
...🌻🌻🌻...
Rupanya aksi gila di jalan tadi merupakan aksi unjuk besar-besaran, atau aksi protes beberapa masyarakat kaum bawah yang kini semakin tak bisa leluasa untuk mencari sesuap nasi
Manifestasi dari bobroknya keadilan di negeri itu. Mereka di paksa oleh keadaan, tak bisa lagi diam untuk tak menyuarakan kesengsaraan mereka.
Rakyat yang mencuri atas dasar perut yang lapar, malah di hukum dengan waktu yang tak wajar. maling duit rakyat, justru bisa bebas memilih kamar dan tak jarang mendapatkan keringanan hukuman atau remisi di hari-hari besar peringat negara.
Harga- harga meroket naik, laju inflasi tak bisa di tekan, membuatnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan terpaksa berbuat apapun demi perut yang lapar.
Tingginya angka kejahatan selalu berbanding lurus dengan tingginya harga beberapa kebutuhan pokok, sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
Ari yang kepalanya berdarah akhirnya berhasil menemukan majikannya yang kini menangis sembari memapah gadis yang tangannya kena bacok sebuah celurit.
" Cepat kerumah sakit Ar!"
Ari terlihat syok demi mendapati majikannya dalam keadaan kacau sembari membawa seorang gadis yang tangannya benar-benar terluka parah.
Kini, tak ada lagi tujuan bertemu teman-teman sosialita nya, ataupun mengambil cake sultan di tempat Luna yang mewah. Tujuannya saat ini adalah mengobatinya gadis pemberani yang telah menolong dirinya.
Setibanya mereka di rumah sakit, Nyonya Hapsari menunggu diluar dengan perasaan cemas. Ia juga sudah berhasil menghubungkan kedua anaknya dan meminta mereka untuk tak memberitahu kepada suaminya dulu demi kesehatan sang suami.
Al yang menerima kabar mengejutkan itu langsung meminta Dante untuk membawanya menuju rumah sakit. Pun dengan Puri yang kini juga dalam perjalanan menuju kesana.
" Mama ada di rumah sakit!"
Usai mendengar suara Isak tangis sang Mama, yang ada dalam pikiran kedua anak itu kini hanya ketakutan. Takut kalau-kalau Mama mereka mengalami cidera ataupun luka yang cukup parah.
Namun kenyataan yang ada tak berbanding lurus dengan pemikiran mereka. Mama mereka hanya terlihat pucat dengan rambut yang sedikit berantakan.
" Mama?"
Alsaki rupanya datang terlebih dahulu ketimbang Puri. Pria itu tampak panik dan langsung berlari menuju kepada sang Mama.
" Mama nggak apa-apa kan?" tanya Al dengan sorot wajah yang begitu khawatir.
Nyonya Hapsari menggeleng sembari terus mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir karena trauma. " Mama takut Al. Mereka benar-benar beringas!"
Al menarik sang Mama kedalam dekapannya. Dante yang melihat itu turut merasa prihatin. Kejadian ini tentu akan menjadi catatan di rezim pemerintahan yang saat ini. Tak berselang lama, Puri yang diantar sang kekasih terlihat tak kalah cemasnya.
" Mama!" pekik Puri dengan mata berkaca-kaca.
" Mama gimana sekarang?" Turut menghambur ke pelukan sang mama. Merasa begitu lega karena tak mendapati luka apapun di tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu.
" Ada masa demo soal kelangkaan beberapa kebutuhan dan naiknya harga beberapa sembako. Tapi sebagian oknum memanfaatkan itu sebagai ajang penjarahan!"
__ADS_1
Dante berucap usai ia mendapatkan info dari seseorang yang bisa ia percaya.
Unjuk rasa yang di gelar legal sebenarnya akan mendapatkan penjagaan dari pihak kepolisian. Berizin dan susah pasti akan di jaga ketat oleh pihak-pihak terkait.
Namun, karena hal ini merupakan bentuk sebuah kekecewaan pada pemerintahan yang ada, beberapa orang yang tidak tahu birokrasi perizinan hanya ikut-ikutan. Tidak taunya, ada segelintir orang yang malah memanfaatkan aksi itu, untuk keuntungan pribadi.
" Mama tidak apa-apa. Mama ada disini bukan karena Mama luka. Tapi mengantar orang baik yang telah menolong Mama!"
Al dan Puri saling menatap lega. Tapi, siapa orang itu?
" Nolong Mama?" tanya Puri resah.
Nyonya Hapsari mengangguk. " Tangannya kena bacok celurit Al. Makanya Mama panik tadi. Dia sedang di dalam lagi tangani sama dokter!"
Al mengusap pundak sang Mama penuh kasih. Bersyukur sebab wanita nomer satu dalam hidupnya itu selamat.
" Tuan!"
Ari yang juga baru selesai menjalani pengobatan di area kepala kini mengangguk memberi salam.
" Terimakasih Ar, kamu udah jaga Mama saya!" menepuk pundak pria muda yang baru beberapa bulan menjadi supir mamanya itu mengangguk sopan.
Sejurus kemudian, Puri sempat menatap Ari yang wajahnya babak belur. Pun dengan laki-laki itu. Tanpa sengaja, kedua mata mereka bertemu.
" Kalau gak ada Ari. Mama gak tahu apa jadinya tadi Al. Mama sempat kehilangan dia tadi. Ngeri banget Al. Semua orang bawa senjata tajam!"
CEKLEK!
Pintu yang terbuka sontak membuat kesemua orang yang ada beralih memusatkan perhatiannya ke arah depan. Wisnu turut berjalan beriringan dengan Dante.
" Bagiamana keadaan gadis itu dok?" tanya Nyonya Hapsari sembari menyongsong pria berjas putih dengan stetoskop yang melingkar di pundaknya.
" Sudah di tangani dan sudah di jahit. Kami beri infus sebab yang bersangkutan sangat lemas. Bisa pulang setelah infus habis" jawab dokter dengan bahasa lugas dan ramah.
" Terimakasih dokter!"
" Sama-sama. Mari!"
Sepeninggal dokter, Nyonya Hapsari seketika masuk kedalam ruangan dan ingin melihat kondisi si penolong.
Namun, apa yang tersaji di depan sana, malah membuat Al membulatkan matanya dengan perasaan terkejut bukan main.
" Dhisti!" pekik Al seraya berlari dan langsung menghambur memeluk gadis itu. Membuat kesemua yang ada di sana, seketika mendelik.
Puri dan Nyonya Hapsari seketika saling menatap. Tapi tidak dengan Dante. Pria datar itu meski kaget tapi tidak sedikitpun merubah air mukanya.
__ADS_1
Ada apa dengan Al? Kenapa wanita itu tiba-tiba di peluk oleh Al?
Membuat Dhisti seketika pias sebab merasa kaget kala pria yang sering membuat kesal itu, tiba-tiba berada di ruangan ini.
" Al?" tanya Mama dengan wajah yang benar-benar terkejut.
Al membalikkan badannya dengan mata berkaca-kaca. " Dia Dhisti ma. Dia orang yang sama yang nolongin Puri waktu di depan auto care!"
" Apa?" koor Mama dan Puri yang membuat Dhisti turut tercengang. Gadis itu langsung melihat ke arah Puri guna mengingat-ingat.
Kini, Puri seketika tersenyum ramah kepada Dhisti meski ia masih penasaran akan sikap kakaknya barusan.
" Gimana keadaan kamu, apa masih sakit?" tanya Alsaki cemas dan terlihat ingin marah pada apa yang menimpa gadis itu.
Mama dan Puri saling bersitatap dan semakin heran demi melihat sikap Al kepada Dhisti. Membuat gadis itu merasa tak enak hati.
" Saya tidak apa-apa. Jangan seperti ini!" mendadak canggung usai di peluk oleh Al di hadapan keluarganya.
Al tak peduli. Kenapa ia mendadak marah saat melihat kondisi Dhisti yang seperti itu.
" Benar. Kamu yang nolongin aku dulu. Ya ampun, bisa kebetulan begini ya? Makasih karena udah nolongin Mama aku juga!" seru Puri yang ingin melebur kecanggungan itu.
" Jadi dia Mamanya Al? Dan yang ini adiknya? Duhh, kenapa bisa kebetulan begini sih?"
" Sama-sama. Aku tadi juga kaget pas berangkat kerja. Lebih kaget lagi saat ngelihat Mama kamu di acungi celurit. Sepertinya unjuk rasa yang berakhir ricuh!" balas Dhisti menatap Puri.
Hati Puri menghangat demi melihat Dhisti yang begitu pemberani. Berjanji dalam hati akan berbicara empat mata kepada gadis itu untuk berterimakasih secara khusus.
Nyonya Hapsari yang melihat sikap khawatir putranya, berniat akan menanyakan hal itu nanti. Lagipula, kenapa dia bisa tidak tahu jika Al mengenal Dhisti.
" Kata dokter kondisi kamu lemas. Tunggu infus habis baru boleh pulang!" tutur Nyonya Hapsari lembut mengusap lengan Dhisti. Membuat hati Dhisti menghangat. Apa seperti ini rasanya di sentuh ibu?
" Terimakasih banyak Bu. Sebetulnya, saya gak enak karena malah jadi ngerepotin ibuk!"
" Jangan ngomong begitu. Saya berhutang nyawa sama kamu nak!" balas Nyonya Hapsari mengusap lembut lengan Dhisti.
Al yang melihat Dhisti berinteraksi hangat dengan Mamanya merasa berlega hati. Ada secuil rasa bahagia kala melihat hal itu.
Membuat Puri yang memergoki kakaknya yang tak hentinya menatap gadis cantik itu mencubit perut sang kakak.
" Ngelihatin apaan hayo?"
" CK, apaan sih? Sakit tau!" bisik Al dengan wajah memberengut sebab adiknya baru saja mencubit perutnya. Membuat Puri terkikik-kikik.
" Pokoknya kakak berhutang penjelasan kepadaku!"
__ADS_1
" Iya- iya, amanlah!" sahut Al tanpa mengalihkan pandangannya kepada Dhisti.
Kini, Puri menatap Dhisti dengan senyum ramah. Ia kini tahu, sepertinya ... inilah alasan kakaknya malas untuk membahas soal Luna.