Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
51. Berkunjung Ke Istana


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aaron baru saja keluar dari ruang ganti pakaian


saat ponselnya bergetar di atas meja kerjanya.


Dia meraih ponsel tersebut kemudian berjalan


menuju balkon yang langsung mengarah pada


pemandangan lautan lepas.


"Kau tunggu saja di depan, sebentar lagi


aku turun.!"


Aaron berbicara sambil memasang dasi di


lehernya dengan terampil dan cepat.


"Pihak istana sudah mulai tidak sabar Kak,


mereka menduga kau sengaja melakukan


penundaan acara ini.!"


Terdengar suara Ansel di sebrang sana. Aaron


menatap lurus kearah gulungan ombak yang


datang menerjang bukit karang di bawah Kastil.


"Tidak ada yang bisa mengaturku.! Apalagi


berani mengganggu waktu kebersamaan ku


dengan istriku.!"


Tidak ada sahutan dari Ansel, sepertinya pria


menawan itu cukup terganggu pikirannya.


Dia sudah bisa menduga apa yang terjadi


pada pasangan suami istri itu setelah


mereka kembali ke kastil.


"Kau siapkan saja semuanya, 5 menit lagi


aku turun.!"


"Baik Kak, aku tunggu di bawah."


"Suruh Griz naik untuk menjaga kamar ini.!"


"Baiklah.!"


Aaron menutup ponselnya, memasukkan


kembali ke dalam saku jasnya. Dia menarik


nafas panjang, urusan dengan istana memang


sangat ribet, tapi mau tidak mau dia harus


menjalankan semua ini karena sudah terlanjur


berkomitmen, juga demi kepentingan seluruh


rakyat negara ini. Pengaruh keluarga Winston


sangat kuat di negara ini, hampir 70 persen


masyarakat mendukung perjodohan dirinya


dengan Catharina. Dia harus menjalani semua


ritual istana ini walaupun tidak di inginkan nya.


Aaron kembali masuk ke dalam kamar, dia


melangkah kearah tempat tidur. Kemudian


berdiri di pinggir ranjang, menatap lekat sosok


bidadari cantik yang sedang tertidur lelap


karena kelelahan setelah mereka bertempur habis-habisan tadi, istrinya itu hampir saja


pingsan karena keganasan dirinya yang tidak membiarkannya lepas sedetik saja.


Entah kenapa rasanya tidak ada puasnya bagi


dia menikmati tubuh indah itu, buaian segala


kenikmatan yang di berikan oleh tubuh spesial


itu seolah memberi kekuatan baru ke dalam


tubuh Aaron hingga membuat dirinya On terus


dan tubuhnya kini terasa ringan, rileks, segar


serta bercahaya. Satu kata untuk wanita ini


adalah She is Exceptional..!!


Aaron merangkak naik ke atas tempat tidur.


Meraih tubuh lunglai itu ke dalam dekapannya.


Menghirup aroma wangi lembut yang selalu


menguar dari tubuhnya yang mampu membuat


dirinya mengingat aroma menenangkan ini di


setiap waktunya, dan membuat jiwanya seolah melayang. Ya..ini memang sesuatu yang gila.!


Semua yang ada pada diri istrinya ini telah


membuat dirinya tidak seimbang lagi, wanita


ini sudah membuat dirinya tergila-gila. Selalu


mengingatnya di setiap waktu, setiap menit


bahkan setiap detik. Perlahan Aaron mengecup


lembut kening istrinya itu seraya memejamkan


mata mencoba menelusuri desiran halus yang


kini merambat ke seluruh aliran darahnya.


"Istirahatlah..Aku harus pergi sekarang.."


Bisik nya sambil menatap lekat wajah cantik


yang terlihat lelah itu yang masih saja setia


memejamkan matanya. Aaron mencium lembut


bibir Raya yang terlihat masih sangat bengkak


dan memerah. Tidak lama dia beranjak turun


dari atas tempat tidur. Kembali menatap wajah


Raya yang kini sudah menggulung tubuhnya,


meringkuk memeluk dirinya sendiri. Ada seringai


tipis di bibir Sang Pangeran sebelum akhirnya


dia melangkah pergi dari dalam kamar besar itu.


***


Waktu kini beranjak sore, Raya baru saja selesai


membersihkan diri setelah cukup beristirahat.


Semua orang yang dikenalnya sudah pergi dari


kastil ini, tinggalah kini dirinya bersama Alex


dan Griz yang baru datang pagi tadi setelah


mendapat perawatan semalam karena luka


tembak di lengan kirinya akibat insiden kemarin.


Walau keadaan fisiknya masih belum pulih


sepenuhnya akibat serangan brutal suaminya


tadi pagi, tapi Raya tetap harus berdiri di


posisinya sebagai Sekretaris Pribadi Putra


Mahkota agar semuanya berjalan lancar.


Malam ini akan ada jamuan spesial antara


keluarga kerajaan bersama dengan keluarga


besar Winston untuk membicarakan rencana


pernikahan Putra Mahkota dengan Duchess


Catharina. Ada perasaan aneh yang begitu


mengganggu hati Raya saat mengingat Aaron


akan segera menikah dengan wanita lain.


Lalu bagaimana dengan dirinya.? Ada dimana


sebenarnya posisi dirinya.? Istri bayangan.??


Rasa sakit itu kian terasa menggigit jiwanya.


Raya menarik nafas dalam-dalam sembari


memejamkan mata mencoba untuk tenang


dan mengontrol segala perasaannya. Saat


ini dirinya sedang berdiri di balkon kamarnya


menghadap lautan lepas yang mengirimkan


hembusan angin kencang namun tetap sejuk.


Ingat Raya..kau hanyalah wanita pembuat


anak untuk Sang Putra Mahkota..Tidak lebih


dari itu.. Terima saja nasibmu..!


Raya melipat kedua tangannya di dada sambil


menatap bentangan laut lepas yang terlihat


begitu indah dan mempesona. Harus dia akui


saat ini rasa takut pada sosok pria pemerkosa


nya itu perlahan mulai sirna. Hanya saja kini


telah berganti dengan perasaan aneh yang


membuat jiwanya gelisah. Sudah tiga kali pria


itu memiliki dirinya, mereguk segala madu yang


ada pada tubuhnya dan hal itu menimbulkan


satu perasaan yang sulit sekali untuk di


terjemahkan.

__ADS_1


"Lady..Yang Mulya mengirimkan pakaian ini


untuk anda kenakkan malam ini."


Raya tersentak, dia menolehkan kepalanya.


Wakil kepala pelayan dan dua orang pelayan


sudah berdiri di belakangnya bersama dengan


Griz. Dia menatap pakaian dan perlengkapan


lainnya yang ada di tangan dua pelayan. Raya


kembali menarik nafas panjang.


Baiklah.. mulai sekarang dia harus berdiri di


atas kakinya sendiri. Sebelum semua tragedi


pahit menimpanya dia tidaklah selemah ini.


Walau kedudukannya tidak setinggi Aaron,


tapi dirinya pun tidak rendah. Leluhur nya tidak


akan suka melihat dirinya merendahkan diri.


"Baiklah..aku akan segera bersiap. Kalian


boleh keluar sekarang.!"


Titah Raya dengan suara yang lembut namun


tetap tegas dan enak di dengar.


"Baik Lady.. kami akan menunggu anda di luar


kamar barangkali ada yang anda butuhkan."


Sahut wakil kepala pelayan sambil kemudian


membungkuk hormat.


"Griz..kau tetap di sini.!"


Griz mengganguk sambil membimbing Raya


masuk ke dalam kamar. Waktu sudah semakin


merayap sore, dua jam lagi dia sudah harus ada


di Grand Marco Palace. Aaron akan berangkat


langsung dari tempatnya sekarang. Saat ini dia


sedang ada pertemuan dengan para pedagang


tingkat global membahas perkembangan dunia


perdagangan yang akhir-akhir ini semakin pesat


dan penuh dengan persaingan.


Raya segera melakukan persiapan sendiri


seperti biasanya. Kalau untuk urusan makeup


dirinya tidak pernah memerlukan bantuan orang


lain. Walaupun tidak belajar secara spesifik


namun bakat alami yang di milikinya dalam


urusan yang satu ini tidak perlu di ragukan.


Lagipula wajahnya tidak memerlukan polesan


berlebih, dalam keadaan polos pun keelokan


rupanya sudah mampu membuat mata orang


yang melihatnya tidak berkedip.


Menjelang petang akhirnya Raya keluar dari


kamarnya dengan mengenakkan setelan semi


formal yang sangat elegan dan memukau. Dia


memutuskan tidak memakai pakaian yang di


kirimkan oleh Aaron, karena pakaian itu berupa


gaun malam yang sangat mewah dan glamor.


Tidak patut rasanya kalau dia mengenakkan


gaun itu, karena dirinya datang sebagai Miss


Secretary.. bukan sebagai tamu istimewa.


Wakil kepala pelayan beserta jajarannya tampak


berdiri kaku di tempat, mematung, saat melihat


Raya berjalan anggun dan tegas di penuhi oleh kharisma unik dan istimewa yang kini memancar


dan menyelubungi sosok nya yang begitu cantik


dan mempesona. Wanita ini benar-benar spesial


dan berbeda dengan segala daya tariknya.


"Selamat sore Lady..Mr Alex sudah menunggu


anda di bawah."


Wakil kepala pelayan segera tersadar dari


segala keterpesonaan nya. Raya mengangguk


kemudian kembali melangkah tenang menuju


ke lantai utama. Begitu tiba di bawah puluhan


pelayan yang di pimpin oleh kepala pelayan


kembali memberikan penghormatan padanya.


Raya membalas mereka dengan menepiskan


tangan nya sedikit seraya menghentikan langkah.


"Kepala pelayan.. terimakasih atas pelayanan


kalian selama saya ada di sini. Semoga kita


bisa segera bertemu kembali."


Raya berucap tenang dan tegas di hadapan


semua pelayan yang terperangah dalam diam.


Beautiful Lady ini mengucapkan terimakasih.?


"Itu sudah menjadi tugas kami Lady.. Kami


sangat senang anda ada di sini. Anda adalah


seseorang yang sangat spesial bagi Tuan


Berharga kami."


Sahut kepala pelayan seraya membungkuk


setengah badan di ikuti oleh bawahannya.


Raya menebarkan senyum sahaja ke seluruh


pelayan itu kemudian kembali melangkah


keluar dari dalam bangunan utama Kastil.


Dalam diam nya mengiringi langkah Sang


majikan, Griz sedikit terkejut melihat sikap


Raya yang tampak sangat berbeda.


Dengan hati-hati Raya masuk ke dalam mobil


setelah Alex membukakan pintu dengan kepala


yang tertunduk dalam. Tidak lama mobil mewah


itupun meninggalkan Kastil di iringi tatapan


berat para pelayan yang berharap Beautiful


Lady nya segera kembali ke tempat ini.


Cukup lama perjalanan yang harus di tempuh


untuk mencapai istana. Raya membuka ponsel


dan menatap layar nya. Ada sorot mata kecewa


yang kini nampak dalam tatapannya saat dia


melihat tidak ada apapun di sana. Selama ini


dia tahu kalau Aaron sudah memutus akses orang-orang yang pernah terhubung dengan


dirinya hingga dia tidak akan bisa di hubungi


dengan cara apapun. Di ponsel nya kini hanya


ada nomor pribadi Aaron, Ansel, Alex dan Griz


serta Lily.


"Alex, apa kita masih lama.?"


Raya sedikit bosan dengan perjalanan ini


karena jarak nya memang cukup jauh.


"Kira-kira setengah jam lagi Miss. Yang Mulya


baru saja selesai dengan pertemuan nya."


"Bisakah kita berhenti dulu di minimarket


sebentar saja.?"


Alex dan Griz tampak terkejut, mereka saling


pandang sesaat. Alex melihat kearah Raya


dari spion tengah, dia terlihat ragu.


"Kalau ada yang anda inginkan kami akan


mendapatkan nya untuk anda Miss.."


"Aku ingin turun sendiri untuk membelinya."


Alex dan Griz tampak semakin bingung.


"Tapi Miss.. keadaan saat ini masih belum


kondusif, jaringan black wolf saat ini sedang


mengintai keberadaan anda."


"Kalian ini selalu saja berpikir buruk tentang


semua hal."


"Mohon maaf Miss, tapi kami tidak berani


melanggar perintah Yang Mulya."

__ADS_1


"Terserah lah, aku lelah dengan aturannya."


Raya mendesah pelan, kenapa hidupnya jadi


ribet begini sih, dia seakan tidak memiliki


kebebasan lagi untuk menentukan ataupun


memenuhi keinginannya sendiri. Padahal


saat ini dia ingin sekali mencicipi makanan


yang ada di luar rumah , apalagi makanan itu


bercitarasa asam pedas, emmm.. pastinya


akan mampu melampiaskan segala dahaga


nya terhadap makanan yang ada di negara


asalnya yang sangat beragam.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar


Satu jam setengah, mobil yang di bawa oleh


Alex mulai memasuki kawasan istana. Dari


arah jalan depan sudah di sambut oleh prajurit


yang berdiri siaga di setiap sudut tempat. Dan


kini bangunan super megah nan menakjubkan


itu sudah menampakkan diri di depan mata


Raya. Tidak tahu kenapa, hatinya tiba-tiba saja


bergetar hebat tidak karuan. Istana ini sangat


indah dan memukau membuat siapapun yang


melihatnya akan melongo dan terkagum-kagum.


Mobil Alex meluncur tenang menyusuri area


istana yang di hiasi oleh gemerlap lampu yang mengurung dan menyelubungi seluruh bangunan megah berlantai 10 dengan bentuk U dan sangat eksotis tersebut. Raya berusaha menenangkan


diri dan mengontrol irama detak jantungnya.


Tidak lama Alex memasuki gerbang utama dan


melakukan verifikasi data serta scan wajah.


Dengan mudah Alex lolos karena dia sudah


terbiasa keluar masuk istana ini.


Tidak lama mobil masuk ke area privat parking


yang ada di basement.


"Apa Aaron sudah sampai di sini.?"


Raya tampak ragu untuk turun dari mobil saat


Griz membukakan pintu seraya membungkuk.


"Yang Mulya sudah tiba di kamar pribadinya


setengah jam yang lalu Miss.."


Akhirnya dengan hati berdebar tidak karuan


Raya turun dari mobil. Matanya langsung saja


bersirobos tatap dengan mata tajam Ansel


yang baru keluar dari lift untuk menjemputnya.


"Ansel.. kenapa kamu kesini.?"


Raya menatap Ansel yang sedang memandang


lekat wajahnya penuh dengan gejolak perasaan


melihat tampilan anggun nan modis Raya saat


ini. Dalam sekali pandang saja, wanita ini terlihat


bak Princess dari negri awan, begitu cantik,


anggun dan elegan namun tetap terlihat tegas


dan berkharisma.


"Ansel..? are you okay..?"


Raya kembali bertanya karena pria menawan


itu masih saja menatapnya lekat dan dalam.


Wajah Ansel langsung bersemu merah, dengan


cepat dia menggenggam tangan Raya kemudian


di bawa berjalan menuju ke pintu masuk istana


yang sudah menyemburkan cahaya kemilau.


Begitu tiba di dalam ruangan Raya terperangah


melihat semua yang ada di depan matanya.


Seluruh ruangan yang di laluinya nampak


begitu indah dan menakjubkan bernuansa


emas dan memang kebanyakan terbuat dari


campuran emas murni.


Masya Allah.. seindah inikah istana kediaman


keluarga Raja..Ini benar-benar menakjubkan..


Raya bergumam dalam hati sambil berusaha


untuk tetap tenang dan bersikap normal. Di


setiap sudut istana ada banyak prajurit yang


berjaga juga para pelayan yang selalu siaga


melayani setiap tamu yang datang.


Setelah berjalan sangat jauh entah melewati


berapa ruangan mereka semua menyebrang


ke bangunan di bagian sayap kiri yang lebih


indah dan gemerlap lagi dengan interior serba


glamor oleh furniture yang sangat mewah.


Dan setelah berjalan cukup jauh akhirnya


mereka berdua tiba di sebuah ruangan yang


terlihat luas dengan nuansa silver gold. Ansel


dan Raya langsung menghentikan langkahnya


begitu dari arah lain muncul rombongan Sang


Ratu bersama Madam Rowena dan Arabella.


"Miss Raya..kau sudah datang rupanya.."


Arabella menyapa duluan dengan wajah ceria


dan senyum yang terkembang sempurna.


"Selamat malam Yang Mulya Ratu.. Selamat


malam Yang Mulya Ibu Suri.. Princess Arabella."


Raya menyapa anggota keluarga kerajaan itu


dengan suara yang sangat lembut dan tenang


seraya membungkuk setengah badan dengan


gestur tubuh yang sangat halus dan anggun


hingga mampu membuat ketiga pasang mata


itu terpana seketika. Mata Madam Rowena


tampak mengerjap, menatap tajam keseluruhan


diri wanita yang ada di hadapannya itu dengan


alis bertaut dalam. Lagi-lagi mata tajamnya


melihat dengan jelas ada Aura yang bersinar


terang, sangat kuat dan istimewa terpendar


dari dalam tubuh wanita ini. Dan sekarang ini


sinar terang itu semakin kuat serta ambisius


seolah ada dua jiwa di dalam nya.


"Selamat malam Miss Secretary.."


Sambut Sang Ratu dengan senyum bersahaja


dan wajah ramahnya.


"You.! Wanita yang waktu itu bukan.?"


Suara intimidasi Madam Rowena menciutkan


nyali semua orang yang ada di tempat itu.


"Benar Yang Mulya.."


Raya menjawab dengan tenang namun tetap


santun dengan senyum lembut terulas dari


bibirnya.


"Jangan memasuki ruangan yang tidak


selayaknya kau masuki.!"


Ucapnya tegas penuh penekanan. Semua


orang terdiam, bingung.. Sementara wajah


Raya terlihat sedikit pias, namun dia berusaha


untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi.


"Tentu Yang Mulya.. Saya tahu dimana posisi


saya seharusnya.."


Madam Rowena kembali menatap tajam wajah


Raya, kemudian melanjutkan langkahnya di ikuti


oleh Sang Ratu dan Arabella yang mengusap


lembut bahu Raya sambil tersenyum lembut..


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2