Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
64. Sang Penakluk


__ADS_3

Semua orang bergerak senyap meninggalkan


Sang Pangeran yang masih larut dalam segala


perasaannya. Madam Rowena menggeleng


pelan setelah meyakini penglihatan nya. Dia


menatap tajam kedua insan yang masih saling


memeluk itu. Ini harus segera di klarifikasi.!


"Aku tunggu kalian pada saat makan malam.!"


Ucapnya sebelum akhirnya dia beranjak dari


hadapan pasangan itu. Raya melepaskan diri


dari pelukan Aaron, menatap kepergian Ibu


Suri dengan perasaan yang tidak menentu.


Bagaimana ini.? Apa yang akan di pikirkan


oleh Ibu Suri setelah melihat semua ini.!


"Apa yang kau pikirkan ? Masih berpikir


untuk pergi dariku.?"


Raya melirik, menatap wajah Aaron yang


masih terlihat dingin sedikit emosi.


"Apa kau pikir aku bisa lari darimu.? Kecuali


aku bisa terbang, barulah itu mungkin.!"


"Lalu apa ini, kenapa kau pergi tanpa bicara


dulu padaku.!"


"Aku tidak tahu kamu ada dimana tadi.!"


"Aku ada di ruang kerja. Kau bisa mencari ku


kesana.!"


"Tidak ada waktu untuk itu.!"


Kilah Raya sambil kemudian berjalan kearah


lain, berdiri tenang menatap hamparan rumput


hijau nan indah yang membentang sejauh mata


memandang. Aaron mendekat, kemudian ikut


berdiri di belakangnya, melingkarkan tangan


di perut datar Raya, memeluknya erat dan rapat


sambil menyerukan kepalanya di ceruk leher


Raya yang menguarkan aroma wangi membuai.


Untuk sesaat keduanya terdiam, Raya hanya


bisa memejamkan mata mencoba menekan


segala rasa yang kini berkecamuk.


"Kau membuatku gila sesaat karena berpikir


telah kehilanganmu.."


Bisik Aaron sambil mengecup lembut leher


Raya yang bergerak pelan berusaha untuk


melepaskan diri.


"Apa yang ada dalam benakmu sebenarnya?


Kenapa kamu melakukan semua itu tadi.?"


"Memangnya kenapa.? Cepat atau lambat


Grandma akan mengetahui semuanya.!"


"Tapi Aaron.. tidak dengan cara seperti ini.


Kau tidak bisa bertindak gegabah.!"


Raya membalikan posisi badannya, keduanya


kembali saling pandang. Aaron menyeringai


tipis. Tangan nya bergerak mengelus wajah


Raya yang mulai merasakan panas dingin.


"Kenapa, apa kau menginginkan cara yang


lain, yang lebih ekstrim lagi.?"


"Aku bahkan tidak pernah berharap hubungan


ini terungkap. Posisiku sebagai sekretaris mu


sudah cukup, jangan memperkeruh suasana.!"


"Apa alasanmu hanya ingin bertahan dengan


posisi itu ? Dimana sebenarnya hatimu.?"


Raya terhenyak, dimana hatinya.? Kalaupun dia


menetapkan hatinya, akankah itu berarti bagi


seorang Aaron yang calon Raja ? kenyataannya


hubungan nya dengan Aaron hanya karena


surat perjanjian saja, tidak lebih dari itu.!


"Hubungan kita akan berakhir pada waktunya


Aaron. Sadarkah kamu dengan hal itu.?"


Wajah Aaron berubah datar, tatapannya kini


terlihat semakin dingin.


"Aku sudah membakar surat perjanjian itu.


Semuanya sudah tidak berlaku lagi.!"


Raya kembali terhenyak, Tuhan.. sebenarnya


apa yang di inginkan oleh laki-laki ini.? Apakah


dia benar-benar ingin mengurung nya dalam


sangkar emasnya.? Kalau benar itu terjadi


sudah di pastikan hidup dan statusnya akan


selalu abu-abu, tidak pernah jelas adanya.


"Aaron..pernahkan kamu memikirkan apa


yang aku inginkan ? tentang perasaanku.!"


Aaron terdiam, namun tatapannya terlihat


semakin dalam dan kuat.


"Aku tahu yang kau inginkan, kebebasan..


Tapi aku tidak bisa mengabulkannya. Karena


aku menginginkanmu di sisiku.. Maharaya..!"


"Tapi kau tidak akan bisa mempertahankan


keberadaan ku disisi mu Aaron..Kau harus


mementingkan rakyat dan negaramu.!"


Aaron kembali terdiam. Mengamati ekspresi


wajah Raya yang selalu saja berbicara serius


tentang negara dan kepentingan rakyat. Wanita


ini sangat faham dengan apa yang sedang di hadapinya saat ini. Politik.?? sungguh sangat


merepotkan.! Membuat langkahnya harus


selalu berada pada peraturan dan perhitungan


yang matang. Dirinya kehilangan kebebasan


dan ketenangan hanya karena aturan mengikat


yang harus selalu di perhatikan nya. Dia tidak


bisa bertindak sembarangan.


Dia bisa saja menolak rencana perjodohannya


dengan Catharina, namun akibatnya sudah bisa


di bayangkan, gejolak politik dan keamanan


negara akan di pertaruhkan. Suhu politik akan meningkat, stabilitas negara dalam segala hal


akan terganggu dan pertumpahan darah pun


tidak bisa di hindarkan karena akan ada banyak


gelombang unjuk rasa dari yang pro dan kontra.


"Aku sedang menyiapkan segala sesuatunya


agar semuanya berjalan sesuai dengan yang


kita inginkan.!"


Bisik Aaron kemudian sambil mendekatkan


wajahnya membuat Raya mundur menjauh.


"Ini tidak semudah saat kau menjalankan


peranmu sebagai pimpinan Genk rusuh mu


itu Tuan Underground Devil..!"


Desis Raya dengan wajah sedikit geli sambil


kemudian mendorong dada Aaron setelah itu


dia berlari menjauh membelah rerumputan yang menghalangi jalannya. Wajah Aaron tampak


berekspresi aneh, ada seringai lebar yang kini


terlukis di wajah super tampan nya. Owhh..jadi


wanita miliknya ini sudah mengetahui siapa


sisi gelap dari seorang Prince Marvell.?


"Hei.. Raya.. tunggu..! Jangan lari kamu..


banyak lobang di tempat ini.!"


Aaron mengejar Raya yang sudah lumayan


jauh meninggalkan nya dengan raut wajah


yang terlihat mulai keras karena khawatir.


"Ayoo kejar aku Tuan Marvell...!"


Teriak Raya sambil tersenyum lebar masih


berlari menuruni bukit. Karuan saja hal itu


membuat Aaron semakin terkesiap karena


menyadari di depan jalurnya akan semakin


menurun. Dia melesatkan tubuhnya begitu


melihat tubuh Raya mulai terlihat hilang


keseimbangan.

__ADS_1


"Aaa... Aaroonn..."


Raya menjerit saat tubuhnya terpelanting dan


akan jatuh ke daerah yang lebih landai. Namun


sebelum itu terjadi Aaron sudah menyambar


tubuh Raya di tarik ke belakang mengakibatkan


badan mereka berdua berguling-guling di atas


rumput rendah dengan posisi tubuh Aaron


melindungi tubuh Raya sepenuhnya. Kini posisi


tubuh Raya ada di atas tubuh Aaron. Keduanya


saling menatap kuat di tengah deru nafas yang


berkejaran karena terlalu terkejut.


"Dasar wanita ceroboh..!"


Geram Aaron di tengah rasa khawatir yang tidak


bisa di sembunyikan nya. Wajahnya terlihat


sedingin salju karena kelewat cemas. Sedang


wajah Raya yang tadi sempat pucat kini jadi


berubah merasa sangat bersalah.


"Maaf..aku tidak tahu kalau kontur tanah nya


akan seperti ini.."


Bisik Raya, dia terlihat masih betah dengan


posisinya yang menindih tubuh gagah Aaron.


Perlahan tangannya meraih rumput yang ada


di rambut hitam pekat Aaron, membuang nya


ke samping dengan tatapan mata yang semakin terpaut dalam. Ada desakan hasrat aneh yang


membuat tubuh Raya tiba-tiba memanas.


Wajah super tampan suaminya ini tampak


begitu menggoda membuat dirinya tidak tahan


ingin menguasainya. Entah kenapa dia juga


sangat menyukai posisi ini.


Kali ini tubuh Aaron mulai merasakan tegang


saat Raya mendekatkan wajahnya dan detik


berikut nya bibir Raya sudah memagut bibirnya


yang langsung membuat Aaron memejamkan


mata dengan perasaan yang seakan ingin


meledak saat Raya mencium bibirnya duluan,


********** lembut dan hangat, memberinya


permainan bibir yang sangat dahsyat. Gila.!


Ini benar-benar gila.! Aaron seolah-olah ingin


terbang ke awan membawa wanita ini agar


tidak ada lagi yang mencoba untuk merebut


dan mengambilnya dari sisinya. Wanita ini


adalah miliknya, hanya miliknya.!!


Ciuman Raya semakin lama semakin intens,


terasa begitu lembut. Betapa nikmatnya, begitu


manis dan membuai hingga mampu merasuk


ke dalam tulang dan membuat Aaron terengah-


engah karena dia harus menahan napas agar


bisa meresapi dan menikmati ciuman dahsyat


ini perdetiknya tanpa terlewat. Maharaya...


You are amazing woman..!! Darah Aaron kini


mendidih, tubuh bagian bawahnya seketika


terbangun dengan sempurna.


Tidak tahan lagi dengan ledakkan hasratnya,


dalam sekali gerakan Aaron membalikkan


posisi tubuhnya, menindih tubuh Raya yang


kini menatapnya redup karena dia juga sudah


di kuasai oleh sapuan gelombang hasrat yang


datang menggebu. Entah di rasuki oleh setan


apa, tiba-tiba saja dia sangat bergairah, ingin


melakukan percintaan di tempat yang tidak


pantas seperti ini.


"Emhh.. Aaron... aakhh.."


Raya mendesah lembut saat bibir Aaron kini


mulai menelusuri lehernya nya tidak peduli


rumput yang mengganggu. Gigitan kecil di


seluruh leher jenjang itu mampu memercik


dari mulut Raya.


" Aku disini sayang..."


Aaron berbisik parau menurunkan sentuhan


bibirnya ke bagian bawah setelah dia menarik


atasan yang di pakai Raya hingga kini kedua


bukit kembar indah bak buah persik itu naik


menyembul tampak menggiurkan membuat


tenggorokan nya kering kerontang.


"Aakhh... Aaron sayaang..."


Desahan Raya semakin panjang saat bibir


Aaron kini sudah bermain intens di dua bukit


kembarnya, menghisap, menyesap kemudian


menggigit nya dalam gerakan liar hampir tak terkendali karena dorongan hasrat yang kini


semakin memuncak.


"Ahh..A-Aaron.. hentikan..!"


Mata Raya tiba-tiba membulat melihat pada


satu titik di ujung kaki mereka.


"Aku tidak bisa.. kita akan menuntaskan ini


di dalam mobil..!"


"A-Aaron.. sudah hentikan..! A-ada itu.. i-itu.."


"Ada apa sayang...aku tidak tahan lagi..!"


Aaron malah semakin menggila menikmati


keranuman kedua buah persik milik istrinya itu.


Raya mulai bereaksi ketakutan dan panik.


"A-Aaron..!! Ada ulaaarrr....!"


Raya menjerit histeris sambil merangkul tubuh


Aaron, membelitkan tangannya di leher pria itu


sekuat tenaga sambil menyusupkan wajah


ke dalam rengkuhan dada bidang nya.


Aaron langsung bereaksi cepat, dalam sekali


gerakan dia mengangkat tubuh Raya ke dalam


pangkuannya kemudian mundur sambil tetap


waspada melihat kearah ular king cobra yang


kini tengah menegakkan kepalanya pada posisi


siaga satu siap untuk menyerang mangsa.


"Aaron.. kita mundur saja.."


Lirih raya dengan suara yang sangat pelan dan


bergetar karena ketakutan. Kakinya melingkari


pinggang Aaron dan membelitnya kuat dengan


rangkulan yang semakin erat.


"Ini hanya seekor ular cobra liar saja.."


Aaron mengeluarkan senjata dari balik


pinggangnya membuat Raya tersentak kaget.


"Jangan Aaron... jangan membunuhnya.! Ular


itu berhak hidup juga, ini adalah tempatnya.


Kita yang sudah salah tempat."


Raya menahan tangan Aaron yang sudah


mengokang senjatanya dan siap menarik


pelatuk untuk meledakkan kepala ular itu.


"Ular itu cukup berbahaya.! Aku tidak akan


mengambil resiko dan membuang tenaga.!"


"Aaron.. jangan.! Biarkan aku turun.!"


"Apa yang kau lakukan.. hei... Raya...!!"


Aaron menarik tubuh Raya saat istrinya itu


memaksa turun dari atas pangkuannya dan


kini berdiri di hadapan nya menghadap ular


besar mematikan itu bersamaan dengan


kedatangan Alex dan Benjamin ke tempat itu


yang langsung menodongkan senjata kearah


ular cobra tersebut.


"Mundur..! Jangan ada yang menembak..!"


Teriak Raya dengan suara yang sangat tegas


dan tatapan yang semakin fokus pada ular


tersebut. Alex dan Benjamin mematung pada

__ADS_1


posisi yang tetap membidik.


"Raya..apa yang kau lakukan.? ayo mundur


biar aku yang bereskan ular itu.!"


Aaron meraih tubuh Raya ingin mengangkatnya kembali, tapi Raya menahan gerakannya dan mendorong tubuh Aaron Agar mundur. Hal itu membuat Aaron mengernyitkan alis sambil


berpikir cepat kemudian berdiri di belakang


tubuh Raya sambil mengarahkan senjatanya.


Saat ini mata indah Raya semakin fokus pada


ular itu, dan tidak ada yang menyadari kalau


ada kilat hebat berwarna biru bening yang


keluar dari mata sendu itu yang langsung


menembus dan melumpuhkan ular itu.


"Pergilah..ke tempat mu, jangan ganggu kami."


Raya berucap sambil menunjuk kearah lain.


Dan keajaiban itu datang, ular besar itu kini


menurunkan kepalanya, tidak lama memutar


badannya melata kembali lalu meninggalkan


tempat itu.


Aaron dan dua bawahannya tampak bengong.


Apa yang terjadi.? Raya bisa menaklukkan ular


besar tadi.? bagaimana caranya.? apakah dia


bisa telepati dengan ular tersebut.? Hahaa..


ini terdengar sedikit konyol, tapi yang tadi.??


Padahal jelas-jelas di awal Raya terlihat sangat


ketakutan saat melihat ular tersebut.


"Ayo kita pulang..!"


Raya menarik tangan Aaron berjalan menuju


ke arah mobil yang terparkir cukup jauh. Tanpa


kata-kata ketiga pria jagoan itu kini mengekori


langkah Sang Bidadari yang berhasil membuat


mereka terdiam dalam keterkejutan.


Mobil mereka kini sudah menyusuri jalanan


biasa karena sudah keluar dari hutan lindung.


Raut wajah Raya tampak sedikit berubah aneh, kepalanya saat ini terasa pusing , perutnya juga


tidak nyaman. Dia butuh sesuatu yang bisa


membuat matanya segar kembali.


"Aaron.. kepalaku sedikit pusing. Kita berhenti


dulu di sana ya.. sebentar saja."


Raya merajuk sambil menunjuk kearah danau


kecil merupakan sebuah muara air yang ada


di pinggir jalan dan terlihat sangat eksotis.


"Raya sebaiknya kita segera sampai di istana


agar bisa melanjutkan kegiatan yang tadi


tertunda.!"


Wajah Raya tampak memerah, namun kini


ada reaksi lain di wajahnya, kesal.!


"Dasar mesum.! Aaron..kumohon berhentilah.!"


Pinta Raya dengan memasang wajah yang


langsung membuat Aaron menghentikan


mobilnya seketika. Dia menatap datar wajah


Raya yang terlihat memelas itu.


"Jangan pernah memasang wajah seperti


itu lagi di hadapanku.!"


Kesal Aaron dengan wajah yang memerah


karena merasa tidak tahan dengan perasaan


nya, antara geli, kesal dan kecewa. Raya hanya


bisa mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Baiklah.. ayo kita turun sekarang.."


Cup.!


Sebelum turun dia mendaratkan satu ciuman


lembut di pipi Aaron yang membuat wajah pria


itu semakin memerah. Hari ini banyak sekali


kejutan yang di berikan oleh wanitanya ini dan membuatnya mati kutu. Sebenarnya Aaron kesal karena ingin segera tiba di istana, hasratnya yang


tidak tuntas membuat tubuh bagian bawahnya


kini terasa sakit dan harus mendapat pelepasan.


Raya berdiri di pinggir danau. Kedua tangannya


di rentangkan mencoba menikmati semilir angin


sore yang sejuk dan segar. Air di danau ini terlihat


sangat jernih sampai dasar nya pun nampak jelas, pastinya sangat segar kalau berendam di dalam


nya. Bibir Raya tiba-tiba tersenyum penuh makna.


Aaron berdiri di samping nya sambil menatap


lekat wajah cantik istrinya itu yang membuat


tubuh bagian bawahnya semakin mengamuk.


"Aaron.. bolehkah aku berendam di sana.?"


Raya menunjuk kearah danau. Hahh.?? mata


Aaron dan dua bawahannya kembali di buat


melongo. Berendam di danau.? apa dia tidak


tahu kalau air di danau ini sangat dingin.!


"Tidak boleh, kau tidak akan kuat menahan


dingin nya.!"


"Aku kuat kok.. pasti rasanya sangat segar."


"Maharaya..aku bilang tidak ya tidak.!"


Geram Aaron dengan tatapan tajam yang


menghunus bagai ujung pedang. Wajah


Raya langsung berubah kesal dan kecewa.


"Kalau begitu kau harus menggantikan aku


untuk berendam di sana.!!"


Titah Raya dengan tatapan intimidasi yang


terlihat tidak mau di bantah. Wajah Aaron


langsung mengeras dengan sorot mata yang


terlihat dingin. Sementara Alex dan Benjamin


hanya bisa bengong.


"Raya.. bisakah kamu hentikan kekonyolan


ini, kita harus pulang sekarang.!"


"Kalau tidak mau aku turun sekarang juga..!"


"Jangan coba-coba mengancam ku.!"


"Aku tidak main-main Aaron..aku turun nih.."


"Baiklah.. baiklah..aku turun sekarang..!"


Aaron berteriak di telah kekesalan sekaligus


kekalahan. Alex dan Benjamin melongo syok


saat melihat Sang Putra Mahkota benar-benar


melompat terjun ke dalam danau setelah dia


membuka atasan nya terlebih dahulu. Wajah


Raya langsung berbinar bahagia saat melihat


Aaron berada di dalam danau dalam keadaan


tubuh yang terbuka bagian atasnya. Nampak


seksi dan menggoda.


"Kalian berdua..!"


Raya berpaling pada dua bawahan suaminya


itu yang langsung terkejut dan meringis saat


melihat ekspresi wajah majikan cantiknya itu.


"Kalian juga turun.. temani bos kalian.! Tapi


jangan membuka pakaian.! Ayo lakukan.!"


Hahh.? matilah kita.. Alex dan Benjamin


tampak saling pandang dengan wajah gusar.


"Tapi lady.. kami tidak membawa pakaian.."


"Turun sekarang juga..!!"


"Baik lady, laksanakan..!"


Byurrr !!


Tubuh Alex dan Benjamin langsung terjun ke


dalam danau membuat Aaron terlihat puas


karena yang di hukum bukan hanya dirinya.


Raya terlihat senang melihat ketiga pria perkasa


itu berenang di dalam danau super dingin itu.


"Jangan naik sebelum aku meminta nya..!"


Teriak Raya sambil tersenyum lebar. Alex dan


Benjamin kembali menyelam di tengah rasa


heran dengan permintaan aneh sang majikan.


Apa yang terjadi sebenarnya dengan Lady De


Enzo ? Kenapa akhir-akhir ini dia selalu saja


bertingkah aneh dan nyeleneh...!!

__ADS_1


***


__ADS_2