Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 95. Bentuk lain sebuah kepedulian


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Kunci mobil mana Ar?"


Ari yang baru selesai mengelap mobil itu terperanjat saat Puri datang dan meminta kunci itu dengan air muka yang tak biasa.


Sebab sejujurnya ia selalu tak suka bila melihat Ari berada di dekat Desi. Entahlah, ia tahu dia serakah, tapi ia merasa Desi itu sedikit tidak beres.


" Nona mau kemana?" bertanya di depan Desi yang masih sibuk menyiangi bunga dan tanaman berharga tak murah di belakangnya.


" Ada urusan sebentar." menyahut sok cuek. Padahal dalam hati sangat ingin di perlakukan manis. Singkat kata


" Biar saya antar nona!" menawari dengan perkataan khawatir.


" Tidak perlu. Mana kuncinya?" masih berusaha sok mengabaikan tawaran Ari.


Ari akhirnya memberikan kunci itu meski ia sebenarnya sangat khawatir. Mau kemana gadis itu di jam pagi ini?


" Nona anda mau kemana sebenarnya?" masih terus berusaha mencari tahu akan kemana gadis itu meski kunci telah ia serahkan.


" Apa aku wajib menjawab? Aku bisa mengemudi sendiri. Lagipula aku tidak ingin mengganggu dua orang yang sedang..." melirik Desi dengan wajah kesal dan membuat Ari bingung.


Desi yang mendengar hal itu tersenyum penuh kemenangan. Ia meyakini jika Puri memang benar-benar memiliki perasaan terhadap Ari.


Ah andai saja dia tahu jika Puri bahkan pernah mencium pipi pria tampan itu, pasti Desi akan berang detik itu juga.


" Tuan Alsaki telah memerintahkan saya untuk mengikuti kemana anda pergi! Jadi sebaiknya anda jangan..."


" Minggir!" menerobos dengan sikap yang selalu keras kepala.


" Nona..."


" Mas Ari ini kenapa sih. Jika nona Puri ingin pergi sendiri sebaiknya mas Ari membiarkan dia pergi. Jangan membuat diri kita yang miskin ini dalam masalah mas!" kata Desi sengaja ingin menekankan posisi mereka berdua.


Desi tahu, sikap yang di tunjukkan oleh Puri merupakan sikap seorang wanita yang sedang cemburu.


Puri masa bodoh dengan sindiran Desi. Ia memilih ngeloyor dan tetap membuka pintu mobil lalu duduk di ruang kemudinya meski sebenarnya ia ingin Ari mengejarnya.


" Ayo kejar. Kejar aku dan buktikan kalau kamu juga peduli kepadaku. Biar wanita itu tahu kalau kau lebih peduli kepadaku!"


Namun Ari rupanya memikirkannya apa yang di katakan Desi. Membuatnya akhirnya sadar jika ia memang hanya pesuruh.


" Kenapa diam saja sih?" berusaha mengulur waktu dengan cara sibuk menggulir ponselnya.


Ari akhirnya memundurkan langkahnya dengan tatapan menyerah. Meski ia sangat ingin menemani, namun ucapan Desi barusaja benar-benar memperjelas posisinya.


...----------------...


Dante menghadiri pertemuan itu dengan sangat tidak tenang. Tidak tahu kenapa, tangis bayi malang itu seolah mengusik batinnya yang selama ini dingin cenderung cuek terhadap apapun.


Sebab baginya hidup hanya untuk bekerja dan bekerja. Sedari kecil di tatar untuk mandiri menjadikan Dante memiliki pribadi yang sulit untuk berbasa-basi.


Berbeda lagi dengan Agatha, gadis yang menghidupi diri dengan cara apapun karena keadaan itu kini lega sebab bayi itu akhirnya tertidur usai menghabiskan dua botol susu ukuran sedang yang ia buat.


" Saya pulang dulu non!" kata Bu Ami yang sudah selesai dengan tugasnya di hari itu.


" Jangan panggil non lah Buk. Saya cuma orang biasa!" sahut Agatha yang tak suka mendapatkan panggilan seperti itu.


" Memangnya kenapa non? Bukannya nona itu pacarnya tuan Dante?" berkata ragu sebab sebenarnya ia juga tak bisa memastikan.


" Ya bukanlah buk! Ada-ada saja. " Agatha langsung memotong cepat. Membuat Bu Ami terkejut.


" Kalau bukan pacar, lalu?" sengaja menggantungkan kalimat karena berharap Agatha mau menjawab.


" Kami baru kenal. Enggak tahu juga mau di sebut gimana jadinya. Udahlah, mending nanti ibu tanya sendiri ke orang itu. Tunggu dulu, tadi Ibuk bilang siapa nama majikan ibuk itu?" mengerutkan kening sembari mengingat-ingat nama pria dingin itu.


" Tuan Dante?" jawab Bu Ami ragu-ragu.


" Jadi namanya Dante?" malah mengulang sebab baru mengetahuinya nama laki-laki yang hendak ia rampok itu.


Bu Ami seketika heran. Bagaimana bisa orang yang bahkan sudah tidur di kamar milik bosnya, namun tidak tahu nama pemiliknya.


" Kok aneh - aneh aja sih. Apa aman kalau aku tinggalkan dia disini?" membatin seraya bertanya pada diri sendiri soal Agatha.


Tapi kalau dipikir-pikir, Agatha sepertinya orang baik. Jika tidak, tentu bayi itu tak akan terawat dengan baik.


" Kalau begitu saya pamit dulu mbak!" putus Bu Ami sebab tak ada lagi yang perlu di kerjakan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Pulang?" Memangnya ibuk mau pulang kemana?" makin mengerutkan keningnya heran. Bukankah dia assiten rumah tangganya Dante?


" Ya pulang kerumah saya mbak, di ujung jalan sana. Saya harus pulang mbak karena anak saya sendirian. Saya datang kemari setiap hari cuman datang buat bersih-bersih saja!"


Bu Ami menerangkan sedikit tugasnya agar Agatha tahu. Lagipula, anaknya yang memiliki keterbelakangan mental tak bisa dibiarkan sering-sering sendiri. Ya walaupun, suaminya ada dirumah. Namun pria pengangguran itu tak mau ikut membantu mengurusi anaknya yang membutuhkan perhatian khusus.


" Jadi dia benar-benar tinggal sendiri? Memangnya kemana orang tuanya?" semakin ingin tahu sebab kenapa bisa Dante menempati ruang sebesar itu seorang diri.


" Maaf nona, saya tidak boleh membicarakan hal yang sifatnya privasi dengan orang baru. Sekali lagi saya mohon maaf!" menjawab dengan sangat hati-hati karena sejujur dia cukup sungkan kepada Dante.


Agatha akhirnya mengangguk. Meski penasaran, tapi melihat wajah Bu Ami yang tak nyaman membuatnya tahu bila pria itu memang sangat disegani oleh Bu Ami.


Di lain pihak, Puri yang kesal karena dibiarkan sendiri terlihat memanyunkan bibirnya manakala dia berhenti di lampu merah.


" Kenapa malah diam sih. Kan dia bisa sedikit maksa. Aku pasti luluh kok!" bergumam sendiri sambil terus saja menyalahkan Ari.


Tapi begitulah wanita. Selalu semaunya sendiri dengan sifat kontradiktif yang tak pernah ketinggalan. Salah-salah mengambil sikap, Ari pasti juga kena omel.


Saat berhenti di traffic light, ia melihat pasangan muda-mudi yang bermesraan di atas motor mereka.


Dua sejoli itu terlihat mengenakan pakaian sederhana, menggunakan motor yang penuh cacat, dan penampilan yang jauh dari kata mewah.


Tapi lihatlah mereka, meski dengan kesederhanaan sekali pun, dunia bahkan serasa milik mereka berdua.


Sangat kontras dengan dirinya yang meski memiliki apapun, namun hatinya kosong.


Ia lantas menjalankan mobilnya dengan wajah memberengut sebab hatinya gundah. Empat puluh menit kemudian, sampailah ia kedi apartemen milik kakaknya.


Ia memasuki gedung pencakar langit itu, lalu berjalan gontai ke arah lift yang akan membawanya menuju unit kakaknya.


Setibanya ia di lantai atas, dimana lantai itu merupakan lokasi unit kakaknya berada, ia segera menekan tombol di pintu besar itu dan langsung membuat penghuninya di dalam kalang kabut.


" Astaga mas, itu pasti Puri!" seru Dhisti yang masih saling memeluk dengan suaminya. Hari ini benar-benar harinya mereka.


" Dia jadi datang?" tanya Alsaki syok yang tak mengira jika Puri serius dengan perkataannya di telepon beberapa waktu lalu.


" Mas coba lihat deh. Aku mau siap-siap dulu kalau gitu. CK, mana ini banyak banget lagi!" menggerutu seraya melihat kissmark yang tercetak begitu banyak di kulit lehernya.


" Berbanggalah sayang. Itu merupakan stempel kepemilikan!" sahut Alsaki terkekeh.


Al lantas membuka pintu itu guna memastikan siapa yang bertamu. Dan saat pintu itu telah terbuka, benar saja jika di sana ia telah mendapati adiknya berdiri muram durja.


" Kau di antar siapa?" tanya Alsaki celingak-celinguk mencari sosok yang mungkin bisa menjadi jawaban pertanyaannya.


Puri langsung terkesiap dari lamunannya manakala mendengar suara sang kakak yang kini sudah berdiri di depan pintu.


" Kak Al?"


" Aku bertanya, kau kemari dengan siapa?" mengulang pertanyaan sebab sang adik tak juga menjawab.


" Aku sendiri!" menjawab polos seolah tak akan menimbulkan apapun.


" Kau ini bagaimana sih? Aku kan sudah bilang jangan pernah pergi sendirian. Kemana Ari?"


" Gawat. Kenapa kak Al malah marah-marah?"


" Dia sedang sibuk membantu Desi merawat bunga kak!" serunya lagi agar kakaknya tak mempermasalahkan soal dirinya yang datang seorang diri.


" Apa katamu?" balas Alsaki terlihat marah.


DEG


Membuat Puri spontan menelan ludah sebab sepertinya ia telah mengemukakan alasan yang keliru.


" Emm maksudku..."


" Apa Ari sudah tak mengindahkan peringatanku?" seru Alsaki lagi yang terlihat geram.


" Aduh mati aku, kenapa aku malah buat alasan kayak itu tadi. Astaga!"


" Bukan begitu kak, dia..."


Namun terlambat, Alsaki buru-buru masuk dengan wajah marah sebab mengira jika Ari lebih mementingkan urusan lain ketimbang adiknya.


Puri kini mengekor di belakang kakaknya yang tampak marah dengan hati gelisah. Bukan tanpa alasan, kejadian buruk yang menimpa Mamanya beberapa waktu lalu telah menjadikan Alsaki tak ingin mentolerir keselamatan seluruh anggota keluarganya.


Puri yang panik masih berusaha menjelaskan kepada sang kakak namun laki-laki itu keburu menelpon Ari.

__ADS_1


" Halo tuan?"


" Apa kau sudah bosan bekerja? Kenapa kau membiarkan adikku pergi seorang diri? Tidak ingatkah kau pada perintahku?"


DEG


Mungkin Ari saat ini benar-benar ketakutan. Suara Alsaki yang terdengar marah sudah bisa di pastikan jika mungkin sesuatu telah terjadi kepada Puri.


Puri seketika menyesal. Padahal bukan begitu niatnya. Kenapa sekarang jadi Ari yang malah kena semprot?


" Kak!" Puri masih berusaha memberikan penjelasan kepada kakaknya.


" Cepat datang kemari atau aku akan memecatmu!"


Membuat Puri kini semakin mendelik.


" Kau harus bisa memaksanya untuk mengantar mu kemanapun kau pergi sesibuk apapun dia. Aku membayarnya mahal untuk itu. Aku tidak ingin kamu, Mama bahkan papa sekalipun dalam bahaya kau tahu itu Pur?"


Kemarahan sang kakak malah membuatnya menyesal sebab Ari yang tak tahu apa-apa kini malah menjadi korbannya.


Alsaki yang terlihat marah kembali ke kamarnya dan berpapasan dengan sang istri yang baru selesai mandi.


" Kakak kamu kenapa? " tanya Dhisti yang belum mengetahui duduk permasalahannya.


" Kakak ipar tolong aku!"


...----------------...


" Baik terimakasih tuan. Saya sangat tertarik untuk berinvestasi di perusahaan ini. Kami akan segera menghubungi anda kembali dalam waktu dekat. Senang bertemu dengan anda!"


" Terimakasih banyak tuan!" jawab Dante sembari menjabat tangan tamunya dengan erat.


Dante kini bernapas lega sebab pertemuannya begitu lancar dan berhasil.


Beberapa detik kemudian, Dante terlihat mengetik sebuah pesan yang akan ia tujukan kepada Alsaki.


📱" Sukses bos. Mereka setuju!"


Mengetik dengan perasaan yang lega sekaligus puas.


Detik berikutnya, ia yang berniat untuk turun mendadak teringat akan perempuan yang masih tak ia ketahui siapa namanya itu.


" Apa dia sudah makan?"


Maka Dante buru-buru turun menuju basement lalu melajukan mobilnya dengan segera.


Di perjalanan, dia yang tumben merasa lapar membelokan mobilnya untuk membeli makanan yang ia pesan take away.


" Dua!" tutur Dante kepada petugas ramah dengan seragam merah itu.


" Silahkan billnya pak!"


Dante memilih membungkus makanan itu sebab ia tahu buk Ami pasti sudah pulang.


Ia lantas melesatkan mobilnya menuju kediamannya sebab dorongan untuk melihat bayi itu malah semakin kuat.


Setibanya dia di rumah, ia tak lupa mengambil makanan yang ia beli tadi lalu membawanya masuk kedalam. Pria itu berjalan dengan muka datar namun dengan telinga yang awas.


Saat hendak masuk kedalam kamar yang pintunya tak tertutup rapat itu, Dante seketika menghentikan langkahnya demi mendengar sayup-sayup Agatha yang berbicara.


" Siapa sebenarnya orang tuamu? Kenapa nasibmu sama dengan nasibku?"


Dante tertegun saat mendengar Agatha yang mengajak Raina berbicara.


" Kau sudah kenyang belum? Kalau sudah aku mau ke dapur. Kau tahu, orang itu benar-benar tidak memilih pembantu dirumah ini! Membuatku susah saja!"


Raina mengeluarkan suara yang seolah-olah menjawab pertanyaan yang barus aja di ajukan oleh Agatha kepadanya. Membuat Dante langsung menarik sudut bibirnya manakala mendengar wanita itu mengajak bicara Raina.


" Hah, sekarang ganti aku yang lapar. Kau tahu, pria kaku itu juga tak memiliki bahan masakan dirumah ini! Astaga, orang kaya yang aneh."


Maka Dante langsung tahu bila Agatha sedang di dera oleh rasa lapar.


Sejurus kemudian, Dante yang merasa kasihan dengan wanita itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Membuat Agatha berjingkat.


" Kalau kau sudah selesai cepat keluar. Aku membawakan makanan untukmu!" kata Dante yang masih menunjukkan wajah datarnya.

__ADS_1


__ADS_2