Terjerat Cinta Pewaris Tahta

Terjerat Cinta Pewaris Tahta
107. The Birth Of The Prince


__ADS_3

***


Hari yang cerah untuk jiwa-jiwa yang di penuhi


oleh kedamaian dan ketentraman. Waktu terus


berlalu dan berjalan tanpa bisa di hentikan.


Kini kandungan Raya sudah menginjak usia 9


bulan, hanya tinggal menunggu waktu kelahiran.


Raya tetap pada pendiriannya untuk melahirkan


secara normal walaupun Aaron dan Dokter Zuhra


menyarankan untuk melakukan operasi caesar. Sebenarnya akan ada sedikit kendala kalau Raya memilih melahirkan dengan cara normal setelah


Dokter Zuhra mengetahui fakta tentang semua


keistimewaan yang dimiliki oleh Putri Mahkota.


Namun.. keinginan Raya sepertinya tidak akan


bisa di bantah atau di tentang.


"Sayang.. apa hari ini jadwalmu padat.?"


Raya bertanya saat Aaron masih asyik dengan


kegiatannya mengelus-elus perutnya yang kini


sudah membesar dan sekarang ini terlihat sedikit


turun, kalau kata orang tua itu tandanya waktu


lahiran hanya tinggal menghitung hari atau bisa


juga menghitung waktu.


"Memang cukup padat, tapi aku tidak akan keluar,


hanya akan berada di kantor saja. Aku tidak ingin


kecolongan nantinya."


Desis Aaron sambil memeluk erat perut Raya.


Bibir Raya tersenyum lembut kemudian membelai rambut Aaron yang berjongkok di hadapan nya.


Dia sangat menyukai aroma wangi maskulin


yang menguar dari rambut dan tubuh suaminya.


"Kalau begitu turunlah ke bawah sekarang, ini


sudah siang sayang."


Aaron menghentikan kegiatannya, dia mencium


lembut perut besar Raya yang terhalang kain


tipis dari pakaian yang di kenakannya.


"Sebenarnya aku malas untuk pergi ke kantor


sayang. Aku ingin menemani mu di sini.!"


"Jangan begitu.. Kau memiliki kewajiban dan


tanggungjawab yang besar terhadap bangsa


dan negaramu."


Aaron mendengus kasar, kemudian berdiri. Raya


meraih dasi yang tergeletak di atas tempat tidur


kemudian dengan cekatan memasangnya di leher


Aaron yang terdiam memandangi wajah cantik


istrinya itu. Alisnya tampak bertaut dalam .


"Apa kau sudah merasakan tanda-tanda.?


Aku lihat wajahmu pucat sekali."


Aaron bertanya sambil meraup wajah Raya lalu mengamati nya dengan seksama. Raya masih


tenang melanjutkan kegiatannya tanpa peduli


reaksi kekhawatiran Aaron.


"Jangan khawatir..aku belum merasakan apapun sayang. Mungkin ini hanya efek kurang tidur saja, semalam aku tidak bisa tidur nyenyak."


Tiba-tiba Aaron menarik tubuh Raya ke dalam


pelukannya. Ada kecemasan yang kini datang


dan menguasai dirinya. Sebenarnya dia sudah


tidak sabar menyambut kelahiran bayinya ini,


tapi juga ada rasa takut yang kini menggelayuti


hati dan jiwanya karena Raya memilih melahirkan


secara normal. Dia tidak akan sanggup melihat


belahan jiwa nya ini merasakan kesakitan.


"Kenapa kamu memilih melahirkan dengan cara


normal.? Bukankah Dokter sudah mengatakan


kesulitan dan kesakitan yang akan kau hadapi.?"


Desis Aaron masih dalam keadaan memeluk


erat tubuh Raya.


"Kita tidak boleh mendahului Kekuasan Allah


sayang. Biarkan ketentuanNya yang akan


membimbing jalanku dalam menghadirkan


buah cinta kita ke dunia ini."


Bisik Raya sambil menepuk halus punggung


Aaron. Mereka saling melepas pelukan.


"Percayakan semuanya pada kebesaranNya."


Lirih Raya sambil mendaratkan ciuman lembut


di bibir Aaron yang memejamkan matanya.


Raya kembali merapihkan tampilan suaminya


itu yang terlihat sudah sangat gagah.


"Aku akan selalu memantau mu..Jessica dan


yang lain akan selalu menemanimu."


Aaron berucap sambil kemudian mengecup


lembut kening Raya, setelah itu menciumi


wajah nya tanpa terlewat hingga membuat


Raya gemas sendiri.


"Sudah sana..mau sampai kapan kau menunda


untuk turun ke bawah."


Decak Raya sambil kemudian menarik tangan


Aaron di bawa berjalan keluar dari kamar super


besar dan super mewah itu.


***


Entah kenapa pagi ini cuaca terlihat sangat cerah. Bunga-bunga di taman tampak bermekaran dan


berseri menebarkan aroma wangi menyegarkan


yang memberi keharuman ke seluruh lingkungan


Istana. Suara burung berkicau dan bersahutan


dengan riang membuat suasana bertambah


ceria dan menenangkan.


Karena merasa jenuh berada di kamarnya terus akhirnya Raya memutuskan turun ke taman


belakang untuk menikmati udara segar dan


wewangian alami yang menguar di sana. Griz,


Jessica dan para pelayan serta para pengawal


pribadi tampak menemani Raya turun ke taman


untuk menikmati sensasi kesegaran alam. Raya


mengenakkan mantel tebal untuk menghalau


hawa dingin yang cukup menyentuh kulit.


"Yang Mulya.. anda tidak boleh terlalu lama


berada di luar ruangan, cuaca sangat dingin


dan sedikit ekstrim saat ini."


Jessica mengingatkan sambil memakaikan


syal di leher Raya yang tersenyum lembut.


"Kau ini sudah seperti ibuku saja ya Jes.."


"Saya punya tanggungjawab terhadap anda


Yang Mulya.. Segala sesuatu nya harus selalu


berada dalam pengawasan."


Sahut Jessica sambil berdiri di hadapan Raya


yang masih duduk santai di kursi taman sambil


menikmati teh hijau kesukaannya. Beberapa saat


kemudian Raya tampak menautkan alisnya saat


merasakan ada gejala yang tidak beres di bagian bawah tubuhnya, dia merasakan ada sesuatu


yang turun dan keluar dari inti tubuh nya.


"Yang Mulya..ada apa.? Apakah ada sesuatu


yang anda rasakan ?"


Jessica tampak terkejut saat melihat Raya


menaruh cangkir teh hijau nya dengan wajah


yang terlihat sedikit memucat.


"Jes.. sepertinya sesuatu terjadi padaku. Kau


hubungi Dokter Zuhra sekarang."


"Apa.? Apakah anda akan melahirkan sekarang ?"


Jessica berseru kaget. Karuan saja semua orang


yang ada di sana terkejut bukan main. Mereka


langsung merapat menghampiri sang putri.


"Jangan membuat keributan..! Jangan sampai


istana geger."


Tegas Raya sambil kemudian berdiri di bantu

__ADS_1


oleh Jessica dan Griz. Mata Raya kini melebar


saat merasakan ada cairan hangat yang turun


menelusuri kakinya di balik pakaian yang saat


ini di kenakannya.


"Sepertinya air ketubannya mulai keluar."


Desis Raya dengan wajah yang semakin pucat.


Dia mencoba untuk tetap tenang. Dengan sedikit


panik, Jessica segera menghubungi Dokter Zuhra


sementara Brenda cepat-cepat menghubungi Alex


untuk memberi kabar pada Aaron. Raya mencoba


berjalan keluar dari taman dengan kondisi yang


mulai sedikit tidak nyaman. Semua bawahannya tampak cemas dan panik sendiri.


Mau tidak mau istana geger...


Aaron melesat pergi dari kantornya begitu Alex memberitahu kondisi Raya. Raja dan Ratu yang


sedang melakukan meeting dengan para staf


istana langsung mengakhiri pertemuan mereka.


Ini adalah kabar yang sudah di tunggu-tunggu


tapi tetap saja mengejutkan.


Tiba di ruang depan istana utama wajah Aaron


tampak memucat saat melihat Raya sedang


berjalan tenang menuju kearah pintu utama.


Mobil khusus yang di kirim rumah sakit istana


tampak sudah siaga di depan pintu.


"Apa yang kau lakukan sayang.? Kenapa tidak


menungguku datang.?"


Desis Aaron dengan wajah yang terlihat di liputi


oleh kecemasan dan kepanikan luar biasa. Dia


segera mengangkat tubuh Raya ke dalam


pangkuannya.


"Aku masih kuat berjalan kok sayang.. Ini juga


bagus untuk memperlancar proses nya nanti."


Lirih Raya sambil melingkarkan tangannya di


leher Aaron yang berjalan cepat menuju pintu.


"Aku di sini ada untukmu sayang.! Aku tidak


ingin terjadi apapun padamu."


Ujar Aaron dengan ekspresi wajah yang sudah


tidak terbaca. Raya tersenyum lemah, lilitan


tangannya di leher Aaron semakin terasa kuat


saat tiba-tiba saja ada serangan rasa sakit di


sekitar pinggang dan punggungnya yang cukup


membuat Raya meringis ngilu. Reaksi wajah


Aaron semakin terlihat aneh. Dia melangkah


masuk ke dalam mobil. Ada dua orang suster


yang sudah menanti di dalam mobil tersebut.


Raya segera di dudukkan senyaman mungkin.


Dan para suster langsung bergerak mengecek


kondisi Raya, sementara Aaron duduk di kursi


sebelahnya, menatap lekat wajah pucat Raya


sembari merengkuh bahunya.


"Yang Mulya.. kita harus segera ke rumah sakit


sekarang juga. Sepertinya sudah waktunya."


Ujar suster kepala sambil menundukkan kepala.


Wajah Aaron berubah membeku, sementara Raya


mencoba untuk tetap tenang. Keduanya tampak


saling menatap kuat. Aaron memeluk erat tubuh


Raya saat mobil khusus itu mulai melaju keluar


dari lingkungan istana. Tidak lama Raja dan Ratu


menyusul di belakang. Dan suasana di dalam


istana semakin geger dengan berita kelahiran


calon penerus kerajaan xxx.. ini.


***


Rumah sakit istana kini berubah menjadi gaduh


dan riuh setelah di serbu oleh serombongan para


pewarta yang ingin mengetahui kebenaran kabar


Putri Mahkota yang akan melahirkan. Beritanya


dunia maya. Ini adalah moment yang sangat


penting bagi negara ini, dimana keturunan baru


dari keluarga kerajaan akan segera hadir..


Sementara itu, di ruang persalinan ekslusif yang


ada di lantai atas dan sudah sangat steril dari


orang-orang yang tidak berkepentingan, saat ini


suasana sedikit urgent. Begitu tiba di rumah


sakit, Raya langsung di serang mulas yang hebat karena ternyata posisinya sudah berada pada


pembukaan 8. Sebenarnya sejak semalam Raya


sudah mulai merasakan tidak nyaman dengan


inti tubuh nya yang terus saja mengeluarkan


cairan kental. Namun dia berusaha untuk tidak


terlalu peduli dan mengabaikan nya karena


tidak ingin membuat Aaron cemas.


"Aaron..ini sakiitt sekali sayaang..Ini benar-


benar sakiiitt.."


Raya merintih kesakitan saat rasa panas dan


mulas di sekitar pinggang dan perut bagian


bawahnya kini menguasai dirinya. Air matanya


turun deras membanjiri wajah cantik nya yang


sudah semakin memucat. Tangannya tampak


mencengkram kuat pergelangan tangan Aaron


yang tidak pernah beranjak dari sisinya.


Wajah Sang Putra Mahkota saat ini sudah


sangat dingin, tidak terjabarkan bagaimana


cemas serta khawatirnya dia. Andai saja rasa


sakit itu bisa dibagi atau di alihkan..!


"Sabar sayang..ini adalah pilihan mu.. Inilah


yang aku khawatirkan dari awal.."


Desis Aaron sambil mengelus dan menciumi


wajah Raya yang di penuhi air mata dan peluh.


Hatinya benar-benar hancur menyaksikan


segala kesakitan yang dialami oleh istrinya itu.


Dokter Zuhra kembali mengecek kondisi inti


tubuh Raya yang mulai mengalirkan darah.


Wajah nya tampak sedikit pias, dia memang


sudah menduga hal ini akan terjadi karena


lubang inti milik Raya sangat berbeda dengan kebanyakan wanita maka pendarahan ini pasti


akan terjadi, dan ini adalah masalah serius.


"Suster.. cepat siapkan stock darah yang kemarin


sudah di datangkan dari negara C.. Kita harus


segera mengantisipasi segala kemungkinan."


Titah dokter Zuhra sambil bergerak cepat dan


menyiapkan semua peralatan karena sekarang


pembukaan nya sudah hampir sempurna.


"Baik Dok, tapi stock nya sangat terbatas.


Kita harus menyiapkan alternatif lain."


"Golongan darah Yang Mulya Putri Mahkota


tidak ada ada yang sama di negara ini. Hanya


ada beberapa di wilayah benua Amerika dan


sedikit di wilayah Asia..Ini sangat beresiko."


Aaron yang mendengar percakapan itu tampak


semakin dingin wajahnya. Inilah yang menjadi


kekhawatirannya. Kelangkaan golongan darah


Raya akan menjadi masalah besar.


"Lakukan yang terbaik sekarang.. Aku akan


segera mengurus sisa nya..!!"


Tegas Aaron dengan suara yang sangat berat


karena tekanan perasaan yang tidak menentu.


"Aaaa... Aaroonn... sakiiitt... aku tidak tahan


lagi..oohh...Ya Allah.."


Raya menjerit saat terjangan rasa sakit kini

__ADS_1


merontokkan seluruh sendi dan tulang-tulang


dalam tubuhnya. Darah semakin banyak yang


mengalir membuat Aaron bertambah panik.


Tubuhnya tiba-tiba membeku saat melihat


Raya terkulai lemas tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi dengan nya..??"


Aaron berteriak kencang dengan mata yang


mulai memerah sambil memeluk erat tubuh


Raya. Dokter Zuhra dan dua dokter lainnya


tampak bergerak cepat melakukan segala


daya upaya untuk menyadarkan Raya..


Suasana tiba-tiba berubah genting saat tubuh


Raya di dorong keluar dari ruang persalinan


menuju ruang operasi yang ada di ruangan


sebelah. Wajah Raja dan Ratu serta Madam


Rowena tampak berubah pucat saat melihat


kondisi Raya yang sudah terlihat seputih


kapas. Dan tampang Aaron saat ini tampak


bagai singa yang sedang terluka.


"Apa yang terjadi dengan Putri Mahkota.."


Desis Raja William sambil menjatuhkan dirinya


diatas sofa yang ada di ruang tunggu di depan


ruang operasi. Ratu Virginia tampak lemas, air


matanya sudah mengalir deras dari tadi. Dan


ibu suri tampak menundukkan kepalanya. Dia


sedang berdoa dengan khusyuk.


Team dokter sudah bersiap untuk melakukan penyelamatan darurat dengan tindakan operasi.


Dan posisi Raya saat ini sudah siap untuk di


lakukan proses pembiusan total.


"Ja-jangan lakukan apapun tanpa seizin ku..


Aku tidak apa-apa.. ka-kami..berdua siap


sekarang.."


Lirih Raya pelan dengan tatapan tajam kearah


para Dokter yang langsung bengong sesaat


begitu melihat Raya tersadar dan langsung


memberi ultimatum..


"Sayang..kamu sudah sadar.. Kita harus segera


melakukan tindakan maksimal, aku tidak ingin


terjadi apapun pada kalian berdua.."


Desis Aaron sambil menatap lekat wajah Raya


yang kini menatap teduh kearah dirinya dengan


memegang kuat tangan nya.


"Tidak akan terjadi apapun pada kami sayang..


Dia sangat kuat.. dia hanya sedang menguji ku."


Lirih Raya sambil kemudian kembali meringis


saat rasa sakit luar biasa itu kini benar-benar


menerjang dan membuat dia harus berfokus


diri untuk menyalurkan tenaga dan pikirannya.


Akhirnya Dokter Zuhra kembali melakukan


pengecekan pada posisi bayi.


"Baiklah Yang Mulya.. semuanya sudah pada


posisi sempurna.. Anda siap, saya juga siap.


Mohon dengarkan intruksi saya selanjutnya.


Okay.. tarik nafas.. buang perlahan.. lalu


nanti dorong yang kuat ya.."


Dokter Zuhra memberikan aba-aba..Raya dan


Aaron saling pandang lekat. Aaron akhirnya


mengangguk, mencium lembut kening Raya


dan memegang erat tangannya. Raya kembali


bersiap saat ada dorongan kuat dari dalam


bersamaan dengan terjangan rasa sakit yang


tidak terperi kini seakan memecah tubuhnya.


"Bismillah.. please baby.. Ibu memohon


bantuanmu nak.. Kita berjuang sama-sama.."


Raya bergumam lirih sambil mengatur nafas


dan mengatur tenaganya. Kemudian dia mulai


mendorong dan mengejan. Aaron memejamkan


mata sambil meniup ubun-ubun Raya dengan


melantunkan doa dalam hati agar segalanya


di lancarkan dan di mudahkan.


"Bagus.. terus Yang Mulya.. dorong..dorong.."


"Aaa... Allahu Akbar..aaaa..."


Raya mengeluarkan seluruh tenaganya untuk


mendorong dan mengejan panjang, hingga


akhirnya..


Sesosok bayi mungil kini sudah ada dalam


pangkuan Dokter Zuhra di iringi jerit tangis


melengking dari si bayi yang dalam sekilas


mampu memendarkan cahaya putih terang


begitu sosoknya keluar dari rahim sang ibu.


Semua mata kini terkesima.. terpaku kearah


sosok mungil tersebut yang langsung bergerak


aktif sambil tak henti menangis kencang.


"Alhamdulillah ya Allah. Dia sudah lahir sayang..


Terimakasih atas segala perjuanganmu. Kau


telah mempertaruhkan nyawamu hanya untuk


memberikan hadiah terindah dan tak ternilai


harganya untukku."


Aaron berbisik parau sambil menciumi wajah


Raya yang terlihat masih menatap lurus kearah


bayi nya, dia masih tidak percaya sekarang bayi


itu sudah lahir ke dunia.


"Alhamdulillah.. Bayi anda sudah lahir dengan


selamat Yang Mulya.. Seorang Pangeran.. yang


sangat tampan dan menakjubkan.. Selamat ya.."


Dokter Zuhra meletakkan bayi merah itu di atas


dada Raya yang terbuka. Mata Raya dan Aaron


tampak melongo menatap bayi mungil itu yang


kini mendadak berhenti menangis.Dia bergerak


halus dan nyaman seolah sudah menemukan


kembali peraduannya. Tidak lama bayi itu sudah memeluk kedua gunung kembar milik ibunya


yang akan menjadi sumber kehidupannya.


"Masya Allah.. Subhanallah.."


Air mata Aaron meluncur seketika saat melihat


sosok mungil itu kini membuka matanya dan


seolah sedang mengawasi keadaan sekitar.


"Subhanallah..sayang... dia sudah ada di sini


sekarang. Dia yang sudah menyiksaku selama


ini sekarang sudah ada di depanku.. Putraku..


Anak Ibu yang hebat dan kuat.. selamat


datang di dunia ini sayang.."


Lirih Raya sambil mengelus lembut penuh kasih


kepala bayi itu yang terus bergerak-gerak halus.


Air matanya kini terjun bebas tak tertahan.


"Iya sayang.. dia sudah ada di sini. Dia adalah


calon penerus keluarga De Enzo yang sangat


berharga. Welcome to the world my prince.."


Sahut Aaron sambil tiada henti membelai


wajah Raya dan mengelus lembut kepala sang


bayi. Pecah sudah tangis Raya. Dia merasa


sangat bahagia saat ini karena telah berhasil mempersembahkan hadiah yang paling indah


dan paling berharga untuk suaminya, untuk


seluruh keluarganya bahkan untuk seluruh


bangsa dan negara ini..


Aaron segera mengadzani sang pangeran kecil


dengan cucuran air mata dan suara yang sangat


bergetar karena rasa haru yang tak tertahan.

__ADS_1


***


Happy episode..😁


__ADS_2