
❤️❤️❤️
Aaron baru saja keluar dari ruang ganti pakaian
saat ponselnya bergetar di atas meja kerjanya.
Dia meraih ponsel tersebut kemudian berjalan
menuju balkon yang langsung mengarah pada
pemandangan lautan lepas.
"Kau tunggu saja di depan, sebentar lagi
aku turun.!"
Aaron berbicara sambil memasang dasi di
lehernya dengan terampil dan cepat.
"Pihak istana sudah mulai tidak sabar Kak,
mereka menduga kau sengaja melakukan
penundaan acara ini.!"
Terdengar suara Ansel di sebrang sana. Aaron
menatap lurus kearah gulungan ombak yang
datang menerjang bukit karang di bawah Kastil.
"Tidak ada yang bisa mengaturku.! Apalagi
berani mengganggu waktu kebersamaan ku
dengan istriku.!"
Tidak ada sahutan dari Ansel, sepertinya pria
menawan itu cukup terganggu pikirannya.
Dia sudah bisa menduga apa yang terjadi
pada pasangan suami istri itu setelah
mereka kembali ke kastil.
"Kau siapkan saja semuanya, 5 menit lagi
aku turun.!"
"Baik Kak, aku tunggu di bawah."
"Suruh Griz naik untuk menjaga kamar ini.!"
"Baiklah.!"
Aaron menutup ponselnya, memasukkan
kembali ke dalam saku jasnya. Dia menarik
nafas panjang, urusan dengan istana memang
sangat ribet, tapi mau tidak mau dia harus
menjalankan semua ini karena sudah terlanjur
berkomitmen, juga demi kepentingan seluruh
rakyat negara ini. Pengaruh keluarga Winston
sangat kuat di negara ini, hampir 70 persen
masyarakat mendukung perjodohan dirinya
dengan Catharina. Dia harus menjalani semua
ritual istana ini walaupun tidak di inginkan nya.
Aaron kembali masuk ke dalam kamar, dia
melangkah kearah tempat tidur. Kemudian
berdiri di pinggir ranjang, menatap lekat sosok
bidadari cantik yang sedang tertidur lelap
karena kelelahan setelah mereka bertempur habis-habisan tadi, istrinya itu hampir saja
pingsan karena keganasan dirinya yang tidak membiarkannya lepas sedetik saja.
Entah kenapa rasanya tidak ada puasnya bagi
dia menikmati tubuh indah itu, buaian segala
kenikmatan yang di berikan oleh tubuh spesial
itu seolah memberi kekuatan baru ke dalam
tubuh Aaron hingga membuat dirinya On terus
dan tubuhnya kini terasa ringan, rileks, segar
serta bercahaya. Satu kata untuk wanita ini
adalah She is Exceptional..!!
Aaron merangkak naik ke atas tempat tidur.
Meraih tubuh lunglai itu ke dalam dekapannya.
Menghirup aroma wangi lembut yang selalu
menguar dari tubuhnya yang mampu membuat
dirinya mengingat aroma menenangkan ini di
setiap waktunya, dan membuat jiwanya seolah melayang. Ya..ini memang sesuatu yang gila.!
Semua yang ada pada diri istrinya ini telah
membuat dirinya tidak seimbang lagi, wanita
ini sudah membuat dirinya tergila-gila. Selalu
mengingatnya di setiap waktu, setiap menit
bahkan setiap detik. Perlahan Aaron mengecup
lembut kening istrinya itu seraya memejamkan
mata mencoba menelusuri desiran halus yang
kini merambat ke seluruh aliran darahnya.
"Istirahatlah..Aku harus pergi sekarang.."
Bisik nya sambil menatap lekat wajah cantik
yang terlihat lelah itu yang masih saja setia
memejamkan matanya. Aaron mencium lembut
bibir Raya yang terlihat masih sangat bengkak
dan memerah. Tidak lama dia beranjak turun
dari atas tempat tidur. Kembali menatap wajah
Raya yang kini sudah menggulung tubuhnya,
meringkuk memeluk dirinya sendiri. Ada seringai
tipis di bibir Sang Pangeran sebelum akhirnya
dia melangkah pergi dari dalam kamar besar itu.
***
Waktu kini beranjak sore, Raya baru saja selesai
membersihkan diri setelah cukup beristirahat.
Semua orang yang dikenalnya sudah pergi dari
kastil ini, tinggalah kini dirinya bersama Alex
dan Griz yang baru datang pagi tadi setelah
mendapat perawatan semalam karena luka
tembak di lengan kirinya akibat insiden kemarin.
Walau keadaan fisiknya masih belum pulih
sepenuhnya akibat serangan brutal suaminya
tadi pagi, tapi Raya tetap harus berdiri di
posisinya sebagai Sekretaris Pribadi Putra
Mahkota agar semuanya berjalan lancar.
Malam ini akan ada jamuan spesial antara
keluarga kerajaan bersama dengan keluarga
besar Winston untuk membicarakan rencana
pernikahan Putra Mahkota dengan Duchess
Catharina. Ada perasaan aneh yang begitu
mengganggu hati Raya saat mengingat Aaron
akan segera menikah dengan wanita lain.
Lalu bagaimana dengan dirinya.? Ada dimana
sebenarnya posisi dirinya.? Istri bayangan.??
Rasa sakit itu kian terasa menggigit jiwanya.
Raya menarik nafas dalam-dalam sembari
memejamkan mata mencoba untuk tenang
dan mengontrol segala perasaannya. Saat
ini dirinya sedang berdiri di balkon kamarnya
menghadap lautan lepas yang mengirimkan
hembusan angin kencang namun tetap sejuk.
Ingat Raya..kau hanyalah wanita pembuat
anak untuk Sang Putra Mahkota..Tidak lebih
dari itu.. Terima saja nasibmu..!
Raya melipat kedua tangannya di dada sambil
menatap bentangan laut lepas yang terlihat
begitu indah dan mempesona. Harus dia akui
saat ini rasa takut pada sosok pria pemerkosa
nya itu perlahan mulai sirna. Hanya saja kini
telah berganti dengan perasaan aneh yang
membuat jiwanya gelisah. Sudah tiga kali pria
itu memiliki dirinya, mereguk segala madu yang
ada pada tubuhnya dan hal itu menimbulkan
satu perasaan yang sulit sekali untuk di
terjemahkan.
__ADS_1
"Lady..Yang Mulya mengirimkan pakaian ini
untuk anda kenakkan malam ini."
Raya tersentak, dia menolehkan kepalanya.
Wakil kepala pelayan dan dua orang pelayan
sudah berdiri di belakangnya bersama dengan
Griz. Dia menatap pakaian dan perlengkapan
lainnya yang ada di tangan dua pelayan. Raya
kembali menarik nafas panjang.
Baiklah.. mulai sekarang dia harus berdiri di
atas kakinya sendiri. Sebelum semua tragedi
pahit menimpanya dia tidaklah selemah ini.
Walau kedudukannya tidak setinggi Aaron,
tapi dirinya pun tidak rendah. Leluhur nya tidak
akan suka melihat dirinya merendahkan diri.
"Baiklah..aku akan segera bersiap. Kalian
boleh keluar sekarang.!"
Titah Raya dengan suara yang lembut namun
tetap tegas dan enak di dengar.
"Baik Lady.. kami akan menunggu anda di luar
kamar barangkali ada yang anda butuhkan."
Sahut wakil kepala pelayan sambil kemudian
membungkuk hormat.
"Griz..kau tetap di sini.!"
Griz mengganguk sambil membimbing Raya
masuk ke dalam kamar. Waktu sudah semakin
merayap sore, dua jam lagi dia sudah harus ada
di Grand Marco Palace. Aaron akan berangkat
langsung dari tempatnya sekarang. Saat ini dia
sedang ada pertemuan dengan para pedagang
tingkat global membahas perkembangan dunia
perdagangan yang akhir-akhir ini semakin pesat
dan penuh dengan persaingan.
Raya segera melakukan persiapan sendiri
seperti biasanya. Kalau untuk urusan makeup
dirinya tidak pernah memerlukan bantuan orang
lain. Walaupun tidak belajar secara spesifik
namun bakat alami yang di milikinya dalam
urusan yang satu ini tidak perlu di ragukan.
Lagipula wajahnya tidak memerlukan polesan
berlebih, dalam keadaan polos pun keelokan
rupanya sudah mampu membuat mata orang
yang melihatnya tidak berkedip.
Menjelang petang akhirnya Raya keluar dari
kamarnya dengan mengenakkan setelan semi
formal yang sangat elegan dan memukau. Dia
memutuskan tidak memakai pakaian yang di
kirimkan oleh Aaron, karena pakaian itu berupa
gaun malam yang sangat mewah dan glamor.
Tidak patut rasanya kalau dia mengenakkan
gaun itu, karena dirinya datang sebagai Miss
Secretary.. bukan sebagai tamu istimewa.
Wakil kepala pelayan beserta jajarannya tampak
berdiri kaku di tempat, mematung, saat melihat
Raya berjalan anggun dan tegas di penuhi oleh kharisma unik dan istimewa yang kini memancar
dan menyelubungi sosok nya yang begitu cantik
dan mempesona. Wanita ini benar-benar spesial
dan berbeda dengan segala daya tariknya.
"Selamat sore Lady..Mr Alex sudah menunggu
anda di bawah."
Wakil kepala pelayan segera tersadar dari
segala keterpesonaan nya. Raya mengangguk
kemudian kembali melangkah tenang menuju
ke lantai utama. Begitu tiba di bawah puluhan
pelayan yang di pimpin oleh kepala pelayan
kembali memberikan penghormatan padanya.
Raya membalas mereka dengan menepiskan
tangan nya sedikit seraya menghentikan langkah.
"Kepala pelayan.. terimakasih atas pelayanan
kalian selama saya ada di sini. Semoga kita
bisa segera bertemu kembali."
Raya berucap tenang dan tegas di hadapan
semua pelayan yang terperangah dalam diam.
Beautiful Lady ini mengucapkan terimakasih.?
"Itu sudah menjadi tugas kami Lady.. Kami
sangat senang anda ada di sini. Anda adalah
seseorang yang sangat spesial bagi Tuan
Berharga kami."
Sahut kepala pelayan seraya membungkuk
setengah badan di ikuti oleh bawahannya.
Raya menebarkan senyum sahaja ke seluruh
pelayan itu kemudian kembali melangkah
keluar dari dalam bangunan utama Kastil.
Dalam diam nya mengiringi langkah Sang
majikan, Griz sedikit terkejut melihat sikap
Raya yang tampak sangat berbeda.
Dengan hati-hati Raya masuk ke dalam mobil
setelah Alex membukakan pintu dengan kepala
yang tertunduk dalam. Tidak lama mobil mewah
itupun meninggalkan Kastil di iringi tatapan
berat para pelayan yang berharap Beautiful
Lady nya segera kembali ke tempat ini.
Cukup lama perjalanan yang harus di tempuh
untuk mencapai istana. Raya membuka ponsel
dan menatap layar nya. Ada sorot mata kecewa
yang kini nampak dalam tatapannya saat dia
melihat tidak ada apapun di sana. Selama ini
dia tahu kalau Aaron sudah memutus akses orang-orang yang pernah terhubung dengan
dirinya hingga dia tidak akan bisa di hubungi
dengan cara apapun. Di ponsel nya kini hanya
ada nomor pribadi Aaron, Ansel, Alex dan Griz
serta Lily.
"Alex, apa kita masih lama.?"
Raya sedikit bosan dengan perjalanan ini
karena jarak nya memang cukup jauh.
"Kira-kira setengah jam lagi Miss. Yang Mulya
baru saja selesai dengan pertemuan nya."
"Bisakah kita berhenti dulu di minimarket
sebentar saja.?"
Alex dan Griz tampak terkejut, mereka saling
pandang sesaat. Alex melihat kearah Raya
dari spion tengah, dia terlihat ragu.
"Kalau ada yang anda inginkan kami akan
mendapatkan nya untuk anda Miss.."
"Aku ingin turun sendiri untuk membelinya."
Alex dan Griz tampak semakin bingung.
"Tapi Miss.. keadaan saat ini masih belum
kondusif, jaringan black wolf saat ini sedang
mengintai keberadaan anda."
"Kalian ini selalu saja berpikir buruk tentang
semua hal."
"Mohon maaf Miss, tapi kami tidak berani
melanggar perintah Yang Mulya."
__ADS_1
"Terserah lah, aku lelah dengan aturannya."
Raya mendesah pelan, kenapa hidupnya jadi
ribet begini sih, dia seakan tidak memiliki
kebebasan lagi untuk menentukan ataupun
memenuhi keinginannya sendiri. Padahal
saat ini dia ingin sekali mencicipi makanan
yang ada di luar rumah , apalagi makanan itu
bercitarasa asam pedas, emmm.. pastinya
akan mampu melampiaskan segala dahaga
nya terhadap makanan yang ada di negara
asalnya yang sangat beragam.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar
Satu jam setengah, mobil yang di bawa oleh
Alex mulai memasuki kawasan istana. Dari
arah jalan depan sudah di sambut oleh prajurit
yang berdiri siaga di setiap sudut tempat. Dan
kini bangunan super megah nan menakjubkan
itu sudah menampakkan diri di depan mata
Raya. Tidak tahu kenapa, hatinya tiba-tiba saja
bergetar hebat tidak karuan. Istana ini sangat
indah dan memukau membuat siapapun yang
melihatnya akan melongo dan terkagum-kagum.
Mobil Alex meluncur tenang menyusuri area
istana yang di hiasi oleh gemerlap lampu yang mengurung dan menyelubungi seluruh bangunan megah berlantai 10 dengan bentuk U dan sangat eksotis tersebut. Raya berusaha menenangkan
diri dan mengontrol irama detak jantungnya.
Tidak lama Alex memasuki gerbang utama dan
melakukan verifikasi data serta scan wajah.
Dengan mudah Alex lolos karena dia sudah
terbiasa keluar masuk istana ini.
Tidak lama mobil masuk ke area privat parking
yang ada di basement.
"Apa Aaron sudah sampai di sini.?"
Raya tampak ragu untuk turun dari mobil saat
Griz membukakan pintu seraya membungkuk.
"Yang Mulya sudah tiba di kamar pribadinya
setengah jam yang lalu Miss.."
Akhirnya dengan hati berdebar tidak karuan
Raya turun dari mobil. Matanya langsung saja
bersirobos tatap dengan mata tajam Ansel
yang baru keluar dari lift untuk menjemputnya.
"Ansel.. kenapa kamu kesini.?"
Raya menatap Ansel yang sedang memandang
lekat wajahnya penuh dengan gejolak perasaan
melihat tampilan anggun nan modis Raya saat
ini. Dalam sekali pandang saja, wanita ini terlihat
bak Princess dari negri awan, begitu cantik,
anggun dan elegan namun tetap terlihat tegas
dan berkharisma.
"Ansel..? are you okay..?"
Raya kembali bertanya karena pria menawan
itu masih saja menatapnya lekat dan dalam.
Wajah Ansel langsung bersemu merah, dengan
cepat dia menggenggam tangan Raya kemudian
di bawa berjalan menuju ke pintu masuk istana
yang sudah menyemburkan cahaya kemilau.
Begitu tiba di dalam ruangan Raya terperangah
melihat semua yang ada di depan matanya.
Seluruh ruangan yang di laluinya nampak
begitu indah dan menakjubkan bernuansa
emas dan memang kebanyakan terbuat dari
campuran emas murni.
Masya Allah.. seindah inikah istana kediaman
keluarga Raja..Ini benar-benar menakjubkan..
Raya bergumam dalam hati sambil berusaha
untuk tetap tenang dan bersikap normal. Di
setiap sudut istana ada banyak prajurit yang
berjaga juga para pelayan yang selalu siaga
melayani setiap tamu yang datang.
Setelah berjalan sangat jauh entah melewati
berapa ruangan mereka semua menyebrang
ke bangunan di bagian sayap kiri yang lebih
indah dan gemerlap lagi dengan interior serba
glamor oleh furniture yang sangat mewah.
Dan setelah berjalan cukup jauh akhirnya
mereka berdua tiba di sebuah ruangan yang
terlihat luas dengan nuansa silver gold. Ansel
dan Raya langsung menghentikan langkahnya
begitu dari arah lain muncul rombongan Sang
Ratu bersama Madam Rowena dan Arabella.
"Miss Raya..kau sudah datang rupanya.."
Arabella menyapa duluan dengan wajah ceria
dan senyum yang terkembang sempurna.
"Selamat malam Yang Mulya Ratu.. Selamat
malam Yang Mulya Ibu Suri.. Princess Arabella."
Raya menyapa anggota keluarga kerajaan itu
dengan suara yang sangat lembut dan tenang
seraya membungkuk setengah badan dengan
gestur tubuh yang sangat halus dan anggun
hingga mampu membuat ketiga pasang mata
itu terpana seketika. Mata Madam Rowena
tampak mengerjap, menatap tajam keseluruhan
diri wanita yang ada di hadapannya itu dengan
alis bertaut dalam. Lagi-lagi mata tajamnya
melihat dengan jelas ada Aura yang bersinar
terang, sangat kuat dan istimewa terpendar
dari dalam tubuh wanita ini. Dan sekarang ini
sinar terang itu semakin kuat serta ambisius
seolah ada dua jiwa di dalam nya.
"Selamat malam Miss Secretary.."
Sambut Sang Ratu dengan senyum bersahaja
dan wajah ramahnya.
"You.! Wanita yang waktu itu bukan.?"
Suara intimidasi Madam Rowena menciutkan
nyali semua orang yang ada di tempat itu.
"Benar Yang Mulya.."
Raya menjawab dengan tenang namun tetap
santun dengan senyum lembut terulas dari
bibirnya.
"Jangan memasuki ruangan yang tidak
selayaknya kau masuki.!"
Ucapnya tegas penuh penekanan. Semua
orang terdiam, bingung.. Sementara wajah
Raya terlihat sedikit pias, namun dia berusaha
untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi.
"Tentu Yang Mulya.. Saya tahu dimana posisi
saya seharusnya.."
Madam Rowena kembali menatap tajam wajah
Raya, kemudian melanjutkan langkahnya di ikuti
oleh Sang Ratu dan Arabella yang mengusap
lembut bahu Raya sambil tersenyum lembut..
***
Happy Reading...
__ADS_1