Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
38. Tidak Sanggup


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aula Agung Grand Marco Palace...


Semua kamera dan alat perekam sudah siap.


Ada beberapa kursi yang berderet di belakang


meja panjang lonjong terbuat dari marmer asli


dengan dekorasi cantik dan suasana yang serba


steril di dalam ruangan bernuansa emas itu.


Aula ini sangatlah megah dan mengagumkan


di penuhi ornamen mewah serba gemerlap.


Para wartawan dan beberapa tamu penting


istana tampak sudah duduk rapi di tempat


yang sudah di susun sedemikian rapi.


Tidak lama kilatan kamera langsung menerjang


begitu dari dalam ruangan utama di belakang


aula muncul rombongan pertama yang terdiri


dari Madam Rowena, Ratu Virginia serta Putri


Arabella. Ketiga anggota keluarga kerajaan itu


di dampingi oleh beberapa orang staf istana.


Mereka bertiga tampak melambaikan tangan


kearah kamera kemudian berdiri anggun penuh


pesona di belakang meja konferensi pers dengan


gaya dan gestur tubuh yang sangat elegan serta


berkelas. Senyum ramah terkembang dari bibir


ketiganya yang mengenakkan pakaian serba


mewah dan glamor dalam tampilan yang serba


indah dan memukau.


Setelah cukup memberi waktu kepada wartawan


untuk mengambil gambar, mereka bertiga duduk


di tempat masing-masing. Semua orang selalu di


buat berdecak kagum pada keluarga kerajaan ini.


Tidak lama fokus semua wartawan beralih pada kemunculan rombongan baru yang lebih memukau


lagi, yakni dua sosok yang dari tadi sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Mata mereka kini


seolah tak berkedip menatap kemunculan Aaron


dan Catharina yang berjalan berdampingan mulai


memasuki ruangan itu di sambut jepretan kamera.


Raya yang masih di liputi kebingungan tampak berjalan di belakang Aaron dan Catharina dengan perasaan yang semakin tidak menentu, ada apa


ini sebenarnya.? Dia menatap semua orang yang


telah hadir duluan dalam ruangan itu. Anggota


keluarga kerajaan ada di sini juga.?


Setelah pengambilan gambar cukup, akhirnya


Aaron dan Catharina duduk di kursi utama yang


ada di tengah, mereka berdua tampak begitu menyilaukan membuat semua orang serempak


membungkuk hormat kearahnya di tengah rasa


kagum dan terpesona.


"Selamat pagi semuanya..Terimakasih atas


kehadiran kalian di tempat ini.."


Ratu Virgina membuka acara konferensi pers


ini dengan suara yang sangat lembut namun


tetap terkesan tegas. Suasana berubah hening,


semua siap untuk mendengarkan apa yang


akan di sampaikan oleh Sang Ratu cantik yang


terkenal sangat tegas itu.


"Istana sengaja mengundang kalian semua


berkumpul di tempat ini untuk membagikan


kabar bahagia bagi kita semua, karena Putra


Mahkota sudah memutuskan untuk mengakhiri


kesendirian nya dan memilih masa depannya


bersama dengan seseorang yang sudah kami


siapkan selama ini."


Sang Ratu menjeda penuturannya, suasana


tampak sedikit gaduh. Semua orang tampak


terkejut namun juga menyambut antusias


pernyataan ini, karena ini yang di tunggu oleh


seluruh rakyat di negara ini.


"Kami sudah menyiapkan Duchess Catharina..


putri dari keluarga Duke Winston sebagai calon pendamping Putra Mahkota. Dan mereka akan


segera bertunangan dalam waktu dekat ini..


Setelah itu barulah melangsungkan pernikahan."


Deg !


Jantung Raya berhenti berdetak untuk sesaat.


Wajahnya langsung memucat. Bertunangan ?


Apakah ini mimpi ? Tubuh Raya limbung, dia


kehilangan tenaga. Aaron yang dari tadi tidak


menampilkan ekspresi apapun kini tampak


mulai berubah dingin saat menyadari Raya


memundurkan tubuhnya ke belakang.


Sementara si cantik Lady Catharina tampak


sumringah, wajahnya semakin terlihat berseri


dengan senyum secerah mentari terkembang


sempurna kearah para wartawan.


"Griz, aku harus pergi sekarang juga.!"


Raya menarik tangan Griz untuk keluar dari


dalam aula dengan wajah yang sudah tidak


terbaca seperti apa saat ini. Tidak, untuk saat


ini dia belum siap menerima semua kenyataan


ini, sebenarnya dia tahu ini pasti terjadi, tapi


kenapa rasanya dia tidak sanggup untuk terus


berada di dalam ruangan dan menyaksikan


apa yang akan berlangsung selanjutnya.


Raya dan Griz berjalan cepat keluar dari aula.


Jadi inilah alasannya kenapa Ansel tidak detail


menjabarkan rangkaian acara ini. Ada tetesan


cairan bening yang kini jatuh menuruni wajah


cantik nya. Raya cepat-cepat mengusapnya.


Untuk apa dia menangis, dan untuk siapa.?

__ADS_1


Bukankah dirinya memang tidak punya posisi


apapun di sisi Aaron selain sebagai wanita


yang ketiban sial saja ! Tapi sungguh..ini cukup


menyakitkan rasanya.! Dadanya terasa sesak.


Tuhan.. kenapa Engkau harus membawa ku


pada takdir hidup seperti ini. Kenapa Engkau


harus mempertemukan ku dengan nya..


Raya tersentak ketika tiba-tiba tangannya di


genggam oleh Ansel yang sudah menunggu


di luar. Tanpa kata dia menyuruh Raya masuk


ke dalam mobil sport mewah miliknya. Raya


terpaksa mengikuti perintah pria itu.


"An.. kita mau kemana.?"


Raya menatap Ansel yang sedang memasang


sabuk pengaman di tubuhnya. Mata mereka


bertemu, untuk sesaat saling menatap. Raya


memundurkan wajahnya saat Ansel mendekat.


"Kita akan ke kantor, tempat kerja barumu.!


Kau akan sangat sibuk hari ini."


"Tapi Aaron ada jadwal lain setelah ini."


"Dia sudah cancel jadwal itu.! Setelah acara ini


dia harus menemani Catharina ke tempat lain."


Raya terhenyak, jadi seharian ini jadwal Aaron


di cancel hanya untuk menemani Catharina.?


Ya.. itu memang pantas dia lakukan. Mereka


adalah pasangan kekasih yang sangat serasi,


calon Raja dan Ratu masa depan negara ini.


Tidak ada lagi pembicaraan, Ansel melajukan


mobil mewah nya menuju ke gedung pusat


dari Marvello's Corporation.


Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai


ke gedung perusahaan Marvello's Corporation


karena jalanan di negara ini tidak mengenal


adanya kemacetan. Begitu masuk ke gerbang


depan, Raya sudah tampak bengong melihat


bagaimana megah dan luasnya bangunan


gedung Perusahaan tempat dirinya bekerja.


Selama ini dia hanya tahu lewat tayangan


video yang sering di putar di kantornya. Tapi


saat ini dia menginjakkan kakinya langsung


di tempat ini.


Di negara asalnya tidak ada gedung semegah


dan sebesar ini. Gedung ini lebih dari 50 lantai


dengan desain arsitektur yang serba canggih.


Semuanya terkonsep dengan sangat baik sesuai


moto dan bidang usaha perusahaan nya yang


bergerak di bidang otomotif dan tekhnologi.


Begitu mobil Ansel muncul di depan lobby


berlarian ke luar menyambut kedatangan nya.


"Ayo turun, bukankah kau sangat ingin ada


di tempat ini ?"


Raya melirik kearah Ansel, ada sedikit keraguan


dalam hatinya untuk keluar dari mobil. Keduanya


saling memandang, Ansel berusaha meyakinkan.


Tidak lama Raya melepas sabuk pengaman nya.


"Tempat ini sangat megah dan besar. Apa


aku pantas menginjakkan kaki di dalamnya.?"


"Kenapa kau selalu merasa tidak pantas untuk


segala hal, padahal kenyataannya kau lebih


dari pantas Kakak ipar."


Raya melempar pandangan ke arah luar. Dia


merapihkan pakaian dan tampilan nya.


"Jangan memanggilku Kakak ipar lagi. Simpan


itu untuk orang yang lebih pantas menerimanya."


"Catharina maksudmu.?"


"Kau tahu pasti siapa orangnya."


Ansel tersenyum tipis, matanya menatap lekat


wajah Raya dari samping, wanita ini sangatlah


sempurna dan penuh daya tarik. Dia bahkan


harus mati-matian meredam gejolak perasaan


nya saat sedang berdekatan dengan nya seperti


ini, jiwanya begitu tersiksa harus selalu bersikap


datar dan normal di hadapannya.


"Pernikahan mereka memang sudah di atur


oleh istana, itu tidak bisa di hindari."


"Tapi kelihatannya hubungan mereka cukup


dekat, terlihat sekali kalau lady Catharina


sangat menyukai Putra Mahkota."


"Siapa yang tidak akan menyukainya.?"


"Kenapa dia tidak membiarkan aku pergi saja.


Aku tidak ingin menjadi masalah di kemudian


hari untuknya. Aku sudah iklhas menerima


semua yang terjadi padaku."


"Maukah kau menikah dengan ku.?"


Raya melirik cepat, menatap tajam wajah Ansel


yang menatapnya penuh keseriusan.


"Tuan Danzstone.. tolong jangan membuat


suasana bertambah rumit bagiku."


"Setelah kakak membebaskan mu jadilah


istriku.. Raya.."


Mata mereka semakin terpaut dalam, Raya


menggeleng kuat dengan sorot mata penuh


ketidakpercayaan, dalam keadaan hatinya


yang sedang tidak berbentuk seperti ini pria


ini malah mengatakan hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Kau adalah orang yang sangat terhormat


Tuan Ansel. Dan aku hanyalah wanita biasa,


jadi tidak pantas bagiku untuk berada diantara siapapun.."


Raya memalingkan wajahnya, kemudian bersiap


untuk keluar dari mobil. Ansel kembali tersenyum


tipis, dia menarik napas panjang, setelah itu keluar


dari dalam mobil duluan.


"Selamat datang Lord Ansel."


Para security serempak menyambut seraya membungkuk setengah badan. Ansel memutar


badan kearah pintu sebelah, lalu menggengam


tangan Raya begitu dia keluar dari mobil. Untuk


sesaat Raya berdiri menatap megahnya gedung


yang ada di depan nya tersebut, namun tidak


lama dia mulai melangkah yakin bersama dengan Ansel menaiki tangga utama yang entah terdiri


dari berapa undakan. Ansel memang sengaja membawa Raya lewat pintu utama ini agar


wanita itu bisa mengenali gedung ini.


Ada banyak resepsionis yang kini berbaris di


sisi ruangan lobby utama untuk menyambut kedatangan Orang ke-2 di Marvello's Corp.


tersebut dengan tatapan terkesima melihat kemunculan nya yang berjalan gagah bersama


dengan seorang wanita elegan super cantik


dengan tampang dan penampilan yang sangat berbeda dari orang kebanyakan di negara ini.


"Perlu kalian ketahui.. mulai sekarang segala


laporan penting yang berurusan dengan agenda


Presdir langsung saja kirimkan pada beliau.


Miss Maharaya.. dia adalah sekretaris pribadi


Presdir Marvello's Corporation.!"


Bruk.!


Salah seorang resepsionis tampak limbung


dan jatuh membentur dinding meja resepsionis.


Ansel mendengus sebal melihat kekonyolan


yang di pertontonkan oleh karyawan nya itu.


"Sekretaris Pribadi Presdir..?"


Para resepsionis lain bergumam, tidak percaya


pada kejutan luar biasa ini. Raya menatap


tenang wajah-wajah cantik dan super seksi itu.


"Salam kenal, mohon kerjasama nya.."


Raya berucap lembut namun tetap tegas sambil menundukkan kepala sedikit sambil tersenyum


ramah. Satu orang lagi kini mundur, wajahnya


tampak memucat, tidak sanggup menerima satu


kenyataan pahit bahwa sekarang ini Presdir idola


mereka memiliki seorang sektretaris wanita.


"Selamat datang di Marvello's Corporation


Miss Maharaya.."


Resepsionis lain yang masih sedikit bugar kini


membungkukan badan menyambut Raya yang


kembali menundukan kepala sedikit. Setelah


itu dia kembali melangkah tenang bersama


dengan Ansel yang terlihat mengulum senyum.


Dasar resepsionis bodoh, sebegitu cinta kah


kalian pada Sang Presdir.? sampai tidak bisa


menerima kenyataan kalau sekarang ini akan


ada wanita yang mendampingi Bos nya itu


dalam keseharian nya.


Tiba di ruang kerja Presdir...


Raya menatap takjub seluruh ruang kerja yang


lebih mirip seperti ruangan di dalam istana


kecil itu. Begitu luas, begitu megah dan sangat


mewah dengan interior yang serba canggih.


"Meja kerjamu ada di sana."


Ansel membimbing Raya menuju meja kerjanya


yang ada di sebelah kanan ruangan. Raya masih


terpukau melihat semua detail ruangan kerjanya


itu. Tapi kenapa harus satu ruangan lagi dengan


bos jahatnya itu. Lalu bagaimana dia bisa bekerja


dengan tenang kalau begini.? Uuh.. terpaksa dia


harus selalu melihat wajah itu.


"Ruangan ini sangat besar, kau tidak perlu


merasa gerah saat sedang bekerja.!"


Ansel berkata seolah mengerti apa yang ada


dalam pikiran Raya saat ini.


"Iya tentu saja, ruangan ini bahkan terlalu luas."


"Kau bisa bekerja senyaman berada di rumah.


Jadi tidak perlu terlalu tertekan, santai saja."


Raya berjalan berputar menatap seluruh ruang


megah itu sampai tidak sadar kakinya terantuk


sudut sofa yang di lewatinya, akibat nya tubuh


nya kini terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh kalau Ansel tidak sigap menangkap pinggangnya. Tangan Ansel kini melingkar erat


di pinggang rampingnya, sementara kedua tangan Raya ada di leher kokoh pria itu, keduanya saling pandang kuat dengan sorot mata dipenuhi keterkejutan dan detak jantung yang berjalan


tidak semestinya. Kali ini Ansel benar-benar


tidak bisa mengendalikan diri mendapati wajah


cantik Raya kini berada dalam kekuasaannya.


Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya,


masih dalam posisi yang sangat intim.


"Kau mau coba-coba bermain di belakang ku


******** kecil.?"


Ansel terkesiap saat mendengar suara bariton


penuh nada ancaman kini ada di belakang nya


plus sesuatu yang menekan pelipis nya. Mata


Raya membulat sempurna begitu melihat sosok


Aaron sudah berdiri di belakang Ansel dengan


keadaan menodongkan senjata ke pelipis pria


itu yang langsung membawa Raya berdiri dan


reflek mengangkat kedua tangannya ke atas..


***


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2