
***
Hari yang cerah untuk jiwa-jiwa yang di penuhi
oleh kedamaian dan ketentraman. Waktu terus
berlalu dan berjalan tanpa bisa di hentikan.
Kini kandungan Raya sudah menginjak usia 9
bulan, hanya tinggal menunggu waktu kelahiran.
Raya tetap pada pendiriannya untuk melahirkan
secara normal walaupun Aaron dan Dokter Zuhra
menyarankan untuk melakukan operasi caesar. Sebenarnya akan ada sedikit kendala kalau Raya memilih melahirkan dengan cara normal setelah
Dokter Zuhra mengetahui fakta tentang semua
keistimewaan yang dimiliki oleh Putri Mahkota.
Namun.. keinginan Raya sepertinya tidak akan
bisa di bantah atau di tentang.
"Sayang.. apa hari ini jadwalmu padat.?"
Raya bertanya saat Aaron masih asyik dengan
kegiatannya mengelus-elus perutnya yang kini
sudah membesar dan sekarang ini terlihat sedikit
turun, kalau kata orang tua itu tandanya waktu
lahiran hanya tinggal menghitung hari atau bisa
juga menghitung waktu.
"Memang cukup padat, tapi aku tidak akan keluar,
hanya akan berada di kantor saja. Aku tidak ingin
kecolongan nantinya."
Desis Aaron sambil memeluk erat perut Raya.
Bibir Raya tersenyum lembut kemudian membelai rambut Aaron yang berjongkok di hadapan nya.
Dia sangat menyukai aroma wangi maskulin
yang menguar dari rambut dan tubuh suaminya.
"Kalau begitu turunlah ke bawah sekarang, ini
sudah siang sayang."
Aaron menghentikan kegiatannya, dia mencium
lembut perut besar Raya yang terhalang kain
tipis dari pakaian yang di kenakannya.
"Sebenarnya aku malas untuk pergi ke kantor
sayang. Aku ingin menemani mu di sini.!"
"Jangan begitu.. Kau memiliki kewajiban dan
tanggungjawab yang besar terhadap bangsa
dan negaramu."
Aaron mendengus kasar, kemudian berdiri. Raya
meraih dasi yang tergeletak di atas tempat tidur
kemudian dengan cekatan memasangnya di leher
Aaron yang terdiam memandangi wajah cantik
istrinya itu. Alisnya tampak bertaut dalam .
"Apa kau sudah merasakan tanda-tanda.?
Aku lihat wajahmu pucat sekali."
Aaron bertanya sambil meraup wajah Raya lalu mengamati nya dengan seksama. Raya masih
tenang melanjutkan kegiatannya tanpa peduli
reaksi kekhawatiran Aaron.
"Jangan khawatir..aku belum merasakan apapun sayang. Mungkin ini hanya efek kurang tidur saja, semalam aku tidak bisa tidur nyenyak."
Tiba-tiba Aaron menarik tubuh Raya ke dalam
pelukannya. Ada kecemasan yang kini datang
dan menguasai dirinya. Sebenarnya dia sudah
tidak sabar menyambut kelahiran bayinya ini,
tapi juga ada rasa takut yang kini menggelayuti
hati dan jiwanya karena Raya memilih melahirkan
secara normal. Dia tidak akan sanggup melihat
belahan jiwa nya ini merasakan kesakitan.
"Kenapa kamu memilih melahirkan dengan cara
normal.? Bukankah Dokter sudah mengatakan
kesulitan dan kesakitan yang akan kau hadapi.?"
Desis Aaron masih dalam keadaan memeluk
erat tubuh Raya.
"Kita tidak boleh mendahului Kekuasan Allah
sayang. Biarkan ketentuanNya yang akan
membimbing jalanku dalam menghadirkan
buah cinta kita ke dunia ini."
Bisik Raya sambil menepuk halus punggung
Aaron. Mereka saling melepas pelukan.
"Percayakan semuanya pada kebesaranNya."
Lirih Raya sambil mendaratkan ciuman lembut
di bibir Aaron yang memejamkan matanya.
Raya kembali merapihkan tampilan suaminya
itu yang terlihat sudah sangat gagah.
"Aku akan selalu memantau mu..Jessica dan
yang lain akan selalu menemanimu."
Aaron berucap sambil kemudian mengecup
lembut kening Raya, setelah itu menciumi
wajah nya tanpa terlewat hingga membuat
Raya gemas sendiri.
"Sudah sana..mau sampai kapan kau menunda
untuk turun ke bawah."
Decak Raya sambil kemudian menarik tangan
Aaron di bawa berjalan keluar dari kamar super
besar dan super mewah itu.
***
Entah kenapa pagi ini cuaca terlihat sangat cerah. Bunga-bunga di taman tampak bermekaran dan
berseri menebarkan aroma wangi menyegarkan
yang memberi keharuman ke seluruh lingkungan
Istana. Suara burung berkicau dan bersahutan
dengan riang membuat suasana bertambah
ceria dan menenangkan.
Karena merasa jenuh berada di kamarnya terus akhirnya Raya memutuskan turun ke taman
belakang untuk menikmati udara segar dan
wewangian alami yang menguar di sana. Griz,
Jessica dan para pelayan serta para pengawal
pribadi tampak menemani Raya turun ke taman
untuk menikmati sensasi kesegaran alam. Raya
mengenakkan mantel tebal untuk menghalau
hawa dingin yang cukup menyentuh kulit.
"Yang Mulya.. anda tidak boleh terlalu lama
berada di luar ruangan, cuaca sangat dingin
dan sedikit ekstrim saat ini."
Jessica mengingatkan sambil memakaikan
syal di leher Raya yang tersenyum lembut.
"Kau ini sudah seperti ibuku saja ya Jes.."
"Saya punya tanggungjawab terhadap anda
Yang Mulya.. Segala sesuatu nya harus selalu
berada dalam pengawasan."
Sahut Jessica sambil berdiri di hadapan Raya
yang masih duduk santai di kursi taman sambil
menikmati teh hijau kesukaannya. Beberapa saat
kemudian Raya tampak menautkan alisnya saat
merasakan ada gejala yang tidak beres di bagian bawah tubuhnya, dia merasakan ada sesuatu
yang turun dan keluar dari inti tubuh nya.
"Yang Mulya..ada apa.? Apakah ada sesuatu
yang anda rasakan ?"
Jessica tampak terkejut saat melihat Raya
menaruh cangkir teh hijau nya dengan wajah
yang terlihat sedikit memucat.
"Jes.. sepertinya sesuatu terjadi padaku. Kau
hubungi Dokter Zuhra sekarang."
"Apa.? Apakah anda akan melahirkan sekarang ?"
Jessica berseru kaget. Karuan saja semua orang
yang ada di sana terkejut bukan main. Mereka
langsung merapat menghampiri sang putri.
"Jangan membuat keributan..! Jangan sampai
istana geger."
Tegas Raya sambil kemudian berdiri di bantu
__ADS_1
oleh Jessica dan Griz. Mata Raya kini melebar
saat merasakan ada cairan hangat yang turun
menelusuri kakinya di balik pakaian yang saat
ini di kenakannya.
"Sepertinya air ketubannya mulai keluar."
Desis Raya dengan wajah yang semakin pucat.
Dia mencoba untuk tetap tenang. Dengan sedikit
panik, Jessica segera menghubungi Dokter Zuhra
sementara Brenda cepat-cepat menghubungi Alex
untuk memberi kabar pada Aaron. Raya mencoba
berjalan keluar dari taman dengan kondisi yang
mulai sedikit tidak nyaman. Semua bawahannya tampak cemas dan panik sendiri.
Mau tidak mau istana geger...
Aaron melesat pergi dari kantornya begitu Alex memberitahu kondisi Raya. Raja dan Ratu yang
sedang melakukan meeting dengan para staf
istana langsung mengakhiri pertemuan mereka.
Ini adalah kabar yang sudah di tunggu-tunggu
tapi tetap saja mengejutkan.
Tiba di ruang depan istana utama wajah Aaron
tampak memucat saat melihat Raya sedang
berjalan tenang menuju kearah pintu utama.
Mobil khusus yang di kirim rumah sakit istana
tampak sudah siaga di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan sayang.? Kenapa tidak
menungguku datang.?"
Desis Aaron dengan wajah yang terlihat di liputi
oleh kecemasan dan kepanikan luar biasa. Dia
segera mengangkat tubuh Raya ke dalam
pangkuannya.
"Aku masih kuat berjalan kok sayang.. Ini juga
bagus untuk memperlancar proses nya nanti."
Lirih Raya sambil melingkarkan tangannya di
leher Aaron yang berjalan cepat menuju pintu.
"Aku di sini ada untukmu sayang.! Aku tidak
ingin terjadi apapun padamu."
Ujar Aaron dengan ekspresi wajah yang sudah
tidak terbaca. Raya tersenyum lemah, lilitan
tangannya di leher Aaron semakin terasa kuat
saat tiba-tiba saja ada serangan rasa sakit di
sekitar pinggang dan punggungnya yang cukup
membuat Raya meringis ngilu. Reaksi wajah
Aaron semakin terlihat aneh. Dia melangkah
masuk ke dalam mobil. Ada dua orang suster
yang sudah menanti di dalam mobil tersebut.
Raya segera di dudukkan senyaman mungkin.
Dan para suster langsung bergerak mengecek
kondisi Raya, sementara Aaron duduk di kursi
sebelahnya, menatap lekat wajah pucat Raya
sembari merengkuh bahunya.
"Yang Mulya.. kita harus segera ke rumah sakit
sekarang juga. Sepertinya sudah waktunya."
Ujar suster kepala sambil menundukkan kepala.
Wajah Aaron berubah membeku, sementara Raya
mencoba untuk tetap tenang. Keduanya tampak
saling menatap kuat. Aaron memeluk erat tubuh
Raya saat mobil khusus itu mulai melaju keluar
dari lingkungan istana. Tidak lama Raja dan Ratu
menyusul di belakang. Dan suasana di dalam
istana semakin geger dengan berita kelahiran
calon penerus kerajaan xxx.. ini.
***
Rumah sakit istana kini berubah menjadi gaduh
dan riuh setelah di serbu oleh serombongan para
pewarta yang ingin mengetahui kebenaran kabar
Putri Mahkota yang akan melahirkan. Beritanya
dunia maya. Ini adalah moment yang sangat
penting bagi negara ini, dimana keturunan baru
dari keluarga kerajaan akan segera hadir..
Sementara itu, di ruang persalinan ekslusif yang
ada di lantai atas dan sudah sangat steril dari
orang-orang yang tidak berkepentingan, saat ini
suasana sedikit urgent. Begitu tiba di rumah
sakit, Raya langsung di serang mulas yang hebat karena ternyata posisinya sudah berada pada
pembukaan 8. Sebenarnya sejak semalam Raya
sudah mulai merasakan tidak nyaman dengan
inti tubuh nya yang terus saja mengeluarkan
cairan kental. Namun dia berusaha untuk tidak
terlalu peduli dan mengabaikan nya karena
tidak ingin membuat Aaron cemas.
"Aaron..ini sakiitt sekali sayaang..Ini benar-
benar sakiiitt.."
Raya merintih kesakitan saat rasa panas dan
mulas di sekitar pinggang dan perut bagian
bawahnya kini menguasai dirinya. Air matanya
turun deras membanjiri wajah cantik nya yang
sudah semakin memucat. Tangannya tampak
mencengkram kuat pergelangan tangan Aaron
yang tidak pernah beranjak dari sisinya.
Wajah Sang Putra Mahkota saat ini sudah
sangat dingin, tidak terjabarkan bagaimana
cemas serta khawatirnya dia. Andai saja rasa
sakit itu bisa dibagi atau di alihkan..!
"Sabar sayang..ini adalah pilihan mu.. Inilah
yang aku khawatirkan dari awal.."
Desis Aaron sambil mengelus dan menciumi
wajah Raya yang di penuhi air mata dan peluh.
Hatinya benar-benar hancur menyaksikan
segala kesakitan yang dialami oleh istrinya itu.
Dokter Zuhra kembali mengecek kondisi inti
tubuh Raya yang mulai mengalirkan darah.
Wajah nya tampak sedikit pias, dia memang
sudah menduga hal ini akan terjadi karena
lubang inti milik Raya sangat berbeda dengan kebanyakan wanita maka pendarahan ini pasti
akan terjadi, dan ini adalah masalah serius.
"Suster.. cepat siapkan stock darah yang kemarin
sudah di datangkan dari negara C.. Kita harus
segera mengantisipasi segala kemungkinan."
Titah dokter Zuhra sambil bergerak cepat dan
menyiapkan semua peralatan karena sekarang
pembukaan nya sudah hampir sempurna.
"Baik Dok, tapi stock nya sangat terbatas.
Kita harus menyiapkan alternatif lain."
"Golongan darah Yang Mulya Putri Mahkota
tidak ada ada yang sama di negara ini. Hanya
ada beberapa di wilayah benua Amerika dan
sedikit di wilayah Asia..Ini sangat beresiko."
Aaron yang mendengar percakapan itu tampak
semakin dingin wajahnya. Inilah yang menjadi
kekhawatirannya. Kelangkaan golongan darah
Raya akan menjadi masalah besar.
"Lakukan yang terbaik sekarang.. Aku akan
segera mengurus sisa nya..!!"
Tegas Aaron dengan suara yang sangat berat
karena tekanan perasaan yang tidak menentu.
"Aaaa... Aaroonn... sakiiitt... aku tidak tahan
lagi..oohh...Ya Allah.."
Raya menjerit saat terjangan rasa sakit kini
__ADS_1
merontokkan seluruh sendi dan tulang-tulang
dalam tubuhnya. Darah semakin banyak yang
mengalir membuat Aaron bertambah panik.
Tubuhnya tiba-tiba membeku saat melihat
Raya terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi dengan nya..??"
Aaron berteriak kencang dengan mata yang
mulai memerah sambil memeluk erat tubuh
Raya. Dokter Zuhra dan dua dokter lainnya
tampak bergerak cepat melakukan segala
daya upaya untuk menyadarkan Raya..
Suasana tiba-tiba berubah genting saat tubuh
Raya di dorong keluar dari ruang persalinan
menuju ruang operasi yang ada di ruangan
sebelah. Wajah Raja dan Ratu serta Madam
Rowena tampak berubah pucat saat melihat
kondisi Raya yang sudah terlihat seputih
kapas. Dan tampang Aaron saat ini tampak
bagai singa yang sedang terluka.
"Apa yang terjadi dengan Putri Mahkota.."
Desis Raja William sambil menjatuhkan dirinya
diatas sofa yang ada di ruang tunggu di depan
ruang operasi. Ratu Virginia tampak lemas, air
matanya sudah mengalir deras dari tadi. Dan
ibu suri tampak menundukkan kepalanya. Dia
sedang berdoa dengan khusyuk.
Team dokter sudah bersiap untuk melakukan penyelamatan darurat dengan tindakan operasi.
Dan posisi Raya saat ini sudah siap untuk di
lakukan proses pembiusan total.
"Ja-jangan lakukan apapun tanpa seizin ku..
Aku tidak apa-apa.. ka-kami..berdua siap
sekarang.."
Lirih Raya pelan dengan tatapan tajam kearah
para Dokter yang langsung bengong sesaat
begitu melihat Raya tersadar dan langsung
memberi ultimatum..
"Sayang..kamu sudah sadar.. Kita harus segera
melakukan tindakan maksimal, aku tidak ingin
terjadi apapun pada kalian berdua.."
Desis Aaron sambil menatap lekat wajah Raya
yang kini menatap teduh kearah dirinya dengan
memegang kuat tangan nya.
"Tidak akan terjadi apapun pada kami sayang..
Dia sangat kuat.. dia hanya sedang menguji ku."
Lirih Raya sambil kemudian kembali meringis
saat rasa sakit luar biasa itu kini benar-benar
menerjang dan membuat dia harus berfokus
diri untuk menyalurkan tenaga dan pikirannya.
Akhirnya Dokter Zuhra kembali melakukan
pengecekan pada posisi bayi.
"Baiklah Yang Mulya.. semuanya sudah pada
posisi sempurna.. Anda siap, saya juga siap.
Mohon dengarkan intruksi saya selanjutnya.
Okay.. tarik nafas.. buang perlahan.. lalu
nanti dorong yang kuat ya.."
Dokter Zuhra memberikan aba-aba..Raya dan
Aaron saling pandang lekat. Aaron akhirnya
mengangguk, mencium lembut kening Raya
dan memegang erat tangannya. Raya kembali
bersiap saat ada dorongan kuat dari dalam
bersamaan dengan terjangan rasa sakit yang
tidak terperi kini seakan memecah tubuhnya.
"Bismillah.. please baby.. Ibu memohon
bantuanmu nak.. Kita berjuang sama-sama.."
Raya bergumam lirih sambil mengatur nafas
dan mengatur tenaganya. Kemudian dia mulai
mendorong dan mengejan. Aaron memejamkan
mata sambil meniup ubun-ubun Raya dengan
melantunkan doa dalam hati agar segalanya
di lancarkan dan di mudahkan.
"Bagus.. terus Yang Mulya.. dorong..dorong.."
"Aaa... Allahu Akbar..aaaa..."
Raya mengeluarkan seluruh tenaganya untuk
mendorong dan mengejan panjang, hingga
akhirnya..
Sesosok bayi mungil kini sudah ada dalam
pangkuan Dokter Zuhra di iringi jerit tangis
melengking dari si bayi yang dalam sekilas
mampu memendarkan cahaya putih terang
begitu sosoknya keluar dari rahim sang ibu.
Semua mata kini terkesima.. terpaku kearah
sosok mungil tersebut yang langsung bergerak
aktif sambil tak henti menangis kencang.
"Alhamdulillah ya Allah. Dia sudah lahir sayang..
Terimakasih atas segala perjuanganmu. Kau
telah mempertaruhkan nyawamu hanya untuk
memberikan hadiah terindah dan tak ternilai
harganya untukku."
Aaron berbisik parau sambil menciumi wajah
Raya yang terlihat masih menatap lurus kearah
bayi nya, dia masih tidak percaya sekarang bayi
itu sudah lahir ke dunia.
"Alhamdulillah.. Bayi anda sudah lahir dengan
selamat Yang Mulya.. Seorang Pangeran.. yang
sangat tampan dan menakjubkan.. Selamat ya.."
Dokter Zuhra meletakkan bayi merah itu di atas
dada Raya yang terbuka. Mata Raya dan Aaron
tampak melongo menatap bayi mungil itu yang
kini mendadak berhenti menangis.Dia bergerak
halus dan nyaman seolah sudah menemukan
kembali peraduannya. Tidak lama bayi itu sudah memeluk kedua gunung kembar milik ibunya
yang akan menjadi sumber kehidupannya.
"Masya Allah.. Subhanallah.."
Air mata Aaron meluncur seketika saat melihat
sosok mungil itu kini membuka matanya dan
seolah sedang mengawasi keadaan sekitar.
"Subhanallah..sayang... dia sudah ada di sini
sekarang. Dia yang sudah menyiksaku selama
ini sekarang sudah ada di depanku.. Putraku..
Anak Ibu yang hebat dan kuat.. selamat
datang di dunia ini sayang.."
Lirih Raya sambil mengelus lembut penuh kasih
kepala bayi itu yang terus bergerak-gerak halus.
Air matanya kini terjun bebas tak tertahan.
"Iya sayang.. dia sudah ada di sini. Dia adalah
calon penerus keluarga De Enzo yang sangat
berharga. Welcome to the world my prince.."
Sahut Aaron sambil tiada henti membelai
wajah Raya dan mengelus lembut kepala sang
bayi. Pecah sudah tangis Raya. Dia merasa
sangat bahagia saat ini karena telah berhasil mempersembahkan hadiah yang paling indah
dan paling berharga untuk suaminya, untuk
seluruh keluarganya bahkan untuk seluruh
bangsa dan negara ini..
Aaron segera mengadzani sang pangeran kecil
dengan cucuran air mata dan suara yang sangat
bergetar karena rasa haru yang tak tertahan.
__ADS_1
***
Happy episode..😁