
...🌻🌻🌻...
Apa lagi yang bisa di harapkan dari seorang manusia yang hidup dalam lingkungan kere, serta kesusahan yang tiada henti menghantam?
Siapapun, mungkin tak akan bisa bertahan jika terus berada dalam kondisi buruk seperti itu. Tak ayal, banyak insan yang tak kuat untuk terus berada di jalan lurus. Namun, ujian kehidupan sejatinya memang hanya untuk orang-orang yang mau naik kelas saja.
Dan apa yang lakukan Dhisti di masa lalunya itu, sebenarnya adalah manifestasi nyata dari wujud sikap pedulinya, yang begitu mengasihi orang-orang yang dia sayangi.
Tanpa kenal cemooh, tanpa peduli gunjingan, dengan semangat muka tebal dan telinga tuli, ia terus saja melawan kesulitan hidup sekuat dan sebisanya, bahkan mengabaikan aspek baik dan tidak baik yang kerap berlaku di kehidupan bermasyarakat.
Apa mau di kata, keadaan yang ada acapakali mendesak, menghimpit, lalu menjadi sumber ketidakbenaran hal itu. Namun tak ubahnya orang lain yang pasti memiliki peluang untuk hidup lebih baik, Dhisti juga tak mau berpangku tangan. Ia berusaha bangkit mau bekerja untuk dirinya sendiri
Tapi semua itu berubah saat ia bertemu dengan seorang pemuda tengik yang tak jua jera mendekati dirinya, Alsaki.
Pria yang datang dengan cara yang cukup nyeleneh. Ketidaksengajaan membuat mereka sering bertemu dan menumbuhkan benih-benih cinta yang tak bisa Alsaki rasakan dalam diri wanita manapun.
Ada getaran, debaran, serta perasaan yang sulit ia jelaskan manakala berjumpa Dhisti. Ia telah jatuh cinta pada sikap arif, bijaksana, sederhana serta kepedulian sosial yang tinggi terhadap orang lain.
Sedikit halangan nyaris saja meruntuhkan segenap perasaannya. Namun inilah definisi nyata dari jodoh. Bahwa sejauh apapun manusia menentang, jika Tuhan sudah sudah berkehendak, maka terjadilah semua itu sesuai rancangan - Nya.
Pria tampan yang sudah pasti sedang gugup itu, kini berada di kamar lain yang juga tengah sibuk melakukan persiapan. Acara itu berada di sebuah gedung yang dekat dengan apartemen milik Alsaki dan membuat mereka bisa melakukan persiapan lebih maksimal.
Pria itu sudah sangat matang dalam mempersiapkan serta memperhitungkan apa yang akan dia ambil setelah ini. Tentang posisi sang papa yang belum juga memberinya pernyataan 'iya' maupun ' tidak' pada gelaran acara besarnya kali ini.
Tapi kehidupan berumah tangga bukan hanya soal itu, Alsaki percaya waktu pasti menyimpan solusi terbaik buatnya nanti. Tak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki persoalan bukan? Namun setidaknya ia sudah mengikuti apa kata hatinya.
Sebuah tempat yang sudah sesuai dengan ekspektasi Puri, kini juga telah siap menunggu datangnya para keluarga, teman, juga sahabat dekat keduanya.
Dari sisi Dhisti, ia telah mengundang Mama Chiko yang semasa waktu susahnya tiada lelah untuk memberi. Sauki, Dani and friends yang juga menjadi bagian kehidupannya selama ini, tentu tak ingin ia lewatkan begitu saja.
Jangan di tanya siapa yang mengurusi, Dante lah orang yang berada di balik itu semua. Pria irit bicara itu benar-benar menerapkan talk less do more dan sepertinya sangat di senangi oleh anak-anak di yayasan.
Di pihak Alsaki, Puri dan Mama Hapsari, mereka juga sudah menyebarkan undangan kepada sanak saudara, serta para petinggi perusahan milik mereka.
Agak tertutup mengingat Alsaki ogah meladeni cecaran pertanyaan dari wartawan resek, yang pasti memburu berita dan kerap melenceng dari kebenarannya.
" Gimana Ce, udah beres semua?" Puri memastikan Tince yang ia tugaskan untuk mengontrol segala sesuatunya dan harus selalu terhubung dengan kepala Wo itu.
" Aman, tinggal nunggu jam aja. Pokoknya pasti beres!" berkata sembari menggerakkan kipas andalah miliknya.
__ADS_1
Puri belum melihat Ari sama sekali sejak pagi. Namun saat ia ingin naik untuk melihat persiapan make up calon kakak iparnya, ia terpana akan sosok yang benar-benar tampil beda itu.
Ya, Puri yang melihat Ari telah datang bersama Desi juga Nyonya Hapsari langsung terpaku , saat melihat pria yang mengenakan pakaian formal dengan rambut tersurai rapih yang sepertinya baru saja di potong.
"Dia ganteng banget!" belingsatan dalam hati.
Laki-laki itu terlihat sangat tampan. Sungguh, siapapun tak akan menduga jika pria yang memiliki nama lengkap Ari Agung Sedana itu merupakan seorang supir.
" Mereka masih di atas?" tanya nyonya Hapsari setibanya dia di muka Puri.
Namun yang di tanya malah melongo.
" Pur!"
" Puri!"
Gadis itu langsung tersentak dan lamunannya seketika buyar tatkala sang Mama memekik.
Dasar Puri!
" Ah iya Ma. kak Al Ma- masih di atas. Baru mau aku cek!" menjawab nyengir sebab sadar jika mamanya mulai kesal.
" Des, ikut saya!"
Desi nampak sebal sebab keinginannya untuk bersama Ari harus tertunda karena sang majikan mengajaknya pergi.
" Kenapa nyonya malah mengajakku pergi sih?"
Menyisakan dua manusia yang sebenarnya saling mengangumi penampilan mereka satu sama lain.
" Nona...terlihat cantik!"
" Kamu ganteng!"
Dan uniknya mereka mengucapkan kalimat itu dalam waktu bersamaan, meski intonasinya berbeda. Membuat keduanya sama-sama merasa kikuk.
Nyonya Hapsari memanfaatkan waktu yang ada untuk menemui calon menantunya yang masih menyelesaikan riasan.
Saat wanita itu masuk ke dalam ruangan, rupanya persiapannya sudah hampir selesai.
__ADS_1
" Bu?"
Dhisti yang melihat nyonya Hapsari masuk terlihat tersenyum senang dan hendak bangkit, namun calon mertuanya itu malah memintanya untuk duduk dengan menggunakan bahasa tubuh.
" Des, tolong kamu bantu mbk di sana beres-beres ya!"
" Baik Bu!" menjawab ramah padahal hatinya sedang kesal setengah mati.
Meski Desi terlihat cekatan saat di perintah, namun sejujurnya ia sangat frustrasi karena lagi-lagi terpisah dengan Ari. Dan jujur, ia sangat tidak suka saat melihat Puri yang pagi ini berdandan sangat cantik.
" Sudah siap?" seru sang Mama sambil membantu membetulkan aksen riasannya.
Dhisti sebenarnya gugup sedari tadi. Ini adalah hari pernikahannya. Mustahil jika dia tidak deg-degan.
" Siap Bu!"
Nyonya Hapsari terlihat meriah jemari calon menantunya yang sudah cantik dengan hiasan heina putih. Membuat gadis itu bertambah gugup.
" Apa yang terjadi tak usah kamu risaukan!"
Dhisti tertunduk saat tangannya di genggam dan wanita itu mulai mengucapkan kata-kata lembut.
" Meski papanya Al tidak ada saat ini, itu tidak mengurangi kebahagian kita, hm?"
Mata dan hidung Dhisti langsung memanas. Gadis itu sudah ingin menangis sewaktu nyonya Hapsari membicarakan tuan Hendra.
" Setelah ini anak saya bakal kamu urus. Dan kamu juga akan menjadi tanggung jawab anak saya!" Dhisti benar-benar tak tahan lagi. Matanya mulai mengembun. " Akan ada banyak ketidakmudahan nanti yang bakal kalian jumpai!"
Nyonya Hapsari mengusap lengan atas calon menantunya itu. Membuat Dhisti semakin tertunduk.
" Jadi istri harus kuat, sabar dan legowo. Semoga kalian selalu bahagia nanti nak!"
Kini air mata yang sudah berjejal itu tak bisa lagi Dhisti tahan manakala tubuhnya di peluk oleh nyonya Hapsari. Untuk sejenak ia benar-meresapi pelukan seorang wanita yang ia anggap seperti ibunya sendiri. Membuatnya merasa terharu sebab teringat akan mendiang Ibunya.
" Ibu, Bapak, anakmu akan menikah hari ini. Iringi aku dengan restu kalian dari sana"
.
.
__ADS_1
.