
...🌻🌻🌻...
" Tolong percayalah kepada saya nona. Ada orang yang memiliki niat tak baik terhadap kita."
Hati Puri seketika bimbang. Ada sinar kejujuran yang ia tangkap dari sorot bola mata coklat itu. Wajah yang menunjukkan keresahan, terlihat begitu indah di pandang.
" Kau tinggal dimana sekarang?" tanya Puri yang mencemaskan keadaan Ari.
" Di suatu tempat yang aman. Nona jangan khawatirkan saya!"
Puri tak bisa membohongi hati kecilnya bila dia sangat peduli kepada Ari. Rasa-rasanya, ia ingin pergi bersama laki-laki itu. Tapi apa daya, ia masih sangat bergantung kepada orang tuanya.
" Aku harus kembali Ar. Ada kak Al di depan!"
Ari mengangguk memahami situasi serta kondisi.
Dan saat Puri sudah membuka kembali pintu toilet itu, tangannya kembali di tangkap oleh Ari.
" Tunggu nona!"
Maka Puri seketika berbalik.
" Ada apa lagi Ar?" bertanya dengan alis menyatu.
__ADS_1
" Tolong jangan blokir nomor saya nona!"
Puri langsung ingin tertawa detik itu juga sebab di situasi genting seperti itu, bisa-bisanya Ari masih teringat dengan nomor yang di blokir.
Saat berada di luar. Ari kembali menutup wajahnya menggunakan masker juga topi. Berkamuflase bersama beberapa pelayan yang wira- Wiri mengantarkan minuman agar tak menimbulkan kesan mencolok.
Setibanya Puri dirumah. Ia terlihat membuka blokir nomor Ari. Membuat puluhan pesan langsung masuk kedalam ponselnya.
Puri benar-benar tak bisa melepaskan Ari dari ingatnya. Bahkan, pasca pertemuannya tadi di toilet, ia menjadi bimbang kembali. Apakah Desi memiliki niat jahat terhadap mereka? Tapi gadis itu benar-benar hamil.
Puri tak bisa menipu dirinya bila ia masih mengharapkan Ari.
Saat Puri turun sebab ingin memakan sesuatu, ia dibuat terkejut kala melihat Desi yang keluar dari arah belakang dan tampak seperti habis menangis.
Namun alih-alih menjawab, Desi yang terkejut malah terlihat membenahi tampilannya yang sedikit kacau.
" Kamu kenapa Des? Kamu pucet banget loh. " tanya Puri yang terlihat kasihan saat melihat wajah pucat Desi yang seperti terkena anemia.
" Tidak apa-apa nona. Saya barusan muntah. Jadi .. lemes!" menjawab sambil tersenyum sekilas guna menutupi kegugupannya.
" Oh!" Puri langsung memercayai sebab alasan itu cukup relevan.
Hingga di hari-hari berikutnya, Puri yang kerap pulang lembur malah sering melihat Desi berjalan seperti orang kesakitan.
__ADS_1
Berkali-kali pula, Desi selalu mengatakan jika ia baru dari ruang laundry dan mengatakan jika hamil sambil bekerja membuatnya kerap lelah.
Dan sialnya, keanehan demi keanehan itu tidak Puri sadari sebab Desi selalu memberikan alasan yang tepat.
...----------------...
Dua bulan kemudian.
Puri yang telah membuka blokir nomor Ari kini malah dibuat frustasi sebab laki-laki itu kini menghilang bagai di telan bumi.
Ia yang kini kembali di serang kegalauan, memilih menemui Dhisti sebab dialah satu-satunya best rest shoulder yang ia miliki. Berharap, ia bisa mendapatkan solusi atas apa yang kini menjadi ganjalannya.
Ia mengajak Dhisti jalan-jalan untuk membunuh rasa suntuk. Ia membawa kakak iparnya itu ke sebuah rumah makan yang sedang viral sebab kakaknya itu rewel.
"Emmmm aku mau ini semua deh Pur. Yang ini juga, itu juga ya?" kata Dhisti melihat menu dengan penuh minat.
Puri terheran-heran demi melihat Dhisti yang memesan menu baso pedas itu dengan. banyak varian rasa.
Dan saat pesanan mereka datang, Puri semakin menjadi heran sebab Dhisti memakan makanan itu mirip seperti orang yang sedang kerasukan.
Semangkuk, dua mangkuk, tiga mangkuk, licin tandas Dhisti habiskan.
" Pur, pesankan aku lagi ya. Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini, aku sangat ingin makan makanan pedas!" seru Dhisti memohon dengan mata puppy eyes.
__ADS_1
" Apa, lagi?" tanya Puri yang benar-benar heran dengan perubahan perilaku kakak iparnya itu.