
...🌻🌻🌻...
Sejak kejadian itu, suasana dirumah Alsaki benar-benar redup dan tampak layu. Pria itu menjadi tak banyak bicara, dingin dan tak peduli dengan situasi dirumahnya.
Puri pun sama, gadis itu sempat di datangi oleh Wisnu namun ia tak mau menemui. Membuat Nyonya Hapsari akhirnya tahu jika anak bungsunya memiliki masalah yang serius.
Kedua anak Nyonya Hapsari tengah dilanda kesedihan. Namun sang suami masih saja teguh dengan pendiriannya.
Saat sarapan pagi, Nyonya Hapsari menatap murung kursi kosong yang beberapa hari ini tak di duduki oleh Alsaki. Anak sulungnya itu sudah pergi sejak ayam bahkan belum berkokok untuk membangunkan penghuni bumi.
Puri yang masih belum bisa berdamai dengan masalahnya lebih memilih work from home agar tak bisa bertemu dengan Wisnu. Ia sebisa mungkin mengikuti saran Dhisti untuk tak bertingkah ceroboh.
Ketidakhadiran Alsaki di Minggu suram ini, tak lain karena sugesti dari perasaannya yang beberapa hari ini kian tersiksa oleh kerinduan.
Rupanya Alsaki sengaja pergi guna mendatangi Dhisti sejak pukul 3 pagi. Pria itu benar-benar seperti hendak menciduk seorang pencuri saja.
Dan benar, tepat pukul lima pagi, Dhisti sudah terlihat berpakaian rapi dengan ransel kecil favorit yang tersandang di punggungnya.
Gadis itu kontan terlonjak kaget demi melihat Alsaki yang sudah ada di depannya dengan wajah datar yang sulit ia tebak.
" A- Alsaki!"
" Ikut aku!" seret Alsaki dengan aura wajah yang begitu mengintimidasi.
Dhisti tak berani berteriak karena masih sangat pagi untuk membuat tetangga bangun akibat ulahnya. Kakek juga pasti masih tertidur karena percaya Dhisti ada sift subuh. Padahal, itu semua hanya dalih.
Membuatnya meronta tanpa suara namun sia-sia saja.
Alsaki menyeret Dhisti menuju mobilnya, tanpa melepaskan sedikitpun cekalan tangan gadis yang saat ini meronta-ronta itu.
Laki-laki itu terlihat marah, kesal juga rindu. Alsaki terlihat membanting pintu mobilnya saat Dhisti baru masuk. Dengan cepat pula, Alsaki menyalakan mesin mobilnya lalu membawa Dhisti ke suatu tempat. Membuat gadis itu ketakutan.
" Turunkan aku!" pinta Dhisti berteriak saat mobil itu mulai melaju meninggalkan gang berbau menyengat itu.
Alsaki diam seribu bahasa dengan wajah yang menahan emosi dalam dirinya. Laki-laki itu nampak menaikkan kecepatan saat jalanan masih tampak lengang, sama sekali tak terganggu dengan interupsi dari Dhisti yang terus merengek minta diturunkan.
Dhisti yang agak takut dengan sikap Al yang menakutkan itu, mencoba menghubungi Inka namun secepat kilat pula Alsaki merampas ponsel Dhisti karena marah.
" Apa kau gila, kemarikan ponselku sialan!"
Alih-alih menjawab, Alsaki malah memasukkan ponsel Dhisti kedalaman dasboard yang ada di depannya. Pria itu juga diam kala Dhisti tekun memukulinya dengan tangannya.
" Apa yang kau lakukan brengsek! Kemarikan ponselku!"
Mobil itu melesat cepat dan tibalah mereka di gedung apartemen milik Alsaki, yang beberapa waktu yang lalu pernah ia gunakan untuk mengerjai Dhisti.
__ADS_1
" Apa, mau kemana kita, lepaskan!" elak Dhisti Kala ia ditarik untuk turun. Namun tenaga Alsaki yang lebih besar darinya, jelas membuat wanita itu kalah telak.
Alsaki terus menyeret Dhisti hingga naik ke lift. Bagai bersama psikopat, Dhisti benar-benar ketakutan saat melihat wajah yang benar-benar mengerikan itu.
Alsaki terus membawa Dhisti naik menuju ke unit miliknya yang berada di lantai atas. Kini, dengan cepat pula, usai menekankan pass code pintu apartemennya, Alsaki menarik Dhisti masuk kedalam lalu menguncinya rapat-rapat.
Membuat gadis itu benar-benar pucat.
" Kamu ini apa- apaan? Seenaknya saja memba.."
Bruk!
Deg
Deg
Deg
Alsaki tiba-tiba memeluk erat Dhisti, lalu memejamkan matanya seraya mendekapnya begitu erat. Membuat Dhisti tak mampu untuk sekedar meneruskan kekesalannya karena dadanya yang mendadak tremor.
" Kenapa kamu tega melakukan ini?"
Cairan bening itu seketika lolos begitu saja, manakala Alsaki menanyakan hal itu kepadanya, dengan suara parau.
Ia tahu, laki-laki itu tengah menangis sebab tubuhnya bergetar.
Dhisti menggigit bibirnya merasakan pilu. Ini tidaklah benar. Ia juga menyukai Alsaki tapi keadaan yang ada benar-benar memupus asa yang ada.
" Tidakkah kau menyadari jika aku ini sangat memerlukan kamu? Kenapa kau begitu jahat!" lirih Alsaki menangkup wajah Dhisti menggunakan kedua tangannya.
Dhisti menatap kedua netra basah Alsaki yang bergumul dengan air mata dengan hati yang sesak pilu. Sama sekali tak mengira jika reaksinya akan seperti ini.
" Aku menyayangimu Dhis, tidakkah kau merasakan itu?"
Berkali-kali bertanya dengan wajah nestapa dan membuat hati Dhisti bagai tersusuk duri sembilu.
Sedetik kemudian, mereka berdua mendekatkan dahi mereka dengan isak tangis yang saling bersautan. Pertahanan Dhisti seketika runtuh kala ia diperlakukan manis seperti itu.
Dhisti sebenernya juga teramat tersiksa.
" Aku nggak bisa Al!" jawab Dhisti dengan suara tercekat. Membuat Alsaki menatap dalam wajah Dhisti yang benar-benar pilu.
" Apa yang membuat kamu gak bisa?" tanya Alsaki serak.
" Ada sesuatu yang tidak kamu tahu!"
__ADS_1
" Kalau begitu tolong beritahu!"
Dhisti menggeleng lemah. Ia tak siap untuk hal ini. Kenapa Alsaki kini membelenggunya dengan cinta yang malah membuatnya sulit untuk berlari?
" Papamu pasti tidak menerimaku kan? Papamu pasti sudah memiliki Luna kan?" seru Dhisti dengan bibir bergetar. Ia begitu sakit saat mengatakan hal itu.
Alsaki menatap muram Dhisti yang saat ini berbicara dengan tubuh yang bergetar hebat. Tepat sekali dugaannya, Dhisti rupanya merasa tersinggung dengan ucapan papanya beberapa waktu yang lalu.
" Aku minta maaf karena perkataan papa mungkin udah bikin kamu tersinggung Dhis. Tapi percayalah, aku bisa mengusahakan itu!" meyakinkan Dhisti dengan hati yang merasa bersalah.
" Enggak Al. Kita ini beda, gak akan bisa di paksa. Siapapun aku, keluargamu itu benar. Gak ada orangtua yang mau melihat anaknya tidak bahagia karena bersanding dengan orang yang tidak jel..."
" Hey dengar aku!" sergah Alsaki yang tak ingin mendengar Dhisti merendahkan dirinya sendiri.
Alsaki menangkup wajah Dhisti dengan perasaan yang begitu rapuh. Pria itu benar-benar meratapi nasib kisah cintanya.
" Apapun kata orang diluar sana. Cuma kamu orang yang buat aku nyaman Dhis. Belum pernah aku ngerasain hatiku seneng banget saat berada di dekat seseorang. Kamu yang ngajarin aku untuk bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki! Kamu juga yang buat aku mengerti arti kerinduan!"
Dhisti yang bimbang kini menarik napasnya dalam-dalam. Ia juga jatuh hati kepada laki-laki di depannya itu, tapi apa dia tahu jika semuanya itu tidaklah mudah.
" Al kamu gak kenal siapa aku sebenarnya!"
" Kalau begitu tolong kasih tahu aku!"
Dhisti lagi-lagi menggeleng muram. Tak mungkin ia menceritakan hal ini karena sama saja dia akan membuat hati keluarganya terluka.
" Dhis!" pekik Alsaki yang melihat Dhisti menarik tangannya dan duduk diatas sofa seraya memijat keningnya yang teramat pusing.
" Okey aku gak akan maksa kamu. Tapi please jangan menghindar lagi. Kamu itu orang baik. Aku perlu kamu Dhis!" menatap muram Dhisti yang benar-benar bingung dengan keadaan.
" Dhisti, lihat aku!"
Keduanya kini saling beristatap, Dhisti yang seolah terhipnotis oleh sorot mata sendu penuh pengharapan itu kini terpaksa diam. Tak bisa lagi melawan.
" Aku benar-benar sayang sama kamu Dhis, do you know this?"
Dhisti memejamkan matanya kala wajah Al semakin mendekat kepadanya. Hangat napas yang menerpa wajah Dhisti seolah menjadi penguat. Cinta yang hadir secara tak sengaja, nyatanya membawa persoalan di babak baru kehidupan keduanya.
" I love you so much Dhis!"
Sedetik kemudian, bibir mereka saling menyatu. Melumaat, juga saling mengigit. Melebur rasa rindu yang selama ini begitu menyiksa batin keduanya.
Dhisti menerima ciuman hangat itu dalam tangis yang masih terjadi. Apa yang harus dia lakukan jika begini keadaannya?
.
__ADS_1
.
.