Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 82. Bukan kisah biasa


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Bagi Ari, tidak ada yang lebih memusingkan dirinya saat ini, dari pada merasai sikap Puri yang sulit dikendalikan itu. Walau Ari sejatinya cukup mencemaskan gadis itu, namun menuruti kemauan Puri mungkin Ari rasa bisa jadi pertolongan pertama guna melegakan hati sag gadis.


Sialnya, Puri yang telah berhasil memaksa dirinya itu untuk berada di bar, kini malah membuat situasi makin runyam.


" Beri aku satu lagi!" seru Puri yang sudah mulai oleng sebab gadis itu telah banyak menenggak minuman sedari tadi.


" Nona, apa yang anda lakukan? Anda sudah minum terlalu banyak! Tolong berhentilah!" tukas Ari memohon dan mulai dilanda keresahan.


Bukannya menurut, Puri yang selalu bertindak impulsif malah makin membuat Ari geleng-geleng kepala.


" Aduh kau ini kenapa cerewet sekali, ayo sebaiknya kamu juga minum!" seru Puri kembali dengan gerak tubuh yang mulai tidak jelas.


"Sial!" membuat Ari mendecah tak percaya.


" CK astaga, bagaimana ini? Sepertinya nona sudah mabuk!"


Maka Ari seketika berinisiatif untuk menghubungi Alsaki melalui pesan singkat, sebab takut kalau-kalau ia di salahkah. Namun alih-alih mendapatkan solusi yang tepat, jawaban Alsaki di ponselnya malah membuat Ari makin puyeng tujuh kali lipat.


📱Pokoknya jangan kamu bawa pulang dulu kalau kondisinya begitu Ar. Mama bisa ngamuk kalau dia lihat Puri kayak gitu. Aku minta tolong sama kamu ya, tolong amankan dia dulu. Aku sedang...


Rupanya yang mengirimkan pesan sedang berada di dalam apartemennya, dan tengah asyik menantikan sang calon istri memasak dua mangkuk mie bercitarasa pedas dengan toping yang membludak. Emmm yummy!


" Balas pesan siapa sih? Serius amat?" tanya Dhisti yang telah siap dengan hasil masakannya.


Ya, Alsaki yang kasihan dengan dhisti, berniat meminta gadis itu untuk tinggal di apartemen miliknya sebab Dante sedang ada tugas lain.


" Biasa, telemarketing bank yang salah alamat!" menjawab asal agar Dhisti tak lagi bertanya.


Dhisti memicingkan matanya sebab sedikit tak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Al. Telemarketing? Semalam ini?


" Udah jangan curiga, ayo mana mie nya, aku lapar ." buru-buru memasukkan ponsel sebelum Dhisti makin bertanya-tanya.


Dan kini, tara!!! Dua porsi mie ala Korea yang super pedas diharapkan bisa menghangatkan hawa dingin dua sejoli di malam itu.


" Si Puri gimana? Udah nyampek rumah? Kamu gak telpon Mama?"


Baru saja Alsaki menyuapkan satu sendok kuah pedas itu kedalam mulutnya, namun ia langsung tersedak saat mendengar kata-kata calon istrinya yang terlontar dengan polos itu.


" Uhuk Uhuk!"


" Kamu ini kenapa? Makan gak pelan-pelan!" langsung mengomel sambil menyodorkan sebotol air dengan wajah cemas.


Lengan laki-laki itu mengetat kala membuka penutup seal itu dalam sekali putaran. Dhisti yang melihat hal itu langsung mendengus. Kenapa selalu tak hati-hati sih?


" Maaf, ini terlalu pedas!" jawabnya berbohong, sebab jika ia bercerita kepada Dhisti soal Puri yang saat ini sedang mabuk, gadis itu pasti akan memintanya untuk menjemput.


Sedangkan Puri memang terbiasa seperti itu jika galau. Dan dengan adanya keberadaan Ari, Alsaki seolah memiliki punggawa yang bisa di andalkan.


Benar-benar licik.


Mereka tidak tahu, jika saat ini Ari bahkan sedang bingung harus membawa gadis yang sudah mabuk itu kemana.

__ADS_1


📱 Pokoknya jangan bawa pulang dulu, aku bisa hubungin Mama nanti soal alasan kita. Aku masih sedikit sibuk.


Dan balasan itu lagi-lagi membuat Ari menatap nanar Puri yang makin meracau tak tentu arah.


" Brengsek kamu sialan!" Puri terlihat meracau bahkan sesekali tertawa tidak jelas.


Laki-laki itu sejurus kemudian tampak berusaha keras membawa Puri keluar meski banyak pasang mata yang mengira jika mereka berdua merupakan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Dengan sangat hati-hati pula, Ari tampak mendudukkan gadis itu ke jok belakang mobil.


Namun, ia yang hendak berpindah tempat ke ruang kemudi kontan terkejut saat Puri tiba-tiba menariknya secara mendadak.


" Kenapa kau begitu senang membuat hatiku sakit sialan!"


Ari mendelik saat tubuhnya tiba-tiba di peluk oleh Puri yang mengira jika dia adalah Wisnu.


Oh tidak!


" Nona apa yang anda lakukan?" berusaha melepaskan jeratan itu dengan keadaan yang tiba-tiba membuatnya resah.


" Katamu kau selalu mencintaiku, hm? Aku berharap kau berubah saat kita saling diam. Tapi sepertinya aku terlalu bodoh!"


Ari kembali bingung saat Puri menangis tanpa ia sadari. Gadis ini benar-benar sedang mabuk. Sedetik tertawa, sedetik kemudian pula menangis.


Dan dari alam bawah sadarnya itulah, kejujuran rupanya muncul, bilamana Puri memang masih sangat kesal terhadap Wisnu yang telah berkhianat kepadanya.


" Apa karena kau marah saat aku menolak kau ajak bercumbu, hm? Kalau begitu ayo kita lakukan!"


Mata Ari langsung terbelalak manakala bibir gadis itu kini dengan cepatnya menempel di bibirnya, dan jelaslah bau alkohol yang begitu menyengat itu.


" Nona!"


Tentu saja Ari reflek memekik sembari menodong tubuh Puri. Selain dia gugup, takut dan deg-degan akan aksi edan itu, namun di cium oleh seorang Puri jelas membuat Ari semakin khawatir.


Pria itu buru-buru melepaskan diri sebab Puri terlihat semakin agresif. Ini tidak bisa di teruskan. Meski ia adalah lelaki, namun pantang bagi Ari untuk memanfaatkan situasi seperti ini.


Ari berusaha membaringkan tubuh Puri yang masih saja memaki, mengumpat dan menggerayangi tubuhnya secara tak sadar.


Usai memastikan Puri telah berbaring dengan aman, laki-laki itu dengan cepat keluar dan langsung menjalankan mobilnya entah kemana. Ari tak memiliki cukup kenalan di kota itu, terlebih pesan dari Alsaki malah membuat situasinya semakin semrawut.


" Harus kemana aku sekarang? Mustahil aku membawa Nona pulang. Tuan Alsaki bahkan melarangku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya sedang sibuk apa orang itu?" gumam Ari yang mulai kesal sebab reaksi Puri cukup meresahkan.


Namun yang di keluhkan rupanya malah asik menonton film komedi bersama calon istri hingga terkikik-kikik. Mereka berdua tampak menikmati quality time berdua, yang sangat jarang mereka temukan di sela-sela kesibukan merasa belakangan ini.


Oh andai mereka mengetahuinya kenestapaan Ari saat ini.


" Sayang?" panggil Alsaki.


" hm?"


" Setelah kita menikah nanti, kita tinggal dulu sementara disini sambil nunggu dapat rumah yang cocok. Aku..."


Dhisti langsung menoleh saat Alsaki terlihat menjeda kalimatnya. Membuatnya penasaran.

__ADS_1


" Aku kenapa?" mengulang ucapan Alsaki.


" Aku pingin kamu tinggal disini dulu selama kita belum menikah. Aku khawatir sama kamu. Rumah ku dan rumahmu jaraknya cukup jauh. Jadi setelah aku pikir-pikir, lebih baik kamu disini dulu sampai hari H kita!"


Dhisti tertegun menatap dalam calon suaminya. Betapa baiknya calon suaminya itu. Bahkan dia telah memikirkan Dhisti sejauh itu. Bagiamana ia tidak jatuh cinta jika seperti ini.


" Tenang saja, kamu boleh ajak Inka tidur disini biar kamu ada temannya. Untuk rumah kamu, aku dengar Mama Chiko sedang butuh tempat tinggal. Kita bisa buat dia tinggal di sana dengan biaya sewa yang dia mampu!"


Dhisti sangat terharu. Alsaki benar-benar memperhatikan semua orang yang ada di sekelilingnya. Sauki, Dani, Inka, dan kini Mama Chiko pun tak luput dari kebaikannya.


" Makanya aku ajak kamu malam ini kesini. Kalau kamu punya ide untuk merubah desainnya, aku bakal suruh si Dante buat cari orang nanti!"


Dhisti meraih jemari besar Alsaki lalu menyatukan kedua tangan mereka, merasa beruntung atas apa yang kini tengah terjadi dalam hidupnya.


" Terimakasih banyak sayang. Aku, tidak akan pernah bisa membalas semua yang kamu berikan untuk aku juga anak-anak dan orang-orang di kehidupan aku!"


Alsaki tersenyum mengangguk sambil mengusap lembut pipi wanita sederhana yang nyatanya mampu mengalihkan dunianya itu.


" Tinggal beberapa waktu lagi, dan kita akan menjadi jauh lebih bahagia, besok kamu pindah kesini ya?"


Dhisti mengangguk setuju. Sedetik kemudian pria itu meraup bibir Dhisti lalu melumaatnya penuh kasih sayang.


Oh Tuhan, jangan biarkan semua ini cepat berlalu.


Di lain pihak, sialnya malam itu Ari masih tak bisa menemukan solusi harus kemana ia akan membawa Puri. Mau membawa ke hotel ia tak memiliki keberanian untuk itu. Selain dekat dengan fitnah, ia pasti akan lebih mendapatkan banyak masalah jika membawa gadis ini kesana.


Membuatnya pasrah dan memilih untuk menepikan mobil itu di tempat yang strategis. Sedetik kemudian, di tatapnya wajah gadis yang kini sudah tenang dalam posisi tergeletak di jok belakang mobil hitam itu.


Seraut ayu yang di porak-porandakan oleh asmaranya sendiri, membuat sejumput rasa kasihan dan perduli mulai mengusik batin Ari.


Laki-laki itu sejurus kemudian terlihat membuka jaketnya lalu melingkupkannya ke tubuh wanita yang telah mencium bibirnya tanpa izin beberapa waktu yang lalu.


Hingga, rasa lelah yang teramat membuat Ari turut tertidur dengan posisi duduk sambil bersedekap di depan kemudinya.


Dan saat sorot fajar yang cerah telah berhasil membangunkan seluruh isi jagad raya , membuat seorang gadis yang kini merasa kepalanya begitu berat itu mengerjap lalu sedetik kemudian ia malah menjerit.


" Aaaaa!!!"


Maka Ari langsung berjingkat detik itu juga demi mendengar teriakan yang memekakkan telinganya.


" Nona?" sapa Ari yang juga turut kaget.


" Apa yang kau lakukan? Kenapa aku...?"


.


.


.


.


Nah loh, dia yang salah, dia yang mau nyalahin Ari? Siapa disini yang kayak Puri? Hayo ngaku 😁🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2