
...🌻🌻🌻...
Inka kontan berdiri saat melihat wajah laki-laki memuakkan itu. Tak ubahnya orang lain yang masih hanyut dalam pusaran emosi, Inka yang telah bangkit seketika mendorong tubuh pria itu hingga terhuyung.
" Apa-apaan lo?" Aris spontan naik pitam saat wanita tomboy itu malah membuatnya nyaris terjerembab ke tanah.
" Lo yang apa-apaan, masih berani buat nampakin wajah brengsek elo?"
Inka tak mau kalah, gadis itu benar-benar memasang badannya untuk sang kawan.
Namun yang memiliki mantan malah diam dan tak menggubris. Hatinya masih teramat sakit. Ia malah berharap Inka menempeleng wajah Aris hingga giginya rontok.
" Dhis!" Panggil Aris tak mau menyerah. Mengabaikan Inka yang menatapnya bengis.
" Lo budek? Pergi sana, Dhisti udah muak liat muka Lo!"
Bukan Inka namanya kalau tidak hanya tinggal diam. Gadis garis keras itu benar-benar menantang Aris tanpa rasa takut.
" Gue gak ada perlu sama elu, minggir!" menyibak bahu Inka yang menghalangi langkahnya.
" Nggak. Pergi dan gak usah nunjukin muka lo yang pas- pasan itu lagi ke hadapan gue, anjing!"
Dhisti memejamkan matanya saat kupingnya terasa ngilu demi mendengar perdebatan yang membuatnya semakin pusing itu.
Meski ia masih penasaran kenapa Aris ingin menemuinya, namun wanita itu memilih membiarkan Inka menghalau Aris menggunakan caranya.
...----------------...
Hari silih berganti. Tak terhitung berapa jumlah Minggu yang telah terlewati. Ramdan juga sudah di panggil kembali dan kini benar-benar menepati janjinya kepada Dhisti untuk tidak kurang ajar kepada siapapun.
Meski, pria itu akhirnya kaget kala mendengar Dhisti mengundurkan diri karena rupanya Fery kerap menanyakan kedekatannya dengan Al. Meski hanya candaan, namun entah mengapa Dhisti tak nyaman dengan hal itu. Apalagi, teman-temannya di mall tak ada lagi yang mau mendekat dengannya.
Pria yang semula cabul itu, kini jera dan lebih menyibukkan diri mencari pasangan hidup karena ibunya yang sudah di ambang ajal sering sakit-sakitan. Berniat mencari jodoh agar ada yang mau membantunya mengurus ibunya ketimbang menggodai beberapa bawahnya.
Al yang sejak hari itu sibuk bepergian ke antah berantah tak mengetahui hal yang terjadi soal Fery yang kerap membuli Dhisti. Pria itu benar-benar tak memiliki waktu luang untuk sekedar menjahili Dhisti. Singkat kata, Al lebih memilih menyanggupi kunjungan keluar kota ketimbang menuruti Puri untuk mangkal di layar televisi.
Tidak, Al sudah jera akan hal itu.
Di lain pihak, kakek yang rupanya mendapatkan banyak sembako sehari setelah Al datang, terus saja memuji pria tenar itu, hingga membuat Dhisti kesal.
" Kakek ini sudah lah kek. Jangan Al terus yang di omongkan!" kesal Dhisti meletakkan sendok.
" Kenapa kamu marah? Dia pria berada yang sungguh baik. Bahkan orang itu membelikan obat nyeri otot dan obat sakit gigi untuk kakek!" sahut Kakek dengan terkekeh.
...Untuk kalian. Ini titipan dari adikku karena kau sudah menolongnya....
Kata-kata dalam note besar itu terselip dalam gunungan sembako, yang dikirim untuk mereka beberapa waktu yang lalu. Padahal, Puri masih belum tahu jika gadis yang menolongnya itu adalah Dhisti.
Alih-alih turut memuji, wajah Dhisti malah semakin mengkerut.
__ADS_1
Dhisti bahkan sudah keluar dari mall yang berpotensi menjadi ajang nepotisme itu tanpa di ketahui sang kakek. Sungguh, ia benar-benar ingin mengantisipasi diri dari hal-hal yang tidak dia inginkan.
Biarlah ia seperti itu, berkubang debu. Walau segala hal tampak menyedihkan, namun itu lebih baik. Ia hanya trauma dengan hal yang berbau kemewahan.
Untuk bertahan hidup, gadis itu gencar mencopet dan menunggu keputusan Idho untuk mengizinkan nya menjadi karyawan tetap.
Sedikit lega karena setelah ia bertemu Al kapan hari, pria itu tak lagi memunculkan batang hidungnya. Dhisti mengira jika laki-laki yang pernah membawanya ke salon untuk make over itu telah merasa puas dan impas.
" Kalau kakek lihat, sepertinya dia suka sama kamu lho Dhis!"
" Kakek!" ucapnya yang semakin kehilangan selera makan.
Pria tua itu malah tergelak saat melihat cucunya marah. Entahlah, bagi kakek, melihat Dhisti ngamuk-ngamuk itu merupakan kelucuan tersendiri.
" Kakek hanya menggodamu, kenapa kamu langsung marah dengan pipi bersemu merah seperti itu?" Ucap kakek dengan mata yang basah karena tawa yang terlalu.
" Hih, benar juga. Kenapa aku malu!"
Sejurus kemudian, gadis itu menghabiskan makan malamnya bersama sang kakek dalam suasana tentram. Semoga selalu seperti ini. Semoga segala sesuatunya bisa berjalan sesuai angan-angan Dhisti.
" Aku harus pergi!" Tukasnya kala sepiring nasi sambal itu telah tandas ia telan.
" Malam-malam begini?" tanya kakek murung.
Dhisti mengangguk, ia harus mencopet malam ini. Deadline tanggal sudah semakin dekat dan oprasinya beberapa waktu yang lalu gagal.
Entahlah, setiap ia berbohong kepada kakeknya, terselip rasa sesal yang semakin lama semakin sulit ia kendalikan. Untuk saat ini, ia bahkan telah ratusan kali membohongi kakeknya.
" Maafkan aku kek!"
Di tempat biasa Inka menunggu, Dhisti dikejutkan dengan hadirnya Brio disana. Sama sekali tak menduga, jika Inka sudah mu membuka hatinya untuk Brio.
" Cie!" Ejeknya menatap dua sejoli yang asik menghisap rokok.
" Cie apaan, Broni datang kemari bawa kabar buruk!"
Kabar buruk? Membuat air mukanya berubah. Jadi dugaannya soal Inka yang mau menerima Brio salah?
" Banyak polisi patroli karena keluhan pencopetan yang akhir-akhir ini marak terjadi. Gue tahu ini bukan kalian. Ini ulah anak-anak bintang timur. Tapi sebaiknya kalian jangan oprasi dulu. Gue takut kalian kena sweeping!"
DEG
Bagaimana ini, mustahil dia tidak mencopet dengan timeline waktu yang semakin mepet.
...----------------...
Al tertegun malam ini. Tak mengira jika kedua orangtuanya mengajaknya berbicara serius perihal teman hidup. Usut punya usut, Puri yang telah menjalin hubungan manis dengan kekasihnya, berniat menaikkan status hubungan mereka, ke jenjang yang lebih serius dengan harapan tak menyalip kakaknya.
Pamali Mama bilang.
__ADS_1
" Adikmu ingin segera menikah, tapi papa harap kamu yang harus dulu menikah Al!"
" Papamu ini juga sudah sering sakit-sakitan. Papa tidak mau mati sebelum melihat kamu kasih cucu buat papa!"
" Pa!" Puri langsung menatap murung papanya yang selalunya membicarakan soal kematian. Membuat Al semakin tercenung.
" Luna gadis yang baik. Terlihat cocok sama kamu. Ya...meski Papa gak bilang kamu harus sama dia, tapi setidaknya kamu kan bisa punya gambaran. Ingat usia kamu, usia kami, juga niat adik kamu!"
Semua hal yang di beberkan oleh orangtuanya membuat Al semakin larut dalam kebimbangan. Kenapa harus Luna?"
" Kak Al punya pacar? Soalnya kak Luna sering curhat ke aku kalau kak Al sikapnya dingin banget ke kak Luna!" tanya Puri menatap kakaknya ragu-ragu.
Al terdiam. Luna cantik, tapi ia sama sekali tak merasakan getaran saat bersama wanita itu. Dan sialnya, saat ia berbicara serius dengan keluarganya, wajah Dhisti yang mengomel- ngomel kepadanya mendadak muncul.
" Al!"
Panggil Mama saat anak sulungnya itu malah bengong.
" Al!"
Mama dan papanya bahkan saling menatap demi melihat seraut kosong yang tampak murung itu.
" Alsaki!" tepuk mama dengan intonasi suara yang sedikit di naikkan.
Ia langsung terkesiap dari lamunannya saat tangan sang Mama menepuk lengannya. Membuat Al membasuh wajahnya dengan gusar.
" Kita bahas ini besok lagi ya Ma...Pa. Al capek banget!"
Papa menghela napas sesaat sebelum beliau mengangguk. Orangtuanya tahu, Al merupakan pria sibuk yang mungkin tak sempat memikirkan soal wanitanya. Tapi sebagai orang tua yang baik, mereka perlu mengarahkan anak-anaknya, demi kelangsungan hidup yang baik.
" Papa harap kamu bisa jaga kepercayaan papa. Jaga nama baik, reputasi, juga integritas keluarga. Meski ini terbilang segera, tapi papa harap kamu jangan sembarang pilih. Ingat bibit, bebet, bobot!"
Peringatan tegas itu mendadak membuat Al kesulitan meneguk ludah kala serentetan kata azimat itu keluar dari mulut sang Papa.
Bagaimana ini?
Di jiwanya yang saat ini lelah. Al tampak berpikir keras dengan semua ucapan papanya. Berulang kali ia meyakinkan diri jika sikapnya kepada wanita bar-bar itu hanyalah sebuah simpati semata, namun sialnya, semakin hari ia semakin risau dan ingin tahu kabar soal wanita itu.
Apa perasaan itu lebih dari sekedar simpati?
" Selamat malam bos. Saya tidak bisa menjumpai nona Dhisti di mall, karena dia sudah mengundurkan diri beberapa bulan yang lalu!"
Pesan WhatsApp dari Dante sontak membuat Al tercenung.
.
.
.
__ADS_1