
Semua orang bergerak senyap meninggalkan
Sang Pangeran yang masih larut dalam segala
perasaannya. Madam Rowena menggeleng
pelan setelah meyakini penglihatan nya. Dia
menatap tajam kedua insan yang masih saling
memeluk itu. Ini harus segera di klarifikasi.!
"Aku tunggu kalian pada saat makan malam.!"
Ucapnya sebelum akhirnya dia beranjak dari
hadapan pasangan itu. Raya melepaskan diri
dari pelukan Aaron, menatap kepergian Ibu
Suri dengan perasaan yang tidak menentu.
Bagaimana ini.? Apa yang akan di pikirkan
oleh Ibu Suri setelah melihat semua ini.!
"Apa yang kau pikirkan ? Masih berpikir
untuk pergi dariku.?"
Raya melirik, menatap wajah Aaron yang
masih terlihat dingin sedikit emosi.
"Apa kau pikir aku bisa lari darimu.? Kecuali
aku bisa terbang, barulah itu mungkin.!"
"Lalu apa ini, kenapa kau pergi tanpa bicara
dulu padaku.!"
"Aku tidak tahu kamu ada dimana tadi.!"
"Aku ada di ruang kerja. Kau bisa mencari ku
kesana.!"
"Tidak ada waktu untuk itu.!"
Kilah Raya sambil kemudian berjalan kearah
lain, berdiri tenang menatap hamparan rumput
hijau nan indah yang membentang sejauh mata
memandang. Aaron mendekat, kemudian ikut
berdiri di belakangnya, melingkarkan tangan
di perut datar Raya, memeluknya erat dan rapat
sambil menyerukan kepalanya di ceruk leher
Raya yang menguarkan aroma wangi membuai.
Untuk sesaat keduanya terdiam, Raya hanya
bisa memejamkan mata mencoba menekan
segala rasa yang kini berkecamuk.
"Kau membuatku gila sesaat karena berpikir
telah kehilanganmu.."
Bisik Aaron sambil mengecup lembut leher
Raya yang bergerak pelan berusaha untuk
melepaskan diri.
"Apa yang ada dalam benakmu sebenarnya?
Kenapa kamu melakukan semua itu tadi.?"
"Memangnya kenapa.? Cepat atau lambat
Grandma akan mengetahui semuanya.!"
"Tapi Aaron.. tidak dengan cara seperti ini.
Kau tidak bisa bertindak gegabah.!"
Raya membalikan posisi badannya, keduanya
kembali saling pandang. Aaron menyeringai
tipis. Tangan nya bergerak mengelus wajah
Raya yang mulai merasakan panas dingin.
"Kenapa, apa kau menginginkan cara yang
lain, yang lebih ekstrim lagi.?"
"Aku bahkan tidak pernah berharap hubungan
ini terungkap. Posisiku sebagai sekretaris mu
sudah cukup, jangan memperkeruh suasana.!"
"Apa alasanmu hanya ingin bertahan dengan
posisi itu ? Dimana sebenarnya hatimu.?"
Raya terhenyak, dimana hatinya.? Kalaupun dia
menetapkan hatinya, akankah itu berarti bagi
seorang Aaron yang calon Raja ? kenyataannya
hubungan nya dengan Aaron hanya karena
surat perjanjian saja, tidak lebih dari itu.!
"Hubungan kita akan berakhir pada waktunya
Aaron. Sadarkah kamu dengan hal itu.?"
Wajah Aaron berubah datar, tatapannya kini
terlihat semakin dingin.
"Aku sudah membakar surat perjanjian itu.
Semuanya sudah tidak berlaku lagi.!"
Raya kembali terhenyak, Tuhan.. sebenarnya
apa yang di inginkan oleh laki-laki ini.? Apakah
dia benar-benar ingin mengurung nya dalam
sangkar emasnya.? Kalau benar itu terjadi
sudah di pastikan hidup dan statusnya akan
selalu abu-abu, tidak pernah jelas adanya.
"Aaron..pernahkan kamu memikirkan apa
yang aku inginkan ? tentang perasaanku.!"
Aaron terdiam, namun tatapannya terlihat
semakin dalam dan kuat.
"Aku tahu yang kau inginkan, kebebasan..
Tapi aku tidak bisa mengabulkannya. Karena
aku menginginkanmu di sisiku.. Maharaya..!"
"Tapi kau tidak akan bisa mempertahankan
keberadaan ku disisi mu Aaron..Kau harus
mementingkan rakyat dan negaramu.!"
Aaron kembali terdiam. Mengamati ekspresi
wajah Raya yang selalu saja berbicara serius
tentang negara dan kepentingan rakyat. Wanita
ini sangat faham dengan apa yang sedang di hadapinya saat ini. Politik.?? sungguh sangat
merepotkan.! Membuat langkahnya harus
selalu berada pada peraturan dan perhitungan
yang matang. Dirinya kehilangan kebebasan
dan ketenangan hanya karena aturan mengikat
yang harus selalu di perhatikan nya. Dia tidak
bisa bertindak sembarangan.
Dia bisa saja menolak rencana perjodohannya
dengan Catharina, namun akibatnya sudah bisa
di bayangkan, gejolak politik dan keamanan
negara akan di pertaruhkan. Suhu politik akan meningkat, stabilitas negara dalam segala hal
akan terganggu dan pertumpahan darah pun
tidak bisa di hindarkan karena akan ada banyak
gelombang unjuk rasa dari yang pro dan kontra.
"Aku sedang menyiapkan segala sesuatunya
agar semuanya berjalan sesuai dengan yang
kita inginkan.!"
Bisik Aaron kemudian sambil mendekatkan
wajahnya membuat Raya mundur menjauh.
"Ini tidak semudah saat kau menjalankan
peranmu sebagai pimpinan Genk rusuh mu
itu Tuan Underground Devil..!"
Desis Raya dengan wajah sedikit geli sambil
kemudian mendorong dada Aaron setelah itu
dia berlari menjauh membelah rerumputan yang menghalangi jalannya. Wajah Aaron tampak
berekspresi aneh, ada seringai lebar yang kini
terlukis di wajah super tampan nya. Owhh..jadi
wanita miliknya ini sudah mengetahui siapa
sisi gelap dari seorang Prince Marvell.?
"Hei.. Raya.. tunggu..! Jangan lari kamu..
banyak lobang di tempat ini.!"
Aaron mengejar Raya yang sudah lumayan
jauh meninggalkan nya dengan raut wajah
yang terlihat mulai keras karena khawatir.
"Ayoo kejar aku Tuan Marvell...!"
Teriak Raya sambil tersenyum lebar masih
berlari menuruni bukit. Karuan saja hal itu
membuat Aaron semakin terkesiap karena
menyadari di depan jalurnya akan semakin
menurun. Dia melesatkan tubuhnya begitu
melihat tubuh Raya mulai terlihat hilang
keseimbangan.
__ADS_1
"Aaa... Aaroonn..."
Raya menjerit saat tubuhnya terpelanting dan
akan jatuh ke daerah yang lebih landai. Namun
sebelum itu terjadi Aaron sudah menyambar
tubuh Raya di tarik ke belakang mengakibatkan
badan mereka berdua berguling-guling di atas
rumput rendah dengan posisi tubuh Aaron
melindungi tubuh Raya sepenuhnya. Kini posisi
tubuh Raya ada di atas tubuh Aaron. Keduanya
saling menatap kuat di tengah deru nafas yang
berkejaran karena terlalu terkejut.
"Dasar wanita ceroboh..!"
Geram Aaron di tengah rasa khawatir yang tidak
bisa di sembunyikan nya. Wajahnya terlihat
sedingin salju karena kelewat cemas. Sedang
wajah Raya yang tadi sempat pucat kini jadi
berubah merasa sangat bersalah.
"Maaf..aku tidak tahu kalau kontur tanah nya
akan seperti ini.."
Bisik Raya, dia terlihat masih betah dengan
posisinya yang menindih tubuh gagah Aaron.
Perlahan tangannya meraih rumput yang ada
di rambut hitam pekat Aaron, membuang nya
ke samping dengan tatapan mata yang semakin terpaut dalam. Ada desakan hasrat aneh yang
membuat tubuh Raya tiba-tiba memanas.
Wajah super tampan suaminya ini tampak
begitu menggoda membuat dirinya tidak tahan
ingin menguasainya. Entah kenapa dia juga
sangat menyukai posisi ini.
Kali ini tubuh Aaron mulai merasakan tegang
saat Raya mendekatkan wajahnya dan detik
berikut nya bibir Raya sudah memagut bibirnya
yang langsung membuat Aaron memejamkan
mata dengan perasaan yang seakan ingin
meledak saat Raya mencium bibirnya duluan,
********** lembut dan hangat, memberinya
permainan bibir yang sangat dahsyat. Gila.!
Ini benar-benar gila.! Aaron seolah-olah ingin
terbang ke awan membawa wanita ini agar
tidak ada lagi yang mencoba untuk merebut
dan mengambilnya dari sisinya. Wanita ini
adalah miliknya, hanya miliknya.!!
Ciuman Raya semakin lama semakin intens,
terasa begitu lembut. Betapa nikmatnya, begitu
manis dan membuai hingga mampu merasuk
ke dalam tulang dan membuat Aaron terengah-
engah karena dia harus menahan napas agar
bisa meresapi dan menikmati ciuman dahsyat
ini perdetiknya tanpa terlewat. Maharaya...
You are amazing woman..!! Darah Aaron kini
mendidih, tubuh bagian bawahnya seketika
terbangun dengan sempurna.
Tidak tahan lagi dengan ledakkan hasratnya,
dalam sekali gerakan Aaron membalikkan
posisi tubuhnya, menindih tubuh Raya yang
kini menatapnya redup karena dia juga sudah
di kuasai oleh sapuan gelombang hasrat yang
datang menggebu. Entah di rasuki oleh setan
apa, tiba-tiba saja dia sangat bergairah, ingin
melakukan percintaan di tempat yang tidak
pantas seperti ini.
"Emhh.. Aaron... aakhh.."
Raya mendesah lembut saat bibir Aaron kini
mulai menelusuri lehernya nya tidak peduli
rumput yang mengganggu. Gigitan kecil di
seluruh leher jenjang itu mampu memercik
dari mulut Raya.
" Aku disini sayang..."
Aaron berbisik parau menurunkan sentuhan
bibirnya ke bagian bawah setelah dia menarik
atasan yang di pakai Raya hingga kini kedua
bukit kembar indah bak buah persik itu naik
menyembul tampak menggiurkan membuat
tenggorokan nya kering kerontang.
"Aakhh... Aaron sayaang..."
Desahan Raya semakin panjang saat bibir
Aaron kini sudah bermain intens di dua bukit
kembarnya, menghisap, menyesap kemudian
menggigit nya dalam gerakan liar hampir tak terkendali karena dorongan hasrat yang kini
semakin memuncak.
"Ahh..A-Aaron.. hentikan..!"
Mata Raya tiba-tiba membulat melihat pada
satu titik di ujung kaki mereka.
"Aku tidak bisa.. kita akan menuntaskan ini
di dalam mobil..!"
"A-Aaron.. sudah hentikan..! A-ada itu.. i-itu.."
"Ada apa sayang...aku tidak tahan lagi..!"
Aaron malah semakin menggila menikmati
keranuman kedua buah persik milik istrinya itu.
Raya mulai bereaksi ketakutan dan panik.
"A-Aaron..!! Ada ulaaarrr....!"
Raya menjerit histeris sambil merangkul tubuh
Aaron, membelitkan tangannya di leher pria itu
sekuat tenaga sambil menyusupkan wajah
ke dalam rengkuhan dada bidang nya.
Aaron langsung bereaksi cepat, dalam sekali
gerakan dia mengangkat tubuh Raya ke dalam
pangkuannya kemudian mundur sambil tetap
waspada melihat kearah ular king cobra yang
kini tengah menegakkan kepalanya pada posisi
siaga satu siap untuk menyerang mangsa.
"Aaron.. kita mundur saja.."
Lirih raya dengan suara yang sangat pelan dan
bergetar karena ketakutan. Kakinya melingkari
pinggang Aaron dan membelitnya kuat dengan
rangkulan yang semakin erat.
"Ini hanya seekor ular cobra liar saja.."
Aaron mengeluarkan senjata dari balik
pinggangnya membuat Raya tersentak kaget.
"Jangan Aaron... jangan membunuhnya.! Ular
itu berhak hidup juga, ini adalah tempatnya.
Kita yang sudah salah tempat."
Raya menahan tangan Aaron yang sudah
mengokang senjatanya dan siap menarik
pelatuk untuk meledakkan kepala ular itu.
"Ular itu cukup berbahaya.! Aku tidak akan
mengambil resiko dan membuang tenaga.!"
"Aaron.. jangan.! Biarkan aku turun.!"
"Apa yang kau lakukan.. hei... Raya...!!"
Aaron menarik tubuh Raya saat istrinya itu
memaksa turun dari atas pangkuannya dan
kini berdiri di hadapan nya menghadap ular
besar mematikan itu bersamaan dengan
kedatangan Alex dan Benjamin ke tempat itu
yang langsung menodongkan senjata kearah
ular cobra tersebut.
"Mundur..! Jangan ada yang menembak..!"
Teriak Raya dengan suara yang sangat tegas
dan tatapan yang semakin fokus pada ular
tersebut. Alex dan Benjamin mematung pada
__ADS_1
posisi yang tetap membidik.
"Raya..apa yang kau lakukan.? ayo mundur
biar aku yang bereskan ular itu.!"
Aaron meraih tubuh Raya ingin mengangkatnya kembali, tapi Raya menahan gerakannya dan mendorong tubuh Aaron Agar mundur. Hal itu membuat Aaron mengernyitkan alis sambil
berpikir cepat kemudian berdiri di belakang
tubuh Raya sambil mengarahkan senjatanya.
Saat ini mata indah Raya semakin fokus pada
ular itu, dan tidak ada yang menyadari kalau
ada kilat hebat berwarna biru bening yang
keluar dari mata sendu itu yang langsung
menembus dan melumpuhkan ular itu.
"Pergilah..ke tempat mu, jangan ganggu kami."
Raya berucap sambil menunjuk kearah lain.
Dan keajaiban itu datang, ular besar itu kini
menurunkan kepalanya, tidak lama memutar
badannya melata kembali lalu meninggalkan
tempat itu.
Aaron dan dua bawahannya tampak bengong.
Apa yang terjadi.? Raya bisa menaklukkan ular
besar tadi.? bagaimana caranya.? apakah dia
bisa telepati dengan ular tersebut.? Hahaa..
ini terdengar sedikit konyol, tapi yang tadi.??
Padahal jelas-jelas di awal Raya terlihat sangat
ketakutan saat melihat ular tersebut.
"Ayo kita pulang..!"
Raya menarik tangan Aaron berjalan menuju
ke arah mobil yang terparkir cukup jauh. Tanpa
kata-kata ketiga pria jagoan itu kini mengekori
langkah Sang Bidadari yang berhasil membuat
mereka terdiam dalam keterkejutan.
Mobil mereka kini sudah menyusuri jalanan
biasa karena sudah keluar dari hutan lindung.
Raut wajah Raya tampak sedikit berubah aneh, kepalanya saat ini terasa pusing , perutnya juga
tidak nyaman. Dia butuh sesuatu yang bisa
membuat matanya segar kembali.
"Aaron.. kepalaku sedikit pusing. Kita berhenti
dulu di sana ya.. sebentar saja."
Raya merajuk sambil menunjuk kearah danau
kecil merupakan sebuah muara air yang ada
di pinggir jalan dan terlihat sangat eksotis.
"Raya sebaiknya kita segera sampai di istana
agar bisa melanjutkan kegiatan yang tadi
tertunda.!"
Wajah Raya tampak memerah, namun kini
ada reaksi lain di wajahnya, kesal.!
"Dasar mesum.! Aaron..kumohon berhentilah.!"
Pinta Raya dengan memasang wajah yang
langsung membuat Aaron menghentikan
mobilnya seketika. Dia menatap datar wajah
Raya yang terlihat memelas itu.
"Jangan pernah memasang wajah seperti
itu lagi di hadapanku.!"
Kesal Aaron dengan wajah yang memerah
karena merasa tidak tahan dengan perasaan
nya, antara geli, kesal dan kecewa. Raya hanya
bisa mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Baiklah.. ayo kita turun sekarang.."
Cup.!
Sebelum turun dia mendaratkan satu ciuman
lembut di pipi Aaron yang membuat wajah pria
itu semakin memerah. Hari ini banyak sekali
kejutan yang di berikan oleh wanitanya ini dan membuatnya mati kutu. Sebenarnya Aaron kesal karena ingin segera tiba di istana, hasratnya yang
tidak tuntas membuat tubuh bagian bawahnya
kini terasa sakit dan harus mendapat pelepasan.
Raya berdiri di pinggir danau. Kedua tangannya
di rentangkan mencoba menikmati semilir angin
sore yang sejuk dan segar. Air di danau ini terlihat
sangat jernih sampai dasar nya pun nampak jelas, pastinya sangat segar kalau berendam di dalam
nya. Bibir Raya tiba-tiba tersenyum penuh makna.
Aaron berdiri di samping nya sambil menatap
lekat wajah cantik istrinya itu yang membuat
tubuh bagian bawahnya semakin mengamuk.
"Aaron.. bolehkah aku berendam di sana.?"
Raya menunjuk kearah danau. Hahh.?? mata
Aaron dan dua bawahannya kembali di buat
melongo. Berendam di danau.? apa dia tidak
tahu kalau air di danau ini sangat dingin.!
"Tidak boleh, kau tidak akan kuat menahan
dingin nya.!"
"Aku kuat kok.. pasti rasanya sangat segar."
"Maharaya..aku bilang tidak ya tidak.!"
Geram Aaron dengan tatapan tajam yang
menghunus bagai ujung pedang. Wajah
Raya langsung berubah kesal dan kecewa.
"Kalau begitu kau harus menggantikan aku
untuk berendam di sana.!!"
Titah Raya dengan tatapan intimidasi yang
terlihat tidak mau di bantah. Wajah Aaron
langsung mengeras dengan sorot mata yang
terlihat dingin. Sementara Alex dan Benjamin
hanya bisa bengong.
"Raya.. bisakah kamu hentikan kekonyolan
ini, kita harus pulang sekarang.!"
"Kalau tidak mau aku turun sekarang juga..!"
"Jangan coba-coba mengancam ku.!"
"Aku tidak main-main Aaron..aku turun nih.."
"Baiklah.. baiklah..aku turun sekarang..!"
Aaron berteriak di telah kekesalan sekaligus
kekalahan. Alex dan Benjamin melongo syok
saat melihat Sang Putra Mahkota benar-benar
melompat terjun ke dalam danau setelah dia
membuka atasan nya terlebih dahulu. Wajah
Raya langsung berbinar bahagia saat melihat
Aaron berada di dalam danau dalam keadaan
tubuh yang terbuka bagian atasnya. Nampak
seksi dan menggoda.
"Kalian berdua..!"
Raya berpaling pada dua bawahan suaminya
itu yang langsung terkejut dan meringis saat
melihat ekspresi wajah majikan cantiknya itu.
"Kalian juga turun.. temani bos kalian.! Tapi
jangan membuka pakaian.! Ayo lakukan.!"
Hahh.? matilah kita.. Alex dan Benjamin
tampak saling pandang dengan wajah gusar.
"Tapi lady.. kami tidak membawa pakaian.."
"Turun sekarang juga..!!"
"Baik lady, laksanakan..!"
Byurrr !!
Tubuh Alex dan Benjamin langsung terjun ke
dalam danau membuat Aaron terlihat puas
karena yang di hukum bukan hanya dirinya.
Raya terlihat senang melihat ketiga pria perkasa
itu berenang di dalam danau super dingin itu.
"Jangan naik sebelum aku meminta nya..!"
Teriak Raya sambil tersenyum lebar. Alex dan
Benjamin kembali menyelam di tengah rasa
heran dengan permintaan aneh sang majikan.
Apa yang terjadi sebenarnya dengan Lady De
Enzo ? Kenapa akhir-akhir ini dia selalu saja
bertingkah aneh dan nyeleneh...!!
__ADS_1
***