
...🌻🌻🌻...
Hari berganti dengan semestinya. Yang menjadi berbeda adalah situasi yang mendebarkan manakala seorang gadis tengah menunggu putusan.
Ya, dua hari setelah kejadian itu, Dante telah berhasil membereskan urusan yang membuat Dhisti bebas. Tuntutan telah di cabut, dan klarifikasi juga telah dibuat.
Arif telah di tahan tanpa perlawanan. Elektabilitas seorang Alsaki agaknya mampu membuat bajingan kelas kakap itu kalah telak.
Bagi Alsaki, kenyataan yang di alami oleh Dhisti merupakan suatu hal yang luar biasa. Semakin membuat laki-laki itu kagum akan sosok yang tak mau berpangku tangan saat nasib dan takdir sedang tidak berpihak.
Semenjak kejadian itu, tuan Hendra menjadi lebih menjaga sikap dan meminta Luna untuk tak menunjukkan batang hidungnya. Semua itu demi keamanan mereka.
" Terimakasih banyak atas bantuannya komandan!" ucap Alsaki menjabat tangan pria rupawan dengan nama dada Wirasatya.
Dhisti yang menunggu Alsaki di kantor polisi bersama Inka dan Brio kini berlega hati karena akhirnya ia bebas meski beberapa waktu kedepan ia dikenai wajib lapor.
" Itu baru namanya laki. Fight dari awal!" Inka berbisik manakala Dhisti masih melempar tatapan pada sosok jangkung yang berulang kali menciumnya tanpa permisi.
Merasa bersyukur karena takdir membuatnya bertemu dengan sosok pria gagah yang tak ia sangka bisa mengalihkan segenap dunianya yang semula suram.
" Udah beres?" tanya Inka tak sabar saat pria tampan itu telah kembali.
Alsaki mengangguk, " Mau balik sekarang atau kemana dulu?"
" Aku ada urusan sama Brio. Nanti malam aja aku kerumahmu lagi Dhis. Ini urgent banget. Lu tahu lah!"
Dhisti yang tahu apa maksud Inka langsung mengangguk menyetujui. Namun, ia memang menjadi lebih diam setelah kematian kakek.
" Makasih banyak sudah membantu!"
Untuk pertama kalinya, Alsaki berbicara kepada Brio.
" Gak usah makasih lagi. Justru gue yang makasih karena elo bisa nangkep bajingan tengik itu. Karena kalau Dhisti tenang, dia juga tenang!" balas Brio dengan ciri khasnya.
Membuat Inka yang di maksud belingsatan sendiri.
Mereka akhirnya berpisah, menyisakan Dhisti yang kini hanya berdua bersama Alsaki di dalam mobil.
" Mau langsung pulang?" bertanya sambil membagi fokusnya terhadap kemudi yang ia pegang.
" Boleh antar aku nggak?"
" Kemana?"
Rupanya Dhisti meminta Alsaki mengantarnya ke pusara kakek yang belum mengering. Dhisti menaburkan bunga yang ia beli di depan komplek pemakaman sesaat sebelum membaca doa dalam hati.
__ADS_1
Usai mengirim doa, Dhisti terlihat mengusap lembut batu nisan yang kini menjadi penanda terpendamnya jasad pria yang teramat penting dalam hidupnya.
" Aku cuma mau bilang, mungkin impian kakek belum terwujud. Tapi sekarang, kakek tidak perlu khawatirkan Dhisti lagi. Al udah bantu Dhisti ngembaliin sertifikat rumah kita!"
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Dhisti yang saat itu tergerai indah. Sorot matanya tampak begitu teguh meski kesedihan belum sepenuhnya sirna dari relung hatinya.
Alsaki mengusap punggung Dhisti yang suaranya mulai berat. Pria itu tahu jika Dhisti pasir masih belum merelakan kepergian kakeknya.
...----------------...
" Memangnya kamu jadi berangkat kapan Ar?"
Ari yang sore ini menghadap kepada Nyonya Hapsari, sengaja merubah izin lebih awal sebab ia takut bila Puri benar-benar merealisasikan ucapannya tempo hari.
" Kalau Ibu berkenan, dua hari lagi saya ingin berangkat. Kebetulan, adik saya pas sama liburan sekolah. Jadi..."
" Ya sudah. Tapi jangan molor ya. Saya mau kamu antar saya ke acara penting diluar kota nanti soalnya" potong Nyonya Hapsari yang memahami jika supir nya itu sudah lama tidak menjenguk orang tuanya.
Ari sedikit lega mendengar jawaban majikannya. Ia bisa berangkat lebih cepat dari rencananya yang telah diketahui Puri. Namun Ari tak tahu jika gadis cerewet dan manja itu rupanya menguping pembicaraan mereka di sebelah pintu.
Puri yang hendak berbalik terlonjak kaget saat melihat kakaknya tiba-tiba ada di sana, bersedekap dan menatapnya penuh selidik.
" Kamu nguping?" tuding Alsaki menaikkan sebelah alisnya.
Ya, Al yang baru pulang dari rumah Dhisti merasa kepo saat melihat adiknya yang terlihat asik berdiri dengan gerak-gerik mencurigakan.
Yang di tuduh langsung meletakkan jari tengahnya ke depan bibir, lalu menyeret lengan kakaknya menyingkir ke tempat yang dirasa aman dengan wajah ketar-ketir.
" Kakak ini dari mana aja sih. Datang-datang ngagetin aja!" menggerutu sebab kesal kepada sang kakak.
" Lagian kamu ngapain kayak gitu tadi. Kayak orang gak ada kerjaan aja!"
" Hih!!! Aku mau ikut Ari ke desa. Capek menghindar melulu dari Wisnu. Aku mau putus sama dia tapi di nggak mau!"
Alsaki melirik adiknya penuh arti. Ke desa? Menghindari Wisnu?
" Jangan mikir macam-macam. Aku cuma mau ngedem otak aja. Stress lihat Mama sama Papa udah kayak pantomim!" tukasnya saat melihat wajah kakaknya yang memindai dirinya dengan curiga.
" Memangnya kapan berangkat?"
" Dua hari lagi. Kakak jangan bilang-bilang Ari dulu. Kalau dia tahu, pasti dia gak ngebolehin aku. Aku janji gak akan ngrepotin!" rengeknya dengan tatapan memelas.
Membuat Alsaki menghembus napas pasrah.
Laki-laki berzodiak Pisces itu selalu tak bisa menolak permintaan adik satu-satunya. Gadis cerewet itu benar-benar manja. Al hanya takut jika adiknya nanti malah merepotkan keluarga Ari.
__ADS_1
" Janji deh gak ngrepotin. Please!" memohon dengan puppy eyes. Membuat Alsaki semakin kalah.
" Gak usah bawa barang banyak-banyak. Jaga kesopanan kamu. Bawa baju yang ketutup. Orang desa itu riskan lihat dandanan kamu yang begini!"
Menunjuk pada pakaian adik yang terbuka.
" Aman kalau soal itu. Eh iya, gimana Dhisti?" teringat akan gadis yang pagi tadi dikabarkan bebas.
" Dia dirumahnya. Biarkan dia istirahat dulu. Aku masih mau nyari tahu soal siapa wanita yang datang dan bilang kalau dia assistenku!"
Puri dan Alsaki termenung bersama. Terlalu fokus pada kasus Dhisti sampai melupakan siapa dalang dibalik serangan jantung yang menimpa kakek.
Seperti biasa, hari yang di tunggu akan selalu terasa lama dibanding hari biasanya. Namun usai bersabar, Puri yang kini sudah siap terlihat menunggu di depan ruang tamu dan membuat Ari membelalak kaget.
" Nona, anda...mau kemana?" bertanya curiga sebab gadis itu telah bersiap dengan sebuah koper pink di dekat sofa.
" Ar, kalau kamu tidak keberatan, Puri mau bareng kamu ke desa. Mau lihat keadaan disana siapa tahu cocok buat projects kerjaannya. Selain itu, teman-temannya yang influencer mau syuting di dekat desa kamu. Makanya kamu bawa mobil Puri aja, tiket kereta kamu refund aja!"
" Apa?" Ari tentu saja kaget. Dia mereschedule tiket agar Puri tak ikut, namun sekarang ibu suri malah memintanya membawa mobil sendiri.
Ari melirik Puri yang malah melempar tatapan ke arah lain sebab tak ingin di salahkan. Alsaki yang melihat tingkah adiknya langsung menahan tawa sembari geleng-geleng kepala.
" Kalau dia ngrepotin kamu, langsung kabarin aku Ae. Biar aku hubungi Wisnu biar jemput dia!" tukas Alsaki tiba-tiba datang seraya terkekeh.
Maka cuping hidung Puri seketika melebar manakala dia mendengus.
Ari tentu saja sungkan untuk menolak. Terlebih, keadaan dirumahnya saat ini sudah tidak seperti dulu.
" Gimana Ar. Bisa kan? Saya gak tega ngebiarin dia jalan sendiri. " tanya nyonya Hapsari yang melihat segurat keresahan di wajah Ari.
" Iya Bu tidak apa-apa. Saya malah merasa terhormat karena nona Puri mau berkunjung ke rumah ibu saya!" sahut Ari tak ingin membuat wanita baik itu kecewa.
Nyonya Hapsari senang. Ia mengizinkan Puri pergi sebab tahu jika anaknya itu sedang dilanda stres karena permasalahan percintaan. Lagipula, Ari merupakan laki-laki yang bertanggung jawab dan memiliki sopan santun yang tak diragukan lagi.
" Loh Al, ngomong - ngomong kamu udah rapi mau kemana?" tanya sang Mama yang baru menyadari jika anak sulungnya di hari libur itu itu sudah rapi.
" Mau ketemu seseorang Ma. Al belum tenang sebelum nemuin siapa wanita yang ngaku-ngaku jadi assisten Al!"
Tuan Hendra yang ada di balik dinding seketika menghentikan langkahnya manakala mendengar suara anaknya yang membahas hal itu dengan keras.
Pria itu seketika berbalik dan berniat menghubungi seseorang.
.
.
__ADS_1
.