
❤️❤️❤️
Aula Agung Grand Marco Palace...
Semua kamera dan alat perekam sudah siap.
Ada beberapa kursi yang berderet di belakang
meja panjang lonjong terbuat dari marmer asli
dengan dekorasi cantik dan suasana yang serba
steril di dalam ruangan bernuansa emas itu.
Aula ini sangatlah megah dan mengagumkan
di penuhi ornamen mewah serba gemerlap.
Para wartawan dan beberapa tamu penting
istana tampak sudah duduk rapi di tempat
yang sudah di susun sedemikian rapi.
Tidak lama kilatan kamera langsung menerjang
begitu dari dalam ruangan utama di belakang
aula muncul rombongan pertama yang terdiri
dari Madam Rowena, Ratu Virginia serta Putri
Arabella. Ketiga anggota keluarga kerajaan itu
di dampingi oleh beberapa orang staf istana.
Mereka bertiga tampak melambaikan tangan
kearah kamera kemudian berdiri anggun penuh
pesona di belakang meja konferensi pers dengan
gaya dan gestur tubuh yang sangat elegan serta
berkelas. Senyum ramah terkembang dari bibir
ketiganya yang mengenakkan pakaian serba
mewah dan glamor dalam tampilan yang serba
indah dan memukau.
Setelah cukup memberi waktu kepada wartawan
untuk mengambil gambar, mereka bertiga duduk
di tempat masing-masing. Semua orang selalu di
buat berdecak kagum pada keluarga kerajaan ini.
Tidak lama fokus semua wartawan beralih pada kemunculan rombongan baru yang lebih memukau
lagi, yakni dua sosok yang dari tadi sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Mata mereka kini
seolah tak berkedip menatap kemunculan Aaron
dan Catharina yang berjalan berdampingan mulai
memasuki ruangan itu di sambut jepretan kamera.
Raya yang masih di liputi kebingungan tampak berjalan di belakang Aaron dan Catharina dengan perasaan yang semakin tidak menentu, ada apa
ini sebenarnya.? Dia menatap semua orang yang
telah hadir duluan dalam ruangan itu. Anggota
keluarga kerajaan ada di sini juga.?
Setelah pengambilan gambar cukup, akhirnya
Aaron dan Catharina duduk di kursi utama yang
ada di tengah, mereka berdua tampak begitu menyilaukan membuat semua orang serempak
membungkuk hormat kearahnya di tengah rasa
kagum dan terpesona.
"Selamat pagi semuanya..Terimakasih atas
kehadiran kalian di tempat ini.."
Ratu Virgina membuka acara konferensi pers
ini dengan suara yang sangat lembut namun
tetap terkesan tegas. Suasana berubah hening,
semua siap untuk mendengarkan apa yang
akan di sampaikan oleh Sang Ratu cantik yang
terkenal sangat tegas itu.
"Istana sengaja mengundang kalian semua
berkumpul di tempat ini untuk membagikan
kabar bahagia bagi kita semua, karena Putra
Mahkota sudah memutuskan untuk mengakhiri
kesendirian nya dan memilih masa depannya
bersama dengan seseorang yang sudah kami
siapkan selama ini."
Sang Ratu menjeda penuturannya, suasana
tampak sedikit gaduh. Semua orang tampak
terkejut namun juga menyambut antusias
pernyataan ini, karena ini yang di tunggu oleh
seluruh rakyat di negara ini.
"Kami sudah menyiapkan Duchess Catharina..
putri dari keluarga Duke Winston sebagai calon pendamping Putra Mahkota. Dan mereka akan
segera bertunangan dalam waktu dekat ini..
Setelah itu barulah melangsungkan pernikahan."
Deg !
Jantung Raya berhenti berdetak untuk sesaat.
Wajahnya langsung memucat. Bertunangan ?
Apakah ini mimpi ? Tubuh Raya limbung, dia
kehilangan tenaga. Aaron yang dari tadi tidak
menampilkan ekspresi apapun kini tampak
mulai berubah dingin saat menyadari Raya
memundurkan tubuhnya ke belakang.
Sementara si cantik Lady Catharina tampak
sumringah, wajahnya semakin terlihat berseri
dengan senyum secerah mentari terkembang
sempurna kearah para wartawan.
"Griz, aku harus pergi sekarang juga.!"
Raya menarik tangan Griz untuk keluar dari
dalam aula dengan wajah yang sudah tidak
terbaca seperti apa saat ini. Tidak, untuk saat
ini dia belum siap menerima semua kenyataan
ini, sebenarnya dia tahu ini pasti terjadi, tapi
kenapa rasanya dia tidak sanggup untuk terus
berada di dalam ruangan dan menyaksikan
apa yang akan berlangsung selanjutnya.
Raya dan Griz berjalan cepat keluar dari aula.
Jadi inilah alasannya kenapa Ansel tidak detail
menjabarkan rangkaian acara ini. Ada tetesan
cairan bening yang kini jatuh menuruni wajah
cantik nya. Raya cepat-cepat mengusapnya.
Untuk apa dia menangis, dan untuk siapa.?
__ADS_1
Bukankah dirinya memang tidak punya posisi
apapun di sisi Aaron selain sebagai wanita
yang ketiban sial saja ! Tapi sungguh..ini cukup
menyakitkan rasanya.! Dadanya terasa sesak.
Tuhan.. kenapa Engkau harus membawa ku
pada takdir hidup seperti ini. Kenapa Engkau
harus mempertemukan ku dengan nya..
Raya tersentak ketika tiba-tiba tangannya di
genggam oleh Ansel yang sudah menunggu
di luar. Tanpa kata dia menyuruh Raya masuk
ke dalam mobil sport mewah miliknya. Raya
terpaksa mengikuti perintah pria itu.
"An.. kita mau kemana.?"
Raya menatap Ansel yang sedang memasang
sabuk pengaman di tubuhnya. Mata mereka
bertemu, untuk sesaat saling menatap. Raya
memundurkan wajahnya saat Ansel mendekat.
"Kita akan ke kantor, tempat kerja barumu.!
Kau akan sangat sibuk hari ini."
"Tapi Aaron ada jadwal lain setelah ini."
"Dia sudah cancel jadwal itu.! Setelah acara ini
dia harus menemani Catharina ke tempat lain."
Raya terhenyak, jadi seharian ini jadwal Aaron
di cancel hanya untuk menemani Catharina.?
Ya.. itu memang pantas dia lakukan. Mereka
adalah pasangan kekasih yang sangat serasi,
calon Raja dan Ratu masa depan negara ini.
Tidak ada lagi pembicaraan, Ansel melajukan
mobil mewah nya menuju ke gedung pusat
dari Marvello's Corporation.
Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai
ke gedung perusahaan Marvello's Corporation
karena jalanan di negara ini tidak mengenal
adanya kemacetan. Begitu masuk ke gerbang
depan, Raya sudah tampak bengong melihat
bagaimana megah dan luasnya bangunan
gedung Perusahaan tempat dirinya bekerja.
Selama ini dia hanya tahu lewat tayangan
video yang sering di putar di kantornya. Tapi
saat ini dia menginjakkan kakinya langsung
di tempat ini.
Di negara asalnya tidak ada gedung semegah
dan sebesar ini. Gedung ini lebih dari 50 lantai
dengan desain arsitektur yang serba canggih.
Semuanya terkonsep dengan sangat baik sesuai
moto dan bidang usaha perusahaan nya yang
bergerak di bidang otomotif dan tekhnologi.
Begitu mobil Ansel muncul di depan lobby
berlarian ke luar menyambut kedatangan nya.
"Ayo turun, bukankah kau sangat ingin ada
di tempat ini ?"
Raya melirik kearah Ansel, ada sedikit keraguan
dalam hatinya untuk keluar dari mobil. Keduanya
saling memandang, Ansel berusaha meyakinkan.
Tidak lama Raya melepas sabuk pengaman nya.
"Tempat ini sangat megah dan besar. Apa
aku pantas menginjakkan kaki di dalamnya.?"
"Kenapa kau selalu merasa tidak pantas untuk
segala hal, padahal kenyataannya kau lebih
dari pantas Kakak ipar."
Raya melempar pandangan ke arah luar. Dia
merapihkan pakaian dan tampilan nya.
"Jangan memanggilku Kakak ipar lagi. Simpan
itu untuk orang yang lebih pantas menerimanya."
"Catharina maksudmu.?"
"Kau tahu pasti siapa orangnya."
Ansel tersenyum tipis, matanya menatap lekat
wajah Raya dari samping, wanita ini sangatlah
sempurna dan penuh daya tarik. Dia bahkan
harus mati-matian meredam gejolak perasaan
nya saat sedang berdekatan dengan nya seperti
ini, jiwanya begitu tersiksa harus selalu bersikap
datar dan normal di hadapannya.
"Pernikahan mereka memang sudah di atur
oleh istana, itu tidak bisa di hindari."
"Tapi kelihatannya hubungan mereka cukup
dekat, terlihat sekali kalau lady Catharina
sangat menyukai Putra Mahkota."
"Siapa yang tidak akan menyukainya.?"
"Kenapa dia tidak membiarkan aku pergi saja.
Aku tidak ingin menjadi masalah di kemudian
hari untuknya. Aku sudah iklhas menerima
semua yang terjadi padaku."
"Maukah kau menikah dengan ku.?"
Raya melirik cepat, menatap tajam wajah Ansel
yang menatapnya penuh keseriusan.
"Tuan Danzstone.. tolong jangan membuat
suasana bertambah rumit bagiku."
"Setelah kakak membebaskan mu jadilah
istriku.. Raya.."
Mata mereka semakin terpaut dalam, Raya
menggeleng kuat dengan sorot mata penuh
ketidakpercayaan, dalam keadaan hatinya
yang sedang tidak berbentuk seperti ini pria
ini malah mengatakan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kau adalah orang yang sangat terhormat
Tuan Ansel. Dan aku hanyalah wanita biasa,
jadi tidak pantas bagiku untuk berada diantara siapapun.."
Raya memalingkan wajahnya, kemudian bersiap
untuk keluar dari mobil. Ansel kembali tersenyum
tipis, dia menarik napas panjang, setelah itu keluar
dari dalam mobil duluan.
"Selamat datang Lord Ansel."
Para security serempak menyambut seraya membungkuk setengah badan. Ansel memutar
badan kearah pintu sebelah, lalu menggengam
tangan Raya begitu dia keluar dari mobil. Untuk
sesaat Raya berdiri menatap megahnya gedung
yang ada di depan nya tersebut, namun tidak
lama dia mulai melangkah yakin bersama dengan Ansel menaiki tangga utama yang entah terdiri
dari berapa undakan. Ansel memang sengaja membawa Raya lewat pintu utama ini agar
wanita itu bisa mengenali gedung ini.
Ada banyak resepsionis yang kini berbaris di
sisi ruangan lobby utama untuk menyambut kedatangan Orang ke-2 di Marvello's Corp.
tersebut dengan tatapan terkesima melihat kemunculan nya yang berjalan gagah bersama
dengan seorang wanita elegan super cantik
dengan tampang dan penampilan yang sangat berbeda dari orang kebanyakan di negara ini.
"Perlu kalian ketahui.. mulai sekarang segala
laporan penting yang berurusan dengan agenda
Presdir langsung saja kirimkan pada beliau.
Miss Maharaya.. dia adalah sekretaris pribadi
Presdir Marvello's Corporation.!"
Bruk.!
Salah seorang resepsionis tampak limbung
dan jatuh membentur dinding meja resepsionis.
Ansel mendengus sebal melihat kekonyolan
yang di pertontonkan oleh karyawan nya itu.
"Sekretaris Pribadi Presdir..?"
Para resepsionis lain bergumam, tidak percaya
pada kejutan luar biasa ini. Raya menatap
tenang wajah-wajah cantik dan super seksi itu.
"Salam kenal, mohon kerjasama nya.."
Raya berucap lembut namun tetap tegas sambil menundukkan kepala sedikit sambil tersenyum
ramah. Satu orang lagi kini mundur, wajahnya
tampak memucat, tidak sanggup menerima satu
kenyataan pahit bahwa sekarang ini Presdir idola
mereka memiliki seorang sektretaris wanita.
"Selamat datang di Marvello's Corporation
Miss Maharaya.."
Resepsionis lain yang masih sedikit bugar kini
membungkukan badan menyambut Raya yang
kembali menundukan kepala sedikit. Setelah
itu dia kembali melangkah tenang bersama
dengan Ansel yang terlihat mengulum senyum.
Dasar resepsionis bodoh, sebegitu cinta kah
kalian pada Sang Presdir.? sampai tidak bisa
menerima kenyataan kalau sekarang ini akan
ada wanita yang mendampingi Bos nya itu
dalam keseharian nya.
Tiba di ruang kerja Presdir...
Raya menatap takjub seluruh ruang kerja yang
lebih mirip seperti ruangan di dalam istana
kecil itu. Begitu luas, begitu megah dan sangat
mewah dengan interior yang serba canggih.
"Meja kerjamu ada di sana."
Ansel membimbing Raya menuju meja kerjanya
yang ada di sebelah kanan ruangan. Raya masih
terpukau melihat semua detail ruangan kerjanya
itu. Tapi kenapa harus satu ruangan lagi dengan
bos jahatnya itu. Lalu bagaimana dia bisa bekerja
dengan tenang kalau begini.? Uuh.. terpaksa dia
harus selalu melihat wajah itu.
"Ruangan ini sangat besar, kau tidak perlu
merasa gerah saat sedang bekerja.!"
Ansel berkata seolah mengerti apa yang ada
dalam pikiran Raya saat ini.
"Iya tentu saja, ruangan ini bahkan terlalu luas."
"Kau bisa bekerja senyaman berada di rumah.
Jadi tidak perlu terlalu tertekan, santai saja."
Raya berjalan berputar menatap seluruh ruang
megah itu sampai tidak sadar kakinya terantuk
sudut sofa yang di lewatinya, akibat nya tubuh
nya kini terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh kalau Ansel tidak sigap menangkap pinggangnya. Tangan Ansel kini melingkar erat
di pinggang rampingnya, sementara kedua tangan Raya ada di leher kokoh pria itu, keduanya saling pandang kuat dengan sorot mata dipenuhi keterkejutan dan detak jantung yang berjalan
tidak semestinya. Kali ini Ansel benar-benar
tidak bisa mengendalikan diri mendapati wajah
cantik Raya kini berada dalam kekuasaannya.
Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya,
masih dalam posisi yang sangat intim.
"Kau mau coba-coba bermain di belakang ku
******** kecil.?"
Ansel terkesiap saat mendengar suara bariton
penuh nada ancaman kini ada di belakang nya
plus sesuatu yang menekan pelipis nya. Mata
Raya membulat sempurna begitu melihat sosok
Aaron sudah berdiri di belakang Ansel dengan
keadaan menodongkan senjata ke pelipis pria
itu yang langsung membawa Raya berdiri dan
reflek mengangkat kedua tangannya ke atas..
***
Happy Reading...
__ADS_1