Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 30. Tak suka intervensi


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dhisti benar-benar mendecah tak percaya jika ia kini berada di dalam mobil Al. Dari gelagat yang bisa ia baca, Al selalu menutupi dirinya agak tak terlihat langsung oleh orang-orang di sekitar.


" Kenapa dengan orang ini?" membatin sebab sepertinya Al tidak senang jika dilihat oleh banyak orang. Apalagi itu di kawasan padat penduduk.


" Kau tahu, jika bukan karena kau sudah menyelamatkan adikku dari kejahatan pencuri. Aku tidak akan repot-repot menolongmu!"


What?


Laki-laki di sampingnya itu berbicara seraya melepas masker yang semula ia kenakan. Tampak tak memperdulikan tatapan terkejut gadis manis di sampingnya.


" Adik?" Cetus Dhisti dengan terlolong.


Al mengangguk tanpa menoleh, masih sibuk melepaskan beberapa atribut yang cukup ribet itu. " Adikku berada di kawasan auto care beberapa waktu yang lalu. Di mau di jambret dan kau tiba-tiba datang menolong!"


" Apa? Jadi itu adiknya? Tapi...kenapa bisa kebetulan begini?"


" Dari mana kau tahu?"


" Tahu lah!"


" CK!" Mendecak kesal demi seraut sombong yang makin jumawa.


Dhisti tak tahu kemana mereka akan pergi. Namun saat melintas di depan konsesi ruko yang di jadikan tempat makan, Dhisti tak sengaja melihat Aris dan Gabby yang asik bercengkrama.


Membuat Al turut menjengukkan kepalanya dan menatap Dhisti yang tampak mengepalkan tangan kesal.


" Wah, sepertinya pacarmu benar-benar senang dengan kekasih barunya!" seru Al sengaja.


Membuat Dhisti langsung menatap kesal ke arah Al yang tiada henti membulinya itu.


" Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan?"


Al menahan tawa saat Dhisti malah naik pitam kepadanya. Mahkluk bernama wanita itu benar-benar aneh ya?


" Nanti kau juga tahu!"


Mobil melesat jauh. Dan beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah tempat.


" Eh apa ini?" Dhisti yang sedari tadi membisu mendadak ingin tahu bangunan apa di depannya itu.


" Saya permisi dulu Pak!"


" Hmm!"


Dhisti melirik Al yang hanya bergumam seraya mengangguk kala Dante berpamitan turun ke sebuah tempat itu. Entah tempat apa.


Kini, saat keduanya mendiami mobil yang terparkir rapi di depan sebuah bangunan besar itu, jelaslah maksud Al.


Ya, Al sedang membereskan beberapa persoalan, namun ia juga ingin berbicara serius dengan Dhisti.


" Kenapa kamu mau aku membatalkan keputusananku?"


Saat suara bernada serius itu tiba-tiba mengudara, Dhisti terhenyak dari lamunan kala dirinya masih sibuk menatap punggung Dante, yang kini ditelan oleh pagar besar bercat abu-abu itu.

__ADS_1


" Sebab aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Jadi tolong batalkan semua yang sudah kau lakukan. Aku dan Pak Ramdan sama-sama mencari makan disana!"


" Apa yang kau lihat kemarin hanya sebuah kesalahpahaman!"


Namun Al yang menatap sorot mata penuh pengharapan itu menjadi sedikit bingung. Mata yang penuh semangat itu terlihat teguh dan berani. Membuat Al terkesan.


" Dia sudah meminta maaf kepadaku. Dan aku ingin dia bekerja kembali!"


Al menatap wajah cantik yang semakin cantik jika sedang memohon seperti itu.


" Apa kau selalu seperti ini?"


Dhisti menoleh bingung dengan pertanyaan yang di ajukan Al. Seperti ini bagaimana maksudnya?


" Apa kau selalu memikirkan orang lain? Sedang dirimu sendiri dalam keadaan..."


" Miskin?" potong Dhisti cepat yang membuat Al terdiam.


Al mendadak tertegun sedih dan tak tahu kenapa jantungnya malah berdetak kencang saat Dhisti menatapnya kesal.


" Bukan itu maksudku!" Ucap Al yang terlihat serius, membuat Dhisti terdiam.


" Lalu apa? Sekarang aku hanya minta satu hal sama kamu. Tolong kembalikan pak Ramdan ke posisi semula, dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Impas kan?"


Al menatap wajah itu lekat-lekat. Namun hatinya mendadak tida terima kala mendengar kata tidak akan mengganggumu lagi.


" Wanita ini benar-benar berbeda. Dia bahkan tidak tertarik untuk Selfi denganku!"


.


.


Namun Dhisti tak menyadari jika Al mengikuti gadis itu yang kini bertemu dengan Inka. Dari kaca mobilnya, Al bisa melihat Dhisti yang tertawa lepas, saat menikmati sarapan di sebuah warung sederhana.


Membuat Dante melirik penuh rasa curiga.


" Sepertinya... anda menyukai nona Dhisti ya bos?"


Langsung tersentak demi ucapan Dante yang keceplosan itu. Kurang ajar!


" Ngomong apa kamu?" langsung menyergah mengelak.


Namun Dante yang tak percaya akan hal itu hanya memasang wajah flat.


" Kalau tidak, kenapa anda meletakkan cukup banyak perhatian kepada nona Dhisti?"


" Diam kamu! Aku hanya ingin memastikan orang yang menolong Puri mendapat balasan yang sesuai dariku. Tidak lebih!"


Mengelak dan menjadikan Puri sebagai alasan. Membuat Dante langsung mencibir.


" Saya kira anda menyukainya!" Cetus Dante yang kini memasukkan gigi perseneling sembari menyebikkan bibirnya.


" Diam dan lanjutkan kemudimu assiten brengsek!"


" Anda hebat nona. Pak Al sepertinya memang menyukai anda!"

__ADS_1


...----------------...


" Wah gila, banyak banget Dhis. Ini sih bentar lagi kekejar setoran gue!"


Inka yang setengah hari ini di temani oleh Dhisti mencopet di kawasan yang sudah mereka targetkan, terlihat berbinar dengan perasaan senang.


Uang hasil copet mereka benar-benar lumayan dengan tingkat keamanan yang melebihi ekspektasi.


Namun di sela kepuasan hati Inka, gadis itu gak menyadari Dhisti yang tampak bermuram durja.


" Kayaknya aku mau keluar dari mall itu deh In!"


"Hah, kenapa?"


Menatap heran ke arah Dhisti yang terlihat muram.


Kini, Dhisti tampak merebahkan tubuhnya ke atas rumput, melipat kedua tangannya ke belakang kepala untuk dijadikan bantal.


" Aku tadi pagi di datengin Al kerumah!"


Membuat Inka terkejut.


" Apa? Gila! Kok elu gak bilang sama gue sih? Alsaki datang ke rumah lo dan lo biasa aja?"


Dhisti malah sebal kala melihat Inka yang selalu heboh dan belingsatan jika obrolannya menyangkut Al.


" Pak Fery itu kayaknya kenal baik sama Al. Dan kamu tahu, wanita yang aku tolongin di depan kedai soto beberapa hari yang lalu itu adiknya Al!"


" What?"


Dhisti mengangguk.


Entah sudah berapa kali Inka mengalami kejut, namun apapun informasi yang di beberkan oleh Dhisti gadis itu selalunya memang terkejut.


" La tapi apa hubungannya sama elu pingin berhenti kerja?" tanya Inka muram. Membuat Dhisti menghela napas panjang.


" Aku ngerasa orang itu terlalu ngintervensi seluruh lingkupku. Kau tahu, kakek bahkan terlihat sangat ramah kepada Al."


Menjawab dengan tatapan menerawang.


" Jadi elu takut kalau Al itu punya niat jahat?"


" Yang bukan gitu!" Menjawab sembari mendudukkan tubuhnya kembali. "Kamu tahu kan aku ini orangnya gak suka terlalu di atur. Lagipula, kita ini begini keadaannya, tukang copet. Kalau sampai Al tahu kelakuan kita, aku takut malah makin jadi brabe nanti. Intinya aku gak suka dia terlalu ikut campur sama hidupku!"


Inka menatap muram Dhisti yang membeberkan alasan yang cukup relevan itu. Benar juga yang di sampaikan Dhisti.


" Mungkin orang semacam Al itu bosan dengan keramaian Dhis. Kan kamu pernah cerita ke aku alasan Al bohong dan nyuruh kamu bantu dia keluar gedung saat itu!"


Dhisti mengangguk demi secuil ingatan yang benar adanya itu. Entahlah, Dhisti merasa tak suka saja kala ia mendapat intervensi dari Al.


Dan saat keduanya masih larut dalam obrolan serius, tak di sangka Aris datang dan membuat Dhisti spontan terkejut.


" Dhis, bisa kita ngobrol sebentar?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2