaron naik


keatas tempat tidur membuat Raya mulai


di serang kepanikan.


"Bisakah kamu meninggalkan ku sendiri.?"


Raya mencoba mengalihkan perhatian pria


itu yang kini sudah mulai mengurung nya.


Lututnya bertumpu di kedua sisi kaki Raya,


berusaha menghimpit nya membuat Raya


semakin panik berusaha untuk keluar.


"Kenapa.? Kau mencoba menghindari ku.?"


"Aku ingin membersihkan diriku. Kumohon


biarkan aku sendiri.!"


"Kau tidak perlu melakukannya. Tubuhmu


tidak butuh di bersihkan, kau sudah wangi."


Bisik Aaron dengan suara serak di telinga


Raya yang semakin mengkerut ketakutan


melihat gelagat Aaron yang mendekatkan


wajahnya. Raya memundurkan badannya


hingga kini mentok di ujung tempat tidur.


"Aku mohon.. keluarlah dari sini.! Aku ingin


sendirian sekarang."


Seringai tipis terulas di sudut bibir Aaron


dengan tatapan yang semakin mengunci


bibir sensual Raya yang begitu menggoda.


"Ini adalah malam pertama kita Nona Raya.!"


Wajah Raya pucat pasi seketika. Tubuhnya


semakin menegang setengah menggigil.


Aaron menautkan alisnya, dia menyadari


benar kalau wanita ini begitu ketakutan.


Trauma nya lumayan parah, dan dia tidak


bisa membiarkan hal ini terus berlanjut.


"Berikan dirimu padaku malam ini.!"


"Tidak ! Kau tidak boleh menyentuhku.!


Kita menikah bukan atas dasar cinta dan


keinginan.Aku terpaksa menikah denganmu.!"


Raya kalap, dia memekik panik saat Aaron


semakin mendekat. Tangannya menyilang


di dada berusaha memeluk dirinya sendiri.


Aaron terdiam, tatapan matanya kini semakin menghujam wajah Raya yang terlihat jelas


ketakutan dan berada dalam trauma yang


cukup mendalam. Jemari tangan Aaron


bergerak mencengkram dagu Raya dengan


kuat, kedua mata mereka beradu dalam


kekerasan hati masing-masing.


"Tentu saja.! Aku juga terpaksa menikahimu.!


Apa kau pikir aku menginginkan mu ? "


Tatapan Aaron semakin dalam, dia menarik


wajah Raya yang meringis agar mendekat.


Tangan Raya kini mencoba menepis lengan


pria itu yang sudah semakin menyakitinya.


Wajah Aaron semakin mendekat hingga


bibir mereka hampir bersentuhan.


"A-Aaron..apa maumu.? Lepaskan aku.!"


Tubuh Aaron membeku seketika mendengar


Raya memanggil namanya. Wajahnya langsung


dipenuhi reaksi aneh. Jiwanya seolah sedang


melayang, kenapa dia merasa panggilan itu


terdengar sangat syahdu di telinganya, suara


panggilan itu sama persis seperti suara


seseorang yang selalu di rindukan nya.


Mata Aaron kini menerawang jauh.


"Mayra.."


Tanpa sadar Aaron menggumamkan nama


itu membuat Raya terkesiap, dia menautkan


alisnya. Sudah dua kali dia mendengar laki-


laki ini menyebut nama itu di hadapannya.


Mayra.? Mungkin kah istrinya raja bisnis itu


seseorang yang sangat spesial bagi pria ini.?


Raya mendorong keras dada Aaron, dengan


cepat dia menjauhkan dirinya dari jangkauan


pria itu kemudian turun dari tempat tidur.


Aneh, dia sudah tidak merasakan sakit lagi


di kakinya. Melihat pria itu masih terdiam


dalam kebisuan Raya bergegas masuk ke


dalam kamar mandi yang ada di sudut


ruangan kamar pribadi tersebut.


Saat masuk ke dalam kamar mandi, lagi-lagi


Raya di buat takjub dengan segala fasilitas


lengkap dan canggih yang ada di tempat itu.


Ini benar-benar tidak masuk akal. Sekaya apa


sih sebenarnya pria jahat itu.? Kenapa semua


kemewahan ini melekat dalam hidupnya.!


Raya berusaha melupakan sejenak segala


masalah yang sedang di hadapinya dengan


mencoba memanjakan dirinya, berendam di

__ADS_1


dalam bak whirpool yang tersedia di sana.


Dia ingin merilekskan tubuh nya dari segala


kepenatan yang di rasakannya seharian.


Sementara Aaron tampak duduk di pinggir


tempat tidur sambil memegangi kepalanya.


Lagi.. ingatannya kini kembali tertuju pada


wanita itu yang sedang berusaha untuk di


lupakan nya, tapi kenapa rasanya sulit sekali.


Aaron sadar, memang tidak akan mudah


untuk melupakan nya, karena dia merupakan


wanita pertama yang mengenalkan nya pada


cinta. Perlahan Aaron membuka ponsel nya,


menatap tenang gambar Mayra yang sedang


berada dalam pelukannya di tengah hutan


pada peristiwa terakhir di pulau pribadi.


Setengah jam kemudian Raya keluar dari kamar mandi, hanya mengenakkan bathrobe saja.


Rambut nya di gulung tinggi hingga leher


jenjang nya yang indah kini terpampang jelas


tanpa penghalang. Begitu membuka pintu


kamar mandi tubuh Raya kembali membeku


saat matanya beradu langsung dengan mata


Aaron yang baru saja beranjak dari duduknya.


Keduanya terlihat saling menatap terkejut.


Kenapa laki-laki itu masih ada di sini.?? Saat


tatapan Aaron mulai berubah panas secepat


kilat Raya kembali masuk ke dalam kamar


mandi dengan membanting pintu nya keras.


"Kenapa kamu masih di sini.? Cepat keluar..??"


Teriak Raya membahana di telan kekesalan.


Wajah Aaron berubah, bibirnya kali ini benar-


benar tersenyum, dia tergelak sendiri melihat


reaksi paranoid Raya yang berlebihan. Dengan


santai dia keluar dari dalam kamar, bibirnya


masih tampak terangkat saat turun ke ruang


bawah membuat Alex dan para awak kabin


melongo, tidak percaya melihat keajaiban


yang terjadi di depan mata mereka tersebut.


"Siapkan makan malam sekarang juga.!"


Titahnya pada para pramugari yang rata-rata


berpenampilan tomboy dan maskulin. Aaron


memang tidak suka bersinggungan dengan


yang namanya wanita dalam segala kegiatan sehari-hari nya kecuali wanita itu adalah orang


yang berprinsip, profesional dan berdedikasi


tinggi pada pekerjaannya.


"Baik Yang Mulya..!"


Para pramugari itu langsung membungkuk


kemudian berlalu ke belakang. Aaron duduk


tenang di ruangan pribadi nya yang berada


di dekat ruangan cockpit . Ruangan ini


terlihat sangat mewah dan canggih serta


memiliki sistem komunikasi langsung


untuk pertemuan bisnis ataupun hal yang


urusannya di dunia bawah tanah.


Tidak lama Alex muncul ke dalam ruangan


itu kemudian berdiri membungkuk di depan


Aaron yang sedang duduk tumpang kaki


melakukan komunikasi dengan Ansel.


"Tuan.. semua perlengkapan ibadah anda


sudah saya siapkan."


Aaron menatap Alex dengan raut wajah yang


terlihat sangat antusias. Dia segera berdiri,


kemudian berlalu pergi menuju satu ruangan


khusus yang merupakan kamar tamu. Malam


ini Aaron mulai menjalankan kewajibannya


sebagai seorang mualaf. Dengan khusyuk


dia menjalankan ibadah sholat isya dan


melantunkan doa untuk segala kebaikan


hidupnya ke depan. Sudah lama dia berniat


meninggalkan semua urusan dunia hitam


dan mulai memperbaiki diri kearah yang lebih


baik. Karena bagaimanapun dirinya berusaha


untuk lari dari kenyataan, tetap saja fakta


bahwa dirinya seseorang yang mempunyai


gelar sebagai putra mahkota tidak akan bisa


di ubah lagi. Dia adalah seseorang yang


akan memegang tahta suatu hari nanti.


Selesai menjalankan kewajibannya, Aaron


bersama dua orang pramugari kembali ke


kamar pribadi dengan membawa makan


malam buat Raya.


Mata Aaron menatap datar kearah Raya yang


saat ini sudah meringkuk nyaman, tertidur


pulas di atas sofa yang ada di dekat jendela.


Aaron menepiskan tangan nya memberi isyarat


pada pramugari untuk membawa kembali makanannya. Dia berjalan kearah sofa,


menatap tenang wajah super cantik itu yang


terlihat sangat tenang saat sedang tertidur


seperti ini. Berbeda jauh saat dia dalam


keadaan sadar, juteknya minta ampun, dan


tatapan kebencian nya itu selalu membuat


Aaron merasa sesak napas.


"Kenapa kamu harus hadir di jalanku. Kau


tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.!


Kamu memaksaku mengambil jalan ini !"


Desis Aaron sambil kemudian meraih tubuh


ramping Raya ke dalam pangkuannya, lalu


berjalan ke arah tempat tidur. Perlahan dia


mulai membaringkan tubuh halus lembut


itu di atas tempat tidur. Untuk sesaat Aaron


tidak bisa melepaskan matanya dari sosok


molek itu, kilasan ingatan tentang malam

__ADS_1


panas itu kembali melintas dalam pikirannya.


Masih terasa begitu nyata bagaimana wanita


ini mampu memberinya sesuatu yang sangat


berbeda, begitu dahsyat dan luar biasa. Karena


itulah Aaron tidak bisa melepaskan wanita ini


begitu saja. Aaron tahu, wanita ini adalah sosok langka, dia adalah satu dari 4 wanita yang ada


di dunia yang memiliki keistimewaan itu, akan


sangat berbahaya kalau ada yang tahu soal itu.


Tidak sembarang laki-laki yang bisa bertahan


bila sudah berada dalam cengkeraman gairah


wanita ini. Kalau tidak mampu bertahan


bisa-bisa laki-laki itu meregang nyawa saat


mencoba mencari kenikmatan dari tubuhnya.


Aaron menarik selimut, menutupi setengah


tubuh Raya agar lebih nyaman. Dia kembali


menatapnya sebentar. Tidak, dia tidak boleh


terlalu lama berada di ruangan ini bersama


dengan mahluk cantik ini kalau tidak ingin


tenggelam dalam jeratan sihir daya tariknya.


Aaron segera melangkah keluar dari dalam


kamar pribadinya meninggalkan Raya yang


semakin terlelap dalam tidur nyenyak nya.


***


Beberapa jam kemudian...


Turun dari pesawat pribadi Aaron membawa


Raya menaiki mobil mewah yang sudah ada


dan bersiaga setengah jam sebelum nya di


bandara. Tidak ada pembicaraan diantara


mereka selama di perjalanan. Raya memilih


kembali memejamkan matanya daripada


harus berinteraksi tidak jelas dengan lelaki


menyebalkan itu. Sementara Aaron tampak


sibuk membuka tablet saat beberapa file


laporan masuk kesana. 3 jaringan keamanan


yang selama ini sudah di bentuknya secara


bersamaan memberikan laporan tentang


situasi terkini di dalam istana maupun di


dalam kapal pesiar.!


Dua jam kemudian mereka tiba di sebuah


pelabuhan super besar yang entah berada


dimana karena Raya tidak tahu pasti kemana


laki-laki itu membawa dirinya. Waktu sudah


menunjukkan pukul 3 dini hari. Mobil super


mewah yang membawa mereka berhenti


tepat di sebuah pelataran utama di mana di


sebrang nya telah bersandar sebuah kapal


pesiar yang sangat besar, sangat mewah


dan begitu memukau. Gemerlap lampu


yang berasal dari kapal pesiar tersebut


membuat penampakkan kapal mewah itu


semakin megah dan menakjubkan.


Begitu mobil berhenti puluhan pria berseragam


khusus seperti aparat keamanan langsung


bersiaga mengamankan area dan berjajar rapi


di sepanjang jembatan yang terhubung ke


dalam kapal pesiar tersebut. Beberapa penjaga


langsung membukakan pintu mobil dengan


sikap yang sangat hormat. Mereka semua


langsung membungkuk setengah badan


dan menanti sang penguasa keluar.


Aaron turun duluan. Dia menegakkan badan


saat Alex memakaikan mantel pada tubuh


gagahnya. Tidak lama Raya menyusul keluar


dengan tatapan kekaguman kearah kapal


pesiar tersebut. Dia merasa seakan-akan


sedang berada di dalam mimpi. Hembusan


angin kencang langsung menerpa membuat


Raya memeluk dirinya. Namun tidak lama dia


terkejut saat Aaron memakaikan mantel ke


tubuhnya. Raya berusaha menolak, kedua


mata mereka saling beradu panas.


"Biar aku saja, aku bisa sendiri.!"


Ketusnya sambil menarik mantel tersebut.


Tapi Aaron tampaknya tidak peduli dengan


aksi penolakan Raya. Dia menarik kembali


mantel tersebut dan memakaikannya.


"Jangan keras kepala kalau tidak ingin jadi


umpan hiu putih yang lapar.!"


Desis Aaron sambil mengancingkan mantel


dan menarik tali pinggang nya dengan kasar


hingga tubuh Raya merapat paksa ke tubuh


Aaron. Mata mereka terlihat semakin panas.


Tangan Raya kini menekan dada Aaron agar


tubuh nya tidak semakin menempel.


"Jangan mengancamku.! Kalau mau kau


bisa membuangku langsung ke laut.!"


Raya balas menggertak dengan tatapan mata


di penuhi kekesalan. Bibir Aaron menyeringai


tipis, wanita ini memang lain daripada yang


lain. Dia tidak mempan di ancam dengan hal


seperti itu.


"Ohh.. baiklah, kau memang harus di beri


peringatan dengan cara yang lain.!"


Dalam gerakan cepat Aaron mengangkat


wajah Raya dan menariknya agar mendekat.


Raya membulatkan matanya begitu bibir


Aaron mendekat.


"Selamat datang Tuan..!!"


Gerakan liar Aaron terhenti seketika. Dengan


geram pria itu melirik kearah sumber suara...


***

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2