Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 47. Perlindungan sang kakak


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Sayang, ka- kamu udah datang?" bertanya dengan terbata-bata dan sejurus kemudian ia mencampakkan tangan Ana.


Maka hati Puri langsung merasa sakit. Tubuhnya gemetaran di serang rasa marah yang teramat. Apa yang ia lihat barusan benar-benar membuat dunianya sekaan runtuh, hancur dan gelap dalam sekejap.


Ia lari dengan air mata yang berjatuhan. Tak berhenti disitu, dadanya turut sesak, pikirannya juga mendadak buntu. Ia terus berlari tanpa mempedulikan tatap penuh selidik dari para tamu lain yang masih larut dalam musik yang memekakkan telinga.


Ari, dia harus menemukan Ari. Ia ingin segera enyah dari tempat itu. Hatinya begitu sakit teramat sakit.


Pucuk dicinta ulam tiba. Ia yang berlari manakala Wisnu mengejarnya tampak melihat Ari yang berjalan dari arah toilet luar. Ari yang melihat Puri menangis seketika panik. Ada apa gerangan? Kenapa majikannya menangis?


" Nona, kenapa anda menangis?" tanya Ari dengan wajah panik.


" Cepat bawa aku pergi Ar!"


" Iya tapi, ada ap..."


" Cepat kubilang!"


Jakun Ari naik turun demi melihat Puri yang semakin frustasi. Dengan langkah cepat pula ia mengambil mobil dan bermanuver kasar. Setibanya ia di depan Puri, ia membukakan pintu dan mempersilahkan majikannya itu masuk dengan wajah muram.


" Sayang, tunggu dulu. Aku bisa jelaskan. Itu tidak seperti yang kamu lihat!" cekal Wisnu saat Puri hendak masuk namun dengan kasar Puri melempar tangan Wisnu.


Ari menduga, majikannya itu pasti tengah bertengkar dengan kekasihnya.


" Cepat Ar!" pekik Puri sesaat setelah ia membanting pintu mobilnya usai berhasil duduk di jok belakang.

__ADS_1


Ari yang mendengar titah bernada buru-buru itu, langsung membuka pintu mobil dan degan gerakan cepat pula ia berniat masuk kedalam ruang kemudi.


" Berhentikan mobilnya!" Wisnu menarik kasar lengan Ari namun langsung di tepis oleh laki-laki itu.


" Maaf, saya hanya mengikuti perintah majikan saya!" ketus Ari sembari mengendikkan lengannya.


Wisnu mendelik kala tangannya terlempar oleh Ari yang sengaja menggoyang tubuhnya, demi menepis tangan Wisnu yang semula mencekalnya.


Shiit!


Sejurus kemudian, Ari tampak memutar mobilnya dengan kasar. Wisnu yang terus memukuli kaca belakang mobil Puri dimana kekasihnya itu masih menangis dengan lelehan air mata yang tidak mau berhenti, terlihat benar-benar gusar.


" Cepat Ar!" pinta Puri lagi dengan hati yang semakin remuk redam kala mendengar Wisnu yang terus berteriak-teriak meminta kacanya dibuka.


" Baik Nona!" jawab Ari semakin panik. Jelas mereka berdua memang tengah bertengkar.


Puri merasa hancur, tak mengira jika pria yang ia cintai dan bahkan mengajaknya untuk menikah tega mengkhianatinya. Lebih-lebih, laki-laki itu melakukannya dengan seseorang yang ia kenal.


Melalui kaca rear vision, Ari tampak menatap murung Puri yang nampak terisak-isak saat menangis. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Meski ingin sekali Ari bertanya, namun ia lagi-lagi tak memiliki keberanian untuk ikut campur permasalahan pribadi majikannya.


Beberapa waktu kemudian, ia yang tiba di kediaman keluarga Alsaki, hanya diam saat Puri berlari masuk dengan tangis yang tak bisa ia tutupi. Membuat Alsaki yang sudah berada di rumah sontak terkejut manakala melihat adiknya yang berlari naik ke tangga sambil menangis.


" Ada apa, kenapa dia pulang-pulang menangis?" tanya Alsaki sesaat setelah Ari masuk untuk membawa tas Puri yang ketinggalan.


" Saya tidak tahu tuan. Saya tadi mengantar Nona Puri ke pesta. Saat saya kembali dari toilet, saya sudah melihat nona Puri menangis dan meminta saya untuk segera pulang!" jawab Ari sopan dengan suara yang terdengar lembut.


" Apa Wisnu tidak ada di sana?" tanya Alsaki dengan kedua alis yang sudah menyatu. Menegaskan jika emosinya sedang tidak stabil.

__ADS_1


Ari tertunduk ragu. Ia takut memberikan keterangan yang salah, tapi jika ia tidak mengatakan kebenarannya, ia takut Alsaki akan mengira Puri yang melakukan kesalahan.


" Ada tuan. Sepertinya... mereka sedang bertengkar!" ucapnya tertunduk.


Alsaki seketika termangu dengan ucapan Ari. Rahangnya tiba-tiba mengeras.


" Ya sudah. Tutup gerbangnya dan kunci saja. Jangan biarkan siapapun masuk!" titah Al dengan suara yang menahan geram.


" Baik tuan!" jawabnya membungkuk hormat.


Sepeninggal Alsaki, Ari menunaikan titah pria itu dengan segera. Namun, sesaat setelah ia telah berhasil mengunci pintu gerbang rumah Puri, Wisnu yang rupanya menyusul nampak menggebrak pagar itu dan membuat Ari menoleh.


" Woy!!! Cepat buka pintunya brengsek, aku harus berbicara dengan Puri!"


Ari membalikkan badannya dengan wajah datar dan menatap Wisnu yang nampak marah dari celah gerbang besar nan tinggi itu.


" Maaf tuan, tuan Alsaki meminta saya untuk menutup gerbangnya!" jawabnya dengan wajah datar lalu membungkukkan badannya undur diri.


" Apa, hey aku ini calon menantu keluarga ini. Cepat buka, hey!"


Ari tak menggubris teriakan Wisnu yang di sertai dengan sumpah serapah itu. Ia tahu, meski pria itu akan membencinya, tapi entah kenapa, mengutarakan kalimat itu dan berhasil membuat pria itu kesal justru membuat hatinya malah lega.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2