Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 55. Tertangkap


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Terus sekarang gimana?" Inka bertanya demi segurat resah yang masih muncul di wajah sahabatnya itu.


Dhisti menghembuskan napas panjang, mengerutkan kening dan masih tampak larut dalam keresahan yang belum juga mau sirna.


" Sebenarnya sampai sekarang aku masih gak percaya jika Al itu beneran suka sama aku In!" tuturnya gelisah.


" Dhis, jangan kamu pukul rata garam sama asinnya. Maksud aku gini, memang kebanyakan orang tajir itu akan nyari yang selevel, sepadan, bibit, bebet, bobot apa lah segala macam. Tapi kalau aku lihat, Alsaki ini emang beda. Dia punya yayasan kan?" tebak Inka yang tahu cerita Sauki telah ditawari untuk pindah ke yayasan milik pria tampan itu.


" Kok kamu tahu?" menoleh terkejut.


" Sauki yang ngasih tau!" kata Inka.


Membuat Dhisti langsung menghembuskan napas sesal. Ia bahkan lupa akan anak-anak itu.


" Kalau dia punya yayasan, itu artinya jiwa sosialnya tinggi Dhis. Semakin tinggi jiwa sosial seseorang, semakin realistis pula pola pikirannya. Dan aku rasa, orang seperti Al ini sangat realistis karena bisa terpikat pencopet cantik kayak kamu!" tukas Inka menahan tawa demi menyelipkan predikat out of the box itu.


Membuat keduanya akhirnya tergelak bersama.


" Sory In, aku bahkan lupa ngasih tau kamu. Aku kapan hari sempat mampir kesana. Dan tidak taunya..."


" Amanlah kalau itu. Aku ngerti kok. Oh ya, kata Sauki, ada beberapa orang yang datang ngasih mereka makanan sama uang selang kepergian kalian. Tapi, mereka nunggu kamu yang bawa pindah ke yayasan itu katanya. Takut kalau..." Sengaja menggantungkan kalimat demi melihat reaksi Dhisti.


" Kalau apa?"


" Kalau mereka bohong. Tau sendiri anak-anak gimana!"


Dhisti mengangguk paham. Ia memang belum memperkenalkan Alsaki secara gamblang kepada anak-anak kurang beruntung itu.


Tapi mendengar sekelumit cerita dari Inka, sejumput rasa senang mendadak menyelinap ke relung hatinya. Tak mengira jika Al akan berbuat sejauh itu. Alsaki rupanya sedikit memiliki sikap yang sama dirinya, yakni mudah iba kepada orang lain. Ia berjanji akan berterimakasih untuk itu kepada Alsaki setelah ini.


" Tapi kenapa kamu terlihat yakin banget sama orang itu In? Alsaki maksudku!"


Inka menggeser tubuhnya lebih dekat dengan sahabatnya. Merangkul pundak gadis itu penuh kehangatan.


" Aku lihat biografinya di internet. Lengkap disana. Bahkan aku baca semuanya. Umurnya masih 30 tahun, seorang Pisces karena lahir di akhir Februari, tanggal lahirnya unik, empat tahun sekali dia baru berulang tahun!" tutur Inka terkikik-kikik.


" Kabisat?" tebak Dhisti yang langsung nyambung.


Inka mengangguk mengiyakan, " Diam-diam gini gue nyari tau lagi... orang- orang yang dekat sama elu. Dhis, gue percaya kok elu itu baik luar dalam. Dan orang baik pasti bakal dapat yang sepadan. Nasib aja yang belum berpihak ke elu."


Termenung kembali untuk beberapa saat. Ya, benar kata Inka. Nasib sial selama ini selalu menghampirinya. Meski begitu, Dhisti bukanlah orang yang tak tahu mensyukuri rahmat.


" Dhis, apa nggak sebaiknya elu cerita aja ke Al soal..."


" Soal hutangku?" potong Dhisti cepat yang paham akan kemana arah pembicaraan Inka.


Inka mengangguk ragu. Berharap sahabatnya itu menerima sarannya. Namun alih-alih menerima, Inka justru kena omel.


" Nggak lah I Itu nggak akan pernah aku lakukan. Aku bukan orang yang seperti itu. Lagipula, masalah ini udah ada sebelum aku kenal Al! Lagipula Hendra Gunawan kan pernah lihat kita nyopet!" mendengus kesal demi saran gila dari sahabatnya itu.


" Tapi dia pasti mau bantu kamu kok Dhis. Dia itu kan orang kaya!" eyel Inka seraya memberengut.


Malah menatap Inka tak percaya. " Kalau kamu pikir aku ini wanita seperti itu, sory In, itu artinya kamu gak mengenal aku dengan baik!" putus Dhisti dengan wajah tak senang. Tak mengira jika Inka memiliki pikiran sepicik itu kepadanya.


" Aduh!! Elo jangan marah ke gue dulu Dhis. Gue cuman!" Menjeda dengan wajah murung. " Cuman gak tega lihat elo begini. Gimana kalau kakek tahu jika selama ini elo jadi pencopet, ingat kakek itu punya riwayat jantung lho!"


Dhisti semakin memijat keningnya frustasi usia mendengar peringatan Inka. Mana mungkin ia meminta bantuan Al. Ia saja masih ragu saat ini. Apalagi, Papa Al merupakan orang yang hampir saja merenggut keperawanannya.


...----------------...


" Seneng banget mukanya!" cetus Puri yang melihat kakaknya kini merebahkan diri tepat di sampingnya yang sibuk membaca novel komedi. Namun bukannya memberikan jawaban yang relevan, laki-laki itu justru memberikan pertanyaan lain kepada sang adik.


" Menurut kamu, Dhisti itu gimana?"


Puri kembali melirik wajah kakaknya yang kini menyenderkan kepala di bahunya dengan tatapan mengernyit. Memindai pancaran aneh dari wajah yang tampak senyam-senyum sendiri macam orang tak waras.


" Gimana apanya?" sahut Puri mendengus.


" CK, sikapnya lah, personalitinya?"


" So far baik sih. Aku cocok kalau ngobrol sama dia. Dia itu idealis banget. Cantik meski gak sulam alis kayak aku, terus kalau ngomong langsung mandes, apa lagi ya... bokongnya bahenol!"


Membuat Al langsung mencelos manakala mendengar kalimat terakhir yang terucap dari bibir sang adik.

__ADS_1


" Kayaknya, aku jatuh cinta sama Dhisti deh Pur!" serunya lagi sembari melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Menata nyalang lampu kristal mahal yang tergantung di atasnya.


" Udah tahu!" jawab Puri santai sembari membuka lembaran baru bab yang ia baca.


" Kok gak syok?" menatap sang adik kaget.


GREK!


Sedetik kemudian, Puri langsung menutup buku yang semula ia baca, seraya menatap wajah kakaknya jengah. " Aku lebih syok saat papa kelihatannya gak kasih lampu ijo buat kakak. Kakak sadar gak sih, papa itu lebih memilih kak Luna!" cetus Puri dengan alis bertaut.


Membuat Alsaki seketika membetulkan posisi duduknya lebih tegak karena merasa apa yang dikatakan adiknya itu benar.


" Tapi kamu setuju kalau aku sama Dhisti?"


" Selama itu baik why not. Ngapain sama orang sekasta kalau cuma bikin sakit ati!" menjawab kesal lantaran teringat akan nasibnya bersama Wisnu.


Membuat Alsaki tersenyum mengacak rambut adiknya gemas. Yes, satu dukungan telah dia dapatkan.


" Aku bakal bilang ke Papa lagi!"


" Bilang soal apa Al?" sahut seseorang yang membuat keduanya mengalihkan pandangannya.


Keduanya kakak beradik itu spontan menoleh manakala yang dibicarakan berdiri di tengah gawang ruang tengah rumah mereka.


Papa?


Tuan Hendra tampak berjalan menuju ke arah kedua anaknya yang tengah duduk dengan wajah serius. Puri yang melihat wajah datar papanya seketika memeluk bukunya ke depan dada lalu menunduk.


" Papa dari mana?" tanya Alsaki yang kaget.


" Jawab dulu pertanyaan papa, kamu mau bilang soal apa?" timpal laki-laki itu mengintimidasi.


" Soal Dhisti!" sahut Alsaki cepat lalu membuang pandangannya ke arah lain dengan wajah keruh.


" Udah berapa kali papa tekankan, pikirkan nama baik keluarga kita. Jika kamu tidak serius dengan Luna, maka setidaknya jangan bersama Dhisti. Ini bukan permohonan, tapi ini sebuah perintah!"


Alsaki langsung berdiri karena tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Papanya.


" Sampai kapanpun aku bakal sama Dhisti, dengan atau tanpa persetujuan Papa!" mengucapkan hal itu dengan kobaran kemarahan yang membara lalu sejurus kemudian berbalik untuk melesat pergi. Membuat Puri menelan ludahnya takut.


" Bukan wanita baik-baik? Darimana papa tahu?" tersenyum getir demi sebuah vonis ngawur yang di utarakan oleh sang Papa.


" Kamu tidak perlu tahu darimana Papa tahu. Yang jelas papa sudah menyelidiki gadis itu!" bohongnya tak berani menatap kedua netra anaknya.


" Ohhh, menyelidiki? Hal apa yang papa selidiki? Bahkan tak satupun hal yang tidak membuat aku terpukau oleh kebaikannya saat aku bersama dia Pa!"


Puri yang melihat kakak dan papanya bertengkar kini harap-harap cemas.


" Sudah Al katakan, dengan atau tanpa restu Papa, Al bakal tetap akan menjadikan Dhisti calon istri Alsaki!" tuturnya penuh penekanan lalu seketika melesat pergi tanpa menoleh lagi.


" Alsaki!"


" Alsaki!"


...----------------...


Keesokan harinya, Dhisti berniat akan menemui Alsaki untuk berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada Sauki, Dani dan yang lainnya.


Namun sebelum itu, ia bersama Inka akan menuntaskan operasinya di pagi jelang siang ini. Ya, mereka berdua kini tampak sedang menunggu seorang wanita, yang hendak keluar dari tempat belanja.


Wanita itu tak lain mereka anak perempuan dari pria yang menipu dirinya. Wanita itu tengah asik berbelanja dengan teman prianya.


" Gila sama bule dia sekarang!"


Dhisti memperhatikan lekat-lekat tas yang gamit oleh wanita itu. Terakhir kali ia bertemu saat ia dan Al berada di dalam angkot.


" Aku cabut sekarang!" seru Dhisti seraya ngeloyor pergi.


" Eh Dhis kok sekarang?" timpal Inka resah.


" Kamu tunggu di depan, dari samping pedagang itu kita lari masuk kedalam!"


" Dhis, kok tiba-tiba perasaan gue gak enak ya?"


" Gak enak apaan sih, tiap hari perasaanmu gak pernah enak. Udah ayo cepetan, aku mau nemuin Al habis ini!"

__ADS_1


Entah mengapa, pagi itu Inka benar-benar merasa ragu, tapi target sudah ada di depan mata. Gadis yang juga hobi merokok itu akhirnya berjalan resah mengikuti langkah Dhisti yang sudah unggul di depan.


Mereka berjalan biasa, lalu mendekat ke arah si wanita yang sedang antri membayar sesuatu. Sepertinya biasa, Inka berpura-pura menabrak Dhisti dan membuat gadis itu dengan cepat meraih dompet yang ada di dalam tas si wanita.


" Sory! Sory!"


Namun naas, seseorang tampaknya tak sengaja melihat aksi mereka berdua.


" Loh mbak, kok dompetnya di bawa?" tanya seseorang dengan wajah yang sudah pias.


Mampus!


" Copet!"


" Copet!"


Saat si empunya tak menyadari aksi keduanya, manusia lain malah tak sengaja melihat hal itu dan kini meneriaki mereka copet. Praktis, karena hal itu kini Inka dan Dhisti harus lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.


Dalam sekejap, teriakan itu mengundang perhatian para khalayak, dan langsung turut bergabung mengejar keduanya.


" Brengsek. Elo tadi udah gue peringati Dhis!"


" Diem kamu, ini bukan saatnya saling menyalahkan. Cepat selamatkan diri!"


Tubuh Inka dan Dhisti langsung menegang demi mendengar teriakan yang kini menyudutkannya.


" Aduh Dhis! Kaki gue mendadak linu lagi, apes banget dah ah. Kita lewat sebelah sini!"


Inka kontan menarik tangan Dhisti lalu seketika berlari lebih cepat menyusuri pertokoan besar yang berjajar di trotoar jalan penghubung. Mereka bahkan sesekali menabrak para pedagang saat para warga sipil masih mengejarnya tanpa lelah


Tak terhitung lagi tenaga yang telah di maksimalkan oleh keduanya, demi bisa lolos dari kejaran manusia yang bisa saja membuat riwayat mereka tamat detik itu juga. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.


Hari ini, jelas merupakan hari sial untuk mereka berdua.


Bruk!


Dhisti yang mulai kelelahan dan kehilangan fokusnya, tak sengaja menabrak seseorang membuat maskernya terlepas.


" Sory Sory!"


" Copet! Woy berhenti!"


Lantaran sempat kaget selama beberapa detik, Inka akhirnya berlari jauh meninggalkannya sebab masa mulai mendekat. Dalam kebingungan yang melanda, Inka akhirnya meninggal Dhisti yang terangkut manusia itu.


Kini, Dhisti yang tak mengenakan penutup apapun itu berusaha kabur namun tanpa di duga Luna yang baru keluar dari sebuah toko perhiasan membuat Dhisti kembali menabrak.


Bruk!


" Dhisti?" pekik Luna kaget saat melihat saingannya itu bersimbah keringat dengan wajah pucat.


"Luna?" kembali tertegun demi segumpal rasa terkejut yang akhirnya membuat dirinya tertangkap.


" Ah ini dia, kena dia sekarang!"


Mulut Luna menganga tak percaya saat melihat Dhisti yang kini di pegangi oleh sejumlah orang yang berlari mengejarnya tadi.


" Wah perempuan ternyata!"


" Jangan-jangan ini copet yang biasanya bikin onar di timur sono no!"


Suara-suara sumbang itu membuat Luna dan Dhisti bagus hanyut dalam keheningan. Luna yang kaget dengan apa yang ia lihat, dan Dhisti yang lemas karena dunianya mendadak menghitam. Keruh, pekat dan membuatnya kehilangan arah pandang.


" Ayo bawa dia ke kantor polisi!"


" Bikin ricuh aja ini orang!"


Dalam waktu yang singkat pula, Dhisti benar-benar tak bisa berpikir. Ia sibuk mencari-cari Inka hingga tak menyadarinya jika Luna sempat memotretnya saat ia dalam keadaan di gelandang masa.


" Ternyata kau seorang kriminal ya, pecundang? Mari kita lihat Al, apa kau masih mau dengan pencopet?" batin Luna bersorak senang karena jalannya seperti dimudahkan oleh yang kuasa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2