
...🌻🌻🌻...
Perjalanan yang di estimasi akan memakan waktu sebanyak tujuh jam, kini molor menjadi 11 jam. Hal itu terjadi sebab jalan provinsi yang mereka lintasi, tengah terjadi kepadatan arus kendaraan lantaran sebuah insiden kecelakaan. Membuat mereka terjebak antrian yang panjang mengular.
Puri merasa begitu lelah. Gadis yang tak biasa bepergian jauh menggunakan jalur darat itu kini merasa tulang ekornya bagai tanggal detik itu juga.
" Masih lama nggak sih?"
Ari tersenyum saat melihat Puri yang terus saja merengek. Padahal, perjalanan mereka menjadi lama juga karena Puri sering minta nge- pos di rest area. Bahkan, mereka terhitung berhenti di rest area lebih dari tujuh kali.
Oh ya ampun!
Ya, mau bagiamana lagi, Puri memang manja dan benar-benar rewel.
" Sebentar lagi nona! Kita sudah sangat dekat kok!" sahut Ari mengiba menenangkan. Hari yang sudah gelap jelas membuat dua insan itu lelah bukan main.
" Kamu nggak beli oleh-oleh buat keluarga kamu, katanya mau beli?"
Bertanya sebab ia ingat akan ucapan Ari sewaktu baru saja berangkat.
" Sudah nona!"
" Hah, kapan? Kok aku nggak tau?" menoleh dengan wajah protes.
" Tadi waktu nona tidur, waktu kita lolos dari tol pertama saya beli. Nona sepertinya lelah, jadi saya tidak berani membangunkan!" sahutnya tersenyum.
Puri seketika menatap Ari. Laki-laki itu benar-benar kuat juga rupanya. Ia yakin jika Ari pasti belum tidur sejenak pun.
" Kenapa gak ngebangunin? Dari tadi diminta belok nolak terus, setelah aku tidur malah nggak di bangunin. Aku kan gak enak sama ibu kamu!"
Menggerutu tidak terima.
" Anda mau datang ke rumah ibu saya saja, beliau sudah sangat senang nona! Tidak perlu repot-repot!" timpal Ari penuh kesungkanan.
Puri pura-pura merajuk. Ia kesal karena Ari malah tak membangunkan dirinya. Padahal ia juga ingin membeli buah tangan untuk keluarga Ari.
Mobil bertuliskan Range Rover berwarna hitam itu akhirnya berbelok ke sebuah rumah bercat abu-abu terang, dengan banyak sekali tanaman hias di depan rumahnya.
Puri yang tahu jika bangunan sederhana nan bersih itu pasti rumah sang supir, seketika menjengukkan kepalanya memindai sekeliling.
" Sepi amat Ar. Kita gak nyasar di desa penari kan?" berkata seraya celingak-celinguk.
Yang diajak ngobrol malah tertawa. Selera humor Puri tinggi juga rupanya.
" Ini di kampung nona. Cuaca sedang gerimis, pasti semua sedang berkumpul di rumah masing-masing!"
__ADS_1
Saat mesin mobil telah dimatikan, pintu kayu itu terbuka dan memperlihatkan dua perempuan berbeda usia yang tampak menyongsong kedatangan mereka.
Seorang wanita berwajah teduh dengan pandangan berbinar, dan seorang lagi merupakan bocah berusia sembilan tahun, yang tampak tak sabar menantikan kehadiran sang tulang punggung.
" Barangnya biar saya yang turunkan nanti, mari masuk nona. Anda pasti sangat lelah!"
Puri mengangguk. Suasana sejuk itu membuat Puri memeluk dirinya sendiri demi jalaran rasa dingin yang mulai menyapanya.
" Mas Ari!!"
Seorang gadis memekik sesaat sebelum menghambur ke pelukan kakaknya. Membuat Puri yang melihat hal itu seketika tertawa.
Adik seibu berbeda ayah itu merupakan bocah yang sangat dia sayangi. Danisa yang tahu bila kakaknya akan pulang tak lelah menunggu sedari tadi.
" Adek mas belum tidur rupanya? Pasti nungguin mas ya?" berkata usai mencium pipi gembul sang adik.
" Ibuk bilang tadi, katanya mas datang siang. Tapi pas aku bangun tidur, mas belum ada. Kenapa datang malam?"
Ari tersenyum kembali. Adiknya yang cerewet itu pasti bakal menginterogasi dirinya.
" Tadi macet. Sekarang udah ketemu kan?"
Gadis kecil itu mengangguk lalu memeluk erat Ari kembali yang masih menggendong tubuhnya. Danisa tampak melirik Puri sekilas lalu menenggelamkan wajahnya kembali ke bahu kakaknya. Seolah menegaskan jika laki-laki itu merupakan miliknya.
" Ibuk sehat kan Buk?"
Ari memeluk sang ibu yang tingginya hanya sebatas dadanya sambil menggendong sang adik. Dan pemandangan itu sukses membuat Puri mengharu biru.
Ari terlihat begitu menyayangi keluarganya.
" Ah maaf, ini...pasti bos-nya Ari ya? Selamat datang dirumah kami. Maaf begini keadaannya!" sapa Ibu Ari yang teringat jika ada sosok lain yang kini hadir bersama putranya.
Puri yang di sapa kini menyeret langkahnya sedikit maju lalu menjabat tangan wanita itu sopan.
" Kenalkan, saya Puri Buk. Maaf jadi merepotkan Ibu beberapa hari kedepan!" menyapa ramah.
" Tidak-tidak, kami justru sangat senang dan merasa terhormat karena nona sudi mau bertandang kemari. Silahkan masuk! Mari!"
Puri menatap Ari yang memberikannya kode untuk mengikuti ibunya masuk. Sementara sang gadis kecil itu terlihat masih enggan lepas dari gendongan sang kakak yang amat dia rindukan.
" Danisa masuk dulu ya. Ayo kita temui kakak tadi!" bujuk Ari kepada adiknya yang sepertinya mencurigai Puri.
" Kakak cantik tadi siapa?" tanya gadis kecil itu ketus.
Danisa rupanya cemburu manakala kakaknya mengajak perempuan lain kesana. Membuat Ari ingin tertawa.
__ADS_1
" Tadi itu majikannya kakak!"
" Majikan?" bertanya dengan wajah bingung.
" Majikan itu adalah orang yang bayar kakak, yang kasih kakak uang sama kerjaan. Dah ayo masuk, salim sama kakaknya!"
Danisa akhirnya mengangguk meski informasi yang barusan dikatakan oleh kakaknya tak bisa ia serap dengan sempurna.
Saat masuk, Ari melihat Puri sedang meminum teh hangat yang rupanya sudah di siapkan oleh Ibunya.
" Sory, haus banget!"
Ari tersenyum senang sebab anak majikannya itu terlihat tidak pilih-pilih.
" Danisa, ayo salim sama kakak!" pinta sang Ibu dengan turut kaya lembut.
Gadis kecil itu seketika melepaskan diri dari gendongan tangan kekar kakaknya, saat sang ibu memanggilnya.
" Halo aku Puri, nama kamu siapa?" sapa Puri ramah dengan gaya bicaranya yang selalu friendly.
" Aku Danisa. Kakak ini beneran majikannya Mas Ari? Bukan pacarnya?" bertanya polos dengan suara khas anak-anak yang khawatir
Ari seketika membelalakkan matanya sementara Puri malah tertawa lepas.
" Danisa, itu tidak sopan!" turut Ibu mengingatkan pelan dengan wajah sungkan.
" Soalnya kakak cantik sih. Danisa mau dong cantik seperti kakak!"
Puri mengusap lembut pipi gembul Danisa dengan senyum yang tak berhenti mengembang.
Sepertinya, keputusannya untuk ikut ke desa benar-benar tepat. Dalam sekejap, ia yang semula merasa kepalanya pecah karena penuh dengan problematika, kini merasa longgar saat mendengar celoteh Danisa.
" Astaga, dia benar-benar mirip denganku waktu aku masih kecil!"
.
.
.
.
Maaf cuma dikit, seharian ini sibuk dirumah saudara yang sedang ada acara. Satu bab biar gak bolong buat kejar kata. 🙏
See you next day 😘
__ADS_1